Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    814 research outputs found

    Extraction and characterization of acid-soluble collagen and pepsin-soluble collagen from the dry scales of the striped snakehead (Channa striatus)

    Get PDF
    Characteristics of collagen are influenced by the source of raw materials and extraction methods used. The aim of this research was to characterize the acid- and pepsin-soluble collagens from the dry scales of the striped snakehead (Channa striatus). Collagen was extracted using to methods including 0.5 M acetic acid and 0.1% pepsin. The yield of acid soluble collagen (KLA-SH) and pepsin soluble collagen (KLP-SH) were 0.98% and 1.94%, respectively. KLA-SH and KLP-SH contained glycine as the major amino acid and had high imino acid group content i.e 226 and 230 residues/1.000 residues, respectively. FTIR spectra of KLA-SH and KLP-SH showed that of the structure of collagen could be maintained in the form of triple helix structure. KLA-SH and KLP-SH consisted of α1- and α2-chain, β-chain, and γ-chain and is suggested as type I collagen

    ANTIOXIDANT ACTIVITY OF PROTEIN HYDROLYSATE PRODUCED FROM TUNA EYE (Thunnus sp.) BY ENZYMATIC HYDROLYSIS

    Get PDF
    Tuna (Thunnus sp.) by-products from frozen loin and canning industry especially the eye is rich in proteins and in lipids consisting of polyunsaturated fatty acids (PUFA). That requires protective agent (antioxidant) to inhibit the oxidation naturally present and predicted to be protein peptides. Enzymatic hydrolysis of protein is an appropriate method to produce bioactive peptide with such nutraceutical/pharmaceutical function such as an antioxidant peptide. This study aimed to produce protein hydrolysate having a function as anwith an antioxidant activity from eye of tuna through enzymatic hydrolysis and determining the antioxidant activity by DPPH methods. Protein soluble content of tuna’s eye protein hydrolysate (TEPH) ranged from 59.98±0.130 to 94.90±0.002%. The degree of hydrolysis (DH) of TEPH was about 9.10±0.28 to 16.14±0.09%. The highest inhibition of DPPH radical scavenging activity was 93.57±0.05% (at 5 mg/mL) was obtained with a DH of 11.35±0.002% at the concentration 0.1% of papain for 6 hours hydrolysis. The IC50 value of was 1.08±0.008 mg/m

    Physical Characteristics of Edible Film made from Carrageenan and Beeswax Composites through Nanoemulsion Process

    Get PDF
    A research on producing edible film from composite of carrageenan and beeswax using nanoemulsionprocess has been conducted, with the objective is to analyze the effect of composite concentrationsand homogenization rate on physical characteristics of edible films. The edible films were made usingcarrageenan concentrations 3.5 and 4.5%, beeswax concentrations 0.2, 0.4, 0.6 and 0.8% and homogenizationrates of 2,000 and 3,000 rpm. Physical properties of the edible film were analyzed, i.e: thickness, tensilestrength, elongation, water vapor transmission rate and percent of solubility. The result, shows that thecomposite concentration ratio of carrageenan and beeswax and homogenization rate influence the physicalcharacteristics of edible film. Increased concentrations of composite and homogenization rates have highlysignificant effect (p<0.01) on decreased of water vapor transmission rate and increased of elongation andpercent of solubility, however have no significant effect (p>0.05) on increased of thickness and tensilestrength. The best treatment was obtained from composite concentration ratio of carrageenan 4,5% andbeeswax 0.8% with homogenization rate 3,000 rpm, with the average value of thickness 0.1534 mm, tensilestrength 22.44 N/mm2, elongation 22.5%, water vapor transmission rate 25.3411 g/m2/hr and percent ofsolubility 88%

    Effect of Extraction Methods on Characteristic of SodiumAlginate from Brown Seaweed Sargassum fluitans

    Get PDF
    Alginate is a primary metabolite that is needed in food and non food industries. Alginate extractionmethod of seaweed affect on viscosity and yield of the alginate. This study aimed to determine the effect ofextraction methods on characteristic and quality of sodium alginate Sargassum fluitans and the extractioncost needed. This study used two different extraction methods which wereacid alginate method and calciumalginate method. Quality parameters observed include yield, moisture content, ash content, viscosity,pH, whiteness index, and functional group analysis, also extraction cost analysis. The results showed thatalginate extraction of S. fluitans by alginic acid method produced better sodium alginate quality than usingcalcium alginate method, but the cost higher. Sodium alginate produced by alginic acid method had highviscosity (127.17±11.50 cps) with yield 9.95±0.31%. The moisture and ash content of the product was low or9.35±0.31% and 21.88±0.41%, respectively

    Karakteristik Eksopolisakarida Mikroalga Porphyridium cruentum yang Berpotensi untuk Produksi Bioetanol

    Get PDF
    Porphyridium cruentum merupakan salah satu mikroalga yang memiliki kandungan polisakarida yang tinggi dan mampu menghasilkan polisakarida ekstraseluler dengan jumlah mencapai 19,7 g/L. Mikroalga tidak mengandung lignin sebagai pelindung dinding selnya, sehinggaberpotensi sebagai bahan produksi bioetanol. Kendala yang dihadapi untuk mendapatkan eksopolisakarida P. cruentum yaitu pada tahap pemanenan, pemisahan eksopolisakarida dari media kultivasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan metode pemanenan eksopolisakarida P. cruentum dengan bahan presipitasi yang berbeda untuk mendapatkan metode alternatif yang lebih baik, serta menentukan metode hidrolisis terbaik untuk menghasilkan gula tertinggi. Penelitian dilakukan dengan tiga tahap terdiri dari kultivasi mikroalga, pemanenan dan karakterisasi, serta hidrolisis eksopolisakarida. Metode kultur menggunakan perlakuan fotoperiod 12 jam gelap 12 jam terang. Kultur P. Cruentum dipresipitasi dengan etanol 96% perbandingan 1:0,75 (v/v) dan KOH 5% perbandingan 1:1,5 (v/v). Polisakarida dihidrolisis dengan HCl 2 N dan akuades (suhu 100oC, selama 3 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air eksopolisakarida presipitasidengan etanol 96% yaitu 12,70%, abu 59,68%, viskositas 76,8 Cp, rendemen 1,4 g/L dan eksopolisakarida hasil presipitasi dengan dan KOH 5% dengan kadar air 5,28%, abu 78,61% viskositas 134,4 cP, rendemen 6,1 g/L. Monosakarida yang terdeteksi adalah fruktosa. Hidrolisis menggunakan HCl 2 N, suhu 100°C selama 3 hari merupakan metode hidrolisis eksopolisakarida terbaik dengan kadar gula total tertinggi yaitu 24,31%

    Penyimpanan Ikan Mas Hidup Menggunakan Media Sekam Padi yang Didinginkan

    Get PDF
    Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas perairan tawar yang cukup berkembang di daerah Sulawesi Utara, serta memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan, oleh karena itu perlu mendapat dukungan berupa teknologi penanganan transportasi yang ekonomis, efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kelangsungan hidup ikan mas pada penanganan dan penyimpanan pasca panen, penyimpanan dilakukan selama 2, 3, 4, 5 dan 6 jam. Parameter yang dianalisis pada penelitian ini terdiri dari penentuan tingkat kelangsungan hidup, pengukuran indeks rigor dan nilai  total volatile base nitrogen (TVBN). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dandilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan kelangsungan hidup ikan mas pada penyimpanan 2 jam yaitu 100%, 3 jam 100%, 4 jam 81,25%, 5 jam 68,75% dan 6 jam 25,00%. Waktu penyimpanan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap waktu perubahan memasuki fase fullrigor, tetapi memberikan pengaruh nyata terhadap waktu memasuki fase fullrigor dan postrigor autolisis. Ikan yang disimpan selama 6 jam mengalami 3 kondisi, yaitu ikan kondisi hidup, ikan kondisi mati lemas, dan ikan kondisi mati kaku

    Logam Berat Kerang Totok (Geloina erosa) di Timur Segara Anakan dan Barat Sungai Donan, Cilacap

    Get PDF
    Aktivitas industri di perairan Segara Anakan dan Sungai Donan dapat menghasilkan limbah berupa logam berat, yang dapat membahayakan lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis residu logam berat Pb, Hg, Cu dan Cd pada daging kerang totok (Geloina erosa) yang diambil dari 2 stasiun, melihat hubungan bobot total kerang dengan residu logam berat dalam daging kerang dan menetapkan batas aman konsumsi daging kerang bagi masyarakat. Pengukuran kandungan logam berat dilakukan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil pengukuran residu logam Pb, Hg, Cu dan Cd dalam daging kerang totok yaitu 0,005-0,145 mg/kg, <0,002 mg/kg, 0,209-2.374 mg/kg, dan 0,0050,152 mg/kg yang mengindikasikan bahwa residu logam berat dalamdaging dibawah ambang batas yang telah ditetapkan. Hubungan bobot totalkerang dengan residu logam berat dalam daging ialah negatif. Hasil perhitungan batas maksimum konsumsi kerang totok yaitu 5,3-228,8 g/minggu (dewasa) dan 1,6-68,6 g/minggu (anak-anak).

    Application of Chitosan as Cyanide Adsorbance on Gold Ore Processing

    Get PDF
    Gold ore processing method have an impact on water pollution if the waste produced is not managed properly. Chitosan have the ability as an adsorbent, but its effectiveness to absorb cyanide content in gold processing wastewater is unknown. This study aimed to examine the ability of chitosan adsorption on cyanide in the processing of gold ore. The statistic design used was a factorial in-time Completely Randomized Design (CRD) with two repetitions. The analysis carried out consisted of the effect of chitosan concentration on absorbance, pH, TDS, turbidity, cyanide, and the modification effect of chitosan production on absorbance power. The method used in this research was flocculation coagulation method by the jar test.The method was carried out by rapid and slow mixing process with a flocullator. The method was used to determine the best of chitosan type and the best contact time to decrease the concentration of cyanide waste from the processing of gold ore. The results showed that the best concentration of chitosan modified was chitosan modification with swelling crosslink glutaraldehid (GA) in 1000 ppm concentration and using slow mixing contact time for 120 minutes. That chitosan modified significantly adsorp cyanide waste in 90.38%

    Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Hidrolisat Protein Hasil Fermentasi Telur Ikan Cakalang

    Get PDF
    Telur ikan cakalang sebagai hasil samping pengolahan ikan asap potensial dimanfaatkan sebagai hidrolisat protein. Hidrolisis menggunakan fermentasi bakteri diharapkan menghasilkan peptida bioaktif yang bersifat antioksidan dan antibakteri pada hidrolisat protein telur ikan cakalang. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan dan antibakteri dari hidrolisat protein hasil fermentasi telur ikan cakalang. Penelitian dilakukan secara deskriptif. Pembuatan hidrolisat protein menggunakan 3 perlakuan fermentasi yaitu fermentasi spontan (FS), fermentasi menggunakan starter tunggal L. plantarum SK 5 (FL) dan fermentasi menggunakan bakteri endogenous serta ditambah bakteri L. plantarum SK 5 (FSL). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa total BAL (bakteri asam laktat) perlakuan FS meningkat hingga jam ke-48 fermentasi lalu menurun hingga akhir fermentasi. Perubahan total BAL yang cenderung statis terjadi pada perlakuan FSL, sedangkan pada perlakuan FL terjadi penurunan hingga jam ke-48 lalu cenderung statis hingga akhir fermentasi. Total mikroba aerob pada perlakuan FS dan FSL mengalami penurunan hingga jam ke-48 fermentasi, sedangkan pada perlakuan FL total mikroba aerob dari awal hingga akhir fermentasi terhitung sama dengan total BAL. Nilai absorbansi pengujianasam amino bebas pada perlakuan FS meningkat paling tinggi selama fermentasi. Aktivitas antioksidan dari hidrolisat protein perlakuan FS dan FSL mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu fermentasi, sedangkan aktivitas antioksidan pada perlakuan FL tidak mengalami peningkatan setelahfermentasi. Aktivitas antibakteri tertinggi terjadi pada hidrolisat protein perlakuan FL pada konsentrasi 0,5 mg/μL dengan lama waktu fermentasi 48 jam. Zona hambat yang terbentuk tergolong sedang

    Konversi Ikan Asin Menjadi Nugget Berserat Pangan dengan Mencampurkan Ampas Tahu dan Beberapa Jenis Binder

    No full text
    Ikan asin merupakan produk tradisional yang tingkat konsumsi dan popularitasnya menurun, sehingga perlu dikembangkan menjadi produk pangan fungsional dengan memanfaatkan sumber serat yang kurang termanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan konsentrasi bahan pengikat pada pembuatan nugget ikan asin berserat pangan dengan memanfaatkan ampas tahu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan faktor pertama adalah perbedaan jenis tepung sebagai binder (tepung maizena, tepung tapiokadan tepung terigu) dan faktor kedua adalahkonsentrasi tepung (10%, 20%, 30%) terhadap berat daging ikan dan ampas tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tepung tidak berpengaruh terhadap karakteristik fisik dan organoleptik nugget, tetapi interaksi antara jenis dan konsentrasi tepung berpengaruh pada rendemen, tekstur, kadar air dan tingkat kesukaan nugget ikan asin. Tepung maizena, tepung tapioka maupun tepung terigu dapat digunakan sebagai bahan pengikat nugget. Nugget ikan asin terpilih adalah nugget dengan bahan pengikat tepung tapioka konsentrasi 30%. dengan nilai tekstur 14,30 Newton (secara organoleptik agak empuk), kadar air 27,48%, kadar protein 6,88%, kadar lemak 5,84%, kadar abu 2,31%, serat pangan 9,30%, karakteristik organoleptik agak berrasa asin dengan aroma ikan asin dan secara keseluruhan disukaii panelis

    455

    full texts

    814

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇