Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Profil Protein Ikan Gabus (Channa striata), Toman (Channa micropeltes), dan Betutu (Oxyeleotris marmorata): Protein Profile of Channa striata , Channa micropeltes, and Oxyeleotris marmorata Fish
Channa striata atau yang dikenal dengan ikan gabus adalah ikan air tawar yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, khususnya kandungan albuminnya untuk penyembuhan luka. Jenis ikan air tawar lain yang diduga memiliki potensi albumin selain ikan gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes) dan ikan betutu (Oxyeleotris marmorata). Penelitian ini bertujuan menentukan profil protein albumin pada ikan gabus, toman, dan betutu. Metode yang dilakukan yaitu ekstraksi protein, pengukuran kadar protein serta identifikasi profil protein dengan SDS-PAGE. Pengukuran kadar protein dilakukan pada ekstrak ikan segar, rebus, dan setelah pemurnian dengan presipitasi amonium sulfat. Kadar protein pada ekstrak ikan gabus segar 11,62±0,17 mg/g, rebus 6,28±0,57 mg/g dan murni 105,23±0,44 mg/g. Kadar protein ekstrak ikan toman segar 10,47±0,17 mg/g, rebus 8,19±0,33 mg/g dan murni 42,76±1,65 mg/g. Kadar protein ekstrak ikan betutu segar 4,47±0,33mg/g, rebus 2,95±0,17 mg/g dan murni 54,09±0,16 mg/g. Profil protein albumin pada ikan gabus, toman dan betutu memiliki bobot molekul 50-52 kDa.Channa striata has benefit for human health, especially albumin content as wound healing. The other fish species that have potential source of albumin are toman fish (Channa micropeltes) and betutu fish (Oxyeleotris marmorata). This study aims to determine the protein albumine profile in snakehead, toman, and betutu fish. The method included protein extraction, measurement of protein content and identification of protein profiles using SDS-PAGE. The protein contents in fresh, boiled, and pure of gabus fish were 11.62±0.17 mg/g, 6.28±0.57 mg/g, and 105.23±0.44 mg/g respectively, while fresh, boiled, and pure of toman fish were 10.47±0.17 mg/g, 8.19±0.33 mg/g, and 42.76±1.65 mg/g respectively. In addition, the protein content of fresh, boiled, and pure of betutu fish were 4.47±0.33 mg/g, 2.95±0.17 mg/g, 54.09±0.16 mg/g, respectively. The albumin profile in snakehead, toman and betutu fish has predicted with a molecular weight of 50-52 kDa
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Garam terhadap Asam Glutamat Terasi Udang Rebon (Acetes sp.): The Effect of Differences of Salt Concentration on Glutamic Acid of Rebon Shrimp (Acetes sp.) Paste
Udang rebon pada umumnya digunakan sebagai bahan baku produk produk penyedap rasa, antara lain terasi udang, petis, dan diolah menjadi rebon kering. Udang rebon memiliki rasa yang gurih. Fermentasi secara sederhana menghasilkan berbagai produk, salah satunya terasi. Fermentasi garam akan menimbulkan rasa gurih, karena komponen pada udang rebon mengalami pemecahan akibat aktivitas enzim protease. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik terasi berdasarkan perbedaan konsentrasi garam dan menentukan konsentrasi garam terbaik. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan pada penelitian adalah perbedaan konsentrasi garam dengan konsentrasi 2, 8, dan 14%. Parameter yang diamati adalah TPC BAL, pH, aw, kadar garam, asam glutamat, kadar air, dan organoleptik. Data parametrik dianalisis dengan uji ANOVA dan dilanjutkan uji BNJ, sedangkan data non-parametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji lanjut Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terasi udang rebon dengan konsentrasi garam 2, 8, dan 14% mempunyai perbedaan yang nyata (p<5%) terhadap kadar garam, asam glutamat dan kadar air namun tidak mempunyai perbedaan yang nyata (p>5%) terhadap pH dan aw. Formulasi terasi udang rebon terbaik pada penelitian ini dengan penambahan garam 2% dinilai dari asam glutamat 13,68%±0,10 dan uji organoleptik dengan selang kepercayaan 8,61<μ<8,81.Rebon shrimp is generally used as raw material for flavoring products, including shrimp paste, paste, and processed into dried rebon. Rebon shrimp has a delicious taste. Simple fermentation produces various products, one of which is shrimp paste. Salt fermentation will cause a savory taste, because the components in rebon shrimp experience a breakdown due to the activity of the protease enzyme. The purpose of this study was to determine the effect of adding different salts to the characteristics of the shrimp paste, and to determine the best salt concentration from the analysis. The research method used a completely randomized design. The treatment in this study was the difference in salt concentration with a concentration of 2, 8, and 14%. The parameters observed were TPC LAB, pH, aw, salt content, glutamic acid, water content and organoleptic. Parametric data were analyzed using ANOVA test and continued with Tukey\u27s HSD test, while non-parametric data were analyzed by Kruskal-Wallis and continued with Mann-Whitney test. The results showed that shrimp paste with 2, 8, and 14% salt concentration had a significant difference (p<5%) on the salt, glutamic acid and water content but did not have a significant difference (p>5%) towards pH and aw. The best shrimp paste formulation in this study with the addition of 2% salt was assessed from glutamic acid 13.68%±0.10 and organoleptic test with a confidence interval of 8.61<μ<8.81
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Sargassum plagyophyllum terhadap Bakteri Listeria monocytogenes dan Pseudomonas aeruginosa: Antibacterial Activity of Sargassum plagyophyllum Extract against Listeria Monocytogenes and Pseudomonas aeruginosa
Bakteri Listeria monocytogenes dan Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen yang harus dihambat atau dibunuh pertumbuhannya menggunakan senyawa antibakteri. Sargassum sp. merupakan salah satu jenis rumput laut cokelat yang memiliki komponen senyawa bioaktif yang dapat berperan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komponen bioaktif dan aktivitas antibakteri ekstrak Sargassum plagyophyllum. Penelitian ini terdiri dari maserasi rumput laut S. plagyophyllum dan karakterisasi ekstrak yang meliputi screening fitokimia dan analisis antibakteri gram positif dan negatif pada konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu 2, 4, dan 6% w/v. Ekstrak metanol S. plagyophyllum memiliki rendemen 1,32±0,04% dan mengandung senyawa bioaktif alkaloid, steroid, saponin, dan fenolik. Jika dilihat dari aktivitas antibakteri, diperoleh bahwa ekstrak S. plagyophyllum memiliki zona hambat terhadap bakteri gram positif (L. monocytogenes) dan bakteri gram negatif (P. aeruginosa), namun diameter penghambatan pertumbuhan bakteri gram negatif (6,67±0,58 mm) lebih besar dibandingkan dengan bakteri gram positif (4,67±0,58 mm) pada konsentrasi ekstrak tertinggi (6%).Listeria monocytogenes and Pseudomonas aeruginosa are pathogenic bacteria that must be inhibited and killed using antibacterial compounds. Sargassum sp. is one of the type of brown seaweed which has bioactive compounds as antibacterial. The research was aimed to determine the bioactive compounds and antibacterial activities of Sargassum plagyophyllum extract. This research consisted of maceration and characterization of S. plagyophyllum which included phytochemical screening and gram positive and negative antibacterial analysis at different concentrations of extract (2, 4, and 6% w/v). Methanol extract of S. plagyophyllum had a yield of 1.32±0.04% and contained bioactive compounds such as alkaloids, steroids, saponins, and phenolics. Based on antibacterial activity, S. plagyophyllum extract had the inhibition zone diameter both for gram positive bacteria (L. monocytogenes) and gram negative bacteria (P. aeruginosa), Nevertheless, the inhibition zone diameter of gram negative bacteria (6.67±0.58 mm) was greater than gram positive bacteria (4.67±0.58 mm) at the highest concentration of extract (6%)
Produksi Kitosan dari Cangkang Rajungan (Portunus sp.) pada Suhu Ruang: The Production of Chitosan from Crab Shell (Portunus sp.) at Room Temperature
Limbah cangkang rajungan dapat dimanfaatkan menjadi kitosan yang dihasilkan dari proses deasetilasi kitin dengan basa kuat serta menggunakan suhu tinggi. Penggunaan suhu tinggi selama proses berisiko tinggi, sehingga produksi kitosan tanpa tahap pemanasan dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko kecelakaan. Tujuan penelitian ini adalah memproduksi kitosan dari cangkang rajungan pada suhu ruang tanpa adanya pemanasan. Kitosan dibuat melalui tahapan- tahapan berikut yaitu deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Proses pembuatan kitosan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan pada waktu yang berbeda dengan metode yang sama dan terukur. Kitosan yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi. Kitosan yang dihasilkan memiliki warna putih kekuningan, berbentuk serpihan dan tidak berbau, dengan kadar air 11,25–12,93%, kadar abu 1,62–1,75%, kadar nitrogen 5,12–5,45%, kadar lemak 0,25–0,49%, viskositas 37,50–38,33 cPs, kelarutan 99,50–99,57% dan derajat deasetilasi 57,64%. Dapat disimpulkan bahwa kitosan dapat dibuat tanpa menggunakan proses pemanasan dan memenuhi standar mutu kitosan komersial kecuali nilai derajat deasetilasi rendah. Pembuatan kitosan tanpa pemanasan diharapkan dapat diterapkan pada miniplant rajungan sehingga dapat memberi nilai tambah untuk cangkang rajungan.Crab shell (Portunus Sp) can be used as a raw material for chitosan which obtained by hydrolyzing chitin by using strong alkali and high temperature. The use of high temperature during the process, producing chitosan without any thermal stage can be a possible solution to reduce hazard. The study aims to produce chitosan from crab shells using non thermal method. Chitosan was made through these stages: deproteination, demineralization and deacetylation. The yielded chitosan then characterized. The results showed that the chitosan has yellowish white color, in flakes form and odorless with moisture content 11,25 – 12,93%, ash content 1,62 – 1,75%, nitrogen content 5,12 – 5,45%, lipid content 0,25 – 0,49%, viscosity 37,50 – 38,33 cPs, solubility 99,55 – 99,57% and degree of deacetylation 57,64%. In conclusion chitosan can be made with non thermal method met the commercial standards of chitosan except for the low deacetylation. Processing chitosan with non thermal methode can be applied at small crab miniplant, thus the crab shells has more economical value
Profil Gizi dan Kandungan Kolesterol Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Metode Pemasakan Berbeda: Chemical and Cholesterol Content of Tiger Shrimp (Penaeus monodon) with Different Cooking Methods
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu udang konsumsi yang nilai ekonomisnya terus meningkat dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan menentukan profil kandungan gizi dan kolesterol udang windu dengan perlakuan metode pemasakan berbeda yaitu perebusan, pengukusan, dan deep frying masing masing selama 10 menit, udang windu segar digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukan bahwa udang windu yang diberi pemasakan dengan perebusan kecenderungan perubahan nilai gizi tidak jauh berbeda dengan kontrol yaitu kadar air 71,93%, kadar abu 3,25%, kadar protein 18,82% dan kadar lemak 2,07%. Pengolahan udang windu dengan metode pengukusan menunjukan nilai kolesterol yang rendah yaitu 1,69 mg/100 g. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses pengolahan seperti perebusan, pengukusan, dan penggorengan metode deep frying mempunyai pengaruh terhadap profil gizi udang windu. Metode pengolahan pengukusan dapat mereduksi kandungan kolesterol pada udang windu sebanyak 94,12%.Tiger shrimp (Penaeus monodon) is one of the consumption shrimp whose economic value continues to increase and is widely consumed by the community. This research aimed to determine the effect of chemical and cholesterol content of tiger shrimp with different cooking methods which is boiling, steaming and deep frying for 10 minutes each, fresh tiger prawns were used as control. The results showed that tiger shrimp that were given cooking with boiling tended to change the chemical content which was not much different from the control, moisture 71.93%, ash 3.25%, protein 18.82% and lipid 2.07%. Processing of tiger shrimp using the steaming method showed a low cholesterol value of 1.69 mg/100 gr. Based on the results of the study, it can be concluded that processing processes such as boiling, steaming and deep frying method have an influence on the chemical content of tiger shrimp. Steaming processing method can reduce cholesterol content in tiger prawns as much as 94.12%
Pengaruh Perbedaan Pre-Treatment terhadap Stabilitas Karotenoid dan Fenol pada Ekstrak Sargassum duplicatum selama Penyimpanan: The effect of different pre-treatments on carotenoid and phenol stability of Sargassum duplicatum methanol extract during storage
Karotenoid, fukosantin dan fenol merupakan senyawa yang terkandung pada rumput laut Sargassum duplicatum. Senyawa-senyawa ini berperan dalam menghambat radikal bebas. Namun, kemampuan penghambatan radikal bebas senyawa ini mempunyai kestabilan yang rendah, terutama terhadap perlakuan suhu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh pre-treatment suhu tinggi (blanching) dan suhu rendah (pembekuan) serta perlakuan terbaik yang dapat mempertahankan stabilitas senyawa aktif pada ekstrak metanol rumput laut selama penyimpanan. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2x5 yaitu pola terbagi menjadi faktor suhu pengolahan (suhu tinggi dan suhu rendah) dan lama penyimpanan (0, 2, 4, 6, dan 8 hari). Blanching dilakukan pada suhu 95 oC sedangkan pembekuan pada suhu -27 oC. Hasil penelitian menunjukkan karotenoid, fukosantin, dan senyawa fenol dengan perlakuan blanching lebih stabil dibandingkan perlakuan pembekuan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya interaksi antara pre-treatments dan lama penyimpanan yang berpengaruh nyata terhadap nilai total karotenoid, kandungan fukosantin, total kandungan fenol, dan nilai perubahan warna (ΔE).Carotenoids and phenols are compounds contained in seaweed that possessed free radical scavenging activities. However, both compounds showed lower stability. The temperature treatments may affect the stability of both compounds. The aimed of this study was to determine the effect different pre-treatment blanching (high temperature) and freezing (low temperature) to maintain their stability in methanol extract of Sargassum duplicatum during storage at room temperature. The research method used was experimental laboratories using the basic design of a Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern of 2 x 5 which divided into processing temperature factors (high temperature and low temperature) and storage time (0, 2, 4, 6, and 8 day). Blanching was carried out at a 95oC while freezing at -27oC. The results showed that carotenoids, fucoxantin, and phenol compounds with blanching treatment were more stable than freezing treatments. This study showed that blanching treatment was effectively retard the degradation of carotenoids, fucoxanthin, phenol content during room temperature storage.
Keywords: Blanching, Fucoxanthin, Carotenoids, Pheno
Autentikasi Produk Olahan Ikan Hiu Komersial menggunakan Teknik Species-Specific DNA Mini-barcodes.: Authentication of Commercially Shark Products Using Species-Specific DNA Mini-barcodes Techniques
Pemanfaatan ikan hiu sebagai bahan baku produk olahan perikanan dapat menyebabkan berkurangnya populasi ikan hiu yang juga rentan akan kepunahan. Ikan hiu pada umumnya diperdagangkan dalam bentuk sirip, daging ikan yang diasinkan dan direbus, minyak ikan serta sebagai bahan subtitusi pada pakan hewan sehingga proses identifikasi menggunakan metode berbasis morfologi dan meristik sulit dilakukan. Sebagai alternatif proses autentikasi bahan baku produk olahan ikan hiu adalah menggunakan teknik DNA mini barcodes. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengaplikasikan primer DNA mini barcodes yang spesifik terhadap tiga species hiu terancam punah yang masuk dalam daftar CITES (Sphyrna lewini, Alopias pelagicus, Carcharhinus falciformis) serta mengaplikasikan pada berbagai produk olahan ikan hiu. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi koleksi sampel produk olahan perikanan, perancangan primer spesifik, isolasi DNA, pengujian kualitas dan kuantitas DNA, amplifikasi DNA, dan sekuensing. Berbagai produk olahan komersial berhasil diamplifikasi oleh primer spesifik yaitu pada target 300 pb (S. lewini), 285 pb (A. pelagicus) dan 352 pb (C. falciformes). Hasil sekuensing DNA sampel menunjukkan bahwa spesies teridentifikasi adalah S. lewini, A. pelagicus, C. falciformes dan Hemigaleus microstoma dengan kemiripan 99-100%. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih terdapatnya pemanfaatan ikan hiu yang dilindungi secara ilegal, sehingga perlu penerapan regulasi yang lebih ketat untuk melestarikan spesies-spesies hiu yang terancam kepunahannya.The use of shark fishery for processed fishery products raw material may threat the vulnerable shark population to extinction. Sharks generally traded in the form of: fins, salted and boiled fish meat, fish oil and for animal feed, therefore, the identification process using morphology and meristic based methods are challenging. An alternative to the process of seafood labelling authentication, the DNA mini barcodes technique could be applied. This study was aimed to design and apply species-specific DNA mini barcodes primers of three endangered shark species that are included in the CITES list (Sphyrna lewini, Alopias pelagicus, Carcharhinus falciformis) as well as applying it into various commercial processed shark products. The research methods were collection of processed fishery product samples, designing species-specific primers, DNA isolation, testing the quality and quantity of DNA, DNA amplification, and sequencing. Various commercial products were successfully amplified by species-specific primers, namely the target of 300 bp (S. lewini), 285 bp (A. pelagicus) and 352 bp (C. falciformes). The sequencing results demonstrated the identified species as S. lewini, A. pelagicus, C. falciformes and Hemigaleus microstoma with homology of 99-100%. The results showed that the illegal application of sharks, thus it is necessary to apply more stringent regulations to conserve shark species that have been threatened with extinction
Optimasi Produksi Kitosan Larut Air menggunakan Metode Hidrolisis Bertekanan: Optimatization of Production Water Soluble Chitosan Using Pressurized Hidrolysis Method
Modifikasi untuk produksi kitosan terus dilakukan sehingga menghasilkan berbagai bentuk kitosan baik itu berupa serpihan, butiran, membran maupun gel. Diversifikasi turunan dari kitosan masih harus dilakukan, misalnya produk diversifikasi kitosan yang telah ada seperti glukosamin dan perlu dilakukan produksi kitosan larut air untuk menambah diversifikasi dan memperluas kegunaan produk kitosan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan optimasi konsentrasi larutan asam klorida dan rasio kitosan dalam memproduksi kitosan larut air menggunakan tekanan hidrolisis dengan metode Response Surface Methodology (RSM) Box Behnken program software design expert 07.00. Perlakuan kondisi produksi kitosan larut air yang direkomendasikan RSM adalah konsentrasi HCl 1,75%, rasio kitosan 1:10 dan waktu pemanasan selama 45 menit. Karakteristik kitosan larut air pada kondisi optimum diperoleh rendemen 80%, pH 6, kadar air 41,9%, kadar abu 1,33%, kadar nitrogen 3,28%, kelarutan 66,38%.Modifications for chitosan production continue to be done so as to produce various forms of chitosan in the form of chips, granules, membranes and gels. Meanwhile, to diversify the derivatives from chitosan still needs to be done, existing chitosan diversified products such as glucosamine and water soluble chitosan production needs to be done to increase diversification and expand the use of chitosan products. The purpose of this study was to determine the optimum conditions of the water soluble chitosan production process by hydrolysis pressure using the Box-Behnken Methodology Response Surface (RSM-BoxBehnken) with Design Expert 07.0.0 program software. The RSM-Box Behnken recommends optimum conditions for production of water soluble chitosan at 1.75% HCl concentration, 1:10 ratio fo chitosan, for 45 minutes (desirability 76.1%) resulting in yield of 79,5%, pH of 5,93, water content of 25.45% , ash content of 1.33%, nitrogen level of 4.78% and solubility of chitosan of 42.66%. Processing production water soluble chitosan using the optimum conditions from the RSM recommendation obtained yield of 80%, pH of 6.0, water content of 41.9% , ash content of 1.29%, nitrogen level of 3.28% and solubility of chitosan of 66.38%
Pengujian Kualitas Mikrobiologi Ikan Ekor Kuning Asap dari Pasar Youtefa Papua: Microbiological Quality of Smoke Yellow Tail Fish from Youtefa Market Papua
Ikan ekor kuning asap merupakan produk pengolahan tradisional yang dijual di Pasar Youtefa Kota Jayapura. Namun, tingkat kebersihannya mulai dari pascapanen ikan, pengolahan hingga pemasaran belum terjamin. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menentukan mutu mikrobiologis pada ikan ekor kuning asap. Metode penelitian yang dilakukan meliputi uji mikrobiologi, pewarnaan gram bakteri dari isolat terpilih, dan uji biokimia bakteri yang mengacu pada SNI No 01-2332.3:2006 Uji mikrobiologi yang dilakukan yaitu penghitungan total mikroba (TPC) pada ketiga sampel menggunakan metode cawan tuang dengan enam faktor pengenceran. Koloni bakteri yang memiliki morfologi berbeda selanjutnya ditumbuhkan pada media PCA untuk dilakukan pewarnaan gram bakteri dan uji biokimia. Uji biokimia bakteri meliputi uji fermentasi karbohidrat, uji Metil Red-Voges Proskauer (MR-VP), uji sitrat, uji motilitas, uji Triple Sugar Iron Agar (TSIA), uji indol, dan uji katalase. Hasil yang diperoleh yaitu sampel dengan kode A memiliki angka cemaran mikroba yang rendah dibandingkan kode B dan kode C pada faktor pengenceran 10-6. Pewarnaan gram dilakukan untuk isolat terpilih yaitu isolat yang berwarna putih (Isolat A) dengan permukaan rata dan isolat berwarna krem (Isolat B) dengan permukaan agak menonjol. Isolat A bersifat gram positif sedangkan isolat B bersifat gram negatif. Uji biokimia menunjukkan isolat A menghasilkan uji glukosa (+), maltosa (+), MR-VP (+) dan SCA (+) sedangkan untuk isolat B menghasilkan uji glukosa (+), maltosa (+), NA (+) dan SCA (+) sehingga diduga bakteri pada ikan asap yaitu kelompok Staphylococcus dan Salmonella.Smoked yellow tail fish is a traditional processing fish product sold at Youtefa Market in Jayapura City, however, their sanitation status from post-harvest fish, processing to marketing could not be assured. The purpose of this study was to determine the microbiological quality of smoked yellow tail fish. The research included microbiological tests, bacterial gram staining of selected isolates, and bacterial biochemical tests according to Indonesia National Standard. The total microbial count (TPC) was carried out in three samples using the pour plate method with six dilution factors. Bacterial colonies with different morphologies were then inoculated on PCA media for gram staining and biochemical tests. The bacterial biochemical tests included carbohydrate fermentation test, Methyl-red Voges-Proskauer test (MR-VP), citrate test, motility test, Triple Sugar Iron Agar (TSIA) test, indole test, and catalase test. The results showed that sample A had lower number of microbial contamination compared to that of sample B and C at a dilution factor of 10-6. Gram staining was carried out for selected isolates, namely white isolates (isolate A) with a flat surface and cream colored isolates (isolate B) with slightly protruding surfaces. Isolate A was gram positive, while isolate B was gram negative. Biochemical tests showed that isolate A produced glucose (+), maltose (+), MR-VP (+) and SCA (+) tests while isolate B produced glucose (+), maltose (+), NA (+) and SCA tests. (+) so it was suspected that the bacteria in smoked fish were Staphylococcus and Salmonella group
The influence of extension activities on the competencies of traditional fisheries processing in Lampung Province: Pengaruh Penyuluhan terhadap Kompetensi Pengolah Perikanan Tradisional di Provinsi Lampung
Extension is an informal learning process that plays an important role in improving fisheries processors competencies. However, current extension activities that have been running so far are felt to be lacking so it is necessary to look at the effectiveness of conducting extension on traditional fisheries business related to methods, media, materials and capabilities of extension agents. This study was aimed to (1) analyze the effectiveness of fisheries extension activities in traditional fisheries processing businesses in Lampung Province, (2) analyze traditional processors competencylevels, (3) analyze the effect of extension on processors competencies/capabilities in traditional fisheries processing businesses. This study used a quantitative approach enriched with qualitative analysis. The survey was conducted to obtain primary data using a questionnaire. The research location were in three districts in Lampung Province. The data analysis technique used descriptive and regression analysis. The results of the study were (1) the effectiveness of extension was still low, (2) traditional processors competencies belonged to the low category, and (3) the ability of extension agents affected the development of fisheries processors’ competencies. The effectiveness of extension is still low due to the limited extension methods. Therefore it is important to carry out extension activities with varied methods according to the target needs to improve the competency of traditional fisheries processors