Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    PENGELOLAAN PERIKANAN TONGKOL LISONG (Auxis rochei) DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NUSA PENIDA, BALI

    Full text link
    Nusa Penida is a marine protected area that has a high diversity of fish. Fishing of target fish is need to be properly regulated and managed to avoid overfishing. The aim of the study was to assess the management of bullet tuna (Auxis rochei) fishing in Nusa Penida using the EAFM indicators. The research conducted in Nusa Penida, Bali Province, on July-December 2018. Primary data collected includes ecological data (fish length and weight, and water quality) by survey to fish catches and waters; and socio-institutional data collected by distributing questionnaires to 54 respondents (drift nets, gill nets, hand line), and interviews with stakeholders. Data analysis was carried out descriptively. The results indicated that the bullet tunas had an average length of 24.59 cm with range of 21-34 cm, smaller than the size range recorded in the fishbase of 35-50 cm. The spawning potential ratio value is 23%, which indicates overfished. Water quality is in accordance with seawater quality standards for marine biota. The implementation of traditional wisdom, namely Nyepi Segara, is adhered to by the local community. Assessment of bullet tuna management using EAFM indicators concluded that in the fish resources domain there were indications of overfished. Habitat domain (water quality and coral cover) is good. On the social aspect, the results are good, except that the respondent\u27s income (54%) is less than IDR 1,500,000.00.Nusa Penida adalah kawasan konservasi perairan (KKp) yang memiliki keragaman jenis ikan yang tinggi. Penangkapan ikan target oleh nelayan perlu diatur dan dikelola dengan baik untuk menghindari tangkap lebih. Tujuan penelitian adalah menilai pengelolaan perikanan ikan tongkol lisong (Auxis rochei) yang sudah diterapkan di Nusa Penida menggunakan indikator Ecosystem Approach for Fisheries Management (EAFM). Penelitian dilakukan di perairan Nusa Penida, Provinsi Bali, pada Juli-Desember 2018. Pengumpulan data meliputi data ekologi (panjang dan bobot ikan, serta kualitas air) melalui survei terhadap hasil tangkapan dan perairan; data sosial-kelembagaan melalui kuesioner kepada 54 responden nelayan (jaring hanyut, jaring insang, pancing) dan wawancara dengan para pemangku kepentingan. Analisis data dilakukan secara deskriptif sesuai dengan domain dan indikator pada EAFM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tongkol lisong mempunyai panjang rata-rata 24,59 cm dengan kisaran panjang (21-34) cm, lebih kecil daripada yang tercatat pada FishBase yaitu 35-50 cm. Nilai spawning potential ratio adalah 23% yang mengindikasikan overfished. Kualitas air sesuai dengan baku mutu perairan untuk biota laut. Penerapan kearifan tradisional yaitu Nyepi Segara ditaati oleh masyarakat lokal sebagai upaya untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan (SDI). Penilaian pengelolaan perikanan tongkol lisong menggunakan indikator EAFM menyimpulkan bahwa pada domain SDI terjadi indikasi overfished. Domain habitat (kualitas air dan tutupan karang) dalam kondisi baik. Domain sosial dan ekonomi dalam kondisi baik, kecuali pendapatan responden (54%) kurang dari Rp1.500.000,00. &nbsp

    DYNAMIC OF COASTAL INUNDATION IN JAKARTA BASED ON DATA MULTI-TEMPORAL SATELLITES USING WATER INDEX AND RADAR POLARIZATION

    Full text link
    Kombinasi baseline data pengindraan jauh sistem aktif dan pasif memiliki banyak keuntungan dalam pemantauan dinamika genangan pesisir. Kedua jenis sensor satelit mengatasi kesenjangan informasi genangan, terutama pada area yang ditutupi awan/bayangan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji dinamika genangan di wilayah pesisir Jakarta berdasarkan data multi-temporal sensor optik dari Landsat 8 dan Synthetic Aperture Radar (SAR) Sentinel 1A. Metode penelitian ini menggunakan dua algoritma indeks air. Algoritma tersebut yaitu Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan Dynamic Surface Water Extent (DSWE) berdasarkan nilai spektral reflektansi dan formula empirik. Metode lainnya adalah menggunakan nilai rata-rata koefisien backscatter air dari analisis polarisasi tunggal Vertikal Vertikal (VV) dan Vertikal Horisontal (VH). Hasil studi menunjukkan bahwa penggunaan kedua tipe data satelit dengan baseline data 8, 9, 15 dan 16 hari cukup efektif memantau dinamika genangan selama 8-49 hari, termasuk area yang tertutup awan dan bayangan. Berdasarkan nilai threshold dari MNDWI >0,123 dan koefisien backscattering air -19dB cukup efisien digunakan untuk mengesktrak informasi data satelit. Algoritma empiris tersebut menghasilkan kenampakan genangan, terutama di sepanjang tanggul pantai, waduk, ekosistem mangrove dan lahan terbangun. Hasil pemantauan satelit menunjukkan bahwa puncak genangan terjadi pada 30 Mei 2016 dan masih terlihat pada 15 Juni 2016. Kombinasi metode pengindraan jauh tersebut cukup efektif dan efisien untuk memantau genangan secara dinamis.Combining baseline data of remote sensing systems active and passive has many advantages in monitoring coastal inundation dynamically. It has advanced the surface water information gaps in coastal areas, especially areas covered by clouds and shadows. The main objective of this study was to assess the dynamics of coastal inundation in Jakarta based on multi-temporal data optics of Landsat 8 and Synthetic Aperture Radar (SAR) Sentinel 1A. The method of this research used two water index algorithms. They are Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) and Dynamic Surface Water Extent (DSWE) based on spectral reflectance values and empirical formulas. The other method is using the coefficient backscattering of water from a single polarization of Vertical Verticals (VV) and Vertical Horizontal (VH). The study results show that the use of both satellite data baseline of 8, 9, 15, and 16 days is quite effective, applying inundation dynamics for 8-49 days. Based on the threshold value of MNDWI > 0.123 and the backscattering coefficient of -19dB are quite efficient to extract satellite data information. The empirical algorithms result in the feature of inundation, especially along the coastal dikes, reservoirs, mangrove ecosystems, and built-up lands. Satellite monitoring results show that the peak of inundation occurred on 30 May 2016 and was still visible on 15 June 2016. The combination of remote sensing methods is quite effective and efficient for monitoring inundation dynamically

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    LAJU AKUMULASI SEDIMEN MANGROVE DI TANJUNG BATU, KEPULAUAN DERAWAN KALIMANTAN TIMUR

    Full text link
    Keberlangsungan ekosistem mangrove merupakan aspek penting karena berkaitan dengan pengurangan atau penambahan akumulasi sedimen seperti proses abrasi dan akresi. Mangrove di pesisir Tanjung Batu telah mengalami penurunan sejak 2001-2010 yang disebabkan oleh aktivitas masyarakat seperti penebangan pohon, pembukaan lahan untuk tambak dan perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan mengestimasi laju akumulasi sedimen mangrove di Tanjung Batu. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Juli 2018. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun meliputi identifikasi jenis mangrove, pengukuran Diameter at Breast Height (DBH) mangrove dan pengambilan sedimen corring menggunakan pipa stainless. Sampel sedimen dipotong berdasarkan interval 5 cm (kedalaman 0-15 cm), dan interval 2 cm (kedalaman 48-50 cm) yang digunakan sebagai Pb-210 supported (Stasiun 1 dan 3). Stasiun 5 dipotong dengan interval 4, 6 dan 8 cm (kedalaman 1-50 cm). Analisis sampel menggunakan alpha spektrometer dengan radioisotop Pb-210. Penentuan umur sedimen dan laju akumulasi sedimen menggunakan model Constant Rates of Supply (CRS). Hasil menunjukkan bahwa laju akumulasi sedimen selama 20 tahun terakhir (1998-2018) berkisar 0,09-0,20 g cm-2 tahun-1. Laju akumulasi tertinggi adalah Stasiun 1 yang merupakan lokasi dengan umur sedimen paling tua dan didominasi mangrove dengan DBH > 5 cm, sedangkan laju akumulasi terendah adalah Stasiun 5 yang memiliki umur sedimen paling muda dan didominasi mangrove dengan DBH < 5 cm.The sustainability of mangrove ecosystems is an important aspect because it is related to the decreasing or addition of sediment accumulation such as abrasion and accretion processes. Mangroves in Tanjung Batu have decreased since 2001-2010 due to community activities such as logging, clearing land for ponds and oil palm plantations. This study aims to estimate of mangrove sediment accumulation rate in Tanjung Batu. The study was conducted in February-July 2018. Sampling was carried out at 3 stations including identification of mangrove species, measurement of diameter at breast height (DBH) and sediment corring used stainless pipes. Sediment samples were cut based on intervals 5 cm (depth 0-15 cm), and intervals 2 cm (depth 48-50 cm) used as supported Pb-210 (Stations 1 and 3). Station 5 is cut at intervals of 4, 6 and 8 cm (depths 1-50 cm). Samples analysis using alpha spectrometer to determine radioisotope Pb-210. Determination of sediment age and sediment accumulation rate using the Constant Rates of Supply (CRS) model. The results showed that the rate of sediment accumulation in the last 20 years (1998-2018) ranged 0.09-0.20 g cm-2 years-1. The highest accumulation rate at Station 1 which is location with the oldest age and mangrove density in DBH > 5 cm, while the lowest accumulation rate is at Station 5 which has the youngest sediment age and mangroves in DBH < 5 cm

    KINETIC STUDY ON ADSORPTION AND DESORPTION PHOSPHAT ION (PO42-) IN SEDIMENT SEMARANG DAN JEPARA

    Full text link
    Adsorpsi dan desorpsi merupakan proses penting yang mempengaruhi distribusi bahan kimia di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola perubahan konsentrasi ion PO42- terhadap waktu melalui proses simulasi adsorpsi dan desorpsi sedimen perairan Semarang dan Jepara. Melalui proses desorpsi, dapat ditentukan kontribusi masukan ion PO42- oleh sedimen yang ditentukan dari jumlah ion PO42- yang terlepas pada awal sampai pada kondisi maksimum dari proses desorpsi. Penentuan kinetika adsoprsi ditentukan berdasarkan persamaan orde 1 dan 2 serta isoterm adsorpsinya berdasarkan model Langmuir dan Freundlich. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses desorpsi terjadi pada 1 jam pertama dan kontribusi ion PO42- yang dapat dilepaskan oleh sedimen perairan Semarang tiga kali lebih besar dibandingkan dengan sedimen perairan Jepara. Berdasarkan kinetika adsorpsi ion P oleh sedimen dari dua lokasi lebih tepat dijelaskan oleh model persamaan ordo 2 dan isoterm adsorpsinya berdasarkan model Langmuir. Model ini mengasumsikan bahwa kapasitas adsorpsi sebanding dengan jumlah situs aktif yang ditempati oleh ion PO42- dan adsorpsi terjadi dalam satu lapisan sedimen homogen. Sedimen Semarang memiliki kemampuan menyerap zat pencemar (ion P) lebih besar dibandingkan dengan sedimen Jepara dengan nilai kapasitas secara berurutan adalah 11,57 dan 11,2 µmol g-1.Adsorption and desorption are important processes that affect the distribution of chemicals in the environment. This research aims to determine the change pattern of PO42- concentration by time through adsorption and desorption simulations. The simulation process was conducted on sediments from Semarang and Jepara waters. Through the analysis of desorption process, the contribution of sediment input to the P ion can be determined, based on the release of ions PO42- at the beginning of time until the maximum conditions of the desorption process. The first and second order of (what) equations were used to determine the adsorption kinetics, while the isotherms of the adsorptions were determined based on the Langmuir and Freundlich models. The results show that the significant desorption process occurs during the first hour and the contribution of PO42- ions by Semarang sediments are three times higher than Jepara sediments. Based on the adsorption kinetics and isotherms, the second order of the equation model and the Langmuir model are more appropriate for both locations. This model assumes that the adsorption capacity is proportional to the number of active sites occupied by PO42- ions and the adsorption occurs in one homogeneous sedimentary layer. Semarang sediments have adsorp pollutants (P ions) ability greater than Jepara Sediments with capacity values respectively are 11.57 and 11.2 µmol g-1

    PHYSIOLOGICAL RESPONSE OF THE EYE YELLOW-STRIPED SCAD (Selaroides leptolepis) AND SHORT MACKEREL (Rastreliger brachysoma) TO THE COLOR OF LIGHT

    Full text link
    Respons fisiologi mata ikan selar (Selaroides leptolepis) dan ikan kembung (Rastroliger brachysoma) berbeda untuk setiap warna cahaya. Respons fisiologi mata ikan bisa dijadikan indikator dalam menentukan tingkat ketertarikan ikan terhadap warna cahaya tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketertarikan ikan selar dan ikan kembung terhadap cahaya warna putih, kuning, hijau dan biru. Metode penelitian menggunakan metode percobaan yang dilakukan di bagan tancap. Sepuluh ekor ikan selar dan ikan kembung yang dibatasi dengan jaring diberi cahaya selama 30 menit. Sampel ikan yang telah diberi perlakuan cahaya diambil matanya dan dilakukan analisis histologi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi ukuran ikan, indeks sel kon dan kecepatan pergerakan sel kon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan selar sangat tertarik terhadap cahaya LED warna hijau dan biru, sedangkan ikan kembung tertarik terhadap cahaya warna biru. Rata-rata indeks sel kon ikan selar pada cahaya warna biru dan hijau adalah 77,3±7,4% dan 70,7±6,8%, sedangkan rata-rata indeks sel kon ikan kembung yang diberi cahaya warna biru adalah 79,9±2,0%. Kecepatan rata-rata pergerakan sel kon ikan selar yang diberi cahaya biru mencapai 0,0180±0,0028 μm/det, sedangkan ikan kembung dengan cahaya hijau adalah 0,0157±0,0018 μm/det. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ikan selar sangat tertarik terhadap cahaya warna hijau dan biru, sedangkan ikan kembung sangat tertarik terhadap cahaya warna biru.The physiological response of the eye yellow-striped scad (Selaroides leptolepis) and short mackerel (Rastreliger brachysoma) are different for each color of light. The physiological response of the eye fish can be used as an indicator to determine the level of attraction of fish to specific colors of light. This study aims to identify the level of attraction of yellow-striped scad and short mackerel to light white, yellow, green and blue. The research was performed by experiment on lift net. Ten individual yellow-striped scad and short mackerel caged with a net. The fish lighted for 30 minutes. Then the fish was taken the eye, and histological analysis carried out. Data analysis used in this research were regression of fish size, con cells index and speed of con cells movement. The results showed that yellow-striped scad was very responsive to green and blue light. The short mackerel was more responsive to blue light. The average con cells index of yellow-striped scad for blue and green light were 77.3±7.4% and 70.7±6.8%, respectively. On the other hand, the average con cells index of short mackerel for blue light was 79.9±2.0%. The average speed of con cells movement of yellow-striped scad for blue light was 0.0180±0.0028 μm/sec, and the short mackerel for green light was 0.0157±0.0018 μm/sec. Based on the result of study can be conclouded that the yellow-striped scad was very attracted in green and blue light, while short mackerel was very attracted to blue light. &nbsp

    SPATIAL DISTRIBUTION OF WHITE-SPOTTED RABBIT FISH Siganus canaliculatus Parak, 1797 ON DIFFERENT SEAGRASS BEDS HABITAT OF THE INNER AMBON BAY

    Full text link
    Ikan baronang Siganus canaliculatus merupakan jenis ikan demersal yang berasosiasi dengan padang lamun sebagai tempat asuhan dan pembesaran, mencari makan dan perlindungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial S. canaliculatus pada habitat padang lamun berbeda. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2018-Juli 2019 di perairan Teluk Ambon Dalam. Ikan dikoleksi menggunakan pukat pantai bersamaan dengan pengukuran parameter lingkungan. Analisis statistik ditampilkan secara deskriptif dalam bentuk tabel, histogram, dendrogram dan grafik biplot. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 1.050 ekor yang terdiri atas 598 jantan dan 452 betina. Parameter lingkungan secara umum medukung kehidupan S. canalicultus yang memiliki preferensi habitat berbeda berdasarkan stadia hidupnya, kelompok ukuran dewasa cenderung terdistribusi pada habitat lamun vegetasi tunggal, berbanding terbalik dengan ukuran pradewasa pada habitat padang lamun vegetasi campuran, sedangkan ukuran juvenil terdistribusi luas pada berbagai tipe habitat yang membuktikan fungsi padang lamun sebagai tempat asuhan dan pembesaran.White-spotted rabbit fish Siganus canaliculatus is a type of demersal fish that is associated with the seagrass beds, both as a nursery ground, feeding ground and for protection from predators. The purpose of this study was to analyze the spatial distribution of S. canaliculatus in different seagrass beds. The research was conducted from August 2018 until July 2019 in the inner Ambon Bay. Fish samples were collected using beach seines. The measurement of the environmental parameters, was done as well at the same time. Statistic analysis showed in table, histogram, dendrogram, and biplot graphic. The results showed that as many as 1.050 white-spotted rabbit fish individual consisting of 598 males and 452 females, were found during the study. The environmental parameters are generally still supporting the life of S. canaliculatus had different preferences habitat based on its life cycle.  The adults size tend to be distributed in monospecific seagrass beds. On the contrary this result was inversely to the adult size that associated to mixed seagrass beds, and juvenile size, which was widely distributed on various habitats type that proves seagrass beds function as a nursery ground

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    DENSITY AND GROWTH PATTERN OF SEA CUCUMBERS Holothuria scabra, Holothuria atra and Bohadchia marmorata AND THEIR ASSOCIATION WITH SEAGRASS IN COASTAL AREA OF AMBON, SAPARUA, OSI AND MARSEGU ISLAND, MALUKU PROVINCE

    Full text link
    Holothuria scabra, Holothuria atra dan Bohadschia marmorata merupakan jenis teripang dengan habitat yang sangat beragam dan umumnya ditemukan dalam jumlah yang dominan dibandingkan jenis lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan dan pola pertumbuhan teripang H. scabra, H. atra dan B. marmorata serta asosiasinya dengan jenis lamun di pesisir Pulau Ambon, Pulau Osi dan Pulau Marsegu. Asosiasi teripang dengan lamun dianalisis dengan menggunakan analisis koresponden (CA). Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2019 sampai November 2019. Pengambilan sampel dilakukan pada pada 3 stasiun yang mewakili masing-masing lokasi dengan menggunakan kuadran 1m2. Hasil penelitian mendapatkan kepadatan teripang berkisar dari 4,0 sampai 6,6 ind/100 m2. Secara keseluruhan pola pertumbuhan teripang adalah allometrik negatif dimana pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan berat. Thalassia hemprichii merupakan jenis lamun dengan kerapatan tertinggi sebesar 64407 ind/100 m2 dan Halodule pinifolia adalah jenis terendah sebesar 900 ind/100 m2. Hasil koresponden analisis menunjukkan adanya tiga kelompok asosiasi antara teripang dengan lamun. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Perbedaan jenis lamun dan kerapatan lamun berdampak pada kepadatan dan penyebaran jenis teripang.Holothuria scabra, Holothuria atra, and Bohadschia marmorata are sea cucumber species with very diverse habitat and commonly dominant than other species. This study aims to analyze the density and growth pattern sea cucumbers of Holothuria scabra, Holothuria atra, and Bohadschia marmorata and their association with seagrass Ambon, Osi, and Marsegu Island. The association of sea cucumber and seagrass was analyzed using Correspondence Analysis (CA). The research was conducted in October 2019 to November 2019. Sampling was carried out at three stations representing each location by using a 1m2 quadrant. The results show that sea cucumber density ranged from 4.0 to 6.6 ind/100 m2. Overall, sea cucumber\u27s growth pattern is a negative allometric of which the length growth is faster than the weight growth. Thalassia hemprichii is one of the seagrass species with the highest density (64407 ind/100 m2), while Halodule pinifolia has the lowest density (900 ind/100 m2). The result of the correspondence analysis showed that there is three association group between sea cucumber and seagrass. The overall result shows that seagrass density affects the density and distribution of sea cucumber

    FILOGENI POPULASI Haliotis squamata REEVE, 1846 DARI PANTAI SELATAN PULAU JAWA DAN BALI BERDASARKAN SEKUEN CYTOCHROME B DNA MITOKONDRIA

    Full text link
    Abalon Haliotis squamata Reeve, 1846 adalah jenis abalon yang memiliki sebaran di perairan laut selatan Jawa dan Bali Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan filogenetik H. squamata asal Pantai Selatan Pulau Jawa dan Bali berdasarkan sekuen gen Cytochrome b (Cyt b) DNA mitokondria. Sebanyak total 38 sampel dikoleksi dari Jawa (Binuangeun, Pangandaran, Banyuwangi) dan Bali (Buleleng). Sampel diekstraksi, diamplifikasi menggunakan metode PCR, dan sekuensing dilakukan dengan metode Sanger sequencing di 1st BASE Malaysia. Urutan primer yang digunakan dalam amplifikasi yaitu primer forward AB-Cytb DivF (5\u27-TAAGCCAATTCGTAAGGTTC-3\u27) dan primer reverse AB-Cytb DivR (5\u27-AAAATACCACTCTGGCTGAA-3\u27). Jarak genetik dianalisis menggunakan metode Kimura 2-parameter dan konstruksi pohon filogenetik dilakukan dengan Neighbour-Joining dengan menggunakan program MEGA 7. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa perbedaan nukleotida spesifik sebesar 81 bp dari 820 bp. Jarak genetik intraspesies H. squamata asal perairan selatan Jawa dan Bali sebesar 0,96%-1,06%. Jarak genetik antar populasi asal Jawa dan Bali cukup tinggi sehingga kedua populasi ini memisah dan membentuk klaster sendiri berdasarkan pohon filogenetik. Dengan demikian, populasi Bali sudah mulai membentuk subpopulasi yang baru. Data yang diperoleh dalam penelitian akan sangat berguna untuk pengelolaan sumberdaya genetik abalon jenis H. squamata terkait dengan kelestarian dan pemanfaatannya.Abalone Haliotis squamata Reeve 1846 is an abalone that has distribution on the southern coast of Java and Bali in Indonesia. The purpose of this study was to analyze the phylogenetic relationship of H. squamata from the southern coast of Java and Bali based on the cytochrome b (Cyt b) mitochondrial DNA sequence. A total of 38 samples were collected from Java (Binuangeun, Pangandaran, Banyuwangi, and Bali (Buleleng). Samples were extracted, applied using method PCR, and sequencing the method Sanger sequencing di 1st BASE Malaysia. Using primary sequences to applied namely forward primers forward AB-Cytb DivF (5\u27-TAAGCCAATTCGTAAGGTTC-3\u27) dan primer reverse AB-Cytb DivR (5\u27-AAAATACCACTCTGGCTGAA-3\u27). Genetic distance was analyzed using the Kimura 2-parameter method and phylogenetic tree construction was carried out by Neighbor-Joining using the MEGA 7. The result showed that a specific nucleotide difference of 81 bp to 820 bp. The genetic distance between H. squamata intraspecies from the southern coast of Java and Bali is 0.96%-1.06%. This genetic distance is high enough to separate the two populations and form their clusters based on phylogenetic trees. The population of Bali seems to form new subpopulations. The data obtained in this study will be very useful for the management of H. squamata abalone genetic resources related to their sustainability and utilization

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇