Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    814 research outputs found

    Penambatan Molekul Senyawa Aktif Spirulina platensis sebagai Inhibitor TMPRSS2 untuk Mencegah Infeksi SARS-COV-2: Molecular Docking of Active Compound of Spirulina platensis as TMPRSS2 Inhibitor to Prevent the SARS-COV-2 Infection

    No full text
    Spirulina platensis merupakan mikroalga spesies blue green algae (Cyanophyta) yang dimanfaatkan sebagai makanan kesehatan dan sumber berbagai jenis nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Senyawa yang diisolasi dari mikroalga ini telah dilaporkan sebagai penghambat yang manjur terhadap beberapa jenis virus. Penyakit COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona sindrom pernafasan akut  parah 2 (SARS-CoV-2). Secara mekanisme, spike protein SARS-CoV-2 diaktifasi oleh protein TMPRSS2 untuk memasuki sel inang. Oleh karena itu, menghambat aktivitas TMPRSS2 dapat  mencegah infeksi SARS-CoV-2.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi senyawa aktif dari berbagai ekstrak S. platensis sebagai inhibitor TMPRSS2 dalam mencegah infeksi SARS-COV-2 yang diharapkan dapat meminimalisir keparahan penyakit COVID-19. Indikator yang digunakan adalah aktivitas penambatan molekul berdasarkan energi afinitas (ΔG) dan konstanta inhibisi (Ki). Senyawa aktif yang potensial juga dibandingkan terhadap ligan alami dan nafamostat. Penambatan molekul dilakukan pada 45 senyawa dari 108 senyawa aktif S. platensis dengan protein TMPRSS2. Hasil penambatan molekuler menunjukkan bahwa quercitrin berpotensi sebagai inhibitor TMPRSS2 karena memiliki ΔG paling negatif yaitu -7,40 kkal/mol dengan konstanta inhibisi sebesar 3,77 µM. Quercitrin juga dapat dapat berikatan dengan 2 residu sisi aktif TMPRSS2 dibanding ligan alami dan nafamostat yang hanya mampu berikatan dengan 1 residu sisi aktif TMPRSS2.Spirulina platensis is a  blue green algae (Cyanophyta) species that consumed as a healthy food and as a source of various types of nutritions that needed by the human body. The compounds that isolated from the microalgae has been reported as effective inhibitors against several types of viruses. COVID-19 is a disease that caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2  (SARS-CoV-2). In mechanism, spike protein SARS-CoV-2 is activated by TMPRSS2 to enter host cells. Thus, inhibiting TMPRSS2 activity can be prevent the SARS-COV-2 infection. This study aims to analyze the potential of the active compound of the extracts of S. platensis as TMPRSS2 inhibitor to prevent the SARS-COV-2 infection that expected to reduce the severity of the COVID-19. This study using molecular docking study based on the affinity energy (ΔG) and inhibition constant (Ki). The potential active compound also compared to natural ligands and nafamostat. Molecular docking was conducted on 45 of 108 active compounds of S. platensis with TMPRSS2 protein. Molecular docking results indicate that quercitrin has the potential as a TMPRSS2 inhibitor due to its most negative ΔG by -7.40 kcal/mol  and inhibition constant by 3.77 M. The quercitrin also can bind to 2 residues from the active side of TMPRSS2 than natural ligands and nafamostat that only bind to 1 residue of the active side of TMPRSS2

    Kontaminasi Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus pada Sushi di Tingkat Ritel di Wilayah Jabodetabek: Contamination of Staphylococcus aureus and Bacillus cereus in Sushi at Retail Level in Jabodetabek Area

    No full text
    Susyi adalah pangan siap konsumsi asal Jepang, merupakan kombinasi nasi yang diberi asam dan ikan mentah. Umumnya susyi terdiri dari beberapa jenis, namun terdapat dua jenis susyi yang sangat dikenal yaitu nigiri (nasi dengan ikan mentah di atasnya) dan maki (nasi dengan ikan mentah di dalamnya). Ikan dalam susyi tidak mengalami pemanasan sehingga rentan terhadap kontaminasi patogen, di antaranya Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Kedua bakteri ini telah dilaporkan sebagai penyebab Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia, namun keberadaannya di dalam susyi belum pernah dilaporkan. Penelitian bertujuan untuk menentukan prevalensi dan tingkat kontaminasi S. aureus dan B. cereus pada susyi di tingkat ritel di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Sebanyak 120 sampel terdiri dari nigiri (n=57) dan maki (n=63) diperoleh dari ritel di Jabodetabek. Identifikasi dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), dengan target gen nuc (S. aureus) dan gyrB (B. cereus). Jumlah bakteri menggunakan metode lempeng sebar (spread plate) untuk S. aureus dan Angka Paling Mungkin (APM) untuk B. cereus. Prevalensi S. aureus (7,5%) di dalam susyi lebih besar dibandingkan B. cereus (5%). Tingkat kontaminasi S. aureus (8,9x102-1,5x105 koloni/g) juga lebih tinggi dibandingkan B. cereus (9,2-93 APM/g). S. aureus lebih sering ditemukan dalam maki (9,5%), sementara B. cereus lebih banyak ditemukan pada nigiri (7,1%). Susyi dengan ikan salmon memiliki prevalensi S. aureus (9,3%) dan B. cereus (5,3%) lebih tinggi dibandingkan dengan tuna. Kontaminasi S. aureus kemungkinan karena kurang terpenuhinya higiene personal, sementara B. cereus dapat berasal dari penanganan nasi yang kurang baik dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Keberadaan S. aureus di dalam susyi lebih berpotensi menyebabkan risiko keracunan pangan dibandingkan B. cereus. Program higiene personal dalam produksi susyi harus ditingkatkan untuk memberi jaminan keamanan.Sushi is a ready-to-eat food from Japan, consisting of accidified rice in combination with raw seafood. Generally, sushi consists of several types, however there are two types of sushi that are very well known, namely nigiri (rice with raw fish on top) and maki (raw fish rolled in rice). The fish, not subjected to any heat treatment, is susceptible to pathogens, i.e., Staphylococcus aureus and Bacillus cereus. These pathogens have been reported as the causes of outbreaks in Indonesia, but the presence of these two pathogens in sushi has not been reported. This study aims to determine the prevalence and level of the two pathogens in sushi at retail in the Greater Jakarta area (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi). A total of 120 samples consisting of nigiri (n=57) and maki (n=63) were obtained from retailers in the Greater Jakarta area. The identification was carried out by Polymerase Chain Reaction (PCR) method, with the target nuc gene (S. aureus) and gyrB (B. cereus). The contamination level was calculated using the spread plate method for S. aureus and the Most Probable Number (MPN) method for B. cereus. The prevalence of S. aureus (7.5%) in sushi was greater than in B. cereus (5%). The contamination level of S. aureus (8.9x102-1.5x105 CFU/g) was also higher than B. cereus (9.2-9.3 MPN/g). S. aureus was more common in maki (9.5%), while B. cereus was more common in nigiri (7.1%). Sushi made with salmon had a higher prevalence of S. aureus (9.3%) and B. cereus (5.3%) than those made with tuna. Contamination of S. aureus might be caused by a lack of personal hygiene, while B. cereus might result from poor handling of rice and inadequate environmental sanitation. The presence of S. aureus in sushi is more likely to cause the risk of food poisoning than B. cereus. The personal hygienic program in sushi production needs improvement to better assure its safety

    Pemanfaatan Ekstrak Daun Pedada (Sonneratia caseolaris) dan Daun Katang-Katang (Ipomoea pes-caprae) sebagai Agen Antioksidan pada Formulasi Face Mist: Utilization of Mangrove Apple (Sonneratia caseolaris) and Bayhops (Ipomoea pes-caprae) Leaf Extracts as Antioxidant Agents in The Formulation of Face Mist

    No full text
    Kulit membutuhkan senyawa antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dari berbagai faktor eksternal, salah satunya polusi udara. Tumbuhan bakau jenis pedada (Sonneratia caseolaris) dan katang-katang (Ipomoea pes-caprae) dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Face mist adalah salah satu produk perawatan kulit yang dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan aktif ekstrak dari daun pedada dan katang-katang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula produk face mist terbaik dengan penambahan ekstrak daun pedada, daun katang-katang, serta kombinasi dua ekstrak tersebut melalui parameter aktivitas antioksidan, kelembaban, pH, dan sensori. Penelitian ini menggunakan satu faktor yaitu jenis pelarut ekstrak. Sampel face mist dalam penelitian dibagi menjadi empat, yaitu face mist tanpa penambahan ekstrak (P0), facemist dengan penambahan ekstrak etanol 70% dan akuades dari daun pedada (P1), face mist dengan penambahan ekstrak etanol 70% dan akuades dari daun katang-katang (P2), dan face mist gabungan penambahan masing-masing ekstrak etanol dan akuades dari daun pedada dan daun katang-katang (P3). Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan two way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula facemist terbaik diperoleh pada perlakuan penambahan ekstrak etanol 70% daun pedada (P1) dengan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 3.836,01 µg/mL, kelembaban 52,35%, nilai pH 4,64, dan disukai panelis terutama parameter aroma, tekstur, dan homogenitas.High levels of air pollution have a negative impact on skin health. Therefore, the skin needs antioxidant compounds that can counteract free radicals. Pedada (Sonneratia caseolaris) and katang-katang (Ipomoea pes-caprae) are known to have strong antioxidant activity. Face mist is one of the skin care products that can be made by utilizing the active ingredients of extracts from pedada and katang-katang leaf. The purpose of this study was to determine the best formula of face mist products with the addition of pedada leaf extract, katang-katang leaf extract, and combination of two leaf extract through the parameters of antioxidant, humidity, pH, and sensory. This study uses one factor, namely the type of solvent extract. The face mist samples in this study were divided into four, namely face mist without the addition of extract (P0), face mist with the addition of ethanol 70% and distilled water extract from pedada leaves (P1), face mist with the addition of ethanol 70% and aquadest extract from katang-katang leaves (P2), and a face mist combined with the addition of ethanol and distilled water extracts from pedada leaves and katang-katang leaves (P3). Data analysis using Kruskal Wallis and two way ANOVA test. The results showed that the best facemist formula was obtained in the treatment of adding 70% ethanol extract of pedada leaves (P1) with antioxidant activity (IC50) of 3,836.01 µg/mL, humidity 52.35%, pH value 4.64, and was favored by panelists especially parameters of aroma, texture, and homogeneity

    Isolasi Asam Lemak dan Kadar Pigmen Rumput Laut Cokelat Sargassum crassifolium sebagai Sumber Antioksidan Alami: Isolation of Fatty Acid and Pigment Cntent of Sargassum crassifolium as A Source of Natural Antioxidant

    No full text
    Sargassum adalah produk hasil laut, sumber senyawa bioaktif yang memiliki  aktivitas biologi, terutama sebagai antioksidan dan antikanker.  Ekstrak maupun isolat  Sargassum telah  dimanfaatkan sebagai produk kesehatan pada berbagai industri seperti, pangan, obat-batan dan kosmetik.  Asam lemak (E)-11-octyloxacyclododec-10-en-2-one,  telah diisolasi dari fraksi etil asetat rumput laut cokelat S. crassifolium menunjukkan mempunyai aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian yaitu mengisolasi senyawa asam lemak, mengukur kadar pigmen dan aktivitas antioksidan S. crassifolium.  Metoda pemurnian dan isolasi sebagai berikut: Sargassum diekstraksi dengan metanol menggunakan kolom kromatografi (KK), kemudian dipartisi dengan heksana, etil asetat, setelah itu dibilas dengan metanol.  Fraksi etil asetat kemudian dimurnikan dan diisolasi menggunakan KK dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dgunakan untuk memonitor dan mengobservasi  kehadiran senyawa bioaktif.  Isolat senyawa murni fraksi etil asetat S. crassifolium (FEtSar) dikarakterisasi menggunakan NMR, FTIR dan ESMS dan dibandingkan dengan literatur terkini. Ekstrak, fraksi dan  isolat murni  diuji kadar pigmen (carotenoid dan fucoxanthin) dan aktivitas  antioksidant 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) . Hasil studi menunjukkan bahwa ekstrak, fraksi dan isolat murni (E)-11-octyloxacyclododec-10-en-2-one (FEtSar)   Sargassum crassifolium mengandung senyawa  antioksidan. Aktivitas antioksidan tertinggi adalah fraksi heksana (IC50 2,657±0,338 mg mL-1) dengan Kadar fukosantin dan karotenoid masing-masing 33,04±3,348 dan 24,911±2,4231 µg g-1.  S. crassifolium potensiall dimanfaatkan sebagai sumber antioxidant alami  dan dimasa depan dapat dimanfaatkan sebagai produk kesehatan.Sargassum is a marine product, source of bioaktive compound with many divers biological activity, especially as antioxidant and anticancer. The bioactive  compound of  Sargassum  have   been utilized as health product in many Industry such as, food, medicine and cosmetic.  Fatty acids, (E)-11-octyloxacyclododec-10-en-2-one were isolated from ethyl acetic fraction  of brown seaweed Sargassum crassifolium.  The aim of the research is to isolate and purification the fatty acid compound and measure the pigmen content and antioxidant activity of  S. crassifolium. The method of reasearc as followed; Sargassum extracted using methanol after that the extract partitioned with hexane and ethyl acetic and rinsed with methanol using Colomn Chromatography (CC). Ethyl acetic was purificated  and isolated using CC and Thin Layer Chromatography (TLC) was using to monitored and observed the compounds.   Isolate of pure compounds of etil acetic  fraction of S. crassifolium (FEtSar) was elucidated by basic NMR spectroscopy, FTIR and ESMS and compared with previous literature.  The extract, fractions and isolated compound were tested for their pigment content (carotenoid and fucoxanthin) and antioxidant activity  using DPPH. The result of study shown, extract, fraction and pure compound of ethyl acetate fraction of S. crassifolium,  (FEtSar), (E)-11-octyloxacyclododec-10-en-2-one  revealed  have antioxidant compound. Therefore  S. crassifolium is potencial as a source of natural antioksidant and in future could be explored   as health product

    Perubahan Suhu Media Air Berpengaruh terhadap Survival Rate dan Glukosa Darah Ikan Mas (Cyprinus Carpio): The Effects of Water Temperature Change on The Survival Rate and Blood Glucose Levels of Frozen Carp (Cyprinus Carpio)

    No full text
    Kualitas ikan dapat menurun akibat adanya aktivitas fisik ataupun stress selama proses transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perubahan suhu media air dalam pembugaran ikan mas terhadap survival rate, kadar glukosa darah, serta jaringan mata dan insang ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian ini menggunakan bahan anestesi ekstrak serai 13% yang memiliki rata-rata waktu pingsan terendah yaitu 2,02 menit dan rata-rata waktu pingsan terlama yaitu 2,62 menit. Waktu sadar ikan mas tercepat terdapat pada perlakuan suhu 28ºC dengan nilai yaitu 6,31 menit, sedangkan pada suhu 8ºC didapatkan hasil yaitu 22,76 menit. Pembugaran pada suhu 28ºC meningkatkan nilai glukosa darah sebesar 79,56 mg/dL, sedangkan pada suhu 8ºC hanya 20,78 mg/dL. Nilai survival rate ikan mas dengan perlakuan suhu pembugaran 8ºC dan 28ºC mencapai 100%. Perubahan suhu lingkungan yang terjadi secara tiba-tiba berpengaruh langsung terhadap tingkat stress ikan dan menyebabkan glukosa darah pada ikan semakin tinggi.Fish quality decrease due to physical activity or stress during the transportation process. This study aimed to determine the effect of water temperature changes on the survival rate, blood glucose levels, and eye and gill tissue during carp (Cyprinus carpio) recovery. This study used 13% lemongrass extract which had the lowest induction time of 2.02 minutes and the longest immotilisation time 2.62 minutes. The fastest carp recovery time was found at a temperature treatment of 28ºC for 6.31 minutes, while at 8ºC the result was 22.76 minutes. Recovery process at 28ºC increased carp blood glucose levels up to 79.56 mg/dL, while at 8ºC only 20.78 mg/dL. Nevertheless, the survival rate of carp at both temperatures reached 100%. Drastic environmental changes will have a direct effect on fish stress and increases blood glucose levels

    Karakterisasi Kitooligosakarida yang Didepolimerisasi dengan Metode Berbeda dan Kajiannya sebagai Active Film: Chito-oligosaccharide Characterization Depolymerized by Different Method and Its Study as Active Film

    No full text
    Active film is one of the world trends for food packaging. It often contains active material such as antimicrobials, antioxidant, and oxygen scavenges to help maintain food freshness. Chitosan is one of active material that can be utilized as active film. It has good antimicrobial activity, but it can only be utilized in low pH. Thus, chito-oligosaccharide, an oligomer of chitosan with better solubility can be used as an alternative. The aim of this experiment was to characterize COS produced by microwave, ultrasound and microwave-ultrasound combination and to determine the best active film mechanical properties based on COS obtained at a concentration of 1.5% and 2%. The COS obtained have a yellowish color with viscosity ranged from 12 to 17 cP and its molecular weight ranged from 22.1 to 29.3 kDa which is lower than chitosan (>50 kDa). The COS obtained shown antimicrobial activity on B. subtilis, S. aureus, and E. coli. The result suggests that there is an optimal molecular weight of COS that can be utilized as film material. COS with low molecular weight tend to have poor mechanical film properties as it has a less stable bond. Overall, the best mechanical properties of film achieved by 2% ultrasound treated COS. It has the highest tensile strength and elongation consecutively 5.43 N/mm2 and 76,7% with the lowest WVTR value at 5.25 g/m2/day. The yellowish COS film color tends to absorb UV light better compared to chitosan film.Active film adalah salah satu tren dunia untuk kemasan makanan. Active film seringkali mengandung bahan aktif antimikroba, antioksidan, penangkap oksigen, dan sawar UV untuk membantu menjaga kesegaran makanan. Kitosan merupakan salah satu bahan aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai active film. Kitosan memiliki aktivitas antimikroba yang baik tetapi hanya dapat digunakan pada pH rendah. Oleh karena itu, kitooligosakarida/chito-oligosaccharide (COS) yang merupakan oligomer kitosan dengan kelarutan lebih baik berpotensi sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakter COS yang dihasilkan dengan metode depolimerisasi mikrogelombang, ultrasuara, dan kombinasi mikrogelombang-ultrasuara serta menentukan sifat mekanis active film terbaik dari COS yang diproduksi dengan kosentrasi 1,5% dan 2%. COS yang diperoleh berwarna kekuningan dengan nilai viskositas 12-17 cP dan bobot molekul berkisar dari 22,1-29,3 kDa yang nilainya lebih kecil daripada kitosan (>50 kDa). COS yang diproduksi menunjukkan aktivitas antimikroba pada bakteri B. subtilis, S. aureus, dan E. coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat berat molekul COS yang optimal yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan film. COS dengan berat molekul rendah cenderung memiliki sifat mekanis film yang buruk karena ikatan antar-molekulnya lemah. Secara keseluruhan, sifat mekanis terbaik film dicapai pada film COS ultrasuara konsentrasi 2%. Film tersebut memiliki ketebalan 0,25 mm nilai WVTR terendah pada 5,25 g/m2/hari, kekuatan tarik, dan elongasi berturut-turut 5,43 N/mm2 dan 76,7%. Warna film COS yang kekuningan cenderung menyerap sinar UV lebih baik dibandingkan dengan film kitosan

    Pemanfaatan Buah Bakau Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. sebagai Bahan Baku Kopi Analog: Utilization of Mangrove Fruit Rhizophora sp. and Sonneratia sp. as Raw Material for Analog Coffee

    No full text
    Bakau merupakan tanaman yang banyak ditemukan di pesisir Indonesia, namun demikian belum banyak dimanfaatkan sebagai produk konsumsi, padahal bakau memiliki kandungan nutrisi dan antioksidan yang cukup tinggi. Pengembangan produk dari bahan baku buah bakau perlu dilakukan, salah satunya kopi analog dari buah bakau Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan proksimat, antioksidan, tingkat kesukaan konsumen melalui uji hedonik dari masing-masing produksi kopi analog. Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan bahan baku yang berbeda yaitu kopi bubuk komersial murni jenis arabika (K0) sebagai kontrol, kopi analog dari buah bakau Rhizophora sp. (K1), dan Sonneratia sp. (K2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kadar air berkisar antara 3,33-7,31% dan kadar abu berkisar antara 2,57-3,16%, dari dua parameter tersebut, kedua sampel (K1 dan K2) telah memenuhi standar SNI Kopi 01-3542-2004. Sedangkan persentase kadar lemak berkisar antara 9,06-12,6% dan kadar protein 7,09-11,59% dari dua parameter tersebut nilai tertinggi diraih oleh perlakuan K3. Berdasarkan pengujian aktivitas antioksidan dalam satuan % inhibisi diperoleh hasil persentase antara 61,63-77,15% dengan nilai tertinggi diraih oleh K2. Berdasarkan uji hedonik diperoleh tingkat kesukaan warna (netral-suka), aroma (suka), rasa (suka), tekstur (suka). Perbedaan jenis bahan baku yang digunakan memberi pengaruh nyata pada aroma dan warna, sedangkan pada rasa dan tekstur tidak berpengaruh pada tingkat kesukaan.Mangrove are plants that are commonly found on the coast of Indonesia. However, although mangrove are rich in nutrients and antioxidants, they have not been widely used as consumer goods. Product development from mangrove fruits as raw materials is required, including analog coffee made from the mangrove fruit of Rhizophora sp. and Sonneratia sp. The purpose of this study was to determine the proximate levels, antioxidants and consumer preferences through hedonic testing of each mangrove coffee production. Three raw material treatments used in this study were pure commercial ground coffee arabica type (K0) as a control, analog coffee made from the mangrove fruit Rhizophora sp. (K1), and Sonneratia sp. (K2). The results showed that the percent moisture content was in the range of 3.33-7.31% and the ash content was in the range of 2.57-3.16% of the two parameters, both samples (K1 and K2) had meets the standard SNI for coffee. 01-3542-2004. While the fat content is 9.06% - 12.6% and the protein content 7.09-11.59% of the two parameters, the highest value was achieved with the K2 treatment. Based on the antioxidant activity test in % of the inhibitory units, the percentage results were between 61.63-77.15% with the highest value K2 achieved. Based on the hedonic test, the preference for color (neutral-like), aroma (like), taste (like), texture (like). Differences in the raw materials used have a significant effect on the aroma and color, while taste and texture do not affect the preference

    Efektivitas Penambahan Serbuk Daun Mangrove (Sonneratia caseolaris) terhadap Kualitas dan Umur Simpan Roti Tawar : The Effectiveness of Adding Mangrove Leaf Powder (Sonneratia caseolaris) on the Quality and Shelf Life of White Bread

    No full text
    Roti tawar merupakan pilihan praktis masyarakat untuk sarapan sebagai alternatif pengganti nasi. Permasalahan terbesar pada roti tawar salah satunya, yaitu mudah mengalami penurunan mutu dikarenakan umur simpan yang pendek sehingga sangat cepat ditumbuhi jamur dan munculnya bau tengik. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperpanjang umur simpan dan kualitas roti tawar adalah penambahan antioksidan alami berupa serbuk daun mangrove (Sonneratia caseolarils). Tujuan penelitian ini menentukan pengaruh penambahan serbuk daun mangrove (SDM) terhadap kualitas dan umur simpan roti tawar. Metode penelitian ini mengikuti Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan yaitu penambahan SDM 0g/100g (kontrol), 0,5g/100g, 1g/100g, 1,5g/100g, 2g/100g, dan 2,5g/100g dengan tiga kali ulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan uji Jarak Nyata Terdekat Duncan (JNTD) pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan SDM secara signifikan meningkatkan Perlakuan SDM 0,5-1,50 g/100g tidak berpengaruh secara signifikan pada volume dan kekerasan roti tawar namun perlakuan SDM 2-2,5g/100g berpengaruh secara signifikan pada volume dan tekstur roti tawar. Penambahan SDM pada roti tawar dapat meningkatkan persen inhibisi antioksidan pada roti tawar. Perlakuan penambahan SDM terbukti efektif dalam mengurangi tingkat akumulasi peroksida dengan perlakuan terbaik pada penambahan SDM 2g/100g yang dapat mengurangi tingkat akumulasi peroksida selama delapan hari masa simpan.  Hal ini dikarenakan penambahan serbuk daun mangrove berpotensi menurunkan laju oksidasi lemak dan meningkatkan peran antioksidan selama masa sinpan roti tawar.White Bread is a practical choice for people for breakfast as an alternative to rice. One of the biggest problems with white bread is that it is easy to experience quality deterioration due to a short shelf life so that mold grows very quickly and the appearance of a rancid smell. One effort that can be done to prevent damage and extend the quality of white bread is the addition of natural antioxidants in the form of mangrove leaf powder (Sonneratia caseolarils). This study aims to determine the effect of adding mangrove leaf powder (SDM) on the quality, antioxidant activity,  and to determine the best addition treatment in reducing the level of peroxide accumulation of white bread. This research method used a completely randomized design (CRD) which consisted of six treatments, namely the addition of SDM 0g/100g (control), 0.5g/100g, 1g/100g, 1.5g/100g, 2g/100g, and 2.5g/ 100g with three replicates. Data were analyzed by ANOVA and Duncan\u27s Closest Real Distance Test (JNTD) at 0.05 level. The results showed that the addition of SDM significantly increased the SDM treatment 0.5-1.50 g/100g did not significantly affect the volume and hardness of white bread but the SDM treatment of 2-2.5g/100g significantly affected the volume and texture of white bread. . The addition of HR in white bread can increase the percentage of antioxidant inhibition in white bread. The addition of SDM was proven to be effective in reducing the level of peroxide accumulation with the best treatment being the addition of 2g/100g of SDM which could reduce the level of peroxide accumulation for eight days of storage. This is because the addition of mangrove leaf powder has the potential to reduce the rate of fat oxidation and increase the role of antioxidants during the shelf life of white bread

    Komposisi Kimia dan Aktivitas Kerang Balelo (Conomurex sp.) dalam Menghambat Enzim α-Glukosidase : Chemical Composition and Activity of Balelo Mussels (Conomurex sp.) in Inhibiting Enzyme α-Glucosidase

    No full text
    Balelo snails, gastropod class use as traditional medicine of society in Derawan island. Several studied showed that gastropod class potential used in pharmaceutical and nutraceuticals field. This study aims to determine chemical properties and investigate antidiabetic activity of Balelo snails. this study divided in to 3 step amely first, chemical characterization of balelo snails (amino acid, fatty acid, mineral and metal composition. Second, extraction process using methanol, etyl acetat, and n-hexan, and the third, determine anti diabetic activity. The highest essential  amino acid of balelo snails was leucine (2.7%) and non essential was glutamic acid (4.22%). Fresh balelo contained 19.20% of fatty acid, 90.60 mg/kg of iron minerals (Fe). Analyze the activity of a- glucosidase inhibition showed that extract balelo snails in methanol, etyl acetate and n hexane did not potential as anti diabetic.Kerang balelo merupakan salah satu kelas gastropoda yang dimanfaatkan masyarakat pulau Derawan sebagai laut pengganti ikan dan obat tradisional dalam penyembuhan penyakit. Pada beberapa penelitian jenis gastropoda potensial sebagai keperluan nutraceutical maupun pharmaceutical. Tujuan penelitian ini yakni mempelajari karakteristik kimia dan menentukan aktivitas antidiabetes dari kerang balelo segar. Metode penelitian terdiri dari tiga tahapan yakni tahap pertama karakterisasi kimia meliputi uji asam amino, asam lemak, mineral dan logam (kalsium, tembaga, besi, selenium, seng, merkuri), tahap kedua ekstraksi menggunakan tiga jenis pelarut (metanol, etil asetat, n-heksana), tahap ketiga penentuan aktivitas antidiabetes kerang balelo segar. Kandungan asam amino esensial tertinggi kerang balelo terdapat pada leusin yakni 2,70%, dan asam amino non esensial tertinggi yakni asam glutamat sebesar 4,22%, kandungan asam lemak kerang balelo segar yakni 19,20%, kandungan mineral tertinggi yakni iron (Fe) sebesar 90,60 mg/kg. Hasil analisis aktivitas inhibisi α-glukosidase kerang balelo menunjukkan bahwa ekstrak metanol, n-heksana dan etil asetat tidak berpotensi sebagai antidiabetes

    Karakteristik Fisikokimia dan Tingkat Penerimaan Konsumen Siomai Udang Metapenaeus monoceros dengan Penambahan Kappaphycus alvarezii: Physicochemical Characteristics and Consumer Acceptance of Shrimp Shumai Metapenaeus monoceros With The Addition of Kappaphycus alvarezii

    No full text
    Siomai merupakan produk kukus yang terbuat dari lumatan daging udang atau ikan dan sayuran dibungkus lembaran pangsit yang disajikan dengan saus kacang. Siomai udang kaya protein namun rendah kandungan serat. Penambahan rumput laut Kappaphycus alvarezii diharapkan dapat memenuhi kekurangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik fisikokimia dan tingkat penerimaan konsumen siomai udang Metapenaeus monoceros dengan penambahan rumput laut K. alvarezii. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan persentase substitusi K. alvarezii terhadap udang M. monoceros yaitu 25, 50, dan 75% serta kontrol (tanpa rumput laut) dengan tiga kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis variannya untuk melihat pengaruh perlakuan yang diberikan, jika memberi pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan Duncan\u27s Multiple Range Test pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan K. alvarezii memengaruhi karakteristik fisikokimia siomai udang. Penambahan K. alvarezii dapat meningkatkan kandungan karbohidrat dan serat kasar, namun menurunkan kadar protein, lemak dan nilai derajat putih siomai udang yang dihasilkan. Perlakuan penambahan K. alvarezii pada siomai dapat meningkatkan tingkat penerimaan konsumen berdasarkan parameter kenampakan dengan nilai mutu 7,33 (suka), tekstur 6,33 (agak suka), aroma 7,77 (sangat suka) dan rasa 7,83 (sangat suka) dari perlakuan terbaik pada konsentrasi 25%.Shumai is a steamed product made from mashed shrimp or fish and vegetables wrapped in a dumpling sheet served with peanut sauce. Shrimp shumai are rich in protein but low in fiber. The addition of Kappaphycus alvarezii seaweed is expected to fulfill this deficiency. This study was aimed to determine the physicochemical characteristics and consumer acceptance of Metapenaeus monoceros shrimp shumai with the addition of K. alvarezii seaweed. This study used a completely randomized design with the percentage treatment of K. alvarezii substitution for M. monoceros shrimp, namely 25, 50, 75% with control (without seaweed) with three replications. The data obtained were analyzed of variance to see the effect of the treatment given, if it had an effect, it was continued with Duncan\u27s Multiple Range Test at a 95% confidence level. The results showed that the addition of K. alvarezii affected the physicochemical characteristics of shrimp dumplings. The addition of K. alvarezii can increase the carbohydrate and crude fiber content, but decrease the protein, fat and whiteness value of the resulting shrimp shumai. The addition of K. alvarezii treatment can increase the level of consumer acceptance based on appearance parameters with a quality value of 7.33 (like), texture 6.33 (slightly like), aroma 7.77 (very like) and taste 7.83 (very like) from the best treatment at a concentration of 25%

    455

    full texts

    814

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇