Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    ATTENUATION OF RANDOM AND COHERENT NOISE ON 2D SEISMIC DATA OF ARU WATERS, PAPUA

    Full text link
    Data seismik selalu terdiri dari sinyal utama yang diinginkan dan komponen derau. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk meredam derau koheren dan acak pada data dengan menggunakan metode yang berbeda agar dapat meningkatkan resolusi data sehingga interpretasi data menjadi akurat. Derau acak dapat dihilangkan dengan mudah pada proses filter bandpass dan stacking dengan hasil yang signifikan, sedangkan derau koheren harus melalui tahapan yang lebih kompleks karena derau koheren dapat bertumpang tindih dengan data. Perairan Aru yang menjadi tempat data penelitian ini diambil, secara geografis berada pada lokasi bertemunya 3 lempeng benua yang aktif sehingga berpotensi dalam bidang migas. Penelitian ini menggunakan dua metode utama untuk mengatenuasi derau koheren untuk melihat bagaimana perbedaan penerapan kedua metode tersebut pada data. Metode koheren filter memiliki hasil akhir yang memuaskan, dengan target utama untuk menghilangkan swell noise dan berhasil dengan hasil yang signifikan. Metode koheren denoising disisi lain juga memiliki hasil akhir yang memuaskan, derau yang menjadi target adalah derau koheren linear yang bertumpang tindih dengan reflektor permukaan dan berhasil dengan hasil yang cukup signifikan, namun metode ini masih menimbulkan jejak samar dari swell noise pada penampang hasil akhir. Metode koheren filter dan metode denoising koheren cukup efektif dalam mengidentifikasi dan mengatenuasi derau acak maupun koheren pada data namun perbedaan kedua metode terletak pada target derau yang dapat diatenuasi dengan maksimal.Seismic data always consists of the desired main signal and a noise component. Therefore, this study aims to reduce coherent and random noise in data by using different methods in order to increase the resolution of the data so that the interpretation of the data becomes accurate. Random noise can be removed easily by bandpass filtering and stacking with significant results while coherent noise has to go through more complex stages because coherent noise can overlap with data. Aru waters, where the data for this study was taken, is geographically located at the meeting point of 3 large active plates so that it has great potential in the oil and gas sector. This study uses two main methods to attenuate coherent noise to see the different results of the methods applied to data. The coherent filter which target swell noise and coherent denoising method which target linear coherent noise both produces satisfactory final results. These methods successfully attenuated main target noise that associated with both methods, but coherent denoising method still leaves a faint trace of swell noise inside cross section on the final result. The coherent filter method and the coherent denoising method are quite effective in identifying and attenuating random and coherent noise in the data, but the difference between the two methods lies in the noise target that can be attenuated maximally

    MULTIPLE ATTENUATION USING COMBINATION OF SURFACE RELATED MULTIPLE ELIMINATION AND RADON TRANSFORM METHODS OF SERAM SEA

    Full text link
    Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki kekayaan sumber daya laut, selain hasil tangkap perikanan yang melimpah terdapat kandungan minyak dan gas di dalam batuan dasar laut. Eksplorasi minyak dan gas di Indonesia masih banyak dilakukan hingga saat ini. Salah satu metode yang digunakan dalam pencariannya adalah metode seismik refleksi. Metode seismik refleksi memanfaatkan gelombang suara yang dihasilkan oleh sumber, gelombang akan menjalar ke dalam batuan dasar bumi kemudian dipantulkan kembali dan diterima oleh receiver. Penelitian ini menggunakan data seismik 2D laut berupa data lapang hasil akuisisi di Perairan Seram, Papua Barat. Data lapang hasil akuisisi masih bercampur dengan multipel yang disebabkan perbedaan impedansi akustik dari lapisan-lapisan bawah permukaan bumi. Keberadaan multipel dapat menyebabkan kerumitan pada saat interpretasi karena menimbulkan efek reflektor semu. Oleh karena itu perlu diterapkan metode atenuasi multipel yang tepat, untuk mengurangi derau multipel. Penelitian ini menerapkan kombinasi antara Surface Related Multiple Elimination (SRME) dan transformasi Radon yang diharapkan mampu mereduksi water bottom multiple dari penampang seismik. Hasil dari pengolahan data menunjukkan bahwa kombinasi metode SRME dan transformasi Radon efektif untuk menghilangkan multipel periode panjang pada zona near offset, middle offset dan far offset. Penerapan kombinasi metode ini juga menghapus beberapa bagian yang tidak signifikan pada reflektor utama oleh karena bercampurnya sinyal dan multipel dalam domain moveout yang sama. Kombinasi kedua metode ini baik untuk menghilangkan multipel jenis water bottom multiple pada data seismik perairan dalam, dan meningkatkan kualitas sinyal terhadap gangguan.  Indonesia is a maritime country has a wealth of marine resources, in addition to abundant fishery products there are oil and gas in seabed rocks. Oil and gas exploration in Indonesia is still widely carried out today. One of the methods used in the search is seismic reflection method. The seismic reflection method utilizes sound wave generated by source. The waves will propagate into the earth\u27s bedrock then are reflected back and received by the receiver. The 2D marine seismic data used in this study are raw data from acquisition in deepwater of Seram Sea, West Papua. Raw data from acquisition are still mixed with multiples due to different acoustic impedance of earth subsurface layers. This causes misinterpretation due to apparent reflector. Therefore, proper multiple attenuation methods are needed to minimize noise. This study applies combination of Surface Related Multiple Attenuation (SRME) and Radon transform to produce seismic cross section that are free of multiples. The obtained results shows the combination of SRME and Radon transform are effective to reduce long period multiples in near offset, middle offset and far offset. These combinations also relieve some insignificant primary reflectors due to mixed signal and multiple in the same moveout domain. The combination of these two methods is good for eliminating multiple types of water bottom multiple in deepwater seismic data, and improve the quality of the signal to noise ratio

    COMMUNITY STRUCTURE AND HEALTHINESS OF MANGROVE IN MIDDLEBURG-MIOSSU ISLAND, WEST PAPUA

    Full text link
    Ekosistem mangrove memiliki peranan penting bagi eksistensi dan penyediaan jasa ekosistem kepada masyarakat di pulau kecil. Fungsionalitas mangrove sangat tergantung dari ukuran, struktur komunitas dan kualitas ekosistem. Penelitian tentang penilaian kualitas struktur komunitas mangrove pulau kecil telah dilakukan di Pulau Middleburg-Miossu sebagai rangkaian dari Ekspedisi Nusa Manggala 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas dan indeks kesehatan mangrove (MHI) mangrove di pulau tersebut yang dihubungkan dengan indeks-indeks vegetasi berbasis pengindraan jauh. Lokasi penelitian dibagi menjadi empat zona (Z1-Z4) dan hasil penelitian menunjukkan bahwa zona terdepan didominasi oleh jenis Sonneratia alba (INP 263,32%) dengan persentase tutupan kanopi < 50%, ukuran diameter > 20 cm dan ketinggian tegakan yang lebih rendah. Sementara itu, tiga zona lainnya ke arah darat, didominasi oleh jenis Ceriops tagal dengan persentase tutupan kanopi >80%, serta kerapatan pancang yang cukup tinggi. Secara keseluruhan, kondisi kesehatan mangrove di lokasi penelitian termasuk dalam kategori sedang/cukup baik dengan rentang nilai MHI 38,7-60,7%. Berdasarkan analisis AIC, kombinasi indeks vegetasi NBR, GCI, SIPI dan ARVI menunjukkan nilai koefisien regresi yang paling tinggi untuk memprediksi nilai MHI, yaitu 0,831. Interpolasi nilai MHI berdasarkan model regresi linier terbaik menunjukkan bahwa 6,56 ha mangrove di lokasi penelitian atau 40,74% termasuk dalam kategori sehat.Mangrove ecosystem plays important role in a small island’s existence and provided ecosystem services. Its functionality highly depends on the size, community structure, and ecosystem quality. A field study on the mangrove quality in a small island was conducted on Middleburg-Miossu Island as a series of Nusa Manggala Expedition 2018. The study was aimed to analyze the community structure and mangrove health index (MHI) of mangroves on the island related to remote sensing-based vegetation indices. Mangrove area was divided into four zones (Z1-Z4). The study results showed that the outmost zone was dominated by Sonneratia alba (IVI 263.32%), less than 50% of canopy coverage, more than 20 cm of diameter, and a lower height. Meanwhile, the other three landward zones were dominated by type C. tagal with more than 80% of canopy coverage and higher sapling density. Based on the MHI value, mangrove in Middleburg-Miossu island was categorized into moderate ranging from 38.7 to 60.7%. Based on AIC analysis, a combination of NBR, GCI, SIPI, and ARVI vegetation indexes showed the highest regression coefficient, R2-adjusted, for predicting MHI, which was 0.831. Interpolation of the predicted MHI value from the best model showed that 6.56 ha mangroves at the research site or 40.74% were in the healthy condition

    OBSERVATION OF GROWTH OF COPEPOD AS A NATURAL FOOD SUPPLY

    Full text link
    Copepod adalah pakan alami yang memiliki ukuran kecil pada stadia naupli dengan nilai nutrisi yang tinggi. Cocok sebagai pakan awal larva ikan laut dengan bukaan mulut kecil. Tujuan penelitian mengetahui hasil panen copepod dari Genus Acartia sebagai pakan alami pada kultur masal, untuk pakan larva pada produksi benih ikan laut. Penelitian dilakukan pada Tahun 2020, di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Gondol-Bali. Penelitian dibagi menjadi 2 tahap, pertama adalah untuk mengetahui pola pertumbuhan copepod sebagai acuan panen pada penelitian ke dua. Copepod dipelihara pada 3 buah toples volume 10 L. Penelitian ke dua untuk mengetahui jumlah copepod yang dipanen pada kultur masal sebagai persedian pakan. Kultur menggunakan 3 bak fiber bervolume 1.000 L. Inokulasi yang diberikan stadia copepodit dengan kepadatan 50 ind/L. Copepod diberi pakan buatan dan dipelihara hingga kepadatan menurun. Berdasarkan pola pertumbuhan kepadatan copepod dari penelitian pertama maka panen copepod penelitian ke dua dimulai hari ke delapan. Hasil panen tertinggi stadia naupli dicapai hari ke tujuh belas dengan kepadatan 184,7 ind/L, stadia copepodit 4,4 ind/L. Hasil kulur copepod tidak cukup dipakai sebagai pakan utama pada produksi larva secara masal dan hanya dapat dipakai sebagai campuran pakan alami untuk menambah nilai nutrisi bagi larva.Copepod is a natural food that has a small size in the nauplii stage and high nutritional value. Suitable as initial feed for marine fish larvae with small mouth openings. The research aims to know the harvest of copepods from Genus Acartia in mass culture to feed larvae in marine fish seed production. The research was conducted in 2020 at the Institute for Mariculture Research and Fisheries Extension, Gondol-Bali. The first study was divided into two steps to determine the growth pattern of copepods as a harvest reference in the second study, which was the culture in 3 jars of 10 L. The second was to determine the number of copepods harvested in mass culture as a feed supply. Culture using three fiber tanks volume 1,000 L, Inoculation was given copepodite stage with a density of 50 ind/L and given artificial feed and rearing until the density decreases. Based on the pattern of density growth from the first study, the copepod harvest in the second study began on the eighth day. The highest harvest of the nauplii stage was reached on the seventeenth day with 184.7 ind/L the copepodite stage of 4,4 ind/L. The results of copepod culture are not sufficiently used as the main feed for mass larval production and can only be used as a feed mixture to add nutritional larvae

    DEFORESTATION OF MANGROVE ECOSYSTEMS ON TANAKEKE ISLAND, SOUTH SULAWESI, INDONESIA

    Full text link
    Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang utama, jika ekosistem mangrove rusak maka akan berdampak merugikan bagi manusia dan habitat sekitarnya. Penelitian ini membahas 3 (tiga) hal, (1) fenomena deforestasi hutan pada periode 1972–2013 di Tanakeke, (2) potensi deforestasi tutupan lahan mangrove di pulau Tanakeke, (3) kelembagaan konsep yang terjadi di Pulau Tanakeke selama periode 1972-2013. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya (1972-2019). Metode analisis yang digunakan adalah studi literatur, pengujian indikator dari penelitian sebelumnya, depth interview, dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan konversi lahan ekosistem mangrove secara masif telah terjadi sejak tahun 1972-1993 yang berimplikasi pada penurunan luas mangrove yang mencapai 1.166,61 ha. Sedangkan dari tahun 1993-2013, luas tutupan hutan mangrove yang hilang akibat alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak mencapai 32,25% dalam kurun waktu 20 tahun. Deforestasi yang terjadi di Pulau Tanakeke mengakibatkan kerusakan lingkungan. Fenomena kerusakan mangrove mendorong beberapa institusi untuk memotivasi keterlibatan langsung masyarakat pulau Tanakeke untuk membentuk kelembagaan dan kebijakan dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove.Mangroves are one of the main coastal ecosystems, if the mangrove ecosystem is damaged it will have detrimental impact on humans and the surrounding habitat. This study discusses three issues, (1) how the phenomenon of forest deforestation in the period 1972-2013 in Tanakeke, (2) how the potential for deforestation of land use cover of mangroves in the island of Tanakeke, (3) how the institutional concept that occurred on Tanakeke Island during the period 1972-2013. The data used in this study are secondary data obtained from the results of previous research. The analytical method used is quantitative and qualitative data analysis. The results of this study indicate land conversion massive mangrove ecosystem has occurred since 1972-1993 implicated in a broad decline that reached 1166.61 hectare mangrove. Whereas from 1993-2013 the area of ​​mangrove forest cover that was lost due to the conversion of mangrove land into ponds reached 32.25% within 20 years. Deforestation that occurred on Tanakeke Island resulted in a decline in the level of community welfare and environmental damage. The phenomenon of damage mangrove encourages some institutions to motivate directly involvement society Tanakeke island to form of institutional andpolicy in maintaining the continuity of the mangrove ecosystem

    OPTIMIZATION OF CELLULASE ENZYME ASSISTED EXTRACTION OF LIPID FROM FRESH Caulerpa lentillifera USING RESPONSE SURFACE METHODOLOGY

    Full text link
    Caulerpa lentillifera merupakan rumput laut hijau yang memiliki potensi besar namun kelimpahannya belum banyak dieksplorasi. Rumput laut tersebut tersebar pada beberapa wilayah perairan di Indonesia. Rumput laut diketahui memiliki kadar lemak yang rendah namun tersusun oleh poli asam lemak tidak jenuh. Ekstraksi lemak pada umumnya hanya menggunakan pelarut organik. Pada proses ekstraksi diperlukan perlakuan awal seperti enzyme assisted extraction untuk mendegradasi dinding sel dan meningkatkan akses pelarut masuk ke dalam sel. Penelitian dirancang untuk mengetahui kondisi optimum proses enzyme assisted extraction lemak rumput laut hijau segar C. lentillifera dengan menggunakan enzim selulase. Proses optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) model Central Composite Design dengan 15 perlakuan. Perlakuan didapatkan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas, diantaranya konsentrasi enzim, suhu hidrolisis, dan waktu hidrolisis terhadap variabel terikat yaitu jumlah ekstrak lemak dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian didapatkan model 2FI dan Linier berturut-turut untuk variabel terikat jumlah lemak dan aktivitas antioksidan. Kondisi optimum yang diperoleh yaitu konsentrasi enzim sebesar 2%, suhu hidrolisis sebesar 30 °C, dan waktu hidrolisis selama 1 jam. Kondisi optimum tersebut kemudian dapat diverifikasi dengan diberikan perlakuan terpilih sebanyak 2 kali ulangan atau lebih hingga mendekati hasil prediksi. Asam lemak yang diperoleh setelah metilasi dan identifikasi dengan GC-MS yaitu asam palmitat dan asam laurat. Optimasi proses ekstraksi lemak memungkinkan potensi pemanfaatan lemak dari rumput laut segar C. lentillifera berdasarkan faktor yang memengaruhi.Caulerpa lentillifera is one of the most potential green seaweed to explored. It is abundantly available and cultivated in several region in Indonesia. Seaweed is well-known as a low lipid content but it is arranged by polyunsaturated fatty acid. Generally, organic solvent is used for lipid extraction. In an extraction method needs pre-treatment such as enzyme assisted extraction for degrading its cell wall and increasing solvent access to entry the cell. This research was designed to study the optimum condition of lipid enzyme assisted extraction process using cellulase from fresh green macroalga C. lentillifera. The optimization was carried out by Response Surface Methodology (RSM) using Central Composite Design (CCD) model with 15 runs. The aim of this study was to analyze the effect of some independent variables namely enzyme concentrations, hydrolysis temperatures, and hydrolysis times respectively to the dependent variables of lipid content and antioxidant activity. The optimum condition obtained from this experiment was 2% enzyme concentration, 30 °C hydrolysis temperature, and 1 h. The optimum condition could then be verified by making 2 or more replications of the chosen treatment approached the predicted result based on software Design Expert vers. 10 prediction. After methylation, extracted fatty acids were identified as palmitic acid and lauric acid using GC-MS. Extraction optimization enables to explore C. lentillifera’s lipid based on influence factors

    STUDY OF SUITABILITY AND ZONATION OF LAMPUNG BAY WATERS TOWARDS PHYSICAL CARRYING CAPACITY OF THE AREA FOR GROUPER CULTIVATION IN FLOATING NET CAGES

    Full text link
    Pada tahun 1990, usaha budidaya ikan kerapu dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA) mulai dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan mengkaji kesesuaian lahan dan zonasi perairan terhadap daya dukung fisik kawasan teluk lampung untuk budidaya ikan kerapu di KJA. Penilaian kesesuaian berdasarkan pada aspek fisik, kimia dan sosial ekonomi. Daya dukung fisik kawasan dianalisis dari hasil kriteria kesesuaian dan kemudian dilanjutkan dengan kesesuaian berdasarkan overlay dengan rencana zonasi. Hasil studi menunjukkan bahwa berdasarkan analisis kesesuaian yang memiliki kesesuaian tinggi seluas 67,64 ha, sedang 5.838,17 ha, rendah 3.214,89 ha dan tidak sesuai 35,95 ha. Analisis selanjutnya dengan melakukan overlay dengan rencana zonasi (RZWP3K) terjadi perubahan luasan dimana terjadi penurunan luas areal kesesuaian tinggi menjadi 1.446, 28 ha, sedang 23,71 ha dan rendah 440,05 ha, sementara untuk areal yang tidak sesuai mengalami peningkatan menjadi 7.226,62 ha. Daya dukung fisik kawasan teluk lampung adalah sebanyak 13.450 unit KJA atau dengan potensi produksi sebanyak 24.754 ton. Dengan penurunan luasan areal yang sesuai berpengaruh terhadap penurunan daya dukung fisik menjadi sebanyak 4.545 unit KJA atau potensi produksi sebanyak 8.365 ton. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa overlay dengan rencana zonasi mengurangi luasan areal yang sesuai untuk kegiatan budidaya KJA yang selanjutnya menyebabkan penurunan daya dukung fisik kawasan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap rencana zonasi dan penataan kawasan budidaya di teluk Lampung agar lebih didasarkan pada kriteria kesesuaian lahan.In 1990, grouper cultivation using floating net cages (KJA) was developed to meet market demand. This study aimed to assess the suitability and zoning of water towards the physical carrying capacity of the Lampung bay area for grouper cultivation in floating net cages (KJA). The suitability assessment was based on physical, chemical, and socio-economic aspects. The physical carrying capacity of the area was analyzed from the results of the suitability criteria. The area that met the suitability criteria of Lampung bay were high (67.64 ha), medium (5,838.17 ha), low (3,214.89 ha), and not suitable (35.95 ha). The next step is overlaying with zoning; it has a result that a decrease of the area of ​​high suitability to (1,446. 28 ha), medium (23.71 ha), and low (440.05) ha and not suitable area increased to (7,226.62 ha). The physical carrying capacity of the Teluk Lampung area is 13,450 KJA units or with a production potential of 24,754 tons. With a decrease in the suitable area, the physical carrying capacity will decrease to 4,545 units of KJA or a production potential of 8,365 tons. The results of this study indicate that the overlay with the zoning plan reduces the area suitable for KJA cultivation activities which in turn causes a decrease in the physical carrying capacity of the area

    NATURAL REGENERATION OF MANGROVE SEEDLINGS IN BENOA BAY, BALI

    Full text link
    Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam kawasan pesisir baik secara langsung maupun tidak langsung. Kelestarian ekosistem mangrove dapat digambarkan dari kelimpahan semaian. Penelitian tentang status regenerasi alami mangrove telah dilakukan di kawasan Teluk Benoa, Bali. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat regenerasi mangrove berdasarkan kelimpahan semai, serta hubungannya dengan karakter ekologi mangrove dalam kawasan. Area penelitian dibagi menjadi tiga zona dengan total 30 titik pengambilan sampel dengan distribusi yang proporsional. Pada setiap titik dilakukan pengambilan data struktur komunitas semai, tegakan dewasa (pohon, pancang) dan parameter lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan status regenerasi mangrove di kawasan ini termasuk dalam kategori cukup baik, berdasarkan perbandingan dari kelimpahan semaian dengan tegakan kategori pancang dan pohon. Kerapatan semai tertinggi ditemukan pada zona 2 yang didominasi oleh Rhizophora mucronata dengan rata-rata sebesar 4800 ± 5610 tegakan/ha yang berbeda signifikan dengan dua zona lainnya. Variasi kondisi struktur komunitas mangrove pada tiga zona tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelimpahan semai. Sementara itu, dua faktor lingkungan yaitu pH dan potensial redoks memiliki korelasi yang positif dan signifikan memengaruhi jumlah sebaran semai mangrove di dalam kawasan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa tingkat regenerasi mangrove masih mampu bertahan dalam tekanan habitat yang cukup tinggi.Mangrove ecosystems have an important role in coastal areas either directly or indirectly. The preservation of the mangrove ecosystem can be described from the seedlings\u27 abundance. Mangrove natural regeneration status was carried out in the Benoa Bay, Bali. The study was aimed to analyze the current natural mangrove regeneration based on the seedling abundance and its correlation with ecological characters. The study area was divided into three zones consist of 30 sampling quadratic plots in total. Seedling and mature stands community structure and environmental parameters data were collected from each plot. Based on the result, the mangrove regeneration state was categorized as fairly good condition. It was implied by seedling abundance compared with tree and sapling density. The highest seedling density was found in zone 2 which was dominated by Rhizophora mucronata with an average of 4800 ± 5610 stands/ha. It was significantly different from the other two zones. Variations of the community structure in the three zones had no significant influence on seedlings distribution. Only two environmental factors i.e. pH and redox potential, had a positive correlation and significant correlation with the abundance of mangrove seedlings. The result indicated that the mangrove regeneration state in this area was maintained even though it had faced variable threats

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    RESEARCH OF BIGEYE SCAD SUPPLY CONDITION (Selar Crumenophthalmus) IN WEST SERAM WATERS, MALUKU

    Full text link
    Ikan selar adalah sumberdaya perikanan pelagis kecil yang potensial di perairan teritorial Indonesia dan berada di Provinsi Maluku, khususnya di perairan Seram Barat. Penelitian ini dilakukan di perairan Seram Barat, Maluku, dari bulan Maret 2018 sampai Februari 2019. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kondisi stok ikan Selar (Selar crumenopththalmus) didasarkan pada dinamika populasi dari distribusi frekuensi panjang. Contoh ikan dikoleksi tiap bulan di tempat pendaratan dari nelayan lift net. Total 1890 individu dikoleksi selama penelitian kecuali bulan Juni yang terdiri dari 925 jantan dan 965 betina dengan panjang berkisar dari 13,3 cm sampai 27,2 cm yang terdiri dari 2 dan 3 kelompok umur tiap bulan. Kondisi stok ikan selar didasarkan pada analisis hasil per penambahan individu baru menunjukkan bahwa stok masih di bawah tingkat MSY (0,03 dari 0,047) yang diperoleh dari L∞= 27,40 cm, K= 1,55/yr, Z= 3,66/tahun, M= 2,51/tahun, F= 1,15/tahun, E= 0,32/tahun, Lc (panjang utk pertama kali tertangkap)= 19,92 cm and t0= -0,10/ yr. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Lc ikan selar di Perairan Seram Barat akan semakin selektif dan sebaliknya.Selar fish is a potential small pelagic fishery resource in Indonesian territorial waters and is located in Maluku Province, it specially in west seram waters. This research was carried out in the waters of West Seram, Maluku, from March 2018 to February 2019. The objective of research was to study the stock condition of bigeye scad, Selar crumenophthalmus, based on population dynamic from length frequency distribution. Fish samples were collected every month at fish landing from lift net fishers. Totally, there were 1890 individuals collected during the study, excepted June, composed of 925 males and 965 females with the length size ranging from 13.3 cm to 27.2 cm which was composed of 2 and 3 cohorts every month. Condition stock of bigeye scad based on yield per recruit analysis showed that the stock was still below the level of MSY (0.03 of 0.047), obtained from L∞ was 27.40 cm, K was 1.55/yr, Z was 3.66/yr, M was 2.51/yr, F was 1.15/yr, E was 0.32/yr, Lc was 19.92 cm and t0 was -0.10 /yr. This shows that the higher Lc value of selar fish in west seram waters more selective and otherwise

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇