Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
CONCENTRATION AND QUALITY STATUS OF HEAVY METALS IN THE COASTAL WATERS AND SEDIMENT OF SANGIHE ISLANDS REGENCY
Eksplorasi mineral logam tertentu dikhawatirkan dapat menyebabkan adanya limbah tambang berupa logam berat yang mencemari air dan sedimen di kawasan pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan status mutu logam berat dalam air dan sedimen sehubungan dengan potensi pencemaran yang mungkin terjadi dalam hubungannya dengan pengembangan marikultur. Penelitian dilaksanakan di kawasan pesisir Teluk Talengan, Manalu, dan Dagho dan sekitarnya dengan mengambil sampel air dan sedimen dan selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk logam berat Cu, Fe, Hg, Pb, dan Zn. Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang ada dan selanjutnya metode Storet (Storage and Retrieval) digunakan untuk menentukan status mutu air dan sedimen dari logam berat untuk biota laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima logam berat yang dianalisis dalam air dan sedimen, dijumpai satu di antaranya Hg yang tidak terdeteksi di kawasan pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe. Hasil penentuan status mutu air dan sedimen menunjukkan bahwa air di kawasan pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe tergolong tercemar berat dari logam berat Cu dan Pb untuk biota laut, sedangkan sedimennya tergolong memenuhi baku mutu logam berat untuk biota laut. Konsentrasi logam berat Cu dan Pb dalam air telah melampaui baku mutu logam berat untuk biota laut.It is feared that the metal mineral exploration could lead to mining waste in the form of heavy metals that pollute water and sediments in the coastal areas of Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province. The objective of this research was to investigate the concentration and quality status of heavy metals inside the water and sediment with regard to possibility of potential pollutants at the mariculture existing and potential sites. The research was carried out in coastal areas of Bays of Talengan, Manalu, and Dagho and surrounding areas by sampling of water and sediments and then analyzed in the laboratory for heavy metals of Cu, Fe, Hg, Pb, and Zn. Descriptive statistics were used to analyze existing data and then used Storet (Storage and Retrieval) method to determine the quality status of water and sediment of heavy metals for marine organisms. The results showed that from 5 heavy metals analyzed in water and sediment were found 4 of them i.e. Cu, Fe, Pb, and Zn were detected and 1 other was undetected i.e. Hg in the coastal areas of Sangihe Islands Regency. Results of quality status determination of water and sediment indicate that water of coastal areas of Sangihe Islands Regency was classified as heavily polluted from heavy metals of Cu and Pb for marine organisms, while sediment was classified as an appropriate quality standard of heavy metal for marine organisms. Concentrations of heavy metals of Cu and Pb inside the water have exceeded the heavy metal quality standard for marine organisms
A CONTRAST PATTERN OF REEF FISH SPECIES DIVERSITY AND DISTRIBUTION USING ENVIRONMENTAL DNA (eDNA) METABARCODING IN LONGITUDINAL DISTANCE FROM JAKARTA BAY
Keberadaan ikan terumbu tentunya erat kaitannya dengan keberadaan terumbu karang karena ekosistem tersebut merupakan habitat bagi ikan karang. Terumbu karang merupakan ekosistem yang banyak terdapat di pulau-pulau kecil di daerah tropis termasuk Kepulauan Seribu. Kepulauan Seribu adalah sekelompok 110 pulau yang terletak di lepas pantai Jakarta dan hingga 80 kilometer sebelah utara Laut Jawa. Dalam studi ini, kami meneliti distribusi spesies dan keanekaragaman spesies ikan terumbu pada dua lokasi yaitu Pulau Untung Jawa dan Pulau Harapan yang berbeda jarak di Teluk Jakarta menggunakan analisis metabarcoding DNA lingkungan (eDNA). Sebanyak 4 liter sampel air laut dikoleksi pada kedalaman 8-9 meter per lokasi lalu dilakukan analisis menggunakan primer spesifik (MiFish U) dengan marka 12s rRNA. Secara keseluruhan, kekayaan spesies yang lebih tinggi ditemukan di Pulau Harapan (52 spesies) diikuti oleh Pulau Untung Jawa (11 spesies). Indeks Shanon-Wiener juga menunjukkan bahwa Pulau Harapan memiliki keanekaragaman ikan terumbu yang lebih tinggi berdasarkan tiga tingkatan taksonomi (famili, genus, dan spesies). Hanya ada lima spesies ikan terumbu mutual yang ditemukan di dua lokasi tersebut, yakni Atherinomorus aetholepis, Auxis thazard, Cephalopholis sexmaculata, Epinephelus chlorostigma, dan Plectropomus areolatus. Hasil temuan dalam penelitian ini sejalan dengan perbedaan antropogenik dimana Pulau Untung Jawa lebih dekat dengan Teluk Jakarta dibandingkan dengan Pulau Harapan yang letaknya relatif jauh dari Teluk Jakarta.The existence of reef fish is certainly closely related to the existence of reefs coral because the ecosystem is a habitat for reef fish. Coral reefs are ecosystems that are commonly found on small islands in the tropics including the Seribu Islands. The Seribu Islands are a group of 110 islands located off the coast of Jakarta and up to 80 kilometers north of the Java Sea. In this study, we examined the species distribution and diversity of reef fish species on two different distance location in Jakarta Bay using environmental DNA (eDNA) metabarcoding analysis from two sites which are Untung Jawa Island and Harapan Island. The 4L eDNA seawater samples were collected at a depth of 8-9 meters at each site and then analysis using specific primer (MiFish U) of 12S rRNA. Overall, the higher species richness was found on Harapan Island (52 species) followed by Untung Jawa Island (11 species). The Shannon-Wiener Index also showed Harapan Island has higher reef fish diversity based on three taxonomic level (family, genus, and species). There were only five mutual reef fish species found in the two locations, namely Atherinomorus aetholepis, Auxis thazard, Cephalopholis sexmaculata, Epinephelus chlorostigma, and Plectropomus areolatus. The results of these findings in this current study are in line with anthropogenic pressure different where Untung Jawa Island is the closer one to Jakarta Bay than the Harapan Island that located relatively far from Jakarta Bay
STUDY OF POTENTIAL AND SUSTAINABLE MANAGEMENT OF MANGROVE ECOSYSTEM IN PANNIKIANG ISLAND, BARRU REGENCY, SOUTH SULAWESI
The best planning and management can be fulfilled if complete and accurate information is available. This research generally aims to examine the potential of mangrove ecosystems on Pannikiang Island in terms of ecological conditions and economic value to assess sustainability status and determine mangrove ecosystem management recommendations. Ecological data collection was carried out by observation, interviews with purposive sampling method, and literature review. Ecological analysis used an important value index, economic analysis used consumer surplus, replacement cost, contingent value, and sustainability analysis used a modification of Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) software. The mangrove species that identified were Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera sexangula, Ceriops tagal, Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis, Aegiceras corniculatum, Lumnitzera racemosa and Avicennia marina. The results analysis of the total economic value of mangrove ecosystem on Pannikiang Island with an area obout 86.31 ha was Rp5.050.275.373,00 /year or an average was Rp58.513.212,00 /ha/year. The sustainability status of the mangrove ecosystem on Pannikiang Island based on multidimensional analysis is still relatively unsustainable. Therefore, some strategy recommendations are rehabilitation of mangrove vegetation; controlling the utilization of mangrove ecosystems carried out by community, especially exploitative uses; involve community in mangrove ecosystems management; make formal regulation related to management of mangrove ecosystems.Perencanaan dan pengelolaan yang baik hanya dapat dipenuhi apabila tersedia informasi yang lengkap dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekosistem mangrove di Pulau Pannikiang ditinjau dari kondisi ekologi dan nilai ekonomi untuk menilai status keberlanjutan dan menentukan rekomendasi pengelolaan ekosistem mangrove. Pengumpulan data ekologi, ekonomi, dan sosial dilakukan dengan metode observasi, wawancara dilakukan dengan metode purposive sampling, dan kajian literatur. Analisis ekologi menggunakan indeks nilai penting, analisis ekonomi menggunakan surplus consumer, replacement cost, contingent value, dan analisis keberlanjutan menggunakan modifikasi perangkat lunak Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH). Jenis mangrove yang berhasil diidentifikasi adalah Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera sexangula, Ceriops tagal, Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis, Aegiceras corniculatum, Lumnitzera racemosa and Avicennia marina. Hasil analisis nilai ekonomi total ekosistem mangrove di Pulau Pannikiang dengan luas 86,31 ha sebesar Rp5.050.275.373,00 /tahun atau rata-rata sebesar Rp58.513.212,00 /ha/tahun. Status keberlanjutan ekosistem mangrove di Pulau Pannikiang masih tergolong kurang berkelanjutan. Oleh karena itu, beberapa rekomendasi strategi yang disarankan adalah rehabilitasi vegetasi mangrove; mengendalikan kegiatan pemanfaatan ekosistem mangrove yang bersifat eksploitatif; melibatkan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan ekosistem mangrove; membuat peraturan secara formal terkait pengelolaan ekosistem mangrove
THE EFFECT OF ACIDIFICATION ON GROWTH AND PHOTOSYNTHESIS RATE OF SEAGRASS Thalassia hemprichii (Ehrenberg.) Ascherson
Lamun merupakan tanaman air yang memiliki bunga dan kemampuan beradaptasi untuk hidup dan tumbuh di laut seperti tanaman terestrial. Kelangsungan hidup lamun sangat dipengaruhi oleh parameter fisik dan kimia perairan, seperti pH, suhu, dan salinitas. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan pada akhir abad 21, CO2 di atmosfer selalu meningkat seiring dengan perkembangan industri. Peningkatan CO2 di atmosfer menyebabkan terjadinya asidifikasi laut sehingga dapat mengubah struktur kimia dan pH air laut. Rendahnya pH air laut berpengaruh terhadap fisiologi tumbuhan seperti terhambatnya proses fotosintesis dan pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pH terhadap pertumbuhan dan laju fotosintesis lamun Thalassia hemprichii. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan yaitu kontrol (8,10-8,50), pH sedang (7,76-8,00) dan pH rendah (7,50-7,75) dalam 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan, laju fotosintesis dan kandungan klorofil memiliki nilai lebih besar pada kontrol dibandingkan dengan perlakuan pada pH sedang dan rendah. Hasil uji ANOVA tidak signifikan untuk semua variabel perlakuan dan memiliki dampak negatif pada kelangsungan hidup lamun.Seagrass is a water plant that has flowers and ability to adapt to live and grow in the sea like a terrestrial plant. The survival of seagrass is greatly influenced by physical and chemical parameters of waters, such as pH, temperature, and salinity. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) report by the end of 21st century, CO2 in the atmosphere has doubled along with the industrial development. The increase in CO2 in the atmosphere causes ocean acidification, it can change the chemical structure and decrease the pH of sea water. The low pH of sea water influences plant phisiology such as the inhibition of photosynthesis and growth. The purpose of this study is to examine the effect of pH on the growth and photosynthesis rate of seagrass Thalassia hemprichii. The study used Completely Randomized Design with 3 treatments control (8.10-8.50), medium pH (7.76-8.00) and low pH (7.50-7.75) in 5 replicates. The results showed that growth rate, photosynthetic rate and chlorophyll content has a bigger value on control treatment than the low pH treatment. The ANOVA test results were not significant for all treatment variables and had a negative impact on the survival of seagrass
EVALUATION OF THE USE OF MALANG SAND AS A FILTER MATERIAL ON WATER QUALITY, PHYSIOLOGICAL RESPONSES AND PRODUCTION PERFORMANCE OF MUD CRAB Scylla serrata
Kepiting bakau Scylla serrata merupakan salah satu komoditas krustasea yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu kendala yang belum terpecahkan dalam pemeliharaan kepiting bakau adalah tingkat stres kepiting akibat kualitas air yang menurun. Sistem resirkulasi merupakan salah satu cara untuk menjaga kualitas air selama pemeliharaan kepiting budidaya dengan penggunaan air yang sama dan berputar terus menerus melalui filter. Sistem ini dapat menggunakan berbagai material filter fisik, seperti zeolit, pasir dan material lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pasir malang sebagai filter fisik dalam budidaya kepiting bakau yang berpengaruh positif terhadap respons fisiologis dan produksi kepiting bakau. Penelitian ini dilakukan menggunakan sistem resirkulasi dengan rancangan acak lengkap yang dilakukan dalam lima perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu pasir malang dengan bobot 0 kg (kontrol), 5 kg, 10 kg, 15 kg, dan 20 kg. Hasil penelitian membuktikan bahwa respons fisiologis dan produksi kepiting bakau terbaik diamati pada perlakuan pasir malang dengan bobot 5 kg. Perlakuan ini menunjukkan laju pertumbuhan spesifik, laju pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan panjang mutlak, dan tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau dengan nilai tertinggi masing-masing sebesar 0,18±0,061%, 0,13±0,05 g/hari, 0,0016±0,00006 cm/hari, dan 77,77%, namun memiliki rasio konversi pakan terendah yaitu 3,76±004. Selain itu pada perlakuan 5 kg memiliki nilai kualitas air yang mendekati kontrol.Mud crab Scylla serrata is one of crustacean commodities with high economic value. One of the unsolved obstacles in mud crabs cultivation is crabs’ stress level caused by the declining water quality. The recirculating system is a method for maintaining water quality throughout the rearing period of culture crab. This system can use a variety of physical filter materials, such as zeolite, sand, and other materials. This study aimed to determine the amount of malang sand as a physical filter which positively affect the physiological responses and production performance of mud crabs. This research was carried out using a recirculating system with a completely randomized design conducted in five treatments with three replicates, i.e., malang sand with a weight of 0 kg (control), 5 kg, 10 kg, 15 kg, and 20 kg. The results proved that the best physiological response and production performance of mud crab was observed at malang sand treatment with a weight of 5 kg. This treatment showed specific growth rate, absolute growth rate for body weight, absolute growth rate for body length, and the survival rate of mud crabs with the highest value of 0.18±0.061%, 0.13±0.05 g/day, 0.0016±0.00006 cm/day, and 77.77%, respectively, yet it had the lowest feed conversion ratio of 3.76±004. In addition, the 5 kg treatment had water quality parameters in the tolerable ranges for mud crabs’ growth
SEAGRASS ECOSYSTEM MAPPING WITH AND WITHOUT WATER COLUMN CORRECTION IN PAJENEKANG ISLAND WATERS, SOUTH SULAWESI
Koreksi kolom air dalam pemetaan habitat bentik menggunakan data satelit dapat meningkatkan nilai akurasi informasi yang dihasilkan, seperti yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat distribusi lamun dengan perlakuan dengan dan tanpa koreksi kolom air menggunakan klasifikasi berbasis objek (OBIA) di Pulau Pajanekang. Data sebaran padang lamun dan non lamun sebanyak 347 titik diambil pada Juli-Agustus 2018 dengan transek 1x1 m2. Data satelit yang digunakan adalah citra satelit SPOT-7 akuisisi pada 27 Maret 2017 dengan resolusi 6x6 m2. Pada penelitian ini metode klasifikasi OBIA menggunakan beberapa algoritma klasifikasi seperti Support Vector Machine (SVM), Bayes, K-Nearest Neighbour (KNN), dan Decision Tree (DT) untuk memetakan habitat bentik dan lamun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan perlakuan dengan koreksi kolom air dan tanpa koreksi kolom air pada pemetaan ekosistem habitat bentik dan lamun dengan menggunakan beberapa algoritma klasifikasi menunjukkan hasil akurasi yang tidak berbeda nyata. Namun demikian, dari empat algoritma yang digunakan, algoritma Bayes tanpa koreksi kolom air memberikan nilai akurasi tertinggi untuk pemetaan habitat bentik sebesar 70,36% dan habitat lamun sebesar 66,47%. Hal tersebut menunjukkan bahwa koreksi kolom air tidak selamanya memberikan hasil yang lebih baik dalam klasifikasi habitat bentik dan lamun dari citra satelit digital.Previous studies showed that water column correction in habitat benthic mapping using remote sensing data can increase the accuracy of the information produced. This study aims to look at the distribution of seagrasses with and without water column correction using object-based classification (OBIA) on the Pajanekang Island. Field data on the distribution of seagrass and non-seagrass of a total of 347 points were taken in July-August 2018 with a transect 1x1 m2. The satellite data used was SPOT-7 imagery acquired on March 27, 2017, with a spatial resolution of 6×6 m2. Within the OBIA classification method, we used several algorithms such as Support Vector Machine (SVM), Bayes, K-Nearest Neighbor (KNN), and Decision Tree (DT) to map benthic and seagrass habitats. The results showed that the treatment of with and without water column correction in mapping benthic and seagrass ecosystem habitats using several classification algorithms produced no significant difference in the accuracy of classification image product. However, from the four algorithms used, the Bayes algorithm without water column correction produced the highest accuracy value for benthic habitat mapping of 70.36% and seagrass habitat of 66.47%. The results showed that water column correction did not provide better results in the classification of benthic and seagrass habitats of digital satellite imagery than that of without water column correction
GENETIC STRUCTURE POPULATIONS SKIPJACK, Katsuwonus pelamis (Linneaus, 1758) IN NORTH MALUKU SEA, INDONESIA
Genetic is key substantial approach conservation, managament and sustainability. This study aims to genetic structure populations Skipjack tuna in North Maluku Sea. Samples collection in Morotai Island (n=10), Central Halmahera District, Weda (n=10) dan South Halmahera District, Bacan, (n=10) and secondary data (n=4) in March-May 2018. Molecular analysis through stages extraction, PCR, electrophoresis and sequencing DNA. DNA sequences analysis used MEGA 5 (Genetic distance and phylogenetic) and arlequin (Fixation index). The result found that fragment length 546 (base pairs) in control mitocondrial DNA. Genetic distance analysis Skipjact tuna population based on primary (North Maluku) and secondary data (Sulu-Celebes and South China Sea, Bali, Indian coast, Kyushu Island Japan) show close genetic 0.037-0.056. Fixation indices (Fst) analysis value 0.801-0.936 the show that weak genetic differentiation between populations. High genetic flow between populations based on genetic distance and Fst. The result show that genetic distance and Fst show that genetic structure populations Skipjack tuna in North Maluku Sea undistrubed. The Skipjack tuna data obtained can uses data base to preserve and sustainability fish resource.Genetik merupakan suatu pendekatan untuk pemanfaatan, pengelolaan dan keberlanjutan yang bersifat konservasi. Tujuan penelitian adalah struktur populasi genetik ikan cakalang di perairan laut Maluku Utara. Koleksi sampel dilakukan pada Pulau Morotai (n=10), Weda, Kabupaten Halmahera Tengah (n=10), Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan (n=10) dan data sekunder (n=4), pada Maret hingga Mei 2018. Analisis molekuler melalui tahapan ektraksi, PCR, elektroforesis dan pengurutan DNA (sekuensing DNA). Sekuen DNA kemudian dianalisis menggunakan MEGA 5 (jarak genetik dan filogenetik) serta Arlequin 3.5 (fiksasi indeks). Hasil penelitian menemukan panjang fragmen DNA 546 (base pairse) di daerah lokus control region DNA Mitokondria (mtDNA). Analisis jarak genetik populasi berdasarkan data primer (Maluku Utara) dan sekunder (Sulu-Celebes dan South China Sea, Bali, Indian coast, Kyushu Island Japan) dengan nilai 0,037-0,056. Analisis fiksasi indeks (Fst) diperoleh nilai 0,801-0,936 yang menunjukan bahwa tidak terdapat diferensiasi genetik antar populasi. Aliran genetik yang besar antar populasi berdasarkan hasil analisis jarak genetik dan Fst. Hasil analisis menunjukan bahwa struktur genetik populasi ikan cakalang di perairan Maluku belum terganggu. Data genetik ikan cakalang yang diperoleh dapat dijadikan sebagai basis data untuk melestarikan dan menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan
THE EFFECT OF TIME DIFFERENCES AND HAULING DURATION TOWARDS BOAT LIFT NETS FISHING CATCH IN DEMAK WATERS
Kabupaten Demak memiliki dua tempat pelelangan ikan (TPI) yang masih aktif, yaitu TPI Morodemak dan TPI Wedung. Berdasarkan hasil survei di Pelabuhan Perikanan Pantai Morodemak Kabupaten Demak terdapat alat tangkap bagan perahu berjumlah 69 unit. Alat tangkap bagan perahu digunakan oleh para nelayan di perairan Demak untuk menangkap ikan teri (Stolephorus sp.). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi hasil tangkapan, menganalisis pengaruh waktu yang berbeda terhadap ikan hasil tangkapan dan menganalisis pengaruh lama penarikan yang berbeda terhadap ikan hasil tangkapan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan untuk metode pengumpulan data terdiri atas observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan sebanyak 10 trip penangkapan dengan mengoperasikan alat tangkap bagan perahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tangkapan pada jam 18.30–22.30 yaitu 4.487,82 Kg lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah tangkapan pada jam 24.00–04.00 yaitu 6.563,18 Kg. Hasil tangkapan dengan lama penarikan 20–27,5 menit yaitu 6.601,9 Kg lebih besar jika dibandingkan dengan hasil tangkapan dengan lama penarikan 27,6–35 menit yaitu 4.449,1 Kg. Variabel waktu penangkapan dan lama penarikan memiliki pengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan bagan perahu, sehingga dapat dioperasikan di Perairan Demak.Demak had two fish auction which is still active, namely Morodemak and Wedung. Based on survey results in Morodemak Coast Fishing Port Demak, there are boat lift nets totaled 69 units. Fishers use boat lift nets of fishing gear in Morodemak waters to catch anchovy (Stolephorus sp.). This study aimed to analyze the composition of fishing results, analyze the effect of time differences on the fishing results, and analyze the effect of Hauling duration towards boat lift nets catches. The method used in this study is descriptive, and the data collection method consists of observation, interviews, literature study, and documentation. In this research, there were ten times of Boat Lift Nets fishing trip. The results are that the total weight of catches at 18.30–22.30 was 4,487.82 Kg less than the total weight of catches at 24.00–04.00, which was 6,563.18 Kg. The total weight of catches on 20–27.5 minutes Hauling is 6,601.9 Kg greater than The total weight of catches on 27.6–35 minutes Hauling is 4,449.1 Kg. Based on the results, there are significant effects between fishing catch duration on the Hauling process towards boat lift nets catches, which can be operated continually at Demak waters
ANALYSIS OF SHORELINE CHANGE IN WEST COAST AREA OF TANAH LAUT DISTRICT SOUTH KALIMANTAN
Perubahan garis pantai merupakan proses yang terjadi akibat adanya pengaruh dari kondisi pantai dalam mencapai keseimbangan terhadap dampak yang terjadi dari faktor alami dan kegiatan manusia. Secara geografis, wilayah pesisir pantai Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan mencakup dua wilayah yang berada di tepi barat dan tepi selatan. Secara fisik wilayah ini dipengaruhi oleh dinamika oseanografi dari perairan Laut Jawa serta aliran Sungai Barito yang bervariasi secara musiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai di wilayah pesisir Pantai Barat Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Data yang digunakan adalah citra Landsat 8 tahun 2016 untuk menggambarkan kondisi terkini dan citra Landsat 7 tahun 2003 sebagai kondisi awal. Citra tersebut dianalisis untuk dipetakan perubahan garis pantai yang mengalami akresi atau abrasi. Hasil penelitan menunjukkan bahwa garis pantai wilayah studi mengalami perubahan, dimana sebagian telah mengalami abrasi dan sebagian garis pantai telah mengalami akresi. Secara keseluruhan garis pantai wilayah Pantai Barat Kabupaten Tanah Laut dominan mengalami akresi dibandingkan abrasi karena adanya proses sedimentasi tinggi dari sungai Barito. Tetapi, di segmen garis pantai sel 3 dan 4 telah mengalami abrasi, meskipun area ini dekat dengan estuari Sungai Barito.Shoreline changes are processes that occur due to the influence of coastal conditions in seeking the balance of the impacts that occur from natural factors and human activities. The coastal area of Tanah Laut Regency South Kalimantan covers along the west coast and south coast region. Physically this region is influenced by oceanographic dynamics of the Java Sea and the Barito River runoff that changes seasonally. This study aims to determine the shoreline changes of the West Coast area of Tanah Laut Regency, South Kalimantan. The data used are Landsat 8 imagery acquisition in 2016 to describe the current condition and Landsat imagery 7 the acquisition year 2003 as an initial condition. Data were analyzed to determine the shoreline changes that had accretion or abrasion of the coastline. The results showed that the coastline of the West Coast area of Tanah Laut regency experienced changes in abrasion and accretion conditions. Overall the coastal areas of Tanah Laut Regency dominated accretion than abrasion. In particular, cell numbers 3 and 4 have been recorded as abrasion areas; even the cells are near the estuary of Barito River
RESPONS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A TERHADAP KEJADIAN ENSO DAN IODM DI WILAYAH INDO-PASIFIK TROPIS
Fenomena anomali laut-atmosfer antar-tahunan dari El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole Mode (IODM) di wilayah Indo-Pasifik Tropis memberikan dampak pada ekosistem laut, hidrologi dan variabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial dan variabilitas temporal suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a permukaan (Chl-a) terkait dengan ENSO dan IODM di Indo-Pasifik Tropis. Data deret waktu bulanan dari tahun 1980-2017 (37 tahun) diperoleh dari pusat data global, dan dianalisis menggunakan metode empirical orthogonal function (EOF). Hasil penelitian menunjukkan nilai tiga terbesar pertama dari SPL (Chl-a) menjelaskan 81,7% (76%) dari total explained variance. Struktur spasial SPL mode-1 (56%) membentuk seperti dua kutub asimetris antara timur dan barat Pasifik Tropis dengan pola yang berbeda di lepas Pantai Peru. Pola ini diduga berhubungan dengan tahun normal atau La Nina. Selanjutnya, kondisi EL Nino dan IODM diduga tergambarkan oleh SPL mode-2 (19%), dengan fase negatif dominan di atas ekuator Pasifik dan menghilangnya area upwelling di lepas Pantai Peru.The interannual ocean-atmosphere anomaly of the El Nino Southern Oscillation (ENSO) and Indian Ocean Dipole Mode (IODM) events that prevail in the tropical Indo-Pacific region impacts significantly on regional marine ecosystem, hydrology and climate variabilities. This study aims to investigate spatial pattern and temporal variability of sea surface temperature (SST) and surface chlorophyll-a (Chl-a), related to ENSO and IODM in the region. The monthly data time-series (1980-2017) were obtained from global data center, and were analyzed by applying the empirical orthogonal function (EOF) methods. The results show that the first three eigen values of SST (Chl-a) explained for 81.7% (76%) of total variance. Spatial pattern of SST EOF mode-1 (56%) formed an asimetric dipole-like shape between eastern and western tropical Pacific with a distinct pattern in upwelling region off Peru waters. This pattern may be associated with \u27normal\u27 or La Nina events. Furthermore, El Nino and IODM condition may be depicted from SST mode-2 (19%), in which negative phase contours were predominant over equatorial Pacific and disappearing \u27upwelling region\u27 off Peru waters