Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Studi Kandungan Logam Berat pada Kerang Lokan (Geloina erosa) di Perairan Aceh Barat: Study of Heavy Metal Content in Locan Clam (Geloina Erosa) Muscle in West Aceh Waters
Pesatnya pertumbuhan industri di wilayah pesisir Aceh Barat diduga menjadi sumber pencemaran logam berat di perairan dan terakumulasi pada biota laut, salah satunya yaitu kerang lokan (Geloina erosa). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Hg, Cd, Pb, Cu, As, dan Zn pada kerang lokan mentah dan rebus, serta menentukan batas toleransi konsumsi kerang lokan yang mengandung logam berat. Pengambilan sampel kerang lokan dilakukan di 3 stasiun, yaitu perairan Peunaga Rayeuk, Ujong Baroh, dan Kuala Bubon. Sampel dikelompokkan menjadi dua perlakuan, yaitu P1 (mentah) dan P2 (rebus). Analisis kandungan logam berat menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometry (AAS). Hasil analisis kandungan logam Hg pada stasiun 2 yaitu P1 13,2754 mg/kg dan P2 sebesar 12,5491 mg/kg, pada stasiun 3 yaitu P1 1,2418 mg/kg dan P2 0,1956 mg/kg. Kandungan logam Cd hanya terdeteksi pada stasiun 2 yaitu P1 0,0058 mg/kg. Kandungan logam Cu pada stasiun 1 yaitu P1 sebesar 0,0686 mg/kg dan P2 0,0541 mg/kg, pada stasiun 2 yaitu P1 0,1381 mg/kg dan P2 sebesar 0,0999 mg/kg, dan pada stasiun 3 yaitu P1 sebesar 0,1062 mg/kg dan P2 sebesar 0.022 mg/kg. Kandungan logam Zn pada stasiun 1 yaitu P1 3,4883 mg/kg dan P2 s 3,3229 mg/kg, pada stasiun 2 yaitu P1 sebesar 2,7643 dan P2 sebesar 2,6225 mg/kg, dan pada stasiun 3 yaitu P1 4,2511 mg/kg dan P2 2,8687 mg/kg. Batas maksimum berat daging kerang lokan yang boleh dikonsumsi untuk orang dewasa (50 kg bb) yaitu 0,131 kg daging per minggu
Komposisi Kimia dan Profil Asam Lemak Ikan Layur Segar Penyimpanan Suhu Dingin: Chemical Composition and Fatty Acid Profile in Hairtail Fish During Chilling Storage
Ikan layur merupakan komoditas bahan baku ekspor bernilai ekonomis penting. Proses penyimpanan memengaruhi komposisi kimia ikan layur. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh penyimpanan dingin terhadap perubahan komposisi kimia dan profil asam lemak ikan layur (Trichiurus sp.). Prosedur penelitian yang dilakukan adalah penyimpanan pada suhu dingin 6-10°C selama 0 hari (H0) segar, 6 hari (H6) agak segar, dan 10 hari (H10) tidak segar. Ikan layur mengalami kenaikan kadar air dan lemak, sedangkan kadar protein dan kadar abu, mengalami perubahan. Hasil manunjukkan bahwa asam lemak secara umum tidak mengalami perubahan secara deskriptif selama penyimpanan dingin 10 hari. Ikan layur terdiri dari 24 jenis asam lemak yang terdiri dari 10 jenis SFA, 7 jenis MUFA, dan 7 jenis PUFA. Asam lemak tertinggi ikan layur yaitu DHA yaitu 24,01% (H0) dan 21,39% (H10
Estimasi Stok Suplai Kebutuhan Bahan Baku untuk Industri Pengolahan Ikan: Stock Assesment for Raw Materials Supply of Fish Processing Industry
Industri perikanan yang berdaya saing adalah industri perikanan yang mampu mendorong tumbuhnya sektor ekonomi perikanan dengan kemandirian bahan baku. Skema industri dengan memperhatikan kekuatan stok bahan baku perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebutuhan bahan baku industri pengolahan serta proyeksi kebutuhan 2025 dari nilai pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan UMKM dan industri besar. Data dikumpulkan dari pengambilan sampel 2010-2015 dengan teknik purposive sampling yang mewakili provinsi dan jenis industri pengolahan. Data tahun 2015-2019 diperoleh dari data monitoring KKP dan laporan dari industri pengolahan. Data yang diperoleh dianalis dengan statistik inferensia dengan pemodelan dari pola distribusi data yang ada. Model distribusi data yang paling mendekati digunakan sebagai model proyeksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku ada kecenderungan selalu meningkat dengan pertumbuhan bahan baku 6,07% per tahun, pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri tumbuh 2,25 persen pertahun dan UMKM 0,57% pertahun. Dari model proyeksi sampai 2025, maka kebutuhan bahan baku kekurangan 5,9 juta 2019 sampai 9,9 juta ton tahun 2025. Kekurangan mendorong tumbuhnya industri budidaya perikanan untuk memperkuat kebutuhan bahan baku pengolahan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kekurangan bahan baku dapat diatasi dengan produksi budidaya, perlunya mengembangkan pengolahan dengan jenis ikan bahan baku dari spesies yang berbeda, dan perlunya menyiapkan skema penguatan stok bahan baku melalui gudang pendingin untuk jangka panjang
Evaluasi Periode Pemberian Pakan mengandung Daun Kayu Manis Cinnamomum burmannii terhadap Kualitas Daging Ikan Nila Oreochromis niloticus: Evaluation of Feeding Period Contain Cinnamon Leaf Flour Cinnamomum burmannii on The Meat Quality of Tilapia Oreochromis niloticus
Tekstur dan aroma menjadi salah satu indikator kualitas filet ikan nila untuk diekspor. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas filet ikan dapat dilakukan dengan pemberian tepung daun kayu manis pada pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan periode waktu pemberian tepung daun kayu manis (DKM) yang dapat meningkatkan kualitas daging dan pertumbuhan ikan nila. Dosis tepung daun kayu manis yang diberikan pada adalah 1%. Pakan diberikan selama 15 hari (15D), 30 hari (30D), 45 hari (45D) dan 60 hari (60D) sebelum panen. Pemeliharaan ikan dilakukan menggunakan 20 hapa berukuran 2x1x1,5 m3 dengan padat tebar 20 ekor ikan/hapa, bobot ikan 30,23±0,15 g/ekor dan panjang 11-13 cm/ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung DKM mampu meningkatkan kualitas tekstur daging ikan nila dengan perlakuan terbaik pada 30D dengan nilai 547,5±9,1 gf. Uji kinerja pertumbuhan bobot dan retensi protein perlakuan 60D memberikan nilai yang berbeda nyata dibanding kontrol dengan nilai 3.854,3±219,0 g dan 44,0±6,3%. Nilai glikogen hati menunjukkan semua perlakuan memberikan nilai yang berbeda nyata dibanding kontrol dengan nilai berturut-turut 0,33±0,01, 0,35±0,01, 0,35±0,00,dan 0,35±0,00 (mg g-1). Nutrien berupa protein, lemak dan kadar air paling baik ditunjukkan pada perlakuan 60D dengan nilai masing-masing 18,8±0,7%, 1,85±0,14%, dan 76,6±0,9%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan mengandung daun kayu manis selama periode waktu 30 hari memberikan kualitas kekerasan daging ikan paling tinggi.
 
Mutu dan Tingkat Penerimaan Konsumen Abon Ikan Layang (Decapterus sp.): Quality and Consumers Acceptence of Shredded Macarel Scad Fish (Decapterus sp.)
Mutu dan tingkat penerimaan konsumen pada abon ikan bervariasi dan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam komersialisasi abon ikan. Informasi mengenai olahan ikan layang hasil tangkapan nelayan di Kepulauan Spermonde Selat Makassar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik mutu dan tingkat penerimaan konsumen abon ikan layang yang diolah pada skala rumah tangga. Penelitian terdiri dari dua tahap yaitu preparasi dan pembuatan abon ikan layang dilanjutkan dengan analisa mutu (proksimat, kadar logam berat) dan uji penerimaan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abon ikan layang mempunyai karakteristik mutu sebagai berikut: kadar air 3,84-4,60%, abu 5,35-5,66%, protein 36,39-37,39%, lemak 36,54-36,60%, serat kasar 5,66-7,90%, karbohidrat 9,22-10,87%, TPC 2,40-3,05 x 103 CFU/g, Cu 5,12-9,05 ppm, Mg 457,72-881,92 ppm, Zn 19,93-42,85 ppm. Tingkat penerimaan konsumen terhadap abon ikan layang rata-rata adalah netral, sedang abon ikan komersial disukai konsumen. Abon ikan layang telah memenuhi persyaratan sesuai SNI kecuali parameter kadar lemak.The quality and level of consumer acceptance of shredded fish varies and is one of the main considerations in the commercialization of shredded fish. This study aims to determine the quality characteristics and the level of consumer acceptance of the shredded flying fish processed on a household scale. The study consisted of two stages: preparation and manufacture of shredded fish, including two treatment that was original and spicy shredded followed by quality analysis (proximate, microbiology) and consumer preference test. The results showed that shredded of flying fish had the following quality characteristics: moisture content 3.84-4.60%, ash 5.35-5.66%, protein 36.39-37.39%, fat 36.54-36.60%, crude fiber 5.66-7.90%, carbohydrates 9.22-10.87%, and TPC 2.40-3.05 x 103 CFU/g. The level of consumer preference of flying fish shredded, both original and spicy variants was neutral-like with a score of 3.18-3.43. Flying fish shredded has met the requirements according to SNI except for the parameter of fat content. Shredded flying fish either original or spicy variant both have met the requirements according to SNI except the fat content
Karakteristik Kamaboko dengan Substitusi Tepung Ubi Jalar dan Penambahan Tnta Cumi-Cumi (Loligo sp.): Characterization of Kamaboko with Sweet Potato Flour Substitution and Squid (Loligo sp.) Ink Addition
Kamaboko merupakan olahan daging ikan yang berbentuk gel dengan tekstur kenyal dan elastis, terbuat dari campuran lumatan danging ikan atau surimi, pati, garam, dan bumbu-bumbu. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan perbandingan tapioka dengan tepung ubi jalar serta konsentrasi tinta cumi terbaik yang menghasilkan kamaboko dengan mutu terbaik yang dinilai secara organoleptik, kimia serta fisik. Metode penelitian ada dua tahap, diawali dengan penelitian pendahuluan yaitu menganalisis asam amino pada tinta cumi-cumi serta menentukan formulasi terbaik. Dilanjutkan dengan penelitian utama menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor P (perbandingan tapioka dengan tepung ubi jalar dan faktor T (konsentrasi tinta cumi-cumi). Rancangan respon terdiri dari respon organoleptik, respon kimia, respon fisik dan dilakukan respon terpilih. Hasil penelitian utama menunjukkan faktor P berpengaruh terhadap warna, aroma, tekstur kekenyalan, kadar air dan kadar protein. Faktor T berpengaruh terhadap warna, rasa, aroma, tekstur kekenyalan, kadar air dan kadar protein. Interaksi kedua faktor berpengaruh terhadap tekstur kekenyalan dan kadar protein. Sampel terpilih yaitu perlakuan P1T3 perbandingan tapioka dengan tepung ubi jalar (P) (1:1) dan konsentrasi tinta cumi-cumi (T) (3%), dengan nilai rata-rata warna 4,34, aroma 4,44, rasa 4,19, tekstur kekenyalan 4,40, kadar air 54,44% , kadar protein 14,69%, kekerasan 4363.25 g force, kekenyalan 32,32%, uji warna ΔL* (Light) +2,58, Δa*(+merah/-hijau) -2,38 dan Δb* (+kuning/-biru) -2,28.The purpose of this research is to determine a ratio of tapioca to sweet potato flour and the concentration of squid ink producing high quality kamaboko. The quality of kamaboko was assessed organoleptically, chemically and physically. Two-stage research method was conducted. Firstly, a preliminary research, analyzing amino acids in squid ink and determining the best formulation. Secondly, the main research using a randomized block design (RBD) consisting of 2 factors, namely factor P (comparison of tapioca with sweet potato flour and factor T (concentration of squid ink). The responses consisted of organoleptic response, chemical response, physical response and selected response.The P factor affected color, aroma, elasticity texture, water content, ash content and protein content. The T factor influenced color, taste, aroma, elasticity texture, water content, and protein content. The interaction of the two factors affected the elasticity and protein content. The selected sample was kamaboko made from equal weight of tapioca and sweet potato flour (P) added with 3% squid ink. The sample had a color value of 4.34, aroma 4.44, flavor 4, 19, resilience texture 4.40, water content 54.44%, ash content 1.66%, protein content 14.69%, hardness 4,363.25 g force, elasticity 32.32%, color test ΔL * (Light) +2.58, Δa * (+ red/-green) -2.38 and Δb * (+yellow/-blue) -2.28
Intervensi O. bacilicum terhadap Kandungan Protein dan Karakteristik Sensorik S. platensis : Intervention of Ocimum basilicum L. on Powder and Microencapsulation of Spirulina platensis on Protein and Sensoric Characteristics
Spirulina platensis merupakan mikroalga hijau biru yang memiliki kandungan protein tinggi, sehingga sering dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Penerapan Spirulina platensis sebagai pangan fungsional sering mengalami kendala karena kandungan senyawa volatile penyebab aroma kurang sedap pada mikroalaga ini. Intervensi O. bacillicum pada S. platensis dapat mengurangi aroma kurang sedap yang ditimbulkan. Mikroenkapsulasi dilakukan untuk menjaga stabilitas nutrisi serta serta menahan aroma saat dikonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh intervensi O. bacillicum terhadap kandungan protein S. platensis, nilai pH dan tingkat kesukaan pada serbuk dan mikrokapsul S. platensis. Spirulina sebagai sampel kontrol (SP), intervensi O. bacillicum yang dikeringakan (DSB), dan yang dilakukan mikroenkapsulasi (MSB). Hasil penelitian menunjukan bahwa intervensi O. bacillicum pada S. platensis serta dilakukan mikroenkapsulasi berpengaruh (P < 0,05) terhadap kadar protein, nilai pH dan uji hedonik. meningkatkan nilai pH, menurunkan kadar protein 19,87% pada sampel DSB dan menurun drastis pada sampel MSB. Asam amino mengalami penurunan kecuali asam aspartat dan arginin. Semakin tinggi nilai pH dari perlakuan intervensi tersebut semakin rendah kadar proteinnya. Intervensi O. bacillicum dapat meningkatkan skala hedonik pada S. platensis. Sampel DSB memberikan nilai terbaik pada aroma, sedangkan sampel MSB memberikan nilai terbaik pada warna yang dihasilkan. Oleh karena itu intervensi O. bacillicum pada S. platensis menjadi solusi dalam mengurangi aroma tidak sedap pada S. platensis. Spirulina platensis is blue green microalgae that has high protein content, so it is often used as functional foods. The application of S. platensis as a functional food often experiences problems because of the content of volatile compounds that cause off odour in these microalgae. Ocimum basilicum interventions on S. platensis can reduce the off odour problems. Microencapsulation is performed to maintain nutrient stability and retain odour when consumed. The purpose of this study was to determine the effect of O. basilicum intervention on the protein content, amino acids, chemical scores, pH and sensory characteristics of S. platensis powder and microcapsules. The research consists of three intervention models; microencapsulation (MSB) of O. basilicum; dried without microencapsulation (DSB) of O. basilicum; and S. platensis (SP) powder as a control. The results showed that the intervention of O. basilicum had an effect (p<0.05) on protein content, pH value, and sensory characteristics. Protein levels in the DSB sample decreased by 19.87%, and in the MSB sample decreased by 74%. Intervention of O. basilicum which is dried without microencapsulation and microencapsulation can increase the hedonic scale on S. platensis. The DSB sample gave the best value for the aroma, while the MSB sample gave the best value for the color. Therefore the intervention of O. basilicum in S.platensis becomes a solution in reducing the off odour in S. platensis
Komposisi Kimia Baby Fish Nila Larasati (Oreochromis niloticus) Pada Berbagai Umur Panen dalam Sistem Akuaponik: Chemical Composition of Baby Fish Tilapia (Oreochromis niloticus) Harvested in Different Periods Reared Under Aquaponic System
Baby fish nila larasati digemari oleh masyarakat dalam bentuk goreng dan crispy, tetapi informasi komposisi gizi mengenai baby fish nila larasati segar masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi kimia dan asam lemak baby fish nila larasati pada umur panen yang berbeda dalam sistem akuaponik. Metode yang digunakan pola faktorial dengan satu faktor yaitu perlakuan perbedaan umur panen (14 hari, 21 hari, 28 hari, dan 35 hari). Parameter yang diamati yaitu morfometrik (bobot tubuh, panjang total, dan tinggi badan), komposisi kimia, dan asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan bobot ikan memengaruhi komposisi kimia. Hasil analisis statistik proksimat baby fish nila larasati menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap umur panen (p<0,05). Saturated fatty acid (SAFA) dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) tertinggi yaitu palmitat (C6:0) dan linoleat (C18:2n6) pada umur panen 14 hari.Baby fish tilapia is mostly consumed by society in fried the fish and crispy forms, but the information on the nutritional composition of the fish is limited. The objective of the present study was to evaluate the chemical composition and fatty acids of baby fish tilapia harvested in different periods reared under aquaponic system. The research was conducted in factorial design with single factor namely different harvesting periods (14 days, 21 days, 28 days, and 35 days). The parameters measured were morphometric (body weight, total length and body length), chemical composition, and fatty acids. The results showed that the body weight affected the chemical composition. Statistical analysis showed that the proximate analysis was significantly different among the treatments (p<0.05). The highest saturated fatty acid (SAFA) and polyunsaturated fatty acid (PUFA) was palmitate (C6:0) dan linoleat (C18:2n6) respectively obtained at fish harvested in 14 days
Skrining Senyawa Bioaktif Daun Perepat (Sonneratia alba J.E. Smith) sebagai Antioksidan asal Pesisir Kuala Bubon Aceh Barat.: Screening of Antioxidant Bioactive Compounds from Mangrove Sonneratia alba J.E. Smith Leaves of The Coast Kuala Bubon, West Aceh
Tumbuhan perepat (Sonneratia alba) merupakan salah satu spesies mangrove yang memilki potensi sebagai sumber antioksidan yang dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir Kuala Bubon. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan potensi senyawa bioaktif pada daun perepat (S. alba) asal pesisir Kuala Bubon sebagai antioksidan. Metode ekstraksi menggunakan tiga pelarut (methanol, etil asetat dan n-heksana) melalui maserasi tunggal. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan daun S. alba meliputi fenolik, saponin, tannin dan steroid. Hasil uji antioksidan dengan menggunakan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak methanol memiliki aktivitas antioksidan yang paling kuat dengan nilai IC50 sebesar 26,68±2,2 mg/L sedangkan ekstrak etil asetat sebesar 33,37±3,4 mg/L dan ekstrak n-heksana memiliki aktivitas antioksidan yang paling lemah dengan nilai IC50 sebesar 35,37±2,5 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa daun perepat (S. alba) memiliki prospek menjanjikan dalam penemuan antioksidan alami.Mangrove Sonneratia alba is a potential source of antioxidant bioactive compounds and is utilizated by the coastal community of Kuala Bubon. The aim of this study was to determine the antioxidant activity of the mangrove leaves. Three solvents namely methanol, ethyl acetate, and n-hexane were used to extract the bioactive compounds. Based on the results the methanolic extract had the strongest antioxidant activity with IC50 value 26.68±2.2 mg/L whereas the ethyl acetate extract had IC50 33.37±3.4 mg/L and the n-hexane extract had the weakest antioxidant activity with IC50 value 35.37±2.5 mg/L. These results suggest that the mangrove (S. alba) leaves have promising prospectas a source of natural antioxidants
Characterization of Ammonium Sulphate Fraction Tripsin Isolated from Intestine of Little Tuna: Trypsin from little tuna
Usus ikan tongkol merupakan bagian saluran pencernaan ikan yang memiliki pH neteral sehingga berpotensi sebagai sumber enzim, yaitu enzim tripsin. Enzim tripsin dari jeroan ikan bisa menjadi alternatif dari enzim tripsin komersil yang berasal dari babi dan sapi. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik fraksi amonium sulfat enzim tripsin dari usus ikan tongkol. Tahapan penelitian diawali dengan ekstraksi enzim tripsin dari usus ikan tongkol lalu difraksinasi menggunakan amonium sulfat (0-80%). Fraksi terbaik dikarakterisasi suhu, pH, pengaruh ion logam, stabilitas terhadap NaCl, dan substrat optimum serta dilakukan analisis kinetika reaksi. Pengukuran aktivitas enzim menggunakan substrat N-α-benzoyl-DL-arginine-p-nitroanilide (BAPNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar tripsin memiliki aktivitas sebesar 0,205 U/mL. Aktivitas enzim tripsin tertinggi terdapat pada fraksi amonium sulfat fraksi 40-50% sebesar 0,248 U/mL. Enzim bekerja optimum bekerja pada suhu 60°C dan pH 9. Ion logam ZnCl2 dan CaCl2 menghambat aktivitas tripsin, sedangkan MnCl2, CuCl2, dan NaCl dapat meningkatkan aktivitas tripsin. Aktivitas tripsin stabil pada NaCl 5-30%. Enzim tersebut memiliki nilai Vmaks sebesar 0,42 mmol/s dan nilai Nilai Km sebesar 1,12 mMIntestine is part of the digestive tract of fish having neutral pH. Thus, fish intestine is a potential source of typsin and can be an alternative source to the commercial trypsin enzyme derived from pork and cattle. This study was aimed to analyze the characteristics of the ammonium sulphates fraction of the trypsin enzyme from tuna intestine. The research began with the extraction of the trypsin enzyme from the little tuna intestine and followed up by fractionation using ammonium sulphates (0-80%). Optimum temperature and pH as well as effects of metal ions, stability to NaCl, optimum substrate and reaction kinetics were determined. Enzyme activity was measured using N-α-benzoyl-DL-arginine-p-nitroanilide (BAPNA). The results showed that the trypsin crude extract had an activity of 0.205 U / mL. The highest enzyme activity was found in the ammonium sulphates fraction of 40-50% . The enzyme worked optimally at 60°C and pH 9. Metal ions including ZnCl2 and CaCl2 inhibited trypsin activity, while MnCl2, CuCl2, and NaCl increased trypsin activity. Trypsin activity was stable at 5-30% NaCl. The enzyme had a Vmax value of 0.42 mmol/s and a Km value of 1.12 mM