Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Effect of type and concentration of organic acids on the extraction efficiency of glutamic acid and bioactive compounds from sipou (Siphonosoma australe-australe)
Sipou (Siphonosoma australe-australe) is a marine mollusk abundant in Indonesian waters, but its utilization is still limited. Sipou contains glutamic acid and has antioxidant activities that can be extracted with acid. This study aimed to determine the optimal type and concentration of organic acids for extracting glutamic acid and bioactive compounds from sipou. The study used a completely randomized factorial design (RALF)with treatments of organic acid types (lactic, acetic, and citric acid) and concentrations (1%, 3%, and 5%) with three replications. The results showed that the type and concentration of organic acids significantly affected the levels of protein and glutamic acid, antioxidant activity, and color characteristics (p<0.05). Treatment with 3% citric acid resulted in the highest glutamic acid content (6.15 mg/100 mL) and strong antioxidant activity, while also providing a more concentrated extract color compared to other solvents. This advantage is related to the ability of citric acid to break down protein structures and maintain the stability of the bioactive compounds. Thus, 3% citric acid is recommended as the optimal solvent for obtaining high-quality sipou extract that has the potential for application in the functional food and pharmaceutical industries.Sipou (Siphonosoma australe-australe) merupakan biota laut jenis moluska yang melimpah di perairan Indonesia namun masih terbatas pemanfaatannya. Sipou mengandung asam glutamat dan aktivitas antioksidan yang dapat diekstrak dengan asam. Penelitian ini bertujuan menentukan jenis dan konsentrasi asam organik terbaik untuk mengekstraksi asam glutamat dan senyawa bioaktif dari sipou. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan perlakuan jenis asam organik (laktat, asetat, sitrat) dan konsentrasi (1%, 3%, 5%) dengan tiga ulangan. Hasil menunjukkan bahwa jenis dan konsentrasi asam organik berpengaruh nyata terhadap kadar protein, asam glutamat, aktivitas antioksidan, dan karakteristik warna (p<0,05). Perlakuan menggunakan asam sitrat 3% menghasilkan kadar asam glutamat tertinggi (6,15 mg/100 mL) dan aktivitas antioksidan kuat, sekaligus memberikan warna ekstrak lebih pekat dibandingkan pelarut lain. Keunggulan ini berkaitan dengan kemampuan asam sitrat dalam memecah struktur protein dan menjaga kestabilan senyawa bioaktif. Dengan demikian, asam sitrat 3% direkomendasikan sebagai pelarut optimal untuk memperoleh ekstrak sipou berkualitas tinggi yang potensial diaplikasikan dalam industri pangan fungsional dan farmasi
Pengaruh penggunaan jenis gas terhadap mutu daging tuna selama penyimpanan dingin: The effect of using different types of gases on tuna meat quality during cool storage
Penyimpanan dingin merupakan metode umum dalam pengolahan ikan, namun efektivitasnya tergantung pada teknologi pendukung, termasuk jenis gas dalam kemasan. Penggunaan gas yang tepat dapat menghambat oksidasi, mencegah pertumbuhan mikroorganisme, dan menjaga warna, tekstur, serta cita rasa daging tuna. Penelitian ini bertujuan menentukan jenis gas terbaik terhadap mutu daging tuna selama penyimpanan dingin. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) 1 faktor dengan 3 kali ulangan. Perlakuan jenis gas yang digunakan adalah tanpa gas (A0), karbon monoksida (A1), filtered smoke (A2), dan gas non-kondensat yang berasal dari tempurung kelapa (A3), kulit batang sagu (A4), dan kayu jambu biji (A5). Sampel tuna loin disemprotkan dengan gas-gas tersebut, kemudian kantong plastik ditutup rapat dan disimpan pada suhu 1-4°C selama 3 hari. Parameter yang dianalisis meliputi pH, total volatile base (TVB), kadar mioglobin, dan angka lempeng total (ALT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gas CO (A1) secara signifikan menurunkan kadar TVB dan mempertahankan kadar mioglobin tuna loin, serta memperlambat penurunan kualitas dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Gas non-kondensat dari tempurung kelapa (A3) dan kulit batang sagu (A4) juga memberikan hasil yang cukup baik, namun gas CO terbukti paling efektif dalam mempertahankan kesegaran tuna. Hasil ini menunjukkan potensi penggunaan gas non-kondensat alami sebagai alternatif ramah lingkungan dalam memperpanjang umur simpan produk tuna. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi baru untuk menjaga kualitas daging tuna dalam proses distribusi dan penyimpanan dingin, serta memberi kontribusi terhadap pengembangan teknologi penyimpanan ikan yang lebih berkelanjutan.Refrigerated storage is a commonly used method in fish handling, but its effectiveness depends on supporting technologies, including the type of gas used in packaging. The appropriate choice of gas can inhibit oxidation, prevent microbial growth, and preserve the color, texture, and flavor of tuna meat. This study aims to determine the most effective gas type for preserving the quality of tuna meat during cold storage. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with one factor and three replications. The types of gas treatments used were no gas (A0), carbon monoxide (A1), filtered smoke (A2), and non-condensable gases derived from coconut shell (A3), sago bark (A4), and guava wood (A5). Tuna loin samples were sprayed with these gases, then sealed in plastic bags and stored at 1-4°C for 3 days. The parameters analyzed included pH, total volatile bases (TVB), myoglobin content, and total plate count (TPC). The results indicated that CO gas treatment (A1) significantly reduced TVB levels and maintained myoglobin content in tuna loin, as well as slowed down the decline in quality compared to other treatments. Non-condensable gases from coconut shells (A3) and sago palm bark (A4) also showed good results; however, CO gas was the most effective in preserving tuna freshness. These results highlight the potential of using natural non-condensable gases as an environmentally friendly alternative to extend the shelf life of tuna products. This research is expected to provide a new solution for maintaining tuna meat quality during distribution and cold storage, as well as contribute to the development of more sustainable fish storage technologies
Acute toxicity and physicochemical evaluation of milkfish (Chanos chanos) collagen skin lotion
Industri pengolahan ikan bandeng (Chanos chanos) di Indonesia menghasilkan limbah berupa sisik dalam jumlah besar. Sisik kaya akan kolagen yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam produk perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimal kolagen sisik bandeng dalam formulasi losion berdasarkan parameter toksisitas akut dermal dan sifat fisikokimia. Kolagen diekstraksi dan diformulasikan ke dalam losion dengan konsentrasi 0%, 1%, 3%, dan 5%. Sifat fisikokimia yang diuji meliputi daya sebar, viskositas, dan pH. Sementara itu, toksisitas akut dermal dievaluasi pada mencit betina (Mus musculus) melalui analisis histopatologi kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi losion memenuhi standar mutu fisikokimia yang dipersyaratkan. Peningkatan konsentrasi kolagen menurunkan daya sebar, tetapi meningkatkan viskositas, dengan nilai pH tetap berada dalam kisaran aman. Uji toksisitas dermal tidak menunjukkan tanda-tanda toksisitas maupun kematian pada hewan uji. Analisis histopatologi menunjukkan bahwa konsentrasi kolagen lebih tinggi menurunkan ketebalan epitel dan jumlah sel inflamasi, sekaligus meningkatkan angiogenesis pada jaringan kulit. Dengan demikian, losion kolagen sisik bandeng dinyatakan aman untuk penggunaan topikal serta berpotensi dikembangkan sebagai produk perawatan kulit dengan mutu fisikokimia yang baik.The continuous growth of milkfish (Chanos chanos) aquaculture in Indonesia has led to significant generation of scale waste. These scales are highly collagenous and may serve as active ingredients in skin care products. This study aimed to identify the optimal concentration of milkfish scale collagen lotion by evaluating its parameters, physicochemical properties, and acute dermal toxicity. Collagen extracted from milkfish scales was incorporated into lotion formulations at varying concentrations (0%, 1%, 3%, and 5% w/v) to evaluate its physicochemical effects. The physicochemical properties evaluated were spreadability, viscosity, and pH of the gel. Acute dermal toxicity was assessed in female mice (Mus musculus) by histopathological analysis of the skin. The resulting data were then analyzed using the One-Way ANOVA test and Fisher LSD test. The results showed that all the lotion formulations met the required physicochemical quality standards. Increasing collagen concentration decreased spreadability but increased viscosity, with all pH values remaining within the safe ranges. Acute dermal toxicity testing indicated no evidence of toxicity or mortality in the test subjects. Histopathological analysis indicated that higher collagen concentrations reduced epithelial thickness and the number of inflammatory cells while promoting angiogenesis in the skin tissue. In conclusion, milkfish scale collagen lotion is safe for topical use and has promising potential as a skincare product with favorable physicochemical properties
Karakteristik fisikokimia corndog sosis ikan dengan penambahan tepung ikan lomek (Harpadon nehereus): Characteristics of corndog fish sausage with the addition of bombay duck fish flour (Harpadon nehereus)
Corndog adalah salah satu camilan kekikinian yang banyak diminati di Indonesia. Corndog merupakan makanan ringan yang terdiri atas sosis atau keju (atau kombinasi keduanya) yang ditusuk dengan lidi, kemudian dilapisi dengan tepung roti dan digoreng hingga matang. Kandungan gizi pada produk corndog tergolong rendah sehingga perlu ditambahkan sumber nutrisi lain untuk meningkatkan nilai gizinya, salah satunya dari ikan eksotik yang banyak ditemukan di perairan Kota Dumai yang belum banyak diversifikasi olahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik corndog dari tepung ikan lomek berdasarkan karakteristik fisikokimia dan nilai hedonik. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, 10 dan 20% penambahan tepung ikan lomek (tiga ulangan). Fortifikasi ikan lomek terbaik ditunjukkan pada corndog dengan penambahan tepung ikan lomek 10% dengan nilai protein 8,74%; karbohidrat 25,66%; lemak 9,85%; air 45,44%; abu 1,19%; kalori 286,27 kcal; hardness 2.862,91; expanding power 1,35; chewiness 2.400,50 gmm dan nilai hedonik sebesar 8.19±0.69 (suka). Corndog dengan penambahan tepung ikan lomek berpotensi menjadi camilan yang bergizi.Corndogs are one of the most popular contemporary snacks in Indonesia. A corndog is a snack consisting of sausage or cheese (or a combination of both) skewered with a stick, coated with breadcrumbs, and fried until cooked. The nutritional content of corndog products is relatively low; therefore, it is necessary to add other nutritional sources to increase their nutritional values. One of these sources is exotic fish, which are commonly found in the waters of Dumai City, which has not had much food diversification. This study aimed to determine the best corndog formulation from Bombay duck fish flour based on physicochemical characteristics and hedonic values of the product. A completely randomized design (CRD) was used with three treatments: control, 10%, and 20% lomek fish flour addition (three replications). The best fortification of corndogs with Bombay duck fish was achieved with the addition of 10% lomek fish flour, resulting in a protein content of 8.74%, carbohydrate content of 25.66%, fat content of 9.85%, air content of 45.44%, ash content of 1.19%, calorie content of 286.27 kcal, hardness of 2,862.91, swelling power of 1.35, chewiness of 2,400.50 gmm, and a hedonic value of 8.19±0.69 (like). Corndogs with the addition of lomek fish meal have the potential to be a nutritious snack
Optimasi ekstraksi karagenan dari Kappaphycus alvarezii berbantu metode enzim selulase dan gelombang ultrasonik : Optimization of carrageenan extraction from Kappaphycus alvarezii using ultrasonic-assisted cellulase extraction (UACE)
Karagenan merupakan polisakarida bernilai ekonomi tinggi yang diperoleh dari alga merah sebagai bahan pengental maupun penstabil diberbagai industri. Metode ekstraksi karagenan yang umum digunakan di industri melibatkan proses alkali panas dengan waktu cukup panjang sehingga tidak efisien dan menghasilkan banyak limbah. Oleh karena itu, perlu teknik ekstraksi yang dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum ekstraksi kappa-karagenan K. alvarezii menggunakan metode UACE berdasarkan persentase rendemen dan kualitas fisikokimia. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah rasio pelarut dan rumput laut (20–100 mL/g), konsentrasi enzim selulase (2–10%) dan waktu ultrasonikasi (20–100 menit). Karagenan dari K. alvarezii yang telah mendapatkan praperlakuan selanjutnya diekstrak pada suhu 80-90ºC selama 30 menit, dikarakterisasi dan dibandingkan dengan karagenan murni sesuai SNI 8391-1:2017. Kenaikan rasio pelarut:rumput laut, jumlah enzim dan waktu ultrasonik dapat menaikkan rendemen karagenan hingga mencapai 62%. Karagenan yang dihasilkan memiliki warna yang lebih gelap dibandingkan karagenan komersial. Karagenan memiliki kadar air, sulfat, viskositas, kandungan logam berat sesuai SNI, sedangkan kadar abu dan abu tak larut asam melebihi SNI serta kekuatan gel dari karagenan masih di bawah SNI. Karagenan masih mengandung unsur N yang menunjukkan ketidakmurnian karagenan. Hasil spektrum FTIR menunjukkan bahwa karagenan yang diperoleh merupakan jenis kappa-karagenan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh UACE sebagai perlakuan awal dalam proses ekstraksi karagenan sehingga tidak hanya meningkatkan jumlah karagenan, tetapi juga mutu karagenan yang dihasilkan.Carrageenan is a high economic value polysaccharide obtained from red algae as a thickener and stabilizer in various industries. The extraction method of carrageenan commonly used in industry involves a hot alkaline process with a long time, which is inefficient and produces a lot of waste. Consequently, we require an extraction method that enhances efficiency and minimizes environmental effects. The goal of this study is to find the best conditions for extracting kappa-carrageenan from K. alvarezii using the UACE method, considering the quality and percentage of yield. The variables observed in this study were solvent and seaweed ratio (20-100 mL/g), cellulase enzyme concentration (2-10%), and ultrasonication time (20-100 min). The pretreated carrageenan from K. alvarezii was extracted at 80-90ºC for 30 min, characterized, and compared with pure carrageenan according to SNI 8391-1:2017. Increasing the solvent:seaweed ratio, enzyme amount, and ultrasonic time can increase the carrageenan yield up to 62%. However, the carrageenan produced has a darker color than commercial carrageenan. Carrageenan has water content, sulfate, viscosity, heavy metal content according to SNI, while ash content and acid insoluble ash exceed SNI and gel strength of carrageenan is still below SNI. Carrageenan still contains the element N, which indicates the impurity of carrageenan. The results of the FTIR spectrum showed that the carrageenan obtained was of the kappa-carrageenan type. Further research is required to determine the effects of UACE as a pretreatment in the extraction of carrageenan. The objective is to identify methods for producing increased quantities and enhancing the quality of carrageenan
Kinetic study of quality changes and shelf-life prediction of Gracilaria sp. seaweed-based analog rice using the Arrhenius model: Studi kinetika perubahan kualitas dan prediksi umur simpan beras analog berbasis rumput laut Gracilaria sp. menggunakan model Arrhenius
Beras analog berbahan dasar rumput laut telah diusulkan sebagai pangan fungsional baru karena kandungan serat yang tinggi dan senyawa bioaktif. Informasi mengenai umur simpan beras analog masih terbatas, terutama yang dapat memengaruhi stabilitas kimia dan fisik selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur simpan beras analog Gracilaria sp. menggunakan model Arrhenius dan mengevaluasi perubahan kualitas fisik dan kimia selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) dengan model kinetika Arrhenius pada tiga suhu penyimpanan, yaitu 35, 45, and 55°C. Pengaruh suhu terhadap umur simpan dianalisis melalui parameter kadar asam tiobarbiturat (TBA), warna, dan mutu sensoris selama 30 hari penyimpanan. Perubahan kualitas fisik dan kimia diamati pada hari ke-0 dan hari ke-30 melalui parameter indeks kristalinitas, proksimat, dan serat. Kadar TBA merupakan parameter mutu yang paling kritis, dengan persamaan y = -731.83x – 2.68 dan nilai R² sebesar 0.9873. Berdasarkan persamaan Arrhenius, masa simpan beras analog berbasis rumput laut diperkirakan mencapai 210 hari pada suhu ruang. Waktu penyimpanan hari ke-0 dan ke-30 berpengaruh signifikan terhadap perubahan fisik dan kimia beras analog terutama kadar serat dari 7,35% menjadi 5,84%, lemak dari 4,17% menjadi 3,27%, dan indeks kristalinitas dari 40,74% menjadi 53,30%. Penelitian ini memberikan pemahaman lebih lanjut tentang dampak penyimpanan terhadap kualitas beras analog, khususnya mengenai stabilitas serat dan degradasi lemak selama penyimpanan, serta memberikan acuan bagi distributor dan konsumen dalam menentukan masa simpan.Seaweed-based analog rice has emerged as a novel functional food due to its high fiber content and the presence of bioactive compounds. However, information regarding its shelf life remains limited, particularly in relation to its chemical and physical stability during storage. This study aimed to determine the shelf life of Gracilaria sp.-based analog rice using the Arrhenius accelerated shelf-life model, and evaluate the physical and chemical quality changes during storage. Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) was conducted at three different storage temperatures namely at 35, 45, and 55°C, applying the Arrhenius kinetic model. Temperature effects were analyzed through kinetic parameters, including changes in thiobarbituric acid (TBA) levels, color, and sensory attributes (rancid odor and color intensity). Changes in physical and chemical quality were observed on day 0 and day 30 based on crystallinity index, proximate, and fiber content analysis. The results identified TBA levels as the most critical quality parameter, described by the equation y = –731.83x – 2.68, with a coefficient of determination (R²) of 0.9873. Based on the Arrhenius model, the estimated shelf life of the seaweed-based analog rice was approximately 210 days at room temperature. Storage periode day 0 and 30 has significant effect to physical and chemical changes such as in dietary fiber content from 7.35% to 5.84%, fat content from 4.17% to 3.27%, and the crystallinity index from 40,74% to 53,30%. This study provides valuable insights into how storage conditions affect the quality of analog rice, with particular emphasis on fiber stability and lipid oxidation, and provides a reference for distributors and consumers in determining shelf life
Aktivitas antioksidan fikosianin Arthrospira platensis yang diekstrak menggunakan dimetil sulfoksida: Antioxidant activity of Arthrospira platensis phycocyanin extracted using dimethyl sulfoxide
Fikosianin merupakan pigmen utama dalam Arthrospira platensis yang memiliki sifat antioksidan sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang pangan maupun kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh kondisi biomassa terhadap karakteristik (rendemen, konsentrasi fikosianin, indeks kemurnian) dan aktivitas antioksidan fikosianin A. platensis yang diekstrak menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO). Biomassa basah dan kering A. platensis diekstraksi menggunakan DMSO 50% dengan perbandingan 1:10 untuk mendapatkan ekstrak fikosianin kemudian dilakukan pemurnian menggunakan amonium sulfat. Ekstrak fikosianin dan fikosianin hasil yang telah dimurnikan dianalisis rendemen, konsentrasi, indeks kemurnian, gugus fungsi dan aktivitas antioksidan (metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dan ferric reducing antioxidant power (FRAP)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biomassa A. platensis (basah maupun kering) yang diekstrak menggunakan DMSO berpengaruh terhadap karakteristik fikosianin dan aktivitas antioksidan. Fikosianin dari biomassa basah memiliki karakteristik (rendemen 145,14±5,59 mg/g, konsentrasi fikosianin 0,40±0,02 mg/mL, indeks kemurnian 0,19±0,06) dan aktivitas antioksidan (IC50 DPPH 30.628,89±886,81 ppm, FRAP 1.695,57±5,18 μM/g) lebih tinggi dibandingkan dari biomassa kering (rendemen 39,50±20,30 mg/g, konsentrasi fikosianin 0,08±0,04 mg/mL, indeks kemurnian 0,03±0,02) dan aktivitas antioksidan (IC50 DPPH 162.820,59±1.446,30 ppm, FRAP 1.691,01±50,29 μM/g). Hasil fourier transform infrared (FTIR) menunjukkan adanya serapan khas gugus fungsi yang terdapat pada fikosianin. Aktivitas antioksidan fikosianin dari biomassa basah dengan metode DPPH (antioksidan primer) tergolong antioksidan lemah dan metode FRAP (antioksidan sekunder) tergolong kuat.Arthrospira platensis uses phycocyanin, its main pigment, for its antioxidant properties in the food and cosmetic fields. This study aims to determine the effect of biomass conditions on the characteristics (yield, phycocyanin concentration, purity index) and antioxidant activity of A. platensis phycocyanin extracted using dimethyl sulfoxide (DMSO). Wet and dry biomass of A. platensis were extracted using 50% DMSO with a ratio of 1:10 to obtain phycocyanin extract and then purified using ammonium sulfate. Phycocyanin extract and purified phycocyanin were analyzed for yield, concentration, purity index, functional groups, and antioxidant activity (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) and ferric reducing antioxidant power (FRAP) methods). The results indicated that the conditions of A. platensis biomass (wet and dry) extracted using DMSO affected the characteristics of phycocyanin and antioxidant activity. Phycocyanin from wet biomass has characteristics (yield 145.14±5.59 mg/g, concentration 0.40±0.02 mg/mL, purity index 0.19±0.06) and antioxidant activity (IC50 DPPH 30,628.89±886.81 ppm, FRAP 1,695.57±5.18 μM/g) higher than that from dry biomass (yield 39.50±20.3 mg/g, phycocyanin concentration 0.08±0.04 mg/mL, purity index 0.03±0.02) and antioxidant activity (IC50 DPPH 162,820.59±1,446.30 ppm, FRAP 1,691.01±50.29 μM/g). Fourier transform infrared (FTIR) results show the typical absorption of functional groups found in phycocyanin. The antioxidant activity of phycocyanin from wet biomass using the DPPH method (primary antioxidant) is classified as a weak antioxidant, while based on the FRAP method (secondary antioxidant), the antioxidant is classified as a strong antioxidant
Antifouling properties of green seaweed Halimeda opuntia from the Coast of Aceh, Indonesia: Sifat antifouling Halimeda opuntia dari Pesisir Aceh, Indonesia
Biofouling merupakan tantangan yang dihadapi dalam sektor maritim dan mendorong para peneliti untuk mengeksplorasi secara berkelanjutan dengan mencari solusi berupa antifouling yang ramah lingkungan dan berasal dari organisme laut. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi terbaik ekstrak H. opuntia berdasarkan aktivitas antifouling. Metode penelitian ini meliputi uji antibiofilm, sitotoksisitas, antibakteri, anti-quorum sensing, dan uji in situ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol H. opuntia memiliki aktivitas antibiofilm lebih tinggi dengan nilai IC50 sebesar 0,020 mg/mL. Uji sitotoksisitas menunjukkan toksisitas terendah terhadap sel L6, dengan nilai IC50 sebesar 70,79 µg/mL. Secara mekanistik, ekstrak metanol H. opuntia tidak memiliki efek bakterisidal melawan bakteri Pseudomonas aeruginosa, tetapi dapat menghalangi mekanisme komunikasi bakteri melalui aktivitas quorum quenching, yang dibuktikan dengan pembentukan zona buram tidak berwarna dalam uji tersebut. Uji in situ yang dilakukan di perairan Pulau Redang dan Kuala Kemaman, Malaysia menunjukkan panel yang dilapisi dengan formulasi 5% H. opuntia menunjukkan kinerja antifouling yang superior selama tiga bulan percobaan, dengan tingkat penutupan fouling masing-masing sebesar 11,19% dan 9,10%. Penelitian selanjutnya diperlukan berkaitan dengan sifat antifouling dengan melakukan identifikasi senyawa aktif, evaluasi efektivitas jangka panjang, dan menentukan efisiensi biaya untuk produksi massal.Marine biofouling remains a critical challenge in the maritime sector, prompting researchers to explore sustainable, eco-friendly, and antifouling solutions derived from marine organisms. This study aimed to determine the optimal concentration of H. opuntia extract for effective antifouling activity. The research methods included antibiofilm, cytotoxicity, antibacterial, anti-quorum sensing assays, and in situ tests. The results revealed that the methanol extracts of H. opuntia exhibited significantly higher antibiofilm activity, with an IC50 value of 0.020 mg/mL. Cytotoxicity assays demonstrated the lowest toxicity against the L6 cell line, with an IC50 value of 70.79 µg/mL. Mechanistically, the H. opuntia methanol extract did not exhibit a bactericidal effect against Pseudomonas aeruginosa but blocked bacterial communication mechanisms through quorum quenching activity, as evidenced by the formation of colorless opaque zones in reporter assays. In situ trials were conducted in the waters of Redang Island and Kuala Kemaman, Malaysia. Panels coated with H. opuntia 5% extract demonstrated superior antifouling performance over three months, with fouling coverage rates of 11.19% and 9.10%, respectively. Further research is needed on the antifouling properties of H. opuntia to identify its active compounds, evaluate its long-term effectiveness, and determine whether it is cost-efficient for mass production
Mutu fisikokimia dan mikrobiologi rajungan (Portunus pelagicus) hasil tangkapan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah: Physicochemical and microbiological quality of blue swimming crab (Portunus pelagicus) caught in Rembang District, Central Java
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas perikanan yang menjadi andalan ekspor Indonesia, umumnya dalam bentuk daging rebus kupas beku dan bersifat mudah rusak. Tingginya potensi penangkapan dan pemanfaatan daging rajungan, maka tujuan penelitian adalah menentukan mutu fisikokimia dan mikrobiologi rajungan hasil tangkapan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sampel yang digunakan adalah rajungan segar beku, rebus beku, dan daging rebus yang dikupas oleh rumah tangga nelayan dan miniplants. Analisis yang dilakukan, yaitu yield, kadar protein, profil asam amino, TVB-N, cemaran mikrob, dan logam berat. Hasil penelitian menunjukkan yield 28,36-42,34%, kadar protein 17,98±0,64 dan 21,24±1,47% (bb), jumlah lisina 1,79-1,87%, asam glutamat 4,05-4,78% (b/b), hardness 22,145-38,096 N, dan cohesiveness 0,476-0,638. Nilai TVB-N rajungan (segar dan rebus) dan daging rajungan antara 9,51±1,67-54,68±0,00 mg N/100 g sampel. Daging rajungan tidak ditemukan Salmonella (negatif), Escherichia coli < 0,3 APM/100 g sampel, dan ALT 6,15×108 CFU/g sampel. Cemaran logam berat daging rajungan, yaitu Pb 0,12±0,09 mg/kg sampel, Cd 0,15±0,12 mg/kg sampel, dan Hg 1,48±0,71 mg/kg sampel. Rajungan hasil tangkapan di Kabupaten Rembang memiliki kualitas yang baik. Logam berat Hg yang ditemukan pada daging rajungan kupas di miniplants berada di atas ambang batas yang diizinkan, masih harus memerlukan pengujian lebih lanjut.Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a fishery commodity that is the mainstay of Indonesian exports. Generally, exporters export crab as frozen, peeled, boiled meat, which is perishable. Considering the high potential of crab catching and the utilization of crab meat as an export commodity, it is necessary to research to determine the physicochemical and microbiological quality of crab caught in Rembang Regency, Central Java. The samples used were frozen fresh crab, frozen boiled, and peeled boiled meat by fishing households and miniplants. The analyses performed were yield, protein content, amino acid profile, TVB-N, microbial contamination, and heavy metals. The results showed a yield of 28.36-42.34%, protein content of 17.98±0.64 and 21.24±1.47% (b/w), total lysine 1.79-1.87%, glutamic acid 4.05-4.78% (b/w), hardness 22.145-38.096 N, and cohesiveness 0.476-0.638. TVB-N values of crab (fresh and boiled) and crab meat ranged from 9.51±1.67 to 54.68±0.00 mg N/100 g sample. There was no Salmonella (negative), Escherichia coli <0.3 APM/100 g sample, and ALT 6.15×108 CFU/g sample. Heavy metal contamination of crab meat was Pb 0.12±0.09 mg/kg sample, Cd 0.15±0.12 mg/kg sample, and Hg 1.48±0.71 mg/kg sample. Captured blue swimming crab in Rembang Regency has good quality. The heavy metal Hg found in peeled crab meat in miniplants was above the permissible threshold, requiring further testing
Fermentasi daun mangrove Rhizophora mucronata sebagai teh herbal : Fermentation of mangrove leaves (Rhizophora mucronata) as herbal tea
Rhizophora mucronata merupakan jenis mangrove yang banyak ditemukan di Indonesia. Daun tanaman ini mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu tanin, karotenoid, fenol, klorofil, dan alkaloid, yang berpotensi digunakan sebagai bahan teh herbal fermentasi. Senyawa tanin aman dikonsumsi dan memiliki berbagai fungsi, yaitu antioksidan, antibakteri, antikanker serta antialergi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lama waktu fermentasi daun mangrove terbaik sebagai bahan baku teh herbal dengan starter BAL Lactobacilus plantarum SK (5). Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dengan perlakuan lama fermentasi (0, 1, 2, 3, dan 4 hari) dan tiga kali ulangan. Karakteristik bahan baku dilakukan dengan uji logam berat, kadar air, abu, dan fitokimia. Penelitian pembuatan teh herbal, yaitu pencampuran daun mangrove (20 g) dan akuades (60 mL) serta ditambah starter (10% (v/b)) kemudian difermentasi selama empat hari pada suhu 37°C. Analisis meliputi pengukuran pH, total asam titrat (TAT), total bakteri, dan total BAL. Kandungan logam berat, kadar air, dan abu daun mangrove memenuhi persyaratan SNI. Senyawa golongan flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan steroid terdeteksi pada daun mangrove R mucronata bahan baku dan produk fermentasi. Waktu fermentasi terbaik diperoleh pada hari ke-2 dengan nilai pH 4,9, TAT 2,4%, dan total BAL (1,7 log CFU/mL). Perlakuan lama fermentasi daun mangrove menunjukkan perubahan pada nilai pH, TAT, total bakteri dan total BAL selama proses fermentasi. Nilai pH, TAT, total bakteri dan total BAL selama proses fermentasi menunjukkan daun mangrove berpotensi sebagai teh herbal fermentasi.Rhizophora mucronata is a type of mangrove commonly found in Indonesia. The leaves of this plant contain various secondary metabolites, such as tannins, carotenoids, phenols, chlorophyll, and alkaloids, which have the potential to be used as ingredients in fermented herbal tea. Tannin compounds are safe for consumption and have various functions, including antioxidant, antibacterial, anticancer, and anti-allergic properties. This study aims to determine the optimal fermentation time for mangrove leaves as a raw material for herbal tea using the BAL Lactobacillus plantarum SK (5) starter. A completely randomized design (CRD) was used with fermentation duration treatments (0, 1, 2, 3, and 4 days) and three replications. The characteristics of the raw materials were tested for heavy metals, moisture content, ash, and phytochemicals. The research on herbal tea production involved mixing mangrove leaves (20 g) and aquades (60 mL), adding a starter (10% (v/b)), and then fermenting for four days at a temperature of 37°C. Analysis includes the measurement of pH, total titratable acidity (TTA), total bacteria, and total lactic acid bacteria (LAB). The heavy metal content, moisture content, and ash of the mangrove leaves meet SNI requirements. Flavonoid, phenol, saponin, tannin, and steroid compounds were detected in the raw material and fermentation product of R. mucronata mangrove leaves. The best fermentation time was obtained on the second day with a pH value of 4.9, TAT of 2.4%, and total BAL (1.7 log CFU/mL). The treatment duration of mangrove leaf fermentation showed changes in pH, TAT, total bacteria, and total BAL values during the fermentation process. The pH value, TAT, total bacteria, and total BAL during the fermentation process indicate that mangrove leaves have the potential to be used as fermented herbal tea