Jurnal Psikologi
Not a member yet
437 research outputs found
Sort by
ORIENTASI NILAI ORANG-ORANG DAERAH PEGUNUNGAN, DATARAN RENDAH DAN PANTAI UTARA JAWA TENGAH
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran orientasi nilai orang-orang dari pegunungan, dataran rendah dan pantai utara Jawa Tengah, dengan memperhatikan pula lokasi tempat tinggal (desa-kota) dan jenis kelamin. Menurut Spranger ada enam macam nilai hidup yaitu nilai-nilai: teoritis, ekonomik, sosial, estetis, politis dan religiu
VALIDITAS TES SPM SEBAGAI ALAT PENGUKUR KECERDASAN PELAJAR-PELAJAR SMA
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang usianya masih sangat muda. Ilmuini baru dianggap sebagai ilmu yang berdiri sendiri setelah salah seorangahlinya yang bernama Wundt mendirikan laboratorium psikologi di UniversitasLeipzig pada tahun 1879 serta memasukkan psikologi sebagai mata kuliah yangberdiri sendiri di universitas tersebut. Namun demikian sejak permulaan abad dua puluh, terutama setelah terjadi perang dunia pertama, maka psikologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan mencakup ruang lingkup yang sangat luas, sehingga pada masa ini telah dirasakan peranannya dalam banyak bidang
StopAbleism: Reduksi stigma kepada penyandang disabilitas melalui intervensi bias implisit
Diskriminasi kepada penyandang disabilitas dipengaruhi oleh dinamika antara stigma eksplisit dan stigma implisit. Eksperimen ini bertujuan untuk menguji apakah dalam konteks disabilitas fisik (1) stigma eksplisit memiliki asosiasi dengan stigma implisit, dan (2) paradigma bias implisit dapat mereduksi stigma eksplisit. Partisipan (N = 98 mahasiswa) dibagi ke dalam tiga kondisi eksperimen, yaitu kelompok yang terlebih dahulu mengerjakan (1) kuesioner stigma eksplisit (kelompok kontrol), (2) instrumen stigma implisit, diikuti feedback atas bias implisit (feedback segera), dan (3) instrumen stigma implisit, diikuti kuesioner stigma eksplisit dan feedback atas bias implisit (feedback tertunda). Stigma implisit diukur melalui adopsi computer-based response-latency task berupa Single-Category Implicit Association Test (SC-IAT), stigma eksplisit diukur melalui kuesioner self-reported. Hasil penelitian menunjukkan (1) tidak adanya korelasi antara stigma implisit dan stigma eksplisit, dan (2) pengerjaan instrumen stigma implisit dengan feedback tertunda dapat mereduksi sebagian stigma eksplisit. Paradigma bias implisit berpotensi meningkatkan efektivitas intervensi terhadap ableism, setidaknya dalam jangka pende
KOHEVISITAS PADA MASYARAKAT MISKIN
Ekonomi rakyat dan pengentasan kemiskinan merupakan topik sentra yang ditekankan dalam Pembangunan Jangka Panjang II. Program ini dilakukan melakukan Inpres desa Tertinggal (IDT), yang sasarannya adalah kelompok swadaya masyarakat (KSM). Pemilihan kelompok sasaran ini berdasarkan pemikiran bahwa dengan berada dalam kelompok, masyarakat miskin dapat mengumpulkan kekuatan beruap modal, pengetahuan, dan kemauan untuk maju
Appendix Jurnal Psikologi Volume 43 No 3 Tahun 2016
Appendix Jurnal Psikologi Volume 43 No 3 Tahun 201
RELIGIUSITAS REMAJA: STUD1 TENTANG KEHIDUPAN BERAGAMA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Discrepancy between intensive religious study and manifestation of religious life is a phenomenon happens among teenagers in Indonesia including those of the Special District of Yogvakarra. In this district, the Javanese is the majority of its population. The purpose of this research is to explore the degree of religious conscience and some dominant factors influencing religious life of the teenagers in the Special District of 1'0~9akarta. The quantitative and qualitative approaches are applied in this research. The respondents ofthe research are the Islamic students of Junior and Senior High School in the Special District of Yogyakarta. The number of all respondents are 441. Thirty four respondents attend a Focused Group Disczrssion and four respondents are intervielved in depth and observed in order to knortj their religious background. The result of the study shows that the highest dimension degree of the religious dimension is the ritual one, however, it is not foNowed by the other dimensions. The result of qualitative analysis sho~vs that the implementation of ritual religion is not suflciently supported 6). adequate internalization of the belief and knowledge. Furthermore, it is conclzrded that the religious education in the school, focuses more on the cognitive rather than the affective, attitude and spiritual domains. Some factors rnfllret7cing the religious life of the teenagers are parents' attention and consistencj. in guiding them on religious practice and the new inhabitants around the respondents in prosel.vtizing Islamic religion activity. Besides, the peer group, the key persons in the community and the mass media are regarded as havingpositive contribution to religious life for teenagers
THE SOCIALIZATION PROCESS OF PROSTITUTION:A CASE STUDY IN AN INDONESIAN REGENCY PRIMARY SOURCE OF PROSTITUTES
This research sets out to understand socialization of prostitution in the rural areas of indonesia. This study seeks answers how and why socialization occurs in that community and factors which can be identified as contributing significantly to socialization of prostitution
SPM UNTUK MENGUKUR INTELIGENSI
Penelitian ini bertujuan untuk mendapat informasi mengenai penggunaan Standard Progressive Matrices (SPM) sebagai alat pengukur inteligensi, karena disinyalir tes ini sudah popoler dan banyak beredar dikalangan masyarakat, terutama di kota-kota besar, sehingga diragukan validitasnya
KETERAMPILAN MENGARANG SISWA SEKOLAH DASAR: SUATU STUDI EKSPLORASI
Kemampuan berbahasa adalah penting karena dengan bahasa seseorang dapat meningkatkan pengetahuan maupun mengungkapkan isi pikirannya. Mengarang adalah suatu bentuk keterampilan yang bermanfaat untuk mengekspresikan diri baik secara kognitif maupun afektif
KONTRIBUSI PROFISIENSI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN
Profisiensi kerja adalah upaya dasar keahlian seseorang yang merupakan pangkal pembangkit imbalan intrinsik dan ekstrinsiknya, bahkan berpengaruh terhadap kinerjanya (Staw, 1997; Matsui, 1997). Profisiensi kerja dan kinerja itu merupakan komponen produktivitas kerja, maka pengukuran profisiensi kerja pun dapat menggambarkan produktivitas kerja (Staw, 1997; Matsui, 1997)