Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
Analisis Kualitas Garam Lokal di Kabupaten Aceh Timur Dengan Berbagai Metode Pengolahan Garam: Analysis of Local Salt Quality in East Aceh Regency with Various Salt Processing Methods
Garam merupakan salah satu komoditas lokal yang dihasilkan oleh masyarakat di Kabupaten Aceh Timur. Garam ini banyak dimanfaatkan sebagai zat aditif untuk proses pengolahan beberapa komoditas lainnya diantaranya pengawetan ikan dan pembuatan asam sunti. Kualitas garam sangat dipengaruhi oleh kepekatan air laut dan metode pengolahannya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh metode pengolahan produksi garam terhadap kualitas garam yang dihasilkan dan membandingkan hasil analisis dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk garam konsumsi beryodium. Manfaat dalam penelitian ini adalah memberikan informasi kepada petani garam terkait kualitas garam yang dihasilkan dalam rangka peningkatan kuantitas dan kualitas garam sesuai standar SNI. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian komparatif, yaitu membandingkan parameter kualitas garam yang diproduksi dengan cara geomembran (G1), perebusan (G2) dan gabungan keduanya (G3). Parameter mutu yang dianalisis adalah kadar air, kadar NaCl, kadar iodium, dan bagian yang tidak larut dalam air. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar air pada G1, G2, G3 berturut-turut adalah 1, 7, dan 6,4, kadar NaCl pada G1, G2, G3 berturut-turut adalah 12,51; 10,98; 12,29; bagian tidak larut dalam air pada G1, G2, G3 berturut-turut adalah 2, 4, 2,5 dan kadar iodium pada G1, G2, G3 berturut-turut adalah 34,65; 42,49; 47,46 sehingga dapat disimpulkan bahwa metode produksi secara geomembran memiliki kualitas garam yang lebih baik dibandingkan dengan metode produksi perebusan dan gabungan antara keduanya. Kadar NaCl dan kadar iodin yang dihasilkan melalui produksi geomembran sudah mencapai standar SNI 3556:2010 tentang garam konsumsi beryodium.Salt is one of the local commodities produced by the people of East Aceh District. This salt is widely utilized as an additive substance in the processing of various commodities, including fish preservation and the production of “asam sunti”. The quality of salt is greatly influenced by the concentration of seawater and their processing method. The purpose of this study was to examine the effect of production salt processing methods on the quality of the salt produced and to compare the results of analysis with SNI for consumption of iodized salt. The method used in this study is a comparative research method, which compares the quality parameters of salt produced by geomembrane (G1), boiling (G2) and a combination both of them (G3). The quality parameters analyzed were water content, NaCl content, iodine content, and water insoluble portion. The results of analysis compared with the standard SNI 3556: 2016 Concerning Iodized Consumable Salt show that the water content in G1, G2, G3 is 0, 7, and 6,4 respectively, the NaCl level in G1, G2, G3 is 120, respectively. 51, 10.98, 12.29, the water insoluble portion in G1, G2, G3 was 2, 4, 2,5 respectively and the iodine content in G1, G2, G3 was 34,65, 42,49, 47,46 respectively, so it can be concluded that geomembrane production method has better salt quality compared to the boiling production method and a combination of the two. NaCl levels and iodine levels produced through the production of geomembranes have reached the established standards SNI 3556:2010 concerning Iodized consumption salt
Kondisi Terumbu Karang dan Ikan Karang di Pulau Maitara Selatan, Kota Tidore Kepulauan: Coral Reef and Reef Fish Conditions in South Maitara Island, Tidore Islands City
Maitara Selatan merupakan bagian dari Pulau Maitara yang kaya akan sumber daya alam, terutama ekosistem terumbu karang dan ikan karang. Ekosistem ini berperan penting dalam mendukung perekonomian lokal, baik melalui sektor perikanan maupun pariwisata. Oleh karena itu, keberlanjutannya harus dijaga agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi terumbu karang dan ikan karang di perairan Maitara Selatan. Penelitian dilakukan pada April 2024 dengan metode Line Intercept Transect (LIT) sepanjang 50 meter untuk pengambilan data karang, serta metode Visual Census pada kedalaman 8 meter untuk pendataan ikan karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di lokasi penelitian tergolong buruk, dengan tutupan karang hidup hanya 17% dan didominasi oleh patahan karang sebesar 66%. Sensus visual mencatat 80 spesies ikan mayor dari 6 famili, 8 spesies ikan indikator dari famili Chaetodontidae, serta 50 spesies ikan target dari 3 famili. Indeks kelimpahan ikan berkisar antara 0,03 hingga 0,32, indeks keanekaragaman antara 0,17 hingga 0,37, dan indeks keseragaman antara 0,2 hingga 0,4. Hasil ini menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang dan organisme yang berasosiasi di perairan Maitara Selatan mengalami tekanan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi dan strategi pengelolaan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta memastikan manfaat ekonomi dan lingkungan dari ekosistem ini tetap terjaga.South Maitara is part of Maitara Island, rich in natural resources, particularly coral reefs and reef fish. This ecosystem plays a crucial role in supporting the local economy, both through fisheries and tourism. Therefore, maintaining its sustainability is essential to ensure long-term benefits for the community. This study aims to assess the condition of coral reefs and reef fish in the waters of South Maitara. The research was conducted in April 2024, utilizing the Line Intercept Transect (LIT) method along a 50-meter transect for coral data collection and the Visual Census method at an 8-meter depth for reef fish assessment. The findings indicate that the coral reef condition in the study area is categorized as poor, with only 17% live coral cover and 66% dominated by coral rubble. The visual census recorded 80 major fish species from 6 families, 8 indicator fish species from the Chaetodontidae family, and 50 target fish species from 3 families. The fish abundance index ranged from 0.03 to 0.32, the diversity index from 0.17 to 0.37, and the uniformity index from 0.2 to 0.4. These results highlight the significant pressure on coral reefs and associated marine organisms in South Maitara. Therefore, conservation efforts and sustainable management strategies are crucial to preserving the ecological balance and ensuring the continued economic and environmental benefits of this ecosystem
Estimasi Simpanan Karbon Organik pada Ekosistem Mangrove di Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Pemalang: Estimation of Organic Carbon Stocks in The Mangrove Ecosystem in Mojo Village, Ulujami District, Pemalang
Ekosistem mangrove sebagai salah satu ekosistem pesisir memiliki peranan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim khususnya dalam penyerapan gas CO2. Hutan mangrove di Desa Mojo yang memiliki luasan terbesar di Kabupaten Pemalang tidak saja mengalami ancaman abrasi pantai, tetapi juga deforestasi untuk lahan tambak. Melihat fungsi ekologis mangrove yang tinggi dalam penanggulangan perubahan iklim, maka perlu dilakukan perhitungan estimasi simpanan karbon di ekosistem tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey untuk menganalisis indeks ekologi dan estimasi serapan karbon pada biomassa dan sedimen mangrove. Indeks Nilai Penting menunjukkan bahwa jenis pohon mangrove Avicennia alba memiliki tingkat kerapatan dan penutupan yang tinggi dibandingkan tiga jenis mangrove lainnya yang ditemukan yaitu Sonneratia caseolaris, Avicennia marina, dan Rhizopora mucronata, Tingginya nilai kerapatan dan penutupan jenis ini menjadikan pohon Avicennia alba sebagai jenis mangrove yang memiliki estimasi kandungan karbon biomassa tertinggi. Estimasi simpanan karbon biomassa mangrove di lokasi penelitian adalah 21,55–144,22 ton C/ha, sedangkanestimasi simpanan karbon pada sedimen mangrove berkisar 98,45–181,06 ton C/ha. Estimasi total simpanan karbon di ekosistem mangrove Desa Mojo Pemalang berkisar 112,43 – 247,98 ton C/ha dengan rata-rata 155,13 ton C/ha.The mangrove ecosystem as a coastal ecosystem is important in reducing the impact of climate change, especially in absorbing CO2 gas. The mangrove forest in Mojo Village, which had the largest area in Pemalang Regency, was not only threatened by coastal erosion but also faced deforestation for shrimp pond development. Considering the high ecological function of mangroves in climate change mitigation, it was essential to calculate carbon storage estimates in this ecosystem. The methodology employed in this study involved a survey method to analyze ecological indices and estimate carbon sequestration in mangrove biomass and sediments. The Importance Value Index indicated that the Avicennia alba mangrove species exhibited higher density and canopy coverage compared to the other three found species: Sonneratia caseolaris, Avicennia marina, and Rhizophora mucronata. The high density and canopy coverage of Avicennia alba made it the mangrove species with the highest estimated carbon biomass content. The estimated carbon storage in mangrove biomass at the research site ranged from 21.55 to 144.22 tons C/ha, while the estimated carbon storage in mangrove sediments varied from 98.45 to 181.06 tons C/ha. The total carbon storage estimate in the mangrove ecosystem of Mojo Village, Pemalang, ranged from 112.43 to 247.98 tons C/ha, with an average of 155.13 tons C/h
Peluang Bisnis dan Sumber Gizi Hewani dari Perikanan Produk Ikan Tangkap Lestari Kabupaten Buton Utara: The Business Opportunity and Animal-Based Source of Nutrition from Sustainable Ocean Catch Fisheries of Buton Utara District
Potensi perikanan tangkap di perairan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri produk laut dan mengurangi angka stunting, yang masih mencapai 21,6% pada tahun 2022. Konsumsi protein hewani dari hasil laut yang rendah, kurang dari 10 gram/hari, menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan masyarakat ini, meskipun potensi hasil tangkapan mencapai lebih dari 10 juta ton per tahun. Potensi ini membuka peluang pasar untuk mengolah ikan seperti cakalang dan tuna, baik untuk kebutuhan lokal maupun memenuhi permintaan global yang mencapai 180,07 juta metrik ton. Kajian ini mengulas potensi sumber daya perikanan di wilayah Buton Utara sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi dan ketersediaan produk nutrisi berkualitas tinggi. Pengembangan produk perikanan olahan, baik dalam bentuk kering maupun awetan, dapat menjangkau pasar domestik dan internasional melalui penerapan standar keamanan pangan dan regulasi yang berlaku. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, kelompok nelayan, koperasi, dan organisasi non-profit menjadi kunci untuk merancang program berkelanjutan dan mengatasi hambatan di sektor perikanan. Pendekatan pengelolaan perikanan berkelanjutan, dengan penekanan pada praktik penangkapan selektif dan penentuan jumlah tangkapan optimal — yang dikenal sebagai Optimum Sustainable Yield (OSY) — memastikan keberlanjutan sumber daya laut untuk kesejahteraan masyarakat. Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam proses pascapanen dapat meningkatkan kualitas produk, memperpanjang masa simpan, serta meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan, mendukung upaya nasional dalam memperbaiki status gizi dan mendorong kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.Indonesia\u27s capture fisheries hold significant potential to boost the seafood industry and reduce stunting, which affected 21.6% of children in 2022. Low consumption of marine-derived animal protein, averaging less than 10 grams/day, contributes to this public health issue despite an annual fishery potential exceeding 10 million tons. This untapped resource presents opportunities to process species like skipjack and tuna to meet local needs and global demand, which reached 180.07 million metric tons. This review highlights North Buton’s fishery resources as a driver of economic and nutritional value. Developing processed seafood products for local and international markets requires compliance with food safety standards and regulatory guidelines. Collaboration among government bodies, researchers, fisher groups, and NGOs is essential to design sustainable programs and address sectoral challenges. Adopting sustainable fisheries management — emphasizing selective fishing and Optimum Sustainable Yield (OSY) — preserves marine resources while benefiting communities. Implementing Indonesian National Standards (SNI) in post-harvest processes can improve product quality, extend shelf life, and elevate economic returns, supporting national goals to enhance nutrition and public health
Estimation of Total Suspended Solids in the Ujung Pangkah Estuary Using Multi-Temporal Sentinel-2 Satellite Imagery: Estimasi Total Padatan Tersuspensi di Muara Ujung Pangkah Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 Multitemporal
Kehadiran bahan terlarut dalam air berupa TSS berdampak pada sifat optik air laut. Fenomena ini dapat terukur dan bisa diamati dengan menggunakan teknik penginderaan jauh. Untuk memperkirakan konsentrasi TSS menggunakan metode penginderaan jauh, harus digunakan berbagai algoritma untuk mengubah nilai reflektansi piksel menjadi konsentrasi TSS. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengestimasi dan memetakan konsentrasi TSS menggunakan data citra satelit multitemporal Sentinel-2 dan membandingkan beberapa algoritma TSS berdasarkan analisis citra dengan pengukuran lapang. Citra satelit multi temporal Sentinel-2 dari tahun 2020-2022 digunakan untuk penelitian ini. Hasil TSS dari pengolahan citra dibandingkan dengan pengukuran lapangan dari 25 titik pengambilan sampel. Pengukuran di lapangan menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi TSS di wilayah studi berkisar antara 24 dan 127 mg/l. Algoritma Liu dan Budiman menghasilkan estimasi TSS dengan standar deviasi tertinggi, sedangkan data algoritma LEL menunjukkan deviasi lebih kecil. Dalam penelitian ini, algoritma LEL lebih valid untuk memperkirakan TSS in-situ (RMSE = 10.75, MAPE = 3.97% dan R2 model regresi = 0.85).The presence of dissolved materials in seawater, particularly Total Suspended Solids (TSS), significantly affects its optical properties. This phenomenon can be quantitatively observed through remote sensing techniques, which require various algorithms to convert pixel reflectance values into TSS concentrations. This study has two primary objectives: (1) to estimate and map TSS concentrations using multitemporal Sentinel-2 satellite imagery and (2) to compare multiple TSS estimation algorithms by analyzing satellite-derived data against in situ measurements. Sentinel-2 images from 2020 to 2022 were utilized, and TSS concentrations were derived using the Liu, Budiman, and Prasetyo algorithms. The satellite-derived TSS values were validated against field measurements from 25 sampling points. Accuracy was assessed using Root Mean Squared Error (RMSE) and Mean Absolute Percentage Error (MAPE). In situ measurements indicated that TSS concentrations in the study area ranged from 24 to 127 mg/L. The Liu and Budiman algorithms exhibited the highest standard deviation in TSS estimates, while the Prasetyo algorithm demonstrated lower deviations, yielding more reliable results. Statistical validation confirmed that the Prasetyo algorithm provided the most accurate estimation of in situ TSS concentrations (RMSE = 10.75, MAPE = 3.97%, R² = 0.85). These findings highlight the effectiveness of remote sensing for TSS monitoring and underscore the importance of selecting appropriate algorithms for accurate water quality assessment
Sebaran Spasial Plankton dan Klorofil-a sebagai Indikator Penentuan Daerah Potensial Penangkapan Ikan di Perairan Gili Trawangan: Spatial Distribution of Plankton and Chlorophyll-a as Indicators for Determining Potential Fishing Grounds in the Waters of Gili Trawangan
A high abundance of plankton serves as an indicator of water fertility and can be used to identify potential fishing grounds. Fishing grounds are determined by analyzing the presence and density of fish schools in a given area. This study aims to assess the spatial distribution of phytoplankton, zooplankton, and chlorophyll-a to identify potential fishing zones. The research was conducted in March 2024 in Gili Trawangan, covering 12 sampling stations. Sampling locations were selected using a purposive sampling method based on water characteristics, prioritizing areas with high plankton and chlorophyll-a concentrations. The results indicate that the southern waters of Gili Trawangan, particularly Stations 03 and 05, have strong potential as fishing zones due to their high phytoplankton, zooplankton, and chlorophyll-a concentrations. Similarly, Station 09 in the eastern waters exhibits the highest abundance of all parameters; however, its proximity to the harbor makes it unsuitable for fishing activities. Overall, Gili Trawangan meets the criteria for a viable fishing ground due to the high abundance of plankton species, which serve as a primary food source for fish. The dominant plankton species in these waters include Coscinodiscus sp., Rhizosolenia sp., and Nauplius sp.. A higher plankton abundance correlates with increased water productivity, leading to greater fish availability in these waters.Kelimpahan plankton yang tinggi dapat menjadi indikator kesuburan perairan dan dimanfaatkan sebagai penentu lokasi daerah penangkapan ikan (fishing ground). Daerah penangkapan ikan dapat diidentifikasi berdasarkan keberadaan dan jumlah gerombolan ikan di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial fitoplankton, zooplankton, dan klorofil-a guna menentukan zona potensial daerah penangkapan ikan. Penelitian dilakukan pada Maret 2024 di perairan Gili Trawangan dengan 12 titik stasiun pengambilan sampel. Penentuan lokasi sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan karakteristik perairan, dengan fokus pada area yang memiliki kelimpahan plankton dan klorofil-a yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan bagian selatan Gili Trawangan, khususnya Stasiun 03 dan 05, memiliki potensi tinggi sebagai zona daerah penangkapan ikan karena tingginya kelimpahan fitoplankton, zooplankton, dan klorofil-a. Hal serupa juga ditemukan pada Stasiun 09 di perairan timur Gili Trawangan, yang memiliki kelimpahan tertinggi dari seluruh parameter yang diukur. Namun, lokasi ini berada di sekitar kawasan pelabuhan sehingga kurang sesuai untuk kegiatan perikanan. Secara keseluruhan, perairan Gili Trawangan memenuhi kriteria sebagai zona potensial daerah penangkapan ikan karena tingginya kelimpahan plankton yang berperan sebagai sumber makanan utama bagi ikan. Jenis plankton yang paling dominan di perairan ini antara lain Coscinodiscus sp., Rhizosolenia sp., dan Nauplius sp.. Semakin tinggi kelimpahan plankton di suatu perairan, semakin tinggi produktivitas perairan tersebut, yang berdampak pada meningkatnya jumlah ikan yang tersedia
Analisis Perbandingan Kualitas Air Laut Teluk Youtefa dan Yos Sudarso, Jayapura, Papua: Comparative Analysis of Seawater Quality of Youtefa and Yos Sudarso Bay, Jayapura, Papua
Youtefa Bay and Yos Sudarso Bay are bays located in Jayapura City. Yotefa Bay is a semi-closed coastal area because it is a small bay located in Yos Sudarso Bay. This condition makes the two bays have quite striking differences in sea dynamics. This is reinforced by the geographical location of the waters of Jayapura City which directly faces the Pacific Ocean which greatly affects the condition of the waters and the richness of its ecosystem. The richness of the coastal ecosystem in Youtefa Bay and Yos Sudarso Bay is closely related to the lives of the people living around the two bays. This study aims to analyze the comparison of seawater quality parameters in Youtefa Bay and Yos Sudarso Bay. The seawater quality data in question are temperature, salinity, and dissolved oxygen (DO) data. The study was conducted by taking temperature, salinity, and DO data in both bays at depths of 0 meters, 3 meters, and 5 meters. From these data, a comparative analysis will be carried out between sampling points to see the differences in values. In addition, an analysis of the average parameter differences between the two bays was also carried out. Based on the research results, each parameter has a fairly uniform distribution between each sampling point in each bay. The average temperature and DO values in Youtefa Bay are higher than Yos Sudarso Bay because Yotefa Bay is a semi-enclosed water with many seagrass ecosystems in the bay. In addition, the average salinity value of Yos Sudarso Bay is higher than Youtefa Bay because Youtefa Bay receives direct input from the Pacific Ocean. Thus, based on the analysis, the temperature and salinity of the two bays show significant differences compared to the DO values in the two bays.Teluk Youtefa dan Teluk Yos Sudarso merupakan merupakan teluk yang terletak di Kota Jayapura. Teluk Yotefa merupakan kawasan pesisir semi tertutup karena merupakan teluk kecil yang berada di dalam Teluk Yos Sudarso. Kondisi ini membuat kedua teluk memiliki perbedaan dinamika laut yang cukup mencolok. Hal tersebut diperkuat dengan letak geografis perairan Kota Jayapura yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik yang sangat memengaruhi kondisi perairan dan kekanyaan ekosistemnya. Kekayaan ekosistem pesisir pada Teluk Youtefa dan Teluk Yos Sudarso sangat berhubungan dengan kehidupan Masyarakat yang tinggal disekitar kedua teluk tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan parameter kualitas air laut Teluk Youtefa dan Teluk Yos Sudarso. Data kuliatas air laut yang dimaksud merupakan data suhu, salinitas, dan oksigen terlarut (DO). Penelitian dilakukan dengan mengambil data suhu, salinitas, dan DO pada kedua teluk pada kedalaman 0 meter, 3 meter, dan 5 meter. Dari data-data tersebut selanjutnya akan dilakukan analisis perbandingan antar titik sampling untuk melihat perbedaan nilainya. Selain itu, juga dilakukan analisis perbedaan rata-rata parameter antar kedua teluk. Setiap parameter memiliki persebaran yang cukup seragam antara setiap titik sampling di masing-masing teluk. Nilai rata-rata suhu dan DO di Teluk Youtefa lebih tinggi dibandingkan Teluk Yos Sudarso karena Teluk Yotefa merupakan perairan semi tertutup dengan banyaknya ekosistem lamun pada Teluk tersebut. Selain itu, rata-rata nilai salinitas Teluk Yos Sudarso lebih tinggi dibandingkan Teluk Youtefa karena pada Teluk Youtefa mendapat masukan langsung dari Samudera Pasifik. Dengan demikian, berdasarkan analisis, suhu dan salinitas kedua teluk menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan nilai DO pada kedua teluk
Distribusi Bahan Organik dan Fraksi Sedimen di Perairan Teluk Lampung: Distribution of Sediment Fractions and Organic Matter in Lampung Bay
Deposisi sedimen di perairan sangat dipengaruhi oleh proses-proses pantai yang menyebabkan variasi karakteristik fisik dan kimiawinya. Penelitian ini mengungkap komposisi ukuran sedimen dan bahan organik di sedimen Teluk Lampung untuk menduga proses deposisi. Analisis fraksi sedimen dilakukan berdasarkan pada American Society for Testing and Materials (ASTM) standards D422-63, sedangkan bahan organik dilakukan dengan menggunakan metode loss on ignition (LOI). Fraksi pasir lanau (75,95-78,73%) dan fraksi lempung (18,27-20,28%) memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan fraksi pasir (3,00-3,81%). Kandungan organik di sedimen perairan Teluk Lampung berkisar antara 10,67-13,48%. Distribusi fraksi sedimen dan bahan organik di perairan Teluk Lampung tidak berbeda signifikan antar stasiun, yang artinya stasiun yang berada di dekat kepala teluk (TL 1 dan TL 2) memiliki persentase fraksi sedimen dan bahan organik yang tidak berbeda signifikan dengan stasiun yang berada di tengah atau ke arah mulut teluk (TL 3-TL5).Sediment deposition in waters is considerably influenced by coastal processes causing variations in their physical and chemical characteristics. This study reveals the size composition of sediments and organic matter in Lampung Bay sediments how deposition processes occurAnalysis of the sediment fraction was carried out based on the American Society for Testing and Materials (ASTM) standards D422-63, while the organic matter was carried out using the loss on ignition (LOI) method. The silt sand fraction (75.95-78.73%) and clay fraction (18.27-20.28%) have a higher percentage than the sand fraction (3.00-3.81%). Then, the organic content in the sediments of Lampung Bay waters ranges from 10.67-13.48%. The distribution of sediment and organic matter fractions in the waters of Lampung Bay was not significantly different between stations, which means that stations near the head of the bay (TL 1 and TL 2) had a percentage of sediment and organic matter fractions that were not significantly different from stations in the middle or towards the mouth of the bay (TL 3-TL5)
Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Berbasis Daya Dukung Kawasan di Kelurahan Oesapa Barat Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang: Mangrove Based Ectourism Development Strategy Potential Carrying Capabilities of The Area in West Oesapa Village Kelapa Lima District, Kupang City
Ekowisata mangrove di Kelurahan Oesapa Barat merupakan ekowisata yang berada di kawasan padat penduduk, sehingga apabila ekowisata ini tidak dikelola dengan baik maka berakibat fatal terhadap ekosistem mangrove tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian sumberdaya ekowisata mangrove dan juga daya dukung kawasan mangrove serta bagaimana strategi pengembangannya sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan dalam membuat kebijakan pengelolaan ekowisata mangrove ini kedepan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, wawancara dan juga mengumpulkan data dari penelitian sebelumnya yang dilakukan di daerah penelitian, kemudian untuk merumuskan strategi pengembangan ekowisata mangrove menggunakan analisis SWOT. Hasil analisis data kesesuaian sumberdaya ekowisata mangrove berada pada level sesuai dengan nilai sebesar 2,24 dengan jumlah pengunjung di kawasan ekowisata sesuai dengan perhitungan daya dukung kawasannya sebanyak 84 orang perhari dengan waktu operasional kawasan wisata selama 8 jam perhari. Arahan pengembangan ekowisata mangrove adalah dengan menerapkan strategi difersifikasi, artinya menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang jangka panjang guna menutup kelemahan (ancaman).
Mangrove ecotourism in West Oesapa village is ecotourism located in a densely populated area, so if this ecotourism is not managed properly it will have fatal consequences for the mangrove ecosystem. This research aims to determine the suitability of mangrove ecotourism resources and also the carrying capacity of mangrove areas as well as the development strategies so that they can be taken into consideration by stakeholders in making future management policies for mangrove ecotourism. The data collection method was carried out by direct observation, interviews and also collecting data from previous research conducted in the research area, then to formulate a strategy for developing mangrove ecotourism using SWOT analysis. The results of the data analysis of the suitability of mangrove ecotourism resources are at a level corresponding to a value of 2.24 with the number of visitors in the ecotourism area according to the calculation of the area\u27s carrying capacity of 84 people per day with an operational time of the tourist area of 8 hours per day. The direction for developing mangrove ecotourism is to implement a diversification strategy, meaning using existing strengths to take advantage of long-term opportunities to cover weaknesses (threats)
Studi Pendahuluan Karakteristik Habitat Ikan Hias Laut Endemik Banggai Cardinal Fish (Pterapogon kauderni) di Perairan Kota Baubau: Preliminary Study on Habitat Characteristics of Endemic Banggai Cardinal Fish Marine Ornamental Fish (Pterapogon kauderni) in Baubau City Waters
Ikan capungan banggai atau lebih dikenal dengan nama Banggai Cardinal Fish (BCF) merupakan ikan endemik yang berasal dari perairan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Namun, penyebarannya telah ditemukan antara lain di perairan Bali, Teluk Ambon, Kendari, Selat Lembah dan perairan Kota Baubau. Permintaan yang tinggi dari kolektor ikan hias air laut menjadikan spesies ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga spesies ini rentan terhadap eksploitasi. Penelitian ini dilakukan karena minimnya informasi mengenai spesies endemik Banggai Cardinal Fish yang ditemukan di perairan Kota Baubau. Pengambilan data kelimpahan ikan menggunakan sensus visual yaitu dengan metode Line Intercept Transect (LIT). Panjang transek yang digunakan adalah 50 meter dengan luas jangkauan 2,5 meter ke kiri dan 2,5 meter ke kanan. Pengambilan parameter kualitas perairan juga dilakukan untuk mengetahui kesesuaian habitat Banggai Cardinal Fish di perairan Kota Baubau. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji kelimpahan dan mikrohabitat Banggai Cardinal Fish sebagai informasi awal keberadaan ikan ini di Kota Baubau. Hasil dari pengamatan di 4 stasiun ditemukan total populasi 637 individu/m2, yang mendiami microhabitat yang berbeda-beda pada setiap stasiun antara lain: bulu babi, terumbu karang, lamun dan rumput laut (Sargassum sp.). Banggai Cardinal Fish yang diintroduksi mampu beradaptasi dengan lingkungan perairan yang baru. Keberadaan ikan ini terkhususnya di perairan Kota Baubau diharapkan dapat memberikan jasa ekosistem dengan tetap memperhatikan fungsi ekologisnya.The Banggai dragonfly or better known as the Banggai Cardinal Fish (BCF) is an endemic fish originating from the waters of the Banggai Islands, Central Sulawesi. However, its distribution has been found, among others, in Bali waters, Ambon Bay, Kendari waters, Strait Lembeh and the Baubau City waters. The high demand from seawater ornamental fish collectors makes this species have high economic value, so this species is vulnerable to exploitation. This research was conducted due to the lack of information regarding the endemic species of BCF found in the Baubau City waters. Fish abundance data was collected using a visual census, that is the Line Intercept Transect (LIT) method. The length of the transect used is 50 meters with a coverage area of 2.5 meters to the left and 2.5 meters to the right. Water quality parameters were also taken to determine the suitability of the Banggai Cardinal Fish habitat in the Baubau City waters. The purpose of this study was to study the abundance and microhabitat of the BCF as preliminary information on the existence of this fish in Baubau City. The results of observations at 4 stations found a total population of 637 individuals/m2, which inhabits different microhabitat at each stasiun include: sea urchins, coral reefs, seagrasses and seaweed (Sargassum sp.). The introduced Banggai Cardinal Fish are able to adapt to new aquatic environments. The existence of this fish, especially in the waters of Baubau City, is expected to provide ecosystem services while still paying attention to its ecological function