SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
USAHA-USAHA PENINGKATAN PEREKONOMIAN KELUARGA MISKIN MELALUI PROGRAM SPP PNPM MANDIRI PERDESAAN DI DESA DURENAN KECAMATAN SIDOREJO KABUPATEN MAGETAN
ABSTRAK Ardiana, Yoga. 2016. Usaha-Usaha Peningkatan Perekonomian Keluarga Miskin Melalui Program SPP PNPM Mandiri Perdesaan di Desa Durenan Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan.Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum, (2) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si Kata Kunci: Usaha Peningkatan Perekonomian, Keluarga Miskin, SPP PNPM Mandiri Perdesaan Kemiskinan merupakan permasalahan yang harus dituntaskan dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia.Program penanggulangan kemiskinan banyak dilaksanakan di Indonesia.Salah satunya yaitu dengan memberdayakan perempuan untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui kegiatan SPP PNPM Mandiri Perdesaan.Dengan program SPP ini diharapkan para perempuan dapat meningkatkan perekonomian keluarga melalui usaha yang dijalankan dengan bantuan pinjaman modal dari SPP PNPM Mandiri Perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) usaha-usaha peningkatan perekonomian keluarga miskin melalui SPP PNPM Mandiri Perdesaan di Desa Durenan Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan, (2) efektifitas kinerja SPP dalam meningkatkan perekonomian keluarga, (3) faktor penentu keberhasilan dari program SPP PNPM Mandiri Perdesaan di Desa Durenan Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif.Subyek dalam penelitian ini adalah anggota Simpan Pinjam Perempuan Desa Durenan.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles& Huberman yaitu dengancara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian yang diperoleh dari peneliti adalah: (1) Usaha-usaha peningkatan perekonomian keluarga melalui SPP PNPM Mandiri Perdesaan berupa pemberian pinjaman modal usaha, bunga angsuran yang ringan, dan syarat mudah dalam menjadi anggota SPP, pemberian bantuan modal pinjaman sudah tepat sasaran yaitu kepada kelompok rumah tangga miskin, (2) Efektifitas kinerja SPP dalam meningkatkan perekonomian keluarga berupa pelayanan dalam pemenuhan kebutuhan anggota SPP, peningkatan pendapatan yang diterima anggota dapat mengembangkan usaha yang dijalankan, kegiatan SPP PNPM Mandiri Perdesaan dapat meningkatkan pendapatan keluarga melalui usaha yang dilakukan dengan bantuan pinjaman modal dari PNPM Mandiri Perdesaan, (3) Faktor penentu keberhasilan program SPP PNPM Mandiri Perdesaan: sinergitas antar anggota dan tim pengelola, peran pemerintah desa dan tim pengelola dalam melayani anggota, pendapatan yang meningkat, pemenuhan kebutuhan ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan SPP PNPM Mandiri Perdesaan dapat meningkatkan perekonomian keluarga dengan memberikan bantuan pinjaman modal usaha dengan bunga angsuran yang ringan. Disarankan bagi tim pengelola SPP PNPM Mandiri Perdesaan untuk mengembangkan potensi usaha tidak hanya dari individu melainkan usaha kelompok dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada anggota SPP. Selain itu untuk memberikan penyuluhan kepada anggota SPP yang bertujuan untuk mengembangkan potensi mereka dalam mengembangkan usaha dan pemasarannnya.Untuk lebih menunjang keberhasilan program ini disarankan kepada kelompok agar lebih dapat meningkatkan kegiatan kelompok, dengan mengadakan pelatihan dan pembinaan bagi anggota kelompok melalui kerja sama dengan pihak terkait serta lebih mempedulikan prinsip-prinsip keorganisasian, mempunyai anggaran dasar rumah tangga, sanksi sehingga kelompok dapat berkembang dan lebih maju serta berkelanjutan
Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai Media Pendidikan Nilai-Nilai Pancasila pada Masyarakat di Kota Blitar
ABSTRACT Nindarianti.2016.Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai Media Pendidikan Nilai-Nilai Pancasila pada Masyarakat di Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Dr. Sri Untari, M.Si.Kata kunci: Perpustakaan Proklamator Bung Karno, media pendidikan, nilai- nilai PancasilaPerpustakaan Proklamator Bung Karno merupakan salah satu perpustakaan umum yang berada di Kota Blitar. Perpustakaan merupakan salah satu media pendukung dalam dunia pendidikan. Bung Karno sebagai salah satu tokoh sejarah dan penggagas nilai-nilai Pancasila menjadi sebuah inspirasi dalam pendirian Perpustakaan ini. Negara dibangun atas landasan Pancasila. Nilai Pancasila menjadi sumber nilai tertinggi bagi bangsa Indonesia. Pancasila merupakan sebuah ideologi yang dipandang penting bagi Negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila perlu dipupuk dalam kehidupan masyarakat sehingga mereka dapat menerapkan dan mewariskan keperibadian yang berlandaskan kepada Pancasila. Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai perpustakaan yang berada di sekitar Kota Blitar memiliki fungsi sebagai sarana rekreasi dan edukasi. Perpustakaan ini memiliki banyak pengunjung setiap bulannya. Dengan potensi ini peneliti mencoba menganalisa tentang peranan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai media pendidikan nilai-nilai Pancasila pada masyarakat di kota Blitar.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup a) sejarah berdirinya Perpustakaan Proklamator Bung Karno; b) pengelolaan perpustakaan yang ada di Perpustakaan Proklamator Bung Karno; c) ragam buku yang relevan dengan nilsi- nilai Pancasila; d) penggunaan buku yang terdapat di Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai media pendidikan niali- nilai Pancasila.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara, study dokumentasi dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri.Subyek penelitian ini adalah ketua Bidang Pelayanan Informasi dan Kerjasama, petugas Perpustakaan Proklamator Bung Karno, dan pengunjung Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. (1) penggagas utama berdirinya Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah walikota Blitar yaitu Bapak Djarot Saiful Hidayat. Latar belakang pendirian Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah a) aspek historis; b) aspek ideologis; c) aspek empiris. (2) pengelolaan Perpustakaan Proklamator Bung Karno meliputi perencanaan, organisasi, pelaksanaan, dan pengawasan. (3) ragam buku yang relevan dengan Pancasila di Perpustakaan Proklamator Bung Karno bervariasi menurut subyeknya, baik yang terdapat di koleksi umum, khusus, langka, referensi, sekunder maupun anak dan remaja. Perpustakaan ini memiliki banyak buku terkait dengan Pancasila. (4)penggunaan buku yang terdapat di Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai media pendidikan nilai-nilai Pancasila yaitu a) observasi, b) referensi dalam mengerjakan tugas, c) pengkajian sejarah, d) sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan terkait dengan Pancasila. Sehingga masyarakat memperoleh manfaat sebagai berikut; a) menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila; b) membantu memahami arti sebenarnya dari Pancasila; c) membantu individu untuk mencintai Indonesia; d) agar individu dapat berlaku sesuai isi butir- butir Pancasila; e) individu dapat mengamalkan Pancasila disegala situasi; f) sebagai pedoman menjadi warga negara yang baik; g) untuk memaham ideologi bangsa Indonesia; h) membangun karakter warga negara yang bermartabat; i) mewujudkan kehidupan yang bermoral. penggunaan buku sebagai media pendidikan nilai- nilai Pancasila antara lain sebagai berikut: a) observasi; b) referensi; c) pengkajian sejarah; d) sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan tentang Pancasila. Sehingga Perpustakaan ini memiliki peranan sebagai media pendidikan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian sebaiknya pihak Perpustakaan Proklamator Bung Karno selalu menambah koleksi-koleksinya dan mengadakan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan Pancasila
Pengembangan Media Pembelajaran Multimedia Interaktif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Berbasis Adobe Flash pada Materi Sistem Hukum dan Peradilan Nasional dalam Lingkup NKRI di Kelas X SMKNegeri 11 Malang
ABSTRACT Abda’u, Muhammad Nur. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Multimedia Interaktif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Berbasis Adobe Flash pada Materi Sistem Hukum dan Peradilan Nasional dalam Lingkup NKRI di Kelas X SMK Negeri 11 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman Adi Winoto, S.H, M. Hum, (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si. Kata Kunci : pengembangan, media pembelajaran, multimedia interaktif, sistem hukum dan peradilan nasional Indonesia. Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu menggunakan berbagai media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran penggunaan media pembelajaran di sekolah memiliki peranan yang sangat penting. Hal ini dikarenakan media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan antara guru dengan siswa, serta dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Dalam perkembanganya media pembelajaran terdiri dari berbagai macam jenis diantaranya adalah media berbentuk teks, gambar, animasi, suara dan video. Semua media tersebut bisa digunakan untuk media pembelajaran tentunya terlebih dahulu harus disesuaikan dengan kebutuhan. Dari beberapa jenis media pembelajaran tersebut ada yang dikombinasikan atau digabungkan secara keseluruhan yang disebut multimedia. Multimedia terdiri dari berbagai media yang dipadukan secara terstruktur dalam satu software pembelajaran interaktif, yang sajiannya dengan cara mengoptimalkan peran komputer sebagai media yang menampilkan teks, gambar, suara, video, animasi, dalam sebuah tampilan yang terintegrasi, terpadu dan interaktif. Penggunaan multimedia juga dapat digunakan untuk pembelajaran di sekolah khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta dapat digunakan untuk menyelaraskan gaya belajar atau karakter belajar siswa yang berbeda, beberapa siswa memiliki kecenderungan selalu aktif dalam belajar begitu pula sebaliknya, ada yang memiliki kecenderungan untuk membaca teks, melihat gambar, dan ada yang lebih cenderung mendengarkan suara. Maka dengan adanya multimedia pembelajaran gaya belajar atau karakter belajar siswa bisa disamakan. Pengembangan media pembelajaran secara umum bertujuan untuk menghasilkan produk pengembangan media pembelajaran berupa CD interaktif, yang di dalamnya termuat software multimedia materi sistem hukum dan peradilan nasional dalam lingkup NKRI kelas X yang dapat digunakan sebagai alternatif media dalam kegiatan pembelajaran di SMK Negeri 11 Malang. Adapun tujuan khusus dalam penelitian pengembangan ini adalah (1) mengembangkan media pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada materi sistem hukum dan peradilan nasional dalam lingkup NKRI di kelas X SMK Negeri 11 Malang (2) mengukur tingkat kelayakan multimedia pembelajaran interaktif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berbasis adobe flash pada materi sistem hukum dan peradilan nasional dalam lingkup NKRI di kelas X SMK Negeri 11 Malang. Model penelitian dan pengembangan mengunakan model Borg & Gall yang semula 10 langkah direduksi menjadi 7 langkah, yang terdiri dari: (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan (3) pengembangan draf produk, (4) validasi ahli media, ahli materi, dan ahli pembelajaran, (5) revisi produk, (6) uji lapangan, (7) revisi produk akhir. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah sebuah produk CD (Compact Disk) media pembelajaran multimedia interaktif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada materi sistem hukum dan peradilan dalam lingkup NKRI, yang dirancang dan di desain dengan menggabungkan beberapa media seperti gambar, video, audio/suara, teks, dan animasi secara menarik. Media pembelajaran multimedia interaktif ini terdiri dari dua bagian tampilan yaitu (1) intro (pembuka) atau tampilan awal yang didalamnya memuat judul multimedia interaktif dan (2) tampilan menu utama yang terdiri dari beberapa bagian diantaranya (1) kompetensi inti, (2) kompetensi dasar, (3) indikator pembelajaran, (4) materi pembelajaran, (5) lembar kerja siswa, (6) uji kompetensi, (7) profil pengembang, dan (8) petunjuk penggunaan. Tingkat kelayakan multimedia pembelajaran interaktif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berbasis adobe flash pada materi sistem hukum dan peradilan nasional dalam lingkup NKRI di kelas X SMK Negeri 11 Malang diukur dengan melakukan validasi oleh ahli media, ahli materi, praktisi pembelajaran serta uji coba. (1) validasi oleh ahli media dengan tingkat kelayakan media pembelajaran multimedia interaktif sebesar 96,15% dengan kriteria sangat valid/ layak digunakan. (2) validasi oleh ahli materi dengan tingkat kelayakan media pembelajaran multimedia interaktif sebesar 95,94% dengan kriteria sangat valid/ layak digunakan. (3) validasi oleh praktisi pembelajaran dengan tingkat kelayakan media pembelajaran multimedia interaktif sebesar 98,5% dengan kriteria sangat valid/ layak digunakan. (4) validasi oleh uji coba kelompok kecil yang berjumlah 8 siswa/siswi secara acak dengan tingkat kelayakan media pembelajaran multimedia interaktif sebesar 93,02% dengan kriteria sangat valid/ layak digunakan. (5) validasi oleh uji coba kelompok besar yang berjumlah 25 siswa/siswi dengan tingkat kelayakan media pembelajaran multimedia interaktif 91,1% dengan kriteria sangat valid/ layak digunakan. Saran penelitian dan pengembangan multimedia pembelajaran interaktif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berbasis adobe flash pada materi sistem hukum dan peradilan nasional dalam lingkup NKRI adalah penelitian ini hanya sebatas mengetahui tingkat kelayakan multimedia interaktif, dengan kriteria sangat valid/layak digunakan. Adapun untuk mengetahui tingkat keefektifannya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Untuk sekolah adanya pengembangan multimedia interaktif dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan alternatif media yang digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa karena sekolah sudah memiliki fasilitas yang memadai untuk pemanfaatan multimedia interaktif
Konsep Poros Maritim sebagai Paradigma Baru dalam Pembangunan Nasional
ABSTRAK Prasetyo, Herlan. 2016. Konsep Poros Maritim sebagai Paradigma Baru dalam Pembangunan Nasional. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd., M.Si., (II) Hj. Yuniastuti, S.H., M.Pd. Kata Kunci: konsep poros maritim, implementasi, pembangunan nasional. Konsep poros maritim yang dibentuk Presiden Jokowi dimaksudkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi di wilayah laut Indonesia. Beragamnya potensi laut Indonesia yang berupa sumberdaya perikanan, sumberdaya minyak dan gas bumi, pariwisata bahari, industri dan jasa maritim, serta Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dapat menghasilkan nilai ekonomi yang sangat tinggi apabila dikelola dengan maksimal. Tindakan melawan hukum yang banyak terjadi di laut Indonesia, seperti pencurian ikan, lamanya waktu bongkar muat di pelabuhan, dan pelanggaran wilayah perbatasan oleh negara tetangga adalah fakta, bahwa masih terdapat permasalahan dalam pengelolaan wilayah laut Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, untuk mendeskripsikan makna konsep poros maritim. Kedua, mendeskripsikan tentang implementasi konsep poros maritim. Ketiga, adalah mendeskripsikan tentang tantangan implementasi konsep poros maritim. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan empat metode analisis yaitu: komparasi, kompilasi, deduktif, dan induktif. Analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan bahan-bahan kepustakaan, melalui studi pustaka terkait sumber bacaan berupa buku-buku, dokumen perundang-undangan, penyajian rangkuman data (reduksi) dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan ketekunan pengamatan dan uraian rinci. Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, konsep poros maritim merupakan pemahaman tentang wilayah maritim Indonesia seluas 6 juta km2, garis pantai sepanjang 95.181 km, dan memiliki beragam jenis sumberdaya alam di lautan. Oleh karena itu, sangat tepat apabila pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan seluruh potensi di wilayah maritim Indonesia. Kedua, implementasikan ke dalam empat bidang pembangunan nasional secara berkesinambungan. Bidang politik, ada kebijakan pembentukan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumberdaya dan pembentukan Satuan Tugas Pemberantasan Illegal Fishing. Bidang ekonomi, ada kebijakan Tol Laut, dengan pengembangan kapal-kapal nelayan, pembangunan dan pengembangan pelabuhan, pembangunan Pusat Logistik Berikat (PLB), pengembangan industri galangan kapal. Kemudian ada kebijakan investasi asing industri perikanan dan kebijakan percepatan waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan, dengan memperbanyak jalur hijau barang, meningkatkan biaya denda, kereta api pelabuhan, meningkatkan sistem teknologi informasi, penambahan kapasitas crane (alat derek), dan penyederhanaan peraturan perizinan, serta pemberantasan mafia di pelabuhan. Bidang sosial budaya ada kebijakan pengembangan pariwisata bahari dan pengembangan pendidikan maritim. Bidang pertahanan dan keamanan (hankam) ada kebijakan pembentukan Badan Keamanan Laut (Bakamla), pengembangan alutsista TNI Angkatan Laut, dan pengembangan alutsista TNI Angkatan Udara. Ketiga, tantangan implementasi konsep poros maritim terdiri dari sistem teknologi dan informasi, sarana dan prasarana, sumberdaya manusia, dan kondisi maritim Indonesia. Saran yang diberikan peneliti kepada pemerintah, yaitu (1) agar konsep poros maritim yang dibentuk oleh Presiden Jokowi benar-benar menjadi efektif dan efisien dalam rangka pembangunan nasional, sebaiknya kebijakan yang telah dibuat dapat diimplementasikan secara komprehensif. (2) tantangan implementasi konsep poros maritim, berupa pengembangan sistem teknologi dan informasi, sarana dan prasarana, sumberdaya manusia, dan kondisi maritim Indonesia sebaiknya terus dikembangkan agar dapat berfungsi optimal dalam mengelola wilayah laut Indonesia. Saran terakhir, bagi peneliti sejenis diharapkan untuk menyempurnakan dan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai perkembangan pelaksanaan dari konsep poros maritim berikutnya, kemudian gagasan apa yang mungkin bisa diberikan bagi pengembangan kemaritiman nasional dimasa yang akan datang.
Nilai Kearifan Lokal yang Terkandung Dalam Lagu "Blitar Kawentar" di Kabupaten Blitar
ABSTRACT Agustiani. Tri Wahyuningsih. 2016. Nilai-nilai Kearifan Lokal Yang Terkandung Dalam Lagu Blitar Kawentar di Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suparman Adi Winoto, S.H., M.Hum, (II) Dr. Didik Sukriono, S.H., M.Hum. Kata Kunci: Nilai-nilai,Kearifan Lokal, Lagu Blitar Kawentar. Lagu Blitar Kawentar merupakan lagu kebanggaan masyarakat Kabupaten Blitar, lagu Blitar kawentar menggambarkan semangat masyarakat Kabupaten Blitar. Dalam syair lagu Blitar Kawentar menceritakan sejarah perlawanan rakyat Kabupaten Blitar pada masa penjajahan Jepang yang tergabung dalam Peta, serta menceritakan keadaan geografis Blitar yang terdapat gunung kelud. Selain itu yang menjadi kebanggaan, Blitar merupakan tempat masa kecilnya pernah di besarkan dan peristirahatan terakhir sang Proklamator Bung Karno. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) ide dasar atau filsafat yang melatarbelakangi diciptakannya lagu Blitar Kawentar di Kabupaten Blitar;(2) nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam lagu blitar kawentar di kabupaten Blitar;(3) upaya pelestarian lagu Blitar Kawentar di Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu pak Hartono selaku ketua kabid kebudayaan Disporbudpar, pak Alif Susanto selaku ketua kabid pariwisata Disporbudpar dan mas pengkek alias Antok Budiarto seniman musik daerah Kabupaten Blitar. Kegiatan analisis data dengan menggunakan model analisis interaktif, dimulai dari tahap (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil temuan penelitian pertama menunjukkan bahwa ide dasar atau filsafat yang melatarbelakangi diciptakan lagu Blitar Kawentar di Kabupaten Blitar adalah terkait pariwisata yang ada di Kabupaten Blitar yang paling utama adalah makam sang Proklamator Bung Karno yang menjadikan daya tarik banyak orang seperti Andjar Any seniman musik langgam asal Solo yang terguguah menciptakan lagu dengan tema kota Blitar, walaupun ada tempat wisata lainnya seperti candi Penataran dan ditambah sejarah masyarakat Blitar. Alunan syair lagu Blitar Kawentar menceritakan geografis Blitar yang dilindungi gunud kelud, tempat pernah dibesarkan dan dikebumikan Bung Karno, sejarah perlawanan masyarakat Blitar dalam Peta dan lagu Blitar Kawentar menggambarkan semangat rakyat Kabupaten Blitar. Kedua, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam lagu Blitar Kawentar di Kabupaten Blitar diantaranya(1) nilai sejarah (2) Nilai Patriotisme ii atau kepahlawanan (3) Nilai nasionalisme adalah nilai kebanggaan kecintaan terhadap bangsa Indonesia (4) Nilai religi. Ketiga, upaya pelestarian lagu Blitar Kawentar di Kabupaten Blitar adalah (1). Dinyanyikan dalam berbagai versi saat ini oleh masyarakat (2). Di putar di berbagai radio di Blitar ketika menjelang siang acara tembang campursari.(3). Dari Pemerintah sendiri menjadi kewajiban setiap ada momen budaya dinyanyikan, atau festival lainnya seperti kegiatan Purnama Seruling di Candi Penataran, Pergelaran wayang kulit resmi dari Pemerintah Kabupaten Blitar seperti acara Mboyong Projo yaitu pindahnya kantor dinas Bupati dari kota pindah ke gedung baru yang terletak di Kanigoro,ataupun pergelaran wayang kulit yang diadakan masyarakat, hari jadi Kabupaten Blitar, upacara 17 Agustus. (4). Mengkasetkannya kembali dengan berbagai versi (5). Di bawakan dengan versi campursari oleh grup jaga laras dan disiarkan di stasiun televisi TVRI.(6). Di nyanyikan oleh grup keroncongan Mblitar dan direkam oleh radio mahardika fm tahun 2006 untuk ilustrasi film dokumenter 100 tahun kota Blitar.(7). Dari dikasetkannya lagu Blitar Kawentar dan dinyanyikan dalam berbagai versi, maka kaset-kaset tersebut diperjualbelikan oleh pedagang kaset di kabupaten Blitar.(8). Di pelajari di sekolah-sekolah sebagai ektra kurirel karawitan dengan memainkan alat musik seperti gamelan dan lain-lain
Persepsi Peserta Didik Kelas X Terhadap Nilai-Nilai Karakter Yang Terkandung dalam Film "Sebelum Pagi Terulang Kembali" Produksi Cangkir Kopi Film di SMK Negeri 12 Malang
ABSTRAK Saluva, Erdianto Bagus. Persepsi Peserta Didik Kelas X Terhadap Nilai-Nilai Karakter Yang Terkandung dalam Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” Produksi Cangkir Kopi Film Di SMK Negeri 12 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si. (2) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H. Kata Kunci : Persepsi, Nilai Karakter, Film. Persepsi adalah sebuah proses aktif melihat, mendengar, menyentuh, tersenyum, merasakan posisi tulang sendi dan tekanan otot-otot, keseimbangan, suhu, sakit dimulai dari stimulasi sel-sel saraf sensorik dimana persepsi dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan sesuai apa yang dipikirkan. Setiap tindakan atau perbuatan manusia selalu ada landasan atau motivasi yang disebut nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya yang tidak hanya mempengaruhi perilaku manusia namun juga dapat membangun karakter manusia. Dizaman modern ini nilai-nilai karakter seakan-akan mulai luntur pada generasi muda yang sekarang lebih condong pada budaya luar yang masuk kedalam negeri. Pemahaman akan nilai-nilai karakter perlu ditingkatkan lagi khususnya kepada kalangan pelajar, penyampaian nilai-nilai tidak hanya melalui lisan maupun melalui pelajaran di sekolah saja. Namun juga melalui media lain, seperti halnya film, cerpen, gambar-gambar yang berisikan nilai-nilai motivasi, salah satunya seperti film yang berjudul “Sebelum Pagi Terulang Kembali” Produksi Cangkir Kopi.Melihat sebuah film biasanya individu menilai alur ceritanya, nasihat yang disampaikan oleh film, dan lain lain. Persepsi mempengaruhi seseorang sehingga bisa terbawa suasana seseorang dan merasa film yang dilihatnya bagus atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Persepsi peserta didik terhadap nilai-nilai karakter yang terkandung dalam film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” SMK Negeri 12 Malang; (2) Alasan peserta didik dalam memilih nilai-nilai karakter yang terkandung dalam film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” SMK Negeri 12 Malang; (3) Persepsi peserta didik mengenai film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” SMK Negeri 12 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner terbuka. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket kepada peserta didik yang menjadi responden atau subjek. Data penelitian berupa hasil pengisian angket oleh peserta didik yang menjadi responden kemudian data tersebut dikuantitatifkan dalam bentuk angka. Kegiatan analisis data dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama Persepsi peserta didik mengenai nilai-nilai karakter yang terkandung dalam film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” yakni nilai kerja keras dimana hampir semua dari jumlah keseluruhan peserta didik yang menjadi responden mempunyai persepsi bahwa nilai kerja keras nampak dibeberapa adegan dalam film tersebut, selanjutnya nilai tanggungjawab dimana lebih dari setengah dari jumlah keseluruhan peserta didik yang menjadi responden mempunyai persepsi bahwa nilai tanggungjawab nampak dibeberapa adegan dalam film tersebut, selanjutnya nilai mandiri dimana lebih dari setengah dari jumlah keseluruhan peserta didik yang menjadi responden mempunyai persepsi bahwa nilai mandiri nampak dibeberapa adegan dalam film tersebut, serta nilai jujur dimana setengah dari jumlah keseluruhan peserta didik yang menjadi responden mempunyai persepsi bahwa nilai jujur nampak dibeberapa adegan dalam film tersebutKedua Alasan peserta didik dalam memilih nilai-nilai karakter yang terkandung dalam film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” bermacam-macam, dari nilai kerja keras seperti “pak Yan seorang pekerja keras”, dari nilai tanggungjawab seperti “Satria dan Firman bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukan”, dari nilai mandiri seperti “Satria dari SMP sudah bisa mandiri”, dan dari nilai jujur seperti “Pak Yan bekeja dengan jujur”. Ketiga Persepsi peserta didik mengenai film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” dari 16 persepsi yang disampaikan terdapat tiga persepsi terhadap film tersebut yang paling dominan diantaranya ada yang berpendapat film yang mengajarkan bekerja keras akan mendapat hasil bila diimbangi dengan jujur, ada yang mempunyai persepsi bahwa film ini bagus, dan ada persepsi bahwa film ini ialah film yang mengajarkan bahwa korupsi itu merugikan diri. Dari hasil penelitian tentang persepsi peserta didik terhadap nilai-nilai karakter yang terkandung dalam film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” adapun saran yang dapat diberikan: (a) Bagi peserta didik seharusnya perlunya lebh belajar lagi secara mendalam mengenai nilai-nilai karakter sehingga bisa memahami secara benar dan bisadiaplikasikan saat terjun di dunia masyarakat nanti; (b) Bagi guru sebaiknya dalam menyanpaikan materi pelajaran tidak hanya melalui lisan saja tetapi bisa juga melalui media lain seperti sebuah film; (c) Bagi rumah produksi film sebaiknya agar terus berkarya dan membuat film yang lebih baik dan berisikan pesan-pesan yang baik bagi penontonnya
Dampak Industrialisasi terhadap Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto
ABSTRACT Indriani, Via Lutfi. 2016. Dampak Industrialisasi terhadap Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Universita Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H. (II) Hj. Yuniastuti, SH, M.Pd Kata Kunci: Industrialisasi, Nilai-Nilai, Kearifan Lokal, Masyarakat Indonesia mempunyai beragam suku, bangsa dan bahasa yang berbeda-beda. Masyarakat Indonesia sering disebut sebagai masyarakat agraris dengan hidup bergantung dengan tanah. Tetapi, dengan adanya industrialisasi hal tersebut sudah berubah dari pertanian ke perindustrian, baik dari industri besar industri kecil, industri rumah tangga maupun industri usaha informal yang sangat berdampak terhadap nilai- nilai kearifan lokal masyarakat setempat terutama pada masyarakat Desa Ngoro. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan: (1) gambaran umum Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto; (2) gambaran umum industrialisasi Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto; (3) nilai-nilai kearifan lokal di Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto; (4) manfaat industrialisasi bagi masyarakat Desa Ngoro; (5) dampak industrialisasi terhadap nilai- nilai kearifan lokal di Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan Deskriptif Kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu, sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan cara memperpanjang pengamatan, meningkatkan ketekunan/keajegan pengamatan, dan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dengan tahap pra lapangan untuk studi eksplorasi, menyusun rancangan penelitian, dan studi eksplorasi serta dengan tahap pelaksanaan penelitian untuk mengumpulkan data, menyusun data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, Lahan yang ada di Desa digunakan sebagai pemukiman, perindustrian, perumahan, tempat usaha, pertanian, dan tempat hunian. Mata pencaharian masyarakat banyak yang menjadi karyawan perusahaan, pedagang, wirausaha atau pekerjaan lainnya. Kehidupan mereka lebih sejahtera dengan alat transportasi bagus, rumah mewah, hidup berkecukupan, pendidikan tinggi dan investasi yang banyak. Kedua, Industrialisasi di Desa Ngoro sangat berkembang pesat. Ada industri besar industri kecil, industri rumah tangga dan usaha informal. Desa Ngoro terdapat suatu kawasan industri yang bernama Ngoro Industri Persada (NIP) yang didalamnya ada kawasan Berikat atau Eksport Processing Zone (EPZ). Lahan yang digunakan adalah lahan tandus atau kering dengan air yang bagus dan masyarakat yang bisa menerima kehadiran industri. Kawasan tersebut dijadikan satu agar bisa terkontrol lebih mudah, cepat, fokus dan tertata lebih rapi. Kegiatan sosial dalam organisasi Genta (Gerakan Cinta Desa) sangat membantu kehidupan masyarakat setempat. Ketiga, Nilai-nilai kearifan lokal di Desa Ngoro dapat dillihat dari, kegiatan- kegiatan yang dilakukan di Punden/pesarean, umpak dan pohon kepo seperti tahlilan, istigosahan, selametan dan tumpengan. Kegiatan keagamaan seperti tahlilan, dibaan, khatam Al-Qur’an dan pengajian, serta kegiatan gotong-royong dengan cara membantu tetangga ketika membangun rumah, mendirikan masjid/ membantu membersihkan masjid, membantu membersihkan rumah dan membantu orang ketika kesusahan seperti, ketika orang meninggal dunia. Keempat, Manfaat adanya industrialisasi bagi masyarakat Desa Ngoro yaitu, masyarakat lebih dekat mencari pekerjaan, kehidupannya lebih terjamin dengan bekerja sebagai karyawan perusahaan, pedagang atau tempat usaha atau tempat hunian yang dikerjakannya. Sehingga, tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran di Desa Ngoro menjadi berkurang serta kehidupan masyarakat lebih sejahtera. Kelima, nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Desa Ngoro menjadi luntur bahkan hilang. Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang luntur yaitu, kegiatan slametan dan tumpengan di pohon kepo, punden/pesarean dan umpak, acara keleman di punden/pesarean, kegiatan keagamaan dan kegiatan gotong-royong. Sedangkan Nilai- Nilai Kearifan Lokal yang hilang yaitu, acara tandaan/tayuban. Hal tersebut terjadi karena kesibukan masyarakat yang selalu bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga, kehidupan masyarakat menjadi lebih sibuk, egois, individualis dan materialistis serta membuat mata pencaharian masyarakat menjadi berubah dari pertanian ke perindustrian. Berdasarkan hasil peneliti menyarankan kepada: (1) Bagi program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai pengetahuan, informasi dan referensi mengenai dampak industrialisasi terhadap nilai-nilai kearifan lokal, (2) Bagi Kepala Desa Ngoro dan Perangkat Desa Ngoro agar lebih menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di Desa Ngoro, (3) Masyarakat harus pintar dalam membagi waktu antara keluarga, masyarakat dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, (4) pemerintah harus memperhatikan dan melestarikan nilai-nilai kearifan di sekitar industri, (5) Bagi Kawasan Industri di Ngoro Industri Persada (NIP) meningkatkan pengawasan, kepedulian dan sarana prasarana yang ada, (6) bagi pemilik industri lebih memperhatikan masyarakat di sekitarnya, (7) organisasi Genta (Gerakan Cinta Desa) lebih berinovasi dalam kegiatan sosialnya, (8) peneliti selanjutnya lebih kritis dan kreatif dalam mengamati kehidupan masyarakat
Model Pembudayaan Nilai Karakter Jujur, Disiplin dan Tanggung Jawab di Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar
ABSTRAK Sholahuddin, A’toillah, 2016. Model Pembudayaan Nilai Karakter Jujur, Disiplin Dan Tanggung Jawab Di Sekolah Dasar Negeri Kalipag 1 Kecamatan Sutojayan Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Didik Sukriono, S.H., M.Hum, (II) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum. Kata Kunci: Model, Pembudayaan, Nilai Karakter, Sekolah Dasar Pembudayaan nilai karater merupakan suatu proses pembiasaan yang dilakukan seseorang berupa sikap, perilaku, maupun pikiran yang agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Agar penerapan pembudayaan nilai karakter tersebut mendapatkan hasil yang optimal, maka diperlukan suatu model dalam penerapannya. Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Blitar merupakan salah satu sekolah terbaik di kabupaten blitar yang mengupayakan pembudayaan nilai karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab kepada siswanya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui persepsi guru Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar mengenai model pembudayaan nilai karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab, faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan model pembudayaan nilai karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab di Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar, upaya yang di lakukan Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar untuk mengatasi faktor penghambat dari dalam maupun luar sekolah dalam pembudayaan nilai karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi.Langkah-langkah analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan kemudian melakukan kesimpulan. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, persepsi guru di Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar sepakat, bahwasannya pembudayaan nilai karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab merupakan salah satu pendidikan karakter yang dilakukan guru kepada peserta didiknya agar dapat membentuk karakter, watak dan kepribadian peserta didik yang sesuai dengan Nilai-Nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kedua, Model yang digunakan dalam pembudayaa nilai karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab di Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar yaitu a) model monolotik yaitu menanamkan pendidikan nilai karakter melalui mata pelajaran tersendiri b)model terintegrasi dalam semua bidang studi, dan c) model diluar pengajaran. Secara khusus model monolotik diterapkan dalam bentuk: a) memahami kitab suci, b) mengenal diri sendiri, dan c) sholat dhuha dan dzuhur berjama’ah. Sedangkan model terintegrasi dalam semua bidang studi diterapkan dalam bentuk: a) seluruh guru, dan pelatih setiap bidang bertanggung jawab dalam pembudayaan nilai karakter jujur, disilin dan tanggung jawab, b) membiasakan siswa memulai dan mengakhiri pelajaran dengan tepat waktu dan c) berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan pelajaran. Untuk model diluar pengajaran diterapkan dalam bentuk mengenal diri sendiri. Ketiga, Faktor pendukung dari dalam sekolah yaitu: a) sumber daya manusia, b) sarana dan prasaran, c) kegiatan ekstra, dan d) kegiatan keagamaan. Faktor pendukung dari luar sekolah yaitu: a) lingkungan keluarga b) lingkungan masyarakat, dan c) teman bermain. Faktor penghambat dari dalam sekolah yaitu: a) faktor biaya, b) faktor sarana dan prasarana, c) faktor keterbatasan waktu pengawasan. Faktor penghambat dari luar sekolah yaitu: a) keluarga siswa yang kurang peduli, b) masyarakat yang kurang peduli, dan c) teman bermain siswa yang memberi pengaruh negatif Keempat, upaya yang dilakukan Sekolah Dasar Negeri Kalipang 1 Kecamatan Sutojayan Blitar yaitu, membuat proposal kepada dinas terkait dan pihak-pihak lain yang bisa membantu untuk mengatasi kurangnya biaya, melakukan bekerjasama dengan dinas, lembaga, dan pihak-pihak yang terkait lainnya yang bisa membantu dalam pengadaan sarana dan prasarana, menjalin komunikasi dan koordinasi dengan orang tua murid dalam untuk mengawasi dan mengontrol perilaku anaknya di rumah, diadakannya sosialisasi, koordinasi dan tindak lanjut dengan orang tua siswa agar ikut mendukung, dan membantu upaya pembudayaan nilai karakter yang sudah dilakukan, memberi pengertian kepada masyarakat terkait pentingnya pembudayaan nilai karakter, pihak sekolah juga mengajak masyarakat untuk ikut membantu mengawasi siswa saat berada di lingkungan masyarakat, memberi pengarahan dan pengawasan kepada siswa untuk bisa menyaring dan memilah hal-hal yang baik dan buruk ketika bersama dengan teman bermain siswa. ABSTRACT Sholahuddin, A'toillah, 2016. The cultivation model of Character Values Honest, Discipline and Responsible at Public Elementary School Kalipag 1 SutojayanBlitar. Skrisi, law and Citizenshipmajor, Faculty of Social Sciences, Malang State University. Supervisor (I) Dr. DidikSukriono, SH, M. Hum, (II) Rusdianto Umar, SH, M. Hum. Keywords: Model, cultivation, Character Values, Elementary School cultivation Character value is aindividual’s process of habituation such as attitude, behavior, or thoughts that it’s religion, Pancasila, culture, and national education goals. In order to make an optimal result the application of cultivation values of these characters, it’s needed a model in its application. Public Elementary School Kalipag 1Blitar is one of the best schools in the district that effort cultivation Character values honest, discipline and responsible to the students. This research’s goal is to determine the perception of public elementary school Kalipang 1 teachers about models civilizing value of honest character, discipline and responsible, the supporting and hindering factors in implementation of the cultivation model Character values honest, discipline and responsibleat Public Elementary School Kalipag 1 Blitar, efforts that have done by Public Elementary School Kalipag 1 Blitarto overcome the inhibiting factors from both inside and outside school in the cultivation Character values honest, discipline and responsible. This research used qualitative research method and descriptive approach. datum were collected by interview, observation and documentation. Steps of data analysis starts from data reduction, data presentation, and then make conclusions. Based on analysis of these datum, obtained the four conclusions. First, the perception of teachers in public elementary school Kalipang 1 agreed, thatcultivation Character values honest, discipline and responsible is one of character education that teachers did to their students in order to form the character, temperament and personality of student in accordance with the values of Pancasila and the Constitution of the Republic Indonesia 1945. Second, the model used in cultivation Character values honest, discipline and responsible in public elementary school Kalipang 1 are a) the monolotik model, is instills education the value of the character through a separate subject b) integrated model in all fields of study, and c) models outside of teaching. In particular monolotikmodels applied in the form of: a) understand Al-Quran, b) knowing,and c) together at sholatDuha andsholatdzuhur. While the integrated model is in all fields of study is applied in the form of: a) all teachers, and coaches every subject are responsible for cultivation Character values honest, discipline and responsible, b) familiarize students with start and end the lessons on time and c) pray before and after the study activities. For the model outside of teaching is applied in the asked to know theirselves. Third, supporting factors ininside the school, are: a) quality and adequate human resources, b) adequate infrastructure, c) the extra and d) religious activities. The supporting factors from outside the school, namely: a) the family b) communities, and c) playing friends. Inhibiting factors of the school, namely: a) the cost factor b) inadequate infrastructure factors, c) there was limited time supervision of the students ,and d) factors a lack of class hours. Inhibiting factors from outside the school, namely: a) there is a small part of the studentsfamily are less concerned, b) there is still a small portion of people who are less concerned c) playmates students who gave negative. Fourth, efforts made by public elementary school Kalipang 1, is make a proposal to the relevant agencies and other parties that could help to overcome the lack of charges, did cooperate with agencies, organizations, and parties related that could help the provision of facilities and infrastructure, establish communication and coordination with the parents in supervising and controling the behavior of their children at home, holding of dissemination, coordination and follow-up with parents in order to help support and assist efforts familiarization character values that have been performed, providing understanding to the public about the importance of cultivation Character, the school also invites the public to participate to help supervise the students while in the community, give direction and supervision to the students to be able to sift and sort out the things that are good and bad when shared with playates. budaya lejong tau adalah lingkaran kebersamaan yang mempersatukan orang-orang Manggarai dimanapun berada. (b) Sebagai agen penerus bangsa, mahasiswa Manggarai di kota Malang harus bisa memahami nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam budaya lejong tau, karena sesungguhnya budaya lejong tau merupakan sebuah perwujudan dari apa yang disebut sebagai sebuah keluarga besar ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang menyebabkan segala sesuatu di dunia ini ada dan hidup. Ungkapan ini hendak mengutarakan sebuah bentuk sosialitas manusia sebagai mahkluk yang selamanya senantiasa membutuhkan kehadiran yang lain dan selalu ada bersama yang lain baik manusia maupun dengan alam semesta ini. Budaya lejong tau bukan sekedar sebuah pola relasi yang biasa-biasa saja, namun lebih dari itu budaya lejong tau hendak mempertegas kesadaran akan eksistensi sosialitas manusia itu sendiri
PROSES PEMBENTUKAN PERATURAN DESA OLEH KEPALA DESA BERSAMA BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DITINJAU DARI UU NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA (Studi Di Desa Paleran Kecamatan UmbulsariKabupaten Jember)
ABSTRAK Muholadun, Mohamad Wildan. 2016. Proses pembentukan Peraturan Desa oleh Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa ditinjau dari UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa studi di Desa Paleran Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M. Si, (II) Drs. Suparman Adi Winoto, SH, M. Hum Kata Kunci:Proses Pembentukan Peratuan Desa Peraturan Desa adalah Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa dan sebelumnya telah dibahas serta disepakati bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa. Sebagai produk hukum, Peraturan Desa tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentinngan umum, mengikut sertakan partisipasi masyarakat dalam pembentukan Peraturan Desa, serat harus menggunakan cara tertentu.Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti proses pembentukan Peraturan Desadi Desa Paleran Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: 1).proses pembentukan Peraturan Desa di Desa Paleran; 2).Kedala-kendala dalam proses pembentukan Peraturan Desa di Desa Paleran; 3). Upaya Kepala Desa mengatasi kendala-kendala dalam proses pembentukan Peraturan Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa di Desa Paleran. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan dari narasumber Pemerintah Desa Paleran, Badan permusyawaratan desa Paleran dan masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan telaah dokumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu peneliti sendiri dengan teknik wawancara,dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis model interaktif Miles dan Heberman. Langkah-langkah analisis data mulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan kemudian melakukan kesimpulan. Untuk mejaga keabsahan data, dilakuan perpanjangan keikutsertaan dan triangulasi. Berdasarkan analisis, diperoleh tiga kesimpulan, sebagai berikut: Pertama,proses pembentukan Peraturan Desa yang dilakukan oleh Kepala Desa bersama BPD di Desa Paleran Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember berpedoman pada PERDA Kab. Jember No. 8 tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa. Proses pembentukan Peraturan Desa oleh Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa di Desa Paleran telah melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi dan dalam penyusunannya Peraturan Desa telah meperhatikan peraturan perudang-undangang yang lebih tinggi dan kepentingan umum masyarakat Desa Paleran. Namun jika disandingkan dengan UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa maka pedoman pembentukan Peraturan Desa yang dipakai oleh Kepala Desa bersama BPD dalam proses pembentukan Peraturan Desa di Desa Paleran Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember telah bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi yaitu UU No. 6 tahun 2014 tantang Desa dan di didalam proses pembentukan Peraturan Desa Paleran Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember memeiliki perbedaan dan kelemahan. Kedua,kedala-kendala dalam proses pembentukan Peraturan Desa oleh Kepala Desa bersama BPD di Desa Paleranyaitu:a). Kendala dalam pembahasan disebabkan karena SDM masyarakat desa paleran rendah sehingga dalam proses pembahasan saran yang diberikan kurang efektif; b).Kendala dalam penyebarluasan Peraturan Desa kepada masyarakat karenaadanya masyarakat yang berkaitan langsung dengan Peraturan Desa melakukan komplin. Ketiga,Upaya Kepala Desa untuk mengatasi kendala-kendala dalam Proses Pembentukan Peraturan Desa bersama Badan Bersama Permusyawaratan Desa di Desa Paleran yaitu sebagai berikut: a).Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala pada tahap pembahasan disebabkan karena SDM masyarakat desa paleran rendah yaitu dengan memilih tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan yang cukup tinggi; b). Upaya untuk mengatasi kendala dalam penyebarluasan peraturan kepada masyarakat akibat adanya komplin dari masyarakat yaitu dengan memberikan pemahaman atas maksud dan tujuan dari Peraturan Desa kepada masyarakat. Saran yang dapat penyusun kemukakan di sini sehubungan dengan skripsi ini adalah sebagai berikut: proses pembentukan Peraturan Desa oleh Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa di Desa Paleran agar cepat disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang baru dan mengusulkan kepada pihak Pemerintah Kabupaten Jember untuk segera menyiapkan mekanisme yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang baru, kendala-kendala yang diperoleh oleh Kepala Desa sebaiknya dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait sehingga dalam proses pembentukan Peraturan Desa selanjutnya dapat diminimalisir terjadinya kendala tersebut terulang kembali, upaya yang dilakukan oleh Kepala Desa Paleran K dalam mangatasi kendala-kendala dalam proses pembentukan Peraturan Desa bersama BPD sudah cukup baik dan diharapkan dapat ditingkatkan kembali
PENANAMAN NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PALANG MERAH REMAJA (PMR) DI SMAN 1 SAMPANG
ABSTRAK Habibi, Moh. 2016. Penanaman Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 1 Sampang. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd. M.H. (II) Siti Awaliyah, S.Pd. M.Hum. Kata kunci: Kemanusiaan yang adil dan beradab, Ekstrakurikuler, Palang Merah Remaja (PMR). Pada dasarnya manusia merupakan mahluk individu yang sifatnya berdiri sendiri untuk mencapai tujuan pribadinya. Namun untuk mencapai perkembangan pribadinya, manusia tidak mungkin mampu mencukupi dirinya sendiri melainkan memerlukan manusia lain dalam masyarakat. Manusia sebagai mahluk sosial haruslah memiliki rasa kemanusiaan yang adil dan beradab dalam berinteraksi dengan manusia lain. Pancasila yang merupakan dasar dan pandangan hidup bangsa Indonesia pada dasarnya memiliki tujuan yang bersumber dari hakikat manusia dan tentang kemanusiaan itu sendiri termuat dalam sila kedua Pancasila yaitu sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk menambah pengetahuan peserta didik maka perlu adanya kegiatan tambahan yang berguna untuk memberikan keterampilan dan juga menunjang pada pelajaran sekolah, salah satunya kegiatan ekstrakurikuler PMR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) proses perencanaan program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang; (2) pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang dalam menanakan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) nilai–nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang terkandung dalam kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang; (4) kendala yang ada dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang; (5) cara mengatasi kendala yang ada dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. pendekatan kualitatif deskriptif ini digunakan karena peneliti ingin menjelaskan atau memaparkan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) dalam penanaman nilai kemanusiaan yang adil dan beradab di SMAN 1 Sampang. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk memaparkan bagaimana pembelajaran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab pada kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMAN 1 Sampang secara objektif, sistematif dan akurat. Data penelitian berupa data hasil wawancara maupun dokumentasi dari ektrakulikuler PMR. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan meningkatkan ketekunan pengamat dan triangulasi data. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut, yang pertama Proses perencanaan program kegiatan ektrakulikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang disusun oleh banyak pihak mulai dari anggota, pembina, dan kepala sekolah. Dalam proses perencanaan program kegiatan ektrakulikuler PMR mengacu kepada perkembangan atau pengetahuan yang diberikan oleh PMI, program kegiatan yang dilaksanakan periode sebelumnya yang dirasa masih bisa dilaksanakan di periode sekarang serta melihat situasi dan kondisi pada saat ini, dan tentunya tri bakti PMR dan 7 prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit yang berisi nilai-nilai dasar yang harus ada di setiap program kegiatan kepalang merahan. Kedua, Dalam kegiatan yang dilasanakan oleh ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang selalu menanamkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab kepada siapapun yang terlibat didalamnya. Selain itu pelaksanaan program kegiatan ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang memiliki tujuan untuk menambah wawasan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan memahami nilai-nilai yang terdapat dalam setiap program kegiatan yang dilaksanakan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Jenis nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang terdapat dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang Sampang merupakan cerminan dari tujuh prinsip palang merah. Adapun nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang ditanamkan Dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh ekstrakurikuler PMR adalah nilai kemanusiaan, nilai kesamaan, nilai kerja sama, dan nilai kesukarelaan. Keempat, Kendala yang terdapat dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang dibedakan menjadi dua jenis masalah yaitu kendala yang sangat sering dihadapi dalam hal ini adalah kurangnya partisipasi atau minat dari anggota. Selanjutnya kendala yang sangat sulit untuk diselesaikan dalam hal ini adalah masalah pendanaan yang sangat minim pada setiap pelaksanaan program kegiatan dan kendala waktu yang berbenturan antara kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan kurikuler. Kelima, Cara menangani kendala yang terdapat dalam kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) yaitu dengan cara melakukan membuat program kegiatan semenarik mungkin sehingga anggota yang kurang aktif bisa kembali tertarik untuk mengikuti kegiatan PMR tersebut. Untuk masalah dana kegiatan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara ekstrakurikuler PMR unit SMA Negeri 1 Sampang dan pihak sekolah. Untuk kendala waktu yang berbenturan antara kegiatan ekstrakurikuler dan kurikuler, dalam hal ini harus dikembalikan kepada masing-masing anggota ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) unit SMA Negeri 1 Sampang yang diharapkan bisa membagi waktu dengan baik sehingga tidak mengganggu kegiatan kurikuler