Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    COMMUNITY STRUCTURE AND ABUNDANCE OF MOLLUSCS AND CRUSTACEANSIN MANGROVE ECOSYSTEM, MERAUKE REGENCY, PAPUA

    Full text link
    Kabupaten Merauke terletak paling selatan dari Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, serta memiliki ekosistem mangrove yang masih baik (murni), cukup luas dan kaya akan moluska dan krustasea, yang merupakan fauna kunci dalam ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas moluska dan krustasea pada ekosistem mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2019, di 13 stasiun. Pengumpulan sampel makrobentos di tiap lokasi menggunakan plot berukuran 10 x 10 m. Sampel diambil selama 20 menit oleh 2 orang yang sama di setiap plot, saat air surut. Dari penelitian ini ditemukan 11 jenis krustasea dan 6 jenis moluska. Cerithidea obtusa, Littoraria scabra dan Cassidula angulifera dari kelompok moluska memiliki penyebaran relatif luas. Kepadatan tertinggi terdapat di stasiun MRKM22 (5,67 individu/m2) dan yang terendah di stasiun MRKM33 (0,25 individu/m2). Moluska dan krustasea yang ditemukan dalam penelitian ini merupakan jenis-jenis yang umum hidup pada ekosistem mangrove. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) berkisar 0,63–1,56. Nilai ini menunjukkan keanekaragaman jenis baik moluska maupun krustasea dalam kondisi rendah–sedang. Indeks kemerataan jenis (J’) berkisar 0,56–0,99 dan nilai indeks dominasi jenis (C) berkisar 0,24–0,56. Secara umum, nilai-nilai ekologis ini menunjukkan komunitas moluska dan krustasea di setiap stasiun penelitian berada dalam kondisi yang relatif stabil.Merauke Regency is located in the southern part of Papua, directly adjacent to Papua New Guinea. It has a mangrove ecosystem that is still good (pristine) which is quite extensive and rich in molluscs and crustaceans which are key fauna in the mangrove ecosystem. The aims of this research were to know the structure of molluscs and crustaceans community in mangrove ecosystem in this area. A study was conducted in October 2019 in 13 stations. Molluscs and crustaceans sample were collected in each location using a plot measuring 10 x 10 m. Samples were taken for 20 minutes by the same two people in each plot at low tide. From this study found 11 species of the crustaceans and 6 species of the molluscs. Cerithidea obtusa, Littoraria scabra and Cassidula angulifera of the molluscs group were macrobenthos that had a relatively wide distribution. The highest abundance was found in MRKM22 station (5.67 individuals/m2) and the lowest was in MRKM33 (0.25 individuals/m2). The molluscs and crustaceans found in this study were common species in mangrove ecosystem. The value of species diversity index (H\u27) ranged from 0.63 to 1.56. This value indicated the diversity of molluscs and crustaceans species was of low-moderate condition. Evenness index (J\u27) ranged from 0.56 to 0.99 and dominance index (C) ranged from 0.24 to 0.56. In general, these ecological values showed that the molluscs and crustaceans community in each station is in a relatively stable condition

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    IMAGING THERMOHALINE FINE STRUCTURE USING MULTICHANNEL SEISMIC REFLECTION IN THE NORTHERN MALUKU SEA

    Full text link
    Akustik frekuensi rendah seperti seismik laut yang umumnya digunakan untuk pemetaan geologi sekarang berkembang menjadi perangkat untuk memetakan kolom perairan. Penelitian ini bertujuan memetakan struktur halus termohalin (thermohaline fine structure) sepanjang lintasan seismik di Laut Maluku bagian utara. Data seismik refleksi dari 72 saluran sepanjang lintasan 239 km diproses untuk menggambarkan struktur kolom perairan di Laut Maluku. Penampang seismik oseanografi menunjukkan dengan jelas adanya reflektor pada kedalaman 400 m dan 800 m yang merupakan batas bawah lapisan termoklin musiman dan termoklin permanen. Di antara kedalaman 400 - 800 m terdapat refleksi yang disebabkan oleh perundakan termohalin (thermohaline staircase) seperti yang terkonfirmasi oleh data CTD. Data seismik kolom perairan memperlihatkan adanya struktur seperti gelombang internal di bagian barat laut ambang Tufure dengan tinggi dan panjang gelombang berturut-turut sekitar 102 m dan 17 km. Amplitudo seismik di kolom perairan menunjukkan kesesuaian dengan kontras vertikal parameter fisika oseanografi seperti suhu, salinitas, dan kecepatan suara. Refleksi di kolom perairan bisa disebabkan oleh kontras gradient suhu berkisar antara 0,03°C/m hingga >0,20°C/m. Impedansi akustik pada zona target berkisar antara 0,8 × 106 kg/m3 m/s hingga 2,06 × 106 kg/m3 m/s. Penelitian ini mengungkap bahwa data seismik kolom perairan bisa bermanfaat untuk mempelajari karakteristik kolom perairan di Laut Maluku bagian utara.Low-frequency acoustic such as marine seismic that has been commonly used in geological mapping is nowadays being developed as tools to map the water columns. This study aims to map thermohaline fine structure in the Northern Maluku Sea. Seismic reflection data from 72 channel along 239 km track line was processed to delineate water column structure. The depth-distance seismic oceanography section clearly showed reflectors at depth of 400 m and 800 m correspond to lower boundary of the seasonal and permanent thermocline layers, respectively. The reflections between depth of 400 m and 800 m were caused by the thermohaline staircase as confirmed by CTD data. Water column reflections showed the presence of internal wave-like structure in the northwestern Tufure sill which has height and wavelength about 102 m and 17 km, respectively. The seismic amplitude in the water column corresponded to the vertical contrast of physical oceanographic parameters such as temperature, salinity, and sound speed. Reflections in the water column could be caused by temperature gradients ranging contrast from 0.03°C/m to >0.20°C/m. The acoustic impedance in the internal wave-like zone was ranging from 0.8 x 106 kg/m3 m/s to 2.06 x 106 kg/m3 m/s. This research revealed that the marine seismic data can be useful for studying the water column characteristics in the Northern Maluku Sea

    APPLICATION OF SURFACE CONSISTENT DECONVOLUTION METHOD ON 2D SHALLOW SEISMIC DATA IN WAIPOGA WATER, PAPUA

    Full text link
    Data seismik yang dihasilkan saat akuisisi mengandung wavelet yang kompleks dan derau seperti multipel yang mengakibatkan menurunnya resolusi temporal penampang seismik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penerapan metode Surface Consistent Deconvolution (SCD) dan dekonvolusi prediktif dalam meningkatkan resolusi temporal penampang seismik pada data seismik laut dangkal 2D lintasan C12, C21 dan L18 di Perairan Waipoga, Papua. Penelitian ini menerapkan metode SCD dan dekonvolusi prediktif. Surface consistent deconvolution dilakukan dengan mendekomposisikan wavelet seismik menjadi sumber, penerima, offset dan midpoint, sedangkan dekonvolusi prediktif dilakukan dengan membuat prediksi dari tras seismik yang mengandung multipel periode pendek. Penampang seismik yang dihasilkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode dekonvolusi prediktif maupun SCD dapat menghilangkan multipel periode pendek yang terdapat pada penampang seismik. Metode SCD memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan resolusi temporal penampang seismik dibandingkan metode dekonvolusi prediktif. Hal tersebut dikarenakan metode SCD memberikan hasil yang lebih baik dalam memampatkan wavelet, meningkatkan kontinuitas lapisan dan mempertajam reflektor.The seismic data generated during the acquisition contain complex wavelets and noise such as multiple which results in decreasing temporal resolution of the seismic section. This study aims to compare the application of Surface Consistent Deconvolution (SCD) and predictive deconvolution methods in increasing temporal resolution of seismic sections in 2D shallow water seismic data line C12, C21 and L18 of Waipoga Waters, Papua. This research applies SCD and predictive deconvolution methods. Surface Consistent Deconvolution is applied by decomposing seismic wavelets into source, receiver, offset and midpoint, while predictive deconvolution is applied by making predictions from seismic traces that containing short periods multiple. The seismic sections produced in this study show that the application of both predictive deconvolution methods and SCD can eliminate short-period multiple that found in seismic sections. The Surface Consistent Deconvolution method provides better results in increasing the temporal resolution of seismic sections than predictive deconvolution methods. These results are achieved because SCD method provides better results in compressing the wavelets, increasing the continuity of layers and sharpening the reflectors

    PHYTOPLANKTON AS A BIOINDICATOR OF ORGANIC POLLUTION IN THE WATERS OF MUSI RIVER DOWNSTREAM SOUTH SUMATRA

    Full text link
    Sungai Musi merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Sumatra Selatan. Berkembangnya kegiatan penduduk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi dapat berpengaruh terhadap kualitas air sungai dan dapat menyebabkan terjadinya pencemaran. Tingginya aktivitas industri maupun rumah tangga di sepanjang Sungai Musi menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan di DAS Musi. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar tingkat pencemaran yang terjadi di DAS Musi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui tingkat saprobitas di sepanjang DAS Musi bagian hilir berdasarkan nilai SI (Saprobik Indeks), serta mengetahui tingkat pencemaran air menggunakan penilaian saprobitas perairan. Penelitian ini menggunakan plankton sebagai bioindikator pencemaran organik perairan. Penelitian ini menggunakan rancangan eksplorasi dengan metode survei, dan penetapan stasiun pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan fitoplankton di perairan Sungai Musi pada rentang 123-2581 sel/liter atau rata-rata sebesar 1397 sel/liter. Indeks Saprobik di perairan Sungai Musi berkisar antara 0,63-1, digolongkan pada fasesaprobik, yaitu β-Mesosaprobik, sehingga pada perairan Sungai Musi digolongkan pada tingkat pencemaran ringan.The Musi River is the largest and longest river in South Sumatra. The development of population activities in the Musi River Basin can affect river water quality and can cause pollution. The high level of industrial activity and households along the Musi River causes a decrease in environmental quality in the Musi River Basin. The declining quality of aquatic environment can be seen from the presence of phytoplankton. Based on this, further research is needed to determine the extent of pollution in the Musi River Basin. The purpose of this study is to assess saprobitas along the Musi River Basin based on SI (Saprobic Index) value and knowing the level of water pollution using saprobitas water assessment. This study uses plankton as a bioindicator of aquatic organic pollution. This study uses an exploratory design with survey methods, and the determination of sampling stations by purposive sampling method. The results showed abundance of phytoplankton in the waters of the Musi River in the range of 123 to 2581 cells.liter-1 or an average of 1397 cells.liter-1. The Saprobic index in the waters of the Musi River ranges from 0.631 to 1, classified in the phases of the microbial, namely β-Mesosaprobic, so that the waters of the Musi River are classified as mild

    RESOURCES POTENTIAL AND MARINE TOURISM CARRYING CAPACITY OF TUNDA ISLAND, SERANG, BANTEN

    Full text link
    Pulau Tunda memiliki sumber daya alam pulau dan laut yang dapat dimanfaatkan untuk wisata bahari dengan ekosistem pantai, mangrove, serta terumbu karang. Sesuai rencana zonasi 2017, kajian mengenai potensi sumber daya Pulau Tunda diperlukan untuk mengetahui kesesuaian dan daya dukung untuk wisata pulau yang berbasis konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian dan daya dukung Pulau Tunda sebagai kawasan wisata pantai, mangrove, diving dan snorkeling. Metode yang digunakan yaitu analisis spasial. Hasil analisis kesesuaian dan daya dukung menunjukkan bahwa Pulau Tunda memiliki kategori sesuai (S2) untuk kegiatan wisata pantai, mangrove, diving dan snorkeling dengan nilai kesesuaian wisata pantai sebesar 2,14, wisata mangrove 2, wisata diving 2,25 dan wisata snorkeling 2,43. Sedangkan daya dukung untuk setiap area wisata adalah wisata pantai 776 orang/hari, wisata mangrove 80 orang/hari, untuk wisata snorkeling 562 orang/hari, dan untuk wisata diving sebanyak 587 orang/hari, score total daya dukung untuk kawasan wisata sebesar 2005 orang/hari.Tunda Island has coastal and marine resources that can be utilized for marine tourism activities. Based on 2017 Zoning Plan, a study of Tunda Island’s resources potentials are needed to determine suitability and carrying capacity for conservation-based island tourism activities. Therefore, this study aims to analyze the suitability and carrying capacity of Tunda Island as beach, mangrove, diving and snorkeling tourism. Analysis method used in this research is spatial analysis. The results of the suitability analysis and carrying capacity show that Tunda Island has the appropriate category (S2) for beach, mangrove, diving and snorkeling tourism activities with a beach tourism suitability value of 2.14, mangrove tourism 2, diving tourism 2.25 and snorkeling tourism 2.43. Carrying capacity analysis showed 776 people/day for beach tourism, 80 day/person for mangrove tourism, 562 people/day for snorkeling tourism and 587 people/day for diving tourism. Total carrying capacity of tourism activity in Tunda Island is 2005 people/day

    COMPARISON OF SEAGRASS COVER CLASSIFICATION BASED-ON SVM AND FUZZY ALGORITHMS USING MULTI-SCALE IMAGERY IN KODINGARENG LOMPO ISLAND

    Full text link
    Padang lamun mempunyai peranan ekologi bagi lingkungan laut dangkal yaitu sebagai habitat biota, produsen primer, penangkap sedimen serta berperan sebagai pendaur zat-zat hara. Mengingat pentingnya peranan ekosistem padang lamun maka kelestarian sumber daya alam ini perlu dijaga, oleh karena itu pemetaan dan pemantauan yang terus-menerus terhadap keberadaan padang lamun sangat penting dilakukan. Metode penginderaan jauh merupakan metode yang dapat digunakan untuk memetakan dan memantau kondisi padang lamun. Perkembangan teknologi sensor satelit yang pesat saat ini, khususnya resolusi spasial dan spektral sensor meningkatkan kualitas peta sebaran lamun. Penggunaan metode dan skema klasifikasi yang kurang tepat dalam klasifikasi kondisi lamun dari citra satelit juga termasuk hal yang dapat memengaruhi akurasi peta, sehingga dibutuhkan berbagai alternatif kajian algoritma yang digunakan. Pada penelitian ini digunakan algoritma Support Vector Machine dan Logika Fuzzy menggunakan citra satelit WorldView-2 dan Sentinel-2 di Pulau Kodingareng Lompo dengan empat kelas tutupan lamun yaitu jarang (0-25%), sedang (26-50%), padat (51-75%), dan sangat padat (76-100%). Hasil yang diperoleh adalah algoritma Logika Fuzzy menggunakan citra WorldView-2 memiliki akurasi keseluruhan klasifikasi tutupan lamun yang paling baik sebesar 78,60%.Seagrass beds play an ecological role in the shallow marine environment, such as a habitat for biota, primary producers, and sediment traps. They also act as nutrient recyclers. Since they have such an important role, this natural resource needs to be preserved. Therefore, continuous monitoring and mapping of seagrass beds, especially by remote sensing methods, is paramount. The current rapid development of satellite sensor technology, especially its spatial and spectral resolutions, has improved the quality of the seagrass distribution map. The use of proper classification methods and schemes in the classification of seagrass distribution based on satellite imagery can affect the accuracy of the map, which is why various alternative algorithm studies are required. In this study, the Support Vector Machine and Fuzzy Logic algorithms were used to classify the WorldView-2 and Sentinel-2 satellite imageries on Kodingareng Lompo Island with four classes of seagrass cover, sparse (0–25%), moderate (26–50%), dense (51–75%), and very dense (76–100%). The result showed that the Fuzzy Logic algorithm applied to WorldView-2 imagery has the best overall accuracy of 78.60% seagrass cover classification

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    STUDY OF MANGROVE COVERAGE CHANGE BASED ON OBJECT (OBIA) USING SATELLITE IMAGERY IN DOMPAK ISLAND PROVINCE OF KEPULAUAN RIAU

    Full text link
    Berbagai ancaman pada hutan mangrove baik secara alamiah seperti perubahan iklim dan kegiatan manusia seperti penimbunan, alih fungsi lahan dan penebangan semakin meningkatkan kerentanan ekosistem itu sendiri. Pengindraan jauh merupakan metode yang sangat efektif untuk digunakan dalam kegiatan pemantauan mangrove karena dapat dilakukan secara berkala dan mampu menjangkau area yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan mangrove di Pulau Dompak Provinsi Kepulauan Riau. Metode yang digunakan berupa klasifikasi citra satelit berbasis objek (OBIA) dengan algoritma support vector machine (SVM). Data citra satelit yang digunakan adalah SPOT 4 Tahun 2007 dan Sentinel 2B Tahun 2018 dengan resolusi spasial 10 x 10 m. Survei lapang dilakukan pada bulan September-Oktober 2018 dengan metode sampling secara acak. Hasil klasifikasi OBIA dengan algoritma SVM menghasilkan tingkat akurasi sebesar 89%, nilai kappa 0,86 dengan skala segmentasi optimum yang diperoleh adalah skala 3. Berdasarkan analisis perubahan tutupan lahan terjadi adanya penurunan luasan hutan mangrove sebesar 34,19% atau sekitar 46,61 ha sejak Tahun 2007 hingga 2018.The threats on mangrove forest, either naturally such as climate change or human activities such as landfill, land-use change, and deforestation, can increase the vulnerability of this ecosystem itself. Remote sensing is an effective method to use as mangrove monitoring activity because it can be done periodically and can reach a large area. This research aims to analyse mangrove coverage changes in Dompak Island, Kepulauan Riau Province. The method that was used is satellite imagery classification based on object (OBIA) with support vector machine (SVM) algorithm. Satellite imagery data that was used are SPOT 4 in 2007 and Sentinel 2B in 2018 with spatial resolution of 10 x 10 m. Ground check was conducted on September-October 2018 using random sampling method. The classification results of OBIA with SVM algorithm showed 89% accuracy level, 0.86 kappa values with optimum segmentation value of 3. Based on coverage land analysis, there was degradation of 34.19% mangrove area, or about 46.61 ha, since 2007 to 2018

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇