Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    814 research outputs found

    Profil Protein Daging Ikan Kurisi Merah (Pagrus major) yang Diberi Pakan dengan Tambahan Tepung Daun Zaitun (Olea europaea L.): Profile Protein of Fish Red Sea Bream (Pagrus major) Muscle Fed with Additional Olive (Olea europaea L.) Leaf Powder

    No full text
    Pemberian pakan dengan tambahan antioksidan dari bahan alam terbukti mampu meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Aktivitas antioksidan dari bahan alam ditentukan oleh kandungan polifenol. Daun zaitun mengandung 6-9% polifeneol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan tepung daun zaitun pada pakan terhadap profil protein daging ikan yang dikultur selama 25 hari pada akuarium dengan kondisi yang terkontrol. Komposisi protein daging dianalisis dengan SDS-PAGE dan kandungan protein sarkoplasma, miofibril dan kolagen dianalisa dengan metode biuret. Kandungan protein sarkoplasma dan miofibril tidak berbeda pada kedua kelompok ikan, tetapi kandungan kolagen daging ikan yang diberi pakan dengan tepung daun zaitun 1,63 kali lebih tinggi dibanding ikan dengan pakan kontrol. Mikrostruktur daging ikan dengan pakan tepung daun zaitun lebih kompak dibanding ikan dengan pakan kontrol, hal tersebut disebabkan kandungan kolagen yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung daun zaitun pada pakan mampu meningkatkan tekstur pada daging melalui peningkatan kuantitas dan kualitas serat kolagen pada endomisium

    Penghambatan fraksi fukoidan rumput laut cokelat (Sargassum polycystum dan Turbinaria conoides) terhadap α-amilase dan α-glukosidase: The Inhibition of Fucoidan Fraction from Sargassum polycystum and Turbinaria conoides to α-Amylase and α-Glucosidase

    No full text
    Fukoidan merupakan polisakarida tersulfat dalam rumput laut cokelat yang memiliki aktivitas biologis, di antaranya sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan fukoidan dari rumput laut cokelat (Sargassum polycystum dan Turbinaria conoides) sebagai antidiabetes, yaitu dalam menghambat aktivitas α-amilase dan α-glukosidase secara in vitro. Kemampuan penghambatan enzim dievaluasi dari ekstrak kasar fukoidan, hasil fraksinasi dengan membran ultrafiltrasi (10 dan 30 kDa), dan kromatografi filtrasi gel. Ekstrak kasar fukoidan (1 mg/mL) dari S. polycystum hasil ekstraksi asam, dan dari T. conoides hasil ekstraksi air menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap α-amilase dan α-glukosidase yang tertinggi. Fraksi dengan berat molekul >30 kDa hasil ultrafiltrasi ekstrak fukoidan dari S. polycystum dan T. conoides (pada konsentrasi 50 mg ekstrak/3,0 mL akuabides) menunjukkan aktivitas penghambatan yang rendah terhadap α-amilase (16,88% dan 9,67%), tetapi tinggi terhadap α-glukosidase (99,06% dan 65,97%). Fraksinasi dengan kromatografi filtrasi gel menunjukkan adanya senyawa aktif dalam fraksi fukoidan yang memiliki aktivitas penghambatan yang tinggi terhadap α-glukosidase, yaitu fraksi dengan berat molekul 30-70 kDa untuk S. polycystum dan >70 kDa untuk T. conoides. Penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi fukoidan dari S. polycystum dan T. conoides memiliki kemampuan penghambatan terutama terhadap α-amilase dan α-glukosidase, dan berpotensi sebagai antidiabetes

    Kualitas Daging Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) Hasil Tangkapan Nelayan di Pelabuhan Perikanan Branta, Pamekasan: Quality of Kurisi Meat (Nemipterus japonicus), Results of Fisherman Catching in Branta Fishing Port, Pamekasan

    No full text
    Kontrol mutu hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Perikanan Branta, Pamekasan masih belum dilaksanakan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas daging ikan kurisi berdasarkan nilai Total Plate Count (TPC), keanekaragaman jenis, total kelimpahan jenis bakteri heterotrof dan patogen pada media TSA, EMB, SSA, dan TCBS. Nilai TPC bakteri heterotrof (TSA) adalah 8,59 Log CFU/g dengan 7 keanekaragaman jenis dan total kelimpahan tertinggi antara 2-336 koloni (BH3). Nilai TPC bakteri patogen (EMB) adalah 3,72 Log CFU/g dengan 6 keanekaragaman jenis dan total kelimpahan tertinggi antara 784-1009 koloni (BPE4), serta isolat bakteri BPE1 yang berwarna hijau metalik diduga sebagai Escherichia coli. Nilai TPC bakteri patogen (SSA) adalah 4,12 Log CFU/g dengan 5 keanekaragaman jenis dan total kelimpahan tertinggi antara 35-450 koloni (BPS1), serta isolat bakteri BPS1 yang berwarna hitam diduga sebagai Salmonella sp. Nilai TPC bakteri patogen (TCBS) adalah 5,41 Log CFU/g dengan 2 keanekaragaman jenis dan total kelimpahan tertinggi antara 0-44 koloni (BPT1). Isolat bakteri BPT1 dan BPT2 yang berwarna hijau dan kuning diduga sebagai Vibrio parahaemolyticus dan Vibrio vulnificus.Quality control over the catch of fishermen in the Branta Fishery Port, Pamekasan is still not well-implemented. This study was aimed to evaluate the quality of kurisi fish meat based on the value of the Total Plate Count (TPC), diversity and total heterotrophic bacteria and pathogens on TSA, EMB, SSA, and TCBS media. The heterotrophic bacterial TPC (TSA) value was 8.59 Log CFU/g with 7 species diversity and the highest total of species abundance was between 2-336 colonies (BH3). The pathogenic bacterial TPC (EMB) value was 3.72 Log CFU/g with 6 species diversity and the highest total of species abundance was between 784-1009 colonies (BPE4). The BPE1 bacterial isolate which was metallic green was suspected to be Escherichia coli. The pathogenic bacterial TPC (SSA) value was 4.12 Log CFU/g with 5 species diversity and the highest total of species abundance was between 35-450 colonies (BPS1), and the BPS1 bacterial isolate which was black was suspected to be Salmonella sp. The pathogenic bacterial TPC (TCBS) value was 5.41 Log CFU/g with 2 species diversity and the highest total of species abundance was between 0-44 colonies (BPT1). The green and yellow BPT1 and BPT2 bacterial isolate were suspected to be Vibrio parahaemolyticus and Vibrio vulnificus

    Karakteristik Produk Uli Khas Suku Badui dengan Penambahan Daging Ikan Bandeng (Chanos chanos): Characteristics of Uli as a Typical Product of the Badui Tribe with the Addition of Milkfish Meat (Chanos chanos)

    No full text
    Uli adalah pangan lokal khas suku Baduy dengan bahan baku utama beras ketan. Produk tersebut memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, namun rendah jenis gizi lainnya. Oleh karena itu, peningkatan nilai gizi dilakukan melalui penambahan daging ikan bandeng. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perlakuan optimum dan  karateristik kimia, fisik, serta organoleptik produk uli khas Baduy yang ditambahkan daging ikan bandeng. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu preparasi ikan bandeng, pembuatan uli, dan karakterisasi produk yang meliputi kimia (air, abu, protein, dan lemak), fisik (kekerasan), dan organoleptik (rasa, warna, tekstur, dan aroma) dengan panelis tidak terlatih. Perlakuan yang diberikan adalah konsentrasi daging ikan bandeng dengan tiga taraf yaitu 0%, 10%, 20%, dan 30%. Kadar air produk uli tidak berbeda nyata pada tiap perlakuan, sedangkan nilai kadar abunya berkisar antara 1,32-3,00% dan optimum pada konsentrasi 20%. Kadar protein tertinggi terdapat pada konsentrasi 20% dengan nilai 9,15%, sedangkan lemak paling tinggi pada konsentrasi 20% dan 30%. Nilai kekerasan produk uli mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya konsentrasi daging ikan bandeng dengan kisaran 2319,59-4184,85 g. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa pada parameter rasa, warna, tekstur, dan aroma memiliki nilai yang tidak berpengaruh nyata, artinya penambahan daging ikan bandeng masih disukai. Konsentrasi optimum penambahan daging ikan bandeng pada produk uli adalah 20%.Uli is a local food of the Badui tribe made from sticky rice. Uli has a high carbohydrate content but is low in other types of nutrients. Therefore, to increase the nutritional value,  milkfish meat can be added to the Uli. This study was aimed to determine effect of addition of milkfish meat on the chemical, physical, and organoleptic characteristics of the uliThis research includesd the preparation of milkfish, uli production and product characterizationincluding chemical (moisture, ash, protein, and fat), physical (hardness), and organoleptic (taste, color, texture, and aroma). Three concentration of milkfish were added  including 0%, 10%, 20%, and 30%. The lowest moisture content of the uli was found at 30% concentration of milkfish with a 49.44% value. The ash content ranged from 1.32 to 3.00%, and the lowest was at concentration of 20%. The highest protein content (9.15%) was found at 20% concentration with  value, while the highest levels of fat (8.82%) were at concentration of 20% . The hardness value of uli decreased with the increase in milkfish concentration with values ranging 2,319.59-4,184.85 gf. The organoleptic test results showed that the parameters of taste, color, texture, and aroma were not significant affected, meaning that the addition of milkfish meat was still preferred. Thus, the optimum concentration of milkfish meat added in to the uli product was 20%.   &nbsp

    Nilai sun protection factor anggur laut segar dengan metode dan jenis pelarut ekstraksi yang berbeda: SPF Value of Fresh Sea Grape Extract from Different Solvent and Method of Extraction

    No full text
    Kanker kulit melanoma merupakan satu dari sembilan belas kanker yang sering terjadi di seluruh dunia. Kebutuhan akan adanya alternatif zat aktif tabir surya menjadi sangat penting terutama dari bahan alam laut yaitu anggur laut (Caulerpa sp.). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF ekstrak cair anggur laut segar dengan metode ekstraksi yang berbeda. Metode ekstraksi dilakukan dengan dua cara yaitu maserasi dan microwave-assisted extraction (MAE) masing-masing dengan tiga jenis pelarut (etanol, air, dan etanol-air 1:1). Ekstrak cair yang dihasilkan diukur pH dan ditentukan nilai SPF secara invitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Ekstrak cair anggur laut segar dengan nilai SPF in vitro tertinggi kemudian dianalisis aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Ekstrak cair yang dihasilkan berbau amis, dan berwarna hijau dengan intensitas warna yang berbeda. Interaksi antara perlakuan metode ekstraksi dan jenis pelarut menunjukkan perbedaan signifikan terhadap nilai pH ekstrak cair anggur laut segar. Nilai SPF dari ekstrak maserasi etanol, air, dan etanol-air berturut-turut 0,583; 3,099; 2,911 sedangkan ekstrakMAE 3,807; 5,555; 4,979. Metode MAE menunjukkan nilai SPF in vitro yang lebih tinggi secara signifikan daripada maserasi tanpa melihat perbedaan pelarut.Hasil persentase penghambatan DPPH dari ekstrak MAE dengan pelarut etanol, air, dan etanol-air pada konsentrasi 106 mg/mL berturut-turut 33,85%; 22,99%; 17,44%. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol dengan metode ekstraksi MAE lebih tinggi daripada ekstrak dengan pelarut lainnya namun tidak lebih  tinggi dibandingkan dengan asam askorbat sebagai pembanding

    Teknik penanganan dan cemaran mikroba pada ikan layang segar di pasar tradisional Kota Ambon. : Handling techniques and Microbial Contamination on Fresh Scads Fish (Decapterus sp) in Traditional Markets, Ambon City

    No full text
    Hasil perikanan merupakan produk yang mudah mengalami kebusukan, sehingga diperlukan teknik penanganan yang cermat dan tepat untuk mempertahankan mutunya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan dampak penanganan ikan layang yang dijual di pasar. Ikan layang diambil secara acak di Pasar Arumbae dan Pasar Batu Merah Kota Ambon dua kali dalam sehari yakni pada waktu pagi dan waktu sore hari. Teknik penanganan ikan diamati pada saat distribusi dan penanganan di pasar yang meliputi pembersihan, penyimpanan, peletakan ikan serta pemberian es. Jumlah cemaran mikroba pada sampel dihitung menggunakan metode total plate count (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cemaran mikroba pada ikan yang diambil pada pagi hari lebih rendah dibandingkan pada ikan yang diambil pada sore hari. Teknik penanganan dan penjajakan ikan layang yang diterapkan oleh para pedagang di Pasar Arumbae dan Batu Merah belum diterapkan dengan baik dan belum memperhatikan sistem rantai dingin, sanitasi air, dan tempat penyimpanan ikan selama penjualan. Jumlah cemaran mikroba pada ikan layang segar di Pasar Arumbae dan Pasar Batu Merah pada pagi hari yakni 1,2x10⁴-2,6x104 CFU/g dan 1,5x104-2,6x104 CFU/g sedangkan pada sore hari yaitu 2,4x10⁴-5,0x105 CFU/g dan 4,9x104-4,6x105 CFU/g. Jumlah mikroba pada ikan layang segar di pasar tradisional Kota Ambon masih sesuai standar mutu mikrobiologi ikan segar yaitu maksimal 5x10⁵ CFU/g

    Aktivitas Antioksidan Hidrolisat Kolagen Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus): Antioxidant activity of Tilapia (Oreochromis niloticus) Skin Collagen Hydrolizate

    No full text
    Tilapia skin is a by-product of fish processing which can be used as an alternative raw material for collagen and its hydrolyzate. Collagen hydrolyzate is known to have potential biological activities including antioxidants. This study aims to examine the antioxidant activity of collagen hydrolyzate from the skin of tilapia (Oreochromis niloticus) in vitro. This research was divided into three stages including collagen pretratment, collagen extraction and collagen hydrolysis. In the hydrolysis process papain enzymes are used with different concentrations (4,000 U/g, 6,000 U/g, 8,000 U/g samples) with hydrolysis time for 60, 120 and 180 minutes. The average yield value of tilapia skin collagen hydrolyzate was 15.17%. The hydrolysis time, the concentration of enzymes given and the interaction between the two factors significantly affected the value of the degree of hydrolysis and antioxidant activity of the hydrolyzed collagen of tilapia skin. Collagen hydrolyzed for 120 minutes by giving an enzyme concentration of 8,000 U had an average percentage of degree of hydrolysis of 33.94%, and the best IC50 value was 93.32 µg/mL, categorized as strong antioxidant compounds. The zeta potential value of the tilapia skin collagen hydrolyzate was -10.9 mV.Kulit ikan nila merupakan hasil samping proses pengolahan ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan baku kolagen dan hidrolisatnya. Hidrolisat kolagen diketahui memiliki aktivitas biologis yang potensial diantaranya sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan hidrolisat kolagen dari kulit ikan nila (Oreochromis niloticus) secara in vitro. Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap meliputi fase praperlakuan kolagen, ekstraksi kolagen dan hidrolisis kolagen. Pada proses hidrolisis digunakan enzim papain dengan konsentrasi yang berbeda (4.000 U/g, 6.000 U/g, 8.000 U/g sampel) dengan waktu hidrolisis selama 60, 120 dan 180 menit. Rerata nilai rendemen hidrolisat kolagen kulit ikan nila sebesar 15,17%. Waktu hidrolisis, konsentrasi enzim yang diberikan serta interaksi antar kedua faktor tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap nilai derajat hidrolisis dan aktivitas antioksidan hidrolisat kolagen kulit ikan nila. Hidrolisat kolagen kulit ikan nila yang dihidrolisis selama 120 menit dengan pemberian konsentrasi enzim sebesar 8.000 U memiliki rerata persentase derajat hidrolisis sebesar 33,94%, serta rerata nilai IC50 terbaik yakni 93,32 µg/mL, termasuk pada kategori senyawa antioksidan kuat. Nilai zeta potensial hidrolisat kolagen kulit ikan nila adalah -10,9 mV

    Perbandingan Metode Isolasi DNA pada Produk Perikanan Segar dan Olahan: Comparison of DNA Isolation Methods for Fresh and Processed Seafood

    No full text
    Produk perikanan menjadi salah satu komoditas pangan penting dalam dunia perdagangan, akan tetapi perkembangan tersebut diikuti dengan meningkatnya kasus pemalsuan produk perikanan yang dapat merugikan konsumen. Oleh karena itu diperlukan metode untuk mengidentifikasi secara spesifik spesies produk perikanan. Salah satu metode seafood authentication yang telah dikembangkan adalah metode berbasis DNA. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan kemurnian DNA berdasarkan beberapa metode isolasi pada produk perikanan segar dan olahan. Metode isolasi DNA yang digunakan pada penelitian ini adalah metode konvensional setiltrimetilamonium bromida (CTAB) dan beberapa kit komersial (DNAzol, TianGen, Qiagen, dan Fasmac). Konsentrasi dan kemurnian DNA ditentukan berdasarkan spektrofotometri nanodrop, serta visualisasi elektroforegram hasil elektroforesis. Hasil isolasi DNA menunjukkan bahwa konsentrasi DNA produk perikanan segar lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi isolat DNA pada produk perikanan olahan. Isolat DNA dengan metode isolasi CTAB memiliki tingkat kemurnian DNA yang lebih baik jika dibandingkan isolat DNA meggunakan kit komersial pada semua sampel. Isolat DNA yang diekstraksi menggunakan kit komersial dengan tingkat kemurnian yang mendekati metode CTAB terdapat pada isolat DNA dengan kit TianGen.Seafood product is an important commodity in the global trade market, however, seafood fraud has been increasingly reported. Therefore, a method to specifically identify species of seafood products is needed. DNA methods gain many interests for detection of seafood fraud due to its robustness. This study was aimed to determine the effectiveness of several methods for isolation of DNA from fresh and processed seafood. The DNA isolation methods used in this study were the CTAB DNAzol, TianGen, Qiagen, and Fasmac.. DNA concentration and purity were determinedusing nanodrop spectrofotometry and electrophoresis. DNA isolation showed that the DNA concentration of fresh seafood products was higher than the processed seafood products. DNA isolation using CTAB method have higher levels of DNA purity (1.60-2.00) than using commercial kits in all samples. The commercial kits offer a simple procedure and minimize the possibility of environmental contaminants

    Komponen bioaktif dan aktivitas antioksidan ekstrak kasar Sargassum plagyophyllum: Bioactive Components and Antioxidant Activity of Sargassum plagiophyllum Crude Extract

    No full text
    Rumput laut cokelat (Sargassum plagyophyllum) berpotensi sebagai antioksidan alami karena memiliki kandungan flavonoid dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi proksimat, mengidentifikasi komponen bioaktif, dan aktivitas antioksidan ekstrak kasar S. plagyophyllum. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melakukan ekstraksi S. plagyophyllum menggunakan beberapa pelarut organik, antara lain: n-heksana, etil asetat, dan metanol. Parameter analisis terdiri atas analisis proksimat, rendemen, fitokimia, dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan komposisi kimia (kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan total serat kasar) berturut-turut sebesar 15,98 (bb); 21,38%; protein 9,05%; 0,88%; 68,69%; 22,24% (bk). Rendemen ekstrak heksana, etil asetat, dan metanol adalah 0,6; 0,28; dan 0,31%. Hasil ekstraksi dengan pelarut heksana didapatkan senyawa steroid/triterpenoid; pelarut etil asetat didapatkan senyawa alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, saponin, dan fenolik; sedangkan ekstraksi dengan pelarut metanol didapatkan semua komponen bioaktif kecuali flavonoid. Aktivitas antioksidan ekstrak S. plagyophylum dengan heksana, etil asetat, dan metanol dihasilkan nilai nilai IC50 1105,58 ppm; 532,42 ppm; dan 777,79 ppm

    Kinerja Membran Komposit Kitosan-Karagenan pada Sistem Microbial Fuel Cell dalam menghasilkan Biolistrik dari Limbah Pemindangan Ikan: Performance of Chitosan-Carrageenan Composite Membrane on Microbial Fuel Cell System in Producing Bioelectricity from Boiled Fish Wastewater

    No full text
    Microbial fuel cell (MFC) merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan mikroba untuk mendegradasi bahan organik dan anorganik menjadi energi listrik, dapat dilakukan menggunakan sistem satu bejana atau dua bejana. Sistem MFC dua bejana menggunakan membran penukar proton yang berfungsi untuk mengalirkan proton yang dihasilkan dari ruang anoda ke ruang katoda, salah satu alternatif membran yang digunakan yaitu komposit kitosan-karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan komposit kitosan-karagenan sebagai membran penukar proton pada MFC, menentukan kinerja MFC dalam menghasilkan elektrisitas, serta menentukan kinerja penurunan beban polutan limbah cair pada MFC. Nilai elektrisitas MFC diukur menggunakan multimeter dengan parameter yang diuji adalah tegangan listrik, serta arus listrik. Parameter uji yang digunakan untuk mengukur penurunan beban polutan limbah cair adalah chemical oxygen demand (COD), biologycal oxygen demand (BOD) dan total amonia nitrogen (TAN). Membran komposit kitosan-karagenan dibuat dengan perlakuan perbedaan komposisi kitosan dan karagenan 1:1; 1,5:1; 3:1 (v/v). Perbedaan rasio kitosan dan karagenan pada membran komposit kitosan-karagenan memberikan pengaruh terhadap sifat mekanik membran, nilai elektrisitas MFC, serta beban polutan cair pada MFC. Membran komposit kitosan-karagenan dengan perbandingan 1:1 menghasilkan nilai konduktivitas proton tertinggi sebesar 1,15x10-3 S/cm, kuat tarik tertinggi 7,047 MPa, tegangan listrik 0,97 V, arus 7,02 mA, serta daya listrik 6,84 mW. Nilai COD, BOD, serta TAN limbah cair pemindangan ikan mengalami penurunan sebesar 90%, 76% dan 32%

    455

    full texts

    814

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇