Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    Pemetaan Kerentanan Wilayah Pesisir terhadap Kenaikan Muka Air Laut di Kabupaten Lebak Banten: Vulnerability Mapping of Coastal Areas to Sea Level Rise of Lebak Banten Regency

    Full text link
    Daerah pantai yang dinamis memberikan respons terhadap peristiwa ekstrem salah satunya adalah kenaikan muka air laut. Hal tersebut akan memberikan dampak buruk pada kondisi wilayah pesisir, seperti pada Pantai Binuangeun yang sekarang ini mengalami abrasi akibat adanya hantaman gelombang besar. Hal ini menunjukkan wilayah pesisir Lebak berpotensi mengalami kerentanan, terutama akibat kenaikan muka air laut. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran kerentanan wilayah Pesisir Kabupaten Lebak Banten terhadap kenaikan muka air laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coastal Vulnerability Index (CVI). Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer yang diperoleh dengan melakukan observasi lapangan dan data sekunder yang diperoleh melalui NOAA, Copernicus, dan IOC Sea Level Monitoring. Variabel kerentanan yang dianalisis adalah geomorfologi, perubahan garis pantai, elevasi, kenaikan muka air laut, tunggang pasang surut, dan tinggi gelombang. Karakteristik pantai Lebak adalah karang, berpasir, dan tebing. Penilaian kerentanan dibagi menjadi 3 kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Coastal Vulnerability Index (CVI) pesisir Lebak berkisar antara 2,9-2,19. Nilai tersebut menunjukkan seluruh kecamatan pesisir Kabupaten Lebak termasuk dalam kategori kerentanan rendah terhadap kenaikan muka air laut. Oleh karenanya pesisir Lebak tidak berpotensi terdampak bencana-bencana yang diakibatkan oleh kenaikan muka air laut.The dynamic responses of coastal areas to extreme events, including sea level rise. This will adversely impact the condition of coastal areas, such as Binuangeun Beach, which is currently experiencing abrasion due to being hit by big waves. This shows that the Lebak coastal area has the potential to experience vulnerability, especially due to sea level rise.  The purpose of this study was to map the distribution of vulnerability of the coastal areas of Lebak Banten Regency to sea level rise. The method used in this study is the Coastal Vulnerability Index (CVI). The data collected consisted of primary data obtained by conducting field observations and secondary data obtained through NOAA, Copernicus, and IOC Sea Level Monitoring. Vulnerability variables analyzed were geomorphology, shoreline changes, elevation, sea level rise, tidal height, and wave height. The characteristic of the beaches of Lebak is coral, sand, and cliffs. The vulnerability assessment is divided into 3 classes, namely low, medium, and high. The research results show that the value Coastal Vulnerability Index (CVI) of the Lebak coast ranged from 2.9-2.19. Thus, all coastal sub-districts of Lebak Regency are included in the category of low vulnerability to sea level rise. This means that the Lebak coast is not potentially affected by disasters caused by sea level rise. &nbsp

    Klasifikasi Habitat Dasar Berbasis Objek di Perairan Dangkal Karang Lebar dan Pulau Lancang: Classification of Benthic Habitat based on Object in Shallow Waters of Karang Lebar and Lancang Island

    Full text link
    Teknik klasifikasi berbasis objek (OBIA) merupakan salah satu teknik pemetaan habitat bentik selain metode konvensional (berbasis piksel). Pemetaan metode OBIA dengan memanfaatkan algoritma machine learning terbatas pada perairan Karang Lebar dan Pulau Lancang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa algoritma machine learning (support vector machine (SVM), decision tree (DT), random forest (RF), dan k-nearest neighbour (KNN) dalam mengklasifikasikan habitat bentik perairan dangkal berdasarkan objek menggunakan data satelit Sentinel-2. Metode klasifikasi yang digunakan adalah metode OBIA dengan dua tingkatan analisis. Hasil analisis Agglomerative Hierarchial Clustering diperoleh sebanyak 6 kelas habitat bentik yaitu karang, patahan karang (rubble), lamun, pasir rubble, dan pasir. Tingkat pertama adalah memisahkan darat, laut dangkal dan laut lebih dalam. Tingkat kedua adalah klasifikasi menggunakan algoritma machine learning, hasil klasifikasi menunjukkan alogritma SVM mendapatkan nilai akurasi yang lebih tinggi dibandingkan algoritma lainnya dengan akurasi sebesar 84% di perairan Karang Lebar, kemudian pada perairan Pulau Lancang mendapatkan akurasi sebesar 80% dengan algoritma SVM. Habitat dasar perairan dangkal Karang Lebar dan Pulau Lancang mampu dipetakan dengan baik menggunakan metode OBIA. Perbedaan tingkat akurasi antara perairan Karang Lebar dan Pulau Lancang disebabkan oleh tingkat kekeruhan perairan.The object-based classification technique (OBIA) is one of the benthic habitat mapping techniques besides the conventional (pixel-based) method. The mapping of the OBIA method using machine learning algorithms is limited to the waters of Karang Lebar and Lancang Island. This study aims to determine the performance of machine learning algorithms (support vector machine (SVM), decision tree (DT), random forest (RF), and k-nearest neighbor (KNN)) in classifying shallow water benthic habitats based on objects using Sentinel satellite data. -2. The classification method used is the OBIA method with two levels of analysis. A total of 6 benthic habitat classes were obtained from field observations and Agglomerative Hierarchial Clustering analysis, namely coral, rubble, seagrass, rubble sand, and sand. The results obtained include the first level separating land, shallow sea and deeper sea. The second level is classification using a machine learning algorithm, the results of the classification show that the SVM algorithm gets a higher accuracy value than other algorithms with an accuracy of 84% in Karang Lebar waters, then in Lancang Island waters it gets an accuracy of 80% with the SVM algorithm. The bottom habitat of the shallow waters of Karang Lebar and Lancang Island can be well mapped using the OBIA method. The difference in the level of accuracy between the waters of Karang Lebar and Pulau Lancang is caused by the level of turbidity of the waters

    KONSENTRASI LOGAM BERAT Pb DAN Cd DALAM SEDIMEN PADA EKOSISTEM MANGROVE DI TELUK AMBON

    Full text link
    Salah satu potensi ekosistem pesisir yang cukup luas ada di perairan Teluk Ambon Dalam adalah ekosistem mangrove. Ancaman bagi ekosistem mangrove yang ada di perairan Teluk Ambon adalah aktivitas yang berlangsung di sekitarnya (antropogenik). Adanya beberapa sungai yang bermuara di Teluk Ambon menjadi pendukung masuknya buangan/limbah dari darat. Logam berat Pb dan Cd telah terdeteksi pada air laut di perairan Teluk Ambon, sehingga dianggap penting untuk melakukan penelitian pada sedimen ekosistem mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi logam berat (Pb dan Cd) dalam sedimen pada ekosistem mangrove Teluk Ambon. Penentuan titik pengambilan sampel sedimen pada ekosistem mangrove dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis sampel dilakukan dengan menggunakan metode Nitric Acid-Perchloric Acid Digestion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat Plumbum (Pb) berkisar antara 18,25-35,98 mg/kg dan Cadmium (Cd) 1,57-2,70 mg/kg. Hasil analisis menunjukkan bahwa, Pb walaupun didapati dalam konsentrasi yang cukup tinggi namun belum melampaui ambang batas toksik, sementara Cd telah mendekati ambang batas toksik. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa, sedimen telah terkontaminasi logam berat Pb dan Cd namun belum berpengaruh pada ekosistem mangrove, dan merupakan indikasi bahwa terjadi filtrasi alami.The mangrove ecosystem is one of the potential coastal ecosystems in Ambon Bay waters, most of which are in Inner Ambon Bay.Threats to the mangrove ecosystem in the waters of Ambon Bay are the activities that take place around it. Moreover, several rivers that empty into Ambon Bay cause the entry of debris/waste from land. Previous studies have shown that Pb and Cd have been detected in seawater in Ambon Bay waters, so it is considered important to conduct research on mangrove ecosystem sediments. The purpose of this study was to determine the concentration of heavy metals (Pb and Cd) in sediments in the mangrove ecosystem of Ambon Bay. The sampling points of the sediment in mangrove ecosystems were carried out using purposive sampling method. Sample analysis was carried out at the Environmental Productivity Laboratory of IPB using the Nitric Acid-Perchloric Acid Digestion method. The results showed that the concentration of heavy metal Plumbum (Pb) ranged from 18.25-35.98 mg/kg and Cadmium (Cd) 1.57-2.70 mg/kg. The results showed that the concentration of heavy metal Plumbum (Pb) ranged from 18.25-35.98 mg/kg and Cadmium (Cd) 1.57-2.70 mg/kg. Based on the results of the analysis, it can be said that, although Pb was found in fairly high concentrations, it had not yet exceeded the toxic threshold, while Cd had approached the toxic threshold. Overall, it can be concluded that the sediment has been contaminated with heavy metals Pb and Cd but has not affected the mangrove ecosystem, and is an indication that natural filtration occurs

    Coastal Management Strategies to Face Climate Change and Antrophogenic Activity: A Case Study of Tamban Beach, Malang Regency, East Java

    Full text link
    Perubahan penggunaan lahan di wilayah pesisir disebabkan oleh meningkatnya intensitas perubahan iklim dan penggunaan lahan yang tidak rasional serta upaya mitigasi untuk masyarakat terhadap bencana tsunami. Tujuan penelitian untuk mengembangkan strategi pengelolaan pesisir menghadapi perubahan iklim yang intensif dan proses antropogenik (kegiatan manusia). Metode drone digunakan untuk menganalisis spasial, mengukur parameter perairan pantai Tamban, dan menggunakan metode Partial Least Squares (PLS) untuk menentukan penilaian dan opini masyarakat tentang tsunami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Tamban sangat rentan terhadap bahaya tsunami meskipun parameter perairannya masih di ambang batas pencemaran dan pelayanan jasa ekosistem pesisir yang belum prima. Hasil penelitian ini mensyaratkan masyarakat yang terkena tsunami terutama penduduk di pantai Tamban perlu dipindahkan ke daerah yang lebih aman dari terjangan tsunami Kawasan tersebut berjarak keurang lebih 10 kilometer dari bibir pantai. Disamping itu kawasan ini perlu juga ditetapkan sebagai kawasan ekowisata bahari, namun bebas dari bencana tsunami.This research was set against the backdrop of low levels of coastal ecosystem services at the global, regional, national, and local levels. Changes in land use in coastal areas are mainly caused by an increasing intensity of climate change and irrational land use. The aim of this research was to develop coastal management strategies to deal with intensified climate change and anthropogenic processes. The methods used included using the drone approach to perform a spatial analysis, measuring the parameters of Tamban coastal waters, and applying the Partial Least Squares (PLS) method to determine community assessments and opinions about tsunami. The results of the study indicate that Tamban Beach is highly vulnerable to tsunami hazards even though the water parameters are still on the verge of pollution and that the coastal ecosystem services are not excellent. The results of this study require that the people affected by the tsunami, especially residents on Tamban beach, need to be moved to an area that is safer from the brunt of the tsunami. The area is approximately 10 kilometers from the shoreline. Besides that, this area also needs to be designated as a marine ecotourism area, but free from the tsunami disaster

    DNA Barcoding, Identifikasi Morfologi dan Kepadatan Populasi Genus Tridacna di Perairan Maluku Utara: DNA Barcoding, Morphological Identification and Population Density of Genus Tridacna in North Maluku Water

    Full text link
    Tridacna (kima) merupakan bivalvia yang berukuran besar dan memiliki peran penting dalam ekologi. Ukuran dan warna menarik yang menjadi daya tarik hingga mengalami overexplotation. Langkah perlindungan perlu dilakukan, salah satunya pengukuran kepadatan, variasi ukuran yang banyak ditemukan dan identifikasi spesies berdasarkan morfologi dan DNA barcoding. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kima dengan metode DNA barcoding serta mengevaluasi ukuran dan kepadatan populasinya di Perairan Maluku Utara. Metode penelitian menggunakan DNA barcoding dan identifikasi morfologi berupa warna mantel dan variasi ukuran cangkangnya serta pengukuran kepadatan kima yang ditemukan di Perairan Maluku Utara. Hasil identifikasi berdasarkan DNA barcoding dan identifikasi morfologi menunjukan hasil yang sama, yaitu terdeteksi tiga jenis kima, Tridacna crocea, Tridacna squamosa, dan Tridacna maxima. Perbedaan ukuran dan bentuk cangkang serta warna mantel yang timbul, memperkuat ketiga jenis tersebut sebagai spesies yang berbeda. Selain itu, bentuk clade pohon filogenetik antara sampel dengan data genbank membentuk clade yang sama. Kondisi kepadatan kima pada perairan ini menunjukan hasil yang sama dengan lokasi lain, yaitu nilainya kurang dari 1 /m2. Nilai kepadatan < 1 m2 dapat mengarahkan bahwa spesies tersebut mengalami penurunan atau mengarah pada overexploitatation. Sehingga, data penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi penilaian untuk kegiatan konservasi kima.Tridacna (kima) is a giant bivalve that is important to ecology. Attractive sizes and colours are the main attraction of overexploitation. Protection must occur, such as density measurement, size variations, and species identification based on morphology and DNA barcodes. This study aimed to identify clams using the DNA barcode method and to evaluate their population size and density in North Maluku waters. The research method uses DNA barcodes, morphological identification of mantle colour and shell size variations, and measurements of the density of clams found in North Maluku waters. The results were helpful based on DNA barcoding. They helped detect the morphology of the same results. Namely, three types of clams, Tridacna crocea, Tridacna squamosa, and Tridacna maxima, were detected. Differences in the shell\u27s size and shape and the mantle\u27s colour strengthen the three types as distinct species. In addition, the clade shape of the phylogenetic tree between the samples and GenBank data from the same clade. The condition of clam density in these waters showed the same results as other locations, namely less than 1/m2. A value density of < 1 m2 may suggest that the species is declining or lead to over-exploitation. Thus, this research data can be used as a reference for assessing chemical conservation activities

    Population Parameters of Blue Swimming Crab Portunus pelagicus in the Tiworo Strait, Southeast Sulawesi

    Full text link
    Rajungan (Portunus pelagicus) tersebar luas di perairan daerah penangkapan ikan sebagai sumber tangkapan nelayan di Selat Tiworo. Kawasan pesisir Selat Tiworo mempunyai potensi rajungan yang banyak. Oleh karena itu, lokasi ini dijadikan sebagai salah satu lokasi percontohan proyek pengelolaan rajungan berkelanjutan dari Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI). Pertumbuhan, kematian total, kematian alami, kematian penangkapan, dan laju eksploitasi merupakan parameter populasi rajungan yang perlu diketahui agar pengelolaan perikanan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Telah dilakukan kajian parameter populasi rajungan di Selat Tiworo berdasarkan data frekuensi lebar karapas yang dikumpulkan pada bulan Juli hingga Desember 2021 dan dianalisis menggunakan FISAT (FAO-Iclarm Stock Assessment Tool) II. Jumlah sampel sebanyak 7.809 sampel, dimana jumlah rajungan jantan sebanyak 3.295 sampel dan betina sebanyak 4.514 sampel. Rata-rata ukuran lebar karapas rajungan yang ditangkap adalah 107,57 mm untuk jantan dan 110,65 mm untuk betina. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan (K) sebesar 1,01/tahun, laju kematian total (Z) sebesar 0,67/tahun, laju kematian alami (M) sebesar 1,25/tahun, dan laju kematian penangkapan ikan sebesar 0,58/tahun. tahun. Tingkat eksploitasi (E) rajungan sebesar 0,86 menunjukkan gejala eksploitasi berlebihan, sehingga pengelolaan berkelanjutan atas rajungan di perairan tersebut harus dilakukan untuk menjaga ketersediaan dan keberlanjutan stok sumber daya rajungan. Kata Kunci: rajungan, kepiting, lebar, berat, Selat TiworoThe blue swimming crab (Portunus pelagicus) has a wide distribution in the fishing ground waters for fishermen\u27s activity in the Tiworo Strait. The coastal area of Tiworo Strait has quite a lot of crab potential. Therefore, it is used as one of the pilot locations for sustainable crab management projects of the Indonesian Blue Swimming Crab Association (APRI). Growth, total mortality, natural death, fishing mortality, and the exploitation rate were the population parameters of crabs that need to be known so that management can be carried out in a sustainable manner of fisheries. A study on the population parameters of crabs has been conducted in the Tiworo Strait, based on carapace width frequencies data collected from Juli to December 2021 and analyzed using FISAT (FAO-Iclarm Stock Assessment Tool) II. The total sample is 7,809 samples, where the number of male blue swimming crabs is 3,295 samples and 4,514 females. The average size of the blue swimming crab carapace width caught was 107.57 mm for males and 110.65 mm for females. The results of the study showed that the growth rate (K) was 1.01/year, the total mortality rate (Z) was 0.67/year, the natural death rate (M) was 1.25/year, and the fishing mortality rate was 0.58/year. The exploitation rate (E) of blue swimming crab was 0.86, which showed symptoms of over–exploitation, so the management of crabs in these waters must be carried out more carefully to sustain the availability of crab resource stocks. Keywords: blue swimming crab, width, weight, Tiworo Strai

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    Kajian Perilaku Gelombang Akibat Adanya Struktur Tiang Pancang Silinder melalui Analisis Spektrum Energi: Study of Wave Behavior due to Cylinder Pile Structure Through Energy Spectrum Analysis

    Full text link
    Struktur pemecah gelombang banyak dimanfaatkan untuk perlindungan pantai dari hantaman gelombang laut yang berpropagasi ke daerah pesisir pantai. Salah satu inovasi pemecah gelombang yang sedang dikembangkan yaitu struktur tiang pancang. Tiang pancang merupakan replikasi batang pohon bakau yang dapat meredam energi gelombang. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis efektivitas struktur tiang pancang dengan menganalisis perilaku gelombang sebelum dan sesudah bertabrakan dengan struktur tiang pancang berdasarkan pembagian teori gelombang. Simulasi laboratorium fisik telah dilakukan untuk mendapatkan data gelombang yang berinteraksi dengan struktur tiang pancang. Selanjutnya, dilakukan analisis spektrum energi untuk menentukan spektrum energi gelombang datang, refleksi dan transmisi dari pengukuran wave probe berupa data time series. Masing-masing spektrum energi digunakan untuk melihat kemampuan refleksi dan transmisi dari struktur tiang pancang dari koefisien refleksi dan transmisi. Nilai koefisien refleksi dan transmisi diestimasi dengan persamaan polinomial derajat tiga menghasilkan  dan  dengan variabel parameter dasar gelombang yaitu tinggi gelombang, periode gelombang dan kedalaman perairan. Titik kritis dari persamaan polinomial menunjukkan nilai koefisien refleksi dan transmisi minimum ketika berada pada daerah Cnoidal dan maksimum ketika berada pada daerah Stokes orde-2.Breakwater structures are widely used for coastal protection from the blows of ocean waves that propagate to coastal areas. One of the breakwater innovations being developed is the pile structure. Piles are a replication of mangrove tree trunks that can reduce wave energy, so it is necessary to test their effectiveness in reducing wave energy. So the purpose of this study is to analyze the effectiveness of the pile structure by analyzing the wave behavior before and after colliding with the pile structure based on the wave theory division. Physical laboratory simulations have been carried out to obtain wave data that interacts with the pile structure. Furthermore, energy spectrum analysis is used to determine the energy spectrum of the incident wave, reflection and transmission of wave probe measurements in the form of time series data. Each energy spectrum is used to see the reflection and transmission capabilities of the pile structure from the reflection and transmission coefficients. The reflection and transmission coefficient values ​​were estimated using a third degree polynomial equation resulting in RMSE = 0.087 and RMSE = 0.051 with the basic wave parameters being variable, namely wave height, wave period and water depth. The critical point of the polynomial equation shows the minimum reflection and transmission coefficient values ​​when it is in the Cnoidal region and maximum when it is in the 2nd order Stokes region

    TURBIDITY FRONT DETECTION USING SENTINEL-2 SATELLITE IMAGE RELATIONSHIP WITH OCEANOGRAPHY IN BENGAWAN SOLO ESTUARY

    Full text link
    Estuari merupakan daerah percampuran antara massa air tawar dan air laut yang menyebabkan zat-zat di dasar perairan naik ke permukaan sehingga konsentrasi unsur hara menjadi tinggi. Penelitian mengenai pertemuan massa air estuari masih perlu dilakukan terutama terkait turbidity front estuary karena untuk mengetahui kemampuan citra Setinel-2 dalam mendeteksi turbidity front. Selama ini penelitian ini terbatas dari data in situ, oleh karena itu teknologi penginderaan jauh coba diterapkan untuk mendeteksi turbidity front estuary. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan algoritma TSS lokal dan mendeteksi turbidity front berdasarkan citra satelit Sentinel-2. Metode penelitian ini menggunakan citra Sentinel-2 untuk mengetahui batas turbidity front berdasarkan TSS yang dibandingan dengan data in situ salinitas dan TSS sebagai validasi data. Hasil penelitian ini diketahui algoritma empiris yang diperoleh dari band ratio (merah/(biru+hijau+merah)) pada Sentinel-2 memiliki hasil yang terbaik dengan koefisien determinasi (R2) = 0,7409. Hasil citra satelit menunjukkan bahwa turbidity front estuary terjadi pada jarak 1,4 – 3 km, sedangkan pada data in situ terjadi pada jarak 2 – 4 km di muara Bengawan Solo. Terdapat perbedaan nilai TSS sebesar 1,9182 mg/L antara data in situ dengan citra satelit di daerah turbidity front estuary. Kondisi musim, curah hujan dan pasang surut memengaruhi konsentrasi dan jarak turbidity front dari muara sungai.The estuary is a mixing area between the mass of fresh water and seawater, which causes substances in the bottom waters to rise to the surface so that nutrient concentrations become high. Research on estuary water mass confluence still needs to be carried out, especially regarding the turbidity front estuary. So far, this research is limited to in situ data. Therefore, remote sensing technology is trying to be applied to detect turbidity front estuary. This study aims to develop local TSS algorithms and detect turbidity fronts based on Sentinel-2 satellite imagery. This research method uses Sentinel-2 imagery to determine the turbidity front boundary based on TSS compared to in situ salinity data and TSS as data validation. The results of this study show that the empirical algorithm obtained from the band ratio (red/(blue+green+red)) on Sentinel-2 has the best results with a determination coefficient (R2) = 0.7409. The results of satellite imagery show that the turbidity front estuary occurs at a distance of 1,4 – 3 km, while the in situ data occurs at a distance of 2 – 4 km at the Bengawan Solo estuary. There is a difference in the TSS value of 1.9182 mg/L between the in situ data and satellite imagery in the turbidity front estuary area. Seasonal conditions, rainfall and tides affect the concentration and distance of the turbidity front from the river mouth

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇