Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Blue Swimming Crab Enlargement Technique: Insight from Small-Scale Fishery in the South Coast of Pamekasan, Madura Island

    Full text link
    Desa Pagagan Kecamatan Pademawu khususnya anggota nelayan “Berkah Capit Biru” berpotensi sebagai lokasi pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan karena memiliki hasil perikanan rajungan yang melimpah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan semangat kepada para nelayan untuk tidak selalu melakukan aktivitas penangkapan rajungan di alam agar alam tetap lestari dan untuk meningkatkan potensi sumber daya alam dan manusia yang antusias terhadap pembesaran rajungan di desa Pagagan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2022. Lokasi penangkaran kepiting berukuran 8x10 meter, memiliki substrat pasir berlumpur, dan berada di kawasan pantai yang berbatasan dengan ekosistem mangrove. Tiang-tiang kayu yang dianyam dari bambu dengan jaring di sekelilingnya dipasang lebih tinggi dari gelombang. Teknik perluasan ini tidak menggunakan aerasi berupa roda melainkan hanya memanfaatkan kondisi pasang surut sehingga terjadi pergantian air secara berkala di lokasi. Tahapan dalam teknik pembesaran rajungan adalah 1) pemilihan lokasi, 2) pembangunan, 3) penebaran benih, 4) pemberian pakan, 5) pengendalian, dan 6) pemanenan. Teknik pembesaran ini menjadi solusi bagi nelayan rajungan untuk memenuhi stok pasar. Kata Kunci: rajungan, teknik pembesaran, perikanan skala kecilPagagan Village, Pademawu District, and especially members of the "Berkah Capit Biru" fishermen, had the potential to carry out the sustainability of blue swimming crab because of the abundant crab fisheries. The purpose of this research was to encourage fishermen to not always carry out crab fishing activities in nature so nature remained sustainable and to increase the potential of natural and human resources who were enthusiastic about crab enlargement in Pagagan village. This research was conducted from January to May 2022. The crab breeding location measured 8x10 meters, had a substrate of muddy sand, and was in a coastal area bordering a mangrove ecosystem. Wooden stakes woven with bamboo with a netting around them were set higher than the wave. This enlargement technique did not use aeration in the form of wheels but only utilized tidal conditions so that periodic water changes occurred at the site. The stages in the crab enlargement technique are 1) site selection, 2) construction, 3) spreading seeds, 4) feeding, 5) controlling, and 6) harvesting. This enlargement technique is a solution for crab fishermen to meet market stocks. Keywords: blue swimming crab, enlargement technique, small-scale fisher

    Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan Wisata Pantai Ngursarnadan Kabupaten Maluku Tenggara: Analysis of the Suitability and Carrying Capacity of Tourism Area Ngursarnadan Beach and Southeast Maluku District

    Full text link
    Pantai Ngursarnadan sebagai salah satu icon pariwisata di Maluku Tenggara perlu dikelola dan dikembangkan dengan strategis karena jumlah pengunjung yang cukup banyak. Tujuan penelitian adalah menganalisis kesesuaian dan daya dukung untuk kegiatan ekowisata pantai, serta bagaimana peran stakeholder dalam pengembangannya. Analisis kesesuaian kawasan menggunakan rumus IKW= ∑ [Ni / Nmaks] x 100 % dan analisis daya dukung menggunakan rumus DDK = K x Lp / Lt x Wt / Wp. Analisis peran stakeholder menggunakan mastriks dua kali dua (model grid). Hasil penelitian menunjukkan stasiun pertama dan kedua termasuk kategori sangat sesuai dengan nilai IKW 3,0 dan 2,52, sedangkan stasiun ketiga termasuk kategori sesuai dengan nilai IKW 2,3. Daya dukung kawasan Pantai Ngursarnadan adalah 168 orang/hari dengan panjang pantai yang dapat dimanfaatkan adalah 780 m dan luas area adalah 13.280 m2. Aktivitas atau olahragaga yang dapat dilakukan di pantai Ngursarnadan adalah rekreasi pantai dan berenang. Dalam pengembangan objek wisata, peran stekholder sangat penting dalam merumuskan, menetapan dan melaksanakan kebijakan pengembangan objek wisata.Ngursarnadan Beach as a tourism icon in Southeast Maluku needs to be managed and developed strategically because of the large number of visitors. The research objective is to analyze the suitability and carrying capacity of coastal ecotourism activities, as well as the role of stakeholders in their development. Area suitability analysis uses the formula IKW = ∑ [Ni / Nmax] x 100 % and carrying capacity analysis uses the formula DDK = K x Lp / Lt x Wt / Wp. Stakeholder role analysis uses a two by two matrix (grid model). The results showed that the first and second stations were in the very appropriate category with IKW values of 3.0 and 2.52, while the third station was included in the category according to IKW values of 2.3. The carrying capacity of the Ngursarnadan Beach area is 168 people/day with a length of beach that can be utilized is 780 m and an area of 13,280 m2. Activities or sports that can be done at Ngursarnadan beach are beach recreation and swimming. In the development of tourism objects, the role of stakeholders is very important in formulating, stipulating and implementing tourism object development policies

    Pengaruh Perbedaan pH Perairan terhadap Laju Pertumbuhan Lamun Jenis Cymodocea rotundata: The Effect of Differences pH of Waters on the Growth Rate of Seagrass of Cymodocea rotundata

    Full text link
    Penggunaan bahan bakar fosil yang terus berlangsung akan meningkatkan konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfer. Asidifikasi laut terjadi akibat CO2 yang berada di atmosfer berdifusi ke lautan. Lautan mampu menyerap CO2 di atmosfer sebanyak 35 % lebih yang menyebabkan terjadinya penurunan pH laut. Lamun Cymodocea rotundata merupakan salah satu jenis lamun yang banyak ditemukan tumbuh di perairan tropis. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya dampak pada pertumbuhan lamun C. rotundata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan nitrat, fosfat dan kalium dan pertumbuhan lamun C. rotundata yang meliputi pertumbuhan daun, rhizoma, dan akar C. rotundata terhadap perbedaan pH. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap menggunakan tabel acak. Sebanycak 15 toples dengan ukuran diameter 20 cm dan tinggi 25 cm digunakan dengan 3 perlakuan, masing-masing perlakuan 5 kali pengulangan. Hasil uji regresi linier menunjukkan pH berpengaruh terhadap konsentrasi nitrat, dan berpengaruh kuat terhadap konsentrasi fosfat dan kalium. Laju pertumbuhan daun lamun C. rotundata tertinggi pada kontrol berkisar antara 0,50–1,29 mm/hari sedangkan yang terendah pada pH rendah berikisar 0,07–0,73 mm/hari. Laju pertumbuhan rizhoma lamun secara horizontal dan vertikal tertinggi pada pH rendah sedangkan yang terendah pada pH kontrol. Laju pertumbuhan akar lamun tertinggi pada pH rendah berkisar antara 0,20–0,90 mm/hari. sedangkan yang terendah pada kontrol berkisar antara 0,13–0,43 mm/hari. pH juga memengaruhi laju pertumbuhan daun, rhizoma dan akar lamun C. rotundata. Semakin rendah pH maka laju pertumbuhan daun juga semakin rendah, berbeda dengan rhizoma dan akar semakin rendah pH maka semakin tinggi laju pertumbuhan.The continued use of fossil fuels will increase the concentration of carbon dioxide (CO2) in the atmosphere. Ocean acidification occurs due to CO2 in the atmosphere diffusing into the oceans. The oceans are able to absorb CO2 in the atmosphere as much as 35 % more which causes a decrease in ocean pH. Seagrass Cymodocea rotundata is a type of seagrass that can be found growing in tropical waters. This situation raises concerns about the possible impact on the growth of seagrass C. rotundata. This study aims to analyze the content of nitrate, phosphate and potassium and the growth of seagrass C. rotundata which includes the growth of leaves, rhizomes and roots of C. rotundata against differences in pH. The study used an experimental method with a completely randomized design using a random table. A total of 15 jars with a diameter of 20 cm and a height of 25 cm were used with 3 treatments, each treatment was repeated 5 times. The results of the linear regression test showed that pH had an effect on nitrate concentrations, and had a strong effect on phosphate and potassium concentrations. The highest growth rate of C. rotundata seagrass leaves in the control ranged from 0.50–1.29 mm/day while the lowest at low pH ranged from 0.07–0.73 mm/day. The growth rate of seagrass rhizomes horizontally and vertically was highest at low pH while the lowest was at control pH. The highest growth rate of seagrass roots at low pH ranged from 0.20–0.90 mm/day. while the lowest was in the control ranged from 0.13–0.43 mm/day. pH also affects the growth rate of leaves, rhizomes and seagrass roots of C. rotundata. The lower the pH, the lower the leaf growth rate, in contrast to rhizomes and roots, the lower the pH, the higher the growth rate

    Spatial Analysis of Coastal Change and Disaster Mitigation on Masakambing Island, Sumenep Regency

    Full text link
    Pulau Masakambing adalah salah satu pulau kecil di Kabupaten Sumenep yang memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Pulau kecil mudah mengalami suatu perubahan, salah satunya adalah perubahan garis pantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan yang terjadi di sepanjang pantai dan upaya mitigasinya dengan memanfaatkan parameter hidro – oseanografi. Pengukuran perubahan garis pantai diperoleh dari hasil digitasi menggunakan metode Normalized Different Water Index (NDWI) dengan upaya mitigasi struktural dan non struktural berdasarkan data parameter yang diambil. Parameter angin didominasi dari arah tenggara dan arah timur dengan kecepatan berkisar antara 0,09 m/s - 22,75 m/s. Nilai parameter gelombang diperoleh antara 0,25 m – 0,83, sedangkan parameter arus berkisar antara 0,006 m/s – 0,642 m/s dengan nilai bilangan Formhazal menunjukkan angka 1,5 – 1,8. Angin berhembus sejuk dan kuat, begitujuga tinggi gelombang dalam kategori slight. Arus menuju arah barat daya dari utara pulau mengarah ke timur. Tipe Pasang surutnya campuran harian tunggal. Penurunan luasan wilayah Pulau Masakambing berkisar antara 0,063 km2 – 1,933 km2.Upaya mitigasi yang dapat dipertimbangkan secara struktural antara lain pembuatan breakwater dan revetment, penguatan bangunan pantai dan penanaman vegetasi. Mitigasi Nonstruktural yang dapat dilakukan antara lain membuat kebijakan standarisasi bangunan tahan bencana, kebijakan eksplorasi dan kegiatan perekonomian, penyadaran masyarakat serta penyuluhan dan sosialisasi mengenai mitigasi bencana.Masakambing Island is one of the small islands in Sumenep Regency which has its own uniqueness and beauty. Small islands easily experience changes, one of which is changes in coastlines. The aim of this research is to determine the changes that occur along the coast and mitigation efforts by utilizing hydro-oceanographic parameters. Measurements of coastline changes were obtained from digitization results using the Normalized Different Water Index (NDWI) method with structural and non-structural mitigation efforts based on the parameter data taken. Wind parameters are dominated from the southeast and east with speeds ranging from 0.09 m/s - 22.75 m/s. The wave parameter values obtained were between 0.25 m – 0.83, while the current parameters ranged between 0.006 m/s – 0.642 m/s with the Formhazal number values showing 1.5 – 1.8. The wind was blowing cool and strong, as was the wave height in the slight category. The current flows southwest from the north of the island to the east. Single daily mixed Tide Type. The reduction in the area of Masakambing Island ranges from 0.063 km2 – 1.933 km2. Mitigation efforts that can be considered structurally include creating breakwaters and revetments, strengthening coastal buildings and planting vegetation. Non-structural mitigation that can be carried out includes creating standardization policies for disaster-resistant buildings, exploration and economic activity policies, public awareness as well as counseling and outreach regarding disaster mitigation

    CONCENTRATION OF HEAVY METAL CADMIUM (Cd) IN BLUE SWIMMING CRAB (Portunus pelagicus) AND IN THE BRACKISHWATER PONDS OF MANGUNHARJO, SEMARANG

    Full text link
    Kadmium (Cd) dalam suatu perairan tergolong sebagai salah satu bahan pencemar pada air dan terkontaminasi ke dalam biota air. Logam berat Cd umumnya berasal dari limbah industri, pertanian, serta aktivitas manusia lainnya, seperti yang ditemukan di sekitar perairan tambak Mangunharjo, Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kandungan Cd yang terdapat dalam sedimen dan air serta rajungan (Portunus pelagicus) yang ditangkap di perairan tambak Mangunharjo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2020 - Januari 2021. Pengukuran konsentrasi Cd dilakukan dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Kontaminasi logam berat Cd dalam air terukur sebesar <0,001-0,395 mg/l yang telah melebihi baku mutu untuk biota laut. Konsentrasi Cd dalam sedimen dasar perairan dan rajungan diperoleh secara berurutan, yaitu <0,001 mg/kg dan 0,028-1,96 mg/kg. Faktor biokonsentrasi (BCF) didapatkan berkisar antara 60 – 1655 (Desember) dan 0,5 – 1014 (Januari), nilai tersebut termasuk kategori rendah hingga sangat tinggi. Konsentrasi Cd pada sampel rajungan diketahui telah melebih baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan BPOM No. 23 tahun 2017 yaitu maksimum 0,1 mg/kg. Perhitungan batas aman konsumsi rajungan yang telah terkontaminasi Cd dalam kasus ini yaitu 0,0065 kg daging/minggu untuk anak-anak dengan bobot 15 kg dan 0,21 kg daging/minggu untuk dewasa dengan bobot 50 kg. Parameter lingkungan perairan seperti suhu, pH, salinitas dan DO memiliki nilai yang bervariasi antar stasiun penelitian dan juga antar waktu penelitian. Rajungan dari perairan Mangunharjo sudah tercemar logam berat Cd, sehingga dibutuhkan upaya khusus agar tetap aman untuk dikonsumsi.  Cadmium (Cd) in the waters considered as one of the pollutants that potentially pollute the waters and contaminating the aquatic biota. The heavy metal cadmium commonly comes from the industrial waste, agriculture, and also other human activities as found around the pond waters of Mangunharjo, Semarang. The purpose of this study was to analyze the cadmium content in sediment and water as well as the Blue swimming crabs (Portunus pelagicus) found in Mangunharjo pond waters. This research was held from December 2020 to January 2021. Measurement of Cadmium concentration was analyzed by the Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) method. The results showed the contamination of heavy metal Cadmium in water measured at <0.001-0.395 mg/l which has exceeded the quality standards for marine biota. The concentration of Cadmium in bottom sediments and blue swimming crab was measured at <0.001 mg/kg and 0.028-1.96 mg/kg. The Bio-concentration factor (BCF) was obtained between 60 - 1655 in December and 0.5 - 1014 in January, which categorized as low to very high. The concentration of cadmium in crab samples had exceeded the quality standard set in BPOM Regulation No. 23/2017, which has a maximum value of 0.1 mg/kg. The calculation of the maximum weekly intake of cadmium-contaminated crabs in this study is 0.0065 kg of meat/week for children weighing 15 kg and 0.21 kg of meat/week for adults weighing 50 kg. Aquatic environmental parameters such as temperature, pH, salinity and dissolved oxygen had various numbers between research stations and also between research periods. Crabs from Mangunharjo waters are contaminated with the heavy metal Cadmium, so it requires special attention to keep them safe for consumption

    MAXIMUM ENTROPY MODEL FOR PREDICTION OF SMALL PELAGIC FISHING GROUNDS IN THE JAVA SEA

    Full text link
    Optimalisasi penangkapan ikan pelagis kecil di Laut Jawa masih dapat ditingkatkan dengan pengembangan sistem informasi daerah penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi daerah penangkapan ikan pelagis kecil dengan menggunakan model Maximum Entropy (MaxEnt). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lingkungan berupa suhu permukaan laut (SPL) dan salinitas permukaan laut tahun 2018 di Laut Jawa yang diunduh dari Google Earth Engine melalui RStudio dan data posisi kapal penangkap ikan yang diunduh dari VIIRS Boat Detection (VBD). Model MaxEnt menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai AUC 0,849. Kurva respons menunjukkan probabilitas tertinggi distribusi ikan berada pada SPL pada kisaran 27,0 – 31,0 oC, dan salinitas 32 – 34 psu. Peta prediksi daerah penangkapan ikan yang dihasilkan dengan pemodelan MaxEnt berupa peta kesesuaian habitat menunjukkan bahwa parameter salinitas berpengaruh sebesar 94,5% dan SPL sebesar 5,5%. Peta kesesuaian habitat ikan menunjukkan bahwa mayoritas koordinat kapal penangkapan berada pada nilai Habitat Suitability Index (HSI) 0,5 – 0,8. Daerah potensial penangkapan ikan pelagis kecil terkonsentrasi di wilayah tengah dan utara Laut Jawa mendekati perairan selatan Pulau Kalimantan.The optimization of small pelagic fishing in the Java Sea can still be improved by the development of fishing area information systems. This study aims to predict small pelagic fishing grounds using the Maximum Entropy (MaxEnt) model. The data used in this study are environmental data in the form of sea surface temperature (SST) and sea surface salinity year 2018 in the Java Sea downloaded from Google Earth Engine via RStudio and fishing vessel position data downloaded from VIIRS Boat Detection (VBD). The MaxEnt model showed good performance with an AUC value of 0.849. The response curve shows the highest probability of fish distribution being at SST in the range of 27.0 – 31.0 oC, and salinity of 32 – 34 psu. The predicted map of fishing areas produced by MaxEnt modeling in the form of a habitat suitability map showed that parameter salinity had an effect of 94.5% and SST of 5.5%. Peta fish habitat suitability shows that the majority of fishing vessel coordinates are at the Habitat Suitability Index (HSI) value of 0.5 – 0.8. Small pelagic fishing areas are concentrated in the central and northern regions of the Java Sea approaching the southern waters of Borneo Island

    Penerapan Metode Migrasi Beda Hingga pada Data Seismik Post Stack di Utara Laut Bali Perairan Utara Bali: Implementation of Finite Difference Migration Method on Post Stack Seismic Data at the Northern Bali Sea

    Full text link
    Data seismik lapangan yang diperoleh dalam survei kelautan di Utara Laut Bali memiliki struktur geologi yang kompleks, seperti kontur dasar laut yang datar dan kemiringan curam serta variasi kecepatan yang tegak lurus terhadap arah pergerakan (kecepatan lateral). Kajian ini bertujuan untuk menerapkan algoritma yang berbeda yaitu migrasi beda hingga fast explicit, steep dip dan implicit sehingga didapatkan algoritma terbaik dalam menghasilkan citra penampang seismik termigrasi yang akurat dengan penempatan posisi titik refleksi sebenarnya pada struktur miring. Metode beda hingga merupakan suatu tahapan pengolahan data seismik yang digunakan untuk mencari operator diferensial dalam persamaan gelombang secara eksplisit dan implisit. Hal ini dilakukan setelah melalui tahapan kecepatan stacking untuk selanjutnya menghasilkan model kecepatan interval dari waktu tempuh gelombang seismik dalam kedalaman interval (Vint) yang dibutuhkan dalam proses beda hingga. Algoritma migrasi beda hingga Post-stack Implicit dalam domain waktu menunjukkan citra penampang seismik termigrasi paling akurat dengan penurunan derau berdasarkan hasil frekuensi bandpass. Algoritma tersebut meningkatkan rasio sinyal terhadap derau dan kualitas penampang seismik termigrasi.Field seismic data obtained during the marine survey at the Northern Bali Sea contained complex geological structures such as flat and steep-dip seabed and velocity perpendicular to the direction of motion (lateral velocity) variation. This study aims to implement the best finite difference algorithm namely fast explicit, steep dip and implicit migrations in yielding more accurate migrated seismic image with true reflection point of dipping structures. Finite difference method is a method which is applied to find differential operators in wave equations explicitly or implicitly. It is carried out after going through the stacking velocity stage, in which this stage produces the results of the interval velocity of seismic wave travel time on depth interval (Vint)model needed as input to carry out the finite difference process. Post-stack Implicit Finite Difference Time Migration algorithm shows the most accurate migrated seismic image with noise suppression of bandpass frequency results. It improves signal to noise ratio and image quality of migrated seismic section

    Rancang Bangun Mini Rov dengan Penggunaan PWM Speed Controller Module sebagai Sistem Kendali: Design and Build Mini Rov Using PWM Speed Controller Module as A Control System

    Full text link
    Remotely Operated Vehicle (ROV) is an underwater vehicle or robot designed to able to move in the water. The increasing need for ROV in the future will require an ROV that is easy to build and operate. This study aims to design and build an ROV that is easy to manufacturing and easy to operate, which can be used for observation purposes in the future. The ROV designed with dimensions of length was 311,89 mm, width was 240 mm and height was 180 mm. ROV had three thruster motors with Pulse Width Modulation (PWM) Speed Controller Module as a control system. The ROV test were conducted motion tests and maneuvering tests, with the results shown that the ROV had an average forward speed of 0,26 m/s with the turning time was 6,3 s for 180° to portside, 6,7 s for 180° to starboard and time for circular motion was 8,2 s. The ROV’s motion test and maneuvering test showed good results, so that further development plans for this ROV can be carried out.  Remotely Operated Vehicle (ROV) merupakan sebuah wahana atau robot bawah air yang dirancang untuk mampu bergerak di dalam air. Permintaan ROV diprediksi akan semakin meningkat dimasa yang akan datang, karenanya perlu direspons dengan penyediaan suatu ROV yang mudah untuk dibangun dan dioperasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan membangun suatu ROV yang mudah untuk diikuti proses pembuatannya dan mudah untuk dioperasikan sehingga ke depannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan observasi. Remotely Operated Vehicle dirancang dengan dimensi panjang 311,89 mm, lebar 240 mm dan tinggi 180 mm. Remotely Operated Vehicle memiliki tiga motor penggerak dengan Pulse Width Modulation (PWM) Speed Cotroller Module sebagai sistem kendali. Pengujian ROV dilakukan meliputi uji pergerakan dan uji manuver, dengan hasil menunjukkan bahwa ROV memiliki rata-rata kecepatan maju 0,26 m/s dengan waktu berputar 180° menuju portside selama 6,7 s dan berputar 180° menuju starboard selama 6,3 s, serta gerakan melingkar selama 8,2 s. Uji pergerakan dan manuver ROV menunjukkan hasil yang baik, sehingga rencana pengembangan lebih lanjut dari ROV ini dapat terus dilakukan

    ALTERNATIVE MEASURING OF DISSOLVED OXYGEN IN THE WESTERN INDONESIAN SEAS DURING SOUTHEAST MONSOON

    Full text link
    Pengukuran oksigen terlarut dengan metode Winkler memiliki kelemahan, namun bisa diatasi dengan metode spektrofotometri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur konsentrasi oksigen terlarut berdasarkan metode spektrofotometri di bagian barat laut Indonesia pada muson tenggara Juni 2015. Konsentrasi oksigen diukur berdasarkan hukum Lambert-Beer dengan panjang gelombang 466 nm. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi oksigen tinggi di bagian barat Selat Karimata dan rendah pada bagian tengah selat yang dimungkinkan karena tingginya proses oksidasi bahan organik dan respirasi. Konsentrasi oksigen cenderung seragam di seluruh kolom air Laut Jawa bagian barat, hal tersebut mencerminkan proses pencampuran sempurna. Konsenstrasi yang sama juga terlihat jelas pada lapisan permukaan di Selat Sunda dan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Laut Indonesia bagian barat cenderung supersaturasi pada lapisan permukaan dan mengindikasikan adanya pertukaran yang cepat antara oksigen pada lapisan permukaan air laut dengan atmosfer. Hasil korelasi pengukuran oksigen antara metode spektrofotometri dan sensor menunjukkan hubungan yang baik sehingga dapat dijadikan alternatif dalam mengukur konsentrasi oksigen terlarut dan dapat digunakan pada berbagai rentang konsentrasi oksigen yang luas di wilayah laut, air tawar, dan pesisir.The measurement of dissolved oxygen (DO) using the Winkler method has weaknesses, but can be solved by the spectrophotometric method. The purpose of this study was to measure the concentration of dissolved oxygen based on the spectrophotometric method in the western Indonesian Seas during the southeast monsoon of June 2015. The concentration of DO was measured according to the Lambert-Beer law using a wavelength of 466 nm. The results show that the oxygen concentration is high in the western of the Karimata Strait and low in the middle of the strait due to respiration and oxidation of organic matter. The oxygen concentration tends to be homogenous the entire of water column of western part of the Java Sea which indicates water well mixed and their concentration in the surface layer of the Sunda Strait was similar and gradually decreased with depth. The western Indonesian Seas is generally oversaturated corresponding to a quick oxygen air-sea water exchange. The results of the correlation of oxygen measurements between the spectrophotometric method and the sensor show a good performance, so that it can be used as an alternative in measuring dissolved oxygen concentrations and can be used over a wide range of oxygen concentrations in oceanic, fresh water and coastal areas

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇