Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
THE BODY OF LOBSTER CATCHES IN PALABUHANRATU THAN THE APPLICABLE REGULATORY
Lobster is one of the commodities that Indonesia export fisheries worth selling high. The value of selling lobster is affected by type, size, and condition or completeness of her body. Palabuhanratu is one of the centers of the lobster fishery in the South of West Java. Research on condition of fishing lobster in Palabuhanratu was done in April through November 2016 include the type, gender, number, and size (carapace length and weight) and its relationship with regulatory. Observation and measurement of the collecting is done in the lobster that come for each/sold to the warehouse by fisherman and follows directly the activities of catching lobsters. The data already obtained tabulated and analyzed. The results showed that types of lobsters captured fisherman Palabuhanratu are Panulirus ornatus, Panulirus penicillatus, Panulirus versicolor and Panulirus homarus. The majority of lobsters are caught is a kind of lobster P. homarus and P. ornatus and then followed P. penicillatus and P. versicolor. The number of the male for P. homarus, P. versicolor and P. ornatus more than females while the females of P. penicillatus more than males. The majority of the lobster weights less than 300 grams and carapace length less than 8 cm. The body condition of fishing lobster in Palabuhanratu based on the lobster fishery regulations that exist for all types of lobsters is a majority yet decent catch. Keywords: type, lobster, Palabuhanratu, siz
VARIATION OF VOLUME TRANSPORT AND VARIABILITY OF CURRENT IN KARIMATA AND GASPAR STRAITS DURING 2010-2014 BASED ON NUMERICAL MODELING
Karimata Strait located between Kalimantan and Bangka Islands, while Gaspar Strait located between Bangka and Belitung Islands. Volume transport variations through Karimata and Gaspar Straits during 2010-2014 were studied using three-dimensional numerical model of HAMburg Shelf Ocean Model (HAMSOM). Simulated area is located in 1°0′0′′N - 4°30′0′′N and 104°0′15′′E - 110°30′0′′E with a horizontal resolution of 0.5′ (about 0.94 km). The correlations value of current velocity from model with observation is quite high i.e. 0.85 for zonal component (u) and 0.89 for meridional (v) with 95% of significance level. The results of signal analysis showed that the volume transport is strongly influenced by the seasonal period. In addition to seasonal wind, there was also weak and medium phase of El Niño and La Niña during 2010 - 2014 that affected volume transport. The average volume transport from 2010-2014 through Karimata and Gaspar Straits are -2.75 Sv and -1.98 Sv, respectively (1 Sv = 106 m3/s). The negative value shows the southward volume transport, while positive to north. Total transport to south indicates that there are may be due to parts of Indonesia Through Flow (ITF) flow through South China Sea, Karimata Strait, and Gaspar Strait to the Java Sea.Keywords: volume transport, Karimata Strait, Gaspar Strai
KARAKTER MORFOMETRIK DAN ASOSIASI TUNA SIRIP KUNING Thunnus albacares DAN TUNA BAMBULO Gymnosarda unicolor (Ruppell) DI PERAIRAN SIMEULUE, PROVINSI ACEH
Pulau Simeulue yang dikelilingi oleh terumbu tepi, secara geografis termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Simeulue yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tuna sirip kuning Thunnus albacares dan tuna bambulo Gymnosarda unicolor merupakan jenis epipelagik yang potensial di perairan Simeulue. Kedua jenis tuna ini belum banyak dipelajari karakter bio-ekologinya. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui karakter morfometrik dan mengkaji asosiasi spesifik tuna di perairan Simeulue. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2017, dengan metode pengamatan dan pengukuran langsung tuna hasil tangkapan nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing ulur, dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis komponen utama (principal component analysis) dan analisis cluster. Hasil tangkapan tuna sirip kuning sebanyak 85 ekor dengan kelas ukuran 35-105 cm dan sebanyak 189 ekor tuna bambulo dengan kelas ukuran 40-110 cm. Karakter morfometrik tuna sirip kuning dan tuna bambulo yang didominasi ukuran besar terdapat di stasiun Teupah Selatan, dan dominasi ukuran kecil di stasiun Simeulue Timur. Asosiasi spesifik tuna sirip kuning dan tuna bambulo pada tingkat similaritas 80,0% membentuk 3 (tiga) kelompok
STRUKTUR POPULASI IKAN TERI HITAM Stolephorus commersonii DI TELUK PALABUHANRATU
Ikan teri hitam Stolephorus commersonii merupakan salah satu ikan pelagis yang memiliki peranan penting dan berpotesi cukup besar bagi produksi perikanan di kawasan Teluk Palabuhanratu dibuktikan dengan jumlah hasil tangkapan berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. Aktivitas penangkapan ikan yang terus meningkat dan dikhawatirkan dapat membahayakan kelestarian sumberdaya, sehingga penetapan dan penerapan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan mutlak harus dilakukan. Penelitian dilakukan untuk menganalisis reproduksi dan dinamika populasi ikan teri hitam. Pengambilan contoh dilakukan bulan Mei sampai September 2017. Analisis data terdiri dari nisbah kelamin, fase tingkat kematangan gonad, sebaran frekuensi panjang dan hubungan panjang dan bobot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan contoh yang diambil berjumlah 1838 ekor tidak seimbang dengan perbandingan jantan dan betina 1:1,7 atau 36,96% : 63,04%. Ikan dominan tertangkap pada selang kelas 48-56 mm sedangkan puncak tingkat kematangan gonad pada selang kelas 91-104 mm di bulan Agustus. Pola pertumbuhan ikan teri memiliki hubungan panjang bobot yang bersifat alometrik negatif didominasi oleh ikan yang masih muda dan seharusnya tidak boleh ditangkap, sehingga perlunya penutupan daerah atau musim penangkapan dan pengaturan mata jaring dan alat tangkap untuk mencegah kerusakan lingkungan perairan
POTENSI DAN DISTRIBUSI SPASIAL IKAN DEMERSAL DI LAUT JAWA (WPP NRI-712) DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI HIDROAKUSTIK
Salah satu upaya pengelolaan perikanan lestari membutuhkan informasi potensi dan pola penyebaran sumberdaya ikan di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara spasial distribusi ikan dan menghitung potensi sumber daya ikan demersal di WPP NRI 712 (Laut Jawa) dengan metode hidroakustik, dan melihat perubahan biomassa ikan dalam kurun waktu 2011-2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi ikan demersal menyebar pada beberapa lokasi di utara perairan Cirebon, perairan Lampung timur, selatan Taman Nasional Tanjung Puting dan Kepulauan Seribu. Sumberdaya ikan demersal yang terdeteksi didominasi oleh ukuran ikan dengan kisaran panjang antara 30-31 cm dengan lima kohort sumberdaya ikan demersal. Biomassa ikan demersal sebesar 875.463 ton, dengan kepadatan ikan rata-rata yaitu 117,87 kg/km3. Potensi lestari ikan demersal sebesar 437.732 ton/tahun atau meningkat 36,6% dari potensi tahun 2015. Kepadatan ikan rata-rata dan biomassa mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Salah satu faktornya yaitu karena adanya waktu untuk ikan dapat melakukan pemulihan sumberdaya secara alami. Penerapan kebijakan pengelolaan dalam upaya pemulihan dan pemanfaatan perlu dilakukan untuk menciptakan perikanan yang lestari dan berkesinambungan
PENENTUAN PENGARUH KUALITAS TANAH DAN AIR TERHADAP PRODUKSI TOTAL TAMBAK POLIKULTUR UDANG VANAME DAN IKAN BANDENG DI KABUPATEN LAMONGAN, PROVINSI JAWA TIMUR MELALUI APLIKASI ANALISIS JALUR
Produktivitas polikultur udang vaname dan ikan bandeng dipengaruhi oleh faktor kualitas tanah dan air tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung atau tidak langsung kualitas tanah dan air terhadap produksi total pada tambak polikultur udang vaname dan ikan bandeng di Kabupaten Lamongan dengan menggunakan analisis jalur. Penelitian dilaksanakan di kawasan tambak Kecamatan Glagah, Karangbinangun, Turi, Sukodadi, Karanggeneng, dan Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan. Kualitas tanah ditetapkan sebagai peubah bebas dan eksogen; kualitas air sebagai peubah perantara, tergantung dan endogen; serta produksi total sebagai peubah tergantung dan endogen. Karakteristik lingkungan diketahui melalui aplikasi statistik deskriptif, sedangkan pengaruh faktor lingkungan diketahui melalui aplikasi analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi total tambak polikultur udang vaname dan ikan bandeng di Kabupaten Lamongan dipengaruhi secara nyata oleh 2 peubah dari 15 peubah kualitas tanah dan 2 peubah dari 11 peubah kualitas air. Peubah kualitas tanah meliputi pHKCL tanah dengan pengaruh langsung sebesar 0,314 dan Al tanah sebesar -0,426, sedangkan peubah kualitas air meliputi DO dengan pengaruh langsung sebesar -0,367 dan pH air sebesar -0,245 terhadap produksi total
KLASIFIKASI HABITAT PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN LOGIKA FUZZY DAN MAXIMUM LIKELIHOOD PADA CITRA SATELIT MULTISPEKTRAL
ABSTRAKLogika fuzzy memiliki aplikasi di berbagai bidang, namun memiliki arti khusus untuk penginderaan jarak jauh. Logika fuzzy memungkinkan keanggotaan parsial, bagian yang sangat penting dibidang penginderaan jarak jauh, karena keanggotaan parsial diterjemahkan secara dekat dengan masalah piksel campuran. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan algoritma klasifikasi logika fuzzy untuk memetakan habitat dasar Perairan dangkal pada Citra Satelit SPOT 7 dan Sentinel 2A, menguji tingkat akurasinya dan membandingkan algoritma klasifikasi logika fuzzy dengan maximum likelihood. Pengambilan data lapang berlokasi di gusung Karang Lebar dan Karang Congkak, Kepuluan Seribu pada tanggal 6 Desember sampai dengan 10 Desember 2017. Keseluruhan hasil uji akurasi menunjukan bahwa algoritma logika fuzzy masih memiliki tingkat akurasi yang baik dibandingkan dengan algoritma maximum likelihood. Perbedaan ukuran pixel (resolusi spasial) dari citra satelit juga mempengaruhi hasil akurasi, dimana citra satelit SPOT 7 memiliki tingkat akurasi yang lebih besar dibandingkan dengan Sentinel 2A.ABSTRACTFuzzy logic has applications in various fields, but has special meaning for remote sensing. Fuzzy logic allows partial membership, a very important property in the field of remote sensing, since partial membership is translated closely to the problem of mixed pixels. The aim of this research is to apply fuzzy logic classification algorithm to map benthic habitat in SPOT 7 and Sentinel 2A satellite imagery, test its accuracy level and compare fuzzy logic classification algorithm with maximum likelihood. Field data retrieval located in Karang Lebar and Karang Congkak, Kepulauan Seribu on 6 December until 10 December 2017. The overall accuracy test results show that fuzzy logic algorithm still has a good accuracy level compared to the maximum likelihood algorithm. Differences in pixel size (spatial resolution) of satellite imagery also affect accuracy results, where SPOT 7 satellite imagery has greater accuracy then Sentinel 2A.
DESAIN FREEBOARD MINIMUM TERHADAP KESELAMATAN DAN PENGURANGAN BIAYA OPERASIONAL KAPAL PERIKANAN 30 GT DI PERAIRAN SULAWESI (STUDI KASUS KM INKA MINA 759)
Kapal perikanan umumnya dirancang dengan misi khusus untuk menemukan, menangkap, dan mengawetkan ikan, sementara itu kapal harus memiliki tingkat keselamatan yang baik, biaya operasional yang rendah serta ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan tingkat keselamatan dan pengurangan biaya operasional kapal perikanan 30 GT melalui desain freeboard minimum. Paket program Maxsurf telah digunakan dalam pemodelan dimensi, desain bentuk kasko, prediksi stabilitas dan resistensi pada 4 (empat) model kasko yang dianalisis (K1, K2, K3 dan K4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kasko K2 dengan rasio dimensi utama lebih lebar (L/B=4,98; B/D=3,26; B/T=4,80; D/T=1,47) memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik dibandingkan 3 (tiga) model kasko lainnya (K1, K3 dan K4), sementara pengurangan nilai resistensi tertinggi ditunjukkan oleh model bentuk kasko K3 dengan rasio dimensi utama lebih ramping (L/B=6,43; B/D=2,78; B/T=4,09; D/T=1,47). Secara umum, keempat model bentuk kasko yang dianalisis layak dioperasikan sesuai dengan kriteria IMO
ESTIMASI CADANGAN KARBON PADA LAMUN DI PESISIR TIMUR KABUPATEN BINTAN
ABSTRAKSalah satu upaya untuk mengurangi emisi gas karbon pemicu pemanasan global adalah dengan memanfaatkan vegetasi pesisir seperti lamun yang dikenal dengan istilah blue carbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stok karbon pada padang lamun di Pesisir Timur Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau sebagai upaya dalam mengurangi pemanasan global. Penelitian dilakukan di Berakit, Malang Rapat, dan Teluk Bakau mulai Januari – Juli 2017. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah biomassa, kandungan karbon, dan stok karbon pada lamun. Analisis biomassa diukur dari berat kering lamun per satuan luas yang dibagi atas bagian atas dan bawah substrat, kandungan karbon diukur dengan metode Walkley and Black, stok karbon diukur dengan memperhatikan kandungan karbon dan biomassa lamun. Hasil penelitian menunjukkan ekosistem lamun di pesisir timur Kabupaten Bintan ditumbuhi oleh C. rotundata, C. serrulata, E. acoroides, H. uninervis, H. pinifolia, H. ovalis, T. hemprichii, T. ciliatum dan S. isoetifolium dengan kondisi yang relatif baik. Persentase biomassa dan karbon yang berada di bawah substrat lebih besar dibanding biomassa yang berada di atas substrat, sehingga ketika bagian pelepah dan daun lamun lepas baik karena tindakan manusia ataupun alam lamun masih tetap mampu menyimpan karbon. Padang lamun di pesisir sebelah timur Kabupaten Bintan memiliki potensi dalam menyerap dan menyimpan karbon yakni sebesar 2431.33 ton C dengan E. acoroides sebagai spesies yang mampu menghasilkan biomassa terbesar dan kandungan karbon tertinggi, meski jumlah tersebut tidak dapat dijadikan acuan apakah lamun memiliki potensi yang tinggi ataupun tidak karena hingga saat ini belum ada nilai standardnya. ABSTRACTOne of the solutions to reduce carbon gas emissions that triggered global warming is to utilize coastal vegetation such as seagrass that known as blue carbon. This research was aimed to determine stock carbon on seagrass in the east coast of Bintan Regency, Kepulauan Riau Province as an effort to reduce global warming. The research was conducted in Berakit, Malang Rapat, and Teluk Bakau from January to July 2017. The parameters measured in this research were biomass, carbon content, and carbon stock on seagrass. The anylisis of the biomass was obtained from the dry weight per unit area, the carbon content was obtained by Walkley and black method, the carbon stock was obtained by the measurement of the biomass and carbon content. Based on the observation, seagrass ecosystem in east coast of Bintan was palnted by C. rotundata, C. serrulata, E. acoroides, H. uninervis, H. pinifolia, H. ovalis, T. hemprichii, T. ciliatum, dan S. isoetifolium. The below ground biomass and carbon percentation were higher that the aboveground parts so when the leaves are released either because of human or natural actions, seagrass is still able to store carbon. Seagrass beds on the east coast of Bintan Regency have the potential to absorb and store carbon which is equal to 2431.33 tons C as E. acoroides being the species which capable of producing the highest biomass and highest carbon content, although this number cannot be used as a reference whether seagrass has high potential or no because until now there has been no standard value.
PERBANDINGAN TUTUPAN KARANG KERAS SEBELUM, SAAT DAN SESUDAH PEMUTIHAN KARANG DI PERAIRAN KRUENG RAYA, ACEH BESAR
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tutupan karang keras pada waktu sebelum (tahun 2015) saat (2016) dan sesudah pemutihan karang (2017) di Krueng Raya, Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2017 di Krueng Raya, Aceh Besar. Pengambilan data dilakukan di 3 stasiun pengamatan menggunakan metode PIT (Point Intercept Transect) yang meliputi: Benteng Inong Balee, Ahmad Rhang Manyang, dan Lhok Mee. Hasil penelitian menunjukkan persentase rata - rata tutupan karang keras tahun 2015 sebesar 52,83% berkategori baik, tahun 2016 sebesar 32,43% berkategori sedang dan tahun pada tahun 2017 persentase tutupan karang keras menjadi 22,90% dan masuk ke dalam kategori rusak. Terdapat sebanyak 16 genus karang (2015), 18 genus karang (2016) dan 8 genus karang 8 (2017). Indeks Mortalitas (IM) tahun 2015 berkisar antara 0,02-0,20 (tingkat kematian karang yang rendah), tahun 2016 berkisar antara 0,13-0,49 (kematian karang rendah), tahun 2017 berkisar antara 0,63-0,79 (tingkat kematian karang tinggi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase tutupan karang keras mengalami penurunan hingga mencapai ±50% yang diakibatkan oleh pemutihan karang pada Perairan Krueng Raya Aceh Besar. ABSTRACTThe aim of this study was to determine hard coral cover at the time before (2015), during (2016) and after coral bleaching (2017) in Krueng Raya, Aceh besar. This study was conducted on April 2017 in Krueng Raya, Aceh Besar. Data collection was carried out at 3 observation stations using the PIT (Point Intercept Transect) method which included : Fort Inong Balee, Ahmad Rhang Manyang, and Lhok Mee. The results showed that the average percentage of hard coral cover in 2017 was 22.90% (bad category), it was lower than in 2016 32.43% (medium category) and in 2015 was 52.83% (good category). There were found 16 genera of coral (2015), 18 genera of coral (2016), and 8 genera of coral (2017). Mortality Index (MI) in 2015 ranged between 0.02-0.20 (low coral mortality rate), in 2016 ranged between 0.13-0.49 (low coral mortality rate), in 2017 ranged between 0.63-0.79 (high coral mortality rate). The results of this study indicate that the percentage of hard coral cover has decreased to reach 50% due to coral bleaching in the waters of Krueng Raya Aceh Besar