Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
DIVERSITY AND SIMILARITY OF REEF PROFILE FORM BASED ON REEF FISHES AND REEF LIFEFORM IN DEPAPRE BAY JAYAPURA, PAPUA PROVINCE, INDONESIA
Pemahaman tentang keanekaragaman, dan asosiasi di dalamnya khususnya ikan karang sangat penting dalam rangka pengelolaannya secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji struktur komunitas dan kemiripan berdasarkan kelimpahan famili ikan karang dengan bentuk lifeform. Pengambilan data lifeform menggunakan metode Point Intercept Transect, dan pengambilan data ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census. Analisis Korespondensi digunakan untuk menggambarkan kemiripan kelimpahan famili ikan karang dan lifeform karang dengan bentuk profil terumbu. Hasil penelitian menunjukan bahwa total ikan karang yang dijumpai untuk ikan indikator dan ikan target sejumlah 3.666 ekor yang terdiri dari 130 spesies dari 26 famili, kelimpahan individu ikan target tertinggi secara berturut-turut Tanjung Tanah Merah, Tanjung Harlem, Pulau Kwahkeboh, Tanjung Sarebo, Amayepa, Tanjung Amay dan Tanjung Kuburan Tablasufa. Keanekaragaman (H’) relatif tinggi, yakni berkisar 2,66-3,63, Indeks Keseragaman (E) cukup tinggi yakni berkisar 0,55-0,76 (→1), dan Indeks Dominansi (D) rendah yakni berkisar 0,03-0,08 (→0). Kelimpahan famili ikan karang dan lifeform memiliki kemiripan pada bentuk profil terumbu.Understanding of diversity, and associations in it, especially reef fish, is very important in the framework of sustainable management. The purpose of this study is to examine the community structure and its similarity based on family abundance of reef fishes and the lifeform. Retrieval of lifeform data using the Point Intercept Transect method, and collection of reef fishes data using the Underwater Visual Census method. Correspondence Analysis is used to describe the similarity of the abundance of reef fishes families and lifeforms to reef profile. The results showed that the total number of reef fish found for indicator fish and targeted fish at 3,666 individuals consisting of 130 species from 26 families, abundance of individuals of the highest target fishes at Tanah Merah Cape, Harlem Cape, Kwahkeboh Island, Sarebo Cape, Amayepa, Amay Cape and Kuburan Tablasufa Cape. Diversity (H\u27) is relatively high, which is around 2.66-3.63, the Similarity Index (E) is quite high, which ranges from 0.55 to 0.76 (→1), and the Dominance Index (D) is low which ranges 0.03-0.08 (→0). The abundance of reef fishes families and lifeform has similarity to reef profiles
TEMPORAL DYNAMIC OF SEAGRASS COMMUNITY ON THE DRY SEASON IN INTERTIDAL OF MADASANGER, WEST SUMBAWA
Lamun merupakan salah satu komunitas di intertidal Madasanger. Kawasan intertidal merupakan kawasan yang dinamis, dipengaruhi oleh perubahan pasang dan surut yang membuat kondisi lingkungannya tidak stabil sehingga menyebabkan perubahan terhadap habitat tempat hidup lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika komunitas lamun di intertidal Madasanger pada musim kemarau. Pengamatan komunitas lamun dilakukan pada dua stasiun pengamatan sejajar garis pantai, yaitu zona atas dan zona bawah, pada musim kemarau (April). Keberadaan lamun memperlihatkan pola yang dinamis berdasarkan tutupan dan sebaran spasial lamun. Komunitas lamun terdiri atas lima genus, yaitu Cymodocea, Halodule, Halophila, Syringodium dan Thalassia, dengan tutupan rata-rata berkisar antara 36,5-75,67%. Selama 2014-2018, kondisi tutupan lamun tertinggi terjadi pada 2016. Kondisi lingkungan pada 2016 yang relatif stabil dengan curah hujan dan masukan air tawar yang relatif lebih rendah, merupakan kondisi lingkungan terbaik untuk kehidupan lamun, sehingga pertumbuhan lamun relatif lebih baik. Lamun hidup lebih baik pada substrat yang lebih dalam, terutama lamun Halodule dan Syringodium. Dinamika komunitas lamun di intertidal Madasanger diduga disebabkan oleh pergerakan substrat, yang diikuti dengan perubahan pola sebaran lamun selama lima tahun.Seagrass is one of the communities in the intertidal Madasanger. Due to environmental characteristic, this intertidal area is always dynamic mainly is caused by a change of tidal wave. This condition cause habitat for seagrass living often changes. The aim of this study is to analyzed dynamic community of seagrass on the dry season in Madasanger. Seagrass community was observed at two stations parallel to the coastline, such as high tide zone and low tide zone during dry season (April). The seagrass community distributed dynamically based on percent cover and spatial pattern. There are five genera of seagrass such as Cymodocea, Halodule, Halophila, Syringodium, and Thalassia cover the habitat with 36.5-75.67%. During period 2014-2018, the highest percent cover of seagrass was found in 2016. This condition in 2016 is the best environment for seagrass living because of limiting rainfall (input of freshwater). The seagrass habitat lived better mainly Halodule and Syringodium in deeper substrate. The dynamic of seagrass community intertidal Madasanger showed by the sand movement follow up with the changes of seagrass spatial distribution during five years
PENGARUH PEMBERIAN HORMON 17β-ESTRADIOL TERHADAP PERKEMBANGAN GONAD SIPUT GONGGONG Laevistrombus turturella
Siput gonggong Laevistrombus turturella semakin intensif ditangkap sehingga populasinya di alam menurun. Upaya budidaya gonggong diperlukan untuk menjaga populasinya. Teknologi reproduksi siput belum banyak dikembangkan di Indonesia. Keberadaan 17β-estradiol pada siput dan moluska lain telah dinyatakan oleh beberapa peneliti, namun perannya dalam proses reproduksi siput belum banyak diketahui. Penelitian tentang pemberian 17β-estradiol untuk memacu perkembangan gonad gonggong belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mengaji pengaruh pemberian 17β-estradiol terhadap perkembangan gonad gonggong. Ada tiga perlakuan yang diberikan pada tiga kelompok gonggong, yaitu masing-masing tanpa suntikan (P1), suntikan 30 µL/ekor larutan minyak jagung dan etanol absolut (P2), serta suntikan 30 µL/ekor larutan 17β-estradiol (P3). Pascasuntikan, gonggong dipelihara dalam pensculture di habitat alaminya selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suntikan larutan 17β-estradiol (P3) menstimulasi perkembangan gonad gonggong yang dibuktikan dengan nilai rata-rata ukuran diameter oosit yang lebih besar daripada perlakuan lain. Nilai rata-rata bobot gonad dan GSI perlakuan P3 juga lebih besar dibanding perlakuan P1 dan P2. Analisis SDS-PAGE menunjukkan hemolimfa gonggong memiliki beberapa jenis protein dengan berat molekul bervariasi. Protein dengan berat molekul 54-55 kDa diprediksi sebagai vitelogenin gonggong.
Dog conch Laevistrombus turturella is captured intensively, therefore, their population is decline. The dog conch culture is needed to maintain their population. The technology towards conch reproduction is still not developed yet in Indonesia. The 17β-estradiol hormone in conch and some mollusks has been stated by some researcher yet its main role in conch reproduction process has not widely known. The study about the addition of 17β-estradiol hormone in accelerating gonad development has never been reported. The aim of this study was to evaluate the impact of the addition of 17β-estradiol against dog conch’s gonad development. This study used three treatments for three groups of dog conch those were without injection (P1), injection by 30 µL of corn oil mixed with absolute ethanol (P2), and 30 µL of 17β-estradiol stock solution (P3). After injection, the dog conch was reared in pens culture in their natural habitat for 30 days. This study showed that the injection of a 17β-estradiol solution (P3) stimulated the dog conch’s gonad development as evidenced by greater oocyte mean diameter than another treatment. The mean of gonadal weight and GSI on P3 treatment was also higher than treatments P1 and P2. SDS-PAGE analysis showed that dog conch’s hemolymph has several kinds of proteins with varying molecular weights. Proteins with a molecular weight of 54-55 kDa are predicted as dog conch’s vitellogenin
BIOLOGICAL CHARACTERISTIC AND EXPLOITATION RATE OF SMALL PELAGIC FISHES IN NORTH JAVA SEA
Aktivitas perikanan di perairan utara Jawa didominasi perikanan pelagis kecil yang memegang peranan penting dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Meskipun secara nasional potensi ikan pelagis kecil belum dimanfaatkan secara optimal, namun di beberapa wilayah perairan tingkat pemanfaatannya telah melampaui potensi lestari. Laju eksploitasi menjadi parameter kunci dalam menggambarkan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biologi dan laju eksploitasi pada beberapa jenis ikan yang menjadi hasil tangkapan utama pada perikanan pelagis di perairan utara Jawa. Sebanyak enam jenis ikan pelagis kecil (ikan selar bentong, japuh, kembung perempuan, selar kuning, selar komo, dan tembang) yang tertangkap di perairan utara Jawa telah mengalami over eksploitasi. Secara umum, karakteristik biologi masing-masing ikan telah menunjukkan bahwa sebagian besar ikan pelagis kecil yang tertangkap belum mencapai ukuran pertama kali matang gonad. Selain itu, ikan kembung, selar, dan tembang dikategorikan berpotensi resiko tinggi terhadap penangkapan, diduga dari parameter ukuran ikan dan jumlah alat tangkap yang dioperasikan.Fishery activities in the North Java sea are dominated by small pelagic fisheries that have an important role in fisheries development in Indonesia. Although the national potential of small pelagic fish has not been optimally utilized, in some areas the water utilization rate has exceeded the sustainable potential. The rate of exploitation is a key parameter in describing the utilization rate of small pelagic fish resources in water. This study aims to know the biological characteristics and rate of exploitation in some species of fish that became the main catch on pelagic fisheries in the waters of North Java. Six species of small pelagic fishes (bigeye scad, rainbow sardine, short mackerel, yellow-striped scad, yellowtail scad, and fringscale sardinella) caught in the waters of Northern Java have been overexploited. In general, the biological characteristics of each fish have shown that most small pelagic fish caught have not reached the size of the first gonad mature. Also, mackerel, tuna, and tembang are categorized as potentially high risk of catching, presumably from the fish size parameter and the number of operated fishing gear
ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN BAGI KEGIATAN WISATA BAHARI SNORKLING DAN SELAM DI PERAIRAN PULAU NUSALAUT KABUPATEN MALUKU TENGAH
Maluku memiliki sumberdaya laut yang sangat besar, baik sumberdaya hayati maupun nir-hayati termasuk potensi wisata bahari yang menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan. Namun pada kenyataannya, perkembangan wisata bahari di Maluku masih menghadapi berbagai kendala, yaitu menentukan lokasi yang layak untuk dijadikan tujuan wisata. Penelitian ini bermaksud untuk melihat tingkat kesesuaian wisata khususnya wisata snorkling dan selam di perairan Pulau Nusalaut. Pengambilan sampel dilakukan pada tahun 2014 dan 2015 di 6 (enam) lokasi yang berbeda. Pengambilan data karang menggunakan metoda LIT (Line Intecept Trancect) dan dianalisis menggunakan "Life Form Program". Pengamatan ikan karang dilakukan dengan Underwater Visual Census (UVC) dan transek. Parameter lingkungan diambil dengan cara pengukuran langsung dilapangan. Terumbu karang dikategorikan dalam kondisi ”Baik” dan ”Sangat Baik” dengan persentase tutupan karang antara 58,54-77%. Sebanyak 217 jenis karang batu yang termasuk ke dalam 52 genera dari 16 famili menempati rataan terumbu. Keanekaragaman ikan karang berada pada kondisi yang cukup baik dengan indeks keanekaragaman berkisar antara 3,05-4,09. Setidaknya terdapat 2.838 individu ikan karang dari 25 famili dan 170 jenis, terbagi dalam kelompok ikan indikator sebanyak 6%, ikan mayor 67% dan ikan target 27%. Kecerahan perairan berkisar antara 8-12 m dengan kecepatan arus antara 1,6-18,5 m/s. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian wisata, seluruh lokasi penelitian dikategorikan “Sangat Sesuai” untuk dijadikan tujuan wisata snorkling maupun selam dengan Indeks Kesesuaian Wisata antara 81,25-95,83%.The Maluku Islands have the potentials of marine resources, including marine tourism which is currently a priority for the government to develop. But in reality, the development of marine tourism in Maluku faces various obstacles, such as determining the appropriate location to be a tourist destination. This study intends to see the suitability of the tourism area, especially snorkeling and diving in Nusalaut Island. Sampling was carried out in 2014 and 2015 in 6 different locations. Retrieval of coral data using the Line Intercept Transect method and analyzed using the "Life Form Program". Observation of reef fish was done by Underwater Visual Census and transects. Environmental parameters are taken by direct measurement in the field. Coral reefs are categorized as "Good" and "Very Good". A total of 217 types of rock corals belonging to 52 genera from 16 families occupy reef flats. Reef fish biodiversity is in a fairly good condition with a diversity index ranging from 3,046-4,089. There are at least 2,838 individual reef fishes from 25 families and 170 species. Waters\u27 transparency ranges from 8-12 m with a current velocity between 1.6-18.5 m/s. Based on the results of the tourism suitability analysis, all research locations are categorized as "Very Appropriate" to be used as a snorkeling and diving tourist destination with a Tourism Suitability Index between 81.25-95.83%
BIOLOGICAL CATCH ASPECT OF HANDLINE AROUND PORTABLE FISH AGGREGATING DEVICES (FADs)
Rumpon portable merupakan rumpon yang tidak diletakkan secara tetap di perairan, tetapi diletakkan pada saat akan melakukan kegiatan penangkapan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat kematangan gonad, menganalisis hubungan isi perut hasil tangkapan dengan kelimpahan plankton yang tertarik pada rumpon portable, menganalisis indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominan plankton yang terdapat pada isi perut ikan dengan plankton yang terdapat pada perairan, menganalisis trofik level jenis ikan di sekitar rumpon portable. Metode penelitian dilakukan dengan cara experimental fishing dan uji laboratorium. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis tingkat kematangan gonad, stomach content analysis, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi, serta analisis trofik level. Total hasil tangkapan ikan sebanyak 165 ekor didominasi oleh jenis ikan kembung dan ikan tongkol. Ikan-ikan lainnya yang tertangkap yaitu jenis ikan todak, barakuda dan selar kuning. Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil tangkapan didominasi oleh ikan dengan TKG II sebanyak 53%, dan disusul ikan dengan TKG I sebanyak 38% dari total hasil tangkapan. Ikan-ikan yang tertangkap pada penelitian ini terdiri dari ikan pemakan plankton atau plankton feeders dan ikan karnivora. Organisme yang ditemukan dalam isi perut ikan yaitu ikan kecil, cumi-cumi, fitoplankton yang terdiri dari 7 genus, serta beberapa genus dari zooplankton. Hasil tangkapan ikan terbanyak ditangkap pada pengamatan hari ke-2 dengan jumlah tangkapan sebanyak 34 ekor.Portable FADs is not permanently deployed in the water, but only deployed at the time of fishing activities. The purpose of this study are to identify the level of gonad maturity, to analyze the relationship of gastric content of catch with plankton abundance which is interested in portable FADs, to analyze diversity index, uniformity, and dominance of plankton contained in the stomach of fish compared with plankton contained in waters, to analyze the trophic level of fish species around portable FADs. The research was performed by experimental fishing and laboratory test. Data analysis used in this research were gonad maturity level analysis, gastric content analysis, index of diversity, index of dominance, and trophic level analysis. Total fish catch was amounted to 165 individual which dominated by mackerel (Rastrelliger kanagurta) and frigate tuna (Auxis thazard). Other species caught in this research were swordfish (Xiphias gladius), barracudas (Sphyraena sp.) and yellowstrip scad (Selaroides leptolepis). The results of analysis showed that catch were dominated by fish with Gonad Maturity Index II (TKG II) by 53% and TKG I by 38% from total fish catch. The catch were consisted of plankton feeders and carnivorous fish. Gastric content analysis showed that small fish, squid, phytoplankton (which consists of 7 genus), and some of zooplankton genus were found in the stomach of the catch. Highest catch was acquired is in the second fishing operation (day 2) with the total number of catch by 34 individual
SEBARAN DAN KELIMPAHAN IKAN KARANG DI PERAIRAN PULAU LIUKANGLOE, KABUPATEN BULUKUMBA
Ikan karang merupakan ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang dan keberadaannya ditentukan oleh variasi dan kompleksitas terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kekayaan jenis dan kelimpahan ikan karang pada beberapa lokasi di terumbu karang Pulau Loukangloe, Kabupaten Bulukumba dan keterkaitannya dengan tutupan karang hidup dan karang mati. Metode LIT digunakan untuk mengetahui tutupan karang hidup dan karang mati dan teknik visual sensus untuk mendata struktur komunitas ikan karang. Pendataan dilakukan pada 6 stasiun dengan 2 kedalaman (3-5 m dan 8-10 m) dan 3 kali pengulangan transek (luas area pemantauan 80 m2). Perbandingan kekayaan jenis dan kelimpahan ikan karang antar stasiun diuji dengan analisis ragam, sedangkan antar kedalaman dianalisis dengan uji t-student. Hubungan antar kekayaan jenis dan kelimpahan ikan dengan kondisi terumbu karang dilakukan dengan analisis regresi dan korelasi. Jumlah jenis pada kedalaman 3-5 m sangat dinamis di setiap bulan pengamatan dan memberikan perbedaan yang nyata, sedangkan di kedalaman 8-10 m, relatif stabil dan tidak berbeda antar stasiun. Kelimpahan ikan karang pada kedalaman 8-10 m lebih tinggi dan berbeda nyata dari kedalaman 3-10 m. Tutupan karang hidup yang tinggi memperlihatkan jumlah jenis ikan karang yang lebih kaya dan berbeda nyata dengan stasiun yang tutupan karang hidupnya rendah, namun tidak dalam hal kelimpahannya. Meskipun berkorelasi positif, namun hubungan antara tutupan karang hidup dengan jumlah jenis dan kelimpahan ikan karang tergolong lemah. Sebaliknya, berkorelasi negatif dengan tutupan karang mati yang tinggi.Coral fish are fish that are associated with coral reefs and their existence is determined by the variety and complexity of coral reefs. The purpose of this study was to analyze the dynamics of species richness and abundance of reef fish in several locations on the coral reefs of Liukangloe Island, Bulukumba District and their relation to live and dead coral cover. The research method was used LIT to know life and dead coral cover and Visual Census to record of reef fish. The data was done at 6 stations and each at 2 depths (3-5 m and 8-10 m) with 3 repetitions of transects (area: 80 m2). The species number and abundance of fish between stations were analyzed by ANOVA, while between depth was analyzed by t-student. The relationship between fish species richness and abundance and life and dead coral cover was done by regression and corelation analysis. The species number at a depth of 3-5 m according to the observation periode was very dynamic and showed significant differences between stations, while at depths of 8-10 meters, relatively stable and no different between stations. The abundance of fish at a depth of 8-10 meters was higher at 3-10 meters. Stations with high live coral cover was showed a higher species number of reef fish and was significantly different from stations with low live coral cover, but not in terms of abundance. Although positively correlated, the relationship between live coral cover and the number and abundance of reef fish were relatively weak. Conversely, negatively correlated with high dead coral cover
DIVERSITY OF ECHINODERMS (ASTEROIDEA, ECHINOIDEA AND HOLOTHUROIDEA) AT THE OSI ISLAND WATER, WEST OF SERAM, CENTRAL MALUKU
Penelitian keanekaragaman jenis fauna ekhinodermata (Asteroidea, Echinoidea dan Holothuroidea) di perairan Pulau Osi, Seram Barat, Maluku Tengah dilakukan pada Juli 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai struktur komunitas fauna ekhinodermata di perairan Pulau Osi, Maluku Tengah. Pengambilan contoh biota dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat ukuran 1m x 1m. Hasil penelitian diperoleh 16 jenis ekhinodermata yang mewakili empat jenis Asteroidea, lima jenis Echinoidea dan tujuh jenis Holothuroidea. Kelompok teripang atau Holothuroidea merupakan kelompok yang paling menonjol pada tiga stasiun. Pada tiga stasiun yang diamati, ternyata kelompok teripang (Holothuroidea) menempati tingkat kekayaan jenis relatif tinggi. Analisa kuantitatif diperoleh nilai indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan tertinggi ditemukan di stasiun dua (H = 1,117; J = 0,974) dan nilai indeks kekayaan jenis tertinggi didapatkan pada stasiun satu (D = 0,079). Secara umum ekhinodermata menyukai mikrohabitat lamun (14 jenis), mikrohabitat pasir (9 jenis) dan mikrohabitat rumput laut (8 jenis). Study of diversity Echinoderms (Asteroidea, Echinoidea and Holothuroidea) at the beach area of Osi Island, Central Maluku. Observation on echinoderms diversity was carried out at the coastal areas in July 2012. The purpose of this study is to get information about the cummunity structure of the echinoderm in the Osi Islands coastal areas, Maluku Tengah. Sampling was conducted by using quadrate transect of 1 m x 1 m. The results of this study showed that there were 16 species of echinoderms, belongs to four species of Asteroidea, five species of Echinoidea and seven species of Holothuroidea. The Holothuroidea were commonly found in the seagrass zone. Based on the data from the three sampling tations, Holothuroidea has the highest density among the other observed biota. The quantitative analysis revealed that the highest diversity and evenness indexes of faunal assemblage was found at tation two (H = 1.117; J = 0.974), while the highest species richness was represented by the Echinoderms from tation one (D = 0.079). Generally, all biota found in this study (14 species) prefer seagrass as microhabitat, nine species occupy sandy areas and eight species inhabit seaweed
ANALISIS KEBERLANJUTAN PERIKANAN ELASMOBRANCH DI TANJUNG LUAR KABUPATEN LOMBOK TIMUR
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan perikanan elasmobranch di Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur. Analisis menggunakan metode RAPFISH dengan lima dimensi, yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan perikanan elasmobranch di Kabupaten Lombok Timur dikategorikan kurang berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan hanya sebesar 46,82. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa dari total 37 atribut yang digunakan, teridentifikasi 15 atribut sensitif yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan perikanan elasmobranch yaitu: komposisi spesies hasil tangkapan, endangered species, threatened species, dan protected species (ETP), kualitas perairan, kepemilikan asset, alternatif pekerjaan dan pendapatan selain menangkap ikan, tingkat pendidikan nelayan, partisipasi keluarga dalam pemanfaatan hasil perikanan, konflik perikanan, kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkap ikan dengan dokumen legal, selektivitas penangkapan, penangkapan yang bersifat destruktif, tingkat sinergitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan, rencana pengelolaan perikanan dan kapasitas pemangku kepentingan. Lima atribut yang tersisa dikategorikan tidak sensitif. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang konstruktif perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi keberlanjutan perikanan elasmobranch di Kabupaten Lombok Timur. ABSTRACTThis study aims to analyze the status of sustainability of elasmobranch fisheries in Tanjung Luar, East Lombok Regency. The method used was RAPFISH analysis using 5 dimensions, namely ecology, economics, social, technology and institutions. The results showed that the sustainability status of elasmobranch fisheries in East Lombok Regency was categorized as less sustainable because the index value produced was only 46.82. The results of the sensitivity analysis showed that of the total 37 attributes used, 15 sensitive attributes were identified which affected the index sustainability value of elasmobranch fisheries, namely: composition of catched species, endangered species, threatened species, and protected species (ETP), water quality, asset ownership, alternative employment and income other than fishing, fisherman education level, family participation in fishery product utilization, fisheries conflict, suitability of function and size of fishing vessels with legal documents, catch selectivity, destructive arrests, level of synergy of fisheries management policies and plans, plans fisheries management and stakeholder capacity. While there maining 5 attributes are categorized as insensitive. The development and implementation of constructive policies need to be carried out to improve the condition of the sustainability of elasmobranch fisheries in East Lombok Regency
ANALYSIS OF THE ABILITY OF MANGROVE SEQUESTRATION AND CARBON STOCK IN PEJARAKAN VILLAGE, BULELENG REGENCY, BALI
Mangroves have a major role as carbon absorption and stock. However, this potential cannot be maximized, due to the high level of mangrove damage. The research question is the extent of the ability of mangroves to absorb carbon dioxide (CO2) and store it in the form of biomass. The purpose of this study was to determine the absorption ability and carbon stock of various types of mangove. The research location was chosen in Pejarakan village, Buleleng Regency, Bali Province, Indonesia as a case study. The method used is non-destructive to obtain diameter data at the height of mangrove trees, by collecting garbage and sediment samples manually on the floor of mangrove forests and to motivate the Government and local communities to restore mangrove forests. The results showed that the high density types of Sonneratia alba turned out to have the ability to absorb and store carbon, compared to other mangrove species. The results showed that S. alba is estimated to have the ability to absorb 57.60 tons of CO2 ha-1 which is equivalent to 15.71 tons C ha-1. While the lowest value is the Osbornia octodonta with the lowest density value. S. alba\u27s ability to store carbon is 5.56 tons of CO2 ha-1 or equivalent to 1.52 tons C ha-1. The conclusion is that S. alba has the highest ability to absorb and store carbon.Mangrove memiliki peran besar sebagai penyerap dan stok karbon. Namun, potensi ini tidak dapat dimaksimalkan, karena tingginya tingkat kerusakan mangrove. Pertanyaan penelitian adalah sejauh mana kemampuan mangrove untuk menyerap karbon dioksida (CO2) dan menyimpannya dalam bentuk biomassa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penyerapan dan stok karbon dari berbagai jenis mangove. Lokasi penelitian dipilih di desa Pejarakan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia sebagai studi kasus. Metode yang digunakan adalah non-destruktif untuk mendapatkan data diameter pada ketinggian pohon mangrove, dengan mengumpulkan sampel sampah dan sedimen secara manual di lantai hutan mangrove dan untuk memotivasi Pemerintah dan masyarakat setempat untuk memulihkan hutan mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis Sonneratia alba dengan kepadatan tinggi ternyata memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon, dibandingkan dengan spesies mangrove lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa S. alba diperkirakan memiliki kemampuan menyerap 57,60 ton CO2 ha-1 yang setara dengan 15,71 ton C ha-1; sedangkan nilai terendah ditemukan pada jenis Osbornia octodonta dengan nilai kerapatan terendah. Kemampuan S. alba untuk menyimpan karbon adalah 5,56 ton CO2 ha-1 atau setara dengan 1,52 ton C ha-1. Kesimpulannya adalah bahwa S. alba memiliki kemampuan tertinggi untuk menyerap dan menyimpan karbon