Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Karakteristik Kolagen Larut Asam Teripang Gama (Stichopus variegatus): Characteristics of Stichopus variegatus acid solution collagen
Kolagen dibutuhkan pada berbagai industri farmasi, makanan, dan kosmetik, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Komoditas perikanan terutama teripang gama dapat digunakan sebagai sumber kolagen yang halal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik fisikokimia kolagen larut asam teripang gama. Perlakuan untuk mendapatkan protein kolagen dilakukan dengan misahankan protein non kolagen menggunakan perendaman dalam NaOH 0,1 M selama 48 jam kemudian di netralisasi. Tahap selanjutnya dilakukan hidrolisis dan ekstraksi protein kolagen dengan asam asetat 0,5 M selama 48 jam. Hasil pemisahan protein non kolagen menunjukkan kadar protein non kolagen sebesar 0,02 mg/mL. Rendemen kolagen teripang gama yang didapat sebesar 2,4%. Kolagen larut asam teripang gama memiliki karakteristik fisik yaitu, derajat putih 61,83%, suhu denaturasi pada 48°C, suhu transisi pada 87,80°C, dan suhu pelelehan pada 162,40°C, serta viskositas 5,37 cP. Karakter kimia kolagen larut asam teripang gama yaitu pH 6,12 denganjenis asam amino penyusun kolagen, yaitu prolina 6,80%, alanina 10,61% dan glisina 12,63%, serta bilangan gelombang FTIR gugus fungsi yaitu amida I (1657,9), II (1572,0), dan III (1242,2) A (3406,3), dan B (2920,2) (cm-1)
Deteksi bakteri pembentuk amina biogenik pada ikan Scombridae secara multiplex PCR: Detection of Biogenic Amine Producing Bacteria in Scombridae Fish based on Multiplex PCR assay
Biogenic amines are nitrogenous base components formed by amino acid decarboxylation. Biogenic amines that are often detected in fishery products are histamine, tyramine and cadaverine. The amino acid decarboxylation coding genes are histidine decarboxylase (hdc), tyrosine decarboxylase (tdc) and lysine decarboxylase (ldc). The purpose of this study was to isolate DNA, select pre-enrichment media that can express biogenic amine forming genes using multiplex PCR , as well as identify biogenic amine forming bacteria. The specimens used were frozen tuna, little tuna, skipjack, and loin tuna. In addition, Indonesian traditional tuna sucha as pindang potong, pindang bumbu kuning were observed. Tuna stored at room temperature for 3 days was used as positive control. The study consisted of the pre-enrichment stage of bacteria on lactose broth and marine broth medias, DNA isolation (sample with and non pre-enrichment), purity test and isolate concentration of target gene of hdc, tdc, ldc using multiplex PCR. The result obtained were generally in a good quality of bacterial DNA isolates, with concentration ranged between 15.75-157.84 ng/μL. The multiplex PCR was successful in expressing hdc, tdc and ldc genes in scombridae fish on marine broth pre-enrichment media. The optimum condition for PCR amplification was annealing at 50°C for 90 seconds. Biogenic amine bacteria were identified, namely histamine forming bactria were Morganella morganii, Enterobacter aerogenes and Acinetobacter baumannii, cadaverin forming bacteria were Citrobacter sp., Hafnia paralvei, Obesumbacterium proteus Enterobacteer cloacae and Enterobacter hormachei, tyramine forming bacteria is Enterococcus faecalis.Amina biogenik merupakan komponen basa nitrogen yang terbentuk oleh dekarboksilasi asam amino. Amina biogenik yang sering terdeteksi pada produk perikanan di antaranya histamin, tiramin dan kadaverin. Gen pengkode dekarboksilasi asam amino tersebut yaitu histidine decarboxylase (hdc), tyrosine decarboxylase (tdc) serta lysine decarboxylase (ldc). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat DNA bakteri beserta konsentrasi dan kemurniannya, menyeleksi media pertumbuhan bakteri, mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc menggunakan multiplex PCR serta identifikasi bakteri.. Sampel yang digunakan yaitu ikan tuna beku, tongkol beku, cakalang beku, tuna loin, pindang tongkol potong dan pindang tongkol bumbu kuning serta kontrol positif menggunakan ikan tuna yang disimpan pada suhu ruang selama 3 hari. Penelitian terdiri dari tahap pra-pengayaan bakteri pada media marine broth dan lactose broth, isolasi DNA sampel tanpa dan hasil pra-pengayaan, uji kemurnian dan konsentrasi isolat serta amplifikasi gen target hdc, tdc, ldc menggunakan multiplex PCR. Hasil yang diperoleh yaitu kualitas isolat DNA bakteri pada umumnya sudah murni, dengan konsentrasi isolat 15,75-157,84 ng/µL. Teknik multiplex PCR berhasil mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc pada ikan scombridae. Kondisi optimum amplifikasi PCR yaitu annealing pada suhu 50°C selama 90 detik. Gen yang terdeteksi pada sampel tanpa pra-pengayaan yaitu tdc, sedangkan ldc dan hdc ditemukan pada sampel hasil pra-pengayaan media lactose broth dan marine broth. Bakteri pembentuk amina biogenik teridentifikasi sebagai Enterococcus fecalis, M. morganii, E. aerogenes, Citrobacter sp., Hafnia paralvei dan Obesumbacterium proteus.
Amina biogenik merupakan komponen basa nitrogen yang terbentuk oleh dekarboksilasi asam amino. Amina biogenik yang sering terdeteksi pada produk perikanan di antaranya histamin, tiramin dan kadaverin. Gen pengkode dekarboksilasi asam amino tersebut yaitu histidine decarboxylase (hdc), tyrosine decarboxylase (tdc) serta lysine decarboxylase (ldc). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat DNA bakteri beserta konsentrasi dan kemurniannya, menyeleksi media pertumbuhan bakteri, mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc menggunakan multiplex PCR serta identifikasi bakteri.. Sampel yang digunakan yaitu ikan tuna beku, tongkol beku, cakalang beku, tuna loin, pindang tongkol potong dan pindang tongkol bumbu kuning serta kontrol positif menggunakan ikan tuna yang disimpan pada suhu ruang selama 3 hari. Penelitian terdiri dari tahap pra-pengayaan bakteri pada media marine broth dan lactose broth, isolasi DNA sampel tanpa dan hasil pra-pengayaan, uji kemurnian dan konsentrasi isolat serta amplifikasi gen target hdc, tdc, ldc menggunakan multiplex PCR. Hasil yang diperoleh yaitu kualitas isolat DNA bakteri pada umumnya sudah murni, dengan konsentrasi isolat 15,75-157,84 ng/µL. Teknik multiplex PCR berhasil mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc pada ikan scombridae. Kondisi optimum amplifikasi PCR yaitu annealing pada suhu 50°C selama 90 detik. Gen yang terdeteksi pada sampel tanpa pra-pengayaan yaitu tdc, sedangkan ldc dan hdc ditemukan pada sampel hasil pra-pengayaan media lactose broth dan marine broth. Bakteri pembentuk amina biogenik teridentifikasi sebagai Enterococcus fecalis, M. morganii, E. aerogenes, Citrobacter sp., Hafnia paralvei dan Obesumbacterium proteus
Penapisan Senyawa Bioaktif pada Siput Laut Gonggong (Laevistrombus turturella) Asal Bintan : Bioactive Compound Screening of Gonggong Snail (Laevistrombus turturella)
Siput laut gonggong asal Bintan merupakan salah satu gastropoda laut yang belum dimanfaatkan secara optimal. Siput ini merupakan makanan laut khas Bintan dan harganya sangat mahal. Secara empiris, siput ini dipercaya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan penapisan senyawa bioaktif pada siput laut gonggong asal Bintan yaitu aktivitas antioksidan dan aktivitas antimikroba. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH dan aktivitas antimikroba dianalisis menggunakan metode difusi sumur. Aktivitas antioksidan ekstrak gonggong bercangkang tipis dengan IC50 1.433,08±0,01 ppm lebih tinggi daripada gonggong bercangkang tebal dengan IC50= 2.051,55±0,10 ppm. Aktivitas antimikroba pada ekstrak gonggong lebih baik pada bakteri Gram positif daripada bakteri Gram negatif. Ekstrak gonggong rebus bercangkang tebal memiliki aktivitas antimikroba yang paling tinggi dengan nilai rata-rata diameter daya hambat (DDH) yaitu 25,53±0,12 mm.The Bintan gonggong snail is one of the marine gastropods that has not been optimally utilized. This snail is a typical Bintan seafood and of expensive price. Empirically, this snail is believed can increase stamina and vitality. The purpose of this study was to screen bioactive compounds in gonggong snails from Bintan, including antioxidant and antimicrobial compounds.The antioxidant activity was analyzed using the DPPH method and the antimicrobial activity was analyzed using the diffusion well method. The antioxidant activity in thin-shelled gonggong extract (IC50 = 1,433.08±0.01 ppm) was higher than in thick-shelled gonggong (IC50 = 2,051.55±0.10 ppm). The antimicrobial activity of gonggong meat extract against Gram positive bacteria was better than against Gram negative bacteria. Thick-shelled boiled of gonggong had the highest antimicrobial activity with the inhibition zone diameter of 25.53±0.12 mm
Kandungan Nutrisi dan Bioaktif Rumput Laut (Euchema cottonii) dengan Metode Rakit Gantung pada Kedalaman Berbeda: Nutrition and Bioactive Compound of Seaweed (Euchema cottonii) with Hanging Raft Method at Different Depths
Many manufacture industries such as food, cosmetic, pharmaceutical, textile and agricultural industries utilize raw materials derived from seaweed. Agar, carrageenan, and alginate are often used as stabilizers, manufacturing materials, forming gels and emulsifiers. The nutrient levels and bioactive compounds in seaweeds are generally different depends on species, handling, culture period, and the culture location. This research was aimed to determine the depth of seaweed (Eucheuma cottonii) raft resulting in high nutrient content and bioactive compounds. Three groups were evaluated: Group I (from coastline to the lowest tidal); Group II (100 m from the lowest tidal) and group III (100 m away from group II). E. cottonii rafts were built in each group at 0.5 m, 1 m, and 2 m deep. Nutrient content including protein, lipid, and carbohydrate levels as well as bioactive compounds were determined. The highest nutrient content was found in seaweed growth in the 1 m deep hanging raft with protein of 4.16±0.61%, lipid 0.36±0.23%, and carbohydrate 25,50±6.06%. Phytochemical compounds including flavonoids, phenols hydroquinone, and tannins were identified in seaweed at all depths.Industri makanan, kosmetik, farmasi, tekstil, dan pertanian memanfaatkan bahan baku yang berasal dari rumput laut sebagai sumber agar, karagenan, dan alginat yang digunakan sebagai stabilisator, pengental, pembentuk gel, pengemulsi, dan sebagainya. Kadar nutrisi dan senyawa bioaktif rumput laut bervariasi tergantung jenis, penanganan, umur panen, dan lokasi perairan sebagai tempat budidayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kedalaman rakit gantung yang optimal dalam menghasilkan nutrisi dan senyawa bioaktif rumput laut (Eucheuma cottonii). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dan masing-masing kelompok terdri dari tiga perlakuan. Pengelompokan berdasarkan jarak dari garis pantai terdiri atas tiga kelompok yaitu: kelompok I (mulai dari garis pantai sampai surut terendah; kelompok II (100 m dari garis surut terendah) dan kelompok III (100 m dari kelompok II) dengan 3 perlakuan kedalaman yang berbeda yakni kedalaman 0,5 m, 1 m, dan 2 m. Parameter yang diuji adalah kadar protein, lemak, abu, air, dan karbohidrat serta senyawa bioaktif. Kandungan nutrisi yang tertinggi terdapat pada penempatan rakit gantung kedalaman 1 m yaitu protein sebesar 4,16±0,61%, lemak 0,36±0,23%, air 23,22±16,49%, abu 43,49±9,23% dan karbohidrat 25,50±6,06%. Sedangkan senyawa fitokimia pada semua kedalaman dan kelompok mengandung flavonoid, fenol hidrokuinon, dan tanin. Parameter kualitas air semua berada pada kisaran yang layak untuk pertumbuhan E.cottonii, kecuali kadar fosfat yang berkisar 0,0037–0,0041 ppm
Efektivitas bubur rumput laut Sargassum polycystum sebagai pembalur ikan nila (Oreochromis niloticus) untuk mempertahankan mutu: The Effectivity of Sargassum polycystum Porridge in Inhibiting of tilapia fish (Oreochromis niloticus) Quality Deterioration
Tujuan penelitian ini yaitu menentukan proporsi terbaik bubur rumput laut dalam menghambat kemunduran mutu ikan nila. Proporsi bubur rumput laut yang digunakan yaitu 0; 12,5; 25; 50%. Parameter uji meliputi organoleptik, derajat keasaman, total mikroba, dan total volatile base (TVB). Penelitian ini meliputi preparasi sampel, analisis fitokimia, pembuatan proporsi bubur rumput laut, serta penentuan proporsi bubur rumput laut terbaik. Penelitian dilakukan pada suhu ruang dengan dua kali ulangan. Hasil analisis fitokimia ekstrak metanol menunjukkan bahwa S. polycystum mengandung senyawa alkaloid, steroid, flavonoid, fenol, dan tanin. Proporsi bubur rumput laut 25% merupakan perlakuan terbaik dalam mempertahankan mutu ikan nila hingga waktu penyimpanan jam ke-6. Semakin lama waktu penyimpanan maka ikan nila semakin mengalami kemunduran mutu
Ekstraksi dry rendering dan karakterisasi minyak ikan patin (Pangasius sp.) hasil samping industri filet di lampung: Extraction with Dry Rendering Method and Characterization of Fish Oil by-Product of Pangasius Fillet Industries In Lampung
Produksi minyak ikan di Indonesia memiliki kualitas rendah dan hanya dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak. Tingginya suhu dan lamanya ekstraksi memicu pembentukan radikal bebas dan oksidasi pada minyak sehingga memengaruhi kualitas minyak yang dihasilkan. Perbaikan proses ekstraksi mampu menghasilkan minyak ikan dengan kualitas baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan suhu dan waktu ekstraksi untuk menghasilkan minyak ikan sesuai standar IFOS dengan metode dry rendering. Ekstraksi dilakukan pada suhu 50, 60, 70oC dan waktu 1, 2, 3 jam dengan metode dry rendering. Hasil ekstraksi terbaik yaitu pada suhu 50oC, 2 jam dan selanjutnya dilakukan pemurnian dengan proses bleaching menggunakan magnesol XL. Minyak ikan yang dihasilkan memiliki asam lemak bebas 0,08±0,03%, p-anisidin 1,92±0,63 mEq kg-1, total oksidasi 7,48±0,23 mEq kg-1 dan bilangan peroksida 2,70±0,20 mEq/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak ikan memenuhi standar IFOS pada parameter asam lemak bebas (≤ 1,5%), bilangan p-anisidin (≤ 20,0 meq kg-1), total oksidasi (≤ 26,0 meq kg-1) dan bilangan peroksida (≤5,0 meq kg-1)
Logam berat pada hiu tikus (Alopias pelagicus) dan hiu kejen (Loxodon macrorhinus) dari Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh: Heavy Metal Concentration in Pelagic Thresher (Alopias pelagicus) and Sliteye Shark (Loxodon macrorhinus) from Ocean Fishing Port of Lampulo, Banda Aceh
Hiu merupakan salah satu jenis ikan yang berpotensi tercemar logam berat. Hal ini karena hiu memiliki sebaran yang luas dan tergolong ke dalam konsumen tingkat tinggi pada jejaring makanan akuatik. Informasi terkait kandungan logam berat pada ikan hiu hasil tangkapan di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan logam berat (Pb, Hg, Cu dan Cd) dan batas aman konsumsi daging hiu tikus (Alopias pelagicus) dan hiu kejen (Loxodon macrorhinus) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh. Sebanyak sepuluh contoh dari masing-masing daging hiu tikus dan hiu kejen dianalisis kandungan logam beratnya menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Penentuan batas aman konsumsi dari daging hiu dilakukan menggunakan metode maximum tolerable intake (MTI). Hasil penelitian mengungkap dari 20 sampel daging hiu tikus dan hiu kejen yang diperiksa, keberadaan Pb, Cu dan Cd tidak terdeteksi. Sebaliknya, 60% dari total hiu yang diperiksa (baik hiu kejen maupun hiu tikus) terdeteksi mengandung Hg. Kandungan rata-rata Hg pada hiu tikus berkisar antara 0,007– 0,768 mg/kg sedangkan pada hiu kejen berkisar antara 0,030 – 0,708 mg/kg. Batas toleransi maksimum daging hiu tikus yang dapat dikosumsi oleh orang dewasa dan anak-anak dalam waktu satu minggu menurut SNI adalah masing masing sebesar 1,690 kg/minggu dan 0,507 kg/minggu. Sementara itu, batas toleransi maksimum daging hiu kejen yang dapat dikosumsi oleh orang dewasa dan anak-anak dalam waktu satu minggu menurut SNI 7387 adalah masing masing sebesar 2,112 kg/minggu dan 0,633 kg/minggu
Penggunaan Edible Film yang Ditambahkan Ekstrak Purun Tikus (Eleocharis dulcis) pada Pempek yang Disimpan pada Suhu Ruang: The use of Edible Film added with Water Chestnut (Eleocharis dulcis) Extract on Pempek Stored at Room Temperature
Edible film adalah lapisan tipis yang terbuat dari bahan yang dapat dimakan, digunakan sebagai pelapis permukaan komponen makanan. Penambahan ekstrak bahan tertentu bertujuan agar edible film yang dihasilkan memilki aktivitas bioaktif tertentu misalnya aktivitas antibakteri yang dapat meningkatkan umur simpan bahan makanan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh penggunaan edible film dengan penambahan ekstrak purun tikus pada pempek yang disimpan pada suhu ruang. Perlakuan yang digunakan yaitu konsentrasi ekstrak purun tikus. Parameter penelitian ini meliputi analisis kimia (kadar air dan total volatile base-nitrogen), analisis mikrobiologi (total plate count dan kapang khamir), serta analisis sensori (penampakan, aroma, dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak purun tikus pada edible film memberikan pengaruh nyata terhadap nilai kadar air (48,98-54,89%), total plate count (2,33-6,63 log cfu/g), dan total volatile base-nitrogen (7,05-25,88 mg/100g) selama penyimpanan, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kapang dan khamir. Analisis sensori menunjukkan bahwa penambahan ekstrak purun tikus berpengaruh tidak nyata terhadap aroma pempek dan berpengaruh nyata terhadap tekstur dan kenampakan pempek
Fraksinasi Peptida dari Hidrolisat Protein Ikan Selar (Selaroides leptolepis): Fractination of Peptide from Selar Fish Protein Hydrolysate (Selaroides leptolepis)
Ikan selar (Selaroides leptolepis) merupakan ikan dengan sebaran yang cukup luas dengan produksi yang melimpah serta memiliki kandungan gizi protein yang tinggi. Peptida yang berasal dari hidrolisat protein ikan mempunyai manfaat yang besar untuk pengembangan produk pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan mendapatkan fraksi yang memiliki aktivitas antioksidan dan inhibitor ACE dari hidrolisat protein ikan selar. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan fraksinasi peptida menggunakan kolom kromatografi, lalu dikarakterisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksinasi dengan kolom kromatografi filtrasi gel mendapatkan 2 fraksi, yaitu fraksi A dan B dengan IC50 berturut-turut 4.737,95 ppm dan 529,42 ppm, serta memiliki aktivitas inhibitor ACE sebesar 90,65% dan 96.61%. Peptida fraksi B lebih potensial sebagai antioksidan dan inhibitor ACE.Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis) is a fish with a fairly wide distribution with abundant production and has a high protein nutritional content. Peptides derived from fish protein hydrolyzate have great benefits for the development of functional food products. This study aims to obtain the fraction that has antioxidant activity and ACE inhibitor from the protein hydrolyzate of yellowstripe scad. The research was conducted by fractionating the peptides using a chromatography column, then characterizing them. The results showed that the fractionation with gel filtration column obtained 2 fractions, namely fractions A and B with IC50 4,737.95 ppm and 529.42 ppm respectively, and ACE inhibitor activity of 90.65% and 96.61%. Peptide fraction B has more potential as antioxidants and ACE inhibitors
Karakteristik Kimiawi Enkapsulasi Minyak Ikan Berbahan Baku Patin dan Hiu dengan Penambahan Minyak Sawit Merah: Chemical Characteristics of Encapsulated Fish Oil from Pangasius and Shark with The Addition of Red Palm Oil
Minyak ikan patin dan hiu merupakan salah satu produk hasil perikanan yang banyak mengandung asam lemak untuk kesehatan. Penambahan minyak sawit merah juga berpotensi meningkatkan kandungan asam lemak produk yang dihasilkan Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik minyak sawit merah pada formulasi enkapsulasi minyak ikan. Metode penelitian ini meliputi formulasi enkapsulasi minyak ikan dengan perlakuan penambahan minyak sawit merah, pengujian karakteristik minyak ikan meliputi bilangan peroksida, asam lemak bebas, bilangan asam dan iod, dan asam lemak menggunakan alat Gas Chromatography (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula F2 dengan penambahan minyak sawit 30% merupakan formula terbaik yang disukai konsumen baik dari warna, rasa, dan bau. Formula F2 juga mempunyai nilai asam lemak SFA, MUFA dan PUFA yaitu asam palmitat 22,03%, asam oleat 32,71% dan linoleat 31,84%. Formula F2 dapat dikembangkan dalam produk fungsional untuk suplemen kesehatan.Catfish and shark oil are fishery products that contain lots of fatty acids for health. The addition of red palm oil also has the potential to increase the fatty acid content of the product. This study aims to determine the best concentration of red palm oil in the fish oil encapsulation formulation. This research method includes fish oil encapsulation formulation with the addition of red palm oil treatment, testing the characteristics of fish oil including the peroxide number, free fatty acids, daniodic acid numbers, and fatty acids using Gas Chromatography (GC). The results showed that the F2 formula with the addition of 30% palm oil was the best formula favored by consumers in terms of color, taste, and smell. Formula F2 also has fatty acid values of SFA, MUFA and PUFA, namely palmitic acid 22.03%, oleic acid 32.71% and linoleic acid 31.84%. Formula F2 can be developed into functional products for health supplement