Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
POLA DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN POPULASI KELOMANG LAUT DI PANTAI SINDANGKERTA, KECAMATAN CIPATUJAH, KABUPATEN TASIKMALAYA
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan April 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi secara kuantitatif mengenai pola distribusi dan kelimpahan populasi kelomang laut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan desain penelitian belt transect dan teknik pengambilan sampel hand sorting. Pengambilan sampel dilakukan pada Zona Litoral di 6 stasiun dengan 5 plot kuadrat tiap stasiun. Luas plot kuadrat yang dipakai berukuran 1 x 1 m. Data yang diambil adalah data kelomang laut dan data pendukung lingkungan. Analisis data meliputi pola distribusi dan kelimpahan populasi kelomang laut. Determinasi kelomang dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian LIPI Oseanografi Jakarta. Hasil determinasi diperoleh 50 individu kelomang laut yang terdiri dari satu suku dan 9 jenis, yaitu Aniculus erythraeus, Calcinus morgani, Calcinus laevimanus, Clibanarius corallinus, Clibanarius humilis, Clibanarius mergueinsis, Clibanarius striolatus, Clibanarius virescens, dan Dardanus megistos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan populasi kelomang laut berkisar antara 1 ind/m2 – 2 ind/m2. Analisis kelimpahan secara umum menunjukkan tingkat kelimpahan yang rendah. Indeks Morisita menunjukkan pola distribusi kelomang laut di Pantai Sindangkerta termasuk kategori mengelompok (Id > 1) dan seragam (Id < 1)
SPAWNING AND DEVELOPMENT OF DOG CONCH Strombus sp. LARVAE IN THE LABORATORY
An intensive exploitation of dog conch Strombus sp. in Tanjungpinang city coastal waters has occurred because the increasing number of fishermen, population growth and demand. In addition, the increasing activities of bauxite mining cause the declining in quality of waters around dog conch, thus providing ecological pressure that endangers sustainability of the dog conch. The purpose of this study was to observe the spawning and development of dog conch in the laboratory. Spawning was done in aquarium with 100 liters of seawater (salinity: 26±1 ppt), with stimulation of spawning performed by changing 90% water volume every day until the female issued the eggs. The female issued the eggs on the third and fourth days of stimulation. Eggs are attached to the wall of the aquarium. Egg cell division occurs after about 2 hours of the egg is released the mother, from one cell into two cells and a row into four cells, eight cells, the sixteen cells, thirty-two cells to multicellular. The embryo develops into a gastrula phase than trochophore phase. Larvae were reared in a tank containing 20 liters of seawater (salinity: 26±1 ppt). Veliger larvae occurred on the fifth day until the eleventh day. Veliger larvae are planktonic, and turn into benthic with a sedentary life in the bottom waters to begin the formation of a thin and transparent shell. The value of water quality parameters during maintenance category feasible: DO of 7.6 to 7.8 mg / L; pH of 8.13 to 8.33; turbidity of 1.97 to 3.90 NTU, salinity of 26.8 to 27.8 ppt; and temperature of 25.8-27.8°C
PEMANFAATAN CITRA SPOT-7 UNTUK PEMETAAN DISTRIBUSI LAMUN PADA ZONA INTERTIDAL DAN PENDUGAAN KEDALAMAN PERAIRAN PULAU WAWONII
Diantara peran penting habitat lamun di lingkungan perairan laut adalah sebagai habitat bagi berbagai jenis biota laut. Ketersediaan informasi spasial padang lamun masih terdapat kekurangan yang besar, sehingga perlu terus dikembangkan metode maupun kegiatan pemetaan ekosistem padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi spasial sebaran lamun di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, termasuk informasi kedalaman perairan khususnya lokasi dimana lamun ditemukan tumbuh di lokasi ini. Data utama yang digunakan adalah citra multispektral SPOT-7 dengan resolusi spasial 6m. Transformasi citra menjadi data kedalaman dilakukan menggunakan algoritma rasio kanal, adapun untuk sebaran lamun diperoleh melalui klasifikasi terbimbing dengan menerapkan algoritma MLH pada pendekatan berbasis piksel. Kedua metode yang diterapkan menggunakan informasi lapangan dan data sekunder yang diperoleh dari beberapa sumber sebagai acuan dalam melakukan pengolahan citra digital. Kajian difokuskan pada sisi Barat dan Utara Pulau Wawonii, khususnya di perairan Kecamatan Wawonii Barat, Wawonii Utara, dan Wawonii Timur Laut. Hasil klasifikasi citra satelit menghasilkan sebaran lamun di sepanjang sisi Pulau yang menjadi fokus kajian dengan ketebalan yang berbeda. Zona persebaran lamun sangat ditentukan oleh kedalaman perairan, dimana lamun di Pulau ini umumnya ditemukan pada kedalaman kurang dari 2 m
ANTIBACTERIAL ACTIVITY FOR MULTI DRUG RESISTANCE (MDR) BACTERIA BYSEA CUCUMBER Stichopus vastus EXTRACT FROM KARIMUNJAWA ISLANDS – INDONESIA
The study aims to explore the antibacterial activity of Stichopus vastus against pathogenic MDR bacteria. Analysis of samples of sea cucumbers included extraction, fractionation, and analysis of bacterial sensitivity test Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), the extraction process is carried out by solid-liquid extraction method. Fractionation was done with Open-Column Chromatography (OCC). Sensitivity test of bacteria was done using an agar diffusion method according to the Kirby-Bauer (Ref). The study revealed that from 5 species MDR bacteria, which are Coagulant negative stapylococi (CNS), E. coli, Enterobacter 5, Klebsiella sp. dan Pseudomonas sp. There are two MDR bacteria had the most sensitive responses by the extract of sea cucumber, which were Enterobacter-5 and Klebsiella sp. The two bacteria were tested against five bioactive fractions obtained from OCC. Fraction criteria-2 had the highest antibacterial activity against Enterobacter-5 and Klebsiella sp, with serial concentration of 20 µg ∙ disc–1, 40 µg. disc–1 and 80 µg. disc–1. Largest inhibition zone were obtained from 80 µg. disc–1 againts the two bacteria were (14.73 ± 0.48) mm and (11.22 ± 0.85) mm respectively. GC-MS Analysis revealed that fraction criteria-2 had (or consisted of) cyclohexhane, ethanol, butanoic and pentanoic acids. Keywords: antibacterial activity, multi drug resistance (MDR), sea cucumber, Stichopus vastu
PENGARUH KOMPOSISI MINERAL AIR TANAH TERHADAP FISIOLOGI DAN HISTOLOGI UDANG VANAME Litopenaeus vannamei
ABSTRAKBanyak petambak udang vaname L. vannamei di pantai utara Jawa menggunakan air tanah (groundwater) sebagai media budidaya dengan tujuan untuk menghindari berbagai kontaminan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi komposisi mineral utama air tanah di kabupaten Karawang (Jawa Barat), serta pengaruhnya terhadap performa pertumbuhan, fisiologi dan histologi udang vaname. Penelitian dengan metode ex post-facto didasarkan pada pengamatan tiga kolam budidaya selama 83 hari masa pemeliharaan. Antar kolam penelitian terdapat perbedaan nyata (p<0,05) pada parameter salinitas (12-16 ppt), SO42‾ (148-642 mg/L) dan Na/K (26,6-45,2). Hasil penelitian memperlihatkan udang memiliki bobot tubuh rata-rata (ABW) sebesar 8,83; 17,3; dan 18,5 g serta sintasan (SR) sebesar 37,7; 81,7; dan 78,3% masing-masing untuk kolam A, B dan C. Rendahnya ABW dan SR kolam A diperkirakan karena pengaruh infeksi Enterocytozoon hepatopenaei. Udang dari kolam C (Na/K=45,2) memiliki konsentrasi glukosa hemolim lebih tinggi dibanding kolam B (Na/K=26,6), yang mengindikasikan bahwa udang kolam C lebih terpapar stres. Hepatopankreas udang kolam C mengalami beberapa kelainan berupa atrofi tubulus, sloughing cell, dan penurunan jumlah sel sekretori, sementara kelainan tersebut tidak ditemukan pada kolam B. Meskipun relatif tidak ada perbedaan performa pertumbuhan antara kolam B dengan kolam C, namun secara fisiologis dan histologis terdapat perbedaan yang dimungkinkan akibat dari perbedaan rasio Na/K media. ABSTRACTMany shrimp farmers on the northern coast of Java used groundwater as a culture media in order to avoid various contaminants. This study aimed to evaluate the major mineral composition of inland saline groundwater (ISGW) in Karawang (West Java, Indonesia) and its effects on the growth, physiology, and histology of L. vannamei. Ex post-facto study was done based on observations of three ponds during 83 days of shrimp culture. Between ponds there were significant differences (p <0.05) on salinity (12-16 ppt), SO42‾ (148-642 mg/L) and Na/K (26.6-45.2). The results showed that shrimp’s average body weight (ABW) and survival rate (SR) of pond A, B and C was 8.83, 17.3, and 18.5 g; and 37.7, 81.7, and 78.3% respectively. The low ABW and SR of pond A were possibly due to the influence of Enterocytozoon hepatopenaei infection. Pond C (Na/K=45.2) significantly has a higher shrimp’s hemolymph glucose concentration than pond B (Na/K=26.6), indicated more exposed to stress. Similarly, shrimp’s hepatopancreas of pond C has some abnormalities that were not found in pond B. Although relatively there was no difference in the growth performance between pond B and pond C, but physiologically and histologically there were some differences that possibly due to the difference in Na/K ratio of the media
KONDISI DAN STATUS KEBERLANJUTAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PULO PASI GUSUNG, SELAYAR
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah pesisir. Terumbu karang memiliki nilai penting bagi masyarakat pesisir dan keberadaannya sangat rentan terhadap gangguan baik yang berasal dari alam maupun kegiatan antropogenik. Penetapan suatu perairan menjadi kawasan konservasi sangat penting untuk melindungi terumbu karang dari eksploitasi berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi tutupan karang dan status keberlanjutan ekosistem terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Pulo Pasi Gusung, Selayar. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam penentuan kebijakan terkait pengelolaan yang lebih baik untuk meningkatkan pengawasan terhadap ekosistem terumbu karang di KKPD Pulo Pasi Gusung. Pengambilan data tutupan karang menggunakan metode line intercept transect (LIT) pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Status keberlanjutan terumbu karang dianalisis menggunakan metode Multi Dimensional Scaling (MDS) dengan tehnik Rap Insus COREMAG (Rapid Appraisal-Index Sustainability of Coral Reef Management) dengan membandingkan pengelolaan sebelum terbentuknya KKPD (Tahun 2010) dan setelah terbentuknya KKPD (Tahun 2015). Penilaian dilakukan terhadap 5 dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastruktur serta dimensi hukum dan kelembagaan. Hasil analisis dari 5 dimensi dalam penilaian status keberlanjutan terumbu karang di Pulau Pasi setelah terbentuknya KKPD rata-rata mengalami peningkatan indeks berkelanjutan dibandingkan sebelum terbentuknya KKPD
SURVEI KEBERADAAN IKAN CAKALANG Katsuwonus pelamis DI TELUK BONE
Keberadaan Cakalang Katsuwonus pelamis selalu berubah-ubah tergantung kondisi perairan sekitarnya yang disenangi oleh ikan tersebut. Penelitian ini memberi prediksi keberadaan Cakalang di Perairan Teluk Bone dengan menggunakan data satelit penginderaan jauh dan gambaran hubungan panjang-berat Cakalang dari hasil survei perikanan. Data satelit penginderaan jauh berupa suhu permukaan laut dan klorofil-a diperoleh dari database NASA dengan resolusi spasial 4 km dan resolusi temporal 8-day composite. Data survei perikanan berupa data posisi, hasil tangkapan ikan, panjang dan berat Cakalang dengan fishing base dari dua lokasi berbeda yaitu Sinjai dan Luwu. Data satelit penginderaan jauh dan data survei perikanan di plotkan dalam grafik untuk mengetahui kondisi lingkungan yang banyak ditemukan Cakalang. Posisi tangkapan dan hasil tangkapan dipetakan untuk menunjukkan keberadaan Cakalang tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cakalang umumnya ditemukan tertangkap pada kisaran suhu permukaan laut 28,42°C - 30,73°C dan kandungan klorofil-a 0,1335 mg/m³ - 0,2309 mg/m³. Berdasarkan data panjang-berat, pola pertumbuhan Cakalang yang tertangkap di Perairan Teluk Bone bersifat allometrik negatif
IDENTIFIKASI JENIS PADA KEJADIAN CETACEA TERDAMPAR DI INDONESIA DENGAN TEKNIK MOLEKULER
Kasus Cetacea atau Paus dan Lumba-lumba terdampar di Indonesia sejak berapa tahun terakhir ini semakin sering terungkap dan ditangani oleh banyak pihak. Data dari Whale Stranding Indonesia (WSI) mencatat 40 kasus Cetacea terdampar di berbagai tempat di Indonesia selama tahun 2016 hingga bulan Februari 2017. Salah satu kendala bagi para penyelamat di lapangan adalah sulitnya mengidentifikasi jenis secara morfologi karena pada beberapa kasus, individu yang terdampar tidak dalam kondisi utuh. WSI mencatat lebih dari 21% jenis pada kejadian Cetacea terdampar di Indonesia, tidak teridentifikasi. Penelitian ini bertujuan memperkenalkan pendekatan genetika molekuler dalam mengidentifikasi jenis pada Cetacea terdampar. Gen Control Region dari DNA mitokondria diamplifikasi dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Data sekuen dibandingkan dengan data di genebank dan dilihat persentase kesamaannya. Penelitian ini menggunakan 36 sampel individu dan 26 diantaranya teramplifikasi dengan panjang basa berkisar antara 445-490 bp (base pair). Metode molekuler berhasil mengidentifikasi 15 spesies dan 13 genus Cetacea yang diambil dari beberapa tempat di Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa teknik genetika molekuler dapat dijadikan metode untuk mengidentifikasi jenis dari Cetacea, terutama mamalia terdampar yang sulit untuk diidentifikasi secara morfologi. Data molekuler yang dihasilkan dapat melengkapi database yang ada di Indonesia serta menjadi penunjang bagi penelitian tentang keragaman genetik dan hubungan antar populasi mamalia akuatik di Indonesia