Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Quality of Carrageenan Edible Film with Addition of Garlic (Allium sativum) Essential Oil
Edible film merupakan pengemas biodegradable yang berasal dari bahan alami, termasuk karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik edible film karagenan dengan penambahan minyak atsiri bawang putih (Allium sativum) konsentrasi berbeda pada produk pasta ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi minyak atsiri bawang putih (0%; 0,1%; 0,3%, dan 0,5%) (v/v), masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Parameter uji terdiri dari kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, dan aktivitas antijamur yang diisolasi dari bakso ikan, otak-otak ikan, dan sosis ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi penambahan minyak atsiri bawang putih yang berbeda memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, dan aktivitas antijamur. Penambahan minyak atsiri bawang putih memberikan karakteristik dan aktivitas antijamur terbaik pada konsentrasi 0,5%, dengan kuat tarik sebesar 14,7 MPa, persen pemanjangan 25,98%, laju transmisi uap air 0,84 g/m2/jam, zona hambat terhadap Aspergillus niger 5,1 mm dan zona hambat terhadap Aspergillus flavus 4,13 mm.Edible film merupakan pengemas biodegradable yang berasal dari bahan alami, termasuk karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik edible film karagenan dengan penambahan minyak atsiri bawang putih (Allium sativum) konsentrasi berbeda pada produk pasta ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi minyak atsiri bawang putih (0%; 0,1%; 0,3%, dan 0,5%) (v/v), masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Parameter uji terdiri dari kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, dan aktivitas antijamur yang diisolasi dari bakso ikan, otak-otak ikan, dan sosis ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi penambahan minyak atsiri bawang putih yang berbeda memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, dan aktivitas antijamur. Penambahan minyak atsiri bawang putih memberikan karakteristik dan aktivitas antijamur terbaik pada konsentrasi 0,5%, dengan kuat tarik sebesar 14,7 MPa, persen pemanjangan 25,98%, laju transmisi uap air 0,84 g/m2/jam, zona hambat terhadap Aspergillus niger 5,1 mm dan zona hambat terhadap Aspergillus flavus 4,13 mm
Sintesis Biokoagulan Berbasis Kitosan Limbah Sisik Ikan Bandeng dan Aplikasinya Terhadap Nilai BOD dan COD Limbah Tahu di Kota Tarakan: Biochoagulant Synthesis Based on Chitosan from Bandeng Fishing Waste and Its Application of Reduction of BOD and COD Value of Tofu Waste In Tarakan City
Biokoagulan merupakan koagulan alami yang berperan untuk mengikat kotoran yang terdapatdi dalam limbah tahu. Sumber biokoagulan dapat berasal dari kitosan sisik ikan bandeng. Penelitian ini menentukan penurunan nilai BOD dan COD pada limbah tahu melalui biokoagulasi kitosan dari limbahsisik ikan bandeng. Metode yang digunakan dalam pembuatan kitosan melalui tahap deproteinasi (NaOH 0,1 N selama 2 jam pada suhu 65℃), demineralisasi (HCl 1 N selama 30 menit pada suhu ruang), dan deasetilasi (NaOH 20% selama 1 jam pada suhu 121℃). Karakteristik kitosan berupa derajat deasetilasi memiliki nilai 44%. Aplikasi kitosan sebagai biokoagulan dilakukan dengan prinsip koagulasi-flokulasi dengan penambahan larutan kitosan pada konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm pada limbah tahu. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan terhadap nilai BOD dan COD setelah penambahan kitosan 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm. Perlakuan dengan penambahan kitosan 30 ppm merupakan perlakuan terbaik dengan nilai BOD yaitu 7 mg/L dan nilai COD yaitu 5600 mg/L
Kualitas Mikrobiologi Cacing Laor (Polychaeta) dari Perairan Pantai Lawena, Desa Hutumury Kota Ambon.: Micobiologicaly Quality Of “Laor” Worms (Polychaeta) From Lawena Beach, Village Hutumury Ambon City
“Laor” worms were organisms that originated at the base of the waters, for that reason, sometime it is possible contaminated by pathogenic bacteria. This study aims to determine the quality characteristics of “Laor” worms. This research was using the descriptive method in the form of morphological characterization, and biochemical tests on the isolates of lactic acid bacteria (LAB) and Vibrio sp of “laor” worms. The result showed the total bacteria, LAB, and Vibrio sp contained in fresh “laor” worms were (1.2x104-1.6x104) CFU/g; (6.8x104-7.4x104) CFU/g, and (6.0x103-7.0x103) CFU/g respectively. Morphological and biochemical characterization found that LAB isolates have a rounded colony shape, small size, milky white color with convex elevation, round cell shape, short chain (Isolate Bl 6), short stem cell shape (isolate Bl 2, Bl 3, Bl 4) , the shape of short chain stem cells (isolate Bl 3) and an isolates of Vibrio colonies are rounded shape (isolates Vb1, Vb2, Vb3 and Vb6, Vb4), An isolate of Vb5 has an irregular colony shape, yellow colored with a smooth texture. Interpretation results of catalyses test of the two isolates showed positive and Gram staining of LAB isolates was Gram positive while Vibrio Isolate was Gram negative. This finding can be used as a basis for continued of microbiological testing related to bacterial pathogenicity that isolated from “laor” worms.Cacing laor merupakan organisme yang berada di dasar perairan, maka pada saat tertentu dimungkinkan akan terkontaminasi oleh bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik mutu cacing laor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif berupa karakterisasi morfologi dan uji biokimia terhadap isolat Vibrio sp. dari cacing laor. Total bakteri yang terkandung pada cacing laor segar sebesar 1,2x104-1,6x104 CFU/g dan total Vibrio sp.: 6,0x103-7,0x103 CFU/g. Karakterisasi morfologi dan biokimia ditemukan bakteri Vibrio koloni berbentuk bulat (isolat Vb1, Vb2, Vb3 dan Vb6, Vb4), isolat Vb5 memiliki bentuk koloni tidak beraturan, berwarna kuning dengan tekstur yang halus. Hasil interpretasi uji katalase kedua isolat menunjukkan hasil positif dan pengecatan Gram isolat Vibrio: Gram negatif. Temuan ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk pengujian mikrobiologi lanjutan terkait patogenitas bakteri yang diisolasi dari cacing lao
Penambahan Genjer (Limnocharis flava) pada Pembuatan Garam Rumput Laut Hijau untuk Penderita Hipertensi: Yellow Velvetleaf (Limnocharis flava) Fortification in Ulva lactuca Seaweed Salt Production for Hypertensive Patients
Rumput laut hijau jenis Ulva lactuca dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan garam rumput laut. Garam rumput laut rendah natrium dan tinggi kalium menjadi alternatif mengurangi penyakit hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah/rasio penambahan genjer (Limnocharis flava) dalam menghasilkan garam rumput laut yang sesuai standar garam diet untuk penderita hipertensi. Parameter yang dianalisis adalah komposisi mineral, kadar natrium klorida (NaCl), aktivitas dan kapasitas antioksidan serta cemaran logam berat. Pembuatan garam rumput laut dilakukan dengan cara mencampurkan bahan baku dengan akuades perbandingan 1:10, dan dipanaskan pada suhu 40 ºC selama 10 menit, filtrasi pada suhu 60 ºC selama 30 jam. Ekstrak U. lactuca mengandung IC50 48,64 ppm (DPPH) dan kapasitas antioksidan 246,92 µmol/g (CUPRAC). Garam U. lactuca menghasilkan rendemen 32,36%, rasio Na:K 1,49; NaCl 23,90%, aktivitas antioksidan 93,24 ppm (DPPH), dan kapasitas antioksidan 129,15 µmol/g (CUPRAC). Setelah ditambahkan genjer (1:1) dihasilkan rendemen 22,78%, rasio Na:K 0,59; NaCl 21,05%, aktivitas antioksidan 118,87 ppm (DPPH), dan kapasitas antioksidan 104,07 µmol/g (CUPRAC). Penambahan genjer sebesar 50% dapat menurunkan rasio Na:K menjadi 0,59 demikian juga dengan kadar NaCl, dengan aktivitas dan kapasitas antioksidan mengalami penurunan relatif kecil.Ulva lactuca can be utilized as a raw material for seaweed salt production. The seaweed salt with low sodium and high potassium could be used as an alternative to regular table salt for hypertensive patient. This research was aimed to determine the amount/ratio of the addition of L. flava in production of seaweed salt according to dietary salt standards for hypertensive patients. The analyzed parameters were mineral composition, NaCl content, heavy metal content, and antioxidant activity of salt U. lactuca seaweed and addition of L. flava. The production of seaweed salt started with mixing the seaweed flour with water (1:10), heated in water bath shaker at 40 ºC for 10 min, and then subsequently dried at 60 ºC for 30 h. The U. lactuca extract had IC50 48.64 ppm (DPPH) and antioxidant capacity 246.92 (CUPRAC). The L. flava extract had IC50 138.86 ppm, and antioxidant capacity 116.92 µmol/g. The U. lactuca salt resulted in a yield 32.36%, ratio of Na:K 1.49, NaCl 23.90%, antioxidant activity 93.24 ppm (DPPH), and antioxidant capacity 129.15 µmol/g (CUPRAC). The U. lactuca:L. flava (1:1) salt resulted in a yield 22.78% , a ratio of Na:K 0.59, NaCl 21.05% , antioxidant activity 118.87 ppm (DPPH), and antioxidant capacity 104.07 µmol/g (CUPRAC). The addition of L. flava reduced the Na:K ratio to 0.59 as well as the NaCl levels with relatively small decrease in antioxidant activity and capacity
Pemanfaatan Ekstrak Buah Mangrove Untuk Menghambat Pembentukan Melanosis Pada Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei): Application of Mangrove Extract for the Melanosis Inhibition in Whiteleg Shrimp (Litopenaeus vannamei)
Mangrove diketahui mempunyai kemampuan bioaktif untuk menghambat aktivitas enzim tirosinase. Penelitian bertujuan untuk menentukan konsentrasi ekstrak buah mangrove yang berperan dalam menghambat melanosis udang vaname selama penyimpanan 10 hari pada 0oC. Buah mangrove yang digunakan adalah Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata dan Avicennia marina. Buah mangrove diekstraksi menggunakan air. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 25% dan 50%. Udang disimpan selama 10 hari pada suhu 0oC menggunakan coldbox. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF). Parameter uji melanosis, organoleptik, warna dianalisis dengan ANOVA, dengan uji lanjut duncan. Parameter organoleptik dianalisis dengan uji non parametrik kruskal wallis, uji lanjut multiple comparison. Hasil penelitian menunjukkan udang yang direndam menggunakan ekstrak mangrove R. mucronata 50% dan R. apiculata 50% kemudian disimpan pada suhu 0oC mempunyai nilai melanosis terendah dibandingkan dengan ekstrak mangrove lainnya. Kenampakan organoleptik udang dapat dipertahankan dengan perendaman ekstrak R. mucronata 50% dan R. apiculata 50%, seluruh ekstrak tidak mempengaruhi bau khas dan tekstur udang vaname. Uji warna menunjukkan R. mucronata 25% mempunyai nilai L* tertinggi yang tidak berbeda nyata dengan R mucronata 50%. Nilai L* udang yang direndam A. marina 25% memiliki tingkat keefektifan terendah dalam mempertahankan nilai L*, seluruh jenis ekstrak, tidak mempengaruhi nilai a* dan b* warna udang. Ekstrak buah mangrove R. mucronata 50% dan R.apiculata efektif dalam menghambat melanosis udang.
 
Daya Dukung Bahan Baku Industri dan UMKM Berbasis Potensi Stok pada Wilayah Pengelolaan Perikanan: Stock Capacity in MSY at FMA (MSYWPPI) for Fisheries Industry on Implementation of Fisheries Management Based on FMA
Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan perikanan berbasis Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) termasuk pada pengolahan yang menyangkut bahan baku. Potensi stok ikan lestari (maximum sustainable yield) merupakan potensi yang siap produksi sebagai konsumsi dan bahan baku olahan industri pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan besaran stok yang tersedia di setiap WPP sebagai indikator daya dukung bahan baku untuk industri perikanan. Penelitian yang dilaksanakan tahun 2016 ini menggunakan data series 2010-2015 untuk pendugaan kapasitas bahan baku UMKM, dan data 2015-2016 untuk data kapasitas kebutuhan industri. Analisis mencakup ketersediaan bahan baku (stok pada MSY), kebutuhan bahan baku, dan daya dukung terhadap industri secara berkelanjutan dalam setahun. Daerah dengan potensi bahan baku tertinggi adalah WPP 718 yang mampu menopang lebih dari 600 UMKM, dan Industri. Rasio kebutuhan bahan baku industri 34,85% dan UMKM 65,15% dengan total bahan baku 5,05 juta ton. Potensi stok pada MSY sebesar 80% dari stok mampu mendukung 80 industri dan 3031 unit UMKM (total 3111 unit) usaha pengolahan ikan. Jumlah ini lebih rendah dari kondisi saat ini, dimana ada 650 lebih unit Industri, 6350 lebih unit UMKM. Artinya jumlah bahan baku yang tersedia tidak mencukupi untuk mendukung industri yang ada. Untuk menjamin tersedianya stok pada tiap WPP ke depan perlu perencanaan yang lebih baik. Strategi yang dapat dipilih adalah melakukan rasionalisasi industri, bukan impor ikan atau memperkuat sumber bahan baku dari budi daya ikan laut dan air tawar.Government policy in the management of fisheries based on WPP includes processing that involves raw materials. The potential of sustainable fish stocks (maximum sustainable yield) is the potential stock to production and for consumption and processed industrial raw materials. To determine the important information of availablity stock at each FMA as an indicator of the carrying capacity of raw materials for the fishing industry. The research conducted in 2016 uses 2010-2015 data series for estimating the capacity of MSME raw materials, and 2015-2016 data for capacity data for industry. Analysis consiste of avaliability stock in MSY level and total stock for raw material to support for industry and MSME. This research found that from FMA areas with the highest raw material potential is in FMA 718 are that potenstial to support more than 600 MSMEs, and Industry sustain. The allocation material for industry about 34.85% and 65.15% for MSMEs from total of 5.05 million tons of raw materials used. So, with the potential stock in MSY (80%) of the stock that can be support untill 80 industries and 3031 MSME units (3.112 total units) of fish processing businesses. This number is lower than the current condition, where only 650 more Industrial units and more than 6350 unit of MSME. The amount of raw material available is less than enough to support the existing industry. This condition becomes as consideration to import of fish stock to increase the fish processing industry raw materials. To maintenance the stock supply in each WPP, should be prepare any strategic plan on it. The rational strategy that chosen by maintenance industrial supply, are increasing import or enhance the marine and freshwater fish farming
Karakteristik Mutu Gisuke-ni dan Air Terikat Gisuke-ni Ikan Kembung (Rastrelliger sp.): Quality Characteristics and Bound Water of Mackerel (Rastrelliger sp.) Gisuke-ni
Niboshi merupakan produk ikan kering tradisional Jepang dan gisuke-ni merupakan olahan lanjutan dari niboshi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh formula bumbu terhadap mutu sensori dan kimia, isotermi sorpsi air, dan air terikat gisuke-ni. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan formulasi bumbu berbeda. Penelitian dilakukan dengan tahapan pembuatan niboshi, gisuke-ni dengan formulasi bumbu (manis, asin, dan pedas). Paramater analisis terdiri atas proksimat, sensori, kurva isotermis sorpsi air, dan air terikat. Hasil analisis proksimat niboshi adalah kadar air 21,9% protein 69,7%, abu 17,1%, lemak 3,2%, dan karbohidrat 9,8%. Gisuke-ni bumbu asin kKadar air, protein, abu, lemak, dan karbohidrat berturut-turut pada gisuke-ni bumbu asin adalah 4,5; 59,8; 16,4; 4,4 dan 19,2%. Pada gGisuke-ni bumbu manis, kadar air, protein, abu, lemak dan karbohidrat berturut-turut 6,1; 68,3; 13,1; 6,4; dan 12,1%. Adapun gGisuke-ni bumbu pedas mengandung kadar air, prtotein, abu, lemak dan karbohidrat berturut-turut 8,5; 77,5; 13,3; 6,2 dan 3,0%. Gisuke-ni bumbu pedas dengan kapasitas air terikat primer, sekunder, dan tersier adalah 3,51% pada aw 0,26; 4,0% pada aw 0,79 dan 30% pada aw 1,0.Niboshi is a Japanese traditional of dried of fish products and Gisuke-ni is resulteding from the continued processing of niboshi. This study was aimed to determine the effect of seasoning formula on the sensory and chemical qualitiesy of gisuke-ni, as well as isothermic absorption water and bound water. The design used wais a completely randomized design non factorial complete random design with the different seasoning formulations treatments. The research was carried out consisting of on several stages, namely producing the making of niboshi, followed by the making of gisuke-ni by giving seasoning (sweet, spicy, and salty). Analysis parameters consist ofincluding proximate, organoleptic, sorbpsi isothermic curves of water, and bound water were performed. The results of the analysis of chemical composition (moisture content, protein, ash, fat, and carbohydrate) Niboshi were 21.9, 69.7 (wb), 17.1, 3.2 and 9.8% (ddb), respectively. Gisuke-ni salted seasoning (P1) The levels of moisture, protein, ash, fat, and carbohydrate content on gisuke-ni salted seasoning (P1) were respectively 4.5, 59.8, 16.4, 4.4, and 19.2% (bkdb), respectively, while the . Gisuke-ni sweet seasoning (P2) moisture, protein, ash, fat and carbohydrate content on gisuke-ni sweet seasoning (P_2) were respectively 6.1, 68.3, 13.1, 6.4, and 12.1% (db), respectively. In addition, Spicy Gisuke-ni (P3) contained the moisture content, protein, ash, fat and carbohydrate levels were respectively 8.5, 77.5, 13.3, 6, and 3.0% (db), respectively. The spicy Gisuke-ni spice (P3) The content of primary, sekunder and tersier bound water capacity were 3.51% at aw 0.26, 4.0% at aw 0.79 and 30% at aw 1.0, respectively.
 
Karakteristik Nori dari Campuran Rumput Laut Ulva lactuca dan Gelidium sp.: Characteristic of Nori from Combination of Ulva lactuca and Gelidium Seaweed
Nori merupakan produk pangan yang dihasilkan dari rumput laut Phorphyra. Phorphyra tidak tersedia di Indonesia sehingga upaya membuat produk nori dapat digunakan rumput lain yang tersedia melimpah di Indonesia antara lain Ulva lactuca dan Gelidium. Ulva lactuca mengandung klorofil yang dapat memberi kontribusi warna hijau pada nori. Gelidium merupakan penghasil agar yang dapat berfungsi sebagai pengemulsi, bahan pemantap, pengental, penstabil, penjernih dan pembentuk gel. Kombinasi dua rumput laut tersebut diduga dapat menghasilkan nori dengan karakteristik mendekati produk komersial. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh perbandingan jumlah Ulva lactuca dan Gelidium terhadap nilai hedonik, kuat tarik, serat kasar, kadar protein, air dan abu. Tiga perlakuan perbandingan persentase Ulva lactuca dan Gelidium digunakan yaitu 75%:25% (P1); 50%:50% (P2); dan 25%:75 (P3). Perbandingan persentase Ulva lactuca dan Gelidium berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai sensori (hedonik), kuat tarik, kandungan serat kasar, kadar protein dan abu, namun tidak berpengaruh nyata (p>0.05) terhadap jumlah kadar air nori. Perlakuan P1 (75% Ulva lactuca dan 25% Gelidium) adalah nori yang paling disukai panelis dan mempunyai karakteristik warna hijau tua, mudah dilipat, tipis, memiliki tekstur yang halus dan rasa asin, mendekati nori komersial dengan nilai hedonik 7,26<µ<7,41. Nori P1 menghasilkan nilai kuat tarik; kandungan serat kasar; kadar air; kadar protein, dan abu masing-masing 4,65±1,5 Mpa; 20,44±1,78%, 17,24%±0,57; 12,89±0,07% dan 14,71±0,09.Nori is a food product produced from Phorphyra seaweed, however, this seaweed is not available in Indonesia. Thus modification of nori production by using available seaweed such as Ulva lactuca and Gelidium is needed. U. lactuca contains chlorophyll which can contribute to the nori\u27s green color while Gelidium can become an emulsifier, stabilizer, thickener, stabilizer, purifier, and gel maker. The combination of the two seaweeds is expected to produce nori with characteristics close to commercial products. This study was aimed to examine the effect of different ratio of Ulva lactuca and Gelidium on hedonic values, tensile strength, crude fiber, protein, water, and ash content of nori. Three ratios of Ulva lactuca and Gelidium were used comprising P1 (75%: 25%), P2 (50%: 50%), and P3 (25%: 75). The ratios of U. lactuca and Gelidium significantly affected (p<0.05) sensory value (hedonic), tensile strength, crude fiber, protein and ash content, but not water content. The P1 treatment nori was preferred by the panelists with a hedonic value of 7.26<µ<7.41 and had the characteristics of dark green color, easily folded, thin, smooth texture and salty taste, similar to commercial nori. The P1 Nori had tensile strength values 4.65±1.5 MPa; crude fiber20.44±1.78%; water 17.24±0.57%, protein 12.89±0.07% and ash content 14.71±0.09%
Optimasi Penggunaan Karagenan dan Kalsium Sulfat pada Pembuatan Tahu Sutra dalam Penembangan Pangan Fungsional: Optimization the Use of Carrageenan and Calcium Sulfate in Silken Tofu Production in Functional Food Development
Wedang tahu merupakan olahan tradisional kombinasi antara tahu sutra yang disiram dengan kuah jahe. Kedelai dan jahe yang menjadi bahan baku utama dalam pembuatan wedang tahu memiliki sifat fungsional bagi tubuh bila dikonsumsi. Hal ini menjadikan wedang tahu berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional. Mutu tekstur tahu sutra menjadi salah satu faktor penentu kualitas wedang tahu. Penambahan karagenan pada pembuatan tahu sutra diharapkan dapat meningkatkan mutu tekstur tahu sutra yang dihasilkan. Tujuan penelitian adalah menentukan kombinasi konsentrasi kalsium sulfat dan karagenan sehingga diperoleh nilai respon rendemen dan tekstur yang optimal menggunakan program Design Expert 7.0. Penentuan formula optimal didasarkan pada hasil pengamatan secara visual (subjektif) yang dikorelasikan dengan hasil pengukuran tekstur secara objektif menggunakan TA-XT2i Texture Analyzer. Formula optimal kemudian dilanjutkan dengan uji sensori, uji proksimat, perhitungan angka kecukupan gizi (AKG), uji tekstur dan uji sineresis. Formula optimal yang direkomendasikan adalah kombinasi kalsium sulfat sebanyak 0,45% dan karagenan 0,10% dengan nilai desirability sebesar 0,75. Formula optimal tersebut memiliki nilai rendemen sebesar 85,36%, kekerasan sebesar 173,60 gf, daya kohesif sebesar 0,07; elastisitas sebesar 0,54; dan daya kunyah sebesar 6,58 gf.Silken tofu dessert is traditional food consist of silken tofu and ginger soup. Soybean and ginger which are the main raw ingredients of the traditional food have been known for its functional properties when consumed. This makes wedang tahu potentially developed as a functional food. The texture quality of silken tofu is the main factor that determines the quality of wedang tahu. The addition of carrageenan in the wedang tahu processing is expected to improve the quality of silken tofu produced. This study was aimed to determine the combination of calcium sulfate concentration and carrageenan in order to optimize the yields and texture of silken tofu produced by using the Design Expert software version 7.0. The determination of optimum formula was based on visual observation (subjective) which was correlated with the results of texture measurement objectively by using the TA-XT2i Texture Analyzer. The optimum formula was then followed by a sensory test, proximate test, recommended dietary allowance (RDI), texture test, as well as syneresis test. The optimum formula recommended was a combination of 0.45% calcium sulfate and 0.10% carrageenan with a desirability value of 0.75. The yield, hardness, cohesiveness, elasticity and chewing value of its formula were 85.36%, 173.60 gf, 0.07, 0.54, and 6.58 gf respectively
Karakteristik Kimiawi Tepung Ikan Molly, Poecilia latipinna (Lesueur 1821): Chemical Characteristics of Molly Poecilia latipinna (Lesueur 1821) Flour
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan gizi tepung ikan molly, P. latipinna (Lesueur 1821) sebagai bahan pakan ikan, udang dan ternak. Sampel ikan dibersihkan, dikeringkan di bawah sinar matahari selama 12 jam, diblender menjadi tepung selanjutnya diuji proksimat. Hasil analisis menunjukkan bahwa tepung ikan molly mengandung protein; lemak; serat kasar; abu, air secara berturut-turut sebagai berikut: 66,40%; 12,52%; 0,80%; 15,51% dan 3,70%; asam amino esensial yaitu: lisina 4,99%; leusina 4,27%; fenilalanina 2,64%; valina 2,63%; treonina 2,50%; dan histidina 1,49%. Asam lemak esensial terdiri dari kelompok asam lemak omega-3 yaitu: asam dekosakeksanoat (DHA) 0,09%; asam eikosapentanoat (EPA) 0,03% dan asam linolenat (HUFA) 0,21%. Kelompok asam lemak omega 6 terdiri atas asam linoleat (LA) 0,25% dan arakidonat (AA) 0,04%. Tepung ikan molly secara kuantitas dan kualitas sangat baik sebagai bahan pakan sumber protein, asam amino dan asam lemak esensial untuk pakan ikan, udang dan ternak.The study was aimed to analyze the nutrient content of molly P. latipinna (Lesueur 1821) flour as feed ingredients for fish, shrimp and livestock. Fish samples were cleaned, dried in the sun for 12 hour, blended into flour and their proximate compositions were measured. The analysis showed that the fish meal contained protein, fat, crude fiber, ash, moisture as follows 66.40%; 12.52%; 0.80%; 15.51% and 3.70%, respectively. The fish meal also contained essential amino acids, namely: lysine 4.9%; lucine 4.27%; phenylalanine 2.64%; valine 2.64%; threonine 2.5%; and histidine 1.49%. The fatty acids consisted of omega-3 fatty acid groups: decosacexanoic acid (DHA) 0.09%; eicosapentanoic acid (EPA) 0.03% and linolenic acid (HUFA) 0.21% as well as omega 6 fatty acids: linoleic acid (LA) 0.25% and arachidonic (AA) 0.04%. The molly flour is a good source of protein, amino acids and essential fatty acids for fish, shrimp and livestock feed