Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
SUPPLY CHAIN ANALYSIS IN THE DISTRIBUTION OF LEADING COMMODITY-BASED CATCHES IN PPN KEJAWANAN
Undang-undang RI No.45 tahun 2009 tentang perikanan menyatakan bahwa pelabuhan perikanan memiliki fungsi pemerintahan dan pengusahaan guna mendukung kegiatan yang berhubungan dengan distribusi pemasaran. Dalam aktivitas distribusi hasil tangkapan pelabuhan perikanan dipandang sebagai salah satu bagian dalam satu kesatuan sistem rantai pasokan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komoditas ikan hasil tangkapan unggulan yang didaratkan di PPN Kejawanan dan mengkaji kinerja rantai pasok dalam aktivitas distribusi hasil tangkapan komoditas unggulan di PPN Kejawanan. Metode penelitian adalah metode survei dan wawancara mendalam dengan interview terhadap pihak-pihak terkait berkaitan dengan rantai pasok. Analisis data dilakukan dengan analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui potensi unggulan ikan dan analisis deskriptif kinerja rantai pasok. Hasil penelitian menunjukkan komoditas ikan unggulan yang memiliki nilai pertumbuhan LQ positif dengan skor 3 yaitu Cumi-cumi, Pari, Layang, dan Tetengkek. Skor LQ 3 mengindikasikan bahwa jenis-jenis ikan tersebut terkonsentrasi pendaratannya secara relatif di PPN Kejawanan dan dapat terus dikembangkan. Penilaian kinerja rantai pasok menunjukkan terdapat 80% kriteria yang sudah dimiliki dalam rantai pasok. Sedangkan 20 % kriteria tidak atau belum ada. Secara umum dapat dikatakan bahwa rantai pasok ikan hasil tangkapan unggulan khususnya cumi-cumi sudah baik namun masih belum optimal.Indonesian Republic Law No.45 of 2009 concerning fisheries states that fishing ports have government and business function to support activities related to marketing distribution. In the activities of catch distribution, fishing ports are seen as one part of a single supply chain system. This study was aimed to determine the potential of primary caught fish that landed at PPN Kejawanan and review of supply chain performance in catch distribution activities. The research methods are survey method and in-depth interview with respondents who related to the supply chain. Data analysis was performed by analysis of Location Quotient (LQ) and descriptive analysis. The results showed that primary fish commodities had a 3 score positive growth values of LQ, which were Squid, Stringray, flying fish, and Tetengkek fish, respectively. The 3 score of LQ indicates those fish are relatively concentrated landed in PPN Kejawanan and can continue to be developed. The supply chain performance assessment showed that there was 80% of the criteria already in the supply chain. while 20% of the criteria did not yet exist. In general condition, the supply chain of fish caught by primary commodities, especially squid, is appropriate but still not optimal. 
PENGAMATAN PROFIL PEMIJAHAN INDUK BANDENG, Chanos chanos GENERASI 1 (G1) DENGAN IMPLANTASI HORMON LHRH-a PADA PEMELIHARAAN SECARA TERKONTROL
ABSTRAKSetiap tahun permintaan bandeng selalu mengalami peningkatan, baik untuk konsumsi lokal, sebagai umpan hidup bagi usaha penangkapan ikan tuna, untuk keperluan indukan, maupun pemenuhan kebutuhan ekspor. Penelitian dilakukan di BBPPBL, dimana hewan uji yang digunakan adalah induk bandeng hasil seleksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pemijahan induk ikan bandeng G1 pada pemeliharaan secara terkontrol. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan bak beton sebanyak 2 buah yaitu A dan B yang memiliki volume masing-masing 150 m³, dan setiap bak diisi sebanyak 50 ekor induk dengan panjang total awal rata-rata 78,04±2,80 cm, bobot tubuh 5,80±0,45 kg. Perlakuan dalam kegiatan penelitian ini adalah (A) hormon dan B tanpa hormon. Pada bak A induk bandeng diimplant oleh hormon LHRH-a dengan dosis 50 µg/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk bandeng baik yang berada pada bak A (Hormon) maupun bak B (Tanpa Hormon) telah memijah dan memiliki profil pemijahan yang kontinyu dan menghasilkan telur yang baik. Namun pada bak A (hormon) telah menghasilkan jumlah dan kualitas telur yang lebih baik daripada bak B. Pada bak A(hormon) memijah sebanyak 26 kali, dengan jumlah total telur sebanyak 5.911.200 butir, sedangkan pada bak B memijah sebanyak 14 kali, dengan jumlah total telur sebanyak 2.720.410 butir. Hatching rate (HR) yang dihasilkan pada bak A dan bak B masing-masing sebesar 60,20-85,20% dan 50,0-74,50%. Ketahanan larva (SAI) pada bak A selama 3-5 hari, dan pada bak B selama 2-4 hari. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian hormon pada induk bandeng telah meningkatkan profil pemijahan dan jumlah telur yang dihasilkan. ABSTRACT Milkfish Chanos chanos is an important fisheries commodity with high economic value. Demand on this species increased year by year either as local consumption, bait for tuna catching, candidate of broodstock, or for fulfill of export demand. An experiment to evaluate the the effect of implantation LHRH-a hormone on spawning profile of milkfish generation-1 broodstock was conducted in Institute for Mariculture Research and Fisheries Extension, Gondol, Bali. Fifty fish (with average total length of 78.04±2.80 cm and body weight of 5.80±0.45 kg) were implanted with LHRA-a hormone at dosage of 50 µg/kg fish (Tank A). Another 50 fish with the same size without LHRA-ά hormone treatment were used as control (Tank B). The result showed that both of fish groups spawned and produced the eggs. But, the number of eggs produced by fish treated with LHRA-a hormone much higher than control. Quality of eggs produced by fish treated with LHRA-a hormone was also better than control. Fish treated with LHRA-a hormone spawned 26 times with total eggs of 5,911,200. In control group, the fish spawned 14 times with total eggs of 2720,410. Hatching rates of treated fish ranged from 60.20-85.20% compared with 50.0-74.50% in control fish. Survival activity index (SAI) was 3-5 days in treated fish and 2-4 days in control fish. The concluded results of the study of hormones in the milkfish broodstock has increased the spawning profile and the number of eggs produced
ANALISIS PERUBAHAN SEBARAN MANGROVE MENGGUNAKAN ALGORITMA SUPPORT VECTOR MACHINE (SVM) DENGAN CITRA LANDSAT DI KABUPATEN BINTAN KEPULAUAN RIAU
ABSTRAKMangrove berfungsi sebagai pelindung abrasi pantai, kawasan pemijahan serta sebagai habitat alami bagi biota darat dan laut. Mangrove banyak dimanfaatkan sebagai penghasil kayu, kawasan wisata serta wilayah konservasi. Adanya pemanfaatan mangrove tersebut menyebabkan terjadi perubahan luasan mangrove yang akan berdampak pada keseimbangan ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan luasan mangrove menggunakan citra satelit Landsat dengan interval waktu 4 tahun (2005 - 2017). Data yang digunakan adalah citra satelit Landsat 5 (2005, 2009) dan Landsat 8 (2013, 2017) pada 3 lokasi yaitu (Desa Berakit, Bintan Buyu dan Teluk Sesah). Algoritma yang digunakan dalam tahap klasifikasi adalah Maximum Likelihood (MLH) dan Support Vector Machine (SVM) dengan 4 kernel. Perubahan penutup lahan selanjutnya dianalisis berkaitan dengan sebaran muatan padatan tersuspensi (MPT). Hasil penelitian menunjukkan mangrove, pemukiman dan perkebunan mengalami pertambahan luasan pada 3 desa tersebut. Hasil klasifikasi tutupan lahan menunjukkan algoritma SVM kernel Radial Basis Function (RBF) memberikan akurasi yang tinggi, yaitu 70,42% dengan koefisien kappa 0,61, sedangkan hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa SVM dengan kernel RBF tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan kernel Sigmoid. Berdasarkan tahun 2005-2017, adanya perubahan alih fungsi lahan memberikan dampak pada konsentrasi MPT karena memiliki korelasi yang tinggi serta berpengaruh terhadap perubahan garis pantai yaitu abrasi (Berakit) dan akresi (Bintan Buyu dan Teluk Sesah). ABSTRACTMangrove serves as a protector for coastal abrasion, spawning ground, and natural habitats of species of terrestrial and marine biota. It is widely used for producing woods, tourist areas and conservation areas. The change of its functions above will therefore affect to altering its area cover that is impacted to an imbalance of aquatic ecosystems. This study aimed to analyze the changes of mangrove extent using the Landsat images with data acquisition (2005- 2017) with interval 4 years. The data used in this study were Landsat 5 (2005, 2009) and Landsat 8 (2013 and 2017) at 3 villages (Berakit, Bintan Buyu and Teluk Sesah). The data were analyzed by using algorithms of Maximum Likelihood (MLH) and Support Vector Machine (SVM) with 4 kernels. The change of mangrove cover was then analyzed according to Total Suspended Solid (TSS). The results showed that mangroves, settlements and plantations had increase in the 3 villages. The land cover classification showed that SVM algorithm with kernel Radial Basis Function (RBF) gave high accuracy of 70.42% with coefficient kappa 0.61 while significance test showed no significant difference with SVM Sigmoid kernel type. Based on 2005-2017, changes in land use change have an impact on MPT concentration because it has a high correlation and has an effect on shoreline changes namely abrasion (Berakit) and accretion (Bintan Buyu and Teluk Sesah).
BIOLOGICAL STATUS OF CATCHES FISH AND BOTTOM LONG LINE HOOK RATES OPERATED IN KAO BAY, HALMAHERA NORTH MALUKU PROVINCE
Teluk Kao di Pulau Halmahera telah dioperasikan rawai dasar secara intensif oleh nelayan skala kecil. Target tangkapan adalah jenis ikan demersal yang bernilai ekonomis penting. Penangkapan ikan pada suatu lokasi yang dilakukan secara terus menerus dikhawatirkan dapat berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya ikan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis komposisi jenis ikan, TKG jenis ikan target dominan, dan membandingkan laju pancing rawai dasar berdasarkan jumlah mata pancing. Pengumpulan data menggunakan metode survei. Analisis data meliputi: komposisi jenis, distribusi TKG, laju pancing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan target terdiri atas 18 spesies dikategorikan ke dalam 4 kelompok. Komposisi jenis ikan: kurisi (53%), kakap (22,2%), lencam (11,1%), tangkapan lain (13,7%). Tangkapan sampingan terdiri atas 7 spesies, yang didominasi jenis hiu dengan komposisi yang bervariasi. Proporsi matang gonad berdasarkan ukuran kelas panjang: kurisi 54% (22-23 cm), kakap 50% (18-23 cm), lencam 100% (20-27 cm). Laju pancing pada jumlah mata pancing 400 buah sebesar 4,40 lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah mata pancing 300, 500, 600, dan 700 buah.Kao Bay on Halmahera Island has been intensively operated bottom longlines by small scale fisheries. The target of catch not only demersal fish which have economic value, but also caught various types of fish that is not of economic value. Fishing activities at one location continuously can affect the sustainability of these fish resources. The purpose of this study was to analyze: composition of fish species, level of gonadal maturity from the dominant target species, and compare the bottom longline hook rate based on the number of fishing lines. Survey method was used to collecting data. Data analysis includes: species composition, distribution of level gonadal maturity, and fishing rate. The results shows that the target fish catch consist of 18 species categorized into 4 groups. Fish composition: Nemipterus hexodon (53%), Lutjanus spp (22.2%), Luthrinus spp (11.1%), other catches (13.7%). While, side catches consist of 7 species, which are dominated by types of sharks with varying compositions. The proportion of gonad maturity is based on long class sizes: 54% Nemipterus hexodon (22-23 cm), 50% Lutjanus spp (18-23 cm), Luthrinus spp 100% (20-27 cm). Hook rate number of fishing line 400 by 4.40 was higher compare to the number of fishing lines 300, 500, 600 and 700
ANALISIS PRIORITAS PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PULAU AY-RHUN, PROVINSI MALUKU
Prioritas perencanaan sangat penting ditentukan untuk menjadi acuan pengelola dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prioritas perencanaan pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) Pulau Ay-Rhun menggunakan metode Jejaring Analitik (Analytic Network Process, ANP). Permasalahan dan solusi dalam penentuan prioritas pengelolaan ini dikelompokkan menjadi empat, yakni: cluster ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan dengan masing-masing sub-cluster berdasarkan hasil diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion, FGD). Hasil analisis menunjukan bahwa masalah utama kawasan konservasi perairan Pulau Ay-Rhun adalah cluster ekologi. Sementara hasil analisis sub-cluster menunjukan bahwa permasalahan prioritas pengelolaan adalah: (1) cluster kelembagaan berupa kurangnya kapasitas dan kuantitas SDM dengan nilai 0,6711; (2) cluster sosial berupa kurangnya pemahaman terkait konservasi dengan nilai 0,6340; (3) cluster ekonomi berupa ketidakstabilan harga jual hasil perikanan dengan nilai 0,5684; (4) cluster ekologi berupa penambangan pasir dan karang untuk material bangunan dengan nilai 0,4614. Mengingat sub-cluster suatu cluster dapat mempengaruhi elemen lain dalam cluster yang sama dan dapat pula mempengaruhi elemen pada cluster yang berbeda, maka rekomendasi prioritas strategi pengelolaan dalam meningkatkan efektifitas kawasan konservasi perairan Ay-Rhun adalah: (1) cluster ekonomi berupa optimalisasi pemanfaatan sesuai daya dukung dengan nilai 0,6137; (2) cluster ekologi berupa pembentukan zonasi dengan nilai 0,5484; (3) cluster kelembagaan berupa penyusunan kebijakan pengelolaan dengan nilai 0,5308; dan (4) cluster sosial berupa sosialisasi mengenai konservasi dengan nilai 0,4680.Management planning prioritization is critical as a reference for managers when they try to improve the management effectiveness of marine protected areas. The objective of this study is to analyze the prioritization of Ay-Rhun MPA\u27s management planning using the Analytic Network Process. Problems and solutions in determining management priorities are clustered into four categories: ecology, economy, social, and institutional, and inside each cluster is sub-clusters based on the results of Focus Group Discussion. The results show that the main problem of Ay-Rhun MPA management is the ecology cluster. The sub-cluster analysis results showed that management problems should be addressed as priorities are: (1) the lack of human resource in terms of capacity and quantity; (2) the lack of understanding in conservation efforts; (3) price instability in fishery productions; (4) sand and coral mining for construction materials. Sub-cluster in a cluster could affect other elements in the same cluster, and it could also affect elements on different clusters. Therefore, recommendation strategies that should be prioritized to improve management effectiveness of Ay-Rhun MPA are (1) optimization of resource use based on carrying capacity, with the value of 0.6137; (2) MPA zonation design, with the value of 0.5484; (3) MPA management policy design, with the value of 0.5308; and (4) socialization regarding conservation efforts and understanding, with the value of 0.4680
KONDISI LINGKUNGAN DAN STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI TELUK TOMINI, SULAWESI, INDONESIA
Mangrove di Teluk Tomini telah dieksploitasi terutama lahannya dikonversi menjadi tambak udang dan pohonnya ditebang untuk beragam tujuan. Dalam studi ini interpretasi terhadap peta dan citra satelit dilakukan untuk mendeskripsikan kondisi lingkungan intertidal dan proses-proses terkait dinamika pantai secara umum. Pada skala lokal, faktor fisiografik digunakan untuk mengklasifikasikan sub-habitat mangrove. Sebanyak 159 titik sampel dipilih untuk mengamati struktur vegetasi, dan klasifikasi dua-arah Specht yang telah direvisi untuk mangrove digunakan untuk mengelompokkan kelas struktur vegetasi. Kriteria kerusakan mangrove dikembangkan untuk mengklasifikasikan tingkat kerusakan. Wawancara dan pengamatan lapangan dilakukan untuk menilai keberhasilan program rehabilitasi. Hasil studi menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan nyata pada vegetasi mangrove di Teluk Tomini, dan perubahan ini dapat mempengaruhi perkembangan dan regenerasi mangrove selanjutnya. Eksploitasi mangrove masih terus berlangsung, sementara kebanyakan program rehabilitasi mangrove tidak berhasil. Jika rencana pengelolaan berkelanjutan tidak dikembangkan, maka dikawatirkan kerusakan akan terus berlangsung dan meluas, dan mangrove di Teluk Tomini akan kehilangan fungsi ekologisnya.The mangroves in Tomini Gulf have been exploited for chiefly conversion of mangrove areas into shrimp cultivation and extraction of mangrove wood for various purposes. In this study, interpretation to available map and satellite images and ground check were conducted to describe intertidal environment conditions and general processes of coastal dynamic. At local scale, physiographic factors were used to classify mangrove sub-habitats. A total of 159 sample points were selected to observe structure of vegetation, and the revised two ways classification of Specht was applied to classify structural classification of vegetation. The criterion of mangrove disturbance was developed to classify disturbance level. Interview and field check were conducted to assess the successfulness of implemented rehabilitation programs. Results indicated that there were obvious changes in mangrove vegetation over much the intertidal environments, and these might influence the future development and regeneration of the mangroves. While most rehabilitation programs were unsuccessful, mangrove exploitations still continued. If a sustainable management plan is not developed, the degradation will continue and spread, and the mangrove will lose its ecological functions
STUDI KELAYAKAN BUDIDAYA TAMBAK DI LAHAN PESISIR KABUPATEN PURWOREJO
ABSTRAKUdang vaname di Kabupaten Purworejo khususnya Kecamatan Grabag memiliki prospek pasar bagus, hal ini menjadikan budidaya tambak udang vaname menjadi peluang yang sangat besar. Seiring berjalannya kegiatan budidaya udang vaname, perlu diperhatikan aspek kelayakan lahan. Penelitian dilakukan dengan tujuan menganalisa kelayakan lahan budidaya tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) di lahan pesisir Kabupaten Purworejo. Penelitian ini difokuskan pada dua lokasi yaitu tambak pesisir desa Ketawangrejo dan Harjobinangun, Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo menggunakan analisis kelayakan lahan dengan metode scoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup dan produksi tergolong cukup tinggi yaitu 90,16% dan 950 kg/0,10 ha untuk tambak pesisir desa Ketawangrejo, dan 81,00% dan 2.825 kg/0,21 ha untuk tambak pesisir desa Harjobinangun. Tingginya nilai kelangsungan hidup dan produksi yang diperoleh berkaitan dengan aspek bioteknis seperti lokasi dan konstruksi tambak, sarana dan prasarana serta sistem budidaya yang termasuk dalam kategori cukup sesuai (S2) baik. ABSTRACTShrimp vaname in Purworejo Regency, especially Grabag Subdistrict, has good market prospects, this makes the cultivation of vaname shrimp ponds an enormous opportunity. Along with the passage of vaname shrimp farming activities, it is necessary to pay attention to feasibility aspects. The study was conducted with the aim of analyzing the feasibility of vaname shrimp farms (Litopenaeus vannamei) on coastal land in Purworejo District. This study focused on two locations namely coastal ponds Ketawangrejo village and Harjobinangun, Grabag District Purworejo Regency using land feasibility analysis using the scoring method. The results showed that survival and production were quite high, namely 90,16% and 950 kg / 0,10 ha for coastal ponds in Ketawangrejo village, and 81,00% and 2.825 kg / 0,21 ha for coastal ponds in the village of Harjobinangun. The high value of survival and production obtained relates to biotechnical aspects such as the location and construction of ponds, facilities and infrastructure as well as cultivation systems which are included in the category of good enough (S2)
SPATIAL AND TEMPORAL PATTERN OF PELAGIC FISHING GROUND USED OCEANOGRAPHY DATA IN WEST-SUMATERA WATERS
The West Sumatera waters is one of the waters that has a huge potential for fish resources. Many fishing activities carried out near the coast, and fishing gear used in West Sumatra waters is a Bagan. This study aims to determine the relationships between sea surface temperature and Chl-a concentration with pelagic fish catches in West Sumatera waters. The data used were SST and Chl-a in the periode of 2014 – 2016. The variability of SST and Chl-a data was analyzed using Empirical Orthogonal Function (EOF) method. This study shows that the EOF SPL mode indicates that the overall value of SPL range is above the average (positive anomaly) with a total variance of 81.24%, while the Chl-a shows that the overall value of variability is at an average (negative anomaly) variance of 70.23%. The results of cross-correlation between SPL and pelagic fish have a lag time of 2.2 months, meaning that pelagic fish predates SST and predominantly occurs in a 6-month period. The relationship between Chl-a and pelagic fish was dominant in the 0.5 year period which showed a gap between Chl-a and pelagic fish catches with a lag time of 22 days.Perairan Sumatera Barat merupakan salah satu perairan yang memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat besar. Aktivitas penangkapan ikan banyak dilakukan di dekat pantai dan alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan ikan di perairan Sumatera Barat salah satunya adalah bagan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a dengan hasil tangkapan ikan pelagis di perairan Sumatera Barat. Data yang digunakan berupa data SPL dan klorofil-a dalam kurun waktu tahun 2014 – 2016. Variabilitas SPL dan klorofil-a dianalisis menggunakan metode Empirical Orthogonal Function (EOF). Penelitian ini menunjukkan mode EOF SPL memperlihatkan bahwa keseluruhan nilai kisaran SPL berada diatas rata-rata (anomali positif) dengan ragam total sebesar 81,24%, sedangkan klorofil-a memperlihatkan bahwa nilai keseluruhan variabilitas berada pada rata-rata (anomali negatif) ragam total sebesar 70,23 %. Hasil korelasi silang antara SPL dengan ikan pelagis terdapat jeda waktu 2,2 bulan berarti ikan pelagis mendahului SPL dan dominan terjadi pada periode 6 bulanan. Hubungan antara klorofil-a dengan ikan pelagis dominan pada periode 0,5 tahun yang menunjukkan terdapat jeda antara klorofil-a dengan hasil tangkapan ikan pelagis dengan jeda waktu 22 hari.  
STUDI KOMPARASI METODE MIGRASI SEISMIK DALAM MENGKARAKTERISASI RESERVOIR MIGAS DI BLOK KANGEAN, LAUT BALI MENGGUNAKAN INVERSI IMPEDANSI AKUSTIK BERBASIS MODEL
ABSTRAK Karakterisasi reservoir menjadi penting dalam tahapan eksplorasi minyak dan gas bumi. Salah satu hal yang dibutuhkan untuk mencapai keakuratan dalam mengkarakterisasi reservoir adalah penampang seismik yang sesuai dengan penampang aslinya. Struktur lapisan bumi yang kompleks mengakibatkan gelombang terdifraksi, sehingga penampang seismik mengalami pembelokan dari posisi sebenarnya. Penelitian ini menerapkan metode migrasi seismik Kirchhoff dan Stolt (F-K) untuk mengembalikan posisi reflektor pada waktu dan kedalaman yang sebenarnya pada data seismik 2D di Perairan Utara Bali. Data seismik diintegrasikan dengan data sumur APS-1 sebagai kontrol untuk diinversikan dengan teknik inversi berbasis model sehingga dapat mengkarakterisasi reservoir. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil migrasi seismik yaitu migrasi Stolt dan migrasi Kirchhoff untuk diinversikan menggunakan metode inversi berbasis model sehingga dapat diketahui sejauh mana kualitas data seismik mempengaruhi proses karakterisasi reservoir. Nilai korelasi dari hasil analisis regresi antara log impedansi inversi dengan log impedansi data sumur pada migrasi Kirchhoff sebesar 0,739 dan galat regresi sebesar 873,54, sedangkan pada migrasi Stolt memiliki nilai korelasi sebesar 0,698 dan nilai galat sebesar 1236,17. Hal ini menunjukkan bahwa migrasi Kirchhoff lebih baik dari migrasi Stolt baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam mengkarakterisasi reservoir hidrokarbon. ABSTRACTReservoir characterization is an important method in gas and oil exploration. In order to obtain accuracy for defining reservoir, required seismic image that similar to the actual seismic image. The complexity of earth structure could cause diffracted waves, therefore, seismic image was diffracted from its actual position. This study applies Kirchhoff and Stolt (F-K) seismic migration methods to restore the position of the reflector at the actual time and depth seismic data in North Bali. Seismic data is integrated with APS-1 well data as controls to be converted with model-based inversion techniques so as to characterize the reservoir. This study aims to compare the results of seismic migration namely Stolt and Kirchhoff migration to be converted using a model-based inversion method so that it can be seen to what extent the quality of seismic data influences the reservoir characterization process. Correlation value from the results of regression analysis between inversion log impedance and well impedance log data in Kirchhoff migration is 0.739 and regression error is 873.54, while the Stolt migration has a correlation value of 0.698 and an error value of 1236.17. This shows that Kirchhoff\u27s migration is better than Stolt migration both qualitatively and quantitatively in characterizing hydrocarbon reservoirs
ASOSIASI ANTARA TUTUPAN KOMUNITAS KARANG DENGAN KOMUNITAS IKAN TERUMBU KARANG DI PESISIR TIMUR PULAU BIAK, KABUPATEN BIAK NUMFOR
Ekosistem terumbu karang memiliki banyak manfaat termasuk melindungi pantai dari gelombang dan arus yang kuat serta penting dalam menjaga sistem ekologi di perairan yaitu sebagai habitat, tempat pemijahan, tempat berteduh dan sumber makanan untuk biota laut seperti ascidian, spons, echinodermata, moluska, dan ikan. Keanekaragaman ikan karang di pesisir timur Pulau Biak adalah salah satu sumberdaya penting yang dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan atau sumber makanan oleh penduduk yang mencari nafkah sebagai nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunitas karang dan komunitas ikan karang di pesisir timur Pulau Biak, Kabupaten Biak Numfor. Pengamatan dilakukan dengan menyelam menggunakan peralatan SCUBA. Pengamatan kondisi terumbu karang menggunakan metode PIT (Point Intercept Transect) dan ikan terumbu karang dengan metode UVC (Underwater Visual Census). Analisis data dilakukan dengan analisis uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan komunitas karang mempengaruhi komunitas ikan karang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat asosiasi antara komunitas karang dan komunitas ikan karang yang memiliki hubungan linier positif.Coral reef ecosystems have many benefits including protect the coast from strong waves and currents and are important in maintaining the ecological system in these waters as habitat, spawning grounds, shelter and food sources for marine biota such as ascidians, sponge, echinoderms, mollusks, and fish. The diversity of reef fishes on the east coast of Biak Island is one of the important resources used as a source of income or food source by residents who earn a living as fishermen. This study aims to analyze the relationship between coral communities and coral reef fish communities on the east coast of Biak Island, Biak Numfor Regency. Observations were done by diving using SCUBA equipment. Observation of the condition of the coral reefs used the PIT (Point Intercept Transect) method and coral reef fish worked by the UVC (Underwater Visual Census) method. Data analysis was running by the Spearman test analysis. The results showed that changes in coral community cover affect reef fish communities. This study concludes that there is an association between coral communities and coral reef fish communities that have a positive linear relationship