Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
DINAMIKA POPULASI KERANG POKEA Batissa violacea var. celebensis VON MARTENS 1897 DI MUARA SUNGAI LASOLO SULAWESI TENGGARA
Pokea merupakan jenis kerang bernilai ekonomis yang dieksploitasi nelayan Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika populasi kerang pokea di muara Sungai Lasolo Sulawesi Tenggara. Sampel kerang pokea dikumpulkan secara periodik setiap bulan selama setahun (Januari-Desember 2014) di muara Sungai Lasolo Sulawesi Tenggara. Sampel kerang dikumpulkan secara acak berdasarkan luas sapuan alat tangkap tradisional (tangge). Kepadatan kerang berdasarkan ukuran dan waktu pengamatan diuji dengan U-Mann Whitney sedangkan kepadatan terhadap produksi dan biomassa masing-masing dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerang pokea ditemukan dari ukuran 0,15-1,67 cm sampai 7,57-8,09 cm, dengan kepadatan berkisar 173-569 ind/m2. Kepadatan tinggi ditemukan dari ukuran 1,74-2,26 cm sampai 2,80-3,32 cm, yang berbeda nyata dengan kelas ukuran lain, sedangkan kepadatan kerang tidak berbeda nyata di setiap waktu pengamatan. Produksi somatik individu tertinggi ditemukan pada ukuran 5,45-5,97 cm (3,02gMKBC/m2/thn) sedangkan produksi populasi tahunan terbesar terdapat pada ukuran 2,80-3,32 cm sebesar 160,87 g MKBC/m2/thn. Biomassa pokea berkisar 0,0002-20,07 gMKBC/m2 dengan biomassa terbesar terdapat pada ukuran 2,80-3,32 sebesar 20,069 gMKBC/m2. Kemampuan pulih (P/B) pokea sebesar 8,01/thn
POPULASI FITOPLANKTON SKELETONEMA DI ESTUARIA BANYUASIN, SUMATERA SELATAN
Fitoplankton di laut mempunyai peranan penting sebagai pembentuk dasar dari rantai makanan (food-chain) dan bertanggung jawab dalam produksi primer (primary production). Kelimpahan dan jumlah jenis fitoplankton secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkat kesuburan suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan fitoplankton ditinjau dari kelimpahan, indeks keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi di estuaria Banyuasin, Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2017 di sebelas stasiun. Contoh fitoplankton diambil di permukaan perairan dengan menggunakan jaring plankton yang berbentuk kerucut dengan diameter 30 cm, panjang 100 cm dan ukuran mata jaring 30 μm. Hasil penelitian menemukan 17 marga fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae, dan terdapat ledakan populasi dari marga Skeletonema, dengan komposisi sebesar 98,71%. Nilai indeks keragaman (H’), indeks keseragaman (E) dan indeks dominansi (D) memperlihatkan adanya kondisi struktur komunitas fitoplankton yang tidak stabil. Nilai indeks keragaman pada penelitian ini berkisar antara 0,02-0,87 yang berarti komunitas dengan keanekaragaman yang rendah, nilai keseragaman berkisar antara 0,01-0,25 yang berarti komunitas dengan keseragaman tidak merata dan nilai dominansi berkisar antara 0,67-0,99 yang berarti terjadi dominansi jenis fitoplankton
ANALISIS KETERPAPARAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG AKIBAT AKTIVITAS PARIWISATA DI PULAU MENJANGAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT
Pulau Menjangan merupakan bagian dari wilayah Taman Nasional Bali Barat (TNBB), secara fisik termasuk pulau yang unik karena memiliki luas hanya 175 Ha, tidak berpenduduk dan memiliki sebaran terumbu karang yang merata di sekeliling pulau. Aktivitas pariwisata merupakan aktivitas utama yang dilakukan di pulau ini. Terpaparnya ekosistem terumbu karang oleh aktivitas pariwisata secara berlebih tanpa adanya batasan akan mengganggu ekosistem terumbu karang di suatu wilayah. Tujuan penelitian untuk mengetahui beberapa unsur serta nilai terpaparnya ekosistem terumbu karang oleh aktivitas wisata serta unsur alamiah yang menjadi ancaman kerusakan terumbu karang. Penelitian ini difokuskan pada 4 titik lokasi snorkeling menggunakan pendekatan teori kerentanan (vulnerability) dengan parameter keterpaparan yaitu jumlah pengunjung, kepadatan Acanthaster planci, tinggi gelombang, kedalaman, pH, suhu, tipe substrat perairan serta pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah perairan Pulau Menjangan berpotensi keterpaparan dari berbagai unsur, yaitu unsur alami dan unsur lain seperti aktivitas pariwisata. Nilai keterpaparan yang didapat dari wilayah perairan Pulau Menjangan TNBB adalah 1,5 yang termasuk dalam tingkat keterpaparan rendah
IMPACT OF NURSERY USING DIFFERENT PHYSICAL FILTRATION SYSTEM ON HEMOLYMPH GLUCOSE LEVEL AND SURVIVAL RATE OF SPINY LOBSTER JUVENILE Panulirus homarus
The problems in culture of early juvenile phase of spiny lobster Panulirus homarus is low survival rate of the seed. One of strategies to improve production is using filtration system during nursery of spiny lobster. The aim of this study to evaluate differentation of physical filtration system on responsse stress and survival rate of juvenile P. homarus. Experimental design of this study consisted of four treatments and two replications. The treatments were using flow through system without protein skimmer and filter (K), filtration system with protein skimmer (SK), filtration system with top filter (F) and filtration system with combinations of protein skimmer and top filter (SKF). P. homarus with initial weight 0.18+0.01 g were cultured for 60 days with density 250 lobster/tank. During maintenance, P. homarus were fed trash fish with feeding rate 20% of body weight. Parameters of glucose hemolymph were evaluated to determine stress response. Stress response was determined at day 0, 6, 20 and 60. Parameters of survival rate were determined at the end of experiment. The result showed that the treatment of filtration system with combination of protein skimmer and top filter (SKF) decreased stress responsse by decreasing glucose hemolymph of juvenile P. homarus during maintenance. Survival rate also higher (P<0.05) in treatment SKF (33.2%) than other treatments. It is concluded that SKF was the best physical filtration system for juvenile period of spiny lobster P. homarus Keywords: filtration system, glucose hemolymph, spiny lobster, survival rat
RELATIONS OF SEVERAL PHYSICOCHEMICAL PARAMETERS AND PHYTOPLANKTON IN COASTAL KUBU RAYA DISTRICT, WEST KALIMANTAN
This research was conducted in April, July and October 2013 at 8 (eight) stations: 1. Tj. Intan, 2. Tj. Tempurung, 3. Tj. Bunga Dalam, 4. Tj. Bunga dalam, 5. Tj. Burung, 6. P. Dabung, 7. Tasik Malaya, and 8. Tj. Harapan. This study aims to determine the relationship between several physic-chemical parameters and phytoplankton abundance. The results show the growth of phytoplankton biomass (chlorophyll a) was determined by high concentration of NH4 and NO3, while its growth is limited by turbidity (turbidity). Station that has high fertility in the Coastal District of Kubu Raya is Dabung Island. Keyword: water quality, chlorophyll a, coastal Kubu Raya distric
ZONA POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN MUSIM DI WPPNRI 718
ABSTRAKPenelitian ini dipresentasikan sebagai langkah awal (pilot project) dalam pengelolaan daerah penangkapan ikan berbasis spasial untuk Zona Potensial Penangkapan Ikan (ZPPI) di laut Aru, Laut Arafuru dan laut Timor bagian timur (WPPNRI 718). Lokasi pada 128°-141° BT (Bujur Timur) dan 4° -11° LS (Lintang Selatan). Tujuan dari penelitian ini adalah membuat peta tematik ZPPI yang lebih komperehensif dan mengidentifikasi ZPPI berdasarkan musim pada wilayah perairan yang lebih spesifik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan November 2016. Lokasi pengolahan data dilakukan di Laboratorium Komputer Departemen PSP FPIK-IPB. Data primer yang digunakan yakni informasi daerah penangkapan ikan yang berasal dari PPDPI (KKP) pada periode tahun 2013-2016, data sekunder dari Peta Laut digitizer Hidros no. 151 Papua dan Pulau-Pulau sekitarnya. Analisis dan pembuatan peta tematik menggunakan software MapInfo Pro 15. Hasil total ZPPI untuk musim pancaroba 1 (297 ZPPI), musim barat (264 ZPPI), musim timur (166 ZPPI), dan musim pancaroba 2 (86 ZPPI). Total ZPPI berdasarkan wilayah perairan pada Laut Aru (507 ZPPI), Laut Arafuru (261 ZPPI), dan Laut Timor (45 ZPPI), laut Aru dan laut Arafuru merupakan daerah penangkapan ikan yang potensial karena kesuburan perairan (kandungan klorofil-a yang tinggi), kedalaman perairan yang relatif dangkal dan munculnya fenomena upwelling. ABSTRACTThis study was presented as a pilot project in the management of spatially based fishing grounds for the Fish Catching Potential Zone (FCPZ) in the Aru Sea, Arafuru Sea and East Timor Sea (WPPNRI 718). Located at 128°-141° East (East Longitude) and 4°-11° South (South Latitude). The purpose of this study is to make a more comprehensive FCPZ thematic map and identify FCPZ based on the seasons in more specific waters. This research was conducted from January to November 2016. The location of data processing was carried out at the Computer Laboratory of the Department of PSP FPIK-IPB. The primary data used are information on fishing grounds originating from PPDPI (KKP) in the 2013-2016 period, secondary data from the Sea Map of the Hidros digitizer no.151 Papua and the surrounding Islands. Analysis and thematic map creation using MapInfo Pro 15 software. Total ZPPI results for transition season 1 (297 FCPZ), west season (264 FCPZ), east season (166 FCPZ), and transition 2 (86 FCPZ). Total FCPZ based on the territorial waters of the Aru Sea (507 FCPZ), Arafuru Sea (261 FCPZ), and the Timor Sea (45 FCPZ), Aru sea and Arafuru sea are potential fishing grounds due to aquatic fertility (high chlorophyll-a content), relatively shallow water depths and the emergence of upweling phenomena
RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA WAVE BUOY SEBAGAI ALAT PENGUKUR TINGGI GELOMBANG PESISIR
Gelombang di laut memiliki pergerakan yang acak dan komplek, sehingga tinggi dan periode gelombang sulit untuk diukur dan dirumuskan secara akurat. Wahana terapung seperti wave buoy dengan sensor percepatan telah banyak digunakan untuk mengukur gelombang permukaan. Penelitian ini bertujuan merancang dan membuat wave buoy sederhana sebagai pengukur tinggi gelombang di perairan pantai serta menguji coba kinerja alat yang dihasilkan pada skala laboratorium dan skala lapang, sehingga alat yang dihasilkan mampu bekerja dengan baik. Hasil perhitungan terhadap dimensi atau ukuran buoy diperoleh nilai metasentrum sebesar 2,5 dimana hal ini menunjukkan bahwa wahana pelampung stabil. Selain itu, perbedaan kecepatan pada uji coba di laboratorium berhasil diperoleh gelombang yang memiliki dua frekuensi yang berbeda, dengan galat pengukuran yang diperoleh sebesar 0,01-0,07 m dengan periode yang terukur sebesar. Kinerja alat yang dilakukan di Teluk Palabuhan Ratu diperoleh beberapa tipe gelombang yang dihasilkan. Pengujian selama 24 jam diperoleh 4 periode yang signifikan yang terbagi ke dalam tiga kelompok gelombang yakni periode 1 detik, 3,37 detik kelompok gelombang angin, 1,20 jam kelompok gelombang variasi angin dan 12 jam kelompok gelombang pasang surut. Alat yang dihasilkan dapat berfungsi dengan baik mampu menyimpan data, memiliki nilai akurasi yang tinggi dapat merekam gelombang dengan periode kecil hingga periode besar.
NUTRIEN N-P DI PERAIRAN PESISIR PANGKEP, SULAWESI SELATAN
Perairan pesisir Pangkep telah banyak mendapat run-off daratan dari kegiatan pertanian, sepanjang aliran sungai dengan kegiatan pertambakan dan pertanian yang banyak memberikan suplai dari penggunaan pupuk yang mengandung N dan P. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan menganalisis variabilitas jumlah buangan N dan P dari kegiatan pertanian dalam aliran hingga muara. Pengambilan sampel air dilakukan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2017 (musim kemarau) di perairan pesisir sungai Pangkep dengan stasiun berdasarkan jenis run-off yaitu buangan pertanian dan rumah tangga (P1); aliran sungai (P2); buangan tambak (P3); pintu tambak (P4); muara sungai (P5, P6, P7). Hasil penelitian menunjukkan Konsentrasi N-P pada tiap stasiun berkisar 0,79-1,87 mg-N/L; 0,09-0,14 mg-P/L (P1), 0,61-1,55 mg-N/L; 0,07-0,17 mg-P/L (P2), 0,51-0,77 mg-N/L; 0,08-0,13 mg-P/L (P3), 0,42-1,0 mg-N/L; 0,05-0,12 mg-P/L (P4), 0,36-0,78 mg-N/L; 0,07-0,12 mg-P/L (P5), 0,74-1,88 mg-N/L; 0,06-0,13 mg-P/L (P6), 0,44-1,16 mg-N/L; dan 0,07-0,10 mg-P/L (P7). Kegiatan pertanian, rumah tangga, dan pertambakan signifikan terhadap rata-rata buangan amoniak ke pesisir Pangkep dengan kegiatan pertanian dan rumah tangga merupakan pemasok unsur N terbesar yaitu sekitar 21,56 %.