Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Peningkatan Mutu Ikan Keumamah Loin Aceh dari Cakalang (Katsuwonus pelamis) menggunakan Daun Kari (Murraya koenigii): Quality Improvement of Keumamah Loin Aceh Fish from Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) using Curry Tree Leaves (Murraya koenigii)
Keumamah loin merupakan ikan kayu semi basah dengan pengeringan sinar matahari satu sampai dua hari, memiliki karakteristik tekstur daging yang agak lunak, aroma spesifik dan mudah mengalami kemunduran mutu. Daun kari (Murraya koenigii) banyak mengandung senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh ekstrak daun kari, suhu, dan waktu pengeringan terhadap mutu keumamah loin dan efektivitas daun kari sebagai antioksidan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan taraf perlakuan ekstrak daun kari (0% dan 10%), suhu (40°С dan 60°С) dan waktu pengeringan (8 jam dan 12 jam). Parameter yang diamati kadar proksimat, nilai aktivitas air (aw) dan bilangan thiobarbituric acid (TBA). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan daun kari, suhu, dan waktu pengeringan tidak berpengaruh terhadap kadar proksimat dan aktivitas air. Kadar protein diperoleh sebesar 28,22–32,1%, kadar lemak 2,72–4,60%, kadar abu 2,70–4,52%, kadar air 35,10–50,43% dan aktivitas air 0,84–0,87. Namun penggunaan daun kari berpengaruh terhadap bilangan TBA. Penggunaan daun kari 10%, suhu 40°С dan waktu 8 jam merupakan perlakuan terbaik karena memiliki bilangan TBA paling rendah yaitu sebesar 0,40±0,003 mg malonialdehida/kg. Penggunaan daun kari, suhu, dan waktu pengeringan dapat menghambat terjadinya proses oksidasi lipid pada produk keumamah loin.Keumamah loin is a semi-wet wood fish with one to two days of sun drying, with soft meat texture, specific aroma and easily degradation in quality. Curry tree (Murraya koenigii) contain many bioactive compounds that serve as antioxidants. The Study was aimed to find out the effect of curry leaf extract, temperature, and drying time on the quality of keumamah loin and the effectiveness of curry tree as antioxidant. The study used complete randomized factorial design experimental method with different curry tree leaf extract levels (0% and 10%), temperature (40°С and 60°С), and time (8 hours and 12 hours). The observed parameters were proximate levels, water activity values (aw), and thiobarbituric acid (TBA). The results showed the use of curry tree leaves, temperature, and drying time did not have effect on proximate levels and water activity with protein 28.22–32.1%, fat 2.72–4.60%, ash 2.70– 4.52%, water 35.10–50.43% and water activity 0.84–0.87. However, the use of curry tree leaves affects the number of thiobarbituric acid (TBA). The use of 10% curry tree leaves, 40°С temperature, and 8 hours is the best treatment which has the lowest TBA 0.40±0.003 mg malondialdehyde/kg. The use of curry tree leaves, temperature, and drying time can inhibit the lipids oxidation process in the products of keumamah loin
Kualitas Gel Pengharum Ruangan Berbahan Dasar Karagenan dan Tepung Sagu dengan Pewangi Jeruk Purut: Quality of Gel Fragrance Made of Carrageenan and Sago Flour Scented by Kaffir Lime
Setiap orang memerlukan suasana ruangan yang nyaman untuk melakukan aktifitas. Untuk tujuan tersebut, maka digunakan pengharum ruangan. Pengharum ruangan yang baik untuk kesehatan adalah pengharum ruangan dengan bahan-bahan alami. Saat ini, pengharum ruangan berbentuk gel sedang banyak dikembangkan karena memiliki beberapa kelebihan seperti tidak tumpah, lebih lama mengikat wangi, mudah dalam pemakaian, bersifat elastis, dan bisa dikreasikan bentuknya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat gel pengharum ruangan dengan kombinasi karaginan dan pati sagu sebagai bahan pembentuk gel dan menggunakan pewangi minyak jeruk purut. Metode penelitian adalah perbandingan tepung karaginan dan tepung sagu 3:1 dan konsentrasi minyak jeruk purut 0,5 % , 1 %, dan 1,5 %. Hasil penelitian menunjukkan pengharum ruangan dengan kombinasi karaginan dan pati sagu sebagai bahan pembentuk gel dan minyak jeruk purut sebagai pewangi dengan konsentrasi 1,5%, dan 1% menghasilkan nilai sineresis yang sama atau yang terkecil dan selanjutnya konsentrasi 1,5% memiliki total penguapan zat cair kecil, bobot gel (berat gel sisa) besar, retensi besar dan release kecil, dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya dengan demikian konsentrasi 1,5% menjadi konsentrasi terbaik yang digunakan.Everyone needs a comfortable room atmosphere for carrying out activities. For this purpose, air freshener is used. An air freshener that is good for health is an air freshener with natural ingredients. Currently, air freshener in the form of gel is being manufactured for some reason were not spilling, the fragrance is longer binding, easy to use, elastic, and the design easily created. This study aims to make the gel air freshener with a combination of carrageenan and sago starch as a gelling agent and using kaffir lime oil as a fragrance. The research method was the application of a ratio of carrageenan powder and sago powder by 3: 1 and kaffir lime oil concentrations of 0.5%, 1%, and 1.5%. Gelling air freshener with a combination of carrageenan and sago starch as a gelling agent and kaffir lime oil as a fragrance with a concentration of 1.5%, and 1% resulted in the same or the smallest syneresis value and then a concentration of 1.5% had a total evaporation of the liquid in a small number, residual gel weight in a large number, the retention in a large number, and its release in a small number, compared to other treatments, hence, a room freshener by concentration of 1.5% was the best treatment
Efektivitas Ekstrak Gracilaria sp. dalam Menghambat Pertumbuhan Mikroba Ikan Layang dan Tuna pada Penyimpanan Suhu Ruang: Effectiveness of Gracilaria sp. Against Total Microbes Flying Fish and Tuna In Room Temperature Storage
Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung berbagai macam senyawa bioaktif dan cepat busuk pada penyimpanan suhu ruang yang ditandai dengan adanya pertumbuhan mikroba yang disebut TPC. Upaya eksternal untuk memperpanjang umur simpan, dilakukan penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak Gracilaria sp. terhadap total mikroba ikan layang dan tuna pada penyimpanan suhu ruang selama 8, 12, 24, 36, 48 dan 72 jam. Metode penelitian yaitu deskriptif kualitatif menggunakan ekstrakdan uji aktivitas air berdasarkan kelemban uap parsial dalam bahan (ikan) terhadap tekanan uap murni. Efektivitas ekstrak Gracilaria sp. 3% terbaik pada penyimpanan ikan di jam ke- 36 dengan besaran angka total mikroba yang tumbuh sebesar 2,35 log Cfu/g pada ikan layang dan sebesar 2,35 log Cfu/g pada ikan tuna. Keefektivan ekstrak Gracilaria sp.3% mempunyai potensi untuk menghambat pertumbuhan total bakteri ikan. Simpangan baku ikan layang segar sebesar 0,39 dan dengan ekstrak sebesar 0,52. Simpangan baku ikan tuna segar sebesar 0,59 dan dengan ekstrak sebesar 0,56. Angka cemaran mikroba yang ditemukan pada ikan layang dan tuna belum melampaui standar mutu mikrobiologi ikan segar yaitu 5x10⁵ CFU/g (5,70 log Cfu/g).Fish as a food ingredient contains various bioactive compounds and decays quickly at ambient temperature which is indicated by the presence of microbial growth called TPC. External efforts to extend shelf life, conducted research aimed to determine the effectiveness of Gracilaria sp .. extract against the total microbes of flying fish and tuna at ambient temperature at 8, 12, 24, 36, 48 and 72 hours. The research method was descriptive qualitative. using Gracilaria sp. extract with a concentration of 3%. The test parameters include the total plate count (ALT) with the plate system and the water activity test based on the partial vapor humidity in the material (fish) against pure vapor pressure. The effectiveness of Gracilaria sp. The best 3% in fish storage at the 36th hour with total number of microbes that grew of 2.35 log Cfu /g in flying fish and 2.35 log Cfu/g in tuna. The effectiveness of Gracilaria sp. potential to inhibit the total growth of fish bacteria. Storing raw fish for fresh flying fish is 0.39 and with extract is 0.52. The standard deviation of fresh tuna is 0.59 and with extract is 0.56. Results the number of microbial contaminants found in flying fish and tuna has not exceeded the microbiological quality standard for fresh fish, namely 5x10⁵ CFU / g (5.70 log Cfu / g)
Analisis Kimia Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis Castelnau 1855) dari Danau Tempe Sulawesi Selatan, Indonesia: Chemical analysis of Amazon sailfin catfish Pterygoplichthys pardalis (Castelnau 1855) from Tempe Lake South Sulawesi, Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan protein, lemak, serat kasar, abu, air, asam amino dan asam lemak esensial ikan sapu-sapu yang berasal dari Danau Tempe. Ikan sapu-sapu di tangkap menggunakan jaring insang, dibersihkan dan dibedah untuk diambil dagingnya selanjutnya diuji proksimat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu mengandung protein 15,20%; lemak 6,27%; serat kasar 2,14%; abu 4,74%; air 67,19%. Asam amino esensial yaitu: leusina 5,78%; arginin 5,30%; lisina 4,55%; fenilalanina 4,45%; treonina 3,97%; isoleusina 3,44%; valina 3,39%; metionina 2,42%; histidina 2, 09%; dan triptofan 0,67%. Asam lemak esensial terdiri dari kelompok asam lemak omega-3: asam dekosakeksanoat (DHA) 0,23%; asam eikosapentanoat (EPA) 0,06% dan asam linolenat (HUFA) 0,09%; kelompok asam lemak omega 6: asam linoleat (LA) 0,10% dan arakidonat (AA) 0,15%. Ikan sapu-sapu memiliki kandungan gizi yang baik, asam amino dan asam lemak esensial yang lengkap, sehingga dapat direkomendasikan sebagai sumber makanan yang bergizi tinggi baik untuk konsumsi manusia maupun untuk bahan pakan ikan dan ternak. Amazon sailfin catfish is an invasive species in Lake Tempe whose population is increasing and until now there has been no effort to use it. This study aimed to determine the content of protein, lipid, crude fiber, ash, water, amino acids, and essential fatty acids of Amazon sailfin catfish originating from Lake Tempe. The methods used to obtaine those datas included protein, fat, crude fiber, water, ash, content. Those parameters were based on SNI 01-2891-1992 and using HPLC (High Performance Liquid Chromatography). The results showed that the content of protein, lipid, crude fiber, ash and water were 15.20% ; 6.27%; 2.14%; 4.74%; and 67.19% respectively. Furthermore, the content of essential amino acids consisting of leucine, arginine, lysine, phenylalanine, threonine, isoleusine, valine, methionine, histidine, and tryptophan are as follows 5.78%; 5.30%; 4.55%; 4.45%; 3.97%; 3.44%; 3.39%; 2.42%; 2.09% and 0.67%. The content of essential fatty acids consists of decosahexanoic acid (DHA), eicosapentanoic (EPA), linolenic acid (HUFA), linoleate (LA) and arachidonic (AA) respectively as follows 0.23%; 0.06%; and 0.09%; 0.10% and 0.15%. Amazon sailfin catfish has a good chemical or nutritional content, complete amino acids and essential fats,.Thus, it is recommended as a nutritious food source for public consumption, as well as for animal and fish feed ingredients
Analisis In Silico Senyawa Aktif Sprirulina platensis sebagai Inhibitor Tirosinase: Fatty Acid Profiles of Tuna Loin (Thunnus albacares) Sprayed by Filtered Smoke during Frozen Storage
Hiperpigmentasi merupakan kondisi ketika melanin diproduksi secara berlebih sehingga menimbulkan bercak-bercak pada kulit. Kondisi ini selain menyebabkan masalah estetika juga meningkatkan produksi reactive oxygen species pada kulit. Salah satu cara menangani hiperpigmentasi adalah melalui inhibisi enzim kunci sintesis melanin yaitu tirosinase. Spirulina platensis adalah mikroalga yang telah banyak digunakan sebagai suplemen maupun obat karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Ekstrak S. platensis telah terbukti secara in vitro memiliki kemampuan menginhibisi enzim tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk mencari senyawa aktif pada S. platensis yang berpotensi sebagai inhibitor enzim tirosinase. Senyawa-senyawa aktif yang terdapat pada S. platensis ditelusuri melalui studi pustaka kemudian diseleksi berdasarkan afinitas, toksisitas, dan aturan Lipinski. Analisis penambatan molekuler dilakukan dengan senyawa yang terpilih terhadap enzim tirosinase dengan asam kojat sebagai ligan kontrol. Hasil penambatan molekuler menunjukkan bahwa kaempferol paling berpotensi sebagai inhibitor tirosinase karena memiliki ΔG paling negatif sehingga memiliki afinitas terbesar terhadap enzim tirosinase.
Hyperpigmentation is a condition when melanin is overproduced, causing spots on the skin. This condition apart from causing aesthetic problems, can also increase the production of reactive oxygen species at the skin. One way to deal with hyperpigmentation is through inhibiting the key enzyme for melanin synthesis which is tyrosinase. Spirulina platensis is a microalgae that has been widely used as a supplement and medicine because of its high nutritional content. S. platensis extract has been proven in vitro to have the ability inhibit ing the tyrosinase enzyme. This study aimed to find active compounds in S. platensis that have the potential as tyrosinase enzyme inhibitors. The active compounds found in S. platensis were explored through literature studies and then selected based on affinity, toxicity, and Lipinski\u27s Rule. Molecular docking analysis was carried out with selected compounds against the tyrosinase enzyme with kojic acid as the control ligand. The results of molecular docking showed that kaempferol has the best potential as tyrosinase inhibitor since t has the most negative ΔG thus has the best affinity with the tyrosinase enzyme
Pengaruh Penambahan Garam pada Perubahan Karakteristik Kimia dan Pertumbuhan Bakteri pada Ikan Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus): The Effect of Salt Addition on Chemical Characteristics of and Bacterial Growth on Three Spot Gourami (Trichogaster trichopterus)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggaraman dengan konsentrasi yang berbeda terhadap karakteristik kimia dan pertumbuhan bakteri pada ikan sepat rawa (Trichogaster trichopterus). Perlakuan yang diberikan adalah tanpa penambahan garam (A) sebagai kontrol, garam 5% (B), garam 10% (C) dan garam 15% (D). Analisis kadar air menggunakan metode pengeringan, analisis kadar protein menggunakan metode Kjeldahl, analisis asam amino menggunakan high performance liquid chromatography (HPLC) dan analisis pertumbuhan mikroba menggunakan metode angka lempeng total (ALT). Perlakuan terbaik adalah perlakuan D penambahan garam dengan konsentrasi 15% menghasilkan kadar air ikan sepat rawa sebesar 61,35%, kadar protein 31,61%, dan ALT 5,87 log10 CFU/mL. Profil asam amino esensial yang tertinggi pada perlakuan B yaitu lisina sebesar 2,20% dan asam amino non esensial yang tertinggi pada perlakuan B yaitu asam glutamat 4,34%.This study aimed to determine the effect of addition of different salt concentrations on chemical characteristics and bacterial growth of Three Spot Gourami (Trichogaster trichopterus). The treatments given were no addition of salt (A) as a control, 5% salt (B), 10% salt (C) and 15% salt (D). The moisture was measured using the drying method, while protein content was analysed using the Kjeldahl method. Amino acids content was determined using the high performance liquid chromatography (HPLC) method and the microbial growth was observed using the total plate count (TPC) method. The best treatment was treatment D with the addition of salt with a concentration of 15% resulting in water content of three spot gourami 61.35%, protein content 31.61%, and TPC 5.87 log10 CFU/mL. The highest profile of essential amino acids in treatment B was lysine at 2.20% and the highest non-essential amino acids in treatment B was glutamic acid at 4.34%
Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Karakteristik Kimia, Organoleptik dan Total Plate Count (TPC) Cumi Kering (Loligo sp.): Effects of Fermentation Time on Chemical, Organoleptic Characteristics and Total Plate Count of Dried Squid (Loligo sp.)
Tujuan penelitian adalah untuk menentukan pengaruh lama fermentasi terhadap karakteristik kimia, organoleptik dan jumlah koloni bakteri pada produk cumi kering. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan lama waktu fermentasi yaitu perlakuan O (1 hari fermentasi), perlakuan A (3 hari fermentasi) dan perlakuan B (5 hari fermentasi). Masing-masing perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan fermentasi dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap karakteristik kimia cumi kering yaitu dengan kadar protein tertinggi pada perlakuan O yaitu 40,38±0,92%, kadar air terendah pada perlakuan O yaitu 12,49±1,17% dan kadar pH terendah pada perlakuan A yaitu 6,01±0,01. Karakteristik organoleptik meliputi spesifikasi kenampakan, aroma, rasa, dan tekstur terbaik terdapat pada perlakuan A dengan lama fermentasi 3 hari. Angka lempeng total terendah pada perlakuan B sebesar 5,84±1,3 log10 CFU/mL.This study aimed to determine the effects of fermentation time on chemical, organoleptic characteristics and total plate count of dried squid (Loligo sp.) product. This study used 3 treatments of fermentation time namely treatment O (1 day of fermentation), treatment A (3 days of fermentation) and treatment B (5 days of fermentation). The results showed that fermentation time significantly affected the chemical characteristics of dry squid. The highest protein content was observed in treatment O (40.38±0.92%) and the lowest water content was in treatment O ( 12.49±1.17%) while the lowest pH level was in treatment A (6.01±0.01). The organoleptic characteristics including appearance, aroma, taste and texture were more preferred in treatment A than in other treatments. The lowest total plate count in treatment B was 5.84±1.3 log10 CFU/mL
Tulang Ikan Patin (Pangasius sp.) sebagai Sumber Kolagen Sabun Mandi Padat: Catfish Pangasius sp. Bone as Collagen Source for Solid Bath Soap
Penelitian bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan kolagen tulang ikan patin (Pangasius sp.) terhadap mutu sabun mandi padat dan mendapatkan konsentrasi perlakuan terbaik dalam proses pembuatan sabun kolagen ikan patin (Pangasius sp). Perlakuan yang digunakan yaitu sabun mandi padat dengan kolagen 0%, 3%, 6% dan 9%. Penelitian yang sudah dilaksanakan memberikan hasil bahwa sabun tersebut layak untuk digunakan karena sesuai dalam SNI untuk sabun mandi padat. Hasil penelitian perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan D dengan konsentrasi kolagen adalah 9% dengan kadar air 7,759% bahan tidak dapat larut dalam etanol 0,181% asam lemak bebas 0,027% dan pH 10,47.This study aimed to determine the effect of catfish Pangasius sp. collagen addition on solid bath soap quality and the best treatment in the production process of Pangasius sp.- collagen soap. The collagen concentration was set at 0%, 3%, 6%, and 9%. The result showed that the soap has met the SNI requirement for solid bath soap. The best treatment was found in treatment D where the soap contained 9% collagen with the characteristic of 7.759% water content, 0.181% ethanol-insoluble material, 0.027% free fatty acid, and pH of 10.47
Karakteristik Thalamitha sp. Hasil Tangkapan Samping Nelayan di Kota Tarakan sebagai Bahan Baku Pangan Bergizi: Fisheries By-Catch at Tarakan City as a source of Nutritious Food
Mottled swimming crab (Thalamita sp.) is one of the largest genus in the Portunidae subfamily having a smaller size and lower price compared to the other types of crab. Mottled swimming crab is a by-catch of fishermen in the Tarakan city and could be developed as a food source. The purpose of this study was to determine chemical composition, fatty acid profile and heavy metal content of mottled swimming crab. Whole body of the crab except claws and carapace was analyzed. The results showed mottled swimming crab contained 70.05% moister, 9.89% protein, 0.25% fat, 13.02% ash, 2.52% crude fiber and 6.84% carbohydrates content. The crab contained saturated fatty acids (SFA) amounted to 12.64%, monounsaturated fatty acids (MUFA) 5.46% and polyunsaturated fatty acids (PUFA) 8.73%. The content of Cd, Hg and Pb was still below the maximum limit allowed by Indonesian National Standard. The Keraca crab is proven to be safe to use as food and nutritious.Kepiting keraca (Thalamita sp.) adalah salah satu genus terbesar dalam sub-famili Portunidae yang memiliki ukuran kecil dan harga yang murah bila dibandingkan dengan jenis kepiting yang lainya. Kepiting keraca merupakan hasil tangkapan samping (HTS) nelayan di kota Tarakan yang dikembangkan sebagai bahan baku pangan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan komposisi kimia, profil asam lemak, dan kandungan logam berat kepiting keraca. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari kepiting keraca kecuali capit dan karapas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi kimia kepiting keraca basis basah mengandung kadar air 70,05% kadar protein 9,887%, kadar lemak 0,25%, kadar abu 13,02%, serat kasar 2,52% dan karbohidrat sebesar 6,84%. Kepiting keraca basis basah memiliki asam lemak jenuh (SFA) sebesar 12,64%, asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) 5,46% dan asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) yaitu 8,73%. Kandungan logam berat Cd, Hg, dan Pb dari kepiting keraca masih di bawah baku mutu SNI. Kepiting keraca hasil tangkapan samping nelayan terbukti aman digunakan sebagai bahan pangan dan bergizi
Pengaruh Kombinasi Tepung Sagu dan Tepung Udang Rebon terhadap Karakteristik Kimia dan Organoleptik Makaroni: Characteristics of makaroni based on sago flour, combined with rebon shrimp flour (Acetes erythraeus)
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dari makaroni tepung sagu yang difortifikasi dengan tepung udang rebon. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dengan perlakuan tiga kombinasi antara tepung sagu dan tepung udang rebon yaitu MS0 (kontrol tanpa tepung udang rebon), MS1 (kombinasi 2:1) dan MS2 (kombinasi 1:1) diulang sebanyak 3 kali. Parameter yamg diuji yaitu mutu proksimat (kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat), daya serap air dan mutu organoleptik (rupa, tekstur, aroma, rasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembuatan makaroni tepung sagu dengan penambahan tepung udang rebon berpengaruh nyata terhadap nilai proksimat, daya serap air dan nilai organoleptik. Perlakuan terbaik adalah MS1 (kombinasi 2:1) memiliki karakteristik rupa dengan warna kuning cerah, aroma tidak amis udang, tekstur padat tidak keras, dan rasa gurih. Nilai kadar protein (19,67%) air (6,98%), lemak (4,13%), abu (2,57%), dan karbohidrat (by different) 65,65%. Serta secara keseluruhan parameter makaroni tepung sagu dengan perlakuan penambahan 50% tepung udang rebon memenuhi standar (SNI 01-3777-1995 No.45)
This study was aimed to determine the characteristics of fortified sago flour macaroni with rebon shrimp flour. The method used is an experimental method using a completely randomized design, with three combinations of sago flour and rebon shrimp flour, namely MS0 (control without rebon shrimp flour), MS1. (combination 2: 1) and MS2 (combination 1: 1) is repeated 3 times. The parameters tested were proximate quality (water content, ash content, protein content, fat content, and carbohydrate content), water absorption capacity and organoleptic quality (appearance, texture, aroma, taste). The results showed that the making of sago flour macaroni with the addition of rebon shrimp flour had a significant effect on the proximate value, water absorption and organoleptic value. The best treatment is MS1 (2:1 combination) which has visual characteristics with bright yellow color, fishy aroma of shrimp, solid texture not hard, and savory taste. The value of protein (19.67%) water (6.98%), fat (4.13%), ash (2.57%), and carbohydrates (by difference) was 65.65%. Over all, the addition of rebon shrimp flour as much as 50 percent can increase protein, ash, and fat which have the potential for functional food