Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    814 research outputs found

    Pengaruh metode pengemasan ikan tongkol asap guna menghambat kemunduran mutu pada suhu ruang: Packaging method effect of smoked skipjack tuna to inhibit quality deterioration at room temperature

    No full text
    Ikan asap merupakan salah satu produk olahan perikanan yang digemari karena rasanya khas dan aromanya yang sedap spesifik. Proses pengasapan menggunakan teknik konvensional memiliki umur simpan yang lebih pendek. Penjualan ikan asap tanpa pengemasan memungkinkan terpaparnya mikrob dan kapang kontaminan yang dapat memengaruhi mutunya. Pengemasan dengan metode modified atmosphere packaging (MAP) dan pengemasan plastik vakum merupakan upaya memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu ikan asap. Tujuan penelitian ini, yaitu menentukan metode pengemasan dan lama waktu penyimpanan terbaik ikan tongkol (Euthynus affinis) asap yang disimpan pada suhu ruang. Metode eksperimen rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dilakukan pada penelitian ini dengan variabel perlakuan metode pengemasan plastik nonvakum, vakum, dan MAP) serta lama waktu penyimpanan (hari ke-0, 1, 2, dan 3). Hasil uji mutu ikan asap yang diproduksi pada sentra pengasapan ikan bengkorok bakteri (Salmonella spp., S. aureus, E. coli) dan benzo[a]piren memenuhi standar SNI 2725:2013. Hasil analisis histamin pada setiap perlakuan selama penyimpanan sesuai standar SNI ikan asap, yaitu ≤100 mg/kg dengan nilai terendah pada metode pengemasan MAP, yaitu 52,32 mg/kg. Hasil analisis kimia dan mikrob pada pengemasan MAP dan plastik vakum hingga hari terakhir penyimpanan memenuhi standar SNI 2725:2013, kadar air < 60%, log total mikrob < 4,7 log CFU/g, dan log total kapang < 2 log CFU/g.Smoked Tongkol fish is one of the products favored by tourists as a souvenir of Prigi Beach, Trenggalek. Sales of smoked fish at Prigi Beach are only placed on wooden display cases without packaging, so there is a high possibility of exposure to microbial and mold contaminants that can affect its quality. Packaging with the Modified Atmosphere Packaging (MAP) method and vacuum plastic packaging are ways to extend shelf life and maintain quality. The purpose of this study was to compare vacuum and MAP packaging methods to extend the shelf life of smoked Tongkol (Euthynnus affinis) at room temperature. The quality test results of smoked fish produced at the bengkorok fish smoking center include Salmonella spp bacteria, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and benzo(a)pyrene still in accordance with SNI 2725:2013 standards. The best histamine analysis results during storage were 52.32 ± 3.16 mg/kg found in MAP packaging. The results of chemical and microbial analysis on MAP and vacuum plastic packaging until the last day of storage are still in accordance with SNI 2725:2013 standards, moisture content < 60%, log total microbes < 4.7 log CFU/g, and log total mold < 2 log CFU/g. Plastic packaging experienced quality deterioration on day 2 of storage with test values below SNI 2725:2013 standard

    Optimasi pembuatan garam Ulva lactuca menggunakan response surface methodology: Optimization production process of Ulva lactuca salt using response surface methodology

    No full text
    Rumput laut Ulva lactuca merupakan bahan baku potensial dalam pengembangan garam fungsional. Kendala yang dihadapi ialah rendemen yang masih rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kondisi proses optimum pada produksi garam U. lactuca berdasarkan persentase rendemen tertinggi, mutu kimia, dan sensori menggunakan metode Response Surface Methodology dengan desain Box-Behnken (BBD). Metode pembuatan garam rumput laut menggunakan tiga variabel dengan tiga tingkatan, yakni rasio penambahan tepung U. lactuca dan pelarut akuades (A = 1:5, 1:10, 1:15), waktu ekstraksi (B = 10, 15, dan 30 menit), dan suhu ekstraksi (C = 40, 55, dan 70oC). Kombinasi ketiga faktor tersebut menghasilkan 15 percobaan. Model persamaan diuji dengan analisis varian (ANOVA) dengan α = 0.05. Garam U. lactuca hasil optimasi diuji mutu kimia, cemaran logam berat, dan karakteristik sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan optimum dalam menghasilkan rendemen garam rumput laut tertinggi, yakni rasio tepung dan pelarut sebesar 1:13,5, waktu ekstraksi selama 12 menit, dan suhu ekstraksi 70oC. Perlakuan tersebut menghasilkan respons rendemen sebesar 31,81±1,63%, yang memiliki perbedaan 0,82% dibandingkan respons prediksi 31,55%. Garam U. lactuca yang dihasilkan memiliki kadar abu 59,970%, protein 3,586%, lemak 0,25%, karbohidrat 15,46%, dan air 10,49%, kadar NaCl 27,31%, yodium <0,35%, kadmium 0,07 mg/kg, merkuri <0,002 mg/kg, dan timbal 3,6 mg/kg. Nilai respons sensori garam U. lactuca untuk atribut warna butiran, warna larutan, rasa, aroma, mouthfeel, flavor, aftertaste, dan overall berkisar pada rentang 4,2±1,69 (agak tidak suka) hingga 4,8±1,21 (netral).Ulva lactuca seaweed is a potential raw material for the production of functional salts. The obstacle faced was the low yield. The purpose of this study was to determine the optimum process conditions for the production of U. lactuca salt based on the highest yield percentage, chemical quality, and sensory properties using the Response Surface Methodology method with the Box-Behnken (BBD) design. The method of making seaweed salt uses three variables with three levels, namely, the ratio of U. lactuca flour addition and aqueous solvent (A = 1:5, 1:10, 1:15), extraction time (B = 10, 15, and 30 min), and extraction temperature (C = 40, 55, and 70℃). A combination of these three factors resulted in a total of 15 experiments. The equation model was tested using analysis of variance (ANOVA) with α = 0.05. The optimized U. lactuca salt was tested for its chemical quality, heavy metal contamination, and sensory characteristics. The results showed that the optimal treatment for producing the highest seaweed salt yield was flour and solvent ratio of 1:13.5, extraction time of 12 min, and extraction temperature of 70℃. This treatment produced a yield response of 31.81±1.63%, which was a difference of 0.82% compared to the predicted response of 31.55%. The resulting U. lactuca salt had an ash content of 59.97%, protein 3.6%, fat 0.25%, carbohydrate 15.46%, moisture 10.49%, NaCl content 27.31%, iodine <0.35%, cadmium 0.07 mg/kg, mercury <0.002 mg/kg, and lead 3.6 mg/kg. The sensory response value of U. lactuca salt for the attributes of grain color, solution color, taste, aroma, mouthfeel, flavor, aftertaste, and overall ranged from 4.2±1.69 (slightly disliked) to 4.8±1.21 (neutral)

    Karakteristik fisikokimia dan antibakteri losion pembersih tangan yang dibuat dari rumput laut cokelat (Scytosiphon lomentaria): Karakteristik fisikokimia dan antibakteri losion pembersih tangan yang dibuat dari rumput laut cokelat (Scytosiphon lomentaria)

    No full text
    Effective hand hygiene remains essential for reducing the transmission of foodborne and contact pathogens in daily life and in food handling contexts. Scytosiphon lomentaria seaweed has antimicrobial activity that can be applied as a hand sanitizer. This study aimed to determine the best addition of S. lomentaria to hand sanitizers, based on microbial inhibition and its characteristics. Lotion consisted of four treatments: 0 (control), 20, 30, and 40% S. lomentaria. The results showed that S. lomentaria powder contained bioactive polyphenol compounds with a total phenolic content of 117.70±1.40 mg GAE / g dry weight and an IC50 value of 455 ± 3.4 ppm, while lotion with the addition of S. lomentaria contained polyphenols and saponins. The best treatment was shown by S. lomentaria 40% hand sanitizer lotion with E. coli inhibition of 6.30±0.64 mm, S. aureus 6.85±1.12 mm, hedonic test of color, texture and absorption with a level of like to very like, neutral pH, greenish white color, O/W emulsion type, high adhesive power, homogeneous, and easily absorbed by the skin. This study can serve as an alternative reference for making lotions that provide adequate and safe antimicrobial activity for routine hygiene before eating and food handling.Kebersihan tangan yang efektif penting untuk mengurangi penularan patogen penyebab penyakit bawaan makanan dan kontak dalam kehidupan sehari-hari serta konteks penanganan makanan. Rumput laut Scytosiphon lomentaria memiliki aktivitas antimikrob yang dapat diaplikasikan pada hand sanitizer. Penelitian ini bertujuan menentukan penambahan S. lomentaria terbaik pada hand sanitizer berdasarkan penghambatan mikrob, dan karakteristiknya. Perlakuan losion terdiri atas empat macam, yaitu 0 (kontrol), 20, 30, dan 40% S. lomentaria. Hasil menunjukkan serbuk S. lomentaria mengandung senyawa bioaktif polifenol dengan total fenolik 117,70 ±1,40 mg GAE/g berat kering dan nilai IC50 455±3,4 ppm, sedangkan losion dengan penambahan S. lomentaria mengandung polifenol dan saponin. Perlakuan terbaik ditunjukkan oleh losion pembersih tangan S. lomentaria 40% dengan daya hambat E. coli sebesar 6,30±0,64 mm, S. aureus 6,85±1,12 mm, uji hedonik warna, tekstur dan daya serap dengan tingkat suka sampai sangat suka, pH netral, warna putih kehijauan, tipe emulsi O/W, daya lekat tinggi, homogen, dan mudah diserap kulit. Penelitian ini dapat menjadi referensi alternatif dalam pembuatan losion yang memberikan aktivitas antimikrob yang memadai dan aman untuk kebersihan rutin sebelum makan dan penanganan makanan

    Identification of crab (Portunus pelagicus) using field-based DNA extraction method and isothermal amplification: Identification of crab (Portunus pelagicus) using field-based DNA extraction method and isothermal amplification

    No full text
    High crab production encourages the implementation of strict standards for raw materials in canned crab products, particularly regarding labeling errors (i.e., mislabeling). DNA-based identification methods are accurate for species authentication; however, their application in the field remains limited because of laboratory equipment requirements. Therefore, the development of an on-site DNA-based analytical method is essential. This study aimed to design specific primers for Portunus pelagicus using the cytochrome c oxidase subunit I (COI) gene marker and to optimize the amplification time and temperature using the colorimetric loop-mediated isothermal amplification (LAMP) method with DNA isolates obtained from field-based extraction methods. The samples included fresh crabs, canned crab products, and non-target species (Charybdis feriata, Scylla serrata, and Podophthalmus vigil). The methods comprised target species confirmation, primer design and evaluation, and in vitro testing of the P. pelagicus primer set. Primer design resulted in a COI primer set within ideal parameter ranges and high specificity to P. pelagicus based on in-silico analysis. In vitro assays demonstrated that the primers successfully detected P. pelagicus DNA in both fresh and processed samples, with an optimal reaction time of 40–60 min at 65 °C. DNA isolates obtained using dipstick and direct lysis methods were also successfully amplified, indicating that these simple extraction techniques can be applied for on-site detection without loss of sensitivity. These findings demonstrate that the developed primer set is specific to P. pelagicus and that the optimized LAMP method has strong potential as a rapid and portable authentication system for crab raw materials in the field.Produksi rajungan yang tinggi mendorong penerapan standar ketat terhadap bahan baku pada produk rajungan kaleng, terutama terkait kesalahan label (mislabeling). Metode identifikasi berbasis DNA merupakan pendekatan akurat untuk autentikasi spesies, namun pelaksanaan di lapangan masih terbatas karena memerlukan fasilitas laboratorium. Pengembangan metode analisis berbasis DNA yang dapat dilakukan di lapangan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan merancang primer spesifik untuk spesies Portunus pelagicus menggunakan markah gen Cytochrome c Oxidase subunit I (COI) serta mengoptimalkan waktu dan suhu amplifikasi pada metode loop-mediated isothermal amplification (LAMP) kolorimetri dengan isolat DNA dari metode field-based extraction. Sampel yang digunakan terdiri atas rajungan segar, rajungan olahan kaleng, serta spesies non-target Charybdis feriata, Scylla serrata, dan Podophthalmus vigil. Metode yang dilakukan meliputi konfirmasi spesies target, desain dan evaluasi primer, serta uji coba secara in-vitro set primer P. pelagicus. Desain primer menghasilkan satu set primer COI dengan parameter dalam rentang ideal dan spesifisitas tinggi terhadap P. pelagicus berdasarkan analisis in-silico. Uji in-vitro menunjukkan bahwa primer mampu mendeteksi DNA P. pelagicus baik pada sampel segar maupun olahan dengan waktu optimum 40–60 menit pada suhu 65°C. Isolat DNA yang diperoleh melalui metode dipstick dan direct lysis juga dapat teramplifikasi, menunjukkan bahwa metode ekstraksi sederhana tersebut dapat digunakan untuk deteksi lapangan tanpa kehilangan sensitivitas. Hasil ini menunjukkan set primer yang dikembangkan terbukti spesifik untuk P. pelagicus dan metode LAMP yang dioptimalkan berpotensi diterapkan sebagai sistem autentikasi cepat dan portabel untuk bahan baku rajungan di lapangan

    Formulation of toro tuna-based instant porridge with addition of seaweed flour for baby complementary food: Formulasi bubur instan berbasis toro tuna dengan penambahan tepung rumput laut untuk makanan pendamping ASI

    No full text
    The high incidence of malnutrition among children under five in Indonesia underscores the critical need for timely and comprehensive interventions to mitigate its impact. One of the factors contributing to malnutrition in toddlers is a lack of balanced nutrition in complementary food (CF). Fishery commodities such as tuna and seaweed have great potential to be developed into instant complementary food porridge for complementary feeding because they contain amino acids and essential fatty acids that toddlers need for brain and eye development. This research aimed to determine the best formulation for instant MPASI porridge made from toro tuna fish and seaweed flour based on organoleptic assessment, fatty acid profile, and amino acid profile. The complementary food porridge with toro tuna  and seaweed flour consists of four treatments, namely 94%:6%, 88%:12%, 82%:18%, and 76%:24%. The parameters analyzed included sensory tests (appearance, color, taste, and texture), fatty acid profile, and amino acid profile. Based on the research results, the differences in the formula of toro tuna and seaweed flour influence the panelists\u27 level of preference for appearance, smell, and taste parameters. Organoleptic evaluation selected the formula with a ratio of 82%:18% as the best. The dominant fatty acids include palmitic acid (SFA) at 33.68%, oleic acid (MUFA) at 45.95%, and linoleic acid (PUFA) at 1.34%. The dominant essential amino acid is leucine at 1.28%, and the dominant non-essential amino acid is glutamic acid at 1.37%. Toro tuna and seaweed flour can be utilized in the production of instant complementary feeding porridge.Kasus gizi buruk pada balita di Indonesia tergolong tinggi dan perlu segera ditangani dengan baik. Salah satu faktor terjadinya gizi buruk adalah kurangnya asupan makanan dengan gizi seimbang pada makanan pendamping ASI (MPASI). Ikan tuna dan rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bubur MPASI instan karena mengandung asam amino dan asam lemak esensial yang dibutuhkan untuk perkembangan otak dan mata balita. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik bubur MPASI instan dari toro ikan tuna dan tepung rumput laut berdasarkan penilaian organoleptik, profil asam lemak, dan asam amino. MPASI toro ikan tuna dan tepung rumput laut terdiri dari 4 perlakuan, yaitu 94%:6%, 88%:12%, 82%:18%, dan 76%:24%. Parameter yang dianalisis meliputi uji sensori (ketampakan, warna, rasa, dan tekstur), profil asam lemak dan asam amino. Berdasarkan hasil penelitian, perbedaan formula antara toro tuna dan tepung rumput laut berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis pada parameter ketampakan, aroma, dan rasa. Evaluasi organoleptik menetapkan formula dengan rasio 82%:18% sebagai formula terbaik. Asam lemak dominan meliputi asam palmitat (SFA) sebesar 33,68%, asam oleat (MUFA) sebesar 45,95%, dan asam linoleat (PUFA) sebesar 1,34%. Asam amino esensial dominan adalah leusin sebesar 1,28%, sedangkan asam amino non-esensial yang dominan adalah asam glutamat sebesar 1,37%. Toro tuna dan tepung rumput laut dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bubur MPASI instan

    Aktivitas antioksidan dan hedonik teh hijau berbahan baku daun mangrove Avicennia sp. dan Sonneratia sp.: Antioxidant activity and hedonic of green tea made from mangrove leaves Avicennia sp. and Sonneratia sp.

    No full text
    Teh hijau telah lama dikenal sebagai minuman yang memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Daun mangrove berpotensi sebagai bahan baku teh hijau karena memiliki senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesies mangrove terbaik yang berpotensi sebagai teh hijau melalui parameter kimia, antioksidan, dan penilaian hedonik. Teh hijau diproduksi dari daun muda bagian pucuk mangrove Avicennia sp. dan Sonneratia sp. yang diperoleh dari kawasan ekosistem Bandar Bakau, Kota Dumai dan teh komersial (Camellia sinensis) sebagai pembanding. Parameter yang dianalisis meliputi karakteristik kimia (kadar air, abu, abu tak larut asam, sari larut air, dan serat), fitokimia, persentase inhibisi antioksidan metode DPPH, serta penilaian hedonik (rasa, aroma, warna, dan overall). Hasil penelitian menunjukkan ketiga jenis teh memiliki kadar air 7,84-25,45%, abu 6,69-16,12%, abu tak larut asam 0,65-1,23%, sari larut air 2,82-4,27%, dan serat 5,80-7,11%. Senyawa fitokimia lebih banyak terdeteksi pada teh komersial dibandingkan teh daun mangrove. Perbedaan jenis bahan baku teh hijau berpengaruh nyata terhadap persentase inhibisi antioksidan dan penilaian hedonik panelis. Perlakuan terbaik teh hijau dengan daun mangrove Sonneratia sp. dengan persentase inhibisi antioksidan tertinggi (87,59%) dan penilaian hedonik keseluruhan (overall) sangat disukai panelis. Teh ini memenuhi standar teh hijau sesuai SNI 3945:2016 pada kadar abu, abu larut asam, dan serat kasar, namun belum pada kadar air dan sari larut air. Hasil penelitian mengindikasikan daun mangrove berpotensi sebagai bahan baku teh hijau.Green tea has long been known as a beverage with various health benefits, especially because of its high antioxidant content. Mangrove leaves are potential raw materials for green tea because they contain secondary metabolite compounds that act as antioxidants. This study aims to determine the best mangrove species that have the potential to be green tea through chemical parameters, antioxidants, and hedonic assessments. Green tea was produced from young leaves at the top of the mangrove Avicennia sp. and Sonneratia sp. obtained from the Bandar Bakau ecosystem area, Dumai City, and commercial tea (Camellia sinensis) for comparison. The analyzed parameters included chemical characteristics (moisture content, ash, acid-insoluble ash, water-soluble extract, and fiber), phytochemicals, percentage of antioxidant inhibition by the DPPH method, and hedonic assessments (taste, aroma, color, and overall). The results showed that the three types of tea had a moisture content of 7.84-25.45%, ash 6.69-16.12%, acid-insoluble ash 0.65-1.23%, water-soluble essence 2.82-4.27%, and fiber 5.80-7.11%. Phytochemical compounds were more frequently detected in commercial tea than in mangrove leaf tea. Differences in the types of green tea raw materials significantly affected the percentage of antioxidant inhibition and the hedonic assessment of the panelists. The best treatment of green tea with Sonneratia sp. mangrove leaves had the highest percentage of antioxidant inhibition (87.59%), and the overall hedonic assessment was highly favored by panelists. This tea meets the green tea standards according to SNI 3945:2016 in ash content, acid-soluble ash, and crude fiber, but not in moisture content or water-soluble essence. The results of this study indicate that mangrove leaves have potential as a raw material for green tea production

    Karakteristik proksimat, asam amino, asam lemak, dan sensori ikan asap tuna sirip kuning (Thunnus albacares): Karakteristik proksimat, asam amino, asam lemak, dan sensori ikan asap tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

    No full text
    Pengasapan merupakan salah satu metode pengawetan tertua dan paling banyak digunakan, memberikan cita rasa yang khas dan meningkatkan masa simpan karena adanya komponen antimikroba serta menghasilkan warna, rasa, aroma, dan penampakan yang spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pengasapan ikan bentuk utuh (asar) dan fillet (fufu) terhadap karakteristik kimia meliputi proksimat, profil asam lemak, dan asam amino, serta sifat organoleptik ikan tuna sirip kuning asap. Analisis asam amino dilakukan dengan metode LC-MS, profil asam lemak dinilai dengan metode GC-MS, dan evaluasi organoleptik dilakukan dengan uji hedonik. Rancangan penelitian menggunakan dua bentuk ikan asap, yaitu bentuk utuh (ikan asar) dan bentuk fillet (ikan fufu), data kandungan kimia dianalisis Anova dengan uji lanjut DMRT, sedangkan data hedonik diuji Kruskal Wallis dengan uji lanjut Mann-Whitney.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk pengasapan berbeda, yaitu asar dan fufu memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan proksimat, yaitu kadar air, abu, dan protein, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar lemak dan karbohidrat. Ikan tuna sirip kuning fufu, asar, dan segar memiliki sembilan asam amino esensial dan sembilan asam amino non-esensial. Asam amino esensial adalah lisina, histidina, leusina, valina, isoleusina, fenilalanina, treonina, metionina, dan triptofan, sedangkan asam amino non-esensial adalah asam glutamat dan aspartat, arginina, alanina, glisina, prolina, serina, tirosin, dan sistein. Tuna sirip kuning segar memiliki asam lemak omega-5, omega-6, omega-7, dan omega-9, namun omega-5 tidak ditemukan setelah proses pengasapan. Tuna sirip kuning fufu memiliki skor hedonik yang lebih tinggi untuk parameter aroma, rasa, dan tekstur dibandingkan dengan asar. Bentuk pengasapan memberikan pengaruh terhadap kandungan kimia dan hedonik ikan tuna sirip kuning asap.Smoking is one of the oldest and most widely used preservation methods, providing a distinctive taste and increasing shelf life due to the activity of antimicrobial components and the production of specific color, taste, aroma, and appearance. This study aimed to determine the effect of smoking whole fish (asar) and fillets (fufu) on the chemical characteristics, including the proximate composition, fatty acid profile, and amino acid content, as well as the organoleptic properties of smoked yellowfin tuna. Amino acid analysis was performed using LC-MS, the fatty acid profile was assessed using GC-MS, and organoleptic evaluation was performed using the hedonic test. The study design used two forms of smoked fish: whole (asar fish) and fillet (fufu fish). Chemical content data were analyzed by ANOVA with DMRT advanced test, while hedonic data were tested by Kruskal–Wallis with Mann-Whitney advanced test. The results showed that the asar and fufu smoking methods significantly affected the moisture, ash, and protein content, but did not significantly affect the fat and carbohydrate content. Fresh, asar, and fufu yellowfin tunas have nine essential and nine nonessential amino acids. The essential amino acids are lysine, histidine, leucine, valine, isoleucine, phenylalanine, threonine, methionine, and tryptophan, whereas the nonessential amino acids are glutamic and aspartic acids, arginine, alanine, glycine, proline, serine, tyrosine, and cysteine. Fresh yellowfin tuna contains omega-5, omega-6, omega-7, and omega-9 fatty acids; however, omega-5 is not found after smoking. Fufu yellowfin tuna had higher hedonic scores for aroma, taste, and texture than asar. The smoking method affects the chemical and hedonic content of smoked yellowfin tuna

    Partial purification and identification of antibacterial peptides from the endophytic fungus KT31 isolated from Kappaphycus alvarezii: Purifikasi parsial dan identifikasi peptida antibakteri dari kapang endofit KT31 yang diisolasi dari makroalga Kappaphycus alvarezi

    No full text
    Endophytic fungi produce a wide array of secondary metabolites with diverse biological activities, including antibacterial, antifungal, insecticidal, and immunosuppressive effects. The increasing prevalence of infections caused by pathogenic bacteria, such as Escherichia coli, Bacillus subtilis, Salmonella typhi, Pseudomonas aeruginosa, Listeria monocytogenes, Bacillus pumilus, and Staphylococcus aureus, highlights the urgent need for novel antibacterial agents. This study aimed to determine the optimal concentration of ammonium sulfate for the isolation of endophytic fungus KT31 from Kappaphycus alvarezii based on its antibacterial activity. Fungal proteins were extracted using ammonium sulfate precipitation at varying saturation levels and subsequently tested for antibacterial activity against a panel of seven pathogenic bacterial strains. Crude protein extracts demonstrating promising activity were further purified using gel filtration chromatography with Sephadex G-50, followed by molecular weight determination usingDS-PAGE and protein quantification using a Bicinchoninic Acid (BCA) assay. The highest antibacterial activity was observed in the protein fraction precipitated at 80% ammonium sulfate saturation, exhibiting inhibition zones of up to 14 mm against E. coli and B. pumilus. A notable inhibition zone of 12 mm was observed for the most active chromatographic fraction. SDS-PAGE analysis revealed that the active protein had an estimated molecular weight of 11.27 kDa. These findings suggest that endophytic fungi, particularly the isolate KT31, represent a promising source of novel antibacterial peptides, warranting further investigation for therapeutic applications.Kapang endofit mampu menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis beragam, di antaranya antibakteri, antifungi, insektisida, dan imunosupresif. Peningkatan infeksi akibat bakteri patogen seperti Escherichia coli, Bacillus subtilis, Salmonella typhi, Pseudomonas aeruginosa, Listeria monocytogenes, Bacillus pumilus, dan Staphylococcus aureus menunjukkan perlunya pencarian agen antibakteri baru. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi amonium sulfat terbaik untuk isolasi kapang endofit KT31 yang diisolasi dari Kappaphycus alvarezii berdasarkan potensi antibakterinya. Protein kapang diisolasi melalui metode pengendapan amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan berbeda, kemudian diuji aktivitas antibakterinya terhadap tujuh isolat bakteri patogen. Ekstrak protein kasar yang menunjukkan aktivitas tertinggi dimurnikan lebih lanjut menggunakan kromatografi gel filtrasi dengan Sephadex G-50. Penentuan bobot molekul protein menggunakan metode SDS-PAGE dan kuantifikasi protein menggunakan uji Bicinchoninic Acid (BCA). Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh dari fraksi protein yang dipresipitasi pada kejenuhan amonium sulfat 80%, dengan zona hambat mencapai 14 mm terhadap E. coli dan B. pumilus. Fraksi terbaik dari hasil kromatografi menunjukkan zona hambat sebesar 12 mm. Analisis SDS-PAGE menunjukkan bahwa protein aktif memiliki estimasi bobot molekul sebesar 11,27 kDa. Hasil ini menunjukkan bahwa kapang endofit KT31 berpotensi sebagai sumber peptida antibakteri baru yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam bidang terapeutik

    Phycocyanin production from Galdieria sulphuraria 009 in palm oil mill effluent: growth, extraction, and antioxidant activity: Produksi fikosianin dari Galdieria sulphuraria 009 dalam limbah cair pabrik kelapa sawit: pertumbuhan, ekstraksi, dan aktivitas antioksidan

    No full text
    Limbah cair industri kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) di Indonesia menghasilkan volume yang tinggi dan berpotensi mencemari lingkungan. Mikroalga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk biomassa yang bernilai tambah. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum POME bagi pertumbuhan mikroalga Galdieria sulphuraria 009, mengevaluasi produksi fikosianin, serta menilai aktivitas antioksidannya.  Penelitian ini diawali dengan penapisan awal menggunakan 5–50% POME untuk mengidentifikasi kondisi pertumbuhan mikroalga yang optimum; budi daya dalam bioreaktor dengan variasi konsentrasi (2,5; 5,0; dan 7,5%) untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan; dan analisis aktivitas antioksidan serta kandungan pigmen dalam biomassa. Penapisan awal menunjukkan bahwa POME 5% merupakan konsentrasi optimal, sedangkan konsentrasi lebih tinggi menghambat pertumbuhan akibat berkurangnya penetrasi cahaya. Pada budidaya lanjutan, mikroalga dalam POME 2,5% menunjukkan hasil sebanding dengan kontrol (Allen pH 2), sedangkan konsentrasi lebih tinggi menghambat pertumbuhan akibat penaungan dan toksisitas amonia. Produksi fikosianin per volume kultur tertinggi diamati pada mikroalga yang dibudidayakan dalam POME 2,5%, dengan hasil yang sebanding dengan media kontrol. Uji aktivitas antioksidan mengonfirmasi bahwa semua ekstrak fikosianin memiliki aktivitas antioksidan yang signifikan, dengan aktivitas tertinggi pada POME 7,5%. Kandungan karotenoid dan klorofil a dievaluasi dalam biomassa segar dan residu setelah ekstraksi. Karotenoid lebih melimpah dalam biomassa segar, sedangkan klorofil a lebih tinggi dalam residu biomassa. Penelitian ini menunjukkan bahwa G. sulphuraria 009 berpotensi sebagai sumber fikosianin yang layak dalam budidaya berbasis POME, serta memberikan wawasan mengenai pemanfaatan limbah industri dan pengembangan produk bioteknologi berkelanjutan.Palm oil mill effluent (POME), a major byproduct of the palm oil industry in Indonesia, is generated in large volumes and poses environmental risks due to its high organic content> Microalgae offer a promising approach to reduce this waste while simultaneously producing value-added biomass products. This study aimed to determine the optimal POME concentration for microalgal growth of G. sulphuraria 009, to evaluate phycocyanin yield, and to assess its antioxidant activity. This study was initiated with a preliminary screening using 5–50% POME to identify optimal microalgal growth conditions; cultivation in bioreactors with selected concentrations (2.5%, 5.0%, and 7.5%) to evaluate growth performance and chemical yields; and analysis of antioxidant activity and pigment content in both fresh and residual biomass. The preliminary stage revealed 5% POME as the upper threshold for growth, with 2.5% supporting optimal biomass comparable to control (Allen pH 2). Higher POME levels inhibited growth due to light attenuation and ammoniacal nitrogen toxicity. 2.5% POME recorded the highest phycocyanin yield per liter, while 7.5% POME yielded the highest antioxidant activity, likely due to oxidative stress. Antioxidant assays confirmed significant antioxidant activity in all phycocyanin extracts, with the highest activity in 7.5% POME, likely due to oxidative stress. Carotenoid and chlorophyll contents were evaluated in both fresh and residual biomass. Carotenoids were more abundant in fresh biomass, while chlorophyll -A was higher in residual biomass post-extraction, emphasizing the importance of extraction techniques in bioactive compound recovery. This study highlights G. sulphuraria 009 as a viable source of phycocyanin in POME-based cultivation, offering insights into industrial wastewater valorization and sustainable bioproducts

    Pengaruh perbedaan waktu ekstraksi terhadap karakteristik kalsium Halimeda opuntia: The effect of different extraction time on the characteristics of calcium from Halimeda opuntia

    No full text
    Halimeda opuntia adalah jenis alga hijau yang kaya akan kalsium karbonat. Metode ekstraksi kalsium dari H. opuntia terutama untuk durasi waktu ekstraksi masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu ekstraksi terbaik kalsium dari H. opuntia melalui parameter kadar kalsium, warna, mikrostruktur, ukuran partikel, dan keberadaan gugus fungsi kimiawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu waktu ekstraksi 1, 2 dan 3 jam. Ekstraksi yang digunakan, yaitu sol gel dalam larutan HCl 1 N pada suhu 90°C. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kadar kalsium, air, abu, protein, warna, ukuran partikel, mikrostruktur (SEM), dan gugus fungsi kimiawi (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu ekstraksi berpengaruh nyata terhadap rendemen, kadar kalsium, abu, lightness (L*), redness/greenness (a*), yellowness/blueness (b*), ΔE, dan whiteness index (WI). Perlakuan terpilih pada waktu ekstraksi 1 jam dengan kadar kalsium tertinggi, yaitu 30,79±0,56%. Rendemen, kadar air, abu dan protein perlakuan terbaik, yaitu 24,11±0,57%, 3,36±0,56%, 81,76±0,36%, dan 0,90±0,10%. Nilai L*, a*, b*, ΔE, dan WI berturut-turut adalah 83,83±0,65; 0,34±0,05; 8,84±0,21; 13,01±0,48; dan 84,29±0,65%. Waktu ekstraksi yang lebih lama meningkatkan rendemen kalsium namun terjadi degradasi serta warna yang makin menguning. Analisis mikrostruktur perlakuan ekstraksi 1 jam menunjukkan permukaan menyerupai bola yang terlihat kasar dan tidak menggumpal dengan ukuran partikel seragam 3,25 nm. Hasil analisis gugus fungsi menunjukkan keberadaan kalsium karbonat dalam spektra FTIR H. opuntia teridentifikasi pada gelombang 1.407,1 cm-1 dan 872,2 cm-1. Waktu ekstraksi 1 jam dinilai optimal untuk mengekstrak kalsium dari H. opuntia.Halimeda opuntia is a type of green algae that is abundant in calcium carbonate. The extraction process for calcium from H. opuntia, particularly regarding the extraction duration, has not yet been fully optimized. This study aims to determine the optimal extraction time for calcium from H. opuntia by evaluating parameters such as calcium content, color, microstructure, particle size, and the presence of chemical functional groups. The method used in this study was a completely randomized design (CRD) with a single factor: extraction time with three treatments (1, 2, and 3 hours). The sol-gel method was used for extraction. The parameters were analyzed for yield, calcium content, moisture, ash, protein, color, particle size, microstructure (SEM), and chemical functional groups (FTIR). The results indicated that extraction time significantly affected yield, calcium content, ash content, lightness (L*), redness/greenness (a*), yellowness/blueness (b*), ΔE, and whiteness index (WI). The optimal extraction time was determined to be 1 hour, producing the highest calcium content of 30.79±0.56%. The best treatment also yielded values of 24.11±0.57% for yield, 3.36±0.56% for moisture, 81.76±0.36% for ash, and 0.90±0.10% for protein. The color parameters L*, a*, b*, ΔE, and WI were recorded as 83.83±0.65, 0.34±0.05, 8.84±0.21, 13.01±0.48, and 84.29±0.65, respectively. Prolonged extraction times increased the yield but caused a decline in calcium content and resulted in a more pronounced yellowish coloration. The sample that was extracted for one hour had a rough, spherical surface with particles that were not clumped together and were all the same size, 3.25 nm. FTIR analysis showed that calcium carbonate was present, with signature absorption peaks found at 1,407.1 cm⁻³ and 872.2 cm⁻³. We concluded that an extraction time of 1 hour is sufficient for efficient calcium extraction from H. opuntia

    455

    full texts

    814

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇