SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
Peran Paguyuban Argha Kencana dalam Melestarikan Seni Karawitan di Kelurahan Bence Kecamatan Garum Kabupaten Blitar.
ABSTRAKIra, Dewi Susanti. 2019. Peran Paguyuban Argha Kencana dalam Melestarikan Seni Karawitan di Kelurahan Bence Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Didik Sukriono, SH, M.Hum (2) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd, MH Kata Kunci : Pola, Pelestarian, Seni KarawitanSeni karawitan adalah salah satu budaya yang masih bertahan di tengahtengah pengaruh zaman yang sudah serba modern. Namun, eksistensi karawitan pada saat ini tidak seperti ketika zaman dahulu, hanya sebagian kecil dari masyarakat Jawa saja yang mau dan mampu menjaga kelestarian budaya ini. Seni karawitan merupakan salah satu karya seni asli masyarakat Indonesia, yang dalam permainannya memadukan seni vocal dan seni instrumental. Seni tersebut memiliki keunikan tersendiri, bisa dikatakan sebagai center dari seni lain, karena karawitan dapat manggabung dengan seni lain semisal wayang, mengiringi taritarian, mengiringi upacara sekaten, upacara kenegaraan atau keagamaan, dan juga Klenengan (uyon-uyon, upacara nikah, ngundhuh mantu, dan lain-lain).Di tengah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang pesat, serta banyaknya pengaruh budaya yang berasal dari luar menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk melestarikan budaya lokal, banyak sekali generasi muda dan masyarakat yang melupakan budaya daerah sendiri. Maka untuk itu diharapkan generasi muda untuk tetap menjaga dan melestarikan seni karawitan agar eksistensinya tetap terjaga.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan:(1) Kegiatan Seni Karawitan yang dilakukan oleh Paguyuban Argha Kencana di Kelurahan Bence, Kecamatan Garum Kabupaten Blitar;(2) Pola Pelestarian Seni Karawitan yang dilakukan oleh Paguyuban Argha Kencana di Kelurahan Bence, Kecamatan Garum Kabupaten Blitar;(3) Faktor yang mendorong dan menghambat berkembangnya Seni Karawitan oleh Paguyuban Argha Kencana di Kelurahan Bence; dan(4) Solusi untuk mengatasi hambatan dalam pelestarian Seni Karawitan oleh Paguyuban Argha Kencana di Kelurahan Bence Kecamatan Garum Kabupaten Blitar.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Sumber data dari penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder serta pengumpulan datanya dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan merujuk pada model Miles and Huberman, dimana aktivitas dalam analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan Triangulasi sumber.Hasil penelitian menunjukkan bahwa:Pertama, pelestarian seni karawitan di Kelurahan Bence Kecamatan Garum Kabupaten Blitar sudah mulai muncul sejak tahun 2000 dan tetap berkembang hingga sekarang, akan tetapi masyarakat dalam partisipasinya melestarikan seni karawitan terbilang masih kurang hanya beberapa saja yang tergabung dalam paguyuban, namun partisipasi oleh pemuda sudah muncul. Kegiatan seni karawitan dilaksanakan oleh paguyuban Argha Kencana ditujukan untuk membantu masyarakat khususnya pemuda di sekitar wilayahnya untuk lebih baik secara potensi dan personal. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberdayakan pemuda agar para pemuda tidak melupakan budaya Jawa yang semakin lama semakin menghilang tertindas oleh teknologi yang berkembang pesat.Kedua, pola pelestarian seni karawitan dilakukan dengan menggunakan 5 (lima) tahap, yaitu:(1) Tahap Orientasi;(2) Tahap Identifikasi Perencanaan Kebutuhan Lingkungan;(3) Tahap Sosialisasi;(4) Tahap Latihan Rutin; dan(5) Tahap Evaluasi Kegiatan.Ketiga, Faktor yang mendukung kegiatan pelestarian seni karawitan yakni berasal dari luar dan dari dalam kelompok paguyuban karawitan. Faktor dari dalam kelompok (intern) yakni dorongan dalam diri pribadi masing-masing anggota kelompok, adanya keinginan dan motivasi yang muncul oleh tiap anggota menjadi faktor pendukung dari dalam kelompok yang menjadikan kegiatan pemberdayaan pemuda melalui karawitan ini dapat berjalan, dan faktor dari luar kelompok (ekstern) adalah faktor keluarga, sarana prasarana dan masyarakat. Sedangkan faktor penghambat pemberdayaan pemuda melalui kesenian karawitan gamelan oleh paguyuban Argha Kencana adalah adanya permasalahan mengenai lokasi tempat berlatih yang berpindah-pindah, kurangnya komunikasi yang terjalin, pandangan negatif masyarakat yang mayoritas Islam, kurangkanya kesadaran dan motivasi pemuda dalam pelestarian, dan perbedaan bakat dan kemampuan antar anggota paguyuban.Keempat, solusi mengatasi hambatan dalam melestarikan kesenian karawitan yakni ditangani langsung oleh para anggota tetap yang di temani oleh ketua paguyuban dan anggota tetua bekerja yang lebih ekstra dalam pelestarian karawitan, yakni dengan menyediakan tempat pelatihan khusus di rumahnya, melakukan promosi dan ajakan-ajakan agar menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, membuka paguyuban untuk umum bukan untuk anggota saja, saling menjaga komunikasi, bertata krama yang baik agar tidak memicu warga berpandangan yang buruk terhadap kesenian, memotivasi para pemuda agar cinta terhadap budaya, dan juga memberikan reward atau hadiah agar pemuda memiliki semangat.Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa saran yang peneliti ajukan, yaitu sebagai berikut:(1) Kepada Perguruan Tinggi, Perguruan tingi sebagai salah satu lembaga yang mengabdikan kepada masyarakat, hendaknya mengadakan kegiatan kerjasama terkait dengan pelestarian kesenian tradisional melalui kegiatan KKN mahasiswa secara umum dan khususnya bagi mahasiswa jurusan seni budaya.(2) Kepada Pemerintah Kelurahan, diharapkan agar tetap melestarikan budaya yang sudah ada dan hendaknya lebih diperhatikan lagi keberadaan budaya tersebut, dengan mengetahui lebih dalam mengenai seni karawitan yang ada di lingkungan sekitar, supaya dapat menambah dan mengembangkan perekonomian masyarakat kelurahan lebih banyak lagi.(3) Kepada Masyarakat, hendaknya lebih mendorong diri untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta pemberdayaan dan pelestariannya guna mempertahankan keberadaan seni budaya yang sudah ada agar tidak punah.(4) Kepada Ketua Paguyuban, hendaknya pelaksanaan pelatihan gamelan dilaksanakan tidak hanya satu kali dalam seminggu tetapi minimal dua kali dalam seminggu agar anggota karawitan lebih terampil dalam memainkan alat musik gamelan. Selain itu hasil dari pemberdayaan yang mampu berdampak pada aspek sosial dan budaya dapat ditingkatkan lagi dan diperluas pada aspek ekonomi. Dimana peserta diajak aktif untuk mengikuti pertunjukan dan event-event yang nantinya dapat memberikan tambahan penghasilan bagi para anggota.(5) Kepada Pelatih, untuk mengatasi hambatan motivasi diri yang rendah bagi anggota karawitan hendaknya pelatih dapat menumbuhkan rasa percaya diri anggota paguyuban karawitan dengan cara memberikan tanggung jawab terhadap peserta untuk dapat memainkan salah satu gamelan dan untuk mengatasi perbedaan bakat dan tingkat kecerdasan pelatih harus memperhatikan setiap kelebihan dan kelemahan peserta sehingga dapat menerapkan strategi pelatihan yang tepat.(6) Kepada Peneliti, hendaknya pada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan lebih sempurna, baik yang berhubungan dengan penelitian ini, maupun yang berhubungan dengan masalah lain yang berhubungan dengan seni karawitan. ABSTRACTSusanti, Ira Dewi. 2019. The Role of Argha Kencana Association in Preserving Karawitan Arts in Bence Sub-District, Garum District, Blitar Regency. Thesis, Study Program of Pancasila and Citizenship Education, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, Malang State University. Advisor: (1) Dr. Didik Sukriono, SH, M.Hum (2) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd, MH Keywords : Patterns, Preservation, Karawitan ArtsArtsart is one of the cultures that still survive in the midst of the influence of the modern era. However, the existence of music at this time is not like when it was in the past, only a small portion of the Javanese people were willing and able to preserve this culture. Karaoke is one of the original works of Indonesian society, which in its game combines vocal and instrumental art. The art has its own uniqueness, it can be said as a center of other arts, because karawitan can combine with other arts such as puppets, accompany dances, accompany sekaten ceremonies, state or religious ceremonies, and also Klenengan (uyon-uyon, marriage ceremony, ngundhuh mantu, and others).In the midst of rapid technological and scientific developments, as well as the many cultural influences originating from outside, it becomes a challenge to preserve local culture, many young people and communities forget their own regional culture. So for this reason, it is hoped that the younger generation will maintain and preserve musical arts so that their existence is maintained.This study aims to describe:(1) Karawitan Art Activities by Argha Kencana Assocation in Bence sub-District, Garum District, Blitar Regency;(2) Karawitan Art Preservation Pattern by Argha Kencana Assocation in in Bence sub-District, Garum District, Blitar Regency;(3) Factors that pushed and inhibited the development of Karawitan Art in in Bence sub-District, Garum District, Blitar Regency; and(4) Solutions to overcome barriers to preservation of Karawitan Arts in Bence Sub-District Garum District, Blitar Regency.This study used a qualitative approach with ethnographic research types. Sources of data from this study are primary data sources and secondary data sources and data collection by conducting observations, interviews and documentation. Analysis of the data used refers to the Miles and Huberman model, where activities in data analysis include data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing. Checking the validity of the data obtained from the results of the study, researchers used triangulation sources.The results showed that:First, the preservation of musical arts in the Bence Village of Garum Subdistrict, Blitar District had begun to appear since 2000 and continued to grow until now, but the community in preserving karawitan art was still lacking, only a few joined the association, but participation by the young man has appeared. Karawitan art activities carried out by the Argha Kencana community are aimed at helping the community, especially young people around the area to be better potential and personal. This activity is intended to empower youth so that young people do not forget Javanese culture which is increasingly disappearing oppressed by rapidly developing technology.Secondly, the pattern of preserving musical arts is carried out using 5 (five) stages, namely:(1) Orientation Stage;(2) Stage of Identification of Environmental Needs Planning;(3) Dissemination Phase;(4) Routine Exercise Phase; and(5) Activity Evaluation Stage.Third, the factors that support the preservation of musical arts activities are from outside and from within the Karawitan community group. Factors from within the group (internal), namely the impulse in each individual member of the group, the desire and motivation that arises by each member to be a supporting factor from within the group that makes youth empowerment activities through karawitan can run, and factors from outside the group ( external) is a factor of family, facilities and community. Whereas the inhibiting factors of youth empowerment through gamelan musical arts by the Argha Kencana community are the existence of problems regarding the location of mobile practice, lack of communication, negative views of the majority Muslim community, lack of awareness and motivation of youth in preservation, and different talents and abilities between members of the association.Fourth, the solution to overcoming obstacles in preserving musical arts is handled directly by permanent members who are accompanied by community leaders and members of the elders who work more extra in musical conservation, namely by providing special training venues in their homes, promotion and invitations to grow love for culture, opening the community for not just members, communicating with each other, having good manners so as not to trigger people to have a bad view of the arts, motivating young people to love culture, and also giving rewards or gifts so that the local government has enthusiasm .Based on the results of the study there are several suggestions that the researchers propose, namely as follows:(1) To Universities, Higher Education as one of the institutions that devotes to the community, should conduct collaborative activities related to the preservation of traditional arts through student KKN activities in general and especially for student majoring in cultural arts.(2) It is expected that the Kelurahan Government continue to preserve the existing culture and should pay more attention to the existence of the culture, by knowing more about musical arts in the surrounding environment, in order to increase and develop the economy of the kelurahan more.(3) To the Community, it should be more encouraging to maximize the potential of local culture and empowerment and preservation in order to maintain the existence of existing cultural arts so as not to become extinct.(4) To the Chairperson of the Association, the implementation of gamelan training should be held not only once a week but at least twice a week so that the members of the musical group are more skilled in playing gamelan instruments. In addition, the results of empowerment that are able to have an impact on social and cultural aspects can be further improved and extended to economic aspects. Where participants are invited to actively participate in performances and events that can later provide additional income for the members.(5) To the Coach, to overcome the low barriers to self-motivation for karawitan members the trainer should be able to foster confidence in the members of the karawitan community by giving responsibility to participants to be able to play one of the gamelan and to overcome the differences in talent and intelligence any strengths and weaknesses of participants so that they can apply the right training strategies. (6) To the researcher, the next researcher should be able to conduct more perfect research, both related to this research, and related to other problems related to musical arts
PENGEMBANGAN LAPANGAN PRESTASI DI DESA KAULON KECAMATAN SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR
Abstraktujuan dari program ini adalah : (1) Untuk mengembangkan sarana dan prasarana dari fasilitas yang ada pada Lapangan Prestasi Desa Kaulon Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. (2) Untuk menarik kembali minat warga untuk melaksanakan kegiatan di Lapangan Prestasi Desa Kaulon Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar.Kata kunci : Lapangan, Taman, Kaulon, Blitar
PEMILU ELEKTRIK MENCEGAH GOLPUT
Abstrak Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan permasalahan golput di dunia politik Indonesia. Solusi tersebut adalah pemilu elektrik. Pemilu elektrik ini merupakan sebuah media yang berupa layar sentuh menggunakan teknologi informasi dan berbasis internet dalam melakukan pemungutan serta pengiriman data hasil pemilu. Hasil akhir dari penggunaan pemilu elektrik adalah akan mendapatkan data hasil pemungutan suara yang valid serta terpercaya. Hal itu terjadi sebab secara otomatis akan diketahui masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan tepat. Pemilu elektrik dapat diterapkan dengan mudah serta akan mengurangi anggaran negara dalam hal penggunaan kertas suara. Kata Kunci : pemilu elektrik, golput, berbasis interne
MODEL PEMBUDAYAAN NILAI KARAKTER DISIPLIN DI UNIT KREATIVITAS MAHASISWA UNIT AKTIVITAS BOLA BASKET UNIVERSITAS NEGRI MALANG
ABSTRAKPutra, Dana Risky Mandala, 2019. Model Pembudayaan Nilai Karakter Disiplin Di Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si, (II) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd, S.H, M,Hum.Kata Kunci: Model, Pembudayaan, Nilai Karakter, Unit Kreativitas MahasiswaPembudayaan nilai karakter merupakan suatu proses pembiasaan yang dilakukan seseorang berupa sikap, perilaku, maupun pikiran yang agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Agar penerapan pembudayaan nilai karakter tersebut mendapatkan hasil yang optimal, maka diperlukan suatu model dalam penerapannya. Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang merupakan salah satu UKM terbaik di Universitas Negeri Malang yang mengupayakan pembudayaan nilai karakter disiplin kepada anggota/pemainnya.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui persepsi pengurus harian umum dan staf kepelatihan Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang mengenai model pembudayaan nilai karakter disiplin, faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan model pembudayaan nilai karakter disiplin di Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang, upaya yang di lakukan Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang untuk mengatasi faktor penghambat dari dalam maupun luar organisasi dalam pembudayaan nilai karakter disiplin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan kemudian melakukan kesimpulan.Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, persepsi pengurus harian umum dan staf kepelatihan di Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang sepakat, bahwasannya pembudayaan nilai karakter disiplin merupakan salah satu pendidikan karakter yang dilakukan pengurus harian umum dan staf kepelatihan kepada anggota/pemainnya agar dapat membentuk karakter, watak dan kepribadian peserta didik yang sesuai dengan Nilai-Nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Kedua, model yang digunakan dalam pembudayaan nilai karakter disiplin di Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang yaitu model tata tertib yaitu menanamkan pendidikan nilai karakter melalui peraturan yang dibuat secara tertulis dan lisan yang sudah disetujui. Nilai karakter disiplin tersebut kemudian dijabarkan kembali beberapa aspek yaitu a) disiplin waktu b) disiplin mentaati peraturan c) disiplin perilaku Ketiga, faktor pendukung dari dalam organisasi yaitu: a) sumber daya manusia, b) sarana dan prasarana dan c) kegiatan rapat anggota. Faktor pendukung dari luar organisasi yaitu: a) lingkungan keluarga b) lingkungan masyarakat, c) teman bermain, dand) alumni organisasi. Faktor penghambat dari dalam organisasi yaitu: a) keterbatasan pengawasan, dan b) anggita/pemain itu sendiri. Faktor penghambat dari luar organisasi yaitu: a) keluarga yang kurang peduli, b) masyarakat yang kurang peduli,c) teman bermain yang memberi pengaruh negatif, dan d) alumni yang tidak sejalan.Keempat, upaya yang dilakukan Unit Kreativitas Mahasiswa Unit Aktivitas Bola Basket Universitas Negeri Malang yaitu, dengan menjalin hubungan komunikasi yang baik antara staf kepelatihan dengan pengurus harian umum, serta seluruh anggota UKM UABB
Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di SMAN 1 Lawang
ABSTRAKPangestika, Fitra Dwi, 2019. Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di SMAN 1 Lawang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Siti Awaliyah, Spd., SH., M.Hum, (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadoni, Mpd., M.Si.Kata Kunci: Peran Guru PPKn, MeningkatkanKedisiplinanKegiatan belajar seorang siswa di sekolah tidak terlepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya, tetapi pada kenyataannya masih banyak siswa SMAN 1 Lawang yang melanggar kedisiplinan.Salah satu terciptanya proses belajar mengajar yang baik adalah dengan menegakkan disiplin. Guru merupakan tokoh penting yang mempengaruhi keberhasilan dalam dunia pendidikan. Sosok guru yang inspiratif sangat dibutuhkan dalam proses transfer ilmu pengetahuan dan pembinaan kepribadian siswa agar memiliki akhlak mulia. Dalam hal ini sangat dibutuhkan peran guru PPKn dalam meningkatkan kedisiplinan siswa SMAN 1 Lawang.Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh: (1) bentuk-bentuk pelanggaran disiplin siswa di SMAN 1 Lawang, (2) peran guru PPKn dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMAN 1 Lawang, (3) kendala guru PPKn dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMAN 1 Lawang, (4) upaya guru PPKn mengatasi kendala-kendala dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMAN 1 Lawang.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Lawang. Sumber data yang dipakai yaitu informan yang terdiri dari guru PPKn, guru BK, tatib SMAN 1 Lawang, siswa SMAN 1 Lawang, peristiwa dan dokumen. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan diakhiri penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengant teknik triangulasi.Hasil penelitian ini adalah : (1) bentuk-bentuk pelanggaran disiplin siswa di SMAN 1 Lawang adalah sebagai berikut: (a) agresi fisik, (b) menantang wibawa guru, (c) membawa rokok dan merokok di sekolah, (d) terlambat datang ke sekolah, (e) ketidaklengkapan atribut siswa, membolos sekolah. (2) peran guru PPKn dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMAN 1 Lawang adalah: (a) memberikan contoh teladan yang baik kepada siswa, (b) memberikan nasehat kepada siswa, (c) memberikan motivasi kepada siswa, guru PPKn sebagai pengelola kelas, (d) menjelaskan pentingnya disiplin kepada siswa,(e) memberikan sanksi atau hukuman. (3) kendala guru PPKn dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMAN 1 Lawang sebagai berikut: (a) kendala dari peserta didik, (b) kendala dari guru, (c) kendala dari orang tua. (4) upaya guru PPKn mengatasi kendala-kendala dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMAN 1 Lawang sebagai berikut: (a) memberikan contoh teladan yang baik kepada siswa, (b) membimbing dan memberikan nasehat kepada siswa, (c) mengetahui dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam kelasnya (tentang pelajaran, status sosial/ekonomi, dan lain-lain), (d) memperhatikan dan membina suasana kekeluargaan dengan siswa, (e) memberikan sanksi atau hukuman.Sejalan dengan hasil penelitian di atas, penulis memberikan saran: Pertama, bagi siswa SMAN 1 Lawang agar tidak melakukan lagi pelanggaran disiplin seperti agresi fisik, menantang wibawa guru, membawa rokok dan merokok di sekolah, terlambat datang ke sekolah, ketidaklengkapan atribut siswa, membolos sekolah. Siswa hendaknya bersikap dan bertindak yang baik sesuai peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah agar proses pembelajaran di sekolah berjalan dengan baik. Kedua, guru PPKn perlu meningkatkan pembinaan disiplin terhadap siswa SMAN 1 Lawang. Bentuk pembinaan disiplin seperti: menunjukan sikap disiplin, menegur siswa yang melanggar secara lisan, menyampaikan manfaat dari berdisiplin, sanksi terhadap siswa yang melanggar baik sanksi ringan maupun sanksi berat, mengadukan siswa yang melanggar kepada wali kelas, guru BP, kepala sekolah, dan orang tua siswa harus dikembangkan dan lebih diintensifkan lagi. Ketiga, peran guru PPKn dalam membina disiplin siswa selama ini hendaknya terus ditingkatkan. Guru harus lebih memantau tingkah laku dan perbuatan siswa ketika berada di lingkungan sekolah agar tidak ada siswa yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Guru PPKn perlu melibatkan orang tua siswa dan masyarakat secara luas untuk membina disiplin siswa, sehingga siswa dapat melaksanakan tindakan disiplin bukan saja di sekolah tetapi juga pada lingkungan keluarga dan masyarakat.ABSTRACTPangestika, Fitra Dwi, 2019. Role of PPKn (Pancasila and Civic Education) Teacher in Improving Students’ Discipline in State Senior High School (SMAN) 1 Lawang. Thesis, Department of Law and Nationality, Faculty of Social Science, State University of Malang. Advisors: (I) Siti Awaliyah, Spd., SH., M.Hum, (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadoni, Mpd., M.Si.Keywords: Role of PPKn (Pancasila and Civic Education) Teacher, Improving DisciplinenA student’s learning activity at school is inseparable from various enforcements of rules and regulations at school, each student is required to be able to behave according to application of rules and regulations at school, but in reality, there are still many students in SMAN 1 Lawang who violate discipline. One of the ways for creating a proper teaching and learning process is to uphold discipline. Teachers serve as important figures giving influences on success in the world of education. It is necessary for an inspirational teacher in the process of transferring knowledge and fostering personality of students so that they have noble characters . In this case, role of PPKn teachers is greatly required in improving discipline of students in SMAN 1 Lawang.This study aims to obtain: (1) forms of disciplinary violations by students at SMAN 1 Lawang, (2) role of PPKn teachers in improving student discipline at SMAN 1 Lawang, (3) constraints of PPKn teachers in improving student discipline at SMAN 1 Lawang , (4) (4) efforts of PPKn teachers to overcome obstacles in improving student discipline at SMAN 1 Lawang.This research is a type of descriptive qualitative research. The location of this research was conducted at SMAN 1 Lawang. Sources of the data used are informants consisting of PPKn teachers, BK teachers, rule officers of SMAN 1 Lawang, SMAN 1 Lawang students, events and documents. Data collection techniques were by observation, interviews and documentation. Data analysis was by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. Checking on finding validity was by triangulation technique.Results of this study are: (1) forms of disciplinary violations by students at SMAN 1 Lawang are as follows: (a) physical aggression, (b) challenging teacher authority, (c) carrying cigarettes and smoking at school, (d) being late to school, (e)wearing incomplete student attributes, skipping school. (2) the roles of the PPKn teacher in improving student discipline at SMAN 1 Lawang are: (a) providing good examples to students, (b) giving advices to students, (c) providing motivation to students, PPKn teachers as class managers, ( d) explaining importance of discipline to students, (e) giving sanctions or penalties. (3) the constraints of PPKn teachers in improving the discipline of students at SMAN 1 Lawang are as follows: (a) constraints from students, (b) constraints from teachers, (c) constraints from parents. (4) the efforts of the PPKn teachers to overcome the obstacles in improving discipline of students at SMAN 1 Lawang are as follows: (a) providing good examples of examples to students, (b) guiding and giving advices to students, (c) understanding and overcoming any problems faced by students at class (about lessons, social / economic status, etc.), (d) paying attention and fostering a family atmosphere with students, (e) giving sanctions or punishments.In line with the results of the above research, the author gives recommendations: First, for students of SMAN 1 Lawang, they should not commit any disciplinary violations such as physical aggression, challenging teacher authority, carrying cigarettes and smoking at school, being late for school, wearing incomplete student attributes, skipping school . Students should behave and act appropriately according to the rules set by the school so that there will be a good learning process at school. Secondly, it is necessary for PPKn teachers to improve disciplinary guidance for students of SMAN 1 Lawang. Forms of disciplinary training can be by showing discipline, giving oral warning for students making violations, conveying benefits of discipline, giving sanctions against students making violations both minor sanctions and severe sanctions, reporting students who violate to homeroom teacher, BP teacher, headmaster, and students’ parents; all of which must be developed and intensified more. Third, it is necessary to improve the role of PPKn teachers in fostering student discipline. Teachers must conduct better monitoring on students’ behavior and actions when they are in the school environment so that there will be no violations by any students towards the rules set by the school. It is necessary for PPKn teachers to involve students’ parents and community in a broader manner so that it can foster students’ discipline, and the students can carry out disciplinary actions not only at school but also in the family and community environment
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PPKn) PADA MANTERI ANCAMAN INTEGRASI NASIONAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI KELAS X IPA 6 SMA NEGERI 9 MALANG
ABSTRAKMelawati. 2019. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Pada Materi Ancaman Integrasi Nasional dengan Menggunakan Model Problem Based Learning Di Kelas X IPA 6 SMA Negeri 9 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Suparman Adi Winoto, SH., M.Hum., (2) Rani Prita Prabawangi, S.Hub.Int., M.Si. Kata Kunci: Pembelajaraan, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Problem Based LearningIndonesia merupakan negara yang sangat menjunjung tinggi pentingnya pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang membentuk moral dan karakter siswa. Namun, dewasa ini siswa cenderung kurang tertarik dengan mata pelajaran PPKn, karena selama ini mata pelajaran PPKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, dan kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar siswa. Melihat rendahnya minat belajar siswa, guru berupaya meningkatkan hal tersebut dengan memilih model pembelajaran yang tepat, dengan harapan dapat meningkatkan kreativitas dan keaktivan siswa di dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu Problem Based Learning (PBL) atau model pembelajaran berbasis masalah. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengungkap penerapan model Problem Based Learning di kelas X IPA 6, sehingga mengambil judul “ Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (PPKn) Pada Materi Ancaman Integrasi Nasional dengan Menggunakan Model Problem Based Learning Di Kelas X IPA 6 SMA Negeri 9 Malang”Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) perencanaan pembelajaran PPKn pada materi ancaman integrasi nasional dengan menggunakan model Problem Based Learning di kelas X IPA 6 SMA N 9 Malang; (2) pelaksanaan Pembelajaran PPKn Pada Materi Ancaman Integrasi Nasional dengan Menggunakan Model Problem Based Learning Di Kelas X IPA 6 SMA N 9 Malang; (3) hambatan yang dialami guru dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn dengan menggunakan model Problem Based Learning di kelas X IPA 6 SMA N 9 Malang; serta (4) upaya guru mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn dengan menggunakan model Problem Based Learning di kelas X IPA 6 SMA N 9 Malang.Penelitian ini dilakukan di SMAN 9 Malang, Jalan Puncak Borobudur No. 1 Malang. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif oleh Miles and Huberman secara garis besar sebagai berikut: (1) reduksi data; (2) penyajian data (Data Display); (3) penarikan/ verifikasi kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan triangulasi sumber. Hasil Penelitian menunjukan bahwa: pertama, perencanaan pelaksanaan pembelajaran pada materi ancaman integrasi nasional dengan menggunakan model Problem Based Learning direncanakan dilakukan untuk tiga pertemuan, yang terdiri dari beberapa langkah-langkah atau tahapan yang harus dilaksanakan oleh setiap siswa. Tahapan tersebut terdiri dari: a) tahap persiapan; b) pelaksanaan; dan c) tahap pengkomunikasian hasil dari laporan yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok. Sementara untuk metode pembelajaran guru menggunakan diskusi dan media pembelajarannya menggunakan buku pegangan siswa, powerpoint, dan memanfaatkan media massa. Kedua, pelaksanaan pembelajaran PPKn tentang ancaman integrasi (Dis Integrasi) dengan menggunakan model Problem Based Learning di kelas X IPA 6 SMA N 9 Malang, dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: (1) kegiatan Pendahuluan yang meliputi guru mempersiapkan siswa, kemudian guru melakukan apersepsi; (2) kegiatan inti, pada kegiatan inti dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu: penyampaian materi, diskusi, presentasi; dan (3) penutup, kegiatan ini meliputi memberikan kesimpulan dan merefleksi tentang materi yang telah dibahas. Ketiga, hambatan yang dialami guru dalam penerapan model Problem Based Learning dalam proses pembelajaran yaitu meliputi masih ada siswa yang belum dapat menerima perbedaan pendapat, penyalahgunaan handphone (hp) saat proses pembelajaran dan yang terakhir masih ada siswa yang pasif. Keempat, upaya yang dilakukan guru mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning yaitu menengahi perbedaan pendapat antar siswa, menegur siswa yang melakukan penyalahgunaan Handphone (Hp) saat proses pembelajaran dan memberikan nilai plus kepada siswa yang aktif.Berdasarkan penelitian ini, peneliti memberikan saran diantaranya: (1) bagi Guru, diharapkan lebih inovatif lagi dalam merancang jalannya pembelajaran di kelas, agar siswa lebih bersemangat dan tetarik untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran, serta lebih merata dalam memberi perhatian kepada siswa; (2) bagi siswa, pada saat pembelajaran siswa harus lebih memperhatikan guru dan menghargai guru agar proses pembelajaran bisa berjalan lebih baik lagi
Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Reciber (Relawan Cinta Bersih) di Universita Negeri Malang
Penguatan Pendidikan Karakter adalah program pendidikan untuk memperkuat karakter melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi) dan olah raga (kinestetik) sesuai dengan falsafah Pancasila. Didalamnya terdapat karakter-karakter yang mulia salah satunya yaitu peduli lingkungan. Peduli lingkungan diwujudkan dengan adanya gerakan Reciber (Relawan Cinta Bersih). Diharapkan dengan kegiatan reciber ini dapat meningkatkan kesadaran manusia akan pentingnya kebersihan.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) program reciber di Universitas Negeri Malang; (2) pelaksanaan dari kegiatan reciber (Relawan Cinta Bersih) di Universitas Negeri Malang; (3) bentuk-bentuk penguatan pendidikan karakter dari kegiatan reciber (Relawan Cinta Bersih) di Universitas Negeri Malang.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian deskriptif ini, peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana pelaksanaan dari kegiatan reciber (Relawan Cinta Bersih) di Universitas Negeri Malang. Melalui jenis penelitian ini, data yang sudah terkumpul baik berupa kata-kata, gambar, wawancara, atau dokumentasi akan disusun secara terstruktur, saksama, dan objektif. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan keadaan nyata tanpa direkayasa.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Sosialisasi berupa edukasi dengan memberikan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan dan program lanjutan yang diterapkan di FMIPA sendiri yaitu jum’at bersih (2) Pelaksanaan gerakan reciber di Universitas Negeri Malang telah dilaksanakan 2 kali yang pertama diselenggarakan pada sabtu 24 Februari 2018 pukul 6 pagi sampai pukul 11 siang bertepatan dengan wisuda ke-92 di gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang. Kegiatan kedua dilakukan di lingkungan Graha Rektorat dan sekitarnya yang bertepatan dengan hari sampah tanggal 3 Maret 2018. Langkah pertama pembentukkan panitia. Sebelum kegiatan seluruh reciber dibriefing terlebih dahulu dan membentuk tim-tim yang tersebar. Pertama tim yang menghadang mobil masuk ke UM lalu memberikan edukasi dan membagikan kantong kresek, kedua tim yang memberikan kantong kresek pada seluruh warga UM serta memberi contoh memungut sampah dan meletakkannya ke kantong kresek, dan ketiga tim yang berkeliling membawa spanduk dengan memberikan pengetahuan bahwa setiap warga UM harus menjaga kebersihan lingkungan. Dan yang terakhir melakukan pengecekan. (3) Kegiatan reciber ini didalamnya memunculkan nilai-nilai pendidikan karakter yaitu : Religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan gerakan reciber ini bisa segera diproses oleh UM, sehingga gerakan ini bisa menjadi kebijakan dan seluruh warga UM bisa turut serta berpartisipasi dan menyadarkan warga UM akan pentingnya kebersikan lingkungan karena kebersihan lingkungan kampus merupakan tanggung jawab kita bersama. Kata Kunci : Penguatan Pendidikan Karakter, Reciber, Kebersiha
KEGIATAN PENGEMBANGAN KARAKTER CINTA TANAH AIR DI SMK NEGERI 12 MALANG
KEGIATAN PENGEMBANGAN KARAKTER CINTA TANAH AIR DI SMK NEGERI 12 MALANGDiyah Alifatun Nada, Rosyid Al Atok, Petir PudjantoroUniversitas Negeri MalangEmail : [email protected] Abstrak : Kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air merupakan pembentukan moralitas pada siswa, yang diberikan oleh pihak sekolah. Penelitian ini mengambil rumusan masalah mengenai kegiatan-kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang, faktor pendukung dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air, kendala-kendala yang dihadapi sekolah dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air dan upaya sekolah dalam menanggulangi kendala yang dihadapi dalam kegiatan mengembangkan rasa cinta tanah air di lingkungan SMK Negeri 12 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam mencari data, terdapat beberapa informan yaitu waka kesiswaan, guru dan siswa SMK Negeri 12 Malang. Data dianalisis mulai dari tahap pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data. Penelitian melakukan keabsahan data menggunakan cara trianggulasi waktu dan teknik.Hasil penelitian tersebut adalah: (1) pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang terwujud dalam beberapa kegiatan antara lain meliputi: kegiatan Upacara Bendera, kegiatan Mengibarkan Bendera, kegiatan Menyanyikan Lagu Nasional, kegiatan Diklat Bela Negara, Kegiatan Paskibra, dan kegiatan Pramuka; (2) pelaksanaan dan tujuan kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang: Kegiatan Upacara Bendera dilaksanakan dua minggu sekali dan di hari besar diikuti oleh semua guru dan siswa dengan tujuan untuk melatih kedisiplinan siswa serta memupuk rasa cinta tanah air, Kegiatan Mengibarkan Bendera Merah Putih dilakukan setiap hari pagi dan sore hari dilaksanakan oleh kesukarelaan siswa dengan tujuan agar siswa memiliki rasa cinta tanah air, disipli, dan tanggung jawab, Kegiatan Menyanyikan Lagu Nasional dilaksanakan setiap pagi sebelum memulai pembelajaran di dalam kelas dengan tujuan siswa memiliki jiwa cinta tanah air, Kegiatan Diklat Bela Negara dilaksanakan saat MOS oleh siswa baru dengan tujuan membentuk mental generasi muda yang handal, disiplin dan berkarakter, Kegiatan Paskibra ekstrakurikuler yang dilakukan saat hari selasa dan sabtu dengan tujuan paskibra melatih karakter disiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air dan semangat kebangsaan siswa, Kegiatan Pramuka di ekstrakurikuler yang dilakukan saat hari sabtu dengan tujuan menjadikan warga negara yang berjiwa pancasila, setia, dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik; (2) faktor pendukung dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air siswa yaitu sekolah dan guru memberikan dukungan kepada siswa dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air, sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air, dan sekolah memberikan fasilitas yang memadahi seperti sarana prasarana dalam semua kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air;(3) hambatan dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air diantaranya kurang disiplin dan tanggung jawab siswa dalam kegiatan upacara bendera, kurangnya kepedulian siswa dalam mengikuti kegiatan pengibaran dan penurunan bendera, kurangnya rasa percaya diri kegiatan menyanyikan lagu nasional di dalam kelas, kurang disiplinnya siswa dalam mengikuti diklat bela negara, kurangnya dukungan orang tua dalam kegiatan ekstrakurikuler paskibra dan kurangnya minat siswa dalam mengikuti ekstrakurikuler pramuka, kendala dari lingkungan sekolah adalah faktor tempat seperti lapangan yang kurang mendukung dalam kegiatan upacara bendera, pengibaran bendera dan kegiatan diklat bela negara; (5) upaya sekolah dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air adalah, sekolah memberikan fasilitas sarana prasarana yang memadahi seperti menyediakan lapangan yang lebih luas dalam kegiatan upacara bendera pada hari besar, pihak sekolah akan memberikan dukungan kepada siswa dalam kegitan pengibaran bendera merah putih, sekolah mengingatkan siswa dengan cara memutar musik lagu nasional dan mengingatkan siswa untuk melakuakan kegiatan menyanyikan lagu nasional, upaya sekolah lainya memberikan dukungan dan melakukan kerja sama dengan pihak luar yaitu TNI AD dalam kegiatan diklat bela negara, sekolah memberikan pengarahan dan memberikan pemahaman kepada orang tua siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler paskibra, sekolah juga memeberikan dukungan untuk kegiatan ekstrakurikuler pramuka yaitu dengan memberikan pembina pramuka dari luar.Saran yang diberikan peneliti antara lain: (1) Bagi siswa siswi SMK Negeri 12 Malang, diharapkan kegiatan karakter cinta tanah air di sekolah dapat menjadikan kebiasaan sehari-hari, tidak semata-mata karena adanya aturan sekolah melainnkan pada prinsip hidup dan perbaikan kualitas karakter pada siswa,(2) bagi sekolah diharapkan lebih menekankan motivasi untuk siswa dan selalu membuat program-program pembentukan karakter cinta tanah air siswa dengan maksimal. Sekolah juga harus selalu mendukung sarana-prasarana yang digunakan dalam kegiatan pengembanagan karakter cinta tanah air agar siswa lebih semangat lagi mengikuti,(3) bagi prodi ppkn diharapkan penelitian dengan judul kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang ini dapat menambah referensi sekaligus menambah bahan pustaka bagi peneliti lainnya, (4) bagi peneliti yang akan meneliti di SMK Negeri 12 Malang, semoga hasil penelitian ini bisa digunakan menjadi salah satu bahan referensi bagi rekan-rekan mahasiswa yang ingin meneliti di SMK Negeri 12 Malang dan yang ingin mengkaji penelitian ini lebih lanjut terkait tema yang sama yang dilakukan peneliti lainnya dikemudian hari.Kata Kunci: Kegiatan Pengembangan Karakter, Cinta Tanah Air, SMKPesatnya laju globalisasi memberikan hal-hal positif dan negatif bagi suatu bangsa di seluruh dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang secara langsung maupun tidak langsung merasakan dampak tersebut di sisi kehidupan. Cepatnya pembangunan di era globalisasi salah satunya berdampak pada menurunnya nilai-nilai bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila, karena tergeser oleh nilai-nilai bangsa asing. Globalisasi membawa mudahnya dampak negatif pada masyarakat di negara-negara berkembang di Indonesia. Salah satu masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia, dimana generasi penerus bangsanya kebanyakan mulai meniru budaya luar negeri dalam berbagai bentuk, diantaranya pola pergaulan, pola berpakaian, pola makan, dan berbagai pola perilaku lain yang pada gilirannya justru dapat merusak harkat dan martabat jati diri bangsa itu sendiri (Zamroni, 2011:65).Keunggulan suatu bangsa tidak hanya ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan juga ditandai dengan keungulan Sumber Daya Manusia (SDM). Pengembangan SDM harus meliputi aspek manusia sebagai insan, maupun manusia sebagai sumber daya pembangunan. Pembangunan SDM sebagai insan, diarahkan agar SDM suatu bangsa memiliki harkat dan martabat sebagai manusia sehingga pengembangannya diarahkan pada pembentukan manusia yang berkarakter.Karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral. Sifat alami itu di implementasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan karakter lainnya (Lickona, 1989:22). Menurut Suyanto (2008), karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.Karakter mengacu pada sikap, perilaku , maupun keterampilan. Dalam menanamkan nilai karakter salah satu caranya yaitu pendidikan, baik pendidikan keluarga, masyarakat, maupun di sekolah. Budimansyah (2010:68) berpendapat bahwa pendidikan karakter di sekolah perlu dikembangkan dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) Pendidikan karakter di sekolah harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Hal ini mengandung arti bahwa proses pengembangan nilai-nlai karakter merupakan proses yang panjang, mulai sejak awal peserta didik masuk sekolah hingga mereka lulus sekolah pada suatu satuan pendidikan;(2) Pendidikan karakter hendaknya dikembangkan melalui semua mata pelajaran, melalui pengembangan diri, dan budaya suatu satuan pendidikan. Pembinaan karakter bangsa dilakukan dengan mengintegrasikan dalam seluruh mata pelajaran, sehingga semua mata pelajaran diarahkan pada pengembangan nilai-nilai karakter tersebut. Pengembangan nilai-nilai karakter juga dapat dilakukan melalui pengembangan diri, baik melalui kegiatan konseling maupun kegiatan ektra kurikuler; (3) Sejatinya nilai-nilai karakter tidak diajarkan (dalam bentuk pengetahuan), jika hal tersebut diintegrasikan dalam mata pelajaran. Kecuali bila dalam bntuk mata pelajaran agama (yang didalamnya mengandung ajaran) maka tetap diajarkan dengan proses, pengetahuan (knowing), melakukan (doing), dan akhirnya membiasakan (habit); (4) Proses pendidikan dilakukan peserta didik dengan cara aktif dan menyenangkan. Proses ini menunjukan bahwa proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik bukan oleh guru. Sedangkan guru menerapkan prinsip “Tut Wuri Handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukan oleh agama. Guru mempunyai peranan dalam pendidikan karakter peserta didik. Menurut Musfiroh (2008:27) menyatakan bahwa karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Peran guru khususnya guru PPKn sangat penting dalam memberikan pendidikan karakter peserta didik supaya peserta didik mendapat pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap tata nilai. Menurut Zamroni (2001:60) guru adalah orang yang mempunyai peran penting dalam merancang strategi pembelajaran yang akan dilakukan. Strategi pembelajaran yang tepat bagi peserta didik adalah dengan memasukkannya konsep tentang karakter cinta tanah air dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan karakter dalam dunia pendidikan akan terwujud jika antar komponen saling mendukung melalui tindakan yang bertahap dan berkesinambungan. Dengan pendidikan karakter siswa akan memiliki karakter yang kuat sehingga memiliki rasa cinta tanah air yang kuat dan mampu melindungi bangsa dan Negara. Keikut sertaan guru terutama guru PPKn dalam pengembangan pendidikan karakter disekolah yang menjadi fasilitator dalam pembentukan nilai-nilai karakter yang baik sehingga dapat terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses maupun setelah proses sekolah. Pembelajaran pendidikan karakter secara formal diterapkan melalui program pengajaran PPKn, sebab dalam mata pelajaran PPKn ditanamkan pendidikan karakter yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri siswa. Sebagai teladan, soerang guru dituntut agar dapat mengarahkan siswa berbuat baik, sabar dan penuh pengertian dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri siswa. Sebab saat ini contoh keteladanan dari generasi tua khususnya dilingkungan masyarakat kurang maka disini peran guru sangat penting dalam membentuk karakter cinta tanah air siswa dilingkungan sekolah sehiggga siswa dapat mewujudkan bentuk cinta tanah airnya dengan cara berdoa sebelum memulai pelajaran, menyanyikan lagu nasional, mengikuti kegiatan yang bisa mengembangkan karakter cinta tanah air. Oleh karena itu guru PPKn sangat berperan dalam memberikan pendidikan karakter disekolah supaya siswanya menjadi generasi yang berkarakter cinta terhadap tanah air. Negara Kesatuan Republik Indonesia dilahirkan oleh generasi yang mempunyai idealisme cinta tanah air. Menurut Rudian (2007:34) cinta tanah air adalah rela berkorban demi kepentingan Negara, memajukan kehidupan bangsa, mencerdaskan diri demi ikut berpartisipasi dalam rangka proses pembangunan dari tanah air yang kecil berkembang sampai menjadi tanah air yang maju. Cinta terhadap tanah air juga dapat dikatakan nasionalisme. Rasa nasionalisme anak-anak bangsa saat ini semakin mengalami penurunan. Penurunan cinta tanah air dapat diketahui dari perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik di SMP Negeri 2 Colomadu. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Hartika (2016:1) yang menyatakan bahwa sikap tanah air pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 2 Colomadu tahun pelajaran 2014-2015 tergolong rendah. Dengan adanya penurunan rasa nasionalisme anak bangsa ini ada pula penelitian lain yang menunjukkan adanya cara membentuk sikap cinta tanah air yang diajarkan guru PPKn di SMA Negeri 1 Mojosari. Berdasarkan penelitian (Ismawati. Dkk, 2015:877) adalah peran guru PPKn di SMA Negeri 1 Mojosari dalam membentuk sikap cinta tanah air pada siswa dengan memberikan contoh keteladanan dalam mencintai tanah air dalam sehari-hari. Guru selalu mengingatkan siswa untuk tidak lupa dengan jati diri bangsa Indonesia. Selain memberikan contoh, guru juga selalu mengingatkan kepada siswanya untuk selalu memakai produk lokal, mencari informasi tentang budaya-budaya yang ada di Indonesia. Pemakaian baju batik setiap hari jumat, menghapal lagu daerah maupun lagu nasional. Nasionalisme merupakan nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pancasila yang perlu diwariskan kepada generasi penerus. Dengan menanamkan sikap nasionalisme, diharapkan peserta didik dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia pembangunan. Peserta didik diharapkan dapat menjadi generasi yang mampu mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.Berdasarkan pengalaman penulis, dapat diketahui bahwa sikap cinta tanah air dapat ditunjukkan dengan perilaku-perilaku sebagai berikut, diantaranya adalah bangga menjadi warga negara Indonesia, tidak melakukan tindakan yang merugikan bangsa, setia dan taat pada peraturan undang-undang yang berlaku, dan mengembangkan rasa nasionalisme pada diri sendiri. Guru dalam meningkatkan nilai cinta tanah air peserta didik dapat dilakukan dengan kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya kegiatan PMR (Palang Merah Remaja), kegiatan kesenian tari, kegiatan paskibra, serta mengikuti kegiatan upacara hari senin. Rendahnya sikap cinta tanah air peserta didik ditunjukkan dari perilaku peserta didik diantaranya adalah peserta didik tidak mengikuti kegiatan upacara pada hari senin, peserta didik membuang sampah sembarangan, tidak memakai seragam sekolah sesuai dengan aturan sekolah dan merusak fasilitas yang ada di sekolah. Sekolah menjadi salah satu lingkungan yang dapat membantu proses penumbuhan cinta tanah air dalam diri peserta didik. Sekolah merupakan komponen penting dalam pengembangan karakter cinta tanah air pada peserta didik. Menurut Daryanto (1997:544), sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Peserta didik tentu tidak hanya prestasi akademiknya saja yang dibanggakan, melainkan lebih dari itu adalah prestasi dalam sikap dan perilakunya. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill. Sekolah mengajarkan peserta didik untuk belajar menghargai, taat terhadap tata tertib, dan disiplin diri. Ajaran yang diberikan di sekolah dapat menumbuhkan kemauan untuk merawat, memelihara, dan melindungi diri serta lingkungan dari segala bahaya yang mengancam. Sekolah tidak hanya memberi pelajaran peserta didik di dalam kelas saja adapun kegiatan diluar pelajaran untuk menumbuhkan karakter cinta tanah air bangsa. Berdasarkan penjelasan tersebut, pengembangan karakter cinta tanah air peserta didik di SMK Negeri 12 Malang bertujuan untuk memperoleh data dan informasi terkait kegiatan pengembangkan karakter cinta tanah air peserta didik yang dilakukan SMK Negeri 8 Malang.BAHASANPada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) Apa saja kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang; (2) Apa faktor pendukung dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang; (3) Apa kendala-kendala yang dihadapi sekolah dalam kegiatan pengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang; (4) Bagaimana upaya sekolah dalam menanggulangi kendala yang dihadapi dalam kegiatan mengembangkan rasa cinta tanah air di lingkungan SMK Negeri 12 Malang.Kegiatan Pengembangan Karakter Cinta Tanah Air di SMK Negeri 12 MalangPengembangan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang diterapkan dengaan melalui berbagai kegiatan yang ada di sekolah. Ada beberapa kegiatan yang diterapkan oleh sekolah yakni, upacara bendera, pengibaran bendera, menyayikan lagu nasional, diklat bela negara, ekstrakulikuler paskibra dan ekstrakulikuler pramuka. Berikut pelaksanaan kegiatan pengembangan karakter di SMK Negeri 12 Malang: (a) Kegiatan upacara bendera merah putih ini dilaksanakan setiap hari senin dua minggu sekali pukul 06.30 WIB sampai pukul 07.30 WIB. Upacara bendera merah putih tidak hanya dilaksanakan setiap hari senin dua minggu sekali, tetapi pada hari peringaatan seperti, peringatan 17 Agustus, peringatan sumpah pemuda, peringatan kartini dan peringatan-peringatan besar lainnya. Kegiatan upacara bendera merah putih ini sebagai upaya pengembangan karakter cinta tanah air yang dilakukan oleh SMK Negeri 12 Malang sebagai upaya untuk menggalakkan kembali semangat nasionalisme cinta tanah air siswa. Tujuan dari Upacara bendera merah putih ini bertujuan untuk melatih kedisiplinan siswa serta memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa ataupun menumbuhkan semangat jiwa nasionalisme; (b) Kegiatan pengibaran bendera merah putih di SMK Negeri 12 Malang diterapkan untuk menanamkan karakter cinta tanah air untuk siswa. Kegiatan ini dilakukan oleh siswa yang mengikuti ekstrakulikuler paski di SMK Negeri 12 Malang secara bergantian. Tujuan dari pengibaran bendera ini agar siswa memiliki rasa cinta tanah air, disipli, dan tanggung jawab. Kegiatan ini tidak diwajibkan untuk seluruh siswa melainkan kesukarelaan siswa, yang paling rutin mengikuti kegiatan ini adalah anak ekstrakulikuler; (c) Kegiatan yang diterapkan untuk mengembangkan karakter cinta tanah air di SMK Negeri 12 Malang adalah menyanyikan dan mendengarkan lagu nasional, dengan menyanyikan dan mendengarkan lagu Indonesia Raya. Kegiatan ini dilakukan setiap pagi hari sebelum bel sekolah berbunyi sekolah akan mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan sebelum memulai pembelajaran siswa akan menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam kelas. Tujuan dari kegiatan ini yaitu agar siswa memiliki jiwa cinta tanah air, karena semakin sering para siswa mendengarkan dan menyanyikan lagu nasional maka jiwa cinta tanah air siswa semakin bertambah dan tumbuh dengan sendirinya; (d) Kegiatan diklat bela negara ini dilaksanakan saat Masa Orientasi Siswa (MOS) di Aula Menarmed 1 Kostrad Malang. Kegiatan diklat bela negara ini berupa pelatihan baris-berbaris dan wawasan kebangsaan. Tujuan kegiatan ini untuk membentuk mental generasi muda yang handal, disiplin dan berkarakter, serta untuk menanamkan rasa cinta kepada negara dan bangsa; (e) Paskibra ini memiliki peminat yang cukup tinggi jumalah pengikut ekstra ini sekitar 100 lebih mulai siswa dari kelas X hingga kelas XII. Kegiatan ekstrakulikuler paski ini diadakan sengaja untuk mendidik siswa lebih paham tentang cara baris berbaris dan bagaimana cara melaksanaan upacara bendera dengan baik. Melalui kegiatan ekstrakurikuler paskibra maka karakter disiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air dan semangat kebangsaan akan tumbuh dengan sendirinya; (f) Pramuka merupakan salah satu perogram ekstrakulikuler yang juga dianggap mampu meningkatkan karakter cinta tanah air siswa. Pada ekstra ini siswa tidak wajib mengikutinya tetapi siswa kelas X diwajibkan mengikuti ambalan yang ada di pramuka. Tujuan utama ekstra pramuka adalah membentuk jati diri dan kepribadian siswa menjadi manusia yang berilmu dan berguna bagi bangsa dan negara. Ekstra pramuka ini berlangsung pada hari Jumat, dimulai pada pukul 15.00 WIB sampai 17.00 WIB yang diawali dengan apel, kegiatanya sendiri dilakukan didalam kelas maupun
HUBUNGAN TINGKAT LITERASI LINGKUNGAN MAHASISWA DENGAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG
AbstrakLiterasi lingkungan mahasiswa merupakan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dalam menangani masalah-masalah lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat literasi lingkungan mahasiswa, kondisi kebersihan lingkungan kampus, dan hubungan antara tingkat literasi lingkungan mahasiswa dengan kebersihan lingkungan di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Jenis Penelitian deskriptif korelasional. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebanyak 91 orang (74%) tingkat literasi lingkungannya dikategorikan baik. Sebanyak 25 orang (21%) tingkat literasi lingkungannya dikategorikan cukup baik. Sebanyak 6 orang (5%) tingkat literasi lingkungannya dikategorikan kurang baik. kondisi kebersihan lingkungannya diperoleh hasil yaitu kondisi kebersihan lingkungan (tangga) sebanyak 95 orang (78%) menyatakan bersih. Sebanyak 27 orang (22%) menyatakan tidak bersih.Kondisi kebersihan lingkungan (toilet) sebanyak 86 orang (70%) menyatakan bersih. Sebanyak 36 orang (30%) menyatakan kurang bersih.Kondisi kebersihan lingkungan (selasar/depan ruang kelas) sebanyak 74 orang (61%) menyatakan kurang bersih. Sebanyak 48 orang (39%) menyatakan bersih.Kondisi kebersihan lingkungan (depan lift) sebanyak 70 orang (57%) menyatakan bersih. Sebanyak 52 orang (43%) menyatakan kurang bersih. Hubungan antara literasi lingkungan mahasiswa dengan kebersihan lingkungan sebesar 0,093 yang artinya terdapat hubungan namun tidak begitu bermakna.Kata Kunci: hubungan, literasi lingkungan mahasiswa, kondisi kebersihanAbstrakStudent environmental literacy is the knowledge students have in handling environmental problems. The purpose of this study was to determine the level of student environmental literacy, the cleanliness of the campus environment, and the relationship between the level of student literacy and environmental hygiene in the Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Descriptive correlational research type. The results of the study showed that as many as 91 people (74%) the level of environmental literacy was categorized as good. As many as 25 people (21%) the level of environmental literacy is categorized quite well. As many as 6 people (5%) the level of environmental literacy is categorized as poor. Hygiene conditions for the environment were obtained, namely the condition of cleanliness of the environment (stairs) as many as 95 people (78%) stated clean. A total of 27 people (22%) stated that they were not clean. The condition of cleaning the environment (toilet) as many as 86 people (70%) stated it was clean. A total of 36 people (30%) stated that it was not clean. The condition of environmental cleanliness (lobby / front of classrooms) as many as 74 people (61%) stated that it was not clean. A total of 48 people (39%) stated that they were clean. 70 people (57%) stated that they were clean and clean. A total of 52 people (43%) stated that they were not clean. The relationship between student environmental literacy and environmental cleanliness is 0.093, which means there is a relationship but not so meaningful.Kata Kunci: relationships, environmental literacy, hygiene conditio
Peran Masyarakat dalam Optimalisasi Fungsi Wisata Pantai Watu Pecak Pasca Pengelolaan Pertambangan Pasir Besi di Desa Selok Awar-Awar Kabupaten Lumajang
ABSTRAKSanjaya, Iwan. 2019. Peran Masyarakat dalam Optimalisasi Fungsi Wisata Pantai Watu Pecak Pasca Pengelolaan Pertambangan Pasir Besi di Desa Selok Awar-Awar Kabupaten Lumajang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si., (II) Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H.Kata kunci: peran masyarakat, wisata pantai, pengelolaan pertambangan.Kabupaten Lumajang memiliki potensi di beberapa sektor seperti pertanian, peternakan, industri perdagangan dan pariwisata. Sektor pariwisata memiliki potensi yang cukup menjanjikan dengan keindahan alam laut selatan. Oleh karena itu, sektor pariwisata dianggap menguntungkan dan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu aset penghasilan bagi masyarakat. Namun, adanya pertambangan di sektor pariwisata menyebabkan pantai menjadi rusak yang terlihat dari banyaknya lubang-lubang di pinggiran pantai akibat pertambangan pasir. Pertambangan pasir secara berlebihan di kawasan tersebut menyebabkan minat pariwisata di pantai Watu Pecak menurun, sehingga berdampak terhadap menurunnya pendapatan masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya bergantung kepada wisatawan yang berkunjung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk peran masyarakat dalam optimalisasi fungsi wisata pantai dan mengetahui faktor penghambat dan pendukung peran masyarakat dalam optimalisasi fungsi wisata pantai Watu Pecak di Desa Selok Awar-awar Kabupaten Lumajang. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan wawancara kepada pejabat setempat, masyarakat sekitar pantai, tokoh masyarakat, dan pengelola wisata pantai Watu Pecak. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan teori Miles & Huberman dan dilakukan triangulasi data untuk memeriksa keabsahan data.Hasil penelitian menemukan adanya peranan masyarakat dalam upaya optimalisasi wisata pantai Watu Pecak. Peranan masyarakat digambarkan melalui keikutsertaan masyarakat dalam membangun sektor pariwisata ini, yang meliputi: (1) partisipasi pikiran, (2) partisipasi pendanaan, (3) partisipasi tenaga, dan (4) partisipasi keterampilan. Meskipun masyarakat sangat antusias dalam membangun sektor pariwisata ini, namun masih terdapat kendala yang ditemukan. Kendala ini dikarenakan latar belakang profesi atau pekerjaan serta kesibukan masyarakat yang berbeda-beda, sehingga masyarakat tidak dapat ikut berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pihak pengelola wisata.Hasil penelitian ini merekomendasikan agar pengelola wisata lebih aktif mengadakan kegiatan-kegiatan, seperti sosialisasi tentang mengoptimalkan fungsi wisata pantai Watu Pecak dan melakukan pertemuan dengan masyarakat maupun tokoh masyarakat dalam rangka bertukar pikiran. Melalui upaya ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama.ABSTRACTSanjaya, Iwan. 2019. The Society Role in Tourism Optimization of Watu Pecak Beach Post the Management of Iron Sand Mining at Selok Awar-Awar Village, Lumajang Regency. Thesis, Pancasila and Civic Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Dr. Sri Untari, M.Si., (II) Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H.Keywords: society role, beach tourism, mining management.Lumajang Regency also has potential in several sectors such as agriculture, ranch, commerce, and tourism industries. The tourism sector has quite promising potential with the natural beauty of the southern sea. Therefore, the tourism sector is considered profitable and has the potential to be developed as an income asset for society. However, the existence of mining in the tourism sector causes the beach to be damaged that seen from many holes on the seaside due to sand mining. Excessive sand mining in the area has caused tourist interest in Watu Pecak beach to decline, thus impacting on the decline in income of most people whose livelihoods depend on visiting tourists.This study aims to determine society role in optimizing the function of beach tourism and determine the inhibiting factors and support society role in optimizing the function of Watu Pecak beach tourism in the Selok Awar-awar Village, Lumajang Regency. The research data were obtained through observation and interviews with local officials, society around the beach, society leaders, and managers of Watu Pecak beach tourism. The data obtained were then analyzed using the Miles & Huberman theory and triangulated data to check the validity of the data.The results of the study found a society role in optimizing Watu Pecak beach tourism. Society role is illustrated through society participation in developing this tourism sector, includes (1) mind participation, (2) finance participation, (3) power participation, and (4) skills participation. Although society is very enthusiastic in developing this tourism sector, there are still obstacles encountered. This obstacle is due to professional backgrounds or occupations as well as the busyness of different people, so they cannot participate in activities carried out by the management.The results of this study recommend that tourism managers more actively hold activities, such as socialization about optimizing the function of Watu Pecak beach and meeting with the society and society leaders in order to exchange ideas. It is hoped that this effort can solve the problems together