SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    436 research outputs found

    PENGUATAN NILAI KARAKTER ANTI KORUPSI MELALUI IMPLEMENTASI ELECTRONIC CAFE (E-CAFE) BHAWIKARSU DI SMA NEGERI 3 MALANG

    No full text
    ABSTRAKIlham, Choiri. 2019. Penguatan Nilai Karakter Anti Korupsi Melalui Implementasi Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu di SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraaan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Suparman AW, S. H. M.Hum (2) Dr. Nuruddin Hady, S.H, M.H.Kata Kunci: Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu, Nilai Karakter Anti Korupsi, SMA Negeri 3 MalangElectronic Café (E-Café) Bhawikarsu adalah pengembangan program kantin kejujuran yang berasal dari Kementerian Pendidikan Nasional yang bekerja sama dengan komisi pemberantasan korupsi (KPK) dalam upaya untuk menanamkan sekaligus menguatkan nilai karakter anti korupsi. Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu ini memuat konsep pendidikan nilai yang menekankan pada pembiasaan karakter anti korupsi pada peserta didik. Usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai tersebut, dapat dikembangkan dalam ranah pendidikan khususnya sekolah. Sekolah memerlukan pengelolaan yan baik agar peserta didik menjadi bermutu dan berkarakter.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mengetahui latar belakang berdirinya electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang dilihat dari penguatan karakter anti korupsi, (2) mengetahui operasional electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang yang dapat mendukung pembentukan karakter anti korupsi, (3) mengetahui penguatan nilai karakter anti korupsi melalui implementasi electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang, (4) mengetahui hambatan dan solusi sekolah dalam penguatan nilai karakter anti korupsi melalui implementasi electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Prosedur yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah dengan teknik observasi, teknik wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulan data berupa instrument manusia, yaitu peneliti sendiri. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan uji kredibilitas dengan peningkatan ketekunan dalam penelitian dan triangulasi. Pemilihan lokasi SMAN 3 Malang sebagai tempat penelitian adalah berdasarkan pertimbangan adanya Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu yang dijadikan sebagai program unggulan sekolah. Temuan penelitian dalam penelitian ini menghasilkan empat pembahasan , yaitu (1) latar belakang terbentuknya electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang ini awalnya adalah pengembangan program dari Kementerian Pendidikan Nasional yang bekerja sama dengan komisi pemberantasan korupsi (KPK) dan sebagai media pembelajaran pendidikan karakter, (2) operasional dan pelaksanaan electronic café (e-café) bhawikarsu sebagai penguatan nilai karakter anti korupsi siswa di SMAN 3 Malang ini dikelola sepenuhnya oleh pihak sekolah, (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan electronic café (E-Café) bhawikarsu diantaranya adalah nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai bertanggungjawab dan nilai kemandirian,(4) hambatan pelaksanaan electronic café (E-Café) bhawikarsu adalah perubahan konsep electronic café (E-Café) bhawikarsu yang menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah, adanya gangguan oleh sistem dan kelistrikan serta sistem electronic café (E-Café) bhawikarsu belum mampu mengantisipasi kecurangan. Solusi atas hambatan yang telah dihadapi tersebut adalah melakukan evaluasi pelaksanaan program electronic café (E-Café) bhawikarsu dan menjalankan tata tertib serta peraturan yang ada di electronic café (E-Café) bhawikarsu di SMAN 3 Malang.Saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini adalah pihak sekolah harus terus mendukung pelaksanaan electronic café (E-Café) bhawikarsu untuk tetap ada dan terus berkembang. Memberikan pengarahan serta motivasi kepada peserta didik, untuk berbuat dan bersikap sesuai dengan nilai karakter anti korupsi. Pembiasaan bersikap jujur, disiplin, bertanggungjawab dan mandiri, yang dilakukan secara terus-menerus kedepanya akan berdampak positif dan bermanfaat, tidak hanya untuk lingkungan sekolah tertapi bermanfaat untuk lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat

    HUBUNGAN TINGKAT LITERASI LINGKUNGAN MAHASISWA DENGAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    AbstrakLiterasi lingkungan mahasiswa merupakan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dalam menangani masalah-masalah lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat literasi lingkungan mahasiswa, kondisi kebersihan lingkungan kampus, dan hubungan antara tingkat literasi lingkungan mahasiswa dengan kebersihan lingkungan di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Jenis Penelitian deskriptif korelasional. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebanyak 91 orang (74%) tingkat literasi lingkungannya dikategorikan baik. Sebanyak 25 orang (21%) tingkat literasi lingkungannya dikategorikan cukup baik. Sebanyak 6 orang (5%) tingkat literasi lingkungannya dikategorikan kurang baik. kondisi kebersihan lingkungannya diperoleh hasil yaitu kondisi kebersihan lingkungan (tangga) sebanyak 95 orang (78%) menyatakan bersih. Sebanyak 27 orang (22%) menyatakan tidak bersih.Kondisi kebersihan lingkungan (toilet) sebanyak 86 orang (70%) menyatakan bersih. Sebanyak 36 orang (30%) menyatakan kurang bersih.Kondisi kebersihan lingkungan (selasar/depan ruang kelas) sebanyak 74 orang (61%) menyatakan kurang bersih. Sebanyak 48 orang (39%) menyatakan bersih.Kondisi kebersihan lingkungan (depan lift) sebanyak 70 orang (57%) menyatakan bersih. Sebanyak 52 orang (43%) menyatakan kurang bersih. Hubungan antara literasi lingkungan mahasiswa dengan kebersihan lingkungan sebesar 0,093 yang artinya terdapat hubungan namun tidak begitu bermakna.Kata Kunci: hubungan, literasi lingkungan mahasiswa, kondisi kebersihanAbstrakStudent environmental literacy is the knowledge students have in handling environmental problems. The purpose of this study was to determine the level of student environmental literacy, the cleanliness of the campus environment, and the relationship between the level of student literacy and environmental hygiene in the Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Descriptive correlational research type. The results of the study showed that as many as 91 people (74%) the level of environmental literacy was categorized as good. As many as 25 people (21%) the level of environmental literacy is categorized quite well. As many as 6 people (5%) the level of environmental literacy is categorized as poor. Hygiene conditions for the environment were obtained, namely the condition of cleanliness of the environment (stairs) as many as 95 people (78%) stated clean. A total of 27 people (22%) stated that they were not clean. The condition of cleaning the environment (toilet) as many as 86 people (70%) stated it was clean. A total of 36 people (30%) stated that it was not clean. The condition of environmental cleanliness (lobby / front of classrooms) as many as 74 people (61%) stated that it was not clean. A total of 48 people (39%) stated that they were clean. 70 people (57%) stated that they were clean and clean. A total of 52 people (43%) stated that they were not clean. The relationship between student environmental literacy and environmental cleanliness is 0.093, which means there is a relationship but not so meaningful.Kata Kunci: relationships, environmental literacy, hygiene conditio

    Pulau Masalembu dan“Budaya Tok Tok”

    No full text
    Budaya adalah sebagai bentuk wujud dasar manusia yang tidak hanya  berakar sebagai naluri, melainkan lahir dari hasil karya manusia yang membentuk suatu ide, nilai, norma, dan pola aktivitas manusia dalam masyarakat. Dalam hal ini secara tidak langsung membangun  suatu kerarifan lokal yang menjadi karakter atau suatu ciri masyarakat yang menjadi relasi dan proses pembelajaran suatu masyarkat sehingga menjadi identitas suatu kelompok masyarakat. Terkait dengan pemaknaan budaya adakalanya saya ingin memperkenalkan keunikan budaya masyarakat kepulauan Masalembu, salah satunya budaya Tok Tok. Tok tok merupakan budaya khas kepulauan Masalembu yang mempertontonkan pertandingan sapi jantan yang di adu kekuatan tanduk yang ada di kepala sapi. Dengan tujuan untuk menghibur masyarakat petani yang ada di pulau Masalembu. Pada zaman dahulukala Konon ceritanya menurut masyarakat setempat nama Masalembu dicetuskan oleh penemu pulau Masalembu, yaitu Datuk Kai Dani yang bangsa kelahirannya dari suku Bugis. Pada abad ke 19. Ya, Sebagaimana kita dengar bahwa bangsa suku Bugis  terkenal dengan bangsa pelaut. Nama bangsa mereka samapi terkenal di seluruh dunia. Dalam cerita nama Masalembu diambil kata dasarnya yaitu Lembu, karna ketika pulau tersebut ditemukan penghuni pulau ini banyak lembunya atau disebut juga sapi. Hingga akhirnya diberi nama pulau Masalembu. Begitulah cerita masyarakat masalembu. Sapi – sapi yang ada di pulau masalembu mulai sejak ditemukan pulau Masalembu sampai sekarang sapi tersebut masih banyak dan tidak punah di pulau Masalembu, meskipun sapi sapi yang ada di jual keluar pulau.  Inilah cerita singkat sejarah lahirnya nama Pulau Masalembu

    Pulau Masalembu dan“Budaya Tok Tok”

    No full text
    Budaya adalah sebagai bentuk wujud dasar manusia yang tidak hanya  berakar sebagai naluri, melainkan lahir dari hasil karya manusia yang membentuk suatu ide, nilai, norma, dan pola aktivitas manusia dalam masyarakat. Dalam hal ini secara tidak langsung membangun  suatu kerarifan lokal yang menjadi karakter atau suatu ciri masyarakat yang menjadi relasi dan proses pembelajaran suatu masyarkat sehingga menjadi identitas suatu kelompok masyarakat. Terkait dengan pemaknaan budaya adakalanya saya ingin memperkenalkan keunikan budaya masyarakat kepulauan Masalembu, salah satunya budaya Tok Tok. Tok tok merupakan budaya khas kepulauan Masalembu yang mempertontonkan pertandingan sapi jantan yang di adu kekuatan tanduk yang ada di kepala sapi. Dengan tujuan untuk menghibur masyarakat petani yang ada di pulau Masalembu.             Pada zaman dahulukala Konon ceritanya menurut masyarakat setempat nama Masalembu dicetuskan oleh penemu pulau Masalembu, yaitu Datuk Kai Dani yang bangsa kelahirannya dari suku Bugis. Pada abad ke 19. Ya, Sebagaimana kita dengar bahwa bangsa suku Bugis  terkenal dengan bangsa pelaut. Nama bangsa mereka samapi terkenal di seluruh dunia. Dalam cerita nama Masalembu diambil kata dasarnya yaitu Lembu, karna ketika pulau tersebut ditemukan penghuni pulau ini banyak lembunya atau disebut juga sapi. Hingga akhirnya diberi nama pulau Masalembu. Begitulah cerita masyarakat masalembu. Sapi – sapi yang ada di pulau masalembu mulai sejak ditemukan pulau Masalembu sampai sekarang sapi tersebut masih banyak dan tidak punah di pulau Masalembu, meskipun sapi sapi yang ada di jual keluar pulau.  Inilah cerita singkat sejarah lahirnya nama Pulau Masalembu

    NILAI KEARIFAN LOKAL PADA TRADISI TIDUR DI KASUR PASIR DI DESA LEGUNG TIMUR, KECAMATAN BATANG–BATANG, KABUPATEN SUMENEP

    No full text
    ABSTRAKFauzan, Mufdi. 2019. Nilai Kearifan Lokal pada Tradisi Tidur di Kasur Pasir di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Margono M. Pd, M.Si, (2) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.SiKata Kunci: Nilai Kearifan Lokal, Kasur Pasir.Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku, ras, agama, etnis, bahasa dan juga budaya. Keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan suatu hal yang wajib dijaga, dilestarikan bahkan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Kearifan lokal merupakan kebenaran yang telah mentradisi dalam suatu daerah dan merupakan keunggulan budaya masyarakat setempat yang patut dijadikan pegangan hidup. Tradisi tidur di kasur pasir ini merupakan tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat desa Depande, legung barat dan Legung Timur. Tradisi ini sudah lama dilakukan dan turun temurun, sampai saat ini tradisi ini dilakukan setiap hari.Penelitian ini berjudul Nilai Kearifan Lokal pada Tradisi Tidur di Kasur Pasir di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep. Berdasarkan pada rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) . Asal-usul tradisi tidur di kasur pasir, (2) . Prosesi pelaksanaan tradisi tidur di kasur pasir, (3) . Nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi tidur di kasur pasir, dan (4). Upaya masyarakat Legung Timur dalam mempertahankan tradisi ini.Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Legung Timur Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep. Data penelitian yang berupa data primer bersumber dari informasi Kepala Desa, tokoh masyarakat dan masyarakat Legung Timur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dekumentasi. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber dan teknik. Pada tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, pada asal mula tradisi tidur di kasur pasir di Desa Legung Timur sudah dilakukan sejak lama, mulai dari nenek moyang dan turun temurun hingga saat ini. Dari data penelitian tidak ditemukan data tertulis maupun baku kapan dan dimana pertama kali dilakukan mengenai asal-usul tradisi tidur di kasur pasir di Desa Legung Timur.Kedua, pelaksanaan tradisi tidur atau beraktivitas di kasur pasir di Desa Legung Timur dilakukan setiap hari baik pagi hari ataupun malam hari di dalam rumah maupun di halaman rumah. Akan tetapi pada hasil penelitian menunjukkabahwawaktu yang sering adalah pagi hari mulai pukul 06.00-9.00 WIB serta sore hingga malam dan pagi hari.Ketiga, tradisi tidur di kasur pasir tersebut memiliki banyak nilai kearifan lokal tersendiri bagi masyarakat Legung Timur yang sudah diyakini keberadaannya diantaranya nilai filosofi, nilai kesehatan, nilai kekeluargaan, nilai sosial dan nilai ekonomis praktis.Keempat, dalam upaya mempertahankan tradisi tidur di kasur pasir ini dibutuhkan banyak peran mulai dari masyarakat Legung Timur sendiri, pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten yang ada di Sumenep serta dari media sosial yang sudah berkembang saat ini.Saran demi terlestarikannya tradisi tidur di kasur pasir yang menjadi satu-satunya identitas Desa Legung Timur adalah bagaimana pemahaman masyarakat Legung Timur akan  nilai-nilai yang diyakini pada tradisi ini tetap terjaga tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Untuk pemerintah desa maupun kabupaten diharapkan tetap berkontribusi baik melalui kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam peraturan yang mudah diketahui publik

    Peran Sanggar Kawulo Bantarangin Dalam Melestarikan Kesenian Reog Di Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo

    No full text
    Abstrak: Peran sanggar tari dalam hal ini menunjukkan keikut sertaan atau keterlibatan suatu organisasi atau sanggar untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menjalankan tugas yang menjadi kewajibannya, sesuai dengan harapan agar seni tari tetap dilestarikan. Sanggar Kawulo Bantarangin telah menjalankan perannya karena sanggar Kawulo Bantarangin telah mendapatkan haknya yaitu bisa ikut aktif dalam mengikuti kegiatan pelestarian kesenian Reog, dan sanggar Kawulo Bantarangin juga sudah melaksanakan kewajibannya dengan selalu rutin memberikan pelatihan dan memfasilitasi anggota sanggar. Faktor penghambat pelestrian kesenian Reog di sanggar Kawulo Bantarangin yaitu kendala niat dan permasalahan pribadi dari anggota sanggar, belum adanya tim khusus yang bergerak di bidang pendanaan dan pengaruh kemajuan teknologi. Solusi yang dilakukan oleh sanggar Kawulo Bantarangin yaitu dengan selalu membuat ide-ide kreatif terhadap kesenian Reog sekaligus melakukan pendekatan kepada anggota sanggar. Sanggar juga membuat tim khusus yang bergerak di bidang pendanaansekaligus memanfaatkan Hp untuk memvideo teman yang latihan. Kata Kunci : Peran, Sanggar Kawulo Bantarangin, Melestarikan, Kesenian Reo

    Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa di Desa Polorejo Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo

    No full text
    ABSTRAKSalabi, A.M.N. 2019 Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa di Desa Polorejo Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Dr. Sri Untari, M.Si., (2) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum. Kata Kunci : Peran, Pemerintah Desa, Masyarakat, Penyusunan RPJM Desa.Praktik demokrasi dalam kehidupan masyarakat desa Polorejo kecamatan Babadan, kabupaten Ponorogo dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa bertujuan untuk mengetahui :(1) peran pemerintah desa dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa;(2) partisipasi masyarakat desa dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa;(3) factor pendukung partisipasi masyarakat dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Polorejo.Penelitian ini dilaksanakan menggunakan jenis pendekatan penelitian diskriptif kualitatif dengan  metode penelitian studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah Kepala Desa Polorejo, Seketaris Desa Polorejo, Bendahara Desa Polorejo, Kepala Urusan Pemerintahan Desa Polorejo, Kepala Dusun Beji, dan Bidan Desa Polorejo. Data dan informasi yang didapatkan oleh peneliti menggunakan : observasi, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan dengan cara hasil penelitian diharapkan sebagai suatu pola, penjelasan yang sesuai sebagai suatu pola, dan kemudian dibuat pola yang lebih sederhana. Untuk pengecekan keabsahan data meliputi uji: kepercayaan, kebergantungan, dan kepastian. Berikut ialah tahap penelitian dimana terdapat tahap persiapan, tahap pelaksanaan penelitian, tahap pembuatan laporan.Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan kemusian dijabarkan sebagai berikut. Pertama, peran pemerintah desa dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa di desa Polorejo adalah sebagai fasilitator di mana pemerintah desa bertanggung jawab memberikan fasilitas berupa tempat pelaksanan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan memberikan pendanaan guna pelaksanaan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, sebagai koordinator di mana juga jajaran pemerintah desa Polorejo juga harus ikut andil dalam  memberikan gagasan ide dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, dan yang terkahir adalah peran pemerintah desa sebagai pelaksana sendiri di mana pemerintah desa Polorejo sebagai otonomi wajib membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa setelah Kepala Desa resmi dilantik dan penyusunan RPJM Desa bukan hanya beban pemerintah pusat namun juga tanggung jawab pemerintah desa sebagai otonomi desa. Kedua partisipasi masyarakat dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dimulai dari musyawarah dusun guna untuk menjaring aspirasi masyarakat tingkat dusun, selanjutnya musyawarah desa yang dilaksanakan setelah diadakan  musyawarah dusun di empat dusun yakni dusun Tamanan, Polorejo, Beji dan Bakalan guna untuk menggabungkan seluruh aspirasi masyarakat dan memilah mana saja yang harus dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan mana yang tidak dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, dan yang terakhir adalah partisipasi masyarakat dalam tim penyusun RPJM Desa yakni tim yang bertujuan untuk menyelaraskan Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Polorejo dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Ponorogo, mengkaji keadaan desa Polorejo, dan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Polorejo dalam bentuk buku. Ketiga faktor pendukung partisipasi masyarakat desa Polorejo dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Polorejo yakni(1) aspek kesadaran politik yang tinggi di mana masyarakat menganggap bahwa hadir dalam musyawarah penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa itu merupakan sebuah kewajiban karena sudah diundang dan hal tersebut dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang hadir dalam musyawarah dan keaktifan masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya.(2) status sosial yang tinggi di mana masyarakat yang ikut andil dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Polorejo hampir seluruhnya terdiri dari masyarakat yang memiliki status sosial di desa Polorejo mulai dari jajaran pemerintah desa, kader-kader desa, ketua RTdan RW, tokoh agama, dan beberapa orang yang dianggap memiliki pengaruh lebih di desa seperti orang yang dianggap kaya dan orang yang memiliki pendidikan yang tinggi. Berdasarkan  hasil penelitian maka diperoleh saran sebagai berikut: Bagi masyarakat desa Polorejo hendaknya menjadikan penelitian ini sebagai bahan kajian untuk  penyusunan rencana pembangunan jangka menengah desa agar masyarakat desa terus dilibatkan dalam segala praktik demokrasi yang ada di desa Polorejo. Bagi Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang hendaknya menjadikan hasil ini sebagai salah satu literature mengenai Praktik demokrasi masyarakat desa khususnya dalam penyusunan rencana pembangunan jangka menengah desa. Bagi mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai penambah pengetahuan, informasi, dan referensi untuk pembelajaran mengenai praktik demokrasi dalam masyarakat desa khususnya dalam penyusunan rencana pembangunan jangka menengah desa dan dapat memberikan inspirasi kepada para calon penelitian lain untuk melakukan penelitian yang sama di bidang politik dan pemerintahan

    PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK

    No full text
    PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK Muhammad Syarif Rizka Hidayatullah Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]   Abstrak: Tujuan artikel ini untuk mengetahui tentang (1) konsep dasar, (2) langkah-langkah penyusunan, dan (3) kelebihan dan kekurangan media pembelajaran. Media pembelajaran audio visual adalah media elektronik yang digunakan sebagai bahan ajar yang memanfaatkan sinyal audio dikombinasikan dengan gambar bergerak. Penyusunan media pembelajaran audio visual yaitu (1) fase perencanaan, (2) fase produksi, (3) fase kegiatan tindak lanjut, dan (4) fase penilaian dan kesimpulan. Media pembelajaran audio visual memiliki kelebihan yaitu (1) penampilan peserta didik dapat dievaluasi, (2) memperkokoh proses belajar, (3) informasi dapat disajikan secara serentak. Biaya produksi yang mahal mengakibatkan seorang guru tidak banyak yang menggunakan media pembelajaran audio visual. Kata kunci : media pembelajaran, peserta didik. Didalam lingkungan sekolah, seorang guru harus bisa membuat peserta didik untuk bisa memahami materi pelajaran yang diajarkan. Sebagai seorang peserta didik memahami materi pelajaran bukanlah hal yang mudah. Kalau guru tidak mengunakan media pembelajaran yang inovatif akibatnya peserta didik selalu bosan dan tidak faham dengan materi pelajaran yang diajarkan. Media pembelajaran audio visual diperlukan dalam pembelajaran karena banyak peserta didik yang sangat bosan dan tidak semangat untuk mempelajari materi pelajaran. Hal ini terjadi dikarenakan guru dalam mengajar tidak menggunakan media pembelajaran teatpi hanya menggunakan metode pembelajaran seperti ceramah dan pemberian tugas. Sehingga peserta didik lebih memilih bermain gadget dan alat komunikasi yang lain. Oleh karena itu, dari pada peserta didik menggunakan alat gadget dan alat komunikasi untuk hal-hal yang tidak berguna. Seorang guru harus bia mengubah hal yang tidak berguna menjadi hal yang berguna bagi pembelajaran seperti menjadi media pembelajaran audio visual. Peserta didik memang lebih mudah memahami materi pelajaran kalau menggunakan tampilan disertai dengan suara karena peserta didik tidak akan merasa bosan. Hal ini membuktikan bahwa model pembelajaran audio visual sangat diperlukan dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dalam artikel ini dibahas mengenai penggunaan media pembelajaran audio visual untuk meningkatkan minat belajar peserta didik.   PEMBAHASAN Pada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) konsep dasar, (2) langkah-langkah penyusunan, dan (3) kelebihan dan kekurangan media pembelajaran.   Konsep Dasar Media Pembelajaran Audio Visual Bahan ajar audio visual menurut Prastowo (2011: 40) adalah segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat di kombinasikan dengan gambar bergerak. Menurut Sitomorang (Warsita, 2011: 118) media video adalah media elektronik yang memanfaatkan kekuatan gambar dan suara untuk mempengaruhi penontonnya. Jadi, media pembelajaran audio visual adalah media elektronik yang digunakan sebagai bahan ajar yang memanfaatkan sinyal audio dikombinasikan dengan gambar bergerak. Tujuan media pembelajaran audio visual menurut Prastowo (2011: 302) yaitu (1) memberikan pengalaman kepada peserta didik, (2) memperlihatkan peristiwa nyata, (3) dapat menampilkan kasus kehidupan sebenarnya, dan (4) dapat menaikan ingatan. Media pembelajaran audio visual dapat memperlihatkan peristiwa nyata yang berbahaya, langka, dan rumit. Peserta didik lebih berminat melihat peristiwa langsung dari tampilan dari pada hanya mendengar peristiwa dari perkataan saja. Mell Silberman mengungkapkan suatu hasil penelitian bahwa dengan menggunakan visual pada pembelajaran, dapat manaikan ingatan dari 14% menjadi 38%. Penelitian Mell Silberman juga menunjukan adanya perbaikan hingga 200% ketika kosa kata diajarkan dengan menggunakan alat visual. Waktu yang diperlukan untuk menyampaikan konsep berkurang sampai 40% ketika visual digunakan untuk menambah presentasi verbal (Prastowo, 2011: 302). Penggunaan media pembelajaran audio visual juga dapat meningkatkan minat belajar peserta didik, karena peserta didik dapat melihat peristiwa nyata yang langka. Peserta didik dapat mengetahui benda-benda kecil yang tidak tampak secara kasatmata. Penggunaan media pembelajaran audio visual membuat guru tidak terlalu banyak menggunakan metode ceramah sehingga peserta didik tidak bosan saat pembelajaran berlangsung. Menurut Abdulhak dan Darmawan (2013: 84) jenis-jenis media audio visual ada 10 jenis media yaitu (1) transparansi, (2) slide, (3) filmstrip, (4) rekaman, (5) siaran radio, (6) film, (7) televisi, (8) tape atau video cassette, (9) laboratorium, dan (10) komputer. Jenis yang pertama yaitu jenis informasi terpenting yang ditulis pada lembaran transparansi tersebut dan disajikan melalui bantuan OHP. Proses komunikasi audiens disertai dengan penjabaran secara lengkap dan menyeluruh. Langkah-Langkah Penyusunan Media Pembelajaran Audio Visual Pada bagian ini dijelaskan empat fase penyusunan media pembelajaran audio visual yaitu (1) fase perencanaan, (2) fase produksi, (3) fase kegiatan tindak lanjut, dan (4) fase penilaian dan kesimpulan.   Fase Perencanaan Fase perencanaan meliputi langkah-langkah yaitu (1) penentuan topik, (2) pemilihan strategi, (3) penentuan gagasan pokok, dan (4) pembuatan papan cerita. Penentuan topik adalah langkah awal dalam fase perencanaan. Penentuan topik harus sesuai dengan materi pembelajaran dan disesuaikan dengan kemampuan peserta didik agar penentuan topik tidak salah sasaran. Pemilihan strategi sebagai langka kedua harus disesuaikan dengan topik yang telah ditentukan dan peserta didik sebagai sasarannya. Guru harus menggunakan berbagai metode dan teknik untuk mengkombinasikan kata, tulisan, visual, seta audio yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan. Guru dalam memilih strategi harus disesuaikan dengan kemampuan guru untuk bisa menguasai strategi yang dipilih. Guru tidak boleh boleh memilih strategi yang tidak guru kuasai agar guru tidak kesulitan saat menggunakan strategi tersebut. Penentuan gagasan pokok harus sesuai dengan topik yang telah ditentukan. Gagasan pokok ditampilkan dalam bentuk tunggal, lengkap, serta kalimat yang menyimpulkan intisari pesan. Gagasan pokok dapat berbentuk definisi formal, proses, atau kepercayaan. Gagasan pokok boleh dinyatakan atau diulang didalam program atau boleh dihilangkan sesuai keinginan guru. Sesudah gagasan pokok sudah dibuat, guru dapat mengerjakan garis besar isi materi. Papan cerita merupakan alat untuk merencanakan penampilan audio visual. Papan cerita digunakan untuk mengatur alur cerita yang akan ditampilkan kepada peserta didik. Papan cerita berisi urutan panel gambar. Setiap panel atau susunan kerangka papan cerita menggambarkan titik kunci dalam materi audio visual yang ditampilkan. Isi papan cerita dapat diperbaiki, ditata kembali, atay dihilangkan sampaiditemukan suatu cerita visual yang sesuai topik dan menarik   Fase Produksi Fase produksi meliputi dua langkah yaitu (1) pengambilan gambar, efek, dan perekaman suara, (2) sinkronisasi atau penyuntingan. Pengambilan gambar bisa secara langsung dengan cara menggunakan kamera atau mengambil gambar yang sudah ada untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Pengambilan efek bisa menggunakan aplikasi yang terdapat pilihan efek. Penggunaan efek bertujuan agar gambar yang ditampilkan lebih menarik. Pemberian efek bisa dengan menggunakan gambar atau suara. Perekaman suara digunakan untuk pemberian informasi dalam video atau film. Pemberian suara bertujuan agar informasi yang ditampilkan itu mudah dipahami. Perekaman suara juga digunakan untuk video atau film yang membutuhkan dialog percakapan. Langkah terkahir fase produksi adalah sinkronisasi atau penyuntingan. Sinkronisasi digunakan agar hasil pengambilan gambar sesuai dengan perekaman suara. Tahap penyuntingan bertujuan agar video atau film sesuai dengan topik yang telah ditentukan. Guru dalam menyunting video atau film harus teliti agar guru dapat mengetahui bila ada kesalahan didalam video atau film. Guru harus memperbaiki ketika ditemuka kesalahan dan menyunting kembali agar tidak terdapat kesalahan didalam video atau film.   Fase Kegiatan Tindak Lanjut Fase kegiatan tindak lanjut meliputi dua langkah yaitu (1) penyiapan cara menggunakan dan (2) penilaian program. Langkah pertama yaitu penyiapan guru untuk mamahami cara menggunakan video tau film. Langkah penyiapan digunakan agar guru dapat menguasai materi yang ada didalam video atau film. Langkah penyiapan dalam memahami cara menggunakan bertujuan agar guru yang tidak bisa menggunakan video atau film tidak mengalami kesulitan. Guru yang tidak bisa menggunakan video atau film diberi pengarahan menggunakan video atau film untuk media pembelajaran. Langkah Penilaian program dilakukan dengan cara yang mudah yaitu menerjemahkan tujuan ke dalam instrumen evaluasi. Penilaian program dilakukan terhadap materi serta strategi yang digunakan dalam penyusunan program langkah penilaian program bertujuan video atau film yang digunakan agar diketahui kelebihan dan kekurangan video atau film tersebut.   Fase Penilaian dan Kesimpulan Fase ini merupakan fase terakhir penyusunan media pembelajaran audio visual. Pada fase terakhir video atau film di evaluasi ulang untuk penyempurnaan media pembelajaran. Setelah video atau film di evaluasi, video atau film dijadikan impulan. Simpulan merupakan rangkuman inti sari dari bahan video atau film yang sudah dibuat. Kelebihan dan Kekurangan Media Pembelajaran Audio Visual Media pembelajaran audio visual memiliki kelebihan yaitu (1) penampilan peserta didik dapat dievaluasi, (2) memperkokoh proses belajar, (3) informasi dapat disajikan secara serentak. Penggunaan media pembelajaran audio visual dapat merekam kegiatan pembelajaran peserta didik yng berlngsung engan keterampilan seperti keterampilan olahraga, keterampilan berceramah, keterampilan drama, keterampilan masak, dan keterampilan mengajar. Kegiatan peserta didik yang sudah direkam dapat dilihat kembali untuk dikritik atau dievaluasi. Keterampilan peserta didik dikritk atau dievaluasi agar peserta didik mengetahui kesalahan dalam kegiatan keterampilan yang dilakukan peserta didik. Media pemebelajaran audio visual yang menggunakan sefek visual dan animasi dapat memperkokoh proses belajar. Penggunaan efek visual dan animasi dalam pembelajaran dapat menarik perhatian peserta didik, sehingga peserta didik tidak merasa bosan ketika pembelajaran berlangsung. Biaya produksi yang mahal mengakibatkan seorang guru tidak banyak yang menggunakan media pembelajaran audio visual. Seorang guru lebih memilih menggunakan media pembalajaran biasa seperti media yang hanya menggunakan gambar saja. Biaya produksi yang mahal kelihatannya sudah tidak sesuai, karena dengan teknologi dan informasi yang begitu pesat. Guru bisa mendapatkan adat perekaman video dengan harga yang murah, guru juga bisa membuat atau mengedit video dengan menggunakan perangkat lunak yang diperoleh dari internet.   PENUTUP Berdasarkan uraian informasi pada bagian bahasan, berikut dijelaskan kesimpulan dan saran yang linier dengan informasi tersebut.   Kesimpulan Media pembelajaran audio visual adalah media elektronik yang digunakan sebagai bahan ajar yang memanfaatkan sinyal audio dikombinasikan dengan gambar bergerak. Tujuan media pembelajaran audio visual yaitu (1) memberikan pengalaman kepada peserta didik, (2) memperlihatkan peristiwa nyata, (3) dapat menampilkan kasus kehidupan sebenarnya, dan (4) dapat menaikan ingatan. Jenis-jenis media audio visual ada 10 jenis media yaitu (1) transparansi, (2) slide, (3) filmstrip, (4) rekaman, (5) siaran radio, (6) film, (7) televisi, (8) tape atau video cassette, (9) laboratorium, dan (10) komputer. Penyusunan media pembelajaran audio visual yaitu (1) fase perencanaan, (2) fase produksi, (3) fase kegiatan tindak lanjut, dan (4) fase penilaian dan kesimpulan. Media pembelajaran audio visual memiliki kelebihan yaitu (1) penampilan peserta didik dapat dievaluasi, (2) memperkokoh proses belajar, (3) informasi dapat disajikan secara serentak. Biaya produksi yang mahal mengakibatkan seorang guru tidak banyak yang menggunakan media pembelajaran audio visual.   Saran Untuk memaksimalkan penggunaan media pembelajaran audio visual untuk meningkatkan minat belajar peserta didik. Guru disarankan memiliki kemampuan menjalankan teknologi. Penggunaan media pembelajaran audio visual dapat terlaksana jika guru dapat menggunakan media audio visual yang memuat informasi pembelajaran. Sehinggah minat belajar peserta didik dapat meningkat.   DAFTAR RUJUKAN Abdulkak, Ishak & Deni Darmawan. 2013. Teknologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset . Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press Warsita, Bambang. 2011. Pendidikan Jarak Jauh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offse

    Peran Sanggar Kawulo Bantarangin Dalam Melestarikan Kesenian Reog Di Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo

    No full text
    ABSTRAKWijayanti, Kiki. 2019. Peran Sanggar Kawulo Bantarangin Dalam Melestarikan Kesenian Reog di Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Dr. Hj. Yuniastuti, S.H, M.PdKata Kunci: Peran, Sanggar Kawulo Bantarangin, Melestarikan, Kesenian ReogPeran merupakan suatu sikap atau perilaku yang dapat diperbuat yang disesuaikan dengan kedudukan atau statusnya, dengan menjalankan semua hak dan kewajibannya. Sanggar mempunyai kewajiban untuk menjalankan fungsinya sebagai tempat untuk melakukan kegiatan belajar menari dan berhak untuk ikut terlibat dalam kegiatan pelestarian kesenian. Terlaksananya suatu hak dan kewajiban yang telah dilakukan maka telah terlaksana juga peran yang dilakukan oleh suatu sanggar tersebut dalam menjalankan tugasnya untuk melestarikan kesenian. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan judul Peran Sanggar Kawulo Bantarangin dalam Melestarikan Kesenian Reog di Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar berdirinya sanggar Kawulo Bantarangin, program pelestarian kesenian Reog yang disusun oleh sanggar Kawulo Bantarangin, mendeskripsikan peran sanggar Kawulo Bantarangin dalam melestarikan kesenian Reog di Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo, dan mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung dalam melestarikan kesenian Reog di sanggar Kawulo Bantarangin serta solusi untuk mengatasi faktor penghambat pelestarian kesenian Reog di sanggar Kawulo Bantarangin.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Sanggar Kawulo Bantarangin yang berada di Desa Kauman Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Sumber data peneliti yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data sekunder berupa pengamatan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi.Temuan penelitian ini adalah: (1) Sanggar Kawulo Bantarangin didirikan oleh para seniman Reog yang ingin terus mengembangkan dan melestarikan kesenian Reog.(2) Sanggar Kawulo Bantarangin mempunyai 2 program pelestarian kesenian Reog yaitu program pelatihan dan program kerjasama (3) Peran sanggar Kawulo Bantarangin dalam melestarikan kesenian Reog sangatlah penting. Hal tersebut dibuktikan dengan banyak masyarakat yang ikut bergabung dengan sanggar mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Sanggar Kawulo Bantarangin berperan sebagai tempat yang digunakan untuk berlatih Reog agar bisa menumbuhkan bibit-bibit penari Reog yang baru, yang hebat di Kecamatan Kauman. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tempat latihan untuk anggota sanggarSanggar Kawulo Bantarangi juga berperan dalam mengubah pandangan masyarakat kalau kesenian Reog itu tidak mengandung unsur mitis dan tidak ada unsur negatif seperti minum-minuman keras. Hal ini dapat di buktikan pada saat mengikuti pertunjukan Reog di sanggar Kawulo Bantarangin para pemainnya tidak ada yang mengonsumsi minum-minuman keras, dan sanggar Kawulo Bantarangin juga menunjukkan tidak adanya unsur mistis dalam mengikuti pementasan Reog dengan cara setiap sebelum pentas semua pemain melakukan do’a bersama. Sanggar Kawulo Bantarangin juga berperan dalam menciptakan ide-ide kreatif dimana dalam setiap mengikuti pementasan selalu menyesuaikan dengan tema yang disesuaikan dengan perkembangan jaman sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk ikut gabung dengan sanggar. (4) Faktor penghambat yang ada di sanggar Kawulo Bantarangin yaitu kendala niat dan permasalah pribadi yang di alami oleh anggota sanggar. Selain itu di sanggar Kawulo Bantarangin juga belum adanya tim khusus yang bergerak di pendanaan. Kemajuan teknologi tertama Hp juga menghambat proses pelatihan kesenian Reog di sanggar Kawulo Bantarangin.Adanya kendala tersebut tidak mengurangi semangat sanggar untuk tetap melestarikan kesenian Reog, karena sanggar Kawulo Bantarangin didukung dengan adanya tim yang kuat, yang tidak hanya untuk bekerja dan sekedar hanya untuk tanggapan saja, melainkan untuk solidaritas dan menyambung rasa kekeluargaan. Selain itu sanggar Kawulo Bantarangin juga mempunyai generasi-generasi muda yang pintar, yang berbakat dan selalu aktif masuk latihan. (5) Solusi yang dapat diberikan sanggar Kawulo Bantarangin yaitu dengan cara selalu melakukan pembaruan dengan ide-ide kreatif yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, serta melakukan pendekatan kepada anggota sanggar. Solusi untuk mengatasi kendala belum adanya tim khusus dalam pendanaan, pengurus berusaha membuat tim khusus yang bergerak di bidang pendanaan yang sampai saat ini masih dalam proses. Sementara ketika ada pementasan maka menggunakan dana pribadi. Solusi untuk mengatasi masalah kemajuan teknologi terutama hp, yaitu dengan cara bagi anggota sanggar yang membawa hp harus digunakan untuk memvideo temannya yang sedang latihan.Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) Kepada pemerintah terkait dalam pelestarian kesenian Reog seperti pemerintah Desa, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, harus berperan aktif dalam kegiatan melestarikan kesenian Reog, karena pihak terkait mempunyai kewajiban untuk tetap melestarikan kesenian Reog. Pemerintah desa bisa membuat kebijakan, dimana anggaran pendapatan desa juga digunakan untuk pembinaan kesenian. Selain itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata membuat desa binaan dengan potensi yang ada, berupa desa wisata kesenian Reog. (2) Untuk sanggar Kawulo Bantarangin harus lebih banyak menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Ponorogo.(3) Kepada pengurus sanggar Kawulo Bantarangin hendaknya juga menambahkan pelatihan membuat kerajinan atau perlengkapan sendiri yang dapat digunakan untuk menunjang pementasan kesenian Reog. (4) Hendaknya anggota sanggar dapat menjadikan hobi mereka terhadap kesenian Reog sebagai modal untuk memotivasi diri dalam meningkatkan prestasi di bidang kesenian Reog. (5) Untuk masyarakat harus lebih meningkatkan rasa kepeduliannya terhadap kesenian Reog dengan mendukung program-program pelestarian Reog yang diadakan baik oleh pemerintah maupun sanggar-sanggar yang ada di Kabupaten Ponorogo

    Penguatan Nilai Karakter Anti Korupsi MelaluiImplementasi Electronic Café (E-Café) Bhawikarsudi SMA Negeri 3 Malang

    No full text
    ABSTRAKIlham, Choiri. 2019. Penguatan Nilai Karakter Anti Korupsi MelaluiImplementasi Electronic Café (E-Café) Bhawikarsudi SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, JurusanHukum dan Kewarganegaraaan, FakultasIlmuSosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Drs. H. Suparman AW, S. H. M.Hum (2) Dr. Nuruddin Hady, S.H, M.H.Kata Kunci: Electronic Café (E-Café) Bhawikarsu,Nilai Karakter Anti Korupsi, SMA Negeri 3 MalangElectronic Café (E-Café) Bhawikarsuadalahpengembangan program kantinkejujuran yang berasaldariKementerian Pendidikan Nasional yang bekerjasamadengankomisipemberantasankorupsi (KPK) dalamupayauntukmenanamkansekaligusmenguatkannilaikarakter anti korupsi. Electronic Café (E-Café) Bhawikarsuinimemuatkonseppendidikannilai yang menekankan pada pembiasaankarakter anti korupsi pada pesertadidik. Usaha yang dilakukanuntukmenanamkannilaitersebut, dapatdikembangkandalamranahpendidikankhususnyasekolah. Sekolahmemerlukanpengelolaanyanbaik agar pesertadidikmenjadibermutu dan berkarakter.Penelitianinidilaksanakandengantujuanuntuk (1) mengetahuilatarbelakangberdirinyaelectronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang dilihatdaripenguatankarakter anti korupsi, (2) mengetahuioperasional electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang yang dapatmendukungpembentukankarakter anti korupsi, (3) mengetahuipenguatannilaikarakter anti korupsimelaluiimplementasi electronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang, (4) mengetahuihambatan dan solusisekolahdalampenguatannilaikarakter anti korupsimelaluiimplementasielectronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malang.Penelitianinimenggunakanpendekatanpenelitiankualitatif yang bersifatdeskriptif. Prosedur yang dilakukanuntukmengumpulkan data adalahdenganteknikobservasi, teknikwawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakanuntukmengumpulan data berupa instrument manusia, yaitupenelitisendiri. Kegiatananalisis data dimulaidarireduksi data, penyajian data, dan menarikkesimpulan. Untukmenjagakeabsahan data dilakukan uji kredibilitasdenganpeningkatanketekunandalampenelitian dan triangulasi. Pemilihanlokasi SMAN 3 Malang sebagaitempatpenelitianadalahberdasarkanpertimbanganadanyaElectronic Café (E-Café) Bhawikarsuyang dijadikansebagaiprogram unggulansekolah.Temuanpenelitiandalampenelitianinimenghasilkanempatpembahasan , yaitu (1) latarbelakangterbentuknyaelectronic café (e-café) bhawikarsu di SMA negeri 3 Malanginiawalnyaadalahpengembangan program dari Kementerian Pendidikan Nasional yang bekerjasamadengankomisipemberantasankorupsi (KPK) dan sebagai media pembelajaranpendidikankarakter, (2)operasional dan pelaksanaanelectronic café (e-café) bhawikarsusebagaipenguatannilaikarakter anti korupsisiswa di SMAN 3 Malang inidikelolasepenuhnya oleh pihaksekolah, (3)Penguatannilaikarakter anti korupsi yang dilakukan di electronic café (e-café) bhawikarsuyaitupara pembeliharusbersikap dan berperilakujujur, disiplin, mandiridalammemilih, mengambil dan membayarbarang yang diinginkan. Serta denganmengedepankansikapbertanggungjawabpenuhatastindakan dan perbuatan yang telahdilakukan,(4)hambatanpelaksanaanelectronic café (E-Café) bhawikarsuadalahperubahankonsepelectronic café (E-Café) bhawikarsu yang menyesuaikandengankebutuhansekolah, adanyagangguan oleh sistem dan kelistrikansertasistemelectronic café (E-Café) bhawikarsubelummampumengantisipasikecurangan. Solusiatashambatan yang telahdihadapitersebutadalahmelakukanevaluasipelaksanaan program electronic café (E-Café) bhawikarsu dan menjalankan tata tertibsertaperaturan yang ada di electronic café (E-Café) bhawikarsu di SMAN 3 Malang.Saran yang dapatpenelitiberikandalampenelitianiniadalahpihaksekolahharusterusmendukungpelaksanaanelectronic café (E-Café) bhawikarsuuntuktetapada dan terusberkembang. Memberikanpengarahansertamotivasikepadapesertadidik,untukberbuat dan bersikapsesuaidengannilaikarakter anti korupsi. Pembiasaanbersikapjujur, disiplin, bertanggungjawab dan mandiri, yang dilakukansecaraterus-meneruskedepanyaakanberdampakpositif dan bermanfaat, tidakhanyauntuklingkungansekolahtertapibermanfaatuntuklingkungankeluarga dan lingkunganmasyarakat

    0

    full texts

    436

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇