Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    814 research outputs found

    Physicomechanical properties of bioplastics from kappa-carrageenan and cassava peel starch : Sifat fisikomekanik bioplastik dari campuran kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong

    No full text
    Kappa-karagenan yang berasal dari rumput laut merah dikenal bersifat membentuk film yang sangat baik dan banyak digunakan sebagai bahan bioplastik. Formulasi kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong yang diperkuat dengan polivinil alkohol (PVA) berpotensi menghasilkan bioplastik dengan sifat fisikomekanik yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula terbaik kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong sebagai bioplastik berdasarkan sifat fisikomekaniknya yang meliputi ketebalan, kuat tarik, elongasi, dan laju transmisi uap air dengan mengacu pada standar JIS Z 1707. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan variasi rasio kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong. Hasil menunjukkan bahwa formula kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong secara signifikan memengaruhi seluruh sifat fisikomekanik bioplastik, kecuali densitas. Seluruh formula memenuhi standar JIS untuk kuat tarik dan elongasi. Formula yang menggunakan pati limbah kulit singkong dengan konsentrasi yang lebih tinggi secara signifikan memperbaiki sifat penghalang bioplastik dengan menurunkan laju transmisi uap air dan penyerapan air. Peningkatan konsentrasi pati meningkatkan elongasi film secara signifikan, tetapi mengurangi ketebalan, kuat tarik, dan modulus Young, serta menghasilkan biodegradasi yang lebih lambat. Formula terbaik diperoleh pada rasio 1% kappa-karagenan: 4% pati dengan ketebalan 0,35 mm, kuat tarik 1,14 MPa, elongasi 25,78%, dan laju transmisi uap air 18,47 g/m2/hari. Hasil ini menunjukkan bahwa formulasi kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong dapat menghasilkan bioplastik dengan sifat fisikomekanik yang memenuhi standar dan berpotensi mengurangi polusi plastik secara keberlanjutan di masa depan.Kappa-carrageenan, derived from red seaweed, is well-known for its excellent film-forming properties and is widely used as a bioplastic material. It is possible to improve the physical and mechanical properties of bioplas-tics by mixing kappa-carrageenan with cassava peel starch and polyvinyl alcohol (PVA) as a reinforcement. The goal of this study is to find the best combination of kappa-carrageenan and cassava peel starch for bio-plastic based on its thickness, tensile strength, elongation, and water vapor transmission rate (WVTR), as specified in JIS Z 1707. A completely randomized block design (CRBD) was employed with varying ratios of kappa-carrageenan and cassava peel waste starch. The findings show that the mixtures of kappa-carrageenan and cassava peel starch had a big effect on all of the bioplastic\u27s physical and mechanical properties, except for its density. All bioplastic formulations met the JIS standard for tensile strength and elongation. Higher starch con-centrations significantly improved the barrier properties by reducing WVTR and water absorption. However, increasing starch concentration enhanced elongation while decreasing thickness, tensile strength, and Young\u27s modulus, resulting in slower biodegradation. The best mix, which had 4% starch and 1% kappa-carrageenan, was thickest at 0.35 mm, a tensile strength of 1.14 MPa, an elongation of 25.78%, and a WVTR of 18.47 g/m²/day (Grade 3). The results show that kappa-carrageenan and waste starch from cassava peel can be used to make bioplastics that meet the standards for physical and mechanical properties. This could also help reduce plastic pollution in the future

    The effect of extraction methods on phenolic content, antioxidant activity, and compound identification of Spirulina platensis: Pengaruh metode ekstraksi terhadap kandungan total fenol, aktivitas antioksidan dan identifikasi senyawa pada Spirulina platensis

    No full text
    Spirulina platensis adalah mikroalga berbentuk spiral dan berfilamen yang diklasifikasikan sebagai sianobakteri, dikenal karena beragam sifat bioaktifnya, termasuk aktivitas antioksidan, antimalaria, antidiabetes, antikanker, dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode ekstraksi terbaik berdasarkan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan S. platensis, serta mengidentifikasi fitokimia yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan. Biomassa S. platensis diperoleh setelah 14 hari kultivasi. Metode ekstraksi yang dievaluasi adalah maserasi dan ekstraksi berbantuan ultrasonik (ultrasound-assisted extraction/UAE), dengan menggunakan etanol sebagai pelarut dalam rasio 1:20 (b/v). Hasil menunjukkan bahwa metode UAE menghasilkan rendemen ekstrak, kandungan total fenolik, dan aktivitas antioksidan (IC₅₀) yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan metode maserasi (p<0,05). Nilai yang diperoleh dengan metode UAE berturut-turut adalah 14,70 ± 1,97%, 128,657 ± 2,67 mg GAE/g, dan 148,652 ± 7,78 ppm. Kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan enam bercak pada ekstrak, dan dua di antaranya memiliki nilai Rf masing-masing 0,78 dan 0,98 (menunjukkan aktivitas antioksidan yang ditandai dengan munculnya warna kuning). Analisis fitokimia lebih lanjut menggunakan FeCl₃ mengonfirmasi bahwa bercak tersebut mengandung senyawa polifenol. Metode UAE efektif dalam mengekstraksi senyawa fenolik dari S. platensis, serta meningkatkan hasil fenolik dan aktivitas antioksidan. Temuan ini mendukung potensi penggunaan ekstrak S. platensis sebagai antioksidan alami untuk aplikasi pangan fungsional dan farmasi.Spirulina platensis is a spiral-shaped filamentous microalga classified as a cyanobacterium, known for its diverse bioactive properties, including antioxidant, antimalarial, antidiabetic, anticancer, and antibacterial activities. This study aimed to determine the best extraction method based on the total phenolic content and antioxidant activity of S. platensis and identify antioxidant-related phytochemicals. The biomass of S. platensis was obtained after 14 days of cultivation in the laboratory. Two extraction methods were evaluated: maceration and ultrasound-assisted extraction (UAE), using ethanol as the solvent at a 1:20 (b/v) ratio. The results showed that the UAE method produced significantly higher extract yield, total phenolic content, and antioxidant activity (IC₅₀) than maceration (p < 0.05). The values obtained using UAE were 14.70 ± 1.97%, 128.657 ± 2.67 mg GAE/g, and 148.652 ± 7.78 ppm, respectively. Thin-layer chromatography (TLC) revealed six spots in the extracts. Two of these, with Rf values of 0.78 and 0.98 (exhibited antioxidant activity, as indicated by the yellow color development). Further phytochemical analysis using FeCl₃ confirmed that the spots contained polyphenols. In conclusion, UAE is an effective method for extracting phenolic compounds from S. platensis, enhancing both the phenolic yield and antioxidant activity. These findings support the potential use of S. platensis extracts as natural antioxidants in functional foods and pharmaceutical applications

    Kinetika dan termodinamika komposit HAp-Fe3O4 dari cangkang tutut (Bellamya javanica) sebagai adsorben Pb(II) pada limbah akumulator: Kinetics and thermodynamics of HAp–Fe₃O₄ composite from tutut snail shell (Bellamya javanica) as Pb (II) adsorbent in battery wastewater

    No full text
    Peningkatan jumlah kendaraan listrik dan perkembangan industri otomotif telah menyebabkan akumulasi limbah akumulator bekas yang mengandung logam berat berbahaya, khususnya Pb(II). Jika tidak ditangani dengan baik, limbah ini dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem. Adsorpsi menggunakan material berbasis hidroksiapatit (HAp) menjadi salah satu metode penanganan yang efektif. Cangkang tutut (Bellamya javanica), limbah biomineral yang kaya akan kalsium karbonat (CaCO3) berpotensi dimanfaatkan sebagai prekursor kalsium pada sintesis HAp. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum pada pH, waktu, suhu, dan konsentrasi komposit HAp-Fe3O4 sebagai adsorben ion timbal Pb(II), menentukan seberapa efisien adsorben komposit HAp-Fe3O4 dalam mengadsorpsi ion timbal, menentukan parameter kinetika dan termodinamikanya dalam proses adsorpsi, serta memberikan solusi material ramah lingkungan dan berkelanjutan yang dapat diimplementasikan untuk mengurangi kandungan logam berat pada lingkungan yang dihasilkan dari limbah akumulator. Komposit disintesis melalui metode deposisi kimia. Hasil karakterisasi menunjukkan struktur berpori dengan luas permukaan 3002 m2/g, ukuran pori 2,21 nm, dan volume pori 3,32 cc/g. Optimasi menunjukkan kondisi optimum pada pH 6, waktu kontak 50 menit, suhu 25°C, dan konsentrasi awal 10 ppm. Studi kinetika mengikuti model pseudo-order-dua (K2 = 2,23 g/mg·menit), mengindikasikan adsorpsi kimia. Parameter termodinamika ( ΔG°<0, ΔH°<0, ΔS°>0) menunjukkan proses spontan, eksoterm, dan disertai peningkatan entropi. Model isoterm Freundlich menunjukkan kesesuaian terbaik (1/n = 0,82; KF = 467). Aplikasi terhadap limbah akumulator menunjukkan efisiensi adsorpsi 99,23%, menurunkan Pb(II) dari 2,28 ppm menjadi 0,017 ppm, sesuai baku mutu Permen LH No. 5 Tahun 2014. Komposit ini menunjukkan potensi tinggi sebagai adsorben logam berat yang efektif dan berkelanjutan.The rapid growth of electric vehicles has led to an increased accumulation of used battery waste containing hazardous heavy metals, particularly Pb(II). Improper management of this waste can severely impact the environment and human health. Adsorption using hydroxyapatite (HAp)-based materials is an effective remediation method. Tutut shells (Bellamya javanica), a biomineral waste rich in calcium carbonate (CaCO3), can serve as a calcium precursor for the green synthesis of HAp. This study aimed to determine the optimum conditions of pH, contact time, temperature, and initial concentration for the HAp–Fe3O4 composite as an adsorbent for Pb(II) ions, assess its adsorption efficiency, evaluate kinetic and thermodynamic parameters, and provide an eco-friendly, sustainable material solution for heavy metal reduction originating from battery waste. The composite was synthesized via chemical deposition, showing a porous structure with a surface area of 3002 m2/g, pore size of 2.21 nm, and pore volume of 3.32 cc/g. Optimum adsorption occurred at a pH of 6, 50 min, 25°C, and an initial concentration of 10 ppm. Kinetic studies followed a pseudo-second-order model (K₂ = 2.23 g/mg·min), indicating chemisorption, whereas thermodynamic parameters (ΔG°<0, ΔH°<0, and ΔS°>0) indicated a spontaneous exothermic process. The Freundlich isotherm model (1/n = 0.82 and KF = 467) exhibited the best fit. Application to real battery wastewater achieved 99.23% removal efficiency, reducing Pb(II) from 2.28 ppm to 0.017 ppm, meeting the quality standard of the Indonesian Ministry of Environment Regulation No. 5 of 2014. These findings suggest that the HAp–Fe₃O₄ composite has strong potential as an effective and sustainable heavy metal adsorbent

    Tingkat kesukaan dan karakteristik kimia otak-otak udang vaname dengan penambahan karagenan

    No full text
    Carrageenan is a polysaccharide extracted from the seaweed, Kappaphycus alvarezii. Carrageenan serves as a food additive, functioning as both a stabilizer and a gelling agent in vanamei shrimp otak-otak (a type of Indonesian fish cake). This study aimed to determine the effect of different carrageenan concentrations on the sensory acceptance and chemical characteristics of the vannamei shrimp otak-otak. The study was conducted using an experimental method with five treatments: carrageenan addition of 0% (A), 0,5% (B), 1% (C), 1,5% (D), and 2% (E). Preference was assessed using a hedonic test covering appearance, aroma, texture, and taste, as well as a chemical test measuring moisture, ash, fat, protein, carbohydrate, and crude fiber content. Based on the analysis of 20 semi-trained panelists, the most preferred treatment was the addition of 1% carrageenan, with average scores of 7.4 (liked) for appearance, 7.1 (liked) for aroma, 7.5 (liked) for texture, and 7.3 (liked) for taste. Chemical analysis showed 54.66% moisture, 2.34% ash, 8.08% protein, 0.01% fat, 34.91% carbohydrate, and 2.72% crude fiber. The addition of 1% carrageenan was identified as the most favorable concentration compared with the other treatments.Karagenan merupakan senyawa polisakarida hasil ekstraksi rumput laut Kappaphycus alvarezii. Karagenan dapat berfungsi sebagai bahan tambahan pangan yang berperan sebagai penstabil dan pembentuk gel dalam produk otak-otak udang vaname. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh penambahan karagenan dengan konsentrasi berbeda terhadap tingkat kesukaan dan karakteristik kimia otak-otak udang vaname. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan lima perlakuan, yaitu penambahan karagenan 0% (A), 0,5% (B), 1% (C), 1,5% (D), dan 2% (E). Tingkat kesukaan menggunakan uji hedonik yang meliputi ketampakan, aroma, tekstur dan rasa, serta uji kimia yang meliputi kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat, dan serat kasar. Berdasarkan analisis dengan 20 orang panelis, otak-otak udang vaname dengan penambahan karagenan yang lebih disukai adalah perlakuan 1% dengan nilai rata-rata ketampakan 7,4 (suka), aroma 7,1 (suka), tekstur 7,5 (suka), dan rasa 7,3 (suka). Uji kimia yang dihasilkan, yaitu kadar air 54,66%,  abu 2,34%, protein 8,08%, lemak 0,01%, karbohidrat 34,91%, dan serat kasar 2,72%. Penambahan karagenan 1% pada otak-otak udang vaname merupakan konsentrasi yang lebih baik dibanding perlakuan lainnya.

    Fortification of squid ink as a natural colorant on the acceptability of popping boba: Fortification of squid ink as a natural colorant on the acceptability of popping boba

    No full text
    Ink is a fishery by-product that has the potential to be utilized as a natural colorant due to its melanin and melanoprotein pigment content, which is nutritionally valuable. This study aimed to determine the optimal concentration of squid ink as a natural colorant in popping boba based on consumer preference levels and chemical composition, and to evaluate its economic value. The research employed an experimental method using a completely randomized design (CRD) consisting of five squid ink concentrations (0%, 0.5%, 1%, 1.5%, and 2%) with three replicates. The parameters observed included hedonic tests (appearance, aroma, texture, and taste), chemical analysis (moisture, ash, protein, fat, and carbohydrates), and economic value. The results showed that the addition of 2% squid ink produced the most preferred popping boba, with appearance, aroma, texture, and taste scores of 7.9, 6.8, 7.9, and 7.1, respectively. The best popping boba formulation had a moisture content of 70.52%, ash content of 0.14%, protein content of 0.04%, fat content of 0.02%, and carbohydrate content of 29.34%. Therefore, fortifying popping boba with 2% squid ink provides an appealing color while also enhancing its nutritional value.Tinta cumi merupakan limbah perikanan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pewarna alami karena mengandung pigmen melanin dan melano­protein yang bernilai gizi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi tinta cumi terbaik sebagai pewarna alami pada popping boba berdasarkan tingkat kesukaan konsumen, komposisi kimia, dan perhitungan nilai ekonomisnya. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan konsentrasi tinta cumi (0; 0,5; 1; 1,5; dan 2%) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi uji hedonik (ketampakan, aroma, tekstur, dan rasa), analisis kimia (kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat), dan perhitungan nilai ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tinta cumi 2% menghasilkan popping boba yang paling disukai, dengan nilai ketampakan 7,9; aroma 6,8; tekstur 7,9; dan rasa 7,1. Komposisi kimia popping boba terbaik memiliki kadar air 70,52%; abu 0,14%; protein 0,04%; lemak 0,02%; dan karbohidrat 29,34%. Dengan demikian, fortifikasi tinta cumi 2% memberikan warna menarik sekaligus meningkatkan nilai nutrisi produk popping boba

    Analisis kesegaran dan kandungan formalin pada ikan laut di Lampung Selatan

    No full text
    Formaldehyde contamination from the illegal use of formalin and natural accumulation is an indicator of fish quality decline throughout the post-harvest supply chain, from capture to distribution to consumers. This study aimed to determine the level of freshness and formaldehyde content in seawater fish in the fisheries supply chain (TPI Dermaga Bom and traditional markets) in Kalianda, South Lampung. The methods used included organoleptic analysis, pH measurement, total volatile base (TVB) measurement, trimethylamine (TMA) measurement, active formaldehyde (FA) measurement, and dimethylamine (DMA) measurement. Samples of snapper, mackerel, sardines, and semar were analyzed to compare their quality. The results showed that fish samples from the collectors were fresher than those from traditional markets. The pH values at both locations ranged from 6.39 to 7.12. The TVB values of both locations ranged from 12.55 to 30.98 mgN/100 g, while the TMA values ranged from 8.82 to 12.35 mgN/100 g. The FA values at both locations ranged from 0.25 to 0.45 ppm, whereas the DMA values ranged from 0.54 to 0.67 ppm. Statistical results showed that the p-value was greater than 0.05 in the TVB and TMA tests between fish from collectors and markets, indicating that there was no significant difference between the two locations. However, no significant differences were observed in the pH values, natural formaldehyde content, or dimethylamine levels. The implications of these research results are expected to help improve fish quality management and support strict monitoring policies in the fishery product supply chain in the future.Kontaminasi formaldehida dari penggunaan formalin ilegal maupun akumulasi alami menjadi indikator penurunan mutu ikan sepanjang rantai pasok pascapanen, mulai dari penangkapan hingga distribusi ke konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kesegaran dan kandungan formaldehida pada ikan air laut dalam rantai pasok perikanan (TPI Dermaga Bom dan pasar tradisional) di Kalianda, Lampung Selatan. Metode yang digunakan meliputi analisis organoleptik, pH, total volatile base (TVB), trimetilamina (TMA), formaldehida alami (FA), dan dimetilamin (DMA). Sampel ikan kakap, selar, sarden, dan semar dianalisis untuk membandingkan tingkat kualitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel ikan dari pengepul dinyatakan lebih segar dibandingkan sampel ikan dari pasar tradisional. Nilai pH dari kedua lokasi berkisar 6,39 hingga 7,12. Nilai TVB dari kedua lokasi berkisar 12,55 hingga 30,98 mgN/100 g, sedangkan nilai TMA berkisar 8,82 hingga 12,35 mgN/100 g. Nilai FA dari kedua lokasi berkisar 0,25 hingga 0,45 ppm, sedangkan nilai DMA berkisar 0,54 hingga 0,67 ppm. Hasil statistik menunjukkan nilai p lebih besar daripada 0,05 pada uji TVB dan TMA antara ikan dari pengepul dan pasar yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kedua lokasi, namun tidak terdapat perbedaan signifikan dalam nilai pH, kandungan formaldehida alami, dan dimetilamin. Implikasi hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pengelolaan mutu ikan, serta mendukung kebijakan pengawasan ketat dalam rantai pasok produk perikanan

    Kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih (Xylocarpus granatum ): Phytochemical and antibacterial activity of ethanol extract from cannonball mangrove (Xylocarpus granatum) fruit seeds

    No full text
    Xylocarpus granatum adalah jenis mangrove yang dikenal dengan buah nyirih di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan menentukan kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri biji buah X. granatum. Tahapan penelitian adalah preparasi buah nyirih menjadi bubuk buah nyirih, ekstraksi bubuk biji buah nyirih dengan pelarut etanol, uji fitokimia bubuk biji buah nyirih, preparasi bakteri uji, dan uji antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih. Parameter yang diuji, yaitu rendemen, proksimat, fitokimia, dan uji antibakteri terhadap E. coli dan S.aureus. Rendemen biji buah nyirih adalah 21,17% dan berat bubuk 7,04%. Bubuk biji buah nyirih mengandung kadar air 4,97%, abu 2,56%, protein 4,54 %, lemak 0,63%, dan serat kasar 2,5%. Bubuk biji buah nyirih mengandung senyawa saponin, alkaloid, flavonoid, tannin, triterpenoid, fenolik, steroid, dan antosianin. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak etanol bubuk biji buah nyirih berbanding terbalik dengan total bakteri akan tetapi berbanding lurus dengan persen penghambatan. Ekstrak 20–90 µL memperlihatkan total bakteri E. coli sebesar log 9,32 CFU/g dan log 1,18 CFU/g dengan persen penghambatan sebesar 5,93 dan 88,05%. Konsentrasi ekstrak 1–15 µL terhadap bakteri S. aureus memperlihatkan nilai total bakteri sebesar log 5,69 CFU/g dan log 8,65 CFU/g dengan persen penghambatan sebesar 29,37 dan 64,46. Pengujian antibakteri dengan metode kontak langsung menunjukkan kemampuan ekstrak etanol bubuk biji buah nyirih menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus pada konsentrasi ekstrak yang rendah.Xylocarpus granatum (cannonball mangrove) is a mangrove species known as nyirih fruit in South Kalimantan. This study aims to determine the phytochemical content and antibacterial activity of the seeds from X. granatum fruit. The research stages included preparing cannonball mangrove fruit into powder, extracting the seed powder with ethanol, conducting phytochemical tests on the seed powder, preparing test bacteria, and testing the antibacterial properties of the ethanol extract from the cannonball mangrove seeds. The parameters tested were yield, proximate, phytochemical, and antibacterial tests against E. coli and S. aureus. The yield of cannonball mangrove fruit seeds was 21.17%, and the powder weight was 7.04%. Cannonball mangrove fruit seed powder contains 4.97% water content, 2.56% ash, 4.54% protein, 0.63% fat, and 2.5% crude fiber. Cannonball mangrove fruit seed powder contains saponins, alkaloids, flavonoids, tannins, triterpenoids, phenolics, steroids, and anthocyanins. The results of the antibacterial test showed that increasing the concentration of ethanol extract of cannonball mangrove fruit seed powder was inversely proportional to the total bacteria but directly proportional to the percent inhibition. Extracts of 20-90 µL showed total E. coli bacteria of log 9.32 CFU/g and log 1.18 CFU/g with percent inhibition of 5.93 and 88.05%. Extract concentrations of 1-15 µL against S. aureus bacteria showed total bacterial values of log 5.69 CFU/g and log 8.65 CFU/g with percent inhibition of 29.37 and 64.46. Antibacterial testing with the direct contact method showed the ability of ethanol extract of cannonball mangrove fruit seed powder to inhibit the growth of E. coli and S. aureus bacteria at low extract concentrations

    Dampak konsumsi ikan columbia catfish dari kolam bekas peleburan aki bekas terhadap penyakit degeneratif dan keamanan pangannya: The impact of consuming driftwood catfish from a former used battery smelting pond on degenerative diseases and its food safety

    No full text
    Desa Cinangka merupakan sentra daur ulang aki bekas tradisional ilegal di Bogor, namun sudah ditutup 15 tahun lalu. Tujuan penelitian, yaitu menentukan dampak konsumsi ikan columbia catfish yang dipelihara di kolam bekas peleburan aki bekas terhadap potensi penyakit degeneratif kanker dan non-kanker serta keamanan pangannya. Analisis yang dilakukan adalah kandungan logam berat pada daging ikan dan logam terlarut pada air dengan XRF dan AAS, faktor biokonsentrasi, risiko kesehatan akibat konsumsi ikan (kanker dan non-kanker) serta keamanan pangannya. Hasil penelitian menunjukkan ikan memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat pada tubuhnya. Daging ikan terkontaminasi Fe (537,53ppm), Cu (47,69ppm), Zn (942,53ppm), As (11,58ppm) dan Pb (13,07ppm). Air kolam tercemar oleh Fe, Zn, As dan Pb serta terkontaminasi Cu. Terjadi biokonsentrasi pada daging ikan, yakni Fe (658,33), Cu (4541,90), Zn (17357,83), As (9,94) dan Pb (142,53). Nilai Target Hazard Quotient (THQ) pada anak untuk semua logam berat >1, sedang pada dewasa yang mempunyai nilai THQ>1 adalah Zn, As, dan Pb. Nilai Hazard Index (HI)>1 pada anak dan dewasa sehingga konsumsi ikan berisiko memunculkan penyakit degeneratif non kanker. Konsumsi daging ikan berisiko memunculkan penyakit kanker, pada dewasa, yaitu rendah-sedang, sedangkan pada anak sedang-tinggi. Konsumsi harian ikan columbia catfish yang aman untuk anak 0,004 g/hari dan dewasa 0,015 g/hari. Batas konsumsi maksimum untuk anak 0,026 kg/minggu dan dewasa 0,091 kg/minggu. Anak-anak jauh lebih rentan dibanding dewasa.Cinangka Village, located in Bogor, was historically known as a site for illegal battery recycling. However, the activity ceased 15 years ago. The aim of this study was to determine the potential health impacts of consuming Columbia catfish raised in a pond contaminated by used battery smelting and its potential for causing cancer, non-cancer degenerative diseases, and affecting food safety. The study included testing for heavy metal content in the fish flesh and dissolved metals in the water using XRF and AAS techniques. It also calculated bioconcentration factors and assessed health risks associated with fish consumption, both for cancer and non-cancer conditions, in relation to food safety. The results indicated that the fish is capable of effectively accumulating heavy metals in its body. The flesh was found to be contaminated with Fe (537.53 ppm), Cu (47.69 ppm), Zn (942.53 ppm), As (11.58 ppm), and Pb (13.07 ppm). The pond water itself was contaminated with Fe, Zn, As, Pb, and Cu. Bioconcentration of these metals was observed in the flesh, with Fe (658.33), Cu (4541.90), Zn (17357.83), As (9.94), and Pb (142.53). The Target Hazard Quotient (THQ) > 1 value for all heavy metals in children, while for adults, the THQ > 1 only for Zn, As, and Pb. Both children and adults had a Hazard Index (HI) > 1, indicating that consuming these fish presents a risk of non-cancer degenerative diseases. Consuming fish poses a cancer risk, with the risk level being low to medium for adults and medium to high for children. The safe daily consumption of Columbia catfish for children is 0.004 grams per day, while for adults, it is 0.015 grams per day. The maximum safe consumption limit is 0.026 kg/week for children and 0.091 kg/week for adults. Children are notably more vulnerable to these risks than adults

    Karakteristik fisikokimia dan umur simpan cendol sagu instan dengan variasi kemasan dan metode pengeringan: Physicochemical characteristics and shelf life of instant sago cendol with variations in packaging and drying methods

    No full text
    Cendol merupakan minuman tradisional yang banyak diminati, namun memiliki kandungan gizi rendah karena didominasi tepung beras dan kadar air yang tinggi. Kandungan gizi cendol yang rendah dapat ditingkatkan melalui fortifikasi 1,25% tepung ikan gabus, sementara kadar airnya dapat dikurangi dengan metode pengeringan oven dan cabinet dryer. Selain itu, diversifikasi sumber karbohidrat dengan substitusi tepung beras menggunakan tepung sagu juga dapat dilakukan. Penurunan kadar air ini berkontribusi pada peningkatan umur simpan cendol. Tujuan penelitian, yaitu menentukan jenis kemasan (HDPE, foil aluminium, dan kombinasi keduanya) dan metode pengeringan terbaik terhadap karakteristik fisikokimia, umur simpan, dan angka lempeng total cendol sagu instan dengan fortifikasi ikan gabus. Metode umur simpan menggunakan perlakuan metode Accelerated Shelf Life Test (ASLT) dengan model Arrhenius diterapkan pada suhu 25°C, 35°C, dan 45°C dengan penyimpanan selama 0, 5, 10, 15, dan 20 hari. Hasil menunjukkan bahwa cendol instan dengan pengeringan cabinet dyer menghasilkan karakteristik fisikokimia yang tinggi dengan kadar albumin 5,6%. Cendol instan yang dikemas dengan foil aluminium memiliki umur simpan lebih lama, yaitu mencapai 10 bulan dibandingkan dengan kemasan HDPE maupun kombinasi keduanya, baik dengan pengeringan cabinet dryer maupun oven dengan jumlah total mikrob <1,0×106.Cendol is a traditional drink that is highly popular but has low nutritional content due to its composition, which is predominantly rice flour and a high-water content. The low nutritional content of cendol can be increased through fortification with 1.25% snakehead fish meal, while the water content can be reduced by oven and cabinet dryer drying methods. Apart from that, diversifying carbohydrate sources by substituting rice flour for sago flour can also be done. This reduction in water content contributes to increasing the shelf life of cendol. This study aims to find the best type of packaging (HDPE, aluminum foil, or a mix of both) and the best drying method by looking at the physical and chemical properties, shelf life, and total plate count of instant sago cendol that includes snakehead fish. The shelf life method uses the Accelerated Shelf Life Test (ASLT) method with the Arrhenius model applied at temperatures of 25°C, 35°C, and 45°C with storage for 0, 5, 10, 15, and 20 days. The results indicated that instant cendol with cabinet dryer drying produced high physicochemical characteristics with an albumin content of 5.6%; instant cendol packaged in aluminum foil has a longer shelf life, reaching 10 months compared to HDPE packaging or a combination of both, either with cabinet dryer or oven drying, with the total number of microbes being <1.0x106

    Pemanfaatan bakteri asam laktat dari pekasam tradisional sebagai kultur starter untuk pekasam skala laboratorium : Application of lactic acid bacteria from traditional pekasam as a starter culture for laboratory-scale pekasam

    No full text
    Pekasam merupakan salah satu makanan tradisonal yang berbahan dasar ikan yang dibuat dengan proses fermentasi. Pembuatan pekasam secara tradisional dilakukan dengan fermentasi spontan sehingga mempunyai karakteristik yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan menentukan isolat bakteri asam laktat (BAL) dari pekasam tradisional sebagai kultur starter untuk fermentasi pekasam skala laboratorium. Sampel pekasam tradisional diperoleh dari tiga perajin pekasam asal Kabupaten Sambas Kalimantan Barat (SB1, SB2 dan SB3). Hasil isolasi BAL dari ketiga sampel pekasam diperoleh 34 isolat. Isolat memiliki bentuk bulat, tepian rata, dan permukaan cembung. Koloni yang ditemukan terdiri atas 32 koloni berwarna putih susu dan 2 koloni berwarna putih kekuningan. Isolat merupakan gram positif, 31 sel berbentuk basil dan 3 sel berbentuk kokus. Isolat BAL yang terseleksi dari pengujian proteolitik dan hemolitik ada 6 isolat, yaitu SB1.1, SB1.5, SB2.4, SB3.1, SB3.2 dan SB3.8. Berdasarkan nilai indeks proteolitik dipilih tiga isolat (SB1.1, SB1.5, dan SB2.4) sebagai kultur starter dalam pembuatan pekasam skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan penambahan kultur starter dalam pembuatan pekasam berpengaruh nyata terhadap kadar abu, protein, lemak, dan serat pekasam yang dihasilkan, namun tidak berpengaruh terhadap kadar air pekasam. Kadar abu pekasam skala laboratorium adalah 7,12-7,32%; protein 12,68-13,07%; lemak 5,43-8,80%; karbohidrat 6,97-10,45%; serat 7,58-7,90%, energi 143,85-162,18 kal/100g, dan air 55,87-56,4%.Pekasam is one of the traditional fish-based foods made by fermentation. Traditionally, pekasam is made by spontaneous fermentation, so it has inconsistent characteristics. This study aims to determine lactic acid bacteria (LAB) isolates from traditional pekasam as starter cultures for laboratory-scale pekasam fermentation. Traditional pekasam samples were obtained from three pekasam artisans from Sambas Regency, West Kalimantan (SB1, SB2, and SB3). The isolation of LAB from the three pekasam samples resulted in the acquisition of 34 isolates. Isolates have a round shape, flat edges, and a convex surface. Colonies found consisted of 32 milky white colonies and 2 yellowish white colonies. The isolates were gram-positive, with 31 bacillus-shaped cells and 3 coccus-shaped cells. Six LAB isolates selected from proteolytic and hemolytic testing were SB1.1, SB1.5, SB2.4, SB3.1, SB3.2, and SB3.8. Based on the proteolytic index value, three isolates (SB1.1, SB1.5, and SB2.4) were selected as starter cultures in the manufacture of laboratory-scale pekasam. The results indicated that the addition of starter culture in making pekasam had a significant effect on the ash, protein, fat, and fiber content of pekasam produced but had no effect on the moisture content of pekasam. The ash content of laboratory-scale pekasam was 7.12-7.32%, protein 12.68-13.07%, fat 5.43-8.80%, carbohydrate 6.97-10.45%, fiber 7.58-7.90%, energy 143.85-162.18 cal/100 g, and water 55.87-56.4%

    455

    full texts

    814

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇