Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jenis Pelarut dan Ultrasonikasi terhadap Ekstrak Fikoeritrin dari Kappaphycus alvarezii : The Effect of Different Solvent Type on Phycoerithryn Extract from Kappaphycus alvarezii
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyta) yang mengandung pigmen fikobiliprotein. Rumput laut merah didominasi oleh fikobiliprotein berjenis fikoeritrin. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh jenis pelarut dan waktu akselerasi ekstraksi ultrasonikasi terhadap pigmen fikoeritrin. Proses ekstraksi dilakukan secara bertahap menggunakan pelarut akuades, CaCl2 dan buffer fosfat dengan akselerasi ultrasonikasi 35-55 menit. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak pigmen fikoeritrin K. alvarezii menggunakan akuades menghasilkan warna pigmen lebih pekat dibanding buffer fosfat dan CaCl2, menunjukkan konsentrasi tertinggi sebesar 0,057 mg/mL, dan indeks kemurnian sebesar 0,189. Pelarut air aman digunakan karena air tidak memiliki daya toksik. Maka, tidak perlu dilakukan uji pendahuluan toksisitas pelarut. Lebih ekonomis dibandingkan dengan jenis pelarut lainnya. Ekstraksi pigmen fikoeritrin menggunakan pelarut akuades selama 45 menit menghasilkan warna pigmen lebih pekat. Konsentrasi pigmen fikoeritrin sebelum dan sesudah presipitasi berturut-turut sebesar 0,170 mg/mL dan 0,421 mg/mL. Indeks kemurnian pigmen fikoeritrin sebelum dan sesudah presipitasi berturut-turut sebesar 0,301 dan 0,831. Aktivitas antioksidan (% Inhibisi) terbaik ada pada konsentrasi pigmen fikoeritrin 50 ppm dan 80 ppm dengan lama waktu ekstraksi 45 menit berturut-turut sebesar 62% dan 89%. Profil protein dengan SDS-Page menunjukkan fikoeritrin memiliki bobot molekul 16,27 kDa pada subunit α, 17,79 kDa pada subunit β, dan 30,60 kDa pada subunit γ. Kappaphycus alvarezii is a type of red seaweed (Rhodophyta) which contains phycobiliprotein pigments. Red seaweed is dominated by phycoerythrin type phycobiliprotein. Phycoerythrin can be obtained from the extraction process. The purpose of this study was to determine the effect of solvent type and acceleration time of ultrasonication extraction on phycoerythrin pigments. The extraction process was carried out in stages using distilled water, CaCl2 and phosphate buffer with ultrasonication acceleration of 35-55 minutes. The results showed that the phycoerythrin pigment extract of K. alvarezii using distilled water produced a more concentrated pigment color than buffer phosphate and CaCl2, showing the highest concentration of 0.057 mg/mL, and a purity index of 0.189. Water solvent is safe to use because water does not have toxic power. So, there is no need to conduct a preliminary test for solvent toxicity. It is more economical than other types of solvents. The extraction of phycoerythrin pigment using distilled water for 45 minutes resulted in a more concentrated pigment color. The concentration of phycoerythrin pigment before and after precipitation was 0.170 mg/mL and 0.421 mg/mL, respectively. The phycoerythrin pigment purity index before and after precipitation was 0.301 and 0.831, respectively. The best antioxidant activity (% inhibition) was found at concentrations of 50 ppm and 80 ppm phycoerythrin pigment with extraction time of 45 minutes at 62% and 89% respectively. Protein profile using SDS-Page showed that phycoerythrin has a molecular weight of 16.27 kDa in the subunit, 17.79 kDa in the subunit β, and 30.60 kDa in the subunit γ
Aktivitas Antioksidan Caulerpa sp. Segar dan Rebus : Antioxidant Activity of Fresh and Boiled Caulerpa sp.
Radikal bebas merupakan suatu molekul yang sangat reaktif dan tidak stabil, dapat mengakibatkan kerusakan protein, Deoxyribose Nucleic Acid (DNA), dan membran sel, serta dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat dicegah dengan senyawa antioksidan alami maupun sintetik. Caulerpa sp. merupakan rumput laut hijau yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Caulerpa sp. umum diolah menjadi urap rumput laut dalam keadaan segar dan rebus. Proses perebusan dikhawatirkan dapat mengubah aktivitas antioksidannya, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai aktivitas antioksidan pada Caulerpa sp. segar dan rebus. Metode ekstraksi yang digunakan adalah ekstraksi tunggal menggunakan pelarut metanol selama 1×24 jam. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Caulerpa sp. segar dan rebus memiliki rendemen ekstrak yaitu 8,88% dan 6,44%. Nilai IC50 Caulerpa sp. segar yaitu 452,37±8,29 mg/L dan rebus yaitu 484,59±5,69 mg/L. Kategori nilai IC50 ini tergolong sangat lemah berdasarkan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH), sehingga perlu dilakukan uji aktivitas antioksidan dengan metode lainnya dan pemurnian ekstrak kasar Caulerpa sp..Free radical is a molecule that is highly reactive and unstable, can cause damage to proteins, Deoxyribose Nucleic Acid (DNA), and cell membranes, and can trigger a degenerative diseases. The damages can be prevented by natural or synthetic antioxidant compounds. Caulerpa sp. a green seaweed as a potential source of natural antioxidants. Caulerpa sp. commonly processed into “urap” seaweed in fresh and boiled condition. The boiling process may change the antioxidant activity, so it is necessary to research on the antioxidant activity in Caulerpa sp. fresh and boiled. Extraction method used was a single extraction using methanol p.a for 1×24 hours. Testing of antioxidant activity using DPPH method. Caulerpa sp. fresh and boiled extract has a yield of 8.88% and 6.44%. IC50 values Caulerpa sp. fresh amounted to 452.37±8.29 mg/L and boiled amounted to 484.59±5.69 mg/L. IC50 value category is classified as very weak by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method, so it needs to do another antioxidant activity assay methods and purification of crude extract of Caulerpa sp.
Profil Asam Lemak Tuna (Thunnus albacares) Loin dengan Penyemprotan Filtered Smoke selama Penyimpanan Beku : The profile of fatty acid of Tuna Loin (Thunnus albacores) sprayed by Filtered Smoke during frozen storage
Warna merah merupakan salah satu faktor penentu kualitas ikan tuna loin. Setelah dipotong dan disimpan ikan tuna akan mengalami perubahan warna, sehingga untuk mempertahankan warna merah pada daging ikan tuna digunakan filtered smoke. Filtered smoke juga dapat mengurangi oksidasi lemak dan mempertahankan kualitas asam lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komposisi asam lemak tuna loin (Thunnus albacares) yang diperlakukan dengan penyemprotan filtered smoke selama penyimpanan. Penelitian menggunakan metode eksperimen, ikan tuna loin disemprot dengan gas filtered smoke kemudian disimpan beku (-25 ºC) selama empat minggu. Pengamatan berlangsung pada minggu ke-0 dan minggu ke-4 . Variabel mutu yang diuji adalah profil asam lemak, indeks atherogenic (AI), indeks thrombogenic (TI), kualitas lemak (h/H) dan indeks poliena. Hasil analisis diperoleh asam lemak sebanyak 29 jenis terdiri dari asam lemak jenuh (SFA) 13, asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) 6 dan asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) 13. SAFA tertinggi adalah asam palmitat (C16:0), sebesar 8,93% dan 15,14%, MUFA tertinggi adalah asam oleat (C18:1n9c) sebesar 3,73% dan 5,01% dan PUFA tertinggi adalah asam dokosaheksaenoat (C22:6n3) sebesar 6,77% dan 5,73%, masing-masing untuk minggu ke 0 dan minggu ke 4. Kualitas lemak ikan tuna masih tergolong baik setelah disimpan selama empat minggu, dengan nilai AI 0,83, nilai TI 0,69, nilai h/H 1,72 dan nilai indeks polien 1,31.The red color is one of the factors that determining freshness of tuna loin. To keep the red color of the tuna flesh, it has been treated by filtered smoke. Filtered smoke reduces the oxidative of fat as well as keep the fat quality. The objective of this research was to study the fatty acid composition of tuna (Thunnus albacores) loin treated by filtered smoke. The research method was conducted experimentally. Tuna loin firstly sprayed by filtered smoke at a pressure 1 atm for 5 – 10 seconds before storage at freezing temperature -25 ˚C for four weeks. Observations were 0 and 4 weeks and the parameters observed were the fatty acid profiles, atherogenic index (AI), thrombogenic index (TI), fat quality (h / H) and the index of polien. The result showed there were 29 types of fatty acids consisting of 13 types of saturated fatty acids (SFA), 6 types of monounsaturated fatty acids (MUFA) and 11 types of poly unsaturated fatty acids (PUFA). There were indentified as the highest SAFA, MUFA, PUFA for storage time 0 and 4 weeks were palmitic acid (C16: 0) 8.93%; 15.14%, oleic acid (C18: 1n9c) 3.73%; 5.01% and docosahexaenoic acid, (C22: 6n3) 6.77% ; 5.73% respectively. It indicated that the fatty acid of tuna loin were categorized good, where it was indicated by the AI, TI, h/H and polien index for storage time 0 and 4 weeks 1.11; 0.83, 0.50; 0.69, 1.49; 1.72, and 1.49 ; 1.31 respectively
Perubahan Kandungan Gizi Ikan Nike Pascapengolahan: Nutritional Content of Post Processing Largesnout Goby Juvenile
Ikan nike (Awaous melanocephalus) adalah salah satu sumber daya perikanan di perairan Sulawesi Tengah. Ikan ini juga memiliki kandungan gizi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perubahan karakteristik proksimat dan kandungan protein serta mineral ikan nike pascaproses pengolahan panas, yang meliputi pengukusan, perebusan, dan perebusan dengan air garam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan yang dilakukan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (α<0,05) pada komposisi proksimat, mineral, dan protein terlarut. Berdasarkan perlakuan pengolahan yang diberikan disimpulkan bahwa metode pengukusan merupakan metode pengolahan terpilih dalam penelitian ini.Largesnout goby juvenile/Nike fish (Awaous melanocephalus) is a fishery resource in Central Sulawesi waters containing high nutritional content. The purpose of this study was to determine the changes in the proximate characteristics, protein and mineral content of fish after heat processing, which included steaming, boiling, and boiling with saltwater. The results showed that the processing had a significant effects (α<0.05) on the proximate, mineral, and dissolved protein composition. Based on the processing treatment given, it was concluded that the steaming method was the chosen processing method in this study
Karakteristik dan Profil Asam Lemak Kombinasi Minyak Ikan Patin dan Minyak Hati Ikan Hiu: Characteristics and Fatty Acid Profile of Catfish and Shark Liver Oil Mixture
Minyak ikan patin mengandung kadar asam lemak omega-9, tetapi rendah asam lemak omega 3 Minyak hati ikan hiu memiliki kandungan asam lemak omega 3 relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dan sifat kimia minyak ikan patin dan profil asam lemak kombinasi minyak ikan patin dengan hati kan hiu. Metode penelitian eksperimen dengan melakukan ekstraksi lemak perut ikan patin secara dry rendering dihasilkan minyak kasar dan dimurnikan. Minyak ikan patin murni dilakukan pencampuran dengan minyak hati ikan hiu. dengan perbandingan 1:1, 2:1 dan 2:1. Parameter analisis terdiri atas karakteristik kimia (bilangan asam lemak bebas (ALB),bilangan asam, peroksida, iod, p-anisidin, penyabunan, total oksida/totox), dan profil asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi minyak patin dan hati ikan hiu dihasilkan karakteristik kimia terdiri atas asam lemak bebas sebesar 1,59-2,19%, bilangan asam 2,86-3,00 mg KOH/g, peroksida 15,50-18,32 meq/kg, iod 63,46-84,42 gI2/100g), p-anisidin 21,53-24,16, penyabunan 142,21-162,28 mg KOH/g dan TOTOX 53,33-69,43. Hasil analisis komposisi asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SAFA) dihasilkan asam palmitat tertinggi, asam lemak tak jenuh tunggal (mono unsaturated fatty acid/MUFA) asam oleat, dan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA) asam linoleat. Hasil analisis karakteristik kimia kombinasi minyak ikan patin dan hati ikan hiu sesuai dengan standar IFOMA. Kombinasi minyak hati ikan hiu dan ikan patin dengan perbandingan (2:1) dihasilkan kandungan omega 3 dan omega 6 sebesar 2,59 % dan 29,75%.Catfish oil is rich in omega-9 fatty acids but low in omega-3 fatty acids. Meanwhile, shark liver oil has a relatively high omega 3 fatty acids content. This study was aimed to determine the characteristics and chemical properties of catfish oil and the fatty acid profile of the catfish oil and shark liver mixture. TBbelly fat of catfish was extracted by dry rendering resulting crude and purified oil. The refined catfish oil ismixed with shark liver oil with a ratio of 1: 1, 2: 1 and 2: 1. The analysis parameters consisted of chemical characteristics (free fatty acid, acid value, peroxide, iodine, p-anisidine, saponification, total oxidation/TOTOX), and fatty acid profile. The results showed that the combination of catfish oil and shark liver produced free fatty acids ranging from 1.59-2.19%, acid number 2.86-3.00 mg KOH/g peroxide value15.50-18.32 meq/kg, iodine number 63.46- 84.42 gI2/100g), p-anisidin value 21.53-24.16, saponification 142.21-162,28 mg KOH/g, and TOTOX 53.33-69.43. Palmitic acid, oleic acid, and linoleic acid were the most dominant saturated, monounsaturated and polyunsaturated fatty acid, respectively. The chemical properties meet the IFOMA\u27s standards. The combination of shark liver oil and catfish with a ratio (2:1) resulted in the highest content of omega-3 (0.65%) and omega-6 (29.75%)
Aktivitas Antioksidan dan Total Fenolik Rumput Laut Gracilaria sp. Kabupaten Brebes: Antioxidant Activity and Total Phenolic Of Seaweed Gracilaria sp. from Brebes
Kabupaten Brebes merupakan salah satu wilayah penghasil rumput laut di provinsi Jawa Tengah dengan luas tambak rumput laut sebanyak 4.350 ha dari total luas tambak sebesar 12.748 ha yang menghasilkan 200 ton rumput laut kering per bulan. Rumput laut dapat digunakan sebagai sumber antioksidan karena mengandung senyawa bioaktif terutama untuk golongan senyawa fenolik, flavonoid dan alkaloid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji aktivitas antioksidan dan total fenolik bubuk rumput laut Gracilaria sp. kabupaten Brebes. Parameter yang diamati yaitu kapasitas penangkapan radikal bebas menggunakan metode radical scavenging activity (RSA) DPPH dan total fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua perlakuan (bubuk rumput laut dari bahan baku segar dan kering) dan dilakukan tiga kali pengulangan. Bubuk rumput laut Gracilaria sp. Kabupaten Brebes dari bahan baku segar memiliki kandungan total fenol dan kapasitas penangkapan radikal bebas yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan baku kering. Kandungan total fenol bubuk rumput laut Gracilaria sp. kabupaten Brebes sekitar 4,35–4,49 (mg GAE/100 g) dan aktivitas antioksidannya sekitar 15,90–42,50 (%RSA). Terdapat perbedaan kapasitas penangkapan radikal bebas menggunakan bahan baku rumput laut basah dan kering.Brebes regency is one of the seaweed producing areas in Central Java province with an area of seaweed ponds as much as 4,350 ha of the total pond area of 12,748 ha that produces 200 tons of dried seaweed per month. Seaweed can be used as a source of antioxidants because it contains bioactive compounds especially for phenolic compounds, flavonoids and alkaloids. The purpose of this study is to examine the antioxidant activity and total phenolic powder of seaweed Gracilaria sp. from Brebes. The observed parameters are free radical capture capacity using DPPH radical scavenging activity (RSA) method and total phenolic using Folin-Ciocalteu method. This study used a Complete RandomIzed Design (RAL) consisting of 2 treatments (seaweed powder from fresh and dry raw materials) and conducted 3 repetitions. Gracilaria sp. Seaweed powder from fresh raw materials has a total phenol content and a higher free radical catching capacity compared to dry raw materials. The total content of seaweed powder phenol Gracilaria sp. from Brebes district is about 4.35–4.49 (mg GAE/100 g) and its antioxidant activity is about 15.90–42.50 (%RSA). There are differences in the capture capacity of free radicals using wet and dry seaweed raw materials
Karakteristik Fisik dan Sensori Minuman Sari Buah Pedada : Physical and Sensory Characteristics of Pedada Juice
Pedada (Sonneratia caseolaris) merupakan buah tanaman mangrove yang banyak terdapat di Tanjung Jabung Barat, Jambi. Kandungan gizi dalam 100 g pedada terdiri dari 9,21% protein, 4,81% lemak, 77,57% karbohidrat dan 56,74 mg vitamin C. Potensi gizi tersebut dapat dimanfaatkan melalui upaya diversifikasi pangan menjadi produk sari buah. Mengetahui karakteristik fisik dan sensori dari sari buah pedada merupakan tujuan dari penelitian ini. Pengaruh penambahan proporsi pedada dan gula yang dipelajari yaitu P1 (pedada 150 g : gula 0%), P2 (pedada 150 g : gula 60%), P3 (pedada 150 g : gula 70%), P4 (pedada 200 g : gula 0%), P5 (pedada 200 g : gula 60%) dan P6 (pedada 200 g : gula 70%). Data diuji statistik menggunakan analisis ragam two way anova. Hasil penelitian sari buah pedada dengan komposisi 200 g pedada dan penambahan gula 70% memiliki karakteristik terbaik. Karakteristik fisik sari buah pedada terbaik yaitu memiliki nilai pH 3,20 (asam), viskositas 2,88 cp, dan nilai L* 47,19 (mendekati cerah). Karakteristik sensori sari buah pedada terbaik yaitu warna dan aroma agak disukai, rasa manis asam, tekstur cair, penerimaan secara keseluruhan disukai. Penggunaan 200 g pedada dengan 70% gula dapat diaplikasikan dalam pembuatan sari buah pedada selanjutnya, namun diperlukan modifikasi untuk meningkatkan penilaian warna dan aroma yang lebih baik.Sonneratia caseolaris or known as Firefly Mangrove, or Mangrove Apple is an evergreen, tropical, commonly in Tanjung Jabung Barat, Jambi Province. The nutritional content in 100 g of pedada consists of 9.21% protein, 4.81% fat, 77.57% carbohydrates and 56.74 mg of vitamin C. The nutritional potential can be exploited through efforts to diversify food into fruit juice drinks. Knowing the characteristics of physical and sensory from pedada juice was the aim of this study. The effect of adding the proportion of pedada and sugar was P1 (pedada 150 g: 0% sugar), P2 (pedada 150 g: sugar 60%), P3 (pedada 150 g: 70% sugar), P4 (200 g of pedada: 0% sugar), P5 (200 g of pedada: 60% sugar) and P6 (200 g of pedada: 70% sugar). Data were statistically tested using two way ANOVA analysis. The results of the study of pedada juice with the composition of 200 g of pedada and the addition of 70% sugar had the best characteristics. The best physical characteristics of pedada fruit juice have a pH value of 3.20 (acid), viscosity 2.88 cp, and an L * 47.19 value (close to bright). The best sensory characteristics of pedada juice are the preferred color and odor, sweet and sour taste, liquid texture, overall acceptance is preferred. The use of 200 g of Pedada with 70% sugar can be applied in making the next pedada juice, but modification is needed to improve the color and odor
Komponen Bioaktif dan Aktivitas Antioksidan Kerang Balelo (Conomurex sp.) : Bioactive Compound and Antioxidant Activity of Balelo Sea Snail (Conomurex sp.)
Moluska memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam bidang pharmaceutical dan nutraceutical yaitu sebagai sumber antioksidan baru. Penelitian ini bertujuan mengkaji senyawa yang aktif dan aktivitas antioksidan pada daging kerang balelo (Conomurex sp.) berasal dari perairan Derawan, Kalimantan Timur. Ekstraksi kerang balelo dilakukan dengan tiga jenis pelarut yaitu metanol, etanol, dan etil asetat. Metode analisis yang dilakukan meliputi analisis rendemen, komposisi kimia, senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Kerang balelo memiliki kadar protein 27,30%, kadar air 56,29% kadar abu 2,00%, kadar lemak 10,30%, dan kadar karbohidrat sebesar 4,11%. Rendemen daging kerang balelo yaitu 34,7%, sedangkan rendemen ekstrak metanol, etanol dan etil asetat yaitu 15,33 %, 15,16 % dan 0,89%. Kerang balelo mengandung senyawa bioaktif alkaloid, tanin, saponin, fenol hidrokuinon dan steroid yang berfungsi sebagai antioksidan dengan nilai IC50 1.055, 8 µg/mL pada ekstrak metanol, 1.165,9 µg/mL ekstrak etanol dan ektrak etil asetat 1.220,53 µg/mL.Kerang balelo berpotensi sebagai antioksidan dan memiliki senyawa bioaktif yang dapat dikembangkan dalam bidang pharmaceutical dan nutraceutical.Molluscs have great potential to developed as a new candidate of antioxidant activity in the pharmaceutical and nutraceutical field. This study aims to investigate the bioactive compound and antioxidant activity of balelo sea snail (Conomurex sp.) from Derawan island, East Kalimantan. Extraction of balelo sea snail was carried out using three types of solvents, such as methanol, ethanol, and ethyl acetate. The analysis method consist of yield analysis, chemical composition, bioactive compounds and antioxidant activity using DPPH. Balelo sea snail had 27.30% of protein content, 2.00% of ash, 10.30% of lipid, and 4.11% of carbohydrate. The yield of balelo sea snail meat was 34.7%, and the yield of methanol, ethanol and ethyl acetate extract were 15.33%, 15.16% and 0.89%, respectively. Balelo sea snail contain alkaloid, tannins, saponins, phenol hydroquinone and steroids. And antioxidants activity of extract methanol and ethanol balelo sea snail (IC50) were 1.055, 8 µg/mL and 1,165.9 µg/mL respectively. Balelo sea snail potential as an antioxidant and has bioactive compound that can be develop in the pharmaceutical and nutraceutical field
Uji Toksisitas Ekstrak Cacing Tambelo (Bactronophorus thoracites) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test : Toxicity Test of Wood-boring Shipworm (Bactronophorus thoracites) using Brine Shrimp Lethality Test
Cacing tambelo merupakan moluska yang menetap pada batang Rhizophora sp yang sudah mati. Studi ini bertujuan untuk menentukan tingkat toksisitas dari ekstrak cacing tambelo dengan metode brine shrimp letahlity test (BSLT). Cacing tambelo diambil dari hutan mangrove di Desa Moolo, Kecamatan Batukara, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Ekstrak cacing tambelo dipreparasi memakai larutan metanol. Uji toksisitas BSLT pada penelitian ini terdiri atas dua tahap, uji preliminary dan uji definitif. Uji preliminary bertujuan untuk menentukan kisaran lethal concentration (LC50), nilai kisaran konsentrasi tersebut akan digunakan pada uji selanjutnya (uji definitif). Uji preliminary menggunakan konsentrasi ekstrak tambelo sebesar 10, 100, 1.000 μg/mL dan 0 sebagai kontrol. Uji definitif menggunakan 4 konsentrasi (masing-masing 3 ulangan) yaitu:17,78; 31,61; 56,21; 99,94 μg/mL dan 0 sebagai kontrol. Data yang diperoleh dari uji definitif selanjutnya dianalisis dengan probit. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa nilai LC50-24jam dari ekstrak tambelo ialah 42,43 μg/mL. Nilai LC50 tersebut mengindikasikan bahwa ekstrak cacing tambelo bersifat sangat toksik terhadap larva udang.Shipworm, local name tambelo, is an organism that live on dead Rhizophora sp timbres. The objective of this research was to determine the toxicity of shipworm extract using brine shrimp lethality test. Shipworm were collected from mangrove forests of Moolo Village, Batukara Subdistrict, Muna District, in Southeast Sulawesi. Extract of shipworm was prepared using methanol solvent. Toxicity test by brine shrimp lethality test was done through two stages of testing, preliminary and definitive test. Preliminary test was aimed to determine the range of lethal concentration (LC50), this range was used in the next definitive test. The preliminary test used a concentration of 10, 100, 1,000; and 0 μg.ml-1 as control. The definitive test used 4 concentrations in triplicates, 17,78, 31,61, 56,21, 99,94, and 0 μg.ml-1 as control. Data obtained from definitive test were subjected to probic analysis. The analysis showed that LC50-24hours of tambelo extract was equal to 42,431 μg.ml-1. LC50 value indicated that the toxicity of shipworm was very toxic to brine shrimp
Karakteristik dan Aktivitas Antioksidan Rumput Laut Gracilaria sp. Asal Banten: Characteristics and Antioxidant Activities of Gracilaria sp. Seaweed from Banten
Rumput laut Gracilaria sp. sering dimanfaatkan sebagai sumber agar-agar komersial. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dari Gracilaria sp. sebagai bahan baku pangan fungsional. Metode ekstraksi pada penelitian ini yaitu maserasi tunggal menggunakan berbagai pelarut seperti: etanol, etil asetat, dan n-heksan, dengan perbandingan Gracilaria sp. dan pelarut yaitu 1:6. Parameter analisis terdiri atas proksimat, logam berat, rendemen, fitokimia, penentuan total fenol dan total flavonoid menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis, serta aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan kadar air 83,28% (bb), protein 9,36%, lemak 0,60%, abu 24,83% dan karbohidrat 11,05% (bk). Kadar logam berat Hg, Pb, Cd di bawah ambang batas dan tidak ditemukan logam berat As sesuai dengan SNI 2690:2015. Pengujian komponen bioaktif ekstrak etanol Gracilaria sp. secara kualitatif didapatkan alkaloid, fenol, saponin, flavonoid, triterpenoid. Kadar total flavonoid dan total fenol berturut-turut sebesar 21,78±0,32 mg QE/g dan 124±2,13 mg GAE/g. Perbedaan pelarut dalam ekstraksi berpengaruh nyata (α=0,05) terhadap aktivitas antioksidan, dengan aktivitas tertinggi adalah ekstrak etanol dengan nilai IC50 sebesar 22,15±1,63 μg/mL (sangat kuat). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Gracilaria sp. aman dan dapat digunakan sebagai bahan baku pangan fungsional.The Gracilaria sp. seaweed is often used as a source of commercial agar, however in recent years the price of this seaweed has dropped dramatically. Red seaweed has many health benefits. This study was aimed to determine proximate contains, heavy metal, total phenol and total flavonoid, and antioxidant activity of the seaweed Gracilaria sp. Extraction using the maceration method with ethanol, ethyl acetate, and n-hexane solvents with a ratio of 1:6 had a significant effect (α=0.05) on the antioxidant activity.The highest antioxidant activity was observed fromthe ethanolic extract with IC50 =22.15±1.63 μg/mL (very strong). Qualitative testing of the bioactive components of the ethanol extract of Gracilaria sp. found alkaloids, phenols, saponins, flavonoids, triterpenoids. Tests for total flavonoids and total phenols were carried out using a UV-Vis spectrophotometer obtaining 21.78±0.32 mg QE/g and 124±2.13 mg GAE/g respectively