Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    814 research outputs found

    Perbedaan Mutu Permen Jeli Kappaphycus alvarezii yang Dikemas Edible Film Berbasis Gelatin-CMC-Lilin Lebah dan Gelatin-Kitosan-Nanokitin: Quality Differences of Jelly Candy Kappaphycus alvarezii Wrapped in CMC-Beewax-Gelatin and Chitosan-Nanochitin Gelatin Based Edible Film

    No full text
    Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan mutu permen jeli rumput laut yang dikemas edible film berbasis gelatin-karboksimetilselulosa (CMC)-lilin lebah dan gelatin-kitosan-nanokitin. Interaksi senyawa-senyawa berbeda dalam edible film diduga dapat memengaruhi mutu permen jeli selama penyimpanan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu waktu penyimpanan permen dipercepat menggunakan chamber selama 15 hari pada suhu lebih tinggi (40oC) dengan kelembapan 75% yang setara dengan waktu 60 hari pada suhu ruang. Data yang diperoleh dianalisis dengan Independent T-Test (uji-t) untuk mengetahui laju transmisi uap air (WVTR) edible film, perbedaan mutu kimia dan mikrobiologi permen, serta uji-u Mann-Whitney untuk menguji perbedaan nilai hedonik selama penyimpanan. Parameter uji, yaitu WVTR dan mutu permen jeli meliputi kadar air, gula reduksi, angka lempeng total (ALT), dan nilai hedonik yang semuanya diuji pada taraf kepercayaan 95%. Hasil uji-t menunjukkan bahwa WVTR kedua edible film gelatin berbeda tidak nyata (p>0,05). Kadar air permen berbeda nyata pada hari ke-60, sedangkan gula reduksi dan TPC berbeda nyata sejak awal pengamatan. Hasil uji-u Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada nilai kenampakan permen antar perlakuan yang dimulai dari hari ke-24, nilai aroma sejak hari ke-12, sedangkan nilai rasa dan tekstur permen berbeda tidak nyata. Mutu permen terbaik diperoleh pada perlakuan edible film gelatin kitosan-nanokitin.This study aimed to analyze differences in the quality of seaweed jelly candy wrapped with natural packaging of carboxymethyl cellulose (CMC)-beeswax gelatin based edible film and nanochitin-chitosan gelatin based edible film. The interaction of different compounds in edible films is thought to affect the quality of jelly candy during storage. The treatment in this study is the accelerated storage time of candy using a chamber for 15 days at a higher temperature (40oC) with 75% humidity which is equivalent to 60 days at room temperature. The data obtained were analyzed by independent T-Test to determine the differences in water vapor of transmission rate (WVTR) of edible film, the microbiological and the chemical quality of jelly candy. Mann-Whitney U-Test to assay sensory level of jelly candy wrapped with both treatments. The parameters tested were WVTR of the edible film and the quality of the jelly candy which included water content, reducing sugar content, total plate count (TPC), and sensory quality at the 95% confidence level. The T-Test showed that there were no differences in WVTR while reduction sugar and total microbial values were significantly variances from the first day and water content seemed difference at last day (60th day). The Mann-Whitney U-Test showed variances in the appearance value of the candy starting from the 24th day, and the aroma from the 12th day, while the taste and the texture were not significantly different. The best quality of candy was obtained from the nanochitin-chitosan gelatin based edible film

    Ekstraksi Wet Rendering Minyak Ikan Layang (Decapterus macarellus) dengan Suhu Rendah: Wet Rendering Extraction of Mackerel Scad (Decapterus macarellus) Oil by Low Temperature

    No full text
    Ikan layang (Decapterus macarellus) merupakan ikan pelagis kecil yang pemanfaatannya masih terbatas pada pengolahan ikan asin, ikan pindang, dan ikan asap dengan nilai tambah yang rendah. Kandungan asam lemak omega-3 ikan layang yang cukup tinggi berpotensi sebagai bahan baku pengolahan minyak ikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik mutu minyak ikan layang terbaik yang mengacu pada International Fish Oil Standards (IFOS). Ekstraksi minyak ikan layang dilakukan dengan metode wet rendering perlakuan suhu 40, 50, dan 60 oC selama 30 menit, dilanjutkan dengan analisis karakteristik mutu untuk menentukan suhu ekstraksi terbaik. Karakteristik mutu minyak ikan layang terbaik diperoleh dari ekstraksi perlakuan suhu 60 oC dengan nilai PV, p-AV, dan TOTOX yang telah memenuhi persyaratan IFOS dengan rendemen sebesar 0,9±0,04Mackerel scad (Decapterus macarellus) is a small pelagic fish which their utilization is still limited to salted fish, pindang fish, and smoked fish with low added value. The high content of omega-3 fatty acids makes the fish a potential source of fish oil. The purpose of this study was to determine the quality of the fish oil from mackerel scad and compare to the International Fish Oil Standards (IFOS). The extraction of mackerel scad oil was carried out by wet rendering treatment at temperatures of 40, 50, and 60 oC for 30 minutes, followed by analysis of quality characteristics to determine the best extraction temperature. The best quality characteristics of mackerel scad oil were obtained from the extraction at 60 oC with PV, p-AV, and TOTOX values that met the requirements of IFOS and a yield of 0.9±0.04

    Formulasi Kapa dan Iota Karagenan dalam Pembuatan Produk Kosmetik Pelembap Bibir: Formulation of Kappa and Iota Carrageenan in Lip Balm Cosmetic

    No full text
    Kapa dan iota karagenan memiliki sifat fungsional sebagai humektan yang dapat mempertahankan kelembapan bibir pada produk kosmetik pelembap bibir (lip balm). Karagenan digunakan sebagai bahan alami yang lebih aman dan mengurangi komposisi bahan kimia dalam formulasi pelembap bibir. Tujuan penelitian ini untuk menentukan formulasi yang terbaik dari kombinasi kapa dan iota karagenan dalam menghasilkan pelembap bibir yang sesuai standar. Perlakuan penambahan kapa dan iota karagenan pada produk pelembap bibir terdiri dari produk tanpa penambahan kapa dan iota karagenan, 1:1, 1:2, 2:1 dan 1:3. Data sensori menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan pembandingan ganda. Parameter mutu yang diuji yaitu pH dan LoD. Hasil penelitian menunjukkan pH produk pelembap bibir dengan perlakuan 1:1, 1:2, 2:1 dan 1:3 secara berurutan sebesar 5,70; 5,65; 5,55; 5,75 dan pengujian LoD (%) dengan perlakuan 1:1, 1:2, 2:1 dan 1:3 secara berurutan sebesar 2,09; 1,05; 0,98: 1,01; 0,96. Perbandingan kapa dan iota karagenan terbaik adalah 1:3. Berdasarkan hasil data sensori dan karakteristik mutu, pelembap bibir 1:3 memiliki kenampakan, warna, dan tekstur yang menarik bagi panelis, serta memiliki berat penyusutan yang paling rendah dan mampu menahan kelembapan dalam jangka waktu yang paling lama.Kappa and iota carrageenan have functional properties as humectants that can retain lip moisture in lip balm. As a natural ingredient, carrageenan is safer and reduces the composition of chemicals in lip balm formulations. This research was aimed to determine the best formulation of the combination of kappa and iota carrageenan in producing lip balms. The treatment consist of control without the addition of kappa and iota carrageenan, and the kappa:iota carrageenan of 1:1, 1:2, 2:1, and 1:3. Sensory data using the Kruskal-Wallis test followed by multiple comparisons. The quality parameters tested were pH and LoD. The pH of lip balm products with 1:1, 1:2, 2:1 and 1:3 treatments are 5.70; 5.65; 5.55; 5.75 respectively and LoD testing (%) with 1:1, 1:2, 2:1 and 1:3 treatment are 2.09; 1.05; 0.98; 1.01; 0.96 respectively . The best ratio of kappa and iota carrageenan is 1:3. From the results of sensory data and quality characteristics, the 1:3 kappa iota carrageenan lip balm has an attractive appearance, color and texture for panelists, lowest shrinkage weight and retain moisture for the longest period of time among others

    Aktivitas Antibakteri Kitosan Monosakarida Kompleks sebagai Penghambat Bakteri Patogen pada Olahan Produk Perikanan: Antibacterial Of Chitosan Monosaccharide Complex As An Inhibitor Of Pathogenic Bacteria For Fishery Products

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kitosan  modifikasi monosakarida sebagai potensi pengawet alami untuk olahan produk perikanan. Pengawetan Alami kitosan monosakarida kompleks dibuat dengan cara memodifikasi kitosan dengan gula monosakarida yang disterilisasi menggunakan autoklaf dengan variasi 1% glukosa, 1% galaktosa dan 1% fruktosa. Analisis pengawetan dibuktikan dengan menguji aktivitas bakteri Vibrio cholerae yang sering digunakan untuk indikasi kerusakan produk perikanan. Kitosan yang dimodifikasi  menujukkan lebih baik dibandingkan penggunaan kitosan tanpa modifikasi (kontrol).kitosan dengan modifikasi fruktosa menunjukkan daya hambat bakteri tertinggi bakteri Vibrio cholerae yaitu 9 mm. Hasil terbaik yaitu gula fruktosa. Pengawet alami seperti ini sangat dibutuhkan sebagai pengawet pada produk perikanan baik masyarakat maupun industri dan dapat menjadi alternatif bahan pengawet alami.The purpose of this research was to observe antibacterial activity of modified chitosan monosaccharide complex as a natural preservative for the fishery products. Natural preservation was made by modifiying chitosan disinfecting monosaccharides used autoclaving that had variation 1% glucose, 1% galactose and 1% fructose. Analysis preservative had been proved by testing bacterialactivity of Vibrio cholerae  bacteria which are frequently used for indications of fishery product damage. Modified Chitosan shows better than the use of chitosan without modification (control). Chitosan with fructose modification indicates highest bacterial power of bacteria Vibrio cholerae is 9 mm. fructose sugar are the best treatments. This natural preservative is really needed as a preservative in fishery products both society and industry and can be an alternative natural preservatives

    Karakteristik Fraksi Aktif Biopigmen Fukosantin Rumput Laut Cokelat sebagai Antioksidan dan UV-protector: Characteristics of Fucoxanthin’s Active Fraction from Brown Seaweeds Biopigments as Antioxidants and UV Protectors

    Get PDF
    Rumput laut cokelat Padina sp. dan Sargassum sp. mengandung pigmen, di antaranya pigmen fukosantin sebagai antioksidan, antikarsinogenik, dan anti-UV. Tujuan penelitian ini menentukan konsentrasi pelarut aseton optimal mendapatkan rendemen fukosantin tertinggi dengan antiokisidan, total fenol, dan nilai SPF terbaik, serta mengidentifikasi profil senyawa dengan LC-MS/MS. Tahapan penelitian yaitu perendaman dalam DMSO 10% lalu diekstrak dengan pelarut aseton 80% dan 90%. Analisis antioksidan metode DPPH, FRAP, dan ABTS dengan hasil berturut-turut yaitu Padina sp. sebesar 153,55 ppm, 94,22 μmol Fe2+/g, 66,43 ppm (aseton 80%) dan 65,76 ppm, 93,11 μmol Fe2+/g, 78,33 ppm (aseton 90%); Sargassum sp. sebesar 131,37 ppm, 103,67 μmol Fe2+/g, 57,29 ppm (aseton 80%) dan 103,24 ppm, 71,72 μmol Fe2+/g, 61,45 ppm (aseton 90%). Total fenol pada Padina sp. sebesar 675,48 mg GAE/g (aseton 80%) dan 852,90 mg GAE/g (aseton 90%); Sargassum sp. sebesar 565,81 mg GAE/g (aseton 80%) dan 135,16 mg GAE/g (aseton 90%). Nilai SPF konsentrasi optimal 50 mg/mL yaitu Padina sp. sebesar 9,08 (aseton 80%) dan 17,10 (aseton 90%); Sargassum sp. sebesar 7,56 (aseton 80%) dan 3,56 (aseton 90%). Aseton 80% adalah pelarut optimal menghasilkan fraksi aktif fukosantin terbaik dengan rendemen, antioksidan, total fenol, dan nilai SPF tertinggi.Padina sp. and Sargassum sp. contains pigment namely fucoxanthins and have antioxidants, anticarcinogenic, and anti-UV. The objectives of this study were to determine the optimal concentration of acetone to produce the best fucoxanthin active fraction with antioxidant, total phenol, SPF value functions as well as to identify the profile of the compound with LC-MS/MS. Seaweeds were immersed in 10% DMSO before extracted with 80% and 90% acetone solvent. The results of antioxidant DPPH, FRAP, and ABTS were Padina sp. of 153.55 ppm, 94.22 μmol Fe2+/g, 66.43 ppm (80% acetone) and 65.76 ppm, 93.11 μmol Fe2+/g, 78.33 ppm (90% acetone); Sargassum sp. of 131.37 ppm, 103.67 μmol Fe2+/g, 57.29 ppm (80% acetone) and 103.24 ppm, 71.72 μmol Fe2+/g, 61.45 ppm (90% acetone). Total phenol of 80% dan 90% acetone from Padina sp. were 675.48 mg GAE/g and 852.90 mg GAE/g; Sargassum sp. of 565.81 mg GAE/g and 135.16 mg GAE/g. SPF value with optimal concentration 50 mg/mL had resulted of Padina sp. by 9.08 (80% acetone) and 17.10 (acetone 90%); Sargassum sp. of 7.56 (acetone 80%) and 3.56 (acetone 90%). Acetone 80% is the optimal solvent to produce the best fucoxanthin active fraction with the highest characteristics of yield, antioxidant activity, total phenol content, and SPF value

    Pengaruh Suhu Ekstraksi terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanolik Eucheuma spinosum: Effect of Extraction Temperature on Antioxidant Activity of Methanolic Extract of Eucheuma spinosum

    No full text
    Eucheuma spinosum merupakan alga merah yang banyak dibudidayakan dan termasuk salah satu komoditas unggulan karena memiliki senyawa fenolik dan flavonoid yang mampu berperan sebagai antioksidan. Senyawa fenolik dan flavonoid pada E. spinosum dapat diperoleh melalui proses maserasi menggunakan metanol yang pada umumnya dilakukan pada suhu ruang. Proses ekstraksi untuk mendapatkan hasil maksimum dapat dipercepat dengan cara meningkatkan suhu ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan E. spinosum yang diekstraksi menggunakan metanol dengan suhu 55, 65, dan 75 °C. Sebelum diekstraksi rumput laut dicuci bersih dan dikeringkan pada oven bersuhu 40 °C selama 24 jam. Ekstraksi dilakukan dengan metanol 80 % (1:10, b/v). Parameter yang diuji pada penelitian ini yaitu rendemen, uji fitokimia, total fenolik, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan meliputi uji DPPH dan FRAP. Dari data penelitian mengindikasikan bahwa suhu ekstraksi memengaruhi total fenolik maupun aktivitas antioksidan baik DPPH maupun FRAP, namun tidak berpengaruh terhadap rendemen dan total flavonoid. Suhu ekstraksi 55 °C memiliki daya antioksidan paling tinggi (IC50 DPPH sebesar 362,52±7,10 ppm, dan nilai FRAP sebesar 70,30±10,01 μM ekuivalen Fe(II)/g).Eucheuma spinosum is red algae that is widely cultivated and is also one of the superior commodities because it has phenolic and flavonoid compounds that can act as antioxidants. Phenolic content and flavonoids in E. spinosum can be obtained through a maceration process with methanol as a solvent which is generally carried out at room temperature. The extraction process to obtain maximum yield can be accelerated by increasing the extraction temperature. This research aims to determine the antioxidant activity of E. spinosum extracted using methanol at temperatures of 55, 65, and 75 °C. Before extraction, the seaweed was washed and dried in an oven at 40 °C for 24 hours. Extraction was carried out with 80 % methanol in a ratio of 1:10 (w/v). The parameters analyzed in this research were yield, phytochemical test, total phenolic content (TPC), total flavonoids, antioxidant activity including DPPH and FRAP. The data indicated that the extraction temperature affected total phenolic and antioxidant activity of both DPPH and FRAP, but did not affect the yield and total flavonoids. Extraction temperature of 55 °C had higher antioxidant activity with an IC50 DPPH value 362.52±7.10 ppm and FRAP value 70.30±10.01 μM equivalent to Fe (II)/g

    Identifikasi Bakteri Patogen (Vibrio spp. dan Salmonella spp.) yang Mengontaminasi Ikan Layang dan Bandeng di Pasar Tradisional: Identification of Pathogenic Bacteria Contamination (Vibrio spp. and Salmonella spp.) in Flying Fish and Milkfish in Traditional Markets

    No full text
    Sumber konsumsi ikan masyarakat Kota Tarakan adalah ikan layang dan bandeng yang berasal dari pasar tradisional. Pengelolaan pasar tradisional yang ada di Kota Tarakan cukup memadai namun, tingkat kesehatan dan higienis lingkungan masih kurang baik, penanganan yang belum memadai memungkinkan banyak bakteri yang berkembang dan mengontaminasi ikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kontaminasi bakteri patogen (Vibrio spp. dan Salmonella spp.) pada ikan yang dijual di pasar tradisional kota Tarakan. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dengan beberapa tahapan mulai dari observasi pasar, pengambilan sampel, isolasi bakteri dan identifikasi. Isolasi bakteri Vibrio menggunakan media selektif TCBS (Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose) dan bakteri Salmonella menggunakan media SSA (Salmonella Shigella Agar) identifikasi bakteri Vibrio dan Salmonella yang berpedoman pada buku Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology berdasarkan sifat morfologi dan kimiawi. Hasil identifikasi terdapat kontaminasi bakteri Vibrio spp. dan Salmonella spp. pada hasil perikanan yang dijual di pasar tradisional kota Tarakan khususnya ikan bandeng dan ikan layang.The sources of fish consumption for the people of Tarakan City are flying fish and milkfish from traditional markets. The management of traditional markets in Tarakan City is quite adequate, however, the level of health and hygiene of the environment is still not good, inadequate handling allows many bacteria to grow and contaminate fish. The research objective was to determine the contamination of pathogenic bacteria (Vibrio spp. and Salmonella spp.) at fish sold in traditional markets Tarakan City. The research was conducted using a descriptive method with several stages starting from market observation, sampling, isolation and identification of bacteria. Isolation of Vibrio bacteria using selective media TCBS (Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose) and Salmonella bacteria using SSA media (Salmonella Shigella Agar). Identification of Vibrio spp. and Salmonella spp. based on Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology based on morphological and chemical properties. Identification results contaminated with Vibrio spp. and Salmonella spp. Fish products sold in traditional markets in Tarakan include milkfish and flying fish

    Substitusi Tepung Ikan Teri (Stolephorus sp.) dalam Pembuatan Kue Semprong sebagai Sumber Kalsium untuk Anak Sekolah: Anchovy Substitution on Semprong Cake as Source of Calcium for Children

    Get PDF
    Salah satu bahan pangan sumber kalsium yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah ikan teri, namun pemanfaatannya dalam produk makanan tradisional masih terbatas. Kue semprong mempunyai potensi sebagai makanan tradisional yang bersifat fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi kue semprong dengan substitusi tepung ikan teri medan, tingkat kesukaan dan kandungan gizinya dengan uji proksimat dan kalsium. Penelitian dilakukan dalam empat tahap yaitu define untuk menemukan resep acuan kue semprong, design untuk mengembangkan resep acuan terpilih dengan substitusi tepung teri medan sebanyak 5%, 10%, dan 15% development untuk uji validitas kepada ahli pangan dan gizi serta merancang kemasan kue semprong teri medan, serta terakhir disseminate untuk menguji kesukaan produk oleh 100 panelis dari anak sekolah. Substitusi tepung ikan teri medan pada kue semprong yang terbaik yaitu 15%. Uji kesukaan terhadap produk acuan yaitu 4,0 (disukai) dan produk pengembangan yaitu 4,9 (sangat disukai). Kandungan gizi kue semprong teri medan terdiri dari protein 10,77 g, lemak 26,49 g, karbohidrat 57,04 g, dan energi 486,65 kkal/100 g produk. Kue semprong teri medan dapat dikategorikan sebagai camilan sumber kalsium karena mengandung kalsium 820,63 mg/100 g. Oleh karena itu, kue semprong teri medan dapat direkomendasikan sebagai camilan untuk anak sekolah.One of the food sources of calcium needed by children is anchovy, but its use in traditional food products is still limited. Semprong cake has the potential as a traditional food that is functional. This study was aimed to determine the formulation of semprong cake with anchovy flour substitution, level of preference and nutritional content with proximate and calcium tests. The research was consist of 4 stages, namely define to find a reference recipe for semprong cake. Design stage by developing selected reference recipes with the substitution of field anchovy flour as much as 5%, 10%, and 15%. In the Development phase, validity tests were carried out on food and nutrition expert lecturers and designing the semprong anchovy cake packaging. Disseminate stage to test product preferences by 100 panelists from school children. The best substitution of anchovy flour on semprong cake is 15%. The preference test for the reference product is 4.0 (preferred) and the development product is 4.9 (strongly preferred). The nutritional content of the Medan anchovy semprong cake consists of 10.77 g protein, 26.49 g fat, 57.04 g carbohydrates, and 486.65 kcal/100 g of product energy. Medan anchovy semprong cake can be categorized as a calcium source snack because it contains 820.63 mg/100 g of calcium. Therefore, the Medan anchovy semprong cake can be recommended as a snack for school children

    Aktivitas Antioksidan dari Air Buah Beruwas Laut (Scaevola taccada): Antioxidant Activities of Beach Naupaka\u27s Water (Scaevola taccada)

    No full text
    Scaevola taccada (Beach Naupaka) is common plant found on Indonesia coast.This study was aimed to determine antioxidant activity and levels of vitamin C contained in the juice of old, young, and mixed beach naupaka\u27s fruit. Antioxidant activity was tested using DPPH method and vitamin C levels using the iodimetric titration m. The results obtained showed that the antioxidant activity of beach naupaka were 113.47 ppm for old fruit, 130.71 ppm for young fruit, 164.58 ppm for mixed fruit. Vitamin C levels of old, young, and mixed fruit water were 7.04 mg, 36.96 mg, and 30.8 mg respectively.Scaevola taccada adalah salah satu tanaman yang banyak dijumpai di pesisir pantai yang berpasir di daerah tropis. Tanaman ini secara empiris banyak memiliki manfaat kesehatan oleh masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antioksidan dan vitamin C yang terdapat pada air buah beruwas laut. Metode penelitan berupa pengujian karakterisasi dan pengukuran morfometrik, serta aktivitas antioksidan ekstrak menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian data rendemen yaitu 2,84% air buah muda, 97,16% ampas buah muda, 40,37% air buah tua, dan 59,63% ampas buah tua. Aktivitas antioksidan IC50 adalah air buah tua 113,47 ppm, air buah muda 130,71 ppm, air buah campuran 164,58 ppm. Pengujian kadar vitamin C air buah tua 7,04 mg, air buah muda 36,96 mg, air buah campuran 30,8 mg

    Perendaman dalam air 85 oC meningkatkan aktivitas antioksidan, antidiabetes, dan tingkat penerimaan konsumen teh Sargassum crassifolium: Soaking Time in Water 85°C Increased Antioxidant, Antidiabetic Activity and Consumer Acceptance of Sargassum crassifolium Seaweed Tea

    No full text
    Rumput laut Sargassum crassifolium mempunyai bioaktivitas yang tinggi sehingga berpotensi sebagai sumber pangan fungsional, salah satunya dibuat menjadi teh rumput laut. Salah satu kelemahan teh rumput laut yaitu kurang disukai konsumen karena adanya bau amis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dalam air 85 oC terhadap karakteristik dan tingkat penerimaan konsumen teh rumput laut S. crassifolium. Rancangan acak lengkap digunakan dalam penelitian ini, dengan perlakuan berupa variasi lama waktu perendaman. Teh rumput laut dibuat dengan cara merendam dalam air ±85 oC selama 0, 4, 8, 12, dan 16 menit kemudian dipotong-potong lalu disangrai. Teh rumput laut S. crassifolium dianalisis meliputi: kadar air, total fenol, aktivitas antioksidan dengan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP), aktivitas penghambatan α-glukosidase dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar air, total fenol, aktivitas antioksidan, penghambatan α-glukosidase, dan tingkat penerimaan konsumen. Perlakuan terbaik yaitu lama perendaman 16 menit dengan kadar air 3,35±0,41%, total fenol 68,63±0,67 mg GAE/g, aktivitas penghambatan DPPH 55,99±1,01%, nilai FRAP 116,97±1,89 μM/g, penghambatan α-glukosidase 55,67±0,36%, dan nilai hedonik parameter aroma, rasa, warna, kenampakan, dan keseluruhan secara berturut-turut yaitu 4,29±1,18; 4,59±0,85; 4,18±0,98; 4,43±0,91; 4,37±0,98.Seaweed Sargassum crassifolium has high bioactivity so that it has the potential as a functional source, one of which was made into seaweed tea. Seaweed tea has a weakness that is less liked by consumers because of the fishy smell. One way to reduce the fishy smell was by soaking in water at ±85oC. The purpose of this research to know the effect of soaking time on the characteristics and level consumers acceptance of S. crassifolium seaweed tea. Seaweed tea is made by soaking in water at ±85oC for 0, 4, 8, 12, and 16 minutes then cut into pieces and then roasted. S. crassifolium seaweed tea analyzed includes: moisture content, total phenol, antioxidant activity of the 2,2-Diphenyl-1- picrylhydrazyl (DPPH) method and the Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) method, α-glucosidase inhibitory activity and hedonic test. The result showed that the soaking time take effect on the water content, total phenol, antioxidant activity, α-glucosidase inhibition, and level of consumer acceptance. The best treatment was soaking for 16 minutes that had water content of 3.35±0.41%, phenol content of 68.63±0.67 mg GAE/g, % inhibition DPPH of 55.99±1.01%, FRAP value of 116.97±1>89 μM/g, the inhibitory activity of the α-glucosidase  55.67±0.36%, and the hedonic value of the parameters for aroma, taste, color, appearance, and overall successively was 4.29±1.18, 4.59±0.85, 4.18±0.98, 4.43±0.91, and  4.37±0.98

    455

    full texts

    814

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇