Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Anti-breast cancer bioactive compounds and in-silico molecular prediction of Crassostrea angulata (Lamarck, 1819): Prediksi senyawa bioaktif antikanker payudara dan molekuler in-silico Crassostrea angulata (Lamarck, 1819)
Kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di Indonesia. Bioprospeksi senyawa bioaktif dari organisme laut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi pencegahan kanker payudara. Crassostrea angulata merupakan salah satu spesies tiram laut yang biasa dikonsumsi dan memiliki sejarah etnomedik di kalangan masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi senyawa bioaktif antikanker dari ekstrak metanol C. angulata menggunakan analisis in-silico. Identifikasi senyawa aktif C. angulata menggunakan LC-HRMS melalui pendekatan molecular docking dengan mengombinasikan program-program KNApSAcK, CLC-Pred, SEA, STRING, PubChem, UniProt, PyMOL, PyRx, and PoseView. Hasil penelitian menunjukkan 12 senyawa aktif antikanker pada C. angulata, namun hanya 2 senyawa antikanker payudara (Flufenamic Acid, FA dan Hymenamide C, HC). Hasil molecular docking menunjukkan bahwa binding affinity yang kuat antara senyawa aktif Flufenamic Acid (FA) dengan protein target kanker payudara (CSF1R, PLK4, MKNK2, dan ABL1) dan senyawa Hymenamide C (HC) dengan protein target kanker payudara (GRB2 dan OXTR). Senyawa bioaktif FA menunjukkan nilai RMSD yang lebih rendah (mendekati 0Å) dengan ligan asli dari masing-masing protein target. FA memiliki potensi sebagai senyawa antikanker payudara yang lebih baik dari HC. Senyawa FA dan HC berpotensi sebagai penghambat protein target kanker payudara, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut terutama untuk penggunaan senyawa tersebut pada manusia.Breast cancer is the second leading cause of death in Indonesia. Bioprospecting bioactive compounds from marine organisms is expected to be one of the solutions for breast cancer prevention. Crassostrea angulata is one of the species of sea oysters that is commonly consumed, and it has an ethnomedical history among Indonesian people for decades. The aim of this study is to use in silico analysis to find out how well bioactive compounds from C. angulata methanol extract can fight breast cancer. To find compounds that work in C. angulata, LC-HRMS and a molecular docking method that mixed KNApSAcK, CLC-Pred, SEA, STRING, PubChem, UniProt, PyMOL, PyRx, and PoseView were used. The result showed at least 12 active anti-cancer compounds in C. angulata, but only 2 of them are anti-breast cancer compounds (Flufenamic Acid, FA, and Hymenamide C, HC). Molecular docking results showed a strong binding affinity between the active compound Flufenamic Acid (FA) with its breast cancer target proteins (CSF1R, PLK4, MKNK2, and ABL1) and the Hymenamide-C (HC) compound with its breast cancer target proteins (GRB2 and OXTR). FA bioactive compounds also showed lower RMSD values (close to 0 Å) with native ligands for each target protein. FA has the potential to be a better anti-breast cancer compound than HC. However, these two compounds still hold potential as inhibitors of breast cancer target proteins, and further research on marine bio-natural products for human use is necessary
Prevalence of bacterial contamination on seafoods products collected from traditional fish market in Bali Province during 2023: Prevalensi kontaminasi bakteri pada produk hasil ikan laut yang dikumpulkan dari pasar ikan tradisional di Provinsi Bali selama tahun 2023
Seafood provides essential nutrients beneficial for human health; however, it is highly vulnerable to harmful bacterial infections that pose significant public health risks. This research seeks to assess the prevalence of five categories of seafood obtained from various traditional fish markets in Bali Province. A total of 108 tuna samples, 78 pelagic fish samples, 37 cephalopod samples, 14 sardine samples, and 53 demersal fish samples were collected from various traditional markets in Bali Province. This research evaluated the prevalence of E. coli, coliforms, Salmonella, V. cholerae, and V. parahaemolyticus. The study revealed that the highest prevalence of E. coli, coliform, and V. parahaemolyticus contamination in tuna samples was 95 (87%), 95 (87%), and 103 (95%), respectively. The study indicated that E. coli and coliforms were present in 73 of the 78 pelagic fish samples, representing 93% contamination. Sardine samples exhibited the lowest prevalence of bacteria. All seafood samples, however, tested negative for Salmonella and V. cholera. PCR products from E. coli and V. parahaemolyticus isolates were effectively amplified for the target genes utilized in this study. Local seafood markets should adopt appropriate handling and storage practices to enhance seafood quality. This study emphasizes the significant presence of E. coli, coliforms, and V. parahaemolyticus in seafood, along with the potential health risks posed by specific strains and their antibiotic resistance.Makanan laut merupakan sumber zat gizi penting yang menunjang kesehatan manusia, namun sangat rentan terhadap infeksi bakteri berbahaya yang menimbulkan masalah serius bagi kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi 5 kelompok makanan laut yang dikumpulkan dari pasar ikan tradisional di Provinsi Bali. Sampel makanan laut berupa 108 sampel ikan tuna, 78 sampel ikan pelagis, 37 sampel sefalopoda, 14 sampel ikan sarden dan 53 sampel ikan demersal dikumpulkan dari berbagai pasar tradisional di Provinsi Bali. Prevalensi (%) E. coli, coliform, Salmonella, V. cholerae, dan V. parahaemolyticus dinilai dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kontaminasi E. coli, coliform dan V. parahaemolyticus tertinggi ditemukan pada sampel ikan tuna masing-masing sebesar 95 (87%), 95 (87%), dan 103 (95%). Selanjutnya, pada sampel ikan pelagis, 73 dari 78 sampel (93%) ditemukan terkontaminasi E. coli dan coliform. Prevalensi bakteri terendah ditunjukkan pada sampel ikan sarden. Namun, Salmonella dan V. cholerae tidak terdeteksi (hasil negatif) pada semua sampel makanan laut tersebut. Produk PCR dari isolat E. coli dan V. parahaemolyticus beramplifikasi dengan baik pada gen target yang digunakan dalam penelitian ini. Upaya peningkatan kualitas makanan laut dapat dilakukan melalui praktik penanganan dan penyimpanan yang tepat dan harus diterapkan di pasar makanan laut lokal. Penelitian ini menyoroti prevalensi E. coli, coliform, dan V. parahaemolyticus yang meluas pada makanan laut serta potensi bahwa strain tertentu dan resistensinya terhadap antibiotik dapat mengancam kesehatan manusia
Peningkatan tekstur produk berbasis protein ikan dengan polifenol dari daun zaitun (Olea europaea L.): Improved textural properties of fish protein product with olive (Olea europaea L.) leaf polyphenol
Polifenol dari bahan alam misalnya tanaman telah banyak digunakan untuk meningkatkan tekstur bahan dan produk pangan. Daun zaitun mengandung polifenol yang sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pakan dengan penambahan daun zaitun terhadap struktur protein daging dan sifat fisik gel surimi. Ikan dipelihara terpisah berdasarkan pakan (kontrol, penambahan daun zaitun dan penambahan ekstrak daun zaitun). Karakteristik fisik surimi gel yang ditambahkan tepung daun zaitun (TDZ) dan tepung ekstrak daun zaitun (TEDZ) ditentukan melalui pengukuran kekerasan dan kekenyalan. Ikan yang diberi pakan daun zaitun selama 14 hari mengandung kolagen larut asam 1,1 kali lebih tinggi dibanding daging ikan yang diberi pakan tanpa daun zaitun. Kekerasan gel surimi dengan penambahan TDZ meningkat 38% dan penambahan tepung TEDZ 23%. Kekenyalan gel surimi yang ditambahkan TDZ, yaitu 1,52 kali lebih tinggi dibandingkan dengan gel surimi tanpa penambahan daun zaitun, sedangkan gel yang ditambahkan TEDZ memiliki kekenyalan 1,48 kali lebih tinggi dibandingkan gel surimi tanpa penambahan daun zaitun. Pemberian pakan dengan tambahan daun zaitun mampu memperbaiki tekstur daging melalui peningkatan kuantitas protein kolagen. Penambahan daun zaitun pada surimi terbukti mampu meningkatkan sifat fisik gel yang dihasilkan. Polyphenols from natural materials such as plants have been widely used to improve the texture of ingredients and food products. Olive leaves have a very high polyphenol content. This study aims to determine the effect of feeding with the addition of olive leaves on the protein structure of meat and the physical properties of surimi gel. Fish were kept separately based on feed (control, olive leaf addition, and olive leaf extract addition). Physical characteristics of surimi gel added with olive leaf meal (TDZ) and olive leaf extract meal (TEDZ) were determined by measuring hardness and chewiness. Fish fed olive leaf meal for 14 days had 1.1 times higher acid-soluble collagen content than fish meat fed without olive leaf meal. The hardness of surimi gel with the addition of TDZ increased by 38%, and the addition of TEDZ flour increased by 23%. The suppleness of the surimi gel added with TDZ was 1.52 times higher than the surimi gel without the addition of olive leaves, while the gel added with TEDZ had a suppleness 1.48 times higher than the surimi gel without the addition of olive leaves. Feeding with additional olive leaves can improve meat texture through increasing the quantity of collagen protein. Research has shown that adding olive leaves to surimi enhances the physical properties of the resulting gel. 
Pemanfaatan insang ikan tuna (Thunnus sp.) dan lemuru (Sardinella lemuru) sebagai bahan baku pengolahan keripik: Utilization of tuna (Thunnus sp.) and Bali sardinella (Sardinella lemuru) fish gills as raw materials for chips processing
Insang merupakan hasil samping perikanan bernilai rendah namun kandungan gizi tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, yaitu keripik. Mengingat insang berfungsi sebagai penyaring zat kimia (logam berat), maka aspek keamanan pangan menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan karakteristik insang ikan tuna dan lemuru dalam kondisi segar dan beku sebagai bahan baku keripik, berdasarkan kandungan proksimat, cemaran logam berat, mikrobiologi, dan tingkat penerimaan konsumen. Penelitian menggunakan empat perlakuan, yakni insang dari tuna segar, tuna beku, lemuru segar, dan lemuru beku (duplo). Analisis proksimat meliputi kadar abu, air, lemak dan protein. Analisis logam berat meliputi Hg, Pb dan Cd. Analisis mikrobiologi terdiri atas TPC, E. coli, Salmonella sp., dan V. cholerae. Tingkat penerimaan konsumen menggunakan uji hedonik dengan parameter ketampakan, aroma, rasa, tekstur, aftertaste dan keseluruhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa insang ikan memiliki kadar protein 14,15–17,62%, lemak 1,61–5,79%, air 65,36–69,19%, dan abu 10,81–14,93%. Pengolahan insang menjadi keripik menghasilkan kadar protein 8,04–9,52%, kadar lemak 19,33–26,75%, kadar air 4,12–4,67%, dan kadar abu 4,66–6,19%. Keripik insang lemuru segar mengandung lemak tertinggi (26,75%) dan keripik tuna beku memiliki protein tertinggi (9,52%). Kandungan logam berat pada insang berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan SNI 7387:2009, dengan kadar Hg 0,01 ppm, Pb 0,02–0,15 ppm, dan Cd 0,02–0,05 ppm. Kandungan mikrobiologi menunjukkan seluruh keripik insang aman dikonsumsi. Analisis hedonik oleh panelis terlatih menunjukkan keripik insang sangat disukai, dengan skor keseluruhan di atas 8,00 dan keripik insang tuna beku memperoleh skor rasa tertinggi (8,90).Fish gills are low-value by-products of the fisheries industry; however, they are rich in nutrients and have the potential to be developed into value-added products, such as chips. However, as gills act as filters for chemical substances, including heavy metals, food safety is a critical concern. This study aimed to evaluate and compare the characteristics of tuna and Bali sardinella gills in fresh and frozen conditions as raw materials for chips in terms of proximate composition, heavy metal content, microbiological safety, and consumer acceptance. Four treatments were tested: fresh and frozen gills from both tuna and Bali sardinella (duplicates). Proximate analysis included moisture, ash, fat, and protein; heavy metals analysed were Hg, Pb, and Cd. Microbiological tests included total plate count (TPC), Escherichia coli, Salmonella sp., and Vibrio cholerae. Consumer acceptance was evaluated using a hedonic test based on sensory attributes. Raw gills contained 14.15–17.62% protein, 1.61–5.79% fat, 65.36–69.19% moisture, and 10.81–14.93% ash. After processing, the protein content decreased to 8.04–9.52%, whereas the fat content increased to 19.33–26.75%. Moisture and ash also declined to 4.12–4.67% and 4.66–6.19%, respectively. Fresh Bali sardinella gill chips had the highest fat content (26.75%), whereas frozen tuna gill chips had the highest protein content (9.52%). Heavy metal levels remained below the limits set by SNI 7387:2009, and all microbiological parameters complied with the food safety standards. Hedonic testing showed high consumer acceptance, with all products scoring above 8.00 overall, and the highest taste score (8.90) was recorded for frozen tuna gill chips
Effect of pulsed electric field on the number and cell membrane of Vibrio parahaemolyticus in salted squid: Pengaruh medan listrik berdenyut terhadap jumlah total dan membran sel Vibrio parahaemolyticus pada cumi asin
Cumi-cumi rentan terhadap kontaminasi bakteri Vibrio parahaemolyticus dengan prevalensi 80%. Pengawetan cumi-cumi umumnya dilakukan dengan cara pengeringan setelah penggaraman air garam, dengan pertumbuhan V. parahaemolyticus tidak selalu terhenti. Pengurangan jumlah bakteri, biasanya dilakukan proses perebusan sebelum pengeringan. Penelitian ini bertujuan menentukan medan listrik dan lama waktu terbaik untuk menonaktifkan V. parahaemolyticus serta mengevaluasi efektivitas teknologi pulsed electric fields (PEF) pada cumi asin. Spesifikasi teknologi PEF yang digunakan, yaitu kuat arus 2 ampere dengan medan listrik (3,5; 7; dan 10,5 kV/cm) dan lama waktu (10, 20, dan 30 detik). Pengurangan bakteri oleh medan listrik diamati dengan penghitungan koloni, dilanjutkan dengan penghitungan sel yang mati menggunakan flow cytometer, sedangkan kerusakan bakteri diamati dengan pemindaian mikroskop elektron. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PEF dengan intensitas tertinggi (10,5 kV/cm selama 30 detik) dapat mengurangi V. parahaemolyticus sebesar 66,12% pada tingkat kontaminasi yang tinggi (sekitar 106 CFU/g) dan 97,63% pada tingkat kontaminasi yang rendah (sekitar 102 CFU/g) pada cumi-cumi asin. Hasil ini sebanding dengan perlakuan perebusan (2 menit, 85°C). Kerusakan pada membran sel bakteri meningkat karena meningkatnya medan listrik, yang diamati dengan meningkatnya sel berpendar merah dengan flowcytometry dan kerusakan sel dengan SEM. Pulsed electric fields adalah teknologi alternatif yang menjanjikan untuk produksi cumi asin.Squid are susceptible to bacterial contamination by Vibrio parahaemolyticus, with a prevalence of 80%. Squid preservation is generally achieved by drying after brine salting, which does not always completely stop the growth of V. parahaemolyticus. To reduce bacterial numbers, a boiling process is usually conducted before drying. This study aimed to determine the optimal electric field and duration for inactivating V. parahaemolyticus and evaluating the effectiveness of pulsed electric fields (PEF) technology on salted squid. PEF technology specifications with a current strength of 2 amperes using electric fields (3.5, 7, and 10.5 kV/cm) and time durations (10, 20, and 30 s). Bacterial reduction by electric fields was observed using colony counts, followed by counting of dead cells using a flow cytometer. Bacterial damage was observed using a scanning electron microscope. The results showed that PEF with the highest intensity (10.5 kV/cm for 30 s) reduced V. parahaemolyticus by 66.12% at high contamination levels (approximately 106 CFU/g) and 97.63% at low contamination levels (approximately 102 CFU/g) in salted squid. These results were comparable to those obtained after boiling treatment (2 min, 85°C). Damage to the bacterial cell membrane increased due to the increasing electric field, as observed by increasing in red fluorescing cells by flow cytometry and cell damage by SEM. PEF is a promising alternative technology for producing salted squid
Sustainable production of lutein from microalgae C. vulgaris: Isolation, characterization, and antioxidant potential : Produksi lutein berkelanjutan dari mikroalga C. vulgaris: Isolasi, karakterisasi, dan potensi antioksidan
Lutein merupakan pigmen karotenoid yang memiliki potensi antioksidan tinggi serta manfaat kesehatan, yaitu mencegah penyakit mata, melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV, dan menurunkan risiko kanker. Selama ini, bunga gemitir menjadi sumber utama lutein, namun produksinya masih terbatas oleh faktor musiman, iklim, biaya tenaga kerja yang tinggi, dan kebutuhan lahan yang luas. Chlorella vulgaris menawarkan alternatif yang lebih unggul dengan laju pertumbuhan tinggi, kebutuhan lahan dan air yang lebih rendah, serta ketersediaan sepanjang tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi lutein dari Chlorella vulgaris, serta mengevaluasi karakterisasi dan aktivitas antioksidan dari senyawa hasil isolasi. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental deskriptif melalui tahap (1) maserasi, (2) saponifikasi, (3) identifikasi, (4) isolasi, (5) karakterisasi hasil isolasi lutein, dan (6) uji aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses maserasi menghasilkan rendemen lutein sebesar 8,01%, sedangkan tahap saponifikasi menghasilkan kandungan lutein sebesar 24,37%. Berdasarkan kromatografi kolom, fraksi ketiga teridentifikasi sebagai lutein yang dikonfirmasi melalui analisis FTIR, dengan ditemukannya gugus fungsi alkenil, alkil, alkena, aromatik (C=C), (C−H), dan hidroksil (−OH). Isolat lutein menunjukkan nilai warna kuning sebesar 66,79 dan hue angle sebesar 88,65, sesuai dengan karakteristik warna lutein. Uji antioksidan menunjukkan nilai IC50 sebesar 62,54 ppm, yang mengindikasikan aktivitas antioksidan yang kuat. Dengan demikian, Chlorella vulgaris berpotensi sebagai sumber alternatif lutein yang menjanjikan dengan aktivitas antioksidan yang tinggi.Lutein is a carotenoid pigment with significant antioxidant potential and health benefits, including the prevention of eye diseases, protection of the skin from UV damage, and reduction of cancer risk. Currently, marigold flowers are the primary source of lutein production. However, its production is limited by seasonal and climatic dependencies, high labor costs and extensive land use. Chlorella vulgaris is a viable alternative with higher growth rates, reduced land and water requirements, and year-round availability. This study aimed to isolate lutein from Chlorella vulgaris and evaluate its characteristics and antioxidant properties. The method used was a descriptive experimental design consisting of several stages: (1) maceration, (2) saponification, (3) identification, (4) isolation, (5) characterization of lutein isolation results, and (6) antioxidant activity assessment. The results showed that maceration yielded 8.01% lutein, whereas saponification yielded 24.37%. Column chromatography identified the third fraction as lutein, which was confirmed by FTIR analysis, revealing alkenyl, alkyl, alkene, aromatic (C=C), (C−H), and hydroxyl (−OH) groups. The isolate exhibited a yellow value of 66.79 and a hue angle of 88.65, which is consistent with the characteristic color of lutein. Antioxidant testing revealed an IC50 value of 62.54 ppm, indicating strong antioxidant activity. In conclusion, Chlorella vulgaris is a promising alternative source of lutein with potent antioxidant properties
Karakteristik produk body lotion dari nanopartikel kitosan dan alginat (Sargassum sp.): Karakteristik produk body lotion dari nanopartikel kitosan dan alginat (Sargassum sp.)
Chitosan and alginate have great potential in the cosmetics industry; therefore, both were processed into chitosan alginate nanoparticles and added to body lotion formulas to increase their effectiveness. This study aimed to investigate the effect of chitosan alginate nanoparticles on the characteristics and antioxidant activity of body lotions. Body lotion formulas with additional concentrations of 0, 1, 2, and 3 g of chitosan alginate nanoparticles. This study used a completely randomized design (CRD) with chitosan alginate nanoparticle concentrations of 0, 1, 2, and 3 g. The body lotion appeared homogeneous, with no clumped particles. The characteristics of body lotion with the addition of chitosan-alginate nanoparticles are viscosity of 4596.73-6931.77 cps, spreadability of 52.4-68.9 cm, and pH value of 6.00-6.98 which are in accordance with body lotion standards. The antioxidant activity was 19.82-21.59 µM Fe². The addition of chitosan-alginate nanoparticles with particle sizes of 100-500 nm to body lotion increased the antioxidant activity.Kitosan dan alginat berpotensi dalam industri kosmetik sehingga keduanya diolah menjadi nanopartikel dan ditambahkan ke formula body lotion untuk meningkatkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh penambahan nanopartikel kitosan alginat berdasarkan karakteristik dan aktivitas antioksidan body lotion. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), yaitu konsentrasi tambahan nanopartikel kitosan alginat 0, 1, 2, dan 3 g. Kitosan yang ditambahkan dan nanopartikel alginat tidak mengubah karakteristik sensoris. Body lotion tampak homogen karena tidak ada partikel yang menggumpal. Karakteristik body lotion dengan penambahan nanopartikel kitosan-alginat, yaitu viskositas 4596,73-6931,77 cps, daya sebar 52,4-68,9 cm, dan nilai pH 6,00–6,98 yang sesuai dengan standar body lotion. Aktivitas antioksidan, yaitu 19,82-21,59 µM Fe²⁺/g. Penambahan nanopartikel kitosan-alginat dengan ukuran partikel 100-500 nm ke dalam body lotion meningkatkan aktivitas antioksidan
Characterization and phytochemical compounds identification of yoghurt with the addition of carrageenan and Spirulina sp.: Karakterisasi dan identifikasi senyawa fitokimia yoghurt dengan penambahan karagenan dan Spirulina sp.
Yoghurt merupakan produk fermentasi susu dengan bakteri asam laktat misalnya Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Karagenan ditambahkan sebagai stabilizer yang dapat memperbaiki tekstur dan kestabilan yoghurt, sedangkan Spirulina sp. kaya akan senyawa bioaktif, yaitu protein, asam amino, dan antioksidan yang berpotensi meningkatkan nilai gizi dan aktivitas fungsional yoghurt. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi karaginan dan Spirulina sp. pada yoghurt berdasarkan karakteristik fisikokimia. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (karagenan + Spirulina sp.) yaitu P0 (0,00% + 0,00%); P1 (0,01% + 0,03%); P2 (0,03% + 0,05%); dan P3 (0,05% + 0,07%) dilakukan tiga kali ulangan. Hasil analisis menunjukkan perlakuan terbaik, yaitu yoghurt 0,05% karagenan + 0,07% Spirulina sp. dengan pH 4,0; TAT 0,9%; BAL 9,3 log CFU/mL; serta kandungan air tinggi (89,59%). Yoghurt mengandung abu (0,78%), lemak (0,94%), dan energi (43,22 Kcal/100 g) lebih rendah dibanding yoghurt komersial. Kandungan protein yoghurt ini 3,65%, sedangkan yoghurt komersial 3,63%. Yoghurt dengan penambahan karagenan dan Spirulina sp. memenuhi standar mutu yoghurt berdasarkan SNI 2981:2009. Identifikasi senyawa fitokimia menunjukkan adanya senyawa terpenoid, yang memiliki aktivitas antioksidan dan berperan dalam menangkal radikal bebas. Yoghurt ini berpotensi sebagai produk pangan fungsional rendah lemak dan energi untuk mendukung gaya hidup sehat.Yoghurt is a fermented milk product containing lactic acid bacteria, such as L. bulgaricus and S. thermophilus. Carrageenan is added as a stabilizer to improve the texture and stability of yoghurt, while Spirulina sp. is rich in bioactive compounds, such as proteins, amino acids, and antioxidants, that can enhance the nutritional and functional properties of the product. This study aimed to determine the formulation of carrageenan and Spirulina sp. in yoghurt based on physicochemical characteristics. The study used a completely randomized design (CRD) with four treatments (carrageenan + Spirulina sp.): P0 (0.00% + 0.00%), P1 (0.01% + 0.03%), P2 (0.03% + 0.05%), and P3 (0.05% + 0.07%) with three replicates. The analysis results showed that the best treatment was yoghurt with 0.05% carrageenan and 0.07% Spirulina sp. with pH 4.0, TAT 0.9%, LAB 9.3 log CFU/mL, and high water content (89.59%). The yoghurt contained lower ash (0.78%), fat (0.94%), and energy (43.22 Kcal/100 g) than commercial yoghurt. The protein content of this yoghurt was 3.65%, while that of commercial yoghurt was 3.63%. Yoghurt with the addition of carrageenan and Spirulina sp. met the quality standards based on SNI 2981:2009. Identification of phytochemical compounds showed the presence of terpenoid compounds, which have antioxidant activity and play a role in warding off free radicals from the body. This yoghurt has the potential to be a functional food product that is low in fat and energy and supports a healthy lifestyle
Pertumbuhan Morganella morganii pada cakalang dengan kondisi penyimpanan berbeda dan deteksi histamin metode TLC: Pertumbuhan Morganella morganii pada cakalang dengan kondisi penyimpanan berbeda dan deteksi histamin metode TLC
Morganella morganii, a strong histamine-producing bacterium (HPB), has been frequently detected in seafood, such as skipjack tuna. Temperature fluctuations and improper packaging have resulted in bacterial proliferation and histamine production. This study aimed to determine the effects of different packaging and temperature conditions on M. morganii growth and to examine histamine formation in skipjack tuna. A factorial design with two factors, namely packaging type (vacuum and non-vacuum) and storage temperature (4, 15, 30, and 40°C), was used in this study. The bacterial growth model over time was analyzed using DMFit software. Histamine production was analyzed using thin-layer chromatography (TLC) combined with ImageJ program visualization. The results indicated that different temperatures significantly affected the bacterial growth rate (p < 0.05). The application of vacuum packaging at 4 °C retarded histamine formation in skipjack tuna cubes. The highest growth rate (0.2652 log CFU-1h-1) was observed in samples under non-vacuum packaging stored at 40 °C. M. morganii. At 15 °C, a 3 to 4 log increase was observed, starting from 3.2 to 7.5 (vacuum packaging) and from 5.8 to 8.3 log CFU-1 mL-1 (non-vacuum packaging) at the end. Nevertheless, the production of histamine in vacuum-packed samples stored at 15°C after days 3 and 4 of incubation were 446 ppm and 443.5 ppm, respectively. These findings highlight the importance of proper packaging of skipjack tuna using a cold chain system during storage. This study also confirmed the potential application of TLC for the detection of histidine and histamine.Morganella morganii sebagai bakteri penghasil histamin yang kuat sering kali terdeteksi pada hasil perikanan, misalnya cakalang. Faktanya, fluktuasi suhu dan pengemasan yang buruk menyebabkan peningkatan pertumbuhan bakteri dan produksi histamin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kondisi pengemasan dan suhu terhadap pertumbuhan M. morganii dan menghitung pembentukan histamin pada daging cakalang. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial dengan dua faktor meliputi jenis kemasan (vakum dan non-vakum) dan suhu penyimpanan (4, 15, 30, dan 40°C). Model pertumbuhan bakteri dianalisis menggunakan program DMFit. Produksi histamin dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis (TLC) yang divisualisasikan dengan program ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berbeda secara signifikan memengaruhi laju pertumbuhan bakteri (p < 0,05). Pengemasan vakum dengan kombinasi penyimpanan suhu 4°C mampu menghambat pembentukan histamin pada daging cakalang. Laju pertumbuhan tertinggi (0,2652 log CFU-1h-1) diamati pada sampel dalam kemasan udara suhu penyimpanan 40°C. Pada suhu 15 °C, peningkatan jumlah bakteri sebesar 3 hingga 4 log ditunjukkan pada sampel kemasan vakum (3,2 –7,5 log CFU-1 mL-1) dan sampel kemasan udara (5,8 – 8,3 log CFU-1 mL-1). Namun, produksi histamin pada sampel vakum dengan penyimpanan suhu 15°C memiliki kadar histamin tinggi setelah 3 dan 4 hari penyimpanan dengan konsentrasi masing-masing sebesar 446 dan 443,5 ppm. Temuan ini menyoroti pentingnya kemasan yang sesuai pada cakalang perlu diaplikasikan bersama dengan sistem rantai dingin selama penyimpanan. Studi ini juga mengonfirmasi potensi aplikasi TLC untuk deteksi pembetukan histidine dan histamin
Effect of sulfuric acid treatment in cellulose nanocrystals extraction from Sargassum sp. seaweed: Efek perlakuan asam sulfat pada ekstraksi selulosa nanokristal dari rumput laut Sargassum sp.
Sargassum sp. adalah jenis rumput laut cokelat yang banyak ditemukan di perairan tropis, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Kandungan selulosa yang tinggi dalam Sargassum sp. dapat digunakan untuk menghasilkan selulosa nanokristal (CNC). CNC dapat digunakan sebagai bahan nano penguat bionanokomposit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi asam sulfat yang optimum untuk mengekstraksi nanokristal selulosa dari Sargassum sp. CNC dari Sargassum sp. diekstraksi menggunakan metode hidrolisis asam dan sonikasi. Variasi konsentrasi asam sulfat pada proses ekstraksi CNC, yaitu 30, 40, 50, dan 60%. Karakterisasi CNC dilakukan menggunakan spektroskopi inframerah (FTIR), difraksi sinar-X (XRD), dan analisis termogravimetri (TGA). Analisis FTIR mengonfirmasi keberadaan puncak gugus fungsi khas CNC, termasuk C–O–C (\~1160 cm⁻¹), C–O (\~1050–1030 cm⁻¹), dan C–H β-(1→4)-glikosidik (\~897 cm⁻¹) sebagai sidik jari CNC. Hal ini menunjukkan bahwa CNC yang diekstraksi melalui hidrolisis asam sulfat memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan bahan baku Sargassum sp. Selain itu, hasil XRD menunjukkan bahwa hidrolisis asam berpengaruh pada berkurangnya daerah amorf pada CNC. Analisis XRD menunjukkan tingkat CNC tertinggi sebesar 77,6% pada hidrolisis asam sulfat 40%. Analisis termal menggunakan TGA dan DTG menunjukkan bahwa CNC yang diproses dengan hidrolisis asam sulfat 40% menghasilkan CNC dengan stabilitas termal yang meningkat, menunjukkan suhu dekomposisi termal sebesar 369,60 °C. CNC yang diisolasi dari Sargassum sp. berpotensi sebagai bahan pembuatan nanokomposit dalam berbagai aplikasi, misalnya bidang farmasi, pengemasan makanan, dan biomedis.Sargassum sp. is a type of brown seaweed often found in tropical waters, but it has not been optimally used. The high cellulose content of Sargassum sp. can be used to produce cellulose nanocrystals (CNC). CNC can act as a bionanocomposite-reinforced nanomaterial. This study aimed to determine the most effective sulfuric acid concentration for extracting cellulose nanocrystals from Sargassum sp. CNC was extracted from Sargassum sp. using acid hydrolysis and sonication. The sulfuric acid concentration was varied to 30, 40, 50, and 60%. CNC was characterized using Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray diffraction (XRD), and thermogravimetric analysis (TGA). FTIR analysis confirmed the presence of characteristic CNC functional group peaks, including C–O–C (~1160 cm⁻¹), C–O (~1050–1030 cm⁻¹), and β-(1→4)-glycosidic C–H (~897 cm⁻¹) as the CNC fingerprint. The FTIR findings indicated that the CNC extracted by sulfuric acid hydrolysis differed significantly from the raw Sargassum sp. material. Additionally, the XRD results showed that acid hydrolysis substantially affected the amorphous regions of cellulose. With 40% acid hydrolysis, the XRD analysis showed the highest CNC degree of 77.6%. Thermal analysis using TGA and DTG revealed that cellulose nanocrystals treated with 40% acid hydrolysis yielded CNC with enhanced thermal stability, exhibiting a maximum thermal decomposition temperature of 369.60°C. CNC isolated from Sargassum sp. cellulose has the potential to serve as a suitable source for manufacturing nanocomposites in various applications, such as pharmaceuticals, food packaging, and biomedical fields