Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    KONDISI VEGETASI DAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN EKOSISTEM MANGROVE PULAU TANAKEKE KABUPATEN TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN

    Full text link
    Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir dengan tingkat produktivitas yang tinggi, sehingga keberadaannya dapat memperkaya kawasan pesisir dan menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan luasan dan sebaran ekosistem mangrove dalam kurun waktu 20 tahun, yakni dari tahun 2000 sampai dengan 2020 dan untuk mengetahui kondisi vegetasi ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga April 2020 di Pulau Tanakeke. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Analisis perubahan luasan ekosistem mangrove dari tahun 2000 sampai 2020 menggunakan metode supervised classification dengan analisis maximum likelihood, sedangkan kondisi vegetasi ekosistem mangrove menggunakan metode analisis indeks nilai penting (INP) dan indeks keanekaragaman jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke dari tahun 2000 sampai 2020 mengalami degradasi seluas -337,41 ha (28,32% dari luas tahun 2000). Pada lokasi penelitian ditemukan 9 jenis mangrove, yaitu Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Phemphis acidula, Lumnitzera racemosa dan Ceriops decandra. Mangrove jenis Rhizophora mucronata memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu sebesar 192,55%, sementara untuk keanekaragaman jenis secara umum tergolong rendah.Mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems with a high level of productivity, so its existence can be enrich coastal areas and maintain the balance of ecosystems. This study aims to explain the changes in the extent and distribution of mangrove ecosystems within 20 years, from 2000 to 2020 and to know the condition of mangrove ecosystem vegetation in Tanakeke Island. This research was conducted from January to April 2020 in Tanakeke Island. Determination of research location using purposive sampling method. Analysis of changes in mangrove ecosystem area from 2000 to 2020 using supervised classification method with maximum likelihood analysis, while the condition of mangrove ecosystem vegetation using important value index (INP) analyst method and species diversity index. The results showed that mangrove ecosystems in Tanakeke Island from 2000 to 2020 degraded for about -337.41 ha (28.32% of the area in 2000). At the research site found 9 types of mangroves, such as Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Phemphis acidula, Lumnitzera racemosa and Ceriops decandra. Mangrove type Rhizophora mucronata has the highest important value index of 192.55%, while for diversity of species in general is relatively low

    REKRUTMEN KARANG KERAS (SCLERACTINIA) BERDASARKAN ZONA GEOMORFOLOGI DI PERAIRAN PULAU BINTAN, KEPULAUAN RIAU

    Full text link
    Kesehatan ekosistem terumbu karang dapat dilihat melalui kemunculan rekrutmen karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan rekrutmen karang Scleractinia berdasarkan genus, life form, dan variasi ukuran rekrutmen karang Scleractinia di perairan Kampung Baru Lagoi dan Desa Teluk Bakau Kabupaten Bintan berdasarkan zona geomorfologi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan keberadaan karang Scleractinia di daerah reef flat dan reef slope pada kawasan terumbu karang dan metode survei dengan menggunakan bingkai kuadrat 1x1 m yang dipasang sepanjang garis transek 70 m sejajar garis pantai. Hasil penelitian ditemukan 164 koloni dari 24 genus yang didominasi oleh Favia dan Favites. Berdasarkan life form karang yang paling banyak ditemukan yaitu coral encrusting dan coral massive dengan variasi ukuran 4,5-6 cm dalam kategori ukuran sedang. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa perbedaan geomorfologi di kedua lokasi penelitian tidak berdampak secara signifikan terhadap kelimpahan karang rekrutmen.The health of coral reef ecosystems can be seen through the emergence of coral recruitment. Aim of this research was to compared the scleractinia coral recruitment list based on genus, life form, and variations in size of the scleractinia coral recuit in the waters of Kampung Baru Lagoi and Teluk Bakau Village, Bintan Regency by geomorfology zone. The research was conducted using a Purposive sampling method in consideration of the presence of scleractinia coral in reef flat and reef slope areas using a 1x1 m square frame mounted along a 70 m transverse line parallel to the shoreline. Research has found 164 colonies of 24 genus dominated by Favia and Favites. Based on the most extensive life form of Coral encrusting and Coral massive variations in size 4.5-6 cm or medium category. The results of t-test showed that the geomorphological differences in the research locations did not have a significant impact on the abundance of corals recruitment

    CARBON STORAGE POTENTIAL OF SEAGRASS MEADOWS IN POKEMON BEACH, KARIMUNJAWA

    Full text link
    Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terutama karbondioksida (CO2) menyebabkan pemanasan global. Oleh karena itu diperlukan mitigasi emisi CO2 dengan memanfaatkan potensi lamun sebagai penyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan lamun jaringan atas dan jaringan bawah dalam menyimpan karbon di perairan Pantai Pokemon pada Agustus 2020. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dan deskriptif eksploratif. Sampel diambil dari 3 stasiun pengamatan dengan line dan kuadrant transect menggunakan metode purposive sampling. Pengukuran parameter kualitas perairan dilakukan secara insitu. Analisis simpanan karbon lamun diukur menggunakan metode pengabuan atau loss on ignition (LOI). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis dengan jenis T. hemprichii yang mendominasi. Total kerapatan sebesar 295,62 ind/m2 dan total penutupan yaitu 21,29%. Biomassa secara keseluruhan sebesar 74,42 gbk/m2 dengan biomassa jaringan atas sebesar 35,80 gbk/m2 dan jaringan bawah sebesar 38,62 gbk/m2. Simpanan karbon sebesar 0,23 ton C/ha dengan jaringan atas sebesar 0,10 ton C/ha dan jaringan bawah 0,13 ton C/ha. Total stok karbon mencapai 1,13 ton C dalam luasan padang lamun sebesar 4,903 ha dengan stok karbon jaringan atas bernilai 0,51 ton C dan jaringan bawah sebesar 0,62 ton C. Secara umum lamun jaringan bawah di Pantai Pokemon lebih besar menyimpan karbon.Increased greenhouse gas (GHG) emissions, especially carbon dioxide (CO2), caused global warming. Therefore, mitigation of CO2 emissions is needed by utilizing seagrass potential as carbon storage in biomass. This study aims to determine the carbon storage of above and below ground seagrass in Pokemon Beach in August 2020. The research method used a survey method and descriptive explorative. Samples were taken from 3 stations with line and quadrant transects using the purposive sampling method. Measurement of water quality parameters was performed in-situ. Analysis of seagrass carbon storage was measured using the loss on ignition (LOI) method. The results showed that there are 4 different types of seagrass: Enhalus acoroides, Thalasssia hemprichii, Cymodocea rotundata, and Halophila ovalis, with T. hemprichii dominating. The total density was 295.62 ind/m2, with a 21.29% coverage rate. The overall biomass was 74.42 g/m2, with the above ground biomass of 35.80 g/m2 and the below ground at 38.62 g/m2. Carbon storage amounted to 0.23 tons C/ha, consisting of above ground 0.10 tons C/ha and below ground of 0.13 tons C/ha. The total carbon stock reached 1.13 tons C in the seagrass area of 4903 ha, with an above ground carbon stock of 0.51 tons C and below ground of 0.62 tons C. In general, the below ground seagrass in Pokemon Beach was the largest, storing more carbon

    MANGROVE MONITORING USING NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI): CASE STUDY IN NORTH HALMAHERA, INDONESIA

    Full text link
    Ekowisata berbasis masyarakat menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam menjaga kelestarian hutan mangrove. Strategi untuk menetapkan prioritas pengembangan kawasan mangrove, dapat dilakukan dengan menganalisis kerapatan hutan mangrove. Kawasan mangrove dengan nilai kerapatan paling rendah perlu diprioritaskan sebagai strategi preservasi dan konservasi melalui konsep ekowisata berbasis masyarakat. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi sebaran mangrove menggunakan model normalized difference vegetation index (NDVI) di Kabupaten Halmahera Utara, Indonesia. Perspektif penghidupan berkelanjutan digunakan untuk mendiskusikan konteks sosio-kultural masyarakat lokal. Penelitian ini mengadopsi metode campuran. Pengolahan data terbagi menjadi dua tahap yakni: tahap pertama, pemetaan sebaran hutan mangrove berdasarkan tingkat kerapatan; tahap kedua, trianggulasi. Pemetaan sebaran hutan mangrove menggunakan citra satelit Landsat 8 operational land imager (OLI) tahun 2013 dan 2021 serta model NDVI di Tanjung Pilawang, Pulau Kumo, Pulau Kakara, Pulau Maiti, dan Pulau Tagalaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tanjung Pilawang pada zona 1 dan 2 memiliki Nilai NDVI paling rendah di tahun 2021 yakni 0,22 dengan kategori jarang, sehingga perlu diprioritaskan dalam pengembangan ekowisata mangrove berbasis komunitas sebagai strategi perlindungan kawasan hutan mangrove.Community-based ecotourism is an appropriate approach which is effectively preserved mangrove sustainability. As an effort to identify the priority areas of mangrove development, mangrove density levels need to be analyzed. The distribution of mangroves with the lowest average density value needs to be prioritized as a preservation and conservation strategy through community-based ecotourism concept. This article aims to identify the distribution of mangroves using the normalized difference vegetation index (NDVI) model in North Halmahera Regency, Indonesia. Also, discuss the sustainable livelihoods\u27 perspective. This study adopted a mixed-method. Data processing is divided into two stages: first stage, mapping the distribution of mangroves based on density levels; second stage, triangulation. Landsat 8 operational land imager (OLI) in 2013 and 2021 were used as primary data to get the NDVI value, and categorized mangrove density level in Pilawang Cape, Kumo Island, Kakara Island, Maiti Island, and Tagalaya Island. The findings show that Pilawang Cape has the lowest NDVI value. The average NDVI value in 2021 is 0.22 which can be categorized as a rare mangrove forest according to the mangrove standard damage criteria. Thus, Mangrove area in Pilawang Cape needs to be prioritized as a preservation and conservation strategy through community-based ecotourism concept. &nbsp

    HUBUNGAN ANTAR PARAMETER STRUKTUR TEGAKAN MANGROVE DALAM ESTIMASI SIMPANAN KARBON ABOVEGROUND PADA SKALA KOMUNITAS

    Full text link
    Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki kemampuan sangat baik dalam menyerap dan menyimpan karbon. Struktur tegakan mangrove memberikan kontribusi signifikan terhadap estimasi simpanan karbon yang umumnya tergambarkan pada persamaan alometrik dalam skala individu. Penelitian simpanan karbon atas permukaan tanah (abovegroundada komunitas mangrove telah dilakukan di mangrove Teluk Benoa. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model dalam mengestimasi simpanan karbon aboveground dari beberapa parameter struktur tegakan mangrove. Metode stratified purposive sampling digunakan dalam penentuan sebaran titik penelitian. Sebanyak tiga zona (1–3) diidentifikasi berdasarkan interpretasi analisis mRE-SR (modified red edge-simple ratio) dan jenis mangrove yang mendominasi. Estimasi simpanan karbon aboveground diperoleh dengan metode non-destructive menggunakan persamaan common allometric. Hasil penelitian menunjukkan struktur tegakan mangrove zona 1 cenderung berbeda signifikan dengan zona lainnya. Secara keseluruhan, rata-rata simpanan karbon aboveground sebesar 193,45±34,88 ton C/ha. Simpanan karbon aboveground tertinggi ditemukan pada zona 1 yang didominasi jenis Sonneratia alba. Analisis regresi linear dan Akaike’s Information Criterion (AIC) menunjukkan bahwa kombinasi dari tutupan kanopi, kerapatan pohon, kerapatan pancang dan diameter pohon menjadi model terbaik dalam mengestimasi simpanan karbon pada skala komunitas. Model kombinasi ini memiliki nilai koefisien regresi tertinggi dan nilai root mean squared error (RMSE) terendah dibandingkan dengan model lainnya. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan dalam mengestimasi simpanan karbon secara lebih efisien dan akurat dalam skala komunitas.Mangrove is one of coastal ecosystem which has a major role to sequastrate and store carbon. Mangrove stand structure delivers a significant contribution for estimating biomass carbon stock through individual scale allometric equations. On the other hand, the aboveground carbon research on the community scale was conducted in Teluk Benoa. The study aimed to establish a model for estimating mangrove aboveground carbon stock from the multiple variables of mangrove stand structure. A stratified purposive sampling method was applied for distributing quadratic samples. Three mangrove zones (1–3) were identified using mRE-SR (modified red edge-simple ratio) interpretation based on mangrove species domination. A common allometric equation was applied for estimating aboveground carbon stock. The result showed that mangrove stand structure in zone 1 was significantly different to other zones. Aboveground carbon stock was 193.45±34.88 tons C/ha on entire sites. It was found highest in zone 1 which was dominated by Sonneratia alba. The linear regression and Akaike’s Information Criterion (AIC) analysis showed that the combination of canopy cover, tree density, sapling density and tree diameter became the best model in estimating carbon stock at the community scale. The multiple model had the highest regression coefficient and the lowest root mean square error (RMSE) value. We expect that the multiple variable model could be more efficient and accurate to estimate aboveground carbon stock on community scale

    INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN EKOSISTEM MANGROVE TERHADAP TUMPAHAN MINYAK: STUDI KASUS DI PESISIR SUBANG, JAWA BARAT

    Full text link
    Ekosistem mangrove di daerah pesisir Subang berpotensi terdampak oleh tumpahan minyak. Tumpahan minyak di daerah tersebut bisa bersumber dari kecelakaan pada kegiatan eksploitasi minyak bumi. Oleh karena itu, diperlukan antisipasi dan rencana yang komprehensif untuk melindungi lingkungan dari tumpahan minyak. Indeks Kepekaan Lingkungan (IKL) dapat digunakan untuk mengklasifikasi tingkat kepekaan ekosistem mangrove terhadap tumpahan minyak. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung IKL ekosistem mangrove di daerah pesisir Subang. IKL dibentuk dari gabungan Indeks Kerentanan (IK), Indeks Ekologi (IE) dan Indeks Sosial ekonomi (IS). Data sekunder diperoleh dengan cara studi literatur, sedangkan pengambilan data primer dilakukan di 13 lokasi pengamatan. Parameter IK terdiri dari kemiringan pantai, tipe pasang surut, rentang pasang surut, tinggi gelombang, tipe substrat dan jarak mangrove dari bibir pantai. Parameter IE terdiri dari zonasi mangrove, kepadatan mangrove, keragaman mangrove, umur mangrove, keberadaan spesies dilindungi dan status konservasi mangrove. Parameter IS terdiri dari komponen sosial dan komponen ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di pesisir Subang memiliki tingkat kepekaan dari cukup peka hingga peka. Dari 13 lokasi pengamatan, hanya 3 lokasi yang memiliki status peka terhadap tumpahan minyak. Daerah tersebut adalah Tegal Tike, Anggaranu, dan Tanjung. Walaupun tingkat kepekaan daerah pengamatan didominasi oleh kategori cukup peka, namun perlindungan ekosistem mangrove dari tumpahan minyak harus menjadi prioritas.The mangrove ecosystem in Subang Coastal is potentially effected due to oil spills. The oil spill in this area can be caused by an accident of petroleum exploitation. Therefore, it needs to anticipate and plan comprehensively for environmental protection from oil spills. Environmental sensitivity index (ESI) analysis can be used to classify the level of sensitivity of the mangrove ecosystem to the oil spill. This study aims to calculate the ESI for mangrove ecosystems in Subang coastal areas. ESI was formed by combining the Vulnerability Index (VI), Ecological Index (EI), and Socio-economic Index (SI). Secondary data was collected by study literature. The primary data was conducted from 13 locations. The parameters in VI are coastal slope, tidal type, tidal range, wave height, substrate type, and mangrove distance from the coastline. The parameters in EI are mangrove zonation, mangrove density mangrove diversity, age of mangrove, protected species, and mangrove conservation status. The parameter in SI consists of social and economic components. The result showed that the mangrove ecosystem of the Subang coastal area has a sensitivity status from moderate to sensitive. Among 13 locations, only three locations were classification sensitive to the oil spill. The locations were Tegal Tike, Anggaranu, and Tanjung. Although the study areas are dominated by the moderate sensitivity category, however, the protection of the mangrove ecosystem from oil spills should be prioritized

    SUSTAINABLE STRATEGY ON MARINE SPATIAL PLANNING OF TIWORO ARCHIPELAGIC

    Full text link
    Kompleksitas persoalan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Tiworo menuntut adanya strategi kebijakan pengelolaan ruang yang lebih komprehensif. Isu pemanfaatan secara tidak berkelanjutan adalah faktor utama yang membutuhkan penanganan berupa formulasi strategi pengelolaan pulau kecil di Kepulauan Tiworo. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ruang pulau-pulau kecil yang berkelanjutan. Metode yang digunakan untuk menilai keberlanjutan dan sensitivitas atribut adalah metode Rapid Appraisal for Land Use (Raplanduse). Strategi kebijakan pengelolaan dilakukan berdasarkan tingkat pengaruh dan ketergantungan atribut-atribut sensitif yang dianalisis dengan analisis prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil di Kepulauan Tiworo cukup bervariasi, mulai dari kategori baik, buruk, hingga kategori kurang berkelanjutan. Atribut sensitif dalam dimensi ekologi adalah material padatan tersuspensi, dan suhu permukaan laut. Dalam dimensi sosial atribut yang sensitif adalah kejadian konflik, dan sumber daya manusia. Dalam dimensi ekonomi adalah atribut tingkat pendapatan, ketersediaan modal usaha, dan produksi tangkapan. Dalam dimensi hukum dan kelembagaan atribut yang sensitif adalah atribut status kepemilikan lahan, dan zonasi kawasan. Kebijakan pengelolaan berdasarkan atribut-atribut sensitif tersebut meliputi peningkatan kapasitas adaptasi masyarakat, mengendalikan pemanfaatan lahan di wilayah DAS di daratan, mengembangkan diversifikasi usaha, menertibkan penggunaan ruang, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.Sustainable marine spatial planning in small islands requires a more comprehensive management strategy. Unsustainable use problems and issues in both land and seascape need a strategic formulation to manage Tiworo Small Island in the future. This study aimed to formulate the strategy for sustainable marine spatial planning of the Tiworo Small Islands. The rapid Appraisal for Land Use (Raplanduse) method was used to assess the sustainability and sensitivity of the attributes used in this study. The formulation of management strategies was carried out based on the levels of influence and dependence on sensitive attributes analyzed by the prospective analysis method. The results showed that the sustainable use of small islands in the Tiworo Islands varied, ranging from good, bad to less sustainable. Sensitive attributes observed in the ecological dimension were suspended solid materials and seawater surface temperature. In the social dimension, the sensitive attributes assessed were the conflict incidence among residents and human resources. Attributes observed in the economic dimension were income level, availability of business capital, and fisheries catch production. In the legal and institutional dimensions, the sensitive attributes observed were land ownership status and area zoning. Strategic management was developed based on these sensitive attributes, including increasing community adaptation capacity, controlling land-use in watershed areas in the mainland, developing business diversification, regulating spatial utilization, and improving the quality of human resources

    KANDUNGAN PROTEIN DAN KARBOHIDRAT PADA MAKROALGA DI PANTAI SEPANJANG, YOGYAKARTA

    Full text link
    Kandungan protein dan karbohidrat pada makroalga diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan makroalga di Pantai Sepanjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan protein dan karbohidrat pada makroalga di Pantai Sepanjang, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2020 di Pantai Sepanjang, Yogyakarta. Materi penelitian ini meliputi makroalga jenis Ulva lactuta, Palmaria palmata, Sargassum crassifolium, Gelidium spinosum, Gelidiella acerosa, dan Gracilaria verrucosa. Sampel makroalga secara purposive sampling pada zona intertidal Pantai Sepanjang. Analisis kandungan protein menggunakan metode Biuret, sedangkan analisis kandungan karbohidrat menggunakan metode by difference. Hasil menujukkan bahwa kandungan protein dan karbohidrat tertinggi terdapat pada G. spinosum di bagian tengah Pantai Sepanjang masing-masing sebesar 3,08% dan 19,38%. Berdasarkan hasil tersebut, G. spinosum memiliki potensi untuk dikembangkan dalam berbagai produk olahan dengan penelitian lebih lanjut.Protein and carbohydrate content in macroalgae are required to optimize the utilization of macroalgae from Sepanjang Beach. This study aims to determine the protein and carbohydrate content of macroalgae at Sepanjang Beach, Yogyakarta. This research was conducted in August-September 2020. The research materials included macroalgae of Ulva lactuta, Palmaria palmata, Sargassum crassifolium, Gelidium spinosum, Gelidiella acerosa, and Gracilaria verrucosa. The macroalgae was collected by purposive sampling in the intertidal zone of Sepanjang Beach. The protein content was analyzed by Biuret method, while the carbohydrate content by the difference method. Results showed that the highest protein and carbohydrate content was found in G. spinosum in central part of Sepanjang Beach at 3.08% and 19.38%, respectively. Based on these results, G. spinosum has the potential to be developed in various processed products with further research

    IMPACT OF INCREASING SEA SURFACE TEMPERATURE ON POTENTIAL FISHING ZONE OF SKIPJACK TUNA Katsuwonus pelamis IN MAKASSAR STRAIT

    Full text link
    Makassar Strait plays a vital role as one of the skipjack tuna fishing grounds in Indonesia. This study aimed to detect the skipjack tuna preference of sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a (Chl-a) in Makassar Strait and to map out the possible shifting potential fishing zone (PFZ) of skipjack tuna by simulating sea surface temperature increase. We analyzed the skipjack catch data from July to November 2020, and we added the previous data in June, July, August, October, and December 2019 in the same study area. We analyzed together with satellite imagery data set of SST and Chl-a using GAM. We used three scenarios for the SST increase model simulation, which are 0.25, 0.5, and 1℃. The results showed that skipjack tuna is relatively high in SST ranging from 28.3 to 30.4°C and Chl-a ranging from 0.18 to 0.28 mg/m3. The PFZ based on sea surface temperature simulation showed that PFZ area form in the northern part shifting to the southern part of Makassar Strait based on the increasing sea surface temperature simulation visible in September, which shifted from 0.017-5.421⁰S to 2.923-6.802⁰S and October shifted from 0.017-6.802⁰S to 5.007-6.802⁰S. Knowing the shifting of the potential fishing zone of skipjack tuna could be an important step toward fishing operation and management for skipjack tuna resource management in Makassar Strait.Selat Makassar memegang peranan penting sebagai salah satu perairan yang menjadi daerah penangkapan ikan cakalang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi preferensi suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a (Chl-a) di perairan Selat Makassar serta memetakan potensi pergeseran zona penangkapan ikan cakalang dengan simulasi kenaikan suhu permukaan laut. Data tangkapan cakalang dianalisis dari bulan Juli-November 2020, dan ditambahkan dengan data sebelumnya pada bulan Juni, Juli, Agustus, Oktober, dan Desember 2019 di wilayah studi yang sama. Kemudian dianalisis bersama dengan kumpulan data citra satelit SPL dan Chl-a menggunakan GAM. Terdapat 3 skenario kenaikan SPL yang digunakan yaitu 0,25, 0,5, dan 1℃. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan cakalang relatif tinggi berada pada suhu permukaan laut berkisar antara 28,3 sampai 30,4°C dan klorofil-a berkisar antara 0.18 sampai 0,28 mg/m3. Simulasi kenaikan SPL menunjukkan bahwa kawasan zona penangkapan ikan cakalang potensial terbentuk di bagian utara perairan Selat Makassar dan bergeser ke bagian selatan perairan Selat Makassar yang terlihat jelas pada bulan September dimana zona potensial penangkapan bergeser dari 0,017-5,421⁰LS ke 2.923-6.802⁰S dan pada bulan Oktober bergeser dari 0,017-6,802⁰LS ke 5,007-6,802⁰LS. Mengetahui pergeseran zona potensial penangkapan ikan cakalang dapat menjadi langkah yang penting dalam operasi penangkapan dan pengelolaan sumberdaya ikan cakalang di perairan Selat Makassar

    EFFECTIVENESS OF CUSTOMARY FISHERIES MANAGEMENT ON MAINTAINING REEF HEALTH STATUS IN MAYALIBIT BAY, RAJA AMPAT

    Full text link
    Territorial Use Rights for Fisheries-Reserve (TURF-Reserve) adalah salah satu bentuk dari pendekatan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis hak yang dapat meningkatkan efektivitas dan upaya konservasi ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi perairan (KKP). Dewan Adat Suku Maya dan masyarakat adat di Teluk Mayalibit mendeklarasikan Kelola Perikanan Adat (KPA), suatu bentuk pengelolaan sumber daya perikanan yang mengombinasikan hak ulayat laut, kearifan ekologi tradisional, dan prinsip-prinsip TURF-Reserve. Tujuan penelitian ini adalah mengukur kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang untuk melihat efektivitas KPA dalam menjaga kondisi ekosistem terumbu karang di Teluk Mayalibit. Penelitian ini menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) dan transek sabuk ikan untuk mengumpulkan data kesehatan terumbu karang. Kondisi ekosistem terumbu karang diukur menggunakan lima indikator dengan ambang batas ekologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai biomassa ikan karang dan proporsi biomassa ikan herbivor dari kondisi sebelumnya, hal ini mengindikasikan ekosistem terumbu karang yang sehat. Nilai rasio makroalga: karang keras hidup serta rasio fished: unfished yang menurun jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya mengindikasikan ekosistem terumbu karang yang berstatus moderat. Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa ekosistem terumbu karang di Teluk Mayalibit masih berada dalam kondisi yang sehat dan aktivitas perikanan karang masih terkendali di dalam batas yang mendukung kelestarian. Hal ini memberikan indikasi bahwa KPA masih efektif dalam menjaga kondisi ekosistem terumbu karang dan membantu upaya konservasi serta pengelolaan sumber daya perikanan karang di Teluk Mayalibit.Territorial Use Rights for Fisheries-Reserve (TURF-Reserve) is a form of rights-based fisheries management that could improve the effectiveness and coral reef conservation efforts in Marine Protected Area (MPA). Maya Tribe Customary Council with Mayalibit Bay customary communities declared Customary Fisheries Management (CFM), a fishery resources management approach that combines customary marine tenure, traditional ecological wisdom, and TURF-Reserve principles. This study aims to measure coral reef health conditions to illustrate CFM’s effectiveness in maintaining coral reef conditions in Mayalibit Bay. This study uses Point Intercept Transect (PIT) and fish belt transect as data collection methods to gather coral reef health data. Coral reef condition is measured using five indicators with ecological thresholds. Study results show that there is an increase of reef fish biomass and herbivore fish biomass proportion compared to previous condition which indicate a healthy coral reef ecosystem. Decreasing macroalgae: hard coral ratio along with fished: unfished ratio compared to previous condition indicate coral reef ecosystem with moderate condition. This study concluded that the coral reef ecosystem in Mayalibit Bay is in healthy condition and its reef fisheries activities are still considered sustainable. Based on the healthy coral reef condition, CFM is shown as an effective approach in maintaining coral reef ecosystem condition, complementing conservation efforts, and reef fishery resources management in Mayalibit Bay. &nbsp

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇