Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    PEMODELAN FISIK 3-D PADA FLOATING – TYPE BREAKWATER

    Get PDF
    BP Tangguh memiliki fasilitas pelabuhan di Teluk Bintuni, Papua Barat dengan kedalaman perairan 6 m hingga 9 m. Pada kasus ini direncanakan suatu breakwater terapung untuk melindungi aktivitas dan fasilitas pelabuhan. Pengujian model fisik 3-D dilakukan di kolam gelombang untuk menentukan efektivitas terhadap kondisi lingkungan perairan Teluk Bintuni dengan mengukur koefisien transmisi (KT). Kolam gelombang dilengkapi dengan piston pembangkit gelombang monokromatik, 4 wave gauge dan DAS (Data Acquisition System) 8 kanal. Data tinggi (H) dan periode gelombang (T) diperoleh dari rekaman sensor gelombang dan divalidasi dengan pengamatan pada peilschaal. Tinggi gelombang datang di depan breakwater (Hi) dan tinggi gelombang transmisi di belakang breakwater (Ht) diukur dan diproses untuk mendapatkan KT. Selanjutnya, hubungan antara KT dan bilangan tak berdimensi lainnya dianalisis. Hasil dari model fisik ini adalah breakwater terapung yang diajukan efektif untuk gelombang pendek dan menengah, dan tidak efektif untuk gelombang panjang. Selain itu, konfigurasi breakwater pada satu sisi bagian utara saja (konfigurasi 1) dipilih karena perbandingan dengan konfigurasi breakwater di dua sisi (utara dan barat, konfigurasi 2) dihasilkan gelombang transmisi yang tidak jauh berbeda. Bahkan konfigurasi 2 (breakwater di dua sisi) menghasilkan gelombang berdiri pada kolam pelabuhan dengan tinggi lebih dari tinggi gelombang datang. Pada gelombang pendek, breakwater terapung menghasilkan koefisien transmisi sebesar 0,5 hingga 0,7. Koefisien transmisi mengecil apabila gelombang datang dengan periode yang lebih kecil lagi

    STUDI KERAPATAN DAN PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE MENGGUNAKAN CITRA SATELIT DI PULAU SEBATIK KALIMANTAN UTARA

    Get PDF
    Hutan mangrove merupakan ekosistem yang rentan sehingga membutuhkan pemantauan terus menerus untuk mendeteksi berbagai ancaman seperti aktivitas manusia dan bencana alam. Penginderaan jarak jauh dan sistem informasi geografis (SIG) sangat efektif untuk digunakan dalam pemantauan ekosistem mangrove karena dapat menjangkau daerah yang luas dan dapat dilakukan sekala berkala. Penerapan teknologi penginderaan jarak jauh untuk memantau ekosistem mangrove di Pulau Sebatik belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini penting untuk mengetahui perubahan kondisi hutan mangrove di Pulau Sebatik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung akurasi klasifikasi tutupan lahan dengan resolusi spasial yang berbeda, mengukur perubahan mangrove dari tahun 2005 sampai 2016, dan menganalisis korelasi antara nilai Normalized Different Vegetation Index (NDVI) dan persentase tutupannya. Klasifikasi tutupan lahan dalam penelitian ini menggunakan klasifikasi terbimbing dengan algoritma Maximum Likelihood. NDVI digunakan sebagai indikator kerapatan mangrove. Pengukuran data lapangan diambil untuk menghitung tutupan kanopi. Penilaian akurasi klasifikasi citra Landsat sekitar 83% dan citra SPOT 6 sekitar 90%. Mangrove di Pulau Sebatik mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai 2016 sebesar 31,27%. Korelasi antara tutupan NDVI dan kanopi dikategorikan tinggi dengan koefisien korelasi r = 0,82 (Landsat 8) dan 0,85 (SPOT 6).Hutan mangrove merupakan ekosistem yang rentan sehingga membutuhkan pemantauan terus menerus untuk mendeteksi berbagai ancaman seperti aktivitas manusia dan bencana alam. Pengindraan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) merupakan alat yang sangat efektif untuk digunakan dalam pemantauan ekosistem mangrove karena dapat menjangkau daerah yang luas dan dapat dilakukan sekala berkala. Penerapan teknologi pengindraan jauh untuk memantau ekosistem mangrove di Pulau Sebatik belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini penting untuk mengetahui perubahan kondisi hutan mangrove di Pulau Sebatik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis korelasi antara nilai Normalized Different Vegetation Index (NDVI) dan persentase tutupan kanopi mangrove, menghitung akurasi klasifikasi tutupan lahan dengan resolusi spasial yang berbeda, dan mengukur perubahan sebaran mangrove dari tahun 2005 sampai 2016. Klasifikasi tutupan lahan dalam penelitian ini menggunakan klasifikasi terbimbing dengan algoritma Maximum Likelihood. NDVI digunakan sebagai indikator kerapatan tutupan mangrove. Pengukuran data lapangan diambil untuk menghitung tutupan kanopi. Penilaian akurasi klasifikasi citra Landsat sekitar 83% dan citra SPOT 6 sekitar 90%. Mangrove di Pulau Sebatik mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai 2016 sebesar 31,27%. Korelasi antara NDVI dan tutupan kanopi dikategorikan tinggi dengan koefisien korelasi r = 0,82 (Landsat 8) dan 0,85 (SPOT 6)

    KETERKAITAN SEDIMENTASI DENGAN PERSEN TUTUPAN TERUMBU KARANG DI PERAIRAN TELUK LAMPUNG

    Get PDF
    Sedimentasi dapat menghambat pertumbuhan terumbu karang bahkan dapat menyebabkan kematian. Penelitian ini telah dilakukan di perairan Teluk Lampung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sedimentasi terhadap terumbu karang di perairan Teluk Lampung. Sepuluh stasiun dipilih untuk pengamatan dan pengukuran. Pengukuran laju sedimentasi menggunakan alat sediment traps yang dipasang di stasiun pengamatan terumbu karang selama 20 hari. Pengamatan kondisi terumbu karang menggunakan metode transek kuadrat berukuran 1 x 1 m2. Korelasi antara sedimentasi dengan terumbu karang dilakukan dengan metode analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan laju sedimentasi di stasiun pengamatan berkisar antara 3,09-44,29 mg cm-2 day-1. Dampak yang timbul termasuk dalam kategori kecil-sedang dan sedang-berat. Kondisi terumbu karang di perairan Teluk Lampung masuk dalam kategori rusak hingga baik. Persentase tutupan karang di stasiun pengamatan berkisar antara 8,75-60,85%. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa proses sedimentasi memiliki pengaruh negatif terhadap kehidupan terumbu karang di Teluk Lampung

    Front-matter

    No full text
    Front-matter

    LAND CHANGES AND MANAGEMENT STRATEGIES OF MANGROVE IN SAWO DISTRICT, NORTH NIAS REGENCY, NORTH SUMATERA PROVINCE

    Get PDF
    One of the resources that has potential to utilization is a mangrove ecosystem. The aim of this study was to analyze the changes in the area of mangroves, analyze the causes of destruction of mangroves, and formulate strategies for sustainability management of mangroves in Sawo District. The changes in the area of mangroves was identified from  imagery and analyzed by ArcGis 10.2.2. The causes of mangrove destruction was analyzed from the data collected from the stakeholders in Sawo District that related to management of mangroves in district level, regency level, and province. The data was analyzed by Analytical Hierarchy Process (AHP) to formulate the strategies for sustainability management of mangroves. The result of landsat imagery showed that, mangrove area has decreased about 17,405 ha within a decade. Mangrove destruction was caused by human activities, such as logging and conversion of mangrove land into agriculture. The main strategy for sustainability management of mangroves was community’s empowerment, then followed by others alternatives. Keywords: AHP, coastal, destruction, ecosystem, landsa

    CHARACTERISTICS AND VARIABILITY OF THE FLORES ITF AND ITS COHERENCE WITH THE SOUTH JAVA COASTAL CURRENT

    Get PDF
    Characteristics and transport variability of the Indonesian Throughflow (ITF) in the western Flores Sea (FS) and its coherency with the South Java Coastal Current (SJCC) fluctuation are investigated using validated ocean general circulation model output (2008-2014) from the INDESO configuration.  The results show that near-surface circulation in the study area is characterized by two distinct regimes:  strong southwestward ITF flow and quasi-transient anti-cyclonic eddies. Vertical dimension of ITF crossing 7.5°S is about 112 km width, 250 m depth, and high velocity core at thermocline >0.3 m/s.  Transport volume estimates along this latitude is -4.95 Sv (southward).  Bifurcation of ITF flow appears north offshore Lombok Island where -2.92 Sv flowing into Lombok Strait and the rest flowing eastward into FS. Meanwhile, vertical dimension of SJCC crossing 114°E is about 89 km width, 120 m depth, and high velocity core at sub-surface >0.35 m/s. Mean transport of SJCC is +2.65 Sv. Coherency between Flores ITF and SJCC transport variability on intra-seasonal scales is significantly high, e.g., on 30 day period (coher=0.92) and phase-lags of 0.6-day with SJCC leading to Flores ITF. This result confirmed previous studies, related to intrusion of coastally trapped Kelvin waves into Flores Sea via Lombok Strait. Keywords: Indonesian Throughflow, western Flores Sea, South Java Coastal Curren

    CHARACTERIZATION OF NANOHYDROXYAPATITE FROM TUNA’S Thunnus sp BONE AS BIOMATERIALS SUBSTANCE

    Get PDF
    Tuna Thunnus sp is a high-value fisheries products. The abundance of waste from tuna’s processing industry has not been used optimally. The objective of this study was to produce and characterize nanohidroxyapatite (Ca5(PO4)3((OH)0.8F0.2) of tuna’s Thunnus sp bone waste using high temperature sintering of 400-800OC continuing by nanomilling method. The results of the characterization showed that the sintering temperature of 800OC was the best treatment yielding of hidroxyapatite 57.73%, 89.27% white degree level. The result of statistic analysis showed that the sintering temperature variation gave a significant effect on the white degree at the test level (p <0.05). Proximate result after sintering showed moisture content of 0.15%, 99.83% ash, 0.05% fat, 0.73% protein and 0% crude fiber. Results of heavy metal analysis showed the content of lead (Pb) and mercury (Hg) was negative, and cadmium (Cd) 0.018 ppm. The mineral test consist of calcium, phosphor, kalium, magnesium, iron, zinc, manganese, and sodium with the dominant elements were 49.76% calcium and 9.02% phosphor. The result of statistic analysis showed that the sintering temperature variation gave significant effect to the three main minerals at the test level (p<0.05). The Particle Size Analyzer test showed that nanohidroxyapatite particles was measured at 800-900 nm. The X-Ray Diffractometer analysis showed the results of sample identification contains hydroxyapatite and fluorian, with syn 100.00%. The hidroxyapatite was a compound complex and crystals formed has a hexagonal shape with a percentage of 82.9% crystallinity. Keywords : bone, nanohidroxyapatite, particles, sintering, tun

    EGGS PRODUCTION OF GROUPER HYBRID FOR SUPPORTING HATCHERY BUSINESS

    Get PDF
    The grouper hatchery now has been widely developed, usually purchased eggs from the business that produces hybrid grouper eggs   in accordance with the amount as needed. Eggs grouper that is currently in demand are eggs grouper cantang that is a cross-breed between female tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) and male giant grouper (Epinephelus lanceolatus) and cantik that is a cross-breed between female tiger grouper and male grouper batik (Epinephelus Microdon). The purpose of this research is to get information about hybrid egg production activities, marketing and economics. The study was conducted in Buleleng regency in January-December 2015, data was taken from five hatchery or business that produces only hybrid grouper egg that is one business (A) in the village of Banyuasri, Buleleng district; Three businesses (B); (C) and (D) in the village of Penyabangan, Gerokgak district and the effort (E) in the village of Banyupoh, Gerokgak district, the data were analyzed descriptively. The results of the five businesses may produce as many eggs as five to eight times a year by the amount that can be marketed  24,200,000 - 44,500,000 eggs. The result of business analysis R / C ratio > 1 which means the business is profitable. Keyword: eggs, hatchery, hybrid, production, suppor

    MANEUVERING PERFORMANCE OF A 30 GT FISHING VESSEL WITH ASYMMERICAL PROPELLER CONFIGURATION

    Get PDF
    Fishing vessels are designed with a specific mission. That mission is to locate, catch, and preserve fish while out at sea, meanwhile the vessel needed to have good maneuverability. This research describes a study on asymmetrical propeller configuration of a fishing vessel to improve its maneuvering quality. MATLAB-simulink program was used to simulate, the turning circle and the zigzag maneuvers. The simulation program was developed based on the mathematical model for a fishing vessel maneuvering. The mathematical model involved the setting-up a 3 DOF (Degres of Freedom) mathematical model in a modular of MMG (Mathematical Modeling Group) of the hull, propeller and rudder component. The result indicated that twin propeller with asymmetrical had an advantages of turning circle ability of 8% to 14 %, meanwhile the zigzag maneuver 20°/20° had 9 to 20 % 1st overshoot different between left and right heading.                                                                                         Keywords: Configuration, propeller, assymetrical, fisheries, simulatio

    PENGELOLAAN PERIKANAN LOBSTER DENGAN PENDEKATAN EAFM DI TELUK PALABUHANRATU

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan di Teluk Palabuhanratu-Sukabumi pada bulan Maret 2016. Tujuan penelitian ini adalah mendiagnosis perikanan lobster Palabuhanratu dengan menggunakan faktor-faktor Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Pengambilan sampel air dilakukan di dua titik lokasi tangkap. Pengukuran serta penimbangan morfologi lobster dilakukan di rumah pengumpul. Hasil penelitian ini menunjukkan kualitas air Teluk Palabuhanratu masih dalam batas toleransi lobster untuk hidup. Panulirus homarus (lobster pasir) merupakan lobster yang paling banyak tertangkap dibawah ukuran layak tangkap, mencapai 2528,9 Kg. CPUE lobster yang turun menandakan penurunan stok lobster di lokasi tangkap. Pendapatan nelayan masih sangat jauh dari rata-rata UMR dan partisipasi stakeholder masih kurang dalam pengelolaan perikanan lobster

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇