Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
PENGAMATAN BIOAKUSTIK PERGERAKAN IKAN SIDAT Anguilla sp. DALAM KONDISI TERKONTROL (AKUARIUM)
Pergerakan Ikan sidat menghasilkan suara yang disebut suara hidrodinamik yang merupakan suara atau getaran yang dihasilkan dari sebuah perubahan di medium karena pergerakan ikan. Intensitas suara hidrodinamik terjadi saat arah dan kecepatan renang ikan berubah secara cepat. Pembelokan posisi kepala akan menyebabkan perpindahan medium yang kuat. Perpindahan tersebut menyebabkan perubahan gelombang tekanan pada medium, yang dapat terdeteksi sebagai suara oleh hydrophone. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan suara ikan sidat fase elver dan fase yellow dalam kondisi terkontrol. Penelitian dilakukan di Laboratorium histologi dan embriologi Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Waktu penelitiannya adalah 4-7 Agustus 2016. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquarium kaca, headphone, hidrophone, Seaphone, baterai alkaline kotak, laptop. Bahan yang digunakan masing-masing 5 ekor sidat fase yellow dan fase elver. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aktifitas ikan sidat fase elver dan fase yellow sangat beragam ditinjau dari durasi suara ikan sidat saat pagi,siang dan malam. Pola suara yang terekam berkisar dari frekuensi dari 0 sampai 22.03 KHz. Frekuensi suara ikan sidat dominan dikisaran 151 - 450 Hz, dan memiliki pola suara yang berbeda-beda untuk pagi, siang dan sore. Kesimpulan menunjukkan bahwa durasi dan pola suara hidrodinamika ikan sidat fase elver maupun fase yellow berbeda nyata antara pagi - siang, juga siang – sore, namun untuk pagi - sore tidak berbeda nyata
SHALLOW-WATER HABITAT CHANGE DETECTION OF KALEDUPA ISLAND, WAKATOBI NATIONAL PARK (WNP) FOR 14 YEARS
Metode penginderaan jauh sangat membantu dalam pemetaan kondisi habitat perairan dangkal secara spasial pada cakupan area yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan habitat perairan dangkal Pulau Kaledupa, Taman Nasional Wakatobi (TNW), selama 14 tahun, dari tahun 2002 hingga 2016. Data citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah Landsat 8 OLI (2016), Landsat 5TM (2009), dan Landsat 7ETM+ (2002), yang dikombinasikan dengan data in-situ dan TNW. Klasifikasi Mahalanobis dimanfaatkan untuk memproduksi peta habitat perairan dangkal (karang hidup, karang mati, lamun, dan pasir) dan mendeteksi perubahannya. Hasil yang diperoleh bahwa perubahan yang terjadi dari tahun 2002 sampai 2016 adalah tutupan karang hidup menurun dari 2217 ha menjadi 2039 ha, tutupan karang mati juga menurun dari 3327 ha menjadi 2108 ha, luas pasir meningkat dari 1201 ha menjadi 1346 ha, area lamun naik dari 4130 ha menjadi 5294 ha. Metode ini merupakan alat analisis yang baik untuk menilai efektivitas upaya perlindungan ekosistem terumbu karang dan lamun di perairan Pulau Kaledupa, serta dapat diterapkan pada 3 pulau utama lainnya di TNW dan pulau-pulau kecil di Indonesia
ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA SIRIP KUNING Thunnus albacares DI PERAIRAN SUMATERA BARAT BERDASARKAN MODEL GAM
Pengunaan Generalized Additive Model (GAM) sudah umum digunakan di beberapa wilayah laut Indonesia dengan tingkat akurasi yang lebih baik. Tujuan dari penelitian adalah untuk memprediksi daerah penangkapan ikan tuna sirip kuning melalui pendekatan statistik Generalized Additive Model (GAM). Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data penangkapan ikan tuna sirip kuning yang didapatkan dari logbook Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dan data oseanografi berupa data suhu permukaan laut, klorofil-a, salinitas dan tinggi muka laut. Analisis kelimpahan ikan dinyatakan dalam nilai laju pancing (hook rate) tuna longline. Laju tangkap merupakan indeks kepadatan stok. Didalam pemodelan, dataset dibagi menjadi 2 bagian yaitu training data yang digunakan untuk pembentukan model dan evaluation data digunakan untuk memvalidasi hasil prediksi dari pemodelan. Pada penelitian ini, data tahun 2015 digunakan sebagai training data dan data tahun 2016 digunakan sebagai evaluation data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebanyak 14 model prediksi telah dihasilkan melalui pendekatan model GAM berdasarkan parameter oseanografi. Model variabel SPL+Salinitas+TML+Chl-a merupakan yang terbaik dengan nilai AIC terkecil yaitu sebesar 658,1 dan nilai deviance terbesar yaitu 56,9%. Nilai deviance memberikan pengertian model GAM tersebut dapat menjelaskan data hook rate sebesar 56,9%. Berdasarkan model GAM, daerah penangkapan ikan yang potensial pada tahun 2016 terdapat pada perairan Pulau Siberut dan Sipora
STRUKTUR DAN ASOSIASI JENIS LAMUN DI PERAIRAN PULAU-PULAU HIRI, TERNATE, MAITARA DAN TIDORE, MALUKU UTARA
ABSTRAKKeberadaan ekosistem lamun di perairan pesisir pulau-pulau kecil berperan penting sebagai habitat dan penyedia sumber daya ikan, serta pelindung garis pantai dan daratan pulau-pulau kecil tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran, komposisi, kerapatan, penutupan dan asosiasi jenis lamun di perairan pulau-pulau kecil Hiri, Ternate, Maitara dan Tidore, Maluku Utara. Pengambilan data dengan menggunakan metode transek garis dan transek kuadrat. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan bantuan perangkat lunak MS Excel dan XLstat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Tidore memiliki jumlah jenis lamun terbanyak yakni delapan jenis lamun dari sembilan jenis lamun yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian. Tiga jenis lamun yaitu, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata, menyebar luas dan terdapat di keempat pulau tersebut. Komposisi, kerapatan dan penutupan jenis lamun bervariasi antar stasiun penelitian. Vegetasi lamun yang ditemukan di lokasi penelitian berupa vegetasi campuran yang terdiri dari tiga sampai delapan jenis lamun. E. acoroides banyak ditemukan di Stasiun Mtr1 dan Tte2 tidak berasosiasi dengan spesies lainnya, demikian juga dengan C. serrulata yang ditemukan di Stasiun Mtr2 dan T. hemprichii di Stasiun Tdr2 dan Tdr3. Asosiasi C. rotundata dan Syiringodium isoetifolium terlihat di stasiun Tdr1 dan Hr1, sementara Halophila ovalis dan H. spinulosa tidak menunjukkan asosiasi dengan jenis lamun lainnya di lokasi penelitian. Secara keseluruhan kondisi lingkungan perairan di keempat pulau tersebut masih tergolong baik dan mampu mendukung ekosistem lamun. ABSTRACTThe existence of seagrass ecosystems in the coastal region of small islands has been playing an essential role as a habitat and the supplier of fish resources, as well as a shore and coastline protector of small islands. This study aimed to determine the distribution, composition, density, coverage, and associations of seagrass plant in the islands of Hiri, Ternate, Maitara, and Tidore. Data were collected by using line transect method and quadrate transect. Furthermore, data were analyzed by using MS Excel and XLstat software. The results showed that Tidore Island has the highest number of seagrass species namely eight from nine species of seagrasses found in all research sites. Three species of seagrasses, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata, were widespread in all four islands. The composition, density and coverage of seagrass species varied among research stations. Vegetation of seagrasses found in the study site in the form of mixed vegetation consisting of three to eight species. Enhalus acoroides found mostly in Mtr1 and Tte2 stations were not associated with other seagrass species, nor Cymodocea serrulata that found in Mtr2 Station and T. hemprichii at Tdr2 and Tdr3 stations. The associations of C. rotundata and Syringodium isoetifolium were observed at Tdr1 and Hr1 Stations. While Halophila ovalis and Halophila spinulosa showed no association with other seagrass species at the study area. Overall the condition of the marine environment on the four islands is still relatively good and able to support the life of the seagrass ecosystem
ANTIBACTERIAL ACTIVITY AS INHIBITORS PATHOGEN BACTERIAL ON POND SHRIMP OF EXTRACT MARINE BIOTA COLLECTED FROM MASPARI ISLAND, SOUTH SUMATERA, INDONESIA
Marine biota has variety of bioactive compound that is potential to be an antibacterial for shrimp ponds diseases. Some of marine biota has potential as antibacterial i.e. soft coral Sarcophyton sp., Sponge Aaptos sp., seaweeds Sargassum sp. and Halimeda sp. and mangroves Avicennia sp. and Rhizophora sp. species. This study is purposed to find the most potential marine biota as antibacterial. The research method was as follows; sampling, sample identification, extraction and antibacterial activity test. The results is soft coral and sponge extract Sarcophyton sp. has bioactivity against of shrimp bacteria pathogen such as Vibrio spp2. bacteria for around 6.3±0.1 mm, while Aaptos sp. has bioactivity against Vibrio spp1. bacteria for around 7.9+0.1 mm, Vibrio spp2. bacteria for around 7.2± 0.1 to 7.9±0.1 mm, Vibrio spp6. bacteria for around 7.5±0.2 mm, Escherichia coli for around 7.2±0.1 mm and Staphylococcus aureus for around 15.9±0.2 mm. Seaweed extract activity found only of Sargassum sp. which has antibacterial activity against for around 7.1±0.0 mm for Vibrio spp6. and mangrove species activity has Rhizophora sp. extract which has bioactivity against Vibrio spp4. were 7.3±0.1 mm and E. coli bacteria were 6.7±0.1 mm. The most potential marine biota as antibacterial is showed on sponge Aaptos sp.. with an inhibitory zone for around 15.9±0.2 mm (for S. aureus bacteria)
STRATEGI PENGELOLAAN PENAMBANGAN PASIR LAUT YANG BERKELANJUTAN (STUDI KASUS PULAU TUNDA, PROVINSI BANTEN)
Penambangan pasir laut di pulau-pulau kecil, seperti Pulau Tunda, Kepulauan Seribu, Jakarta berpotensi mengakibatkan degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strategi pengelolaan penambangan pasir laut di perairan Pulau Tunda yang berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan wawancara dengan responden ahli yang dipilih secara purposive, dengan bantuan kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis dengan AHP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor dominan yang harus diperhatikan pada pengelolaan penambangan pasir laut agar menjadi berkelanjutan adalah sumberdaya alam, kebijakan pemerintah, dan sosial ekonomi masyarakat. Stakeholders yang harus diperhatikan agar penambangan pasir laut menjadi berkelanjutan adalah pemerintah, pengusaha, masyarakat dan penegak hukum. Adapun tujuan yang harus didahulukan agar penambangan pasir laut berkelanjutan, yakni reduksi degradasi lingkungan, pemulihan ekosistem dan peningkatan daya saing keindahan wilayah perairan pulau kecil yang pasirnya ditambang. Prioritas alternatif strategi yang paling penting dalam pengelolaan penambangan pasir laut agar menjadi berkelanjutan adalah revisi kebijakan penambangan pasir laut, penegakan hukum dan sangsinya, serta teknologi penambangan pasir ramah lingkungan
THE ANALYSIS OF TUNA RESOURCE UTILIZATION LEVEL WITH SPAWNING POTENTIAL RATIO METHOD IN SENDANGBIRU WATERS
High market demand for tuna drives the increasing intensity of tuna fishery in Sendangbiru waters. This occours also in almost all of Indonesian waters. High intensity of tuna fishing especially in Southern Java will threaten the preservation and sustainabilityof tuna resource. The decreasing trend of CPUE occured in the last 3 years (2013-2015) indicates that the exploitation rate of tuna resources in Sendangbiru was over fishing. This study aims to assess the status of tuna reasources due to fishing in Sendangbiru. The method used in this research is length based spawning potential ratio approaches or LB-SPR. Results from this study showed that the utilization of tuna resources in Sendangbiru is already at the level of over-exploited as shown by SPR value of 16.98 (less than 20%). Keywords : decreasing tren of CPUE, LB-SPR, Tuna fisherie
KELIMPAHAN DAN KELOMPOK FITOPLANKTON DI PERAIRAN LUAR TELUK WONDAMA, PROVINSI PAPUA BARAT
ABSTRAKKelimpahan sel fitoplankton di perairan laut tergantung pada kualitas kelompok fitoplakton dan parameter oseanografi. Penelitian bertujuan mengetahui kelimpahan dan kelompok fitoplankton serta hubungannya dengan suhu, pH, salinitas, amonia, nitrat, dan silikat. Penelitian berlangsung dari bulan Juli 2014 sampai September 2014 di perairan sekitar Pulau Roswar dan Roon bagian luar Teluk Wondama. Identifikasi fitoplankton dilakukan dengan metode sensus di atas Sedgwick Rafter Cell. Pengukuran konsentrasi amonia, nitrat, dan silikat secara berturut-turut dengan metode penat, brusin, dan molibdosilikat. Hasil menunjukkan total rata-rata kelimpahan sel fitoplankton sebesar 274,541±214,873 sel/m3 dan tertinggi pada bulan Agustus sebesar 462,951±210,802 sel/m3 (P<0,005). Kelompok fitoplankton dan kontribusinya pada total kelimpahan fitoplankton terdiri dari Bacillariophyceae (31,28%), Cyanophyceae (64,43%), Dinophyceae (4,24%), dan Chrysophyceae (0,02%). Nilai suhu, pH dan salinitas serta konsentrasi amonia dan silikat homogen dengan nilai rata-rata secara berturut-turut sebear 29,6±0,07°C, 8,2±0,04, 32,3±0,07‰, 0,04±0,01 mg/L, 0,31±0,09 mg/L. Berbeda dari nitrat konsentrasinya tinggi pada bulan September dengan rata-rata sebesar 0,02±0,01 mg/L (P<0,005). Kelimpahan sel fitoplankton sangat tergantung pada amonia, nitrat dan silikat (hubungan positif) terutama nitrat (R2 = 54,4%). ABSTRACTMarine phytoplankton abundance depends on the quality of phytoplankton groups and oceanographic parameters. The purposes of this study were examining the abundance and phytoplankton group and its relation with temperature, pH, salinity, ammonia, nitrate and silicate. The study were started from July 2014 to September 2014 in the Roswar and Roon island in outer waters of the Wondama Bay. Identification of the abundance phytoplankton calculated by census method with a Sedgwick Rafter Cell. While, the measurement of ammonia, nitrate, and silicate concentrations successively using the method of penat, brusin, and molybdosilicat. The results showed that total mean of phytoplankton cell abundance of 274.541±214.873 cell/m3 and the highest in August of 462.951±210.802 cell/m3 (P<0.005). The phytoplankton groups and its contribution on the total abundance of phytoplankton consisted of Bacillariophyceae (31.28%), Cyanophyceae (64.43%), Dinophyceae (4.24%), and Chrysophyceae (0.02%). The values of temperatures, pH and salinities as well as the concentrations of homogeneous ammonia and silicate with values mean were 29.6±0.07°C, 8.2±0.04, 32.3±0.07‰, 0.04±0.01 mg/L, 0.31±0.09 mg/L, respectively. In contrast to nitrates, high concentration was found in September with an mean of 0.02±0.01 mg/L (P<0.005). The abundance of phytoplankton cells is highly dependent on ammonia, nitrate and silicate (positive corelation) especially nitrate (R2 = 54.4%).
PERUBAHAN KOMPONEN SERAT RUMPUT LAUT Caulerpa sp. (DARI TUAL, MALUKU) AKIBAT PROSES PEREBUSAN
Rumput laut Caulerpa sp. dikenal sebagai sumber serat. Rumput laut Caulerpa sp. banyak ditemukan di pesisir pantai Indonesia, salah satunya di perairan Tual, Maluku Tenggara. Rumput laut ini sering dikonsumsi segar oleh masyarakat pesisir ataupun direbus terlebih dahulu. Perebusan bertujuan untuk menginaktifkan enzim dan menurunkan jumlah mikroba, namun dikhawatirkan dapat mempengaruhi komponen serat yang terkandung pada rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perubahan kadar serat pangan (serat pangan larut dan tak larut), serat kasar, dan komponen serat (selulosa, hemiselulosa, lignin) akibat proses perebusan pada suhu 90ºC selama 5 menit. Analisis uji yang dilakukan, diantaranya analisis proksimat, kadar karbohidrat metode Luff schoorl, serat pangan metode enzimatis, serat kasar, dan komponen serat (selulosa, hemiselulosa, lignin). Hasil penelitian menunjukkan perebusan tidak mempengaruhi kadar lignin. Perebusan meningkatkan kadar serat pangan tak larut 1,25%, selulosa 13,91%, hemiselulosa 11,4%, dan menurunkan kadar serat pangan total 3,8%, serat pangan larut 5,05%, dan serat kasar 0,85%
KLASIFIKASI HABITAT BENTIK BERBASIS OBJEK DENGAN ALGORITMA SUPPORT VECTOR MACHINES DAN DECISION TREE MENGGUNAKAN CITRA MULTISPEKTRAL SPOT-7 DI PULAU HARAPAN DAN PULAU KELAPA
Teknik klasifikasi berbasis objek dengan algoritma machine learning SVM untuk citra resolusi tinggi di Indonesia sampai saat ini masih terbatas khususnya untuk pemetaan terumbu karang, oleh karena itu diperlukan kajian lebih lanjut mengenai perbandingan metode maupun penerapan algoritma sebagai alternatif dari proses klasifikasi. Penelitian ini bertujuan memetakan habitat bentik berdasarkan klasifikasi menggunakan metode OBIA dengan algoritma support vector machine dan decision tree di Pulau Harapan dan Kelapa. Segmentasi dilakukan menggunakan algoritma multiresolution segmentation dengan faktor skala 15. Metode OBIA diterapkan pada citra terkoreksi atmosfer dengan skema klasifikasi habitat bentik yang telah ditentukan sebelumnya. Akurasi keseluruhan dari penerapan algoritma SVM dan DT masing-masing sebesar 75,11% dan 60,34%. Analisis nilai Z statistik yang diperoleh dari penerapan dua algoritma yang digunakan yakni sebesar 2,23, dimana nilai ini menunjukkan bahwa klasifikasi dengan algoritma SVM berbeda nyata dengan hasil dari penggunaan algoritma DT.