Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
The Economic Analysis of Fisheries Management of Big Pelagic Fish in WPPNRI 715
Fisheries management is essential in striving for fish resources to be utilized optimally and sustainably and have a welfare impact. WPPNRI 715 is one of Indonesia\u27s eleven fisheries management areas with the most significant potential in big pelagic fish with high economic value. The aim of this study was to estimate the economic value in the management of large pelagic fisheries in WPPNRI 715. The result of the research can show utilization of big pelagic fish in WPPNRI 715 is good condition and has not exceeded the Maximum Sustainable Yield (MSY) value. Additionally, economically the benefits are still in good condition. The optimal production (MSY) of big pelagic fish in WPPNRI 715 is 421 872, 11 tons. Maximum profit MEY is Rp3 065 588,97 trillion with the actual effort of 470 609 trips where optimal effort is sustainable (MSY) of 861 131 trips and economically optimal effort (MEY) of 554 902 trips. Based on the results of the study, it was stated that there were economic benefits in the utilization of large pelagic fish resources in WPPNRI 715.Pengelolaan perikanan merupakan aspek penting dalam mengupayakan sumberdaya ikan untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, berkelanjutan dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan. WPPNRI 715 merupakan salah satu dari sebelas wilayah pengelolaan perikanan di Indonesia dengan potensi terbesar adalah ikan pelagis besar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan kelompok ikan lainnya. Tujuan dari penelitian ini untuk menduga nilai ekonomi dalam pengelolaan perikanan pelagis besar pada WPPNRI 715. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar pada WPPNRI 715 berada pada kondisi baik dan belum melebihi nilai MSY, selain itu juga secara ekonomi keuntungan pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar di WPPNRI 715 masih dalam kondisi baik. Optimal produksi ikan pelagis besar pada WPPNRI 715 (MSY) yaitu sebesar 421 872,11 ton. Rente maksimum (MEY) sebesar Rp3 065 588,97 trilyun, produksi aktual sebesar 320 444,42 ton dengan effort aktual sebanyak 470 609 trip dimana effort optimal lestari (MSY) sebanyak 861 131 trip dan effort optimal secara ekonomi sebanyak 554 902 trip. Hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat keuntungan ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar di WPPNRI 715
Analisis Hubungan Kondisi Ekosistem Mangrove terhadap Produksi Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Kayong Utara: Analysis of the Relationship Between Mangrove Ecosystem Conditions and Fish Production in the Marine Conservation Area of Kayong Utara
Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Kayong Utara bertujuan untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara berkelanjutan, termasuk udang penaeid, pesut, dan ekosistem mangrove. Pengelolaan yang efektif memerlukan data spasial mengenai target konservasi guna mendukung perencanaan dan evaluasi yang komprehensif. Penelitian ini menganalisis hubungan antara indeks vegetasi mangrove (NDVI) dari citra satelit dengan produksi ikan di kawasan konservasi menggunakan pendekatan produktivitas mangrove. Penelitian ini terdiri dari empat tahapan: (i) analisis stok dan produksi ikan dengan model produktivitas mangrove, (ii) analisis korelasi antara produksi ikan dan kondisi mangrove, (iii) pengukuran parameter fisikokimia perairan, serta (iv) analisis korelasi antara faktor fisikokimia perairan dan produksi ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi serasah mangrove mencapai 2,09±0,86 g berat kering/m²/hari atau 8,42±3,47 ton/ha/tahun, sementara produksi ikan berkisar antara 190,17–690,28 kg/ha/tahun dengan rata-rata 448,82±185,61 kg/ha/tahun. Terdapat korelasi positif sedang antara NDVI dan produksi ikan (r = 0,51), sedangkan parameter Dissolved Oxygen (DO) dan Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) menunjukkan korelasi negatif terhadap produksi ikan (r = -0,65 dan -0,57). Hasil penelitian ini menegaskan peran penting ekosistem mangrove dalam mendukung produktivitas perikanan. Oleh karena itu, upaya konservasi mangrove perlu diperkuat guna menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber daya perikanan.The North Kayong Regency Marine Conservation Area serves to protect and sustainably utilize fishery resources, including penaeid shrimp, porpoises, and mangrove ecosystems. Effective management requires spatial data on conservation targets to support comprehensive planning and evaluation. This study analyzes the relationship between the mangrove vegetation index (NDVI), derived from satellite imagery, and fish production in the conservation area using a mangrove productivity approach. The research comprises four stages: (i) analysis of fish stock and production using the mangrove productivity model, (ii) correlation analysis between fish production and mangrove conditions, (iii) measurement of physicochemical water parameters, and (iv) correlation analysis between physicochemical water factors and fish production. The results indicate that the average daily mangrove litterfall production across all stations is 2.09±0.86 g dry weight/m²/day or 8.42±3.47 tons/ha/year, while fish production ranges from 190.17 to 690.28 kg/ha/year, with an average of 448.82±185.61 kg/ha/year. A moderate positive correlation is observed between NDVI and fish production (r = 0.51), whereas Dissolved Oxygen (DO) and Total Suspended Solids (TSS) exhibit a negative correlation with fish production (r = -0.65 and -0.57, respectively). These findings underscore the crucial role of mangrove ecosystems in supporting fishery productivity. Therefore, strengthening mangrove conservation efforts is essential to maintaining ecosystem balance and ensuring the sustainability of fishery resources
Jenis dan Komposisi Sampah Laut di Pesisir Randusanga, Brebes, Jawa Tengah: Types and Composition of Marine Debris in Randusanga Coastal, Brebes, Central Java
Permasalahan sampah plastik di Indonesia dianggap sebagai status darurat, hasil penelitian menempatkan Indonesia sebagai kontributor sampah plastik laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. Minimnya informasi mengenai pencemaran sampah laut di pantai menjadi masalah tersendiri dalam penanggulangannya, khususnya di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis sampah laut serta mengestimasi komposisi sampah di pesisir Pantai Randusanga, Brebes. Pengambilan sampel sampah laut dilakukan menggunakan metode pengamatan transek kuadran sebanyak 3 kali dengan total 15 transek pada bulan Agustus-Oktober 2021. Data dianalisis menggunakan pendekatan Graphical Data Analysis (GDA). Hasil yang ditemukan adalah sampah plastik yang paling dominan dengan jumlah sebanyak 869 item, diikuti busa plastik 190 item, kertas dan kardus 57 item, kayu 48 item, karet 36 item, bahan lainnya 34 item, logam 22 item, kain 8 item, serta kaca atau keramik sebanyak 4 item. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran, jenis sampah berukuran makro merupakan sampah paling banyak ditemukan. Jumlah total makro debris yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 1.222 item, sedangkan meso debris sebanyak 66 item. Persentase komposisi kelimpahan sampah adalah plastik (71%), busa plastik (15%), kain (4%), kaca dan keramik (0%), logam (0%), kertas dan kardus (4%), karet (0%), kayu (2%), bahan lainnya (4%). Jenis sampah plastik berdasarkan Resin Indetification Code (RIC) terdiri atas sampah berjenis polypropylane (PP), low density polyethylene (LDPE), others (OT), polystyrene (PS), high density polyethylene (HDPE), polyethylene terephthalate (PET/PETE). Tingginya kelimpahan sampah laut setiap bulannya diduga berkaitan erat dengan minimnya kesadaran masyarakat terhadap keberlangsungan ekosistem sekitar serta minimnya kesadaran akan implementasi dari Peraturan Pemerintah terkait penanganan sampah yang berlaku.The problem of plastic waste in Indonesia is considered an emergency status, following research results that place Indonesia as the largest contributor to marine plastic waste in the world after China. The lack of information about marine pollution on the coast is a problem in its handling, especially in Brebes Regency, Central Java. This study aims to identify the types of marine debris and estimate their composition and distribution on the coast of Randusanga Brebes Beach. Marine debris sampling was carried out using the quadrant transect observation method which was carried out three times with a total of 15 transects in August-October 2021. Data was analyzed using Graphical Data Analysis (GDA) approach. Of the various types of waste found, plastic waste was the most dominant waste found with 869 items, followed by 190 items of plastic foam, 57 items of paper and cardboard, 48 items of wood, 36 items of rubber, 34 items of other materials, 22 items of metal, 8 items of cloth, as well as glass or ceramic as much as 4 grains. Based on size, macro-sized waste is the most commonly found waste. The total amount of macro debris found at the study site was 1,222 items, while the meso debris was 66 items. Percentage composition of tents: plastic bags (71%), plastic foam (15%), fabrics (4%), glass and ceramics (0%), metal (0%), paper and cardboard (4%), rubber (0%) , wood (2%), other materials (4%). Types of plastic waste based on the Resin Indetification Code (RIC) consist of polypropylane (PP), low density polyethylene (LDPE), others (OT), polystyrene (PS), high density polyethylene (HDPE), polyethylene terephthalate (PET/PETE) waste. The high abundance of marine debris every month is closely related to the lack of public awareness of the sustainability of the surrounding ecosystem and the lack of awareness of the implementation of Government Regulations regarding the handling of applicable waste
Komposisi Jenis Dan Kepadatan Spons (Porifera: Demospongiae) dI Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta: Species Composition and Density of Sponges (Porifera: Demospongiae) on Panggang Island, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Spons merupakan organisme simbion yang memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir, seperti menyaring air, menguraikan bahan organik menjadi nutrien, menyediakan tempat berlindung bagi mikroorganisme, serta berperan dalam stabilitas dan pengikatan sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi, keanekaragaman spesies spons yang terdapat di habitat lamun di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penelitian dilakukan di tiga lokasi menggunakan transek garis sepanjang 50 dan 11 transek kuadrat berukuran 0,5 x 0,5 meter di setiap garis transek. Sampel spons diambil dengan memotong sebagian kecil dari setiap spons untuk dianalisis spikulanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spons yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian terdata sebanyak 10 spesies dan didominasi oleh Chondrilla caribensis forma dengan nilai kerapatan spons sebesar 0-13 ind/m². Indeks keanekaragaman spons di Pulau Panggang berada pada kategori sedang yang menunjukkan bahwa distribusi genus dalam kumpulan spons di Pulau Panggang cukup merata. Kandungan fosfat dan kecepatan arus menunjukkan korelasi yang kuat dan positif terhadap kepadatan spons, sementara suhu memiliki korelasi positif terhadap kerapatan lamun. Di sisi lain, korelasi antara kepadatan spons dan kerapatan lamun relatif lemah, yang mendukung temuan bahwa kedua komponen ini tidak memiliki keterkaitan erat dalam ekosistem yang diamati.Sponges are symbiotic organisms that play a significant role in coastal ecosystems, such as filtering water, decomposing organic material into nutrients, providing shelter for microorganisms, and contributing to sediment stability and binding. This study aims to identify the composition and species diversity of sponges found in seagrass habitats on Panggang Island, Thousand Islands, DKI Jakarta. The research was conducted at three locations using a 50-meter line transect and 11 square transects measuring 0.5 x 0.5 meters along each line. Sponge samples were collected by cutting small pieces from each sponge for spicule analysis. The results indicate that a total of 10 sponge species were recorded across all research locations, dominated by Chondrilla caribensis forma, with sponge density values ranging from 0 to 13 individuals/m². The sponge diversity index on Panggang Island falls within the moderate category, indicating that the distribution of genera within the sponge community is relatively even. Phosphate concentration and current velocity showed a strong positive correlation with sponge density, while temperature exhibited a positive correlation with seagrass density. Conversely, the correlation between sponge density and seagrass density was relatively weak, supporting the findings that these two components do not have a close relationship within the observed ecosystem
Morphological and Molecular Comparison of Areolate Grouper (Epinephelus areolatus) from Saudi Arabia and Indonesia
Ikan kerapu (subfamily Epinephelinae) merupakan salah satu kelompok ikan terbesar di dunia. Identifikasi kerapu, khususnya genus Epinephelus, dilakukan berdasarkan karakteristik morfologi seperti warna, bentuk tubuh, dan ukurannya. Namun, proses identifikasinya kadang sulit untuk dibedakan secara morfologi karena memiliki karakteristik yang sangat mirip. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan adalah penggunaan DNA barcoding. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ikan kerapu dari Arab Saudi dan Indonesia. Hasil identifikasi morfologi dan molekuler menunjukkan bahwa kerapu dari penelitian ini (dari Yanbu, Arab Saudi dan Lamongan, Indonesia) adalah Epinephelus areolatus (kerapu sirip putih). Secara morfologi, sampel kerapu ekor putih dari Yanbu Arab (Saudi) adalah sebagai berikut: sirip dorsal X-XI/12-15; sirpi anal II-III/8-9; sirip pectoral 13-15; sirip pelvic I-5; sisik linea lateralis 48-53; vertebrae 24. Sementara hasil meristik dari kerapu dari Lamongan (Indonesia) adalah sebagai berikut: sirip dorsal X-XI/15-17; sirip anal II-III/8; sirip pectoral 16-19; sirip pelvic I-5; sisik linea lateralis 48-53; vertebrae 24. Perbedaan E. areolatus dari Arab Saudi dan Indonesia secara morfologi adalah dari bintik dan ekor caudal-nya. Hasil molekuler pada E. areolatus menunjukkan perbedaan clade. Sampel dari Arab Saudi termasuk clade Western Indian Ocean sementara Indonesia termasuk Western Pacific. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan morfologi dan molekuler antara E. areolatus dari Yanbu (Saudi Arabia) dan Lamongan (Indonesia). Sekuens gen COI dari DNA ikan kerapu ekor putih pada penelitian ini telah didaftarkan ke NCBI (PP388919.1 untuk Lamongan dan PP388920.1 untuk Arab Saudi). Data penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk konservasi.Grouper (subfamily Epinephelinae) is one of the largest groups of fish in the oceans. Identification of groupers, especially the Epinephelus, is conducted based on morphological characteristics (color, pattern, body shape, and size. However, the identification process is difficult to differentiate morphologically because of their similar characteristics. One method that can be applied is DNA barcoding. This study aimed to compare groupers from Saudi Arabia and Indonesia. Morphological and molecular identification results show that the grouper from this study (from Yanbu, Saudi Arabia, and Lamongan, Indonesia) was Epinephelus areolatus (areolate grouper). Morphologically, grouper samples from Yanbu (Saudi Arabia) were as follows: dorsal fin X-XI/12-15; anal fins II-III/8-9; pectoral fins 13-15; pelvic fin I-5; lateral line scales 48-53; vertebrae 24. Meanwhile, the meristic results of groupers from Lamongan (Indonesia) were as follows: dorsal fins X-XI/15-17; anal fins II-III/8; pectoral fins 16-19; pelvic fin I-5; lateral line scales 48-53; vertebrae 24. The morphological differences between E. areolatus from Saudi Arabia and Indonesia were its spots and caudal fin. Molecular results on E. areolatus showed different clades. Samples from Saudi Arabia belonged to the Western Indian Ocean clade while Indonesia belonged to the Western Pacific. This showed that there were morphological and molecular differences between E. areolatus from Yanbu (Saudi Arabia) and Lamongan (Indonesia). The COI gene sequences of areolate grouper were submitted to NCBI (accession number PP388919.1 for Lamongan and PP388920.1 for Saudi Arabia). This research data can be used as a reference for conservation
Spatial and Temporal Variation of Zooplankton Composition Near Whale Shark Sightings in Probolinggo of East Java, Indonesia
Pola kemunculan hiu paus di Probolinggo berbeda dengan lokasi lain di Indonesia, diduga kemunculannya memiliki hubungan dengan ketersediaan zooplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji komposisi spasial dan temporal zooplankton serta mengaitkan dengan kemunculan hiu paus. Penelitian dimulai Bulan Desember 2017 - November 2018 dan terdapat enam titik pengamatan tiap bulannya. Air disaring menggunakan plankton net dan diawetkan menggunakan lugol. Pengamatan menggunakan mikroskop Olympus CX23 dengan dua kali ulangan. Hasil analisis spasial menunjukan adanya variasi terhadap keberadaan hiu paus di setiap stasiun (Chi-square test, X2= 1418.6, P <0.05) dengan kemunculan tertinggi diamati di stasiun PR_5 sebanyak enam individu. Namun, jumlah zooplankton tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan di setiap stasiunnya. Berdasarkan analisis temporal, kemunculan hiu paus berbeda signifikan setiap bulannya (Chi-square test, X2= 81.04, P <0.05), dengan bulan Maret dan November menunjukan kemunculan tertinggi, tiga individu. Terdapat variasi kelimpahan dalam jumlah zooplankton (Chi-square test, X2= 148.61, P <0.05), dengan kelimpahan terbesar terjadi pada bulan April dan Maret. Baik secara spasial maupun temporal, korelasi kemunculan hiu paus terhadap komposisi zooplankton tidak berhubungan (r= 0.01, P< 0.05). Selain itu, korelasi antara hiu paus terhadap jenis zooplankton yang ditemukan juga dilakukan, hasilnya menunjukan bahwa Acartia sp. terindikasi menjadi jenis target hiu paus tersebut (r= 0.3, P <0.05), dimana kemunculan hiu paus tidak dipengaruhi oleh jumlah zooplankton yang tersedia, namun berdasarkan kebutuhan kalorinya.Whale shark occurrence in Probolinggo differs from other Indonesian locales, suggesting a link to zooplankton availability. Zooplankton composition and whale shark emergence are the focus of this study. From December 2017 to November 2018, six observation points were made each month. A plankton net filters and lugol preserves water. Olympus CX23 microscope observations were repeated twice. The spatial analysis revealed varying whale shark numbers at each station (Chi-square test, X2 = 1418.6, P <0.05), with six sharks observed at station PR_5. Zooplankton numbers were similar at each location. Temporal analysis revealed significant differences in whale shark appearance each month (Chi-square test, X2 = 81.04, P <0.05), with March and November having the highest appearance among the three individuals. The amount of zooplankton varied (Chi-square test, X2 = 148.61, P <0.05), with the highest abundance in April and March. Whale shark appearance and zooplankton composition were not correlated (r = 0.01, P< 0.05) both geographically and temporally. Whale sharks were linked to zooplankton kinds. Results indicate whale sharks are particularly interested in Acartia sp. (r = 0.3, P < 0.05). This suggests that whale sharks\u27 appearance is determined by their demand for food, not zooplankton availability
The Impact Shoreline Modifications on Lekang Turtle (Lepidochelys olivacea) Conservation Along Coastal of Kulonprogro, Indonesia
Perubahan kondisi oseanografi yang terus terjadi akan mengakibatkan masalah terhadap ekologi wilayah pesisir, salah satunya adalah pergeseran batas antara laut dan daratan. Dengan berubahnya luasan wilayah pesisir ini, khususnya di Pantai Trisik, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dimungkinkan dapat memberikan pengaruh terhadap penyu lekang yang naik untuk bertelur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan garis pantai terhadap distribusi penyu lekang di Pantai Trisik, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020-2022 dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis. Perubahan garis pantai diketahui dengan cara digitasi garis pantai, dan garis pantai diolah melalui citra satelit Landsat 8 yang telah diperoleh dengan software ArcGIS. Citra Landsat 8 yang diambil meliputi tahun 2020-2022. Masing-masing citra akan dilakukan cropping area atau pemotongan citra, koreksi geometrik dan radiometrik, delininiasi atau pembuatan garis batas antara daratan dan laut, digitasi on screen, dan perhitungan perubahan garis pantai secara otomatis menggunakan toolbox Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Perubahan garis pantai yang terjadi di Pantai Trisik selama tahun 2020-2022 cenderung mengalami abrasi karena luasan pantai yang semakin berkurang, nilai jarak rata-rata perubahan garis pantai tertinggi -29,61 m terendah -15,03 m, dan nilai rata-rata laju abrasi tertinggi -8,26 m/tahun, terendah –4,19 m/tahun yang mengakibatkan pengurangan luasan wilayah pantai sebesar 111.967,03 m2. Korelasi antara perubahan garis pantai dengan distribusi peneluran penyu lekang di Pantai Trisik memiliki hubungan yang sangat kuat, luas pantai memengaruhi 91,3% jumlah sarang dan 88,5% jumlah telur penyu.Changes in oceanographic circumstances that continue to occur will generate challenges for coastal ecology, one of which is a change in the sea-land boundary. It is possible to have an impact on the olive ridley turtles that rise to lay their eggs by changing the region of this coastal area, particularly at Trisik Beach, Kulonprogo, and Yogyakarta Special Region. The goal of this study was to use a Geographic Information System to estimate the effect of changes in the coastline on the distribution of olive ridley turtles on Trisik Beach, Kulon Progo, and Yogyakarta Special Region in 2020-2022. Digitizing the shoreline reveals changes in the coastline, which is then analyzed using Landsat 8 satellite data retrieved with ArcGIS software. The Landsat 8 photos span the years 2020-2022. Using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) toolbox, each image will go through area cropping or image cutting, geometric and radiometric correction, demarcation or development of a land-sea boundary line, on-screen digitalization, and automatic calculation of coastal changes. Trisik Beach\u27s coastline alterations from 2020 to 2022 tended to create abrasion due to the shrinking beach area. The greatest average distance to a coastline alteration was -29.61 m, the smallest was -15.03 m, and the average speed of the greatest abrasion is -8.26 m/year, the smallest is -4.19 m/year, resulting in a 111,967.03 m2 reduction in coastal area. The association between shoreline alterations and the distribution of olive ridley turtle nesting on Trisik Beach is quite significant, with the beach area affecting 91.3% of turtle nests and 88.5% of turtle eggs
Tidal Characteristic Analysis Utilizing Radar Tide Gauge in Cirebon Seawater
Pengukur pasang surut berbasis radar merupakan salah satu pendekatan dalam mengukur elevasi muka air yang mudah diinstal dan dipelihara. Perekaman data pasang surut yang pernah dilakukan umumnya menggunakan palem pasut atau pressure tide gauge. Pada studi ini radar tide gauge dipasang di pelabuhan Cirebon, bagian utara pulau Jawa, untuk mengetahui karakteristik pasang surut di perairan Cirebon. Data elevasi muka air direkam setiap 15 menit dari bulan Juli 2022 hingga November 2023. Komponen pasang surut dihitung menggunakan metode least square dan tipe pasang surut ditentukan melalui bilangan Formzahl. Komponen dominan pasang surut yang diketahui terdiri dari komponen semidiurnal M2, S2, N2, K2, 2N2; komponen diurnal K1, O1, P1, Q1, K1, J1, TAU1; dan komponen perairan dangkal SSA dengan tinggi secara berurutan sebesar 11.98, 5.58, 2.91, 2.11, 1.45, 11.80, 3.89, 6.11, 2.08, 1.56, dan 3.11 (dalam cm). Tipe pasang surut di area kajian adalah campuran condong semidiurnal. Tunggang pasut di daerah studi setinggi 0.8-1 m dengan kondisi pasang saat pukul 6.00-9.00 dan 18.00 - 21.00, sedangkan kondisi surut pada rentang pukul 11.00 - 14.00 dan 01.00 - 04.00. Perhitungan tinggi elevasi berdasarkan datum dilakukan dengan mengkombinasikan komponen pasang surut. Data pengukuran pasang surut menggunakan radar dapat menjadi data alternatif untuk mendukung dan melengkapi data yang terekam di Cirebon serta dapat menjadi pertimbangan untuk pembangunan dan kegiatan maritim lainnya.Radar-based tide gauges are one approach in measuring water level offering easier installation and maintenance. Tidal data recording that has been done commonly applies tide staff or pressure tide gauge. In this study, a radar tide gauge was installed at Cirebon port, northern part of Java island, to determine the tidal characteristics in Cirebon seawaters. Water elevation data was recorded every 15 minutes from July 2022 to November 2023. The tidal component is calculated using least squares method while the tidal type is determined using the Formzahl number. The dominant tidal component known consists of semidiurnal component i.e. M2, S2, N2, K2, 2N2; diurnal component, K1, O1, P1, Q1, J1, TAU1; and shallow water component SSA components with a height of 11.98, 5.58, 2.91, 2.11, 1.45, 11.80, 3.89, 6.11, 2.08, 1.56 and 3.11 (in cm), respectively. Tidal type in the study area is mixed type prevailing Semidiurnal. The tidal range is around 0.8-1 m high with high tide conditions at 6.00-9.00 and 18.00 - 21.00, while low tide conditions are within 11.00 - 14.00 and 01.00 - 04.00. Elevation height calculation based on datum is done by combining the tidal components. Tidal measurement data using radar can be an alternative data to support and complement data recorded in Cirebon and may become a consideration for development and other maritime activities
Analisis Kelayakan Air Laut untuk Wisata di Pantai The Legend-Pamekasan Berdasarkan Kelimpahan Bakteri Escherichia coli dan Konsentrasi Bahan Organik Total: Feasibility Analysis of Seawater for Tourism at The Legend Beach-Pamekasan Based on Escherichia coli Abundance and Total Organic Matter Concentration
Pantai The Legend-Pamekasan merupakan kawasan wisata yang dikelilingi oleh lima stasiun pemantauan, di mana terdeteksi kontaminasi bakteri Escherichia coli. Bakteri ini dapat berkembang biak dengan cepat di perairan yang memiliki kandungan nutrien yang cukup, terutama bahan organik total. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan kawasan wisata Pantai The Legend-Pamekasan berdasarkan kelimpahan E. coli serta menganalisis hubungan antara konsentrasi bahan organik total dengan kelimpahan E. coli di lokasi penelitian. Kelimpahan bakteri dianalisis menggunakan metode filtrasi membran berdasarkan standar ISO 9308-1:2014, sedangkan kandungan bahan organik total dianalisis mengacu pada SNI 06-6989.22-2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan E. coli di Stasiun 7 (Pantai The Legend-Pamekasan) berada dalam kategori aman sebagai kawasan wisata pantai, dengan nilai 30 CFU/mL. Namun, aktivitas berenang dan snorkeling tidak direkomendasikan di sekitar area pantai, karena Stasiun 1 (muara) dan Stasiun 3 (area pembuangan limbah pencucian ikan) memiliki kelimpahan bakteri yang melebihi ambang batas baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2021. Analisis statistik menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara konsentrasi bahan organik total terhadap kelimpahan E. coli di seluruh stasiun penelitian (ρ = 0,01; p < 0,05). Hasil penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan limbah di sekitar lokasi untuk mencegah potensi pencemaran lebih lanjut dan menjaga keberlanjutan Pantai The Legend-Pamekasan sebagai destinasi wisata yang aman dan layak.The Legend Beach-Pamekasan is a tourist destination surrounded by five monitoring stations, where contamination by Escherichia coli bacteria has been detected. This bacterium can proliferate rapidly in aquatic environments when sufficient nutrients, particularly total organic matter, are present. Therefore, this study aims to assess the suitability of The Legend Beach-Pamekasan for tourism based on E. coli abundance and to analyze the relationship between total organic matter concentration and E. coli abundance at the study site. Bacterial abundance was determined using the membrane filtration method following ISO 9308-1:2014, while total organic matter content was analyzed based on SNI 06-6989.22-2004. The results indicate that E. coli abundance at Station 7 (The Legend Beach-Pamekasan) falls within the safe threshold for recreational beach use at 30 CFU/mL. However, swimming and snorkeling activities are not recommended in the surrounding waters, as E. coli levels at Station 1 (estuary) and Station 3 (fish-washing waste area) exceed the quality standard threshold established by Republic of Indonesia Government Regulation No. 22 of 2021. A significant correlation was found between total organic matter concentration and E. coli abundance across all stations (ρ = 0.01, p < 0.05). These findings highlight the need for effective waste management strategies in the area to prevent further contamination and ensure the long-term sustainability of The Legend Beach-Pamekasan as a safe and viable tourism destination
Manfaat Pengelolaan Suaka Perikanan Terubuk (SPT) Bagi Masyarakat Pesisir di Perairan Bengkalis, Riau: Pendekatan Sistem Sosial-Ekologi: The Benefits of Managing The Terubuk Fish Sanctuary (SPT) for Coastal Communities in Bengkalis Waters, Riau: a Social-Ecological Systems Approach
Penetapan Suaka Perikanan Terubuk (SPT) berdasarkan Peraturan Bupati Bengkalis No. 15 Tahun 2010 dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.59/MEN/2011 tentunya memberikan dampak sosial dan ekologi yang positif. Penelitian ini bertujuan menilai manfaat sosial dan ekologi SPT bagi masyarakat pesisir di Perairan Bengkalis, Riau. Data diperoleh melalui wawancara dan analisis produksi perikanan berdasarkan ketersediaan data dari tahun 2008-2016. Keberadaan ikan terubuk di perairan Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Siak lekat dengan nilai sejarah dan budaya. Hasil dari pemodelan peramalan produksi selama 10 tahun menunjukkan penurunan produksi ikan terubuk, dengan prediksi penurunan 1,37 ton per tahun (-0,58%) berdasarkan model S-Curve. Hasil analisis statistik (t-test) juga menyebutkan tidak ada pengaruh antara sebelum dan setelah diterbitkannya SK (Peraturan Larangan Terubuk) dengan melihat nilai P-Value > 0,005. Secara umum, pengelolaan perikanan Terubuk yang ada di Perairan Provinsi Riau belum efektif dengan hanya diterbitkannya SK pengelolaan Kawasan, akan tetapi diperlukan beberapa langkah strategis diantaranya adalah dengan meningkatkan peran Masyarakat dalam pengelolaan, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum dalam melakukan konservasi perikanan Terubuk.The establishment of the Terubuk Fish Sanctuary (SPT) under Bengkalis Regent Regulation No. 15 of 2010 and the Minister of Marine Affairs and Fisheries Decree No. KEP.59/MEN/2011 has undoubtedly had positive social and ecological impacts. This study aims to assess the social and ecological benefits of the SPT for coastal communities in Bengkalis Waters, Riau. Data were collected through interviews and fishery production analysis based on available data from 2008 to 2016. The presence of Terubuk fish in the waters of Bengkalis, Meranti Islands, and Siak is closely linked to historical and cultural significance. A 10-year production forecast model indicated a decline in Terubuk production, with a predicted decrease of 1.37 tons per year (-0.58%) based on the S-Curve model. Statistical analysis (t-test) also showed no significant difference in Terubuk production before and after the issuance of the regulation (P-Value > 0.005). Overall, Terubuk fishery management in the Riau Province waters has not been effective with only the issuance of area management regulations. Strategic steps are needed, including increasing community involvement in management, enhancing supervision, and enforcing laws to better conserve the Terubuk fishery