Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    BANGGAI CARDINALFISH (Pterapogon kauderni) AND THE ATTEMPT FOR THE INCLUSION OF CITES APPENDIX II

    Full text link
    Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) is a commercial ornamental fish originated and endemic to Banggai Islands of Indonesia. The objective of this paper was (a) to examine the sequence and the reasons to include Banggai cardinalfish into CITES Appendix II by USA and again by European Union, (b) to explain the responds (policy and actions) by Indonesian Government, and (c) to analyse the impact of the international and national policies related to CITES decisions. Basically, USA and EU claimed that the exploitation of Banggai cardinalfish for export was over-harvested and unsustainable, and thus they proposed to include the species into CITES Appendix II. The Government of Indonesia considered that the species has been appropriately managed in accordance to sustainable yield, and thus this species no need to include in the CITES Appendix II.  To ensure its sustainability, the Government has issued a number of activities and interventions, among other, imposing limited access to harvest area, establishment of breeding operations, study of its natural population as well as development of a national action plan. After a long process involving various institutions, Bangai cardinalfish was decided not to be included in CITES Appendix II.  Conservation measures, however, need to be continued by Indonesian Government to make sure that the population and the trade of Banggai cardinalfish will be sustainable in the future.Ikan capungan Banggai (Pterapogon kauderni) adalah salah satu spesies ikan hias endemik dari Kepulauan Banggai. Tujuan makalah ini adalah (a) memberikan informasi tentang urutan kejadian dan alasan mengapa ikan capungan Banggai ingin dimasukkan dalam Apendiks II CITES oleh Amerika Serikat dan oleh Uni Eropa, (b) menjelaskan tentang tindakan (kebijakan dan kegiatan) yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, dan (c) menganalisis dampak keputusan dan kebijakan internasional terkait keputusan CITES. Pada prinsipnya, Amerika Serikat dan Uni Eropa menganggap bahwa pemanenan ikan capungan Banggai untuk kepentingan ekspor dilakukan secara berlebihan dan tidak lestari, sehingga kedua negara (kelompok negara) tersebut mengusulkan untuk memasukkan ikan capungan Banggai dalam Apendiks II CITES. Pemerintah Indonesia meyakini bahwa ikan capungan Banggai telah dikelola dengan baik sesuai dengan prinsip kelestarian, sehingga ikan ini tidak perlu dimasukkan ke CITES Appendiks II. Untuk memastikan kelestarian ikan ini, Pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan dan tindakan, termasuk membatasi daerah yang diperbolehkan untuk dipanen, mengembangkan upaya budidaya, melakukan penelitian tentang estimasi populasi di alam, serta merumuskan rencana aksi nasional. Setelah melalui proses panjang yang melibatkan berbagai institusi, ikan capungan Banggai diputuskan untuk tidak dimasukkan dalam Apendiks II CITES.  Namun demikian, upaya konservasi tetap perlu dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa populasi dan perdagangan ikan capungan Banggai ini akan tetap lestari pada masa mendatang.&nbsp

    GROWTH RATE, SPATIAL-TEMPORAL VARIATION AND PREVALENCE OF THE ENCRUSTING CYANOSPONGE (Terpios hoshinota) IN SERIBU ISLANDS, JAKARTA

    Full text link
    Terpios hoshinota adalah cyanosponge bertatahkan pada substrat di terumbu karang yang dapat menyebabkan kematian massal pada karang yang terpapar. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki besarnya tingkat kerusakan karang akibat wabah T. hoshinota dengan menilai tingkat pertumbuhan, variasi spasial, dan prevalensi antara dua lokasi di Kepulauan Seribu. Pengamatan empat kali (T0-T3) selama lebih dari 18 bulan (2016-2017) dilakukan untuk melihat tingkat pertumbuhan spons menggunakan metode transek foto kuadrat permanen 5x5 m (250,000cm2). Total cakupan area spons di lokasi penelitian di T0 adalah 65,252cm2 dan menjadi 81,066 cm2 di T3. Level tertinggi terjadi pada T2 2,051cm2/bulan di Pulau Dapur (terdekat dengan Jakarta) dan 483cm2/bulan di Pulau Belanda (situs selanjutnya). Tingkat pertumbuhan spons tertinggi terjadi pada T1 –T2 selama musim transisi dari hujan ke kering. Tingkat pertumbuhan terendah diamati pada T3 selama musim transisi dari kering ke hujan. Secara umum, persentase prevalensi lebih tinggi di Pulau Belanda daripada di Pulau Dapur. Penelitian ini menunjukkan invasi persisten dari T. hoshinota pada ekosistem terumbu karang yang dapat mengatasi fungsi dan peran organisme terkait.Terpios hoshinota is a cyanosponge encrusted on the substrate in coral reefs that may cause mass mortality on the infested corals. This research was conducted to investigate the magnitude of damage level of corals due to the T. hoshinota outbreaks by assessing its growth rate, spatiotemporal variation, and prevalence between two sites in Seribu Islands. Four-time observation (T0-T3) in over 18 months (2016-2017) was conducted to see the growth level of sponge using a permanently quadratic photo transect method of 5x5 m (250.000cm2). The total coverage area of sponge on study site in the T0 was 65.252cm2 and becomes 81.066cm2 in T3. The highest level occurred on T2 of 2.051cm2/months in Dapur Island (the closest to Jakarta) and 483cm2/months in the Belanda Island (the further site). The highest sponge growth rate occurred on T1-T2 during transitional season from rainy to dry. The lowest growth rate was observed on T3 during transitional season from dry to rainy. In general, prevalence percentage was higher in Belanda Island than in Dapur Island. This study showed a persistence invasion of encrusting T. hoshinota on coral reef ecosystem that may overcome the function and role of associated organisms

    NILAI EKONOMI WISATA IKAN HIU PAUS DI DESA BOTUBARANI, KABUPATEN BONE BOLANGO, PROVINSI GORONTALO

    Full text link
    Kemunculan ikan hiu paus sejak 2016 di Desa Botubarani Teluk Tomini Gorontalo menjadi objek dan daya tarik wisata tersendiri yang dapat mengundang para wisatawan. Hal ini tentunya sangat memengaruhi perekonomian masyarakat sekitar, wisata ikan hiu paus dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi daerah terutama masyarakat lokal. Penelitian bertujuan untuk menganalisis nilai ekonomi wisata ikan hiu paus sebagai masukan dalam pembuatan kebijakan berdasarkan analisis ekonomi untuk pengembangan dan pengelolaan wisata ikan hiu paus secara berkelanjutan di Desa Botubarani. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penentuan responden dilakukan secara non-probability sampling, yakni purpossive sampling dan accidental sampling. Sebagai panduan dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan menggunakan kuisioner. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Travel Cost Method (TCM) dan Contingent Valuasi Method (CVM). Hasil analisis nilai ekonomi wisata ikan hiu paus di Desa Botubarani yaitu sebesar Rp7.894.602.230 per bulan puncak kemunculan (Mei, Juni, Juli). Nilai ekonomi yang telah dihitung dapat menjadi landasan pembuatan kebijakan, terlebih untuk menentukan biaya masuk wisata ikan hiu paus sehingga pengelolaan wisata ikan hiu paus dapat berjalan secara optimal dan efektif.The appearance of the whale shark since 2016 in the Botubarani Village, Tomini Bay, Gorontalo has become its tourist attraction and attraction that can invite tourists. This of course greatly affects the economy of the surrounding community, whale shark tourism can contribute to improving the regional economy, especially the local community. The research aims to analyze the economic value of whale shark tourism as an input in policy making based on economic analysis for the development and management of whale shark tourism in a sustainable manner in Desa Botubarani. The type of data used in this study is primary data and secondary data. The determination of respondents is done by non-probability sampling, namely purposive sampling and accidental sampling. As a guide in obtaining the information needed using a questionnaire. The method used in this study is the Travel Cost Method (TCM) and the Contingent Valuation Method (CVM). The results of the analysis of the economic value of whale shark tourism in the village of Botubarani amounted to Rp7.89.602.230 per month peak appearance (May, June, July). The calculated economic value can be the basis for making policy in advance to determine the entrance fee for shark tourism so that the management of shark tourism can run optimally and effectively

    STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN MANGROVE DI KUPANG

    Full text link
    Studi etnobotani berguna untuk menganalisis pemanfaatan jenis dan bagian tumbuhan mangrove secara kuantitatif berdasarkan indeks signifikansi budaya (Index of Cultural Significance) masyarakat pesisir. Penelitian dilakukan di area mangrove Taman Wisata Mangrove Kelurahan Oesapa, Pantai Manikin, Pantai Sulamanda Desa Mata Air, Desa Kelapa Tinggi di Kelurahan Tarus, Desa Oebelo dan Desa Pariti. Pengumpulan data menggunakan metode survei lapangan, observasi dan teknik wawancara semi-terstruktur tentang tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan dan cara pengolahan terhadap masyarakat yang ada di sekitar hutan mangrove. Hasil wawancara diperoleh bahwa terdapat 6 (enam) spesies mangrove major, yakni: Avicennia marina, Sonneratia alba, Bruguiera parviflora, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, dan R. mucronata, dan 1 (satu) spesies mangrove asosiasi, yakni Nypa fruticans. Berdasarkan nilai Indeks Signifikansi Budaya (ICS), R. mucronata memiliki nilai ICS tertinggi (708), yaitu sebagai indikator lingkungan (340) dan bahan bangunan (320). A. marina, nilai ICS 114, terutama pemanfaatannya untuk bahan obat (108), dan S. alba bernilai ICS 54, terutama sebagai  pengganti sirih (12). Mangrove digunakan sebagai indikator lingkungan, kayu bakar, bahan bangunan, bahan obat, kegiatan pertanian, berkaitan dengan mitos, pengganti sirih, pembuatan garam, bahan perahu, pembuatan sirup dan pakan ternak.The ethnobotanical study is useful for analyzing the quantitative utilization of the species and parts of the mangrove plants, based on the Index of cultural significance (ICS) in the coastal communal. Research sites were Mangrove Tourism Park Oesapa Village, Manikin Beach, Sulamanda Beach Mata Air Village, and Kelapa Tinggi village in Tarus Subdistrict, Oebelo village also Pariti village. The data collection uses field survey methods, observation, and semi-structured interview techniques about plants, plant parts used, and processing methods. Interview results obtained 6 (six) species of major mangrove species: Avicennia marina, Sonneratia alba, Bruguiera parviflora, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, and R. mucronata, and 1 (one) associate mangrove species: Nypa fruticans. Based on ICS values, R. mucronata has the highest ICS value of 708 as an environmental indicator (340), building materials (320) and firewood (48). A. marina, with ICS scores of 114 uses for medicines (108), and S. alba the ICS is 54, especially as betel substitute (12). The community uses the mangroves as environmental indicators, firewood and construction materials, medicines, agricultural activities, related to myths, betel substitutes, making salt, boat materials, syrup, and livestock feed. &nbsp

    HUBUNGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON, KONSENTRASI KLOROFIL-a DAN KUALITAS PERAIRAN PESISIR SUNGSANG, SUMATERA SELATAN

    Full text link
    Diversity and abundance of fish are rely on fitoplankton abundance as food, meanwhile abundance of phytoplankton is depend on waters quality. In order to understand relationship among those component, this study was carried out to analyzed correlation among phytoplankton abundance chlorophyll-a concentration and water quality. This study was conducted in the coastal waters of sungsang, Banyuasin Regency  from July until August 2017. Sample collected using purposive sampling method. Results of the research showed that clarity around 6.3-45.5%, turbidity 2-4 NTU, temperature 29.6-30.8oC, pH 6.0-7.7, salinity 0-16 ppt, DO 5.33-6.50 mg/L, BOD 0.4-3.6 mg/L, ammonia 0.1-0.32 mg/L, phosphate 0.01-2.16 mg/L, nitrate 0.06-2.96 mg/L, chlorophyll-a 1,68-20,6 mg/m3. There was positive correlation among chlorophyll-a and phytoplankton, phosphate, nitrate, DO, BOD5 about 95.5%, 91%, 76.6%, 82.2%, -63%, respectively. The higher the concentration of phosphate and nitrate the higher the concentration of chlorophyll-a, and the higher the concentration of chlorophyll-a causes the higher the concentration of dissolved oxygen. The higher the BOD5 and ammonia, the lower the concentration of chlorophyll-a.purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerahan berkisar antara 6,3-45,5%, kekeruhan 2-4 NTU, suhu 29,6-30,8oC, pH 6,0-7,7, salinitas 0-16 ppt, DO 5,33-6,50 mg/L, BOD 0,4-3,6 mg/L, amonia 0,1-0,32 mg/L, fosfat 0,01-216 mg/L, nitrat 0,006-2,96 mg/L, klorofil-a 1,68-20,6 mg/m3 kelimpahan fitoplankton berkisar (96-240) mg/L. Terdapat hubungan positif antara konsentrasi klorofil-a dengan fitoplankton, fosfat, nitrat, DO, BOD5, secara berturut-turut sebesar 95,5%, 91%, 76,6%, 82,2%, -63%. Semakin tinggi konsentrasi fosfat dan nitrat makin tinggi pula konsentrasi klorofil-a, dan semakin tinggi konsentrasi klorofil-a menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut semakin tinggi. Semakin tinggi BOD5 dan amonia maka konsentrasi klorofil-a makin rendah

    DISTRIBUTION AND COMMUNITY STRUCTURE OF MANGROVE IN DONROTU, GURATU AND MANOMADEHE ISLANDS, WEST HALMAHERA DISTRICT, NORTH MALUKU

    Full text link
    Mangrove merupakan ekosistem yang merupakan habitat bagi berbagai biota perairan maupun di darat. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengungkapkan distribusi dan struktur komunitas hutan mangrove di Pulau Donrotu, Guratu dan Manomadehe Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Pelaksanaan penelitian pada bulan April-Juni 2019. Pengambilan data dengan menggunakan metode spot check. Analisis data distribusi mangrove dilakukan secara kualitatif, sedangkan struktur komunitas secara kuantitatif meliputi kerapatan jenis (Di), kerapatan relatif jenis (RDi), frekuensi jenis (Fi), frekuensi relatif jenis (Rfi), penutupan jenis (Ci), penutupan relatif jenis (RCi), Nilai penting (VIi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove jenis Rhizophora stylosa pada ketiga pulau (Pulau Donrotu, Guratu dan Manomadehe) memiliki nilai kerapatan jenis dan kerapatan relatif jenis yang lebih tinggi. Penutupan jenis dan penutupan relatif jenis bervariasi. Jenis R. stylosa juga memiliki nilai penting yang lebih tinggi di ketiga Pulau. Kerapatan mangrove tertinggi ditemukan di Pulau Donrotu (0,96 ind/m2), kemudian Pulau Guratu (0,46 ind/m2) dan Pulau Manomadehe (0,32 ind/m2).Mangrove is an ecosystem that is a habitat for various both aquatic and terrestrial biota. This research aims at revealing the distribution and community structure of mangrove in Donrotu, Guratu and Manomadehe Islands, West Halmahera Regency, North Maluku. This work was conducted from April to June 2019. Data collection using the spot check method, while the analysis of mangrove distribution was carried out qualitatively. Community structures quantitatively include type density (Di), relative density types (RDi), frequency types (Fi), relative frequency types (Rfi), closing types (Ci), closure of relatively types (RCi), and Important value (VIi). The results showed that Rhizophora stylosa in the three islands (Donrotu, Guratu, and Idamdehe) had the highest species density and highest density values. Closing types and closures are relatively varied. The type of R. stylosa also has a higher importance in all three islands. The highest mangrove density was mainly found in Donrotu Island (0.96 ind/m2), then Guratu Island (0.46 ind/m2), and Idamadehe Island (0.32 ind/m2), respectively

    POTENCY OF CONSORTIUM SYMBIONT MICROBE OF MANGROVE LITTER AS NATURAL PRESERVATIVE FOR TOFU

    Full text link
    Bakteri simbion serasah mangrove diketahui memiliki aktifitas antibakteri terhadap bakteri Staphilococcus aureus, namun belum banyak dilakukan penelitian terhadap bakteri yang bersimbion dengan serasah mangrove sebagai inovasi bahan alami untuk mengawetkan makanan khususnya tahu. Pada penelitian ini digunakan bakteri konsorsium dari limbah mangrove. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi bakteri konsorsium sebagai bahan pengawet makanan tahu. Tahu direndam dengan kultur cair bakteri konsorsium sebagai perlakuan, sedangkan untuk kontrol positif dilakukan perendaman terhadap tahu menggunakan formalin 37%, dan untuk kontrol negatif tahu tidak diberikan perlakuan apapun. Hasil pengamatan organoleptis pada hari kedua menunjukkan bahwa tahu dari semua perlakuan tidak mengalami perubahan bau, warna dan tekstur, sedang tahu tanpa perlakuan mengalami perubahan bau yang lebih asam, warna kekuningan dan tekstur lebih lembek. Hari ketiga, tahu perlakuan bakteri konsorsium sedikit mengalami perubahan bau dan warna kekuningan dan tekstur agak lembek, perlakuan formalin tidak mengalami perubahan warna sama sekali, namun teksturnya semakin mengeras dan berbau formalin. Jumlah bakteri pada tahu yang diberi perlakuan rendaman bakteri konsorsium memiliki jumlah paling sedikit (6,795x103) dibandingkan dengan jumlah bakteri pada perlakuan formalin (9,766x103) dan tanpa perlakuan (9,766 x 103).Symbiont bacteria from mangrove litter are known to have antimicrobial activity against Staphylococcus aureus. However, only a handful of research has been carried out on microbes as an innovative natural material for preserving food, especially tofu. This research used four species of mangrove litter symbiont microbe, which were cultured as a microbial consortium. The study aimed to determine the potential of consortium microbe as tofu preservatives. The tofu was soaked in the liquid culture of the consortium microbe as a treatment, while for the positive control, it was immersed in tofu using 37% formalin, and for the negative control, the tofu was not given any treatment. The organoleptic observations on the second day showed that the tofu with all treatment did not change in odor, color, and texture. On the other hand, tofu without treatment became more acidic in odor, with a yellowish color, and showed a softer texture. On the third day, tofu with bacterial microbe treatment had a slight change in odor, the color became yellowish, and the texture was slightly softened. Tofu with formalin treatment did not change in color, but became more solid and extruded formalin odor. Tofu with the consortium microbe immersion treatment had the least amount (6.795x103) of total microbe count, compared with the formalin treatment (9.766x103) and without treatment (9.766x103)

    MATURE GONADAL BROODSTOCK SELECTION IN GONGGONG CONCH Laevistrombus turturella

    Full text link
    Siput gonggong Laevistrombus turturella merupakan siput laut yang banyak dikonsumsi masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau sehingga populasinya diperkirakan menurun. Upaya pelestarian siput ini perlu dilakukan salah satunya dengan budidaya. Kegiatan budidaya memerlukan ketersediaan induk matang gonad. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis ukuran induk siput gonggong matang gonad berdasarkan panjang cangkang dan warna gonad, serta mengevaluasi pengaruh paparan suhu berbeda terhadap kecepatan penentuan jenis kelamin induk. Panjang cangkang siput gonggong diukur dengan jangka sorong, kemudian dipecahkan untuk mengamati warna gonadnya. Data dianalisis dengan student t-test. Perlakuan paparan suhu air 15°C (P1), 20°C (P2), dan 30°C (P3). Tujuh ekor induk siput gonggong dimasukkan ke dalam akuarium sesuai perlakuan, durasi waktu keluar tubuh lunak siput gonggong dari cangkang dicatat. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan ukuran rata-rata panjang cangkang induk siput gonggong matang gonad dari laut Madong-Tanjungpinang adalah 63,449±5,352 mm (jantan) dan 66,953±5,876 mm (betina). Penentuan jenis kelamin siput gonggong dapat dipercepat dengan pemberian kejutan suhu dengan suhu air 20°C.Gonggong conch Laevistrombus turturella is a sea conch that has been consumed by many people in Kepulauan Riau Province so the population is expected to decline. One of the efforts to conserve conchs is through culture. Culture activities require the availability of the mature gonad broodstock. The aim of this study was to analyze the size of a mature gonadal of gonggong conch based on the shell length and the color of gonads, and to evaluate the effect of different temperature exposures in the speed of determining the sexual of broodstock. The conch shell length was measured by a caliper, then were broken to observe the gonad color. Data were analyzed by student t-test. The exposure treatments with water temperatures of 15°C (P1), 20°C (P2) and 30°C (P3). Seven conch broodstocks were put into the aquarium according to the treatment, the duration of time the soft gonggong conch body came out of the shell was recorded. Data were analyzed with the Kruskal Wallis test. The results showed that the average length of the mature gonad gonggong conch broodstocks from Madong-Tanjungpinang sea were 63.449±5.352 mm (males) and 66.953±5.876 mm (females). Determination of the gonggong conch broodstock sexual can be accelerated with thermal shock on water temperature of 20°

    TOTAL ORGANIC CARBON CONTENT AND PHOSPHATE IN SEDIMENTS AT THE BANYUASIN RIVER ESTUARY, SOUTH SUMATERA

    Full text link
    Aktivitas antropogenik menghasilkan limbah domestik dan pertanian yang terdistribusi ke perairan yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kandungan karbon organik total dan fosfat dari perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan karbon organik total dan fosfat serta menganalisis sebaran dan korelasi konsentrasi karbon organik total dan fosfat pada sedimen dasar di muara Sungai Banyuasin, Sumatera Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2019. Pengambilan sampel sedimen menggunakan metode purposive sampling pada 10 stasiun saat kondisi surut. Analisis karbon organik total menggunakan metode Kadar Abu sesuai dengan SNI 01-2891-1992 dan analisis fosfat dengan metode Bray and KurtzPola sebaran konsentrasi karbon organik total dan fosfat dianalisis menggunakan software Surfer 9. Analisis korelasi dilakukan dengan program Ms. Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi karbon organik total berkisar antara 3,71 - 7,42 % dan konsentrasi fosfat berkisar antara 16,49 mg/kg - 26,45 mg/kg. Sebaran konsentrasi karbon organik total dan fosfat dipengaruhi oleh tipe substrat sedimen pada setiap stasiun. Sedimen dengan tekstur yang lebih halus memiliki kandungan bahan organik total dan fosfat lebih tinggi. Karbon organik total dan fosfat di perairan muara Sungai Banyuasin memiliki korelasi yang positif dan kuat. Semakin tinggi kandungan karbon organik total di perairan akan diikuti dengan semakin tinggi juga kandungan fosfatnya.Anthropogenic activity produces domestic and agricultural wastes that are distributed to the waters which can affect the high and low levels of total organic carbon and phosphate from these waters. The purpose of this research was to analyze the total organic carbon content and phosphate and analyze the distribution and the correlation of total organic carbon and phosphate in sediments of the Banyuasin Estuary, South Sumatra. This research was conducted in November 2019. Sampling of sediments using purposive method at 10 stations during low tide. Analysis of total organic carbon using Ash Content method according to SNI 01-2891-1992, and phosphate analysis using the Bray and Kurtz method. Distribution patterns of total organic carbon concentration and phosphate were analyzed using Surfer 9. Correlation analysis was conducted with Ms. Excel. The results showed that the total organic carbon concentration ranged from 3.71 - 7.42% and the phosphate concentration ranged from 16.49 mg/kg - 26.45 mg/kg. The distribution of total organic carbon and phosphate is influenced by the type of sediment substrate at each station. Smoother sediments have higher total organic matter and phosphate content. Total organic carbon and phosphate in the Banyuasin Estuary waters have a positive and strong correlation which indicates that the higher the total organic carbon content in the waters, the higher the phosphate content

    STRATEGY FOR IMPROVING THE EFFECTIVENESS OF MANAGEMENT IN THE KARIMUNJAWA NATIONAL PARK CONSERVATION AREA

    Full text link
    Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) masuk dalam rencana aksi nasional pengelolaan kawasan konservasi tahun 2018-2025. Tujuan penelitian adalah mengkaji efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TNKJ, sehingga diperoleh rekomendasi strategis yang efektif untuk peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TNKJ. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2019.  Metode penilaian yang digunakan adalah score card untuk pedoman Management Effectiveness Tracking Tool (METT) dan pedoman Evaluasi Efektivitas Pengelolaan untuk Kawasan Konservasi Laut di Indonesia (COREMAP II - LIPI) serta metode penilaian system blocking untuk pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K). Analisis prioritas strategi peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TNKJ dilakukan menggunakan metode jejaring analitik (Analytic Network process, ANP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian pengelolaan kawasan konservasi TNKJ dikatakan sangat efektif menurut pedoman METT, efektif menurut pedoman COREMAP II - LIPI dan berstatus hijau menurut pedoman E-KKP3K. Permasalahan prioritas pengelolaan TNKJ adalah implementasi sistem zonasi, sedangkan solusi prioritas untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan TNKJ adalah penyadaran masyarakat dan wisatawan terhadap bahaya sampah dan kerusakan lingkungan.Karimunjawa National Park (TNKJ) is included in the national action plan for the management of conservation areas in 2018-2025. The objective of this research is to assess the effectiveness of the management of the TNKJ conservation area based on assessment guidelines in Indonesia, then the effective strategic recommendation is obtained for increasing the effectiveness of the management of the TNKJ conservation area. The study were conducted in August-December 2019. The assessment methods were used in this research are a score card for the Management Effectiveness Tracking Tool (METT) guideline, Management Effectiveness Evaluation guidelines for Marine Conservation Areas in Indonesia (COREMAP II - LIPI) and the building block assessment method for the Technical Effectiveness Evaluation guidelines Management of Marine, Coastal and Small Islands Conservation Areas (E-KKP3K). The results showed the assessment of the management of the TNKJ conservation area was considered as the most effective based on METT guidelines, COREMAP II - LIPI guidelines and the green status by E-KKP3K guidelines. The analysis is carried out by using the Analytic Network process (ANP) method. The implementation of the zoning system was been the main problem of the TNKJ management. Public and tourist awareness of the risk of waste and environmental damage were being the best solution for increasing the effectiveness of the management of the TNKJ

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇