Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
Morphological Variations in Mud Clam Polymesoda Erosa (Lightfoot) Using Fluctuating Asymmetry Analysis in La Union, Cabadbaran City, Agusan Del Norte, Philippines
Kajian morfometri geometri dilakukan pada populasi Polymesoda erosa di La Union, Kota Cabadbaran, untuk mengetahui variasi morfologi dengan menggunakan analisis fluktuasi asimetri (FA). FA bertindak sebagai indikator yang dapat diandalkan mengenai tekanan ekologi dan ketidakstabilan perkembangan karena mendeteksi perubahan genetik dan lingkungan yang dihadapi suatu organisme. Sebanyak sembilan puluh (90) individu kerang lumpur dikumpulkan dan dianalisis secara acak. Sampel air dan tanah juga dikumpulkan untuk mengumpulkan data mengenai derajat variasi tubuh dan dampak faktor eksternal terhadap P. erosa. Hasil analisis menggunakan software SAGE menunjukkan adanya fluktuasi asimetri yang sangat signifikan (P 0,0001). Variasi yang signifikan dalam simetri individu, sisi, dan interaksi antara individu dan sisi sebagian besar bertanggung jawab atas variasi substansial yang terlihat pada spesies kerang lumpur. Khususnya, landmark 10 (dorsal margin maxima) dan 13 (anterior margin maxima) menunjukkan variasi yang mencolok. Untuk hasil kualitas air, katup internal kerang lumpur kemungkinan besar tidak terpengaruh atau terkena dampak minimal, namun kadar nikelnya tinggi. Kesimpulannya, fluktuasi asimetri P. erosa dapat dikaitkan dengan lingkungan yang tertekan. Faktor lingkungan yang tidak menguntungkan menyebabkan morfologi organisme berubah sehingga mempengaruhi simetrinya.A geometric morphometric study was conducted on the population of Polymesoda erosa in La Union, Cabadbaran City, to investigate the morphological variations using fluctuating asymmetry (FA) analysis. FA acts as a reliable indicator of ecological stress and developmental instability since it detects genetic or environmental changes that an organism experiences. A total of ninety (90) individual mud clams were randomly collected and analyze. Water and soil samples were also collected to gather data on the degree of body variations and the impact of external factors on P. erosa. The result of the analysis using the SAGE software revealed a highly significant fluctuating asymmetry (P 0.0001). Significant variations in individuals, sides, and the interaction between individuals and sides symmetry were mostly responsible for the substantial variances seen in mud clam species. Particularly, landmarks 10 (dorsal margin maxima) and 13 (anterior margin maxima) exhibited notable variations. For the water quality results, the mud clam\u27s internal valve was likely to be relatively unaffected or minimally impacted, but the level of nickel was high. In conclusion, the fluctuating asymmetry of P. erosa can be attributed to a stressed environment. Unfavorable environmental factors cause an organism\u27s morphology to change, affecting its symmetry
Analisis Stok Rajungan (Portunus pelagicus) di Laut Jawa Bagian Utara Kabupaten Tegal dan Strategi Pengelolaannya: Analysis of Blue Swimming Crab (Portunus Pelagicus) Stocks in The Northern Java Sea, Tegal Regency and its Management Strategy
Tingginya nilai ekonomis rajungan dalam perekonomian mendorong peningkatan penangkapan di alam sehingga memicu terjadinya overfishing. Pendugaan stok rajungan di Kabupaten Tegal sangat minim dilakukan karena kurangnya informasi data mengenai rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kondisi stok rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Laut Jawa, Kabupaten Tegal. Pengambilan sampel sebanyak 715 ekor dari nelayan, pengepul rajungan di Desa Suradadi, Bojongsana dan Purwahamba. Dilakukan dengan menggunakan metode sampel acak (Simple Random Sampling). Sampel yang didapat dilakukan pengukuran lebar karapas dan berat tubuh rajungan. Analisis data secara manual dan menggunakan bantuan software FISAT II dikeluarkan oleh FAO-ICLARM. Diantaranya sebaran frekuensi lebar karapas, hubungan lebar berat, pola pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi serta pola rekrutmen rajungan (Portunus pelagicus). Hasil penelitian ini adalah karakteristik rajungan di Kabupaten Tegal penangkapannya menggunakan bubu lipat, jenis yang banyak ditangkap jantan dengan ukuran lebar karapas 14 cm. Kondisi stok rajungan di Kabupaten Tegal masih dikategorikan baik sebab laju eksploitasi rajungan hanya sebesar 0,31 per tahun yang menunjukkan bahwa upaya penangkapan belum melebihi batas tingkat eksploitasi maksimal yaitu 0,5 per tahun. Upaya pengelolaan rajungan di Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal yaitu strategi pengelolaan perikanan rajungan di perairan Kabupaten Tegal meliputi menetapkan pengelolaan perikanan rajungan dalam Peraturan Daerah dan sosialisasi kepada stakeholder terkait
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Biji Buah Xylocarpus granatum Terhadap Isolat Bakteri Ikan Nila (Oreochromis niloticus): Antibacterial Activity of Methanol Extract of Xylovcarpus granatum Fruit Seeds Against Tilapia (Oreochromis niloticus) Bacterial Isolates
Penggunaan berbagai jenis mangrove efektif sebagai bahan alami untuk menghambat pertumbuhan bakteri pada ikan. Buah Xylocarpus granatum mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan mengetahui nilai Minimum inhibitory concentration (MIC) ekstrak metanol biji buah X. granatum. Tahapan penelitian yaitu : preparasi dan ekstraksi biji buah X. granatum, isolasi bakteri insang ikan nila, pengujian daya hambat, pengujian MIC dan pengujian Total Plate Count (TPC). Preparasi dilakukan dengan cara mengiris tipis biji buah X. granatum dan dikeringanginkan selama 30 hari. Biji buah yang sudah kering (simplisia) dikecilkan ukurannya menggunakan blender selanjutnya diesktraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut methanol 98% selama 24 jam, selanjunya disaring. Filtrat dipisahkan dari pelarut methanol menggunakan rotary evaporator pada suhu 600C hingga didapat ekstrak biji buah X. Granatum. Kandungan metabolit sekunder ekstrak methanol biji buah X. granatum ditemukan seyawa alkaloid, triterpenoid, flavonoid, saponin, fenol, dan tanin. Perlakuan dalam penelitian ini adalah ekstrak metanol biji buah X. granatum dengan konsentrasi 100 ppm, 500 ppm, dan 1000 ppm, kontrol positif (Chloramphenicol) 1000 ppm dan akuades steril sebagai kontrol negatif. Parameter yang diamati yaitu daya hambat, MIC, dan TPC. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak metanol biji buah X. granatum memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan isolat bakteri dari insang ikan nila dengan kategori sedang (9-9.8 mm) pada konsentrasi 100 ppm dan 500 ppm, konsentrasi 1000 ppm dengan kategori kuat (11,5 mm) pada pengamatan jam ke 48. MIC ekstrak metanol biji buah X. granatum terhadap isolat bakteri insang ikan nila adalah pada konsentrasi 40 ppm. Hasil pengujian TPC pada konsentrasi 40 ppm adalah 7 CFU/ml atau terjadi penghambatan pertumbuhan bakteri sebesar 91,67%.The use of various types of mangroves is effectively used as a natural ingredient in inhibiting the growth of bacteria in fish. Fruit of Xylocarpus granatum contains secondary metabolites that have the potential as natural antibacterials. This study aims to determine the antibacterial activity and determine the value of the Minimum inhibitory concentration (MIC) of the methanol extract of X. granatum fruit seeds. The research stages consisted of seed preparation and extraction of X. granatum, isolation of bacteria from tilapia gills, inhibition testing, MIC testing, and Total Plate Count (TPC) testing. Preparation was done by thinly slicing the seeds of X. granatum and air-wdrying for 30 days. The dried seeds (simplicia) were reduced in size using a blender and then extracted by maceration using 98% methanol solvent for 24 hours, then filtered. The filtrate was separated from the methanol solvent using a rotary evaporator at a temperature of 600 °C to obtain the extract of X. granatum seeds. The content of secondary metabolites of the methanol extract of X. granatum seeds was found to be alkaloids, triterpenoids, flavonoids, saponins, phenols, and tannins. The treatment in this study were used methanol extract of X. granatum seeds with 3 concentrations (100 ppm, 500 ppm, 1000 ppm) and positive control (Chloramphenicol) 1000 ppm and negative control (sterile distilled water). The parameters observed were the inhibitory activity, the MIC, and the TPC. The results showed that the methanol extract of X. granatum fruit seeds had the ability to inhibit the growth of bacteria isolated from the gills of tilapia fish with moderate categories (9-9.8 mm) at concentrations of 100 ppm and 500 ppm and the concentrations of 1000 ppm with strong categories (11.5 mm) at 48 hours. The MIC of X. granatum seed methanolic extract on isolates of tilapia gill bacteria was at a concentration of 40 ppm. The results of the TPC test at a concentration of 40 ppm were 5.5×107 CFU/ml, with inhibition activity against 91.67% of bacterial growth
Comparison of ARIMA and LSTM Methods in Predicting Jakarta Sea Level
Dalam menghadapi risiko yang signifikan akibat kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh perubahan iklim, Jakarta sebagai kota pesisir memiliki kebutuhan mendesak untuk mengembangkan strategi yang efektif guna mengantisipasi dan memitigasi potensi dampak negatif. Dalam menghadapi tantangan ini, prediksi menjadi kunci untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul dari kenaikan permukaan air laut. Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan tujuan memperbandingkan kinerja dua metode prediksi, yaitu Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dan Long Short-Term Memory (LSTM). Kedua metode ini diaplikasikan untuk meramalkan tinggi permukaan air laut hingga akhir tahun 2023. Dalam mengevaluasi kualitas kedua model prediksi, digunakan metrik kinerja seperti Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), dan Root Mean Square Error (RMSE). Hasil analisis menunjukkan bahwa model ARIMA (1,1,4) lebih efektif dalam memprediksi tinggi permukaan air laut dibandingkan LSTM. ARIMA (1,1,4) memiliki nilai MAE 7,19, MAPE 4,86%, dan RMSE sebesar 10,35. Sementara itu, hasil forecasting dari kedua model didapatkan bahwa ketinggian permukaan air laut Jakarta diprediksi relatif stabil. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemahaman serta mitigasi potensi dampak kenaikan permukaan air laut di Jakarta sebagai hasil dari perubahan iklim.As a coastal city, Jakarta faces enormous risks from sea level rise brought on by climate change, and it is critical to create efficient plans to anticipate and minimize any potential negative effects. Predictive modeling is essential in addressing this challenge in order to anticipate and mitigate any potential negative effects of sea level rise. Therefore, research was conducted with the aim of comparing the performance of two prediction methods, namely Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) and Long Short-Term Memory (LSTM). Sea level was predicted using both techniques up to the end of 2023. Performance indicators, including Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), and Root Mean Square Error (RMSE), were employed to assess the quality of both prediction models. The result shows that the ARIMA (1,1,4) model is more effective in predicting sea level than the LSTM. The MAE, MAPE, and RMSE values for ARIMA (1,1,4) are 7.19, 4.86%, and 10.35, respectively. In the meantime, the sea level in Jakarta is predicted to remain reasonably steady, according to the forecasted findings from both models. This study is expected to make a significant contribution to understanding and mitigating the potential impacts of sea level rise in Jakarta as a result of climate change
Identifikasi Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a Lombok Strait pada Triple-Dip La Niña 2020-2022 : Identification of Sea Surface Temperature and Chlorophyll-a Variability in the Lombok Strait During the Triple-Dip La Niña Event (2020–2022)
Fenomena La Niña sering menimbulkan perubahan signifikan pada suhu permukaan laut dan dinamika ekosistem laut dalam konteks perubahan iklim global. Studi ini fokus pada pengaruh Triple-Dip La Niña 2020-2022 di Selat Lombok yang berpotensi mempengaruhi keseimbangan biologis maritim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami variabilitas suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a selama periode Triple-Dip La Niña. Penelitian menggunakan data Sea Surface Temperature (SST) dan chlorophyll (chlor_a) dari satelit Aqua-MODIS dan juga data arah dan kecepatan angin dalam bentuk Windrose di Mataram, Nusa Tenggara Barat selama periode 2020 hingga 2022 dengan periode 3 bulanan untuk meninjau variabilitas suhu permukaan laut dan klorofil-a yang terjadi. Pendekatan statistik, termasuk kalkulasi koefisien korelasi, diaplikasikan untuk menentukan hubungan antarvariabel. Ditemukan bahwa suhu tertinggi terjadi pada tahun 2020, sementara konsentrasi klorofil-a tertinggi tercatat pada tahun yang sama, khususnya di wilayah pesisir dengan suhu permukaan laut yang relatif lebih rendah dari sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh lemah antara klorofil-a dan SST pada wilayah Selat Lombok.The La Niña phenomenon often causes significant changes in sea surface temperature and deep-sea ecosystem dynamics in the context of global climate change. This study focuses on the impact of the 2020–2022 Triple-Dip La Niña in the Lombok Strait, which potentially affects maritime biological equilibrium. The research aims to identify and understand the variability of Sea Surface Temperature (SST) and chlorophyll-a concentrations during the Triple-Dip La Niña period. The study utilizes Sea Surface Temperature (SST) and chlorophyll (chlor_a) data from the Aqua-MODIS satellite, as well as wind direction and speed data in the form of Windrose diagrams in Mataram, West Nusa Tenggara, from 2020 to 2022, with a three-month interval to examine the variability in SST and chlorophyll-a concentrations. Statistical approaches, including correlation coefficient calculations, were applied to determine the relationships between variables. It was found that the highest temperature occurred in 2020, while the highest chlorophyll-a concentration was also recorded in the same year, particularly in coastal areas where the sea surface temperature was relatively lower than the surrounding areas. The results indicate a weak correlation between chlorophyll-A and SST in the Lombok Strait region
Identifikasi Spesies Ikan Pembersih pada Pari Manta Karang (Mobula alfredi) di Cleaning Stations Manta Sandy, Selat Dampier, Raja Ampat: Identification of Cleaner Fish Species Associated with Reef Manta Rays (Mobula alfredi) at Cleaning Stations in Manta Sandy, Dampier Strait, Raja Ampat
Ikan pembersih merupakan spesies ikan yang berinteraksi dengan organisme laut lainnya dengan membersihkan tubuh mereka dari parasit dan sisa-sisa debris. Ikan ini memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan berbagai spesies laut, termasuk pari manta karang (Mobula alfredi). Namun, keterbatasan pemahaman mengenai interaksi antara ikan pembersih dan pari manta karang menjadi tantangan dalam upaya konservasi laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies ikan pembersih yang berinteraksi dengan pari manta karang (M. alfredi) di Manta Sandy, Selat Dampier, Raja Ampat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi jebakan kamera (camera trap), dengan menempatkan tiga kamera GoPro pada lokasi yang berbeda di area penelitian. Pengambilan data dilakukan selama 14 hari pada bulan Februari 2023 untuk mendokumentasikan interaksi ikan pembersih dengan pari manta karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga spesies ikan pembersih yang ditemukan di Stasiun Pembersihan Manta Sandy, yaitu Labroides dimidiatus, Thalassoma lunare, dan Chaetodon kleinii. Penelitian ini mengonfirmasi keberagaman spesies ikan pembersih di Manta Sandy serta memberikan wawasan penting mengenai peran ekologis dan signifikansi konservasi spesies tersebut. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi penting bagi penelitian lebih lanjut dalam rangka mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut di wilayah Raja Ampat dan sekitarnya.Cleaner fish are specialized fish species that coexist with other marine organisms by removing parasites and debris from their bodies. These fish play a crucial role in maintaining the health of various marine species, including reef manta rays (Mobula alfredi). However, a limited understanding of their interactions presents a significant challenge in marine conservation. This study aims to identify the species of cleaner fish that interact with reef manta rays (M. alfredi) at Manta Sandy, Dampier Strait, Raja Ampat. A modified camera trap method was employed, utilizing three GoPro cameras strategically placed at different locations within the study site. Data collection was conducted over 14 days in February 2023 to document cleaner fish interactions with reef manta rays. The findings revealed the presence of three cleaner fish species at the Manta Sandy Cleaning Station: Labroides dimidiatus, Thalassoma lunare, and Chaetodon kleinii. This study highlights the diversity of cleaner fish species at Manta Sandy, contributing valuable insights into their ecological roles and conservation significance. The findings serve as a crucial reference for future research on marine biodiversity conservation in Raja Ampat and surrounding regions
Estimasi Kesuburan Perairan Teluk Lampung berdasarkan Vertically Generalized Production Model (VGPM): Estimation of Lampung Bay Waters Fertility Based on Vertically Generalized Production Model (VGPM)
Lampung Bay is an important water crossing in South Sumatra that is greatly influence by anthropogenic activities and oceanographic characteristics. This study characterized and estimated the spatial and temporal Primary Productivity (PP) in the three sections of the bay: head, middle, and mouth. The PP was modeled by using Sea Surface Temperature (SST), chlorophyll-a, Primary Productivity, and Photosynthetically Active Radiation (PAR) collected from remote sensing data and field measurements. Primary productivity was modeled with a Vertically Generalized Production Model (VGPM), and data validation was done using the Root Mean Square Error method. The distribution of PAR in Lampung Bay ranged from 35–52.50 E/m2/day. The distribution of SST ranged from 28.5–31.50°C. The highest distribution of chlorophyll-a was at the hHead of the bay with a range of 0.30-12 mg/m3. Correlation analysis shows that chlorophyll-a had the highest influence on PP (R2=0.99). While the middle and outer areas of the bay have a low average with values of 122.65 and 101.84 gC/m2/year. Our models show that there is high primary production at the Head of the bay, reaching eutrophic and mesotrophic levels. The middle and outer areas of the bay show productivity levels corresponding to mesotrophic and oligotrophic levels.Teluk Lampung merupakan jalur perairan penting di Sumatera Selatan yang dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik dan karakteristik oseanografis. Penelitian ini mengestimasi produktivitas primer (PP) secara spasial dan temporal di tiga bagian teluk: hulu, tengah, dan muara, menggunakan data suhu permukaan laut (SPL), klorofil-a, dan radiasi fotosintesis aktif (PAR) dari penginderaan jauh dan pengukuran lapangan. Pemodelan PP dilakukan dengan Vertically Generalized Production Model (VGPM) dan divalidasi menggunakan metode Root Mean Square Error (RMSE). Distribusi PAR berkisar antara 35–52,50 E/m²/hari, sementara SST berada pada 28,5–31,50°C. Konsentrasi klorofil-a tertinggi ditemukan di hulu teluk (0,30–12 mg/m³). Analisis korelasi menunjukkan klorofil-a memiliki pengaruh terbesar terhadap PP (R²=0,99). Produktivitas rata-rata di area tengah dan luar lebih rendah, masing-masing sebesar 122,65 dan 101,84 gC/m²/tahun. Model menunjukkan produksi primer tinggi di hulu teluk, mencapai tingkat eutrofik dan mesotrofik, sedangkan area tengah dan luar cenderung mesotrofik hingga oligotrofik. Hasil ini penting untuk pengelolaan sumber daya pesisir dan pelestarian ekosistem perairan setempat
Status Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linnaeus, 1758) di Pesisir Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan: Biology Status of Blue Swimming Crabs (Portunus Pelagicus Linnaeus, 1758) on the Coast of Pangkajene dan Kepulauan Regency, South Sulawesi
Pangkajene dan Kepulauan regency are one of the blue swimming crabs fishing center and processing located in South Sulawesi. This research is conducted to analyze the biological aspect and the usage status of blue swimming crab (Portunus pelagicus) on the coast of Pangkajene dan Kepulauan regency. Data collection used a survey method by conducting interviews with fishermen, observing research sites and measuring crabs directly in the field. Samplings were obtained twice a month from November 2018 to April 2019. 7200 Portunus crabs from the fisherman were randomly selected to measure the size and the weight which consists of 3900 male and 3300 female crabs from different districts were Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri, and Mandalle. The measurement result are then analyzed using Microsoft Excel program and ELEFAN I method in FISAT II program. The result showed that the maximum age of blue swimming crab predicted can reach 4 years, with the natural mortality (M) of Portunus male crabs is 0.67 and female crabs 0.82 per year then fishing mortality (F) is 3.54 and 4.12 per year. The total mortality (Z) is 4.20 and 4.94 per year with the exploitation rate (E) around 0.84 and 0.83. Therefore, based on the system dynamics model of non-equilibrium fish biomass resulted that the biology status of blue swimming crabs on Pangkep regency has reached the overfishing condition.Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) merupakan salah satu daerah yang menjadi sentra penangkapan dan pengolahan rajungan di Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi serta status pemanfaatan rajungan (Portunus pelagicus) yang tertangkap di pesisir Kabupaten Pangkep. Pengumpulan data menggunakan metode survei dengan melakukan wawancara terhadap nelayan, observasi ke lokasi penelitian dan pengukuran rajungan secara langsung di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan dua kali dalam tiap bulan sejak bulan November 2018 hingga bulan April 2019. Sebanyak 7200 ekor sampel hasil tangkapan nelayan diambil secara acak dan dilakukan pengukuran lebar dan bobot yang terdiri dari 3900 ekor jantan dan 3300 ekor betina yaitu dari Kecamatan Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri, serta Mandalle. Hasil pengukuran kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan metode ELEFAN I pada program FISAT II. Hasil analisis menunjukkan umur maksimal rajungan diduga mencapai empat tahun. Mortalitas alami (M) rajungan jantan dan betina masing-masing sebesar 0,67 dan 0,82/tahun, mortalitas penangkapan (F) 3,54 dan 4,12/tahun, mortalitas total (Z) 4,20 dan 4,94/tahun. Laju eksploitasi (E) sebesar 0,84 dan 0,83. Hasil pendekatan model dinamika biomassa ikan non equilibrium menunjukkan status biologi rajungan di Kabupaten Pangkep telah berada pada posisi overfishing
Sebaran Suhu Permukaan Laut Teluk Lampung berdasarkan Citra Landsat-8 dan Kaitannya terhadap Indian Ocean Dipole (IOD) Periode Tahun 2013 – 2021: Sea Surface Temperature Distribution in Lampung Bay Based on Landsat-8 Images and its Relation to the Indian Ocean Dipole (IOD) on the Period Year 2013-2021
Suhu permukaan laut merupakan parameter oseanografi yang penting di perairan lautan karena perubahan suhu air laut dapat mengubah ekosistem perairan. Perairan Teluk Lampung yang berasal dari Samudera Hindia dan Laut Jawa yang melewati Selat Sunda akan dipengaruhi oleh Indian Ocean Dipole (IOD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) antar-tahun secara spasial dan temporal dalam kurun waktu 9 tahun terakhir (2013-2021) serta menganalisis pengaruh fenomena IOD terhadap anomali SPL di Teluk Lampung. Metode yang digunakan adalah metode uji regresi, metode deskriptif dan statistik korelatif. Hasil menunjukkan bahwa nilai SST dari ekstraksi citra Landsat-8 dapat mewakili kondisi SPL in situ dengan uji regresi R2=0,6872. Fenomena IOD memengaruhi pola sebaran SPL perairan Teluk Lampung terlihat pada fase IOD positif (2015, 2018 dan 2019) atau fase IOD negatif (2013 dan 2016) menunjukkan adanya anomali Sea Surface Temperature (SST) perairan Teluk Lampung. Korelasi antara IOD dan SPL di Teluk Lampung memiliki dua hasil yaitu pada perairan terbuka (TL3, TL4, dan TL5) berkorelasi sedang (r>0,7) dan korelasi lemah (r<0,2) pada titik pengamatan TL1 dan TL6 yang merupakan titik dekat dengan daratan.Sea surface temperature is an important oceanographic attribute in ocean waters, that changes of sea water temperature can change aquatic ecosystems. Lampung Bay waters originating from the Indian Ocean and the Java Sea which pass through the Sunda Strait will be influenced by the Indian Ocean Dipole (IOD). This study aims to analyze spatial and temporal inter-annual Sea Surface Temperature (SST) distribution patterns in the last 9 years (2013-2021) and analyze the Indian Ocean Dipole (IOD) phenomenon that caused an anomaly of SST in Lampung Bay. The method used in this study is a regression validation method, descriptive method and correlative statistics. The results showed that the SST value of Landsat-8 image extraction can represent in situ SST conditions because R2=0.6872. The IOD phenomenon influences the Lampung Bay water’s SST distribution pattern. Positive IOD phase years (2015, 2018 and 2019) or negative IOD phases (2013 and 2016) shown SST of Lampung Bay waters has a different distribution pattern and anomalous values. But correlation between IOD and SST in Lampung Bay had two different result which in open water (TL3, TL4, and TL5) is mid-correlate (r>0.7) and weak correlation (r<0.2) at observation points TL1 and TL6 which are close to the mainland