Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Biofilm Density on the Electrode is Positively Correlated with the Bioelectricity of the Microbial Fuel Cell of Fisheries Wastewater
Microbial fuel cell (MFC) is a bioreactor utilizing bacteria as electrocatalysts to convert bioenergy from biomass into electrical energy. The aim of this research were to determine the effects of the electrode distance on the bacterial density and the electrical value generated by the MFC as well as to evaluate the ability of MFC in reducing the pollutant. Single chamber MFC system with various electrode distances including 2 cm, 4 cm, and 6 cm were assembled. The wastewater of fish pindang processing was used as the mediumfor the MFC. The results showed that the distance had no effect on the biofilm density of the electrode and the reduction of the wastewater pollutant load. However, the distance affected the electrical value of theMFC. Biofilm density on the MFC electrode after 120 hours was 0.65-6.46 CFU/ cm2. The highest voltage was obtained from the 6 cm electrode distance with the voltage 0.38±0.01 V. Positive correlation (R2 = 0.99)between microbial density and electricity produced at the cathode was observed, but weak at the anoda (R2 = 0.47). The MFC system could decrease the BOD value up to 50.78% and COD up to 33.29%, however the TAN value was increased to 6 mg/L
Handling Time Difference of Weight, Proximate Composition, and Amino Acid on Steamed Crab
Blue swimmer crab (Portunus sp.) is one of the aquatic products which also the member of crustacea with high value as local commodity and export commodity. Weight changes in blue swimmer crabs can occur during handling time and steam process. This research aimed to determine different handling time on weight changes, proximate composition and amino acids of blue swimmer crab (Portunus sp.). The handling times used in this research were 0 hours (J0), 2 hours (J2), 4 hours (J4), 6 hours (J6) conditioned in ambient temperature. Weight lost before and after steam process of blue swimmer crabs showed significant differences in J6. Proximate compositions did not show significant differences in J0 and J6. Amino acids analysis determined by HPLC method and and did not show significant differences in J0 and J6 except for methionine, histidine, arginine, serine, and glutamic acid
Karakteristik fisikokimia kolagen larut asam dari kulit ikan parang-parang (Chirocentrus dorab)
Waste of parang parang fish (Chirocentrus dorab) skin can be used as a source of collagen. Collagen isolation can be done chemically by the Acid Soluble Collagen (ASC) method. The objective of this research was to isolate collagen with ASC method and characterize their physicochemical. Collagen isolation consisted of pretreatment and hydrolysis with acids. The pretreatment used NaOH 0.1 M for 12 hours, while hydrolysis used acetic acid 0.5 M. Pretreatment results indicated that the concentration of non-collagen protein was 0.1243 mg/mL, while the yield collagen was 2.61%. The collagen had the viscosity of 6.50 cP, the denaturation temperature of 4°C, the transition temperature of 77.30°C, and the melting temperature of 153.90°C. The obtained collagen also had pH of 6.25. The fourier transform infrared (FTIR) spectra analysis showed the collagen contained amide A (3425.58), B (2924.09), I (1647.21), II (1543.05), and III (1246.02) (cm-1). The collagen also contained glycine (26.69%), proline (12.24%) and alanine (9.51%)
Penambahan asap cair mampu mempertahankan profil asam lemak ikan tuna kering blok
Tetelan ikan tuna merupakan salah satu hasil samping dari produksi tuna loin, memiliki nilai ekonomisrendah dan dapat diolah menjadi berbagai produk diversifikasi salah satunya adalah ikan kering blok. Ikankering blok dibuat dengan memberikan garam dan asap cair pada tetelan dan kemudian dikeringkan.Tujuan penelitian ini adalah menentukan efek penambahan asap cair terhadap profil asam lemak dari ikantuna kering blok. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan asap cair (2%) dan tanpa penambahanasap cair. Produk ikan tuna kering blok mengandung asam lemak jenuh (SFA) 12 jenis, asam lemak takjenuh tunggal (MUFA) 6 jenis, dan asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) 9 jenis. Jumlah asam lemak jenuh(SFA) pada ikan tuna kering blok tanpa dan dengan penambahan asap cair adalah 19,94% dan 21,29%, asamlemak tak jenuh tunggal (MUFA) adalah 9,35% dan 11,77% dan asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) adalah14,45% dan 16,04%.Dry fish block is a food product from by-product of tuna loin. It is salted, liquid smoked, and dried.This study was aimed to determine fatty acid profile of the dry fish block after the addition of liquid smoke.The dry fish block was composed of twelve saturated fatty acids (SFA), six monounsaturated fatty acids(MUFA), and nine polyunsaturated acids (PUFA). The total of SFA in dry fish block without and with liquidsmoke was 19.94% and 21.29%, while MUFA was 9.35% and 11.77% and PUFA was 14.45% and 16.04%,respectively
Fortifikasi Tinta Cumi-Cumi pada Cup Cake
Cumi-cumi memiliki kantung tinta yang mengandung melanin dalam bentuk melanoprotein, asam glutamat dan asam aspartat yang memberikan rasa sedap dan gurih. Tinta cumi digunakan sebagai pewarna hitam alami dan termasuk limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persentase fortifikasi tinta cumi-cumi pada cup cake berdasarkan tingkat kesukaan panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan 5 perlakuan penambahan tinta cumi-cumi (0%, 0.5%, 1%, 1.5%, dan 2%) berdasarkan berat tepung terigu. Parameter yang diamati dalam penelitian adalah rendemen tinta cumi-cumi, tingkat kesukaan (uji hedonik) terhadap karakteristik kenampakan, aroma, tekstur dan rasa cup cake, kadar air, abu, protein dan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan penambahan tinta cumi-cumi masih disukai. Perlakuan penambahan tinta cumi-cumi 1,5% merupakan perlakuan yang lebih disukai panelis dibandingkan perlakuan lainnya, dengan karakteristik kenampakan 6,4±1,73, aroma 7,3±1,49, tekstur 7,3±2,08 (disukai), rasa 8,4±1,47 (sangat disukai) dan nilai serta dengan kadar air 32,77%; abu 1,76%, protein 11,74% dan lemak 18,20%
Karakteristik Kerupuk Ikan dengan Substitusi Tepung Tulang Ikan Gabus (Channa striata) sebagai Fortifikan Kalsium
Kerupuk ikan gabus telah dikenal luas namun biasanya terbuat dari bagian dagingnya saja. Limbah berupa tulang ikan belum dimanfaatkan secara optimal, oleh karena itu dijadikan sebagai bahan substitusipada pembuatan produk kerupuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh substitusi tepung tulang ikan gabus (TTIG) sebagai fortifikan kalsium terhadap sifat sensoris dan fisika-kimia kerupuk ikan gabus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan substitusi tepung tulang ikan gabus dalam tepung tapioka dengan kadar (0; 4; 8; 12; dan 16% b/b) dan di ulang sebanyak empat kali. Parameter yang dianalisis pada penelitian ini adalah sifat sensoris dan sifat fisika-kimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi TTIG berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap sifat sensoris rasa, aroma, warna dan tekstur serta sifat fisika-kimia kerupuk ikan gabus. Peningkatan kadar TTIG menurunkan kadar air dan volume pengembangan kerupuk ikan gabus, tetapi meningkatkan kadar protein dan kadar kalsium (p<0,05). Substitusi TTIG sampai dengan 4% menghasilkan kerupuk ikan gabus dengan volume pengembangan yang sama dengan kontrol (tanpa substitusi TTIG) dengan kadar kalsium 200 mg/100 g dan kadar protein 14,27%. Rasa dan warna kerupuk ikan gabus disukai hingga substitusi TTIG 12%, sedangkan aroma dan tekstur disukai hingga substitusi TTIG 8%
Penurunan Logam Berat dan Pigmen pada Pengolahan Geluring Rumput Laut Gelidium Sp. dan Ulva Lactuca
Rumput laut merupakan komoditi penting sebagai bahan pangan sehat. Geluring adalah produk pangan berbentuk lembaran kering, tipis dan berwarna hijau kecoklatan, dibuat dari campuran rumput laut Gelidium sp. dan Ulva lactuca. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh proses pengolahan geluring terhadap kadar klorofil, karotenoid dan logam berat. Tahapan proses pengolahan geluring terdiri dari perendaman rumput laut kering, pengecilan ukuran, penghalusan, pembuatan bubur, penambahan bumbu, pencetakan dan pemanggangan. Pembutaan produk geluring terdiri dari P1: geluring tanpa bumbu, P2: geluring berbumbu dan P3: geluring berbumbu dan dipanggang, analisis bahan baku juga dilakukan pada rumput laut Gelidium sp. segar (GS) dan kering (GK), Ulva lactuca segar (US) dan kering (UK). Analisis terdiri dari analisis kadar klorofil, karotenoid dan residu logam berat pada produk geluring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan geluring berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan jumlah klorofil a, klorofil b, klrorofil total, karotenoid dan pengurangan residu logam berat. Kadar klorofila, klorofil total dan karotenoid tertinggi terdapat pada geluring P1 dengan nilai 0,60 mg/g, 1,06 mg/g dan 0,23 mg/g, sedangkan kadar klorofil b geluring P1 dan P2 mempunyai nilai yang sama (0,46 mg/g). Residulogam berat Pb dan Cd geluring P1, P2 dan P3 yaitu Pb<0,001 mg/kg dan Cd<0,02 mg/kg. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan residu Pb dan Cd pada bahan baku Ulva lactuca kering dan Gelidium sp. kering yaitu pada kisaran 1,18-5,71 mg/kg. Proses pengolahan geluring mengurangi kadar klorofil dan karotenoid, akan tetapi bermanfaat untuk menurunkan residu logam berat pada produk olahan rumput laut
Mini-Coi Barcodes sebagai Penanda Molekuler untuk Ketertelusuran Label Pangan Berbagai Produk Olahan Ikan Sidat
Ikan Sidat merupakan komoditas hasil perikanan penting dengan nilai ekonomis tinggi. DNA barcoding telah cukup banyak digunakan sebagai metode berbasis penentuan urutan nukelotida untuk mendeteksi jenis spesies pada ikan. Proses pengolahan dengan suhu tinggi dapat menyulitkan proses identifikasi berbasis penentuan urutan nukelotida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies berbagai produk olahan ikan sidat menggunakan marka molekuler mini-COI barcodes. Pengolahan suhu tinggi yang digunakan pada penelitian ini adalah: panggang, penggorengan dalam minyak sayur, panggang, pengasapan panas dan pengolahan suhu sterilisasi. Seluruh sampel segar dapat teridentifikasi sebagai spesies Anguilla bicolor bicolor (99-100%) dan Anguilla marmorata (100%). Sampel olahan sidat berhasil diamplifikasi dengan marka mini-COI barcodes, sehingga dapat digunakan untuk aplikasi pengawasan label produk seafood secara rutin
Nutrition Profile and Quality of Milkfish Galantine Added By Different Type and Concentration of Liquid Smoke
Galantin milkfish is one of the fish diversification products that can be used as a source of nutrition for the community with the specific appearance. To increase the level of product acceptance mainly aroma, liquid smoke is added as a flavoring agent that is safe to consume. This study aimed to determine the effect of the addition of different types of liquid smoke with appropriate concentrations on nutritional profiles (amino acids and fatty acids) and the quality (proximate and hedonic) of galantin milkfish. Experimental design of factorial was used in this research with three different types of liquid smoke, namely redestilation (R), filtration (F), and microencapsulation (M). The concentrations of the three types of liquid smoke usedwere 1% (1), 2% (2), and 3% (3) respectively. The results showed that the influence of the three types of liquid smoke and different concentrations significantly affected the profile of amino acids, fatty acids, moisture content, protein, fat, carbohydrates, energy and hedonic values of milkfish galantin (p<0.05). The dominant amino acid in the product was glutamic acid, while the highest EPA and DHA contents were respectively in F1 and M1 treatments. Water content of milk fish galantin was 69.82% -72.75%, protein 14.56% -16.73%, fat 4.03% -6.14%, ash 1.62% -2.84%, carbohydrates 2.86% -3.58%, and energy 111.55-138.90 Kal/100 g. Theresults of the hedonic analysis showed that all the products produced were favored by the panelists
Characteristics of Gelatin Produced Immersion of Tuna Bone in Lontar Vinegar from East Nusa Tenggara
By product of tuna processing industry can potentially be used as sources of high value gelatin products. Gelatin can be obtained from acid hydrolysis of collagen. East Nusa Tenggara is a producer of lontar vinegar, however the use of this vinegar for acid hydrolysis of collagen to produce gelatin has not been determined. This study aimed to evaluate the effect of lontar vinegar and the immersion time on the characteristics of gelatin. The research used complete randomized design with two factors: types of immersion solution and immersion period. The yield, moisture, ash content, pH and viscosity were observed. The results showed that the immersion solution did not affect significantly on the yield of gelatin. Meanwhile immersion time significantly affected the yield, moisture and pH of gelatin. Immersion of the tuna bones with 3% of lontar vinegar for six weeks produced gelatin with the best characteristics