SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    436 research outputs found

    EFEKTIVITAS PEMBIASAAN MENYANYIKAN LAGU NASIONAL DALAM PEMBELAJARAN UNTUK MEMBENTUK SIKAP NASIONALISME SISWA SMA NEGERI 8 KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK Suminar. 2017. Efektivitas Pembiasaan Menyanyikan Lagu Nasional dalam Pembelajaran Untuk Membentuk Sikap Nasionalisme Siswa di SMAN 8 Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M. Pd, MH, (2) Dr. H. M. Yuhdi Batubara, SH, MH. Kata Kunci: efektivitas, pembiasaan, lagu nasional, sikap, nasionalismeEfektivitas merupakan kata yang menunjukkan keefektifan suatu indikator atau tujuan yang telah ditentukan, dalam hal ini kefektifan yang ingin diketahui adalah tentang pembiasaan menyanyikan lagu nasional dalam pembelajaran untuk membentuk sikap nasionalisme siswa SMA Negeri 8 Kota Malang. Pembiasaan (habituation) merupakan suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang. Serangkaian pembiasaan yang dilakukan dalam pembelajaran di SMA Negeri 8 Kota Malang diantaranya adalah pembiasaan menyanyikan lagu nasional diawal kegiatan pembelajaran, pelaksanaan pembiasaan tersebut sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Menyanyikan lagu nasional atau lagu kebangsaan Indonesi Raya dalam pembelajaran merupakan motivasi awal bagi siswa untuk menumbuhkan semangat sebelum memuali kegiatan belajar mengajar.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeksripsikan efektivitas pembiasaan menyanyikan lagu nasional dalam pembelajaran untuk menmbuhkan sikap nasionalisme siswa yang meliputi (1) wujud sikap nasionalisme siswa; (2) bentuk pelaksanaan pembiasaan menyanyikan lagu nasional dalam kegiatan pembelajaran; (3) wujud efektivitas pelaksanaan pembiasaan menyanyikan lagu nasional dalam kegiatan pembelajaran.Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan jenis penelitian yaitu studi kasus, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Guru, Waka Kurikulum, Waka Kesiswaan, Waka Sarana dan Prasarana, Kepala Tata Usaha dan Staff nya serta siswa-siswi SMAN 8 Kota Malang. Pengumpulan data data tersebut dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu: observasi atau pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara sebagai berikut: perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan, dan triangulasi.Berdasarakan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut, yang pertama sikap nasioanalisme siswa SMA Negeri 8 Kota Malang yang sudah baik, sikap yang tercermin dari keasadaran dalam ikut serta dan melaksanakan kegiatan uapacara rutin hari senin dan hari-hari besar nasional lainnya dengan khidmat dan disiplin, aktif serta bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.Kedua, upaya membentuk sikap nasionalisme siswa melalui pembiasaan dalam kegiatan pembelajaran yang dipraktekan dengan beberapa pembiasaan seperti, melalukan serangkaian pembiasaan di pagi hari sebelum memulai kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat kegiatan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya, melaksanakan uapacara rutin satu bulan sekali pada hari senin minggu pertama, melaksanakan pembiasaan hari senin, melaksanakan “maaf, tolong, terimakasih” dalam lingkungan sekolah, serta pemberian sosialisasi dan motivasi terkait nasionalisme yang diberikan di awal pada masa orientasi siswa baru.Ketiga, efektivitas pembiasaan menyanyikan lagu nasional dalam pembelajaran untuk membentuk sikap nasionalisme siswa dicerminkan dalam sikap disiplin, aktif dan kritis, serta cinta tanah air. Ketiga sikap tersebut terlihat dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan siswa baik di dalam kelas maupun diluar kelas di lingkungan SMA Negeri 8 Kota Malang.Saran peneliti setelah melakukan penelitian ini antaralain sebagai berikut: (1) Bagi sekolah SMA Negeri 8 Kota Malang, upaya yang harus dilakukan oleh pihak sekolah dalam membentuk sikap nasionalisme siswa yaitu dengan memaksimalkan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan serangkaian pembiasaan “menyanyikan lagu nasional” untuk membentuk sikap nasionalisme serta peran guru dalam mendampingi siswa di kelas untuk melaksanakan pembiasaan dengan baik, dan pembiasaan sebelum mengakhiri kegiatan pembelajaran bisa selalu dilaksanakan oleh setiap guru yang mengajar di kelas tersebut; (2) Bagi peneliti lain, hasil dari penelitian ini bisa digunakan sebagai salah satu bahan referensi bagi rekan-rekan mahasiswa yang ingin mengkaji dan melakukan penelitian lebih lanjut terkait tema yang sama dengan peneliti dikemudian hariSuminar. 2017. Effectiveness of habituation Singing the National Anthem in Learning For Shaping Attitudes Nationalism Students at SMAN 8 Kota Malang. Thesis, Department of Pancasila and Citizenship Education, Law and Citizenship Department, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor: (1) Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M. Pd, MH, (2) Dr. H. M. Yuhdi Coal, SH, MH. Keywords: effectiveness, habituation, the national song, attitude, nationalismEffectiveness is a word that shows the effectiveness of an indicator or a predetermined goal, in this case the effectiveness of that we want to know is about habituation of national sang in learning to shape the attitudes of nationalism SMA Negeri 8 Kota Malang. Habituation (habituation) is an activity that is done repeatedly and the process of forming attitudes and behavior are relatively sedentary and automated through a learning process repeated. Conducted a series of habituation in learning in SMAN 8 Kota Malang include habituation sing national anthem at the beginning of the learning activities, implementation is in accordance with Permendikbud habituation No. 23 of 2015 on Growth Budi Character (PBP). Sing the national anthem or the national anthem Indonesi Kingdom in learning the initial motivation for the students to cultivate the spirit before memuali teaching and learning.The purpose of this study was to mendeksripsikan effectiveness sing national anthem habituation in learning for studentsmenmbuhkan nationalism that includes (1) a form of nationalism students; (2) that the implementation of the national anthem sang habituation in learning activities; (3) form the effective implementation of habituation sing national anthem in learning activities.To achieve these objectives the researchers used a qualitative approach that is descriptive and type of research is to study the case, in seeking data from informants consisting of teachers, Waka curriculum, Waka Student, Waka Infrastructures, Head of Administration and Staff of her as well as the students of SMAN 8 Kota Malang. The data collection of data is done by three (3) methods: observation, interviews and documentation. Data analysis was performed by means of data reduction, data presentation and conclusion (verification). To ensure the validity of the data obtained, the researchers checked the validity of the data in the following way: the extension of participation, persistence / constancy observation, and triangulationBased on the results of research conducted, there are three conclusions following results, the first gesture nasioanalisme students of SMAN 8 Kota Malang is good, the attitude is reflected keasadaran in participating and carrying out activities coming of age rituals routine Monday and major holidays other national with solemn and disciplined, active and enthusiastic in following the teaching and learning activities in the classroom.Second, efforts to shape the attitudes of nationalism students through habituation in learning activities practiced by some habituation like, put through a series of habituation in the morning before starting the learning activities in which there are activities to sing anthem Indonesia Raya, execute coming of age rituals regularly once a month on Monday week first, implement habituation Monday, carrying out a "sorry, please, thank you" in a school environment, as well as providing socialization and motivation related to nationalism given at the beginning of the new student orientation period.Third, the effectiveness of habituation sing national anthem in learning to shape the attitudes of students nationalism is reflected in the attitude of discipline, active and critical, and love of the homeland. The third attitude is seen in the implementation of activities that involve students both in the classroom and outside the classroom in the SMAN 8 Kota Malang. Suggestion of researcher after doing this research antaralain as follows: (1) For school SMA Negeri 8 Malang City, effort must be done by school in forming attitude of student nationalism that is by maximizing facility needed in executing series of habituation "sing national song" The attitude of nationalism and the role of teachers in assisting students in the classroom to perform good habituation, and habituation before ending the learning activities can always be implemented by every teacher who teaches in the class; (2) For other researchers, the results of this study can be used as a reference material for colleagues of students who want to study and conduct further research related to the same theme with researchers in the future

    Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh Gereja Kristen Jawi Wetan dan Upaya Pelestariannya di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang

    No full text
    ABSTRAK Andini, MargaretaSheshaOkta. 2017. Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh Gereja Kristen Jawi Wetan dan Upaya Pelestariannya di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Skripsi. Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Suko Wiyono, SH., MH (2) Dr. Didik Sukriono, SH., M.Hum Kata Kunci: Nilai, Kearifan Lokal, Tradisi, RiyayaUndhuh-UndhuhKata Undhuh-Undhuhberasal dari bahasa Jawa yang artinya memetik atau memanen. Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhmerupakan sebuah peringatan atau perayaan panen raya sekaligus ucapan syukur kepada Tuhan atas berkah berupa hasil panen yang diberikan kepada warga jemaat Mojowarno khususnya yang berprofesi sebagai petani.Penelitan ini dilaksanakan bertujuan (1) menjelaskan sejarah Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyang dilaksanakan jemaat GKJW Mojowarno (2) menjelaskan urutan pelaksanaan Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyang dilaksanakan jemaat GKJW Mojowarno (3) menjelaskan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh(4) menjelaskan upaya pelestarian Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh. Penelitian ini dilaksanakan di GKJW Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sejarah Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhdiawali dari pemikiran Paulus Tosari dan J.EJellesma untuk membuat lumbung miskin (2) urutan pelaksanaan Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyakni kebetan, keleman, dan prosesi Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyang terdiri 4 tahapan yaitu tahap persiapan, arak-arakan, ibadah kemudian lelangan (3) nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhyakni nilai religi, nilai sosial, nilai moral, nilai keindahan, nilai ekonomis, dan nilai hiburan (4) upaya melestarikan Tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh yakni dengan dilaksanakannya tradisi tersebut pada setiap tahunnya, gencar melakukan promosi di media sosial, serta mengundang tokoh-tokoh penting untuk ikut serta dalam menghadiri tradisi tersebut. Merujuk pada hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) sebaiknya masyarakat tetap mempertahankan tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhdengan memperkenalkan tradisi ini dalam lingkungan keluarga agar warisan budaya lokal yang dimiliki Desa Mojowarnotetap terpelihara (2) sebaiknya generasi muda Desa Mojowarno dapat melestarikan dan meneruskan tradisi yang telah dilaksanakan pada setiap tahunnya agar nilai-nilai budaya lokal yang ada dalam tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhtidak menghilang seiring dengan kemajuan zaman (3) sebaiknya masyarakat Desa Mojowarno tetap mempertahankan rasa toleransi dan solidaritas yang tinggi tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun ras sehingga dapat saling membantu dan bergotong-royong dalam tradisi RiyayaUndhuh-Undhuh agar tercipta kerukunan dan kenyamanan di Desa Mojowarno (4) sebaiknya masyarakat tetap berpartisipasi dalam tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhdengan menyebarluaskan ke berbagai media sosial untuk memperkenalkan warisan budaya lokal ini kepada daerah lain (5) sebaiknya pemerintah tetap mendukung dan ikut menyemarakkan tradisi RiyayaUndhuh-Undhuhuntuk mempertahankan warisan budaya daerah (6) sebaiknya pemerintah ikut andil dalam setiap kegiatan masyarakat dengan mengajak semua golongan agama sekaligus untuk membantu mewujudkan perdamaian antar golongan agama yang sedang panas di masyarakat

    Perilaku Konsumtif Dalam Memenuhi Gaya Hidup Modern Pada Mahasiswa Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK Nikmah, Nur Fitrotun. 2017. Perilaku Konsumtif Dalam Memenuhi Gaya Hidup Modern Pada Mahasiswa Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Dr. Edi Suhartono, SH., M.Pd. Kata Kunci: perilaku konsutif, gaya hidup modern, mahasiswa.Permasalahan yang terjadi seiring perkembangan zaman saat ini yaitu munculnya suatu budaya yang senantiasa merasa kurang dan tidak puas secara terus menerus, khususnya bagi mahasiswa. Hal ini terjadi dengan keterlibatan teknologi yang semakin canggih. Keinginan untuk mengikuti gaya hidup modern dan tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman, akhirnya menyebabkan perilaku konsumtif. Pola perilaku konsumtif ini mengarah pada pemenuhan keinginan bukan kebutuhan. Konsumen seringkali membeli produk bukan karena kegunaan atau manfaatnya akan tetapi lebih untuk nilai simboliknya dalam memenuhi gaya hidup modern.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pandangan mahasiswa terhadap perilaku konsumtif (2) faktor yang melatarbelakangi perilaku konsumtif dalam memenuhi gaya hidup modern pada mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang, dan (3) bentuk-bentuk perilaku konsumtif dalam memenuhi gaya hidup modern pada mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaran yang keseharian di kampus terlihat memiliki perilaku konsumtif, hal ini tampak dari penampilannya, sedangkan proses analisis data diawali dengan menelaah semua data yang diperoleh baik yang bersumber dari pengamatan, wawancara, ataupun dokumentasi. Teknik analisis data yang digunkan dimulai dari tahap (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data dan (4) kesimpulan, penarikan atau verifikasi data.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan sebagai berikut. Pertama, pandangan mahasiswa terhadap perilaku konsumtif, mahasiswa di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan termasuk dalam mahasiswa yang berperilaku konsumtif, sering mengikuti trend, terutama mahasiswa putri, perilaku tersebut dianggap sebagai cara untuk memberikan kepuasan, meskipun disadari memberikan dampak negatif karena terlalu sering membelanjakan uang dan tidak memprioritaskan kebutuhan. Kedua, faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku konsumtif pada mahasiswa yaitu tingkat pendidikan, pengaruh media komunikasi, pengaruh dari lingkungan dan teman, pengaruh dari kepribadian, serta pengaruh dari status sosial orang tua. Ketiga, bentuk-bentuk perilaku konsumtif pada mahasiswa nampak  pada pakaian dan aksesoris, peralatan kosmetik, hiburan, dan alat komunikasi Beberapa saran dari peneliti diajukan kepada beberapa pihak, yakni (1) Bagi mahasiswa, agar  mahasiswa tidak berperilaku konsumtif, seyogyanya mahasiswa harus dapat membedakan antara kebutuhan dan bukan kebutuhan. Mahasiswa tidak boleh langsung menerima dan mengikuti kebudayaan baru yang sedang trend tersebut, mahasiswa harus dapat mengontrol dirinya sendiri dalam melakukan tindakan. (2) Bagi Jurusan, agar mahasiswa di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan tidak berperilaku konsumtif dan dapat hidup sederhana, seyogyanya jurusan menetapkan peraturan yang melarang mahasiswa mengenakan pakaian, aksesoris, dan make up yang berlebihan. (3) Bagi orang tua, agar mahasiswa tidak berperilaku konsumtif, sebaiknya orang tua memberikan contoh hidup sederhana dan selalu menasehati anak untuk tidak membeli barang-barang yang kurang diperlukan

    FILOSOFI BATIK GAJAH OLING (Studi di Sanggar Batik Sayu Wiwit di Desa Temenggungan Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi)

    No full text
    ABSTRAK Di Indonesia batik dibuat dengan beragam motif yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Motif batik yang diciptakan memiliki filosofi yang menggambarkan setiap kehidupan manusia dan kedekatannya dengan Tuhannya. Setiap batik memiliki filosofi permohonan atau doa-doa sehingga batik selalu digunakan dalam setiap kegiatan sakral oleh masyarakat.Seperti halnya, motif batik Banyuwangi yaitu Gajah Oling yang dianggap sakral oleh masyarakat Banyuwangi karena bentuknya seperti huruf S terbalik dan seperti belalai gajah dan oling. Nama Gajah Oling merupakan gabungan dari dua nama hewan yaitu Gajah dan Oling, Gajah yang artinya besar (berkaitan dengan maha besar) dan Oling yang berasal dari bahasa Using yaitu eling (ingat). Pemaknaan batik Gajah Oling secara tidak langsung mengajak manusia agar selalu ingat kepada Allah Yang Mahabesar dalam kondisi dan situasi apapun. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan(1)Bagaimana sejarah motif Batik Gajah Oling di daerah Banyuwangi; (2) Bagaimana filosofi yang terkandung dalam motif Batik Gajah Oling Banyuwangi; (3) Bagaimana filosofi penetapan penggunaan motif Batik Gajah Oling dalam setiap kegiatan yang bersifat sakral; (4) Bagaimana filosofi penetapan penggunaan motif Batik Gajah Oling sebagai seragam di pegawai pemerintahan daerah dan sekolah.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian interpretatif. Pada penelitian kualitatif ini, peneliti menafsirkan bagaimana filosofi dibalik motif Batik Gajah Oling. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, analisis data, dan penyimpulan.Adapun  hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut.Pertama,sejarah motif batik Gajah Oling munculkarena perlawanan rakyat Blambangan terhadap Kerajaan Mataram Islam. Perlawanan rakyat Blambangan inilah yang digambarkan dengan nama hewan Gajah yang bertubuh tubuh besar dan kuat sedangkan Oling artinya tidak mudah menyerah dan ditaklukkan. Kedua, filosofi yang terkandung dalam motif batik Gajah Oling Banyuwangi merupakan penggambaran sifat religius masyarakat Banyuwangi. Gajah Oling berasal dari dua nama hewan yaitu Gajah artinya besar (maha besar)dan Oling berarti eling (ingat) sehingga mengandung filosofi yaitu mengajak manusia untuk selalu ingat terhadap kebesaran Allah. Ketiga, filosofi penetapan penggunaan motif Batik Gajah Oling dalam setiap kegiatan yang bersifat sakral yaitu digunakan dalam upacara adat Seblang dan Gandrung. Seblang dan Gandrung merupakan event penting di Banyuwangi yang melambangkan wujud syukur masyarakat Banyuwangi terhadap Dewi Sri (Dewi Padi) yang dipercaya dapat memberikan kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Keempat, filosofi penetapan penggunaan motif Batik Gajah Oling sebagai seragam di pegawai pemerintahan daerah dan sekolah yaitu adanya himbauan dari Bupati Banyuwangi yang mewajibkan seluruh pegawai pemerintahan memakai seragam batik dengan motif Gajah Oling pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu sedangkan untuk seragam sekolah diwajibkan peggunaannya setiap dua hari dalam seminggu.Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: (1) Bagi Sanggar Bati Sayu Wiwit sebaiknya lebihmengembangkan motif batik Gajah Oling dengan desainyang lebih menarik namun tetap mempertahankan kekhasan motif batik Gajah Oling. (2) Bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi agar lebih memfasilitasi dan menunjang sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembatikan dan lebih mengenalkan dan melestarikan batik khas Banyuwangi (Gajah Oling) ke dunia internasional. (3) Bagi masyarakat Banyuwangi khususnya generasi muda dapat meneruskan kegiatan membatik agar lebih mengenal dan mencintai motif batik Gajah Oling guna mempertahankan eksistensinya. (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan dapat mengembangkan penelitian yang lebih lengkap baik dari segi ekonomis maupun historis.In Indonesia, batik made with many kind and different on each region. Motif of batik has philosophy which is imaging human life and religious people to the god. Each batik has a philosophy petiton or pray so that batik always used in any sacred activity by community. Such as, motif of batik Banyuwangi namely Gajah Oling which is considered sacred by the people Banyuwangi because it typed letter S mirrored like elephant snout and ell. The name of Gajah Oling are combine of two animals name that is elephant and ell, Gajah mean huge (very big) and Oling from Using language is eling(remember). So batik Gajah Oling indirect ask to people to always remember to Allah who is very big on all condition and situationThis research was conducted in order to describe (1) How history of batik Gajah Oling in area Banyuwangi; (2) How philosophy be contained in the motif batik Gajah Oling Banyuwangi; (3) How philosophy determination of use motif batik Gajah Oling in any activity that is sacred; (4) How philosophy determine of use motif batik Gajah oling as uniform in local goverment officials and school.This study used a qualitative approach which type isinterpretative study. In this qualitative study, researchers interpret how philosophy motif batik Gajah Oling. The data collection is done with following methods: indepth interview, observation and documentation. The analysis was done by collecting and checking data obtained from the field, data reduction, data analysis, and conclusions. The results of this study can be described as follows. First, the history of motif batik Gajah Oling arises because Blambangan people’s resistance toward Islamic Mataram Kingdom. Blambangan people’s resistance is what is describe with the name animals of Gajah are big and strong while Oling means not easily give up anf overrun. Second, philosophy contained in the motif batik Gajah Oling Banyuwangi is a depiction of the religius nature of society Banyuwangi. Gajah Oling comes from two animal names are Gajah and Oling, Gajah means big (enomous) and Oling means eling (remember) so it contains the philosophy that invites people to always remember the greatness of Allah. Third, philosophy determination of use motif batik Gajah Oling in any activity that is sacred that is used in traditional ceremony Seblang and Gandrung. Seblang and Gandrung is an important event in Banyuwangi which syumbolizes an act of gratitude Banyuwangi community to Dewi Sri (Dewi Padi) who is beileved to provide fertility and prosperity for rural communities. Fourth, philosophy determine of use motif batik Gajah oling as uniform in local goverment officials and school is the appeal of the regent of Banyuwangi which requires all government employees to wear batik uniforms on Thursday, Friday, and Saturday while for school uniforms are required to use every two days a week. The advice given by the researchers after conducting this research: (1) For Sanggar Batik Sayu Wiwit should further develop motif batik Gajah Oling with a more atrractive design but still maintain distinctivenees motif batik Gajah Oling.     (2) For district government Banyuwangi in order to better facilitate and support facilities and infrastructure needed in batik and further introduce and preserve the unique batik Banyuwangi (Gajah Oling) to the international. (3) For people Banyuwangi especially the younger generation can continue the activities of batik in order to know and love motif batik Gajah Oling in order to maintain its existence.   (4) For further research are expected to be a reference material and can develop reserach a more complete in terms of both economic and historical

    PENYIMPANGAN PERILAKU REMAJA DENGAN ADANYA HOMESTAY DI KAWASAN WISATA SONGGORITI KOTA BATU

    No full text
    ABSTRAK ABSTRAK   Istiqomah, Annisa. 2017. PenyimpanganPerilakuDenganAdanyaHomestay Di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu. Skripsi, JurusanHukumdanKewarganegaraan, Prodi PPKn, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si (2) Drs. SuparmanAdiWinoto, S.H, M.Hum Kata Kunci:Pariwisata, Homestay, PenyimpanganPerilakuRemaja             Pariwisataadalahsuatu proses kepergiansementaradariseorangataulebihmenujutempat lain di luartempattinggalnyakarenaberbagaikepentingan, baikkarenakepentinganekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan, ataukepentingan lain sepertisekedaringintahu, menambahpengalaman,ataupununtukbelajar. Dalamkegiatanpariwisatainitidakluputdarijenisakomodasipenginapanberupahomestay yang digunakan para wisatawanuntukmenginap. Namunsaatiniseiringberkembanyazamankeberadaanhomestayseringdisalahgunakanperuntukkannya. Homestaytidaklagidigunakansebagaitempatuntukmenginap para wisatawan, terkadangjugadisalahgunakansebagaitempatuntukmelakukantindakan-tindakanpenyimpanganperilaku yang seringdilakukanolehkalanganremaja. Tidakadanyaperaturanresmi yang mengikatdaripemerintahseakanmembuatkalanganremajamerasabebasuntukbisaselaludatangkehomestay yang adauntukmelakukantindakan-tindakanpenyimpanganperilakusecaraterusmenerus.              Adapuntujuanpenelitianadalah (1) mengetahuiperaturan yang mengaturtentangadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (2) mengetahuibentukpenyimpanganperilakuremaja yang terjadidenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (3) mengetahuifaktor-faktor yang menyebabkanterjadinyapenyimpanganperilakupadaremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (4) mengetahuiupaya-upayamengatasipenyimpanganperilakuremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu.             Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatif yang bersifatdeskriptif. Prosedur yang dilakukanadalahwawancara, observasi, dandokumentasi. Analisis data yang digunakanadalahreduksi data, penyajian data, danmengambilkesimpulan. Sedangkanpengecekankeabsahantemuan data dilakukandenganmeningkatkanketekunan, triangulasi, danmengadakan member check. DipilihnyaKawasanWisataSonggoriti Kota Batusebagaitempatpenelitianadalahkarenabanyaknyahomestay yang terdapat di kawasanini yang seringdikunjungioleh para wisatawankhususnyaremajasehinggatempatinimerupakantempat yang strategisuntukdijadikansebagaiobjekpenelitian.             Hasilpenelitianinimenunjukkan (1) peraturan-peraturan yang mengaturtentangadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (2) bentukpenyimpanganperilakuremaja yang dilakukanremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (3) faktorpenyebabterjadinyapenyimpanganperilakuremaja, (4) upaya-upayauntukmengatasipenyimpanganperilakuremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu.             Saran yang dapatpenelitiberikandalampenelitianiniadalahpentingnyamembuatdanmembentukperaturanolehpemerintahsecararesmi yang bersifatmemaksadanmengikatterhadapadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti agar keberadaanhomestaytidakdisalahgunakanolehkalanganremaja. Serta pihakpaguyuban, pemilikhomestay, danorangtuasudahsepatutnyauntukmemberikankontrolsosialdanpengawasan yang lebihketatterhadap para remaja-remaja yang seringmenyalahgunkanaperuntukkanhomestay agar tindakan-tindakan yang tidaksepatutnyaterjaditidakterulangkembali.                                   Istiqomah, Annisa. 2017. PenyimpanganPerilakuDenganAdanyaHomestay Di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu. Skripsi, JurusanHukumdanKewarganegaraan, Prodi PPKn, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si (2) Drs. SuparmanAdiWinoto, S.H, M.Hum Kata Kunci:Pariwisata, Homestay, PenyimpanganPerilakuRemajaPariwisataadalahsuatu proses kepergiansementaradariseorangataulebihmenujutempat lain di luartempattinggalnyakarenaberbagaikepentingan, baikkarenakepentinganekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan, ataukepentingan lain sepertisekedaringintahu, menambahpengalaman,ataupununtukbelajar. Dalamkegiatanpariwisatainitidakluputdarijenisakomodasipenginapanberupahomestay yang digunakan para wisatawanuntukmenginap. Namunsaatiniseiringberkembanyazamankeberadaanhomestayseringdisalahgunakanperuntukkannya. Homestaytidaklagidigunakansebagaitempatuntukmenginap para wisatawan, terkadangjugadisalahgunakansebagaitempatuntukmelakukantindakan-tindakanpenyimpanganperilaku yang seringdilakukanolehkalanganremaja. Tidakadanyaperaturanresmi yang mengikatdaripemerintahseakanmembuatkalanganremajamerasabebasuntukbisaselaludatangkehomestay yang adauntukmelakukantindakan-tindakanpenyimpanganperilakusecaraterusmenerus. Adapuntujuanpenelitianadalah (1) mengetahuiperaturan yang mengaturtentangadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (2) mengetahuibentukpenyimpanganperilakuremaja yang terjadidenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (3) mengetahuifaktor-faktor yang menyebabkanterjadinyapenyimpanganperilakupadaremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (4) mengetahuiupaya-upayamengatasipenyimpanganperilakuremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu.Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatif yang bersifatdeskriptif. Prosedur yang dilakukanadalahwawancara, observasi, dandokumentasi. Analisis data yang digunakanadalahreduksi data, penyajian data, danmengambilkesimpulan. Sedangkanpengecekankeabsahantemuan data dilakukandenganmeningkatkanketekunan, triangulasi, danmengadakan member check. DipilihnyaKawasanWisataSonggoriti Kota Batusebagaitempatpenelitianadalahkarenabanyaknyahomestay yang terdapat di kawasanini yang seringdikunjungioleh para wisatawankhususnyaremajasehinggatempatinimerupakantempat yang strategisuntukdijadikansebagaiobjekpenelitian.Hasilpenelitianinimenunjukkan (1) peraturan-peraturan yang mengaturtentangadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (2) bentukpenyimpanganperilakuremaja yang dilakukanremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu, (3) faktorpenyebabterjadinyapenyimpanganperilakuremaja, (4) upaya-upayauntukmengatasipenyimpanganperilakuremajadenganadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti Kota Batu. Saran yang dapatpenelitiberikandalampenelitianiniadalahpentingnyamembuatdanmembentukperaturanolehpemerintahsecararesmi yang bersifatmemaksadanmengikatterhadapadanyahomestay di KawasanWisataSonggoriti agar keberadaanhomestaytidakdisalahgunakanolehkalanganremaja. Serta pihakpaguyuban, pemilikhomestay, danorangtuasudahsepatutnyauntukmemberikankontrolsosialdanpengawasan yang lebihketatterhadap para remaja-remaja yang seringmenyalahgunkanaperuntukkanhomestay agar tindakan-tindakan yang tidaksepatutnyaterjaditidakterulangkembali.

    PESAN MORAL KARAKTER B.J HABIBIE MUDA DALAM FILM RUDY HABIBIE

    No full text
    ABSTRAK Film "Rudy Habibie" merupakan film yang berasal dari Indonesia dengan genre drama. Dalam film ini terdapat banyak pesan moral yang disampaikan sekaligus dapat mengetahui karakter tokoh B.J Habibie. Pesan moral adalah amanat yang terkandung dalam suatu cerita baik secara tersirat maupun tersurat sehingga dapat memberikan suatu pelajaran atau nilai-nilai yang baik terhadap masyarakat akan penyampaian suatu cerita. Sedangkan karakter adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) inti cerita film Rudy Habibie; (2) alur/lintasan cerita film Rudy Habibie; (3) pesan moral yang dapat digali dari karakter B.J Habibie muda dalam film Rudy Habibie; dan (4) apa yang menyebabkan B.J Habibie memiliki nilai-nilai karakter dalam film Rudy Habibie.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif serta jenis penelitian deskriptif. Dengan menggunakan analisis semiotika sinematografi oleh Christian Metz tokoh semiotik yang berasal dari Paris. Semiotika sinematografi adalah ilmu tanda. Dimana tanda ini berguna untuk mengetahui hal yang penting untuk menggali pesan moral dari karakter B.J Habibie muda dalam film Rudy Habibie.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, Inti cerita dari film Rudy Habibie menceritakan tentang masa muda seorang Bacharudin Jusuf Habibie saat kuliah di RWTH (Rheinisch Westfalische Technische Hochschule) di Aachen, Jerman. Keahlian Rudy di bidang dirgantara membuat Rudy ingin mendirikan industri dirgantara di Indonesia. Rudy yang tergabung dalam PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dan menjadi ketuanya memiliki visi membentuk industri dirgantara. Melalui PPI Rudy ingin melaksanakan seminar pembangunan yang bertujuan untuk pembangunan Negara Indonesia agar menjadi maju. Kedua, Ada delapan belas adegan yang terdapat di film Rudy Habibie. Kedelapan belas adegan tersebut menjadi kunci yang dapat membangun cerita. Film Rudy Habibie mempunyai alur maju mundur. Dapat dikatakan demikian karena beberapa adegan pada saat Rudy remaja diceritakan secara maju tetapi ada adegan yang menceritakan masa kecil Rudy atau yang sering disebut dengan istilah flashback.Ketiga, Terdapat delapan pesan moral yang dapat digali dari karakter yang dimiliki oleh Rudy Habibie dalam film. Kedelapan pesan moral tersebut adalah moral religius, moral toleransi, moral kerja keras, moral semangat kebangsaan dan demokratis, moral cinta tanah air, moral bersahabat, moral tanggung jawab, serta moral bijaksana. Keempat, Karakter yang dimiliki Rudy dalam film Rudy Habibie disebabkan oleh beberapa faktor yang membentuknya. Sang ayah sangat berperan penting dalam membentuk karakter seorang Rudy Habibie. Rudy selalu ingat pesan ayahnya untuk menjadi mata air yang artinya membawa kebaikan bagi orang-orang di sekelilingnya. Ada juga faktor lainnya yaitu dari pengalaman masa kecil Rudy yang hidup pada jaman penjajahan Jepang yang akhirnya Rudy menginginkan pembangunan nasional di Indonesia agar bangsa ini tidak terjajah lagi dan setara dengan Negara maju lainnya. Ditambah lagi Semangat ini didukung oleh pidato Bung Karno yang menyuarakan kepada generasi muda untuk berkarya demi bangsa. Beberapa saran dari peneliti diajukan kepada beberapa pihak, yakni (1) bagi penonton agar perfilman Indonesia memiliki kualitas yang baik. Seyogyanya para penonton harus mencintai film karya anak bangsa contohnya seperti film Rudy Habibie ini. Film ini adalah film yang berbobot dan sarat akan pesan moral di dalamnya. Sehingga penonton dapat meneladani hal-hal baik yang terdapat dalam film tersebut, (2) bagi generasi muda, agar tumbuh sikap yang berkarakter dan berakhlak mulia seyogyanya, dapat dilakukan dengan cara meneladani sifat-sifat B.J Habibie muda yang patut dicontoh dalam film Rudy Habibie. Sehingga dapat menciptakan evolusi mental dan mengispirasi untuk menjadikan generasi muda yang baik dan mampu bersaing di kancah internasional

    Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Budaya Sekolah Melalui Efikasi Diri Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Produktif Siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen.

    No full text
    ABSTRAK Amaliyah, E. R. 2017. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Budaya Sekolah Melalui Efikasi Diri Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Produktif Siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. Heri Pratikto, M.Si. Kata kunci: lingkungan keluarga, budaya sekolah, efikasi diri, hasil belajar.Kesuksesan terselenggaranya pendidikan menuntut sekolah untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas, inovatif, mandiri, kritis dan kompeten. Dengan demikian untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dalam bentuk penguasaan keterampilan dan pengetahuan Siswa Menengah Kejuruan (SMK) tercermin dalam hasil belajar yang maksimal. Namun, terdapat beberapa masalah untuk mencapai hal tersebut seperti hasil belajar siswa kurang dari KKM dan terdapat juga beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu faktor internal seperti efikasi diri dan faktor eksternal seperti lingkungan keluarga dan budaya sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kondisi lingkungan keluarga, budaya sekolah, efikasi diri dan hasil belajar mata pelajaran produktif siswa; (2) pengaruh lingkungan keluarga terhadap efikasi diri; (3) pengaruh budaya sekolah terhadap efikasi diri; (4) pengaruh lingkungan keluarga terhadap hasil belajar; (5) pengaruh budaya sekolah terhadap hasil belajar; (6) pengaruh efikasi diri terhadap hasil belajar; (7) pengaruh tidak langsung lingkungan keluarga terhadap hasil belajar melalui efikasi diri; (8) pengaruh tidak langsung budaya sekolah terhadap hasil belajar melalui efikasi diri.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis deskriptif dan eksplanatori. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lingkungan keluarga dan budaya sekolah, variabel intervening adalah efikasi diri dan variabel terikat adalah hasil belajar. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling, sampel penelitian terdiri dari 114 siswa. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis inferensial yang terdiri dari uji asumsi klasik dan analisis path.Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa lingkungan keluarga siswa baik, budaya sekolah sangat baik, efikasi diri siswa tergolong tinggi dan hasil belajar siswa termasuk kategori baik. Hasil analisis inferensialmenunjukkan tidak terdapat gejala pada uji asumsi klasik. Hasil analisis path menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel lingkungan keluarga terhadap efikasi diri; (2) terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel budaya sekolah terhadap efikasi diri; (3) terdapat pengaruh positif dan signifikan secara langsung antara variabel lingkungan keluarga terhadap hasil belajar; (4)tidak terdapat pengaruh langsung antara variabel budaya sekolah terhadap hasil belajar; (5) terdapat pengaruh positif dan signifikan secara langsung antara variabel efikasi diri terhadap hasil belajar; (6) terdapat pengaruh tidak langsung antara variabel lingkungan keluarga terhadap hasil belajar melalui efikasi diri siswa; (7) terdapat pengaruh tidak langsung antara variabel budaya sekolah terhadap hasil belajar melalui efikasi diri siswa.Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) kepada orang tua agar lebih memperhatikan proses belajar anak ketika di rumah dan menyempatkan waktu untuk menemani belajar; 2) sebaiknya kepala sekolah mempertimbangkan kembali budaya moving class (kelas berpindah) yang dirasa kurang efektif dalam pembelajaran, lebih menekankan keamanan sekolah baik diluar maupun di dalam dan memperhatikan kembali pengaturan jadwal acara sekolah agar tidak mengganggu aktivitas pembelajaran dan (3) sebaiknya siswa lebih meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuannya terhadap mata pelajaran produktif yang dirasa sulit, serta berusaha untuk menyelesaikan tugas dengan kemampuannya sendiri tanpa meminta bantuan teman.Amaliyah, E. R. 2017. The Effect of Family Environment and School Culture through Self Efficacy on The Student’s Learning Outcome of Productive Subjects for Office Administration Program at SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Sarjana’s Thesis, Department of Management, Faculty of Economics, Universitas Negeri Malang. Advisor: Prof. Dr. H. Heri Pratikto, M.Si. Keywords: family environment, school culture, self efficacy, learning outcome.Educational success is demanding school to produce students who are intelligent, critical, independent, innovative and competent. Thus, to produce quality learning in student’s mastery of skills and knowledge Vocational High School are reflected in the best student’s learning outcome. However, there are some problems to achieve it like the student learning outcomes less than KKM and there are also some factors that affect student learning outcomes are internal factors like self efficacy and external factors such as family environment and school culture. This research aims to know: (1) the condition of the family environment, school culture, self efficacy and student learning outcomes of productive subjects; (2) the effect of the family environment on self-efficacy; (3) the effect of school culture on self-efficacy; (4) the effect of family environment on the learning outcomes; (5) the effect of school culture on the learning outcomes; (6) the effect of self efficacy on the learning outcomes; (7) indirect effect of family environment on the learning outcomes through self efficacy; (8) indirect effect of school culture on the learning outcomes through self efficacy.This research is quantitative research type of descriptive and explanatory reasearch. Dependant variables in this research are family environment and school culture, intervening variable is self efficacy and independant variable is learning outcomes. The technique of sampling in this research is proportionate stratified random sampling, a sample of the research consisted of 114 students.Data analysis was done with descriptive analysis and inferencial analysis consists of classic assumption test and path analysis.Descriptive analysis results showed that family environment of students is good, school cultures is excellent, self efficacy of students is high category and student learning outcomes is good. Inferencial analysis results showed there were not symptoms in the classic assumption test. Path analysis results showed that: (1) there are positiveand significant effect of family environment variable on self efficacy; (2) there are positive and significant effect of school culture variable on self efficacy; (3) thereare positive and significant direct effect between family environment variable on the learning outcomes; (4) there is not direct effect of school culture variable on the learning outcomes; (5) there are positive and significant direct effect between self efficacy variable on the learning outcomes; (6) there is an indirect effect between family environment variable on the learning outcomes through self-efficacy of students; (7) there is an indirect effectbetween school culture variable on the learning outcomes through self efficacy of students. Based on the results of this research, researcher suggested: (1) the parents should pay more attention to the learning process of the child when at home and spend the time to accompany their study; 2) the principal should reconsider the culture of moving class which proved less effective in learning, emphasizes the security of schools either outside or inside and noticed setting the school calendar of events again so it won’t disturb the activity of learning; (3) the student should enhance the confidence her ability more on the hard productive subjects, and trying to complete the task by own without seeking help of friend.

    Pengunaan Model Discovery Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X G SMA Negeri 9 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Berdasarkan observasi pratindakan yang dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2017 di kelas X G SMA Negeri 9 Malang, temuan yang didapatkan adalah sebagai berikut: (1) Siswa harus ditunjuk terlebih dahulu agar mau menjawab pertanyaan guru; (2) Siswa dalam menjawab masih terpaku pada buku paket; (3) Kondisi kelas saat kegiatan pembelajaran masih pasif dan sulit terjadinya interaksi aktif baik antar siswa maupun siswa dengan guru; (4) Selama pelajaran berlangsung tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan.  Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penggunaan model Discovery Learning di kelas X G SMA Negeri 9 Malang dan untuk menganalisis pengunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di kelas X G SMA Negeri 9 Malang pada mata pelajaran PPKn. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan selama 2x45 menit dan dilakukan evaluasi disetiap akhir siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X G SMA Negeri 9 Malang dengan jumlah 34 siswa yang terdiri dari 23 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara, observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai presentase setiap indikator pada setiap siklus. Pada aspek melakukan pengamatan meningkat 9% yaitu dari siklus I sebesar 70,1% ke siklus II 79,1%. Aspek merumuskan hipotesis meningkat sebesar 29,8% dari siklus I sebesar 52,9% ke siklus II 82,7%. Aspek melakukan diskusi menunjukkan skor peningkatan sebesar 16,8% dari siklus I sebesar 65,1% ke siklus II 81,9%. Aspek keterampilan bertanya meningkat 29,8% dari siklus I 53,3% dan 83,1% pada siklus II. Aspek keterampilan menjawab pertanyaan meningkat sebesar 22,8% dari siklus I 55,5% dan siklus II 78,3%. Aspek membuat kesimpulan mengalami peningkatan sebesar 29,4% dari siklus I 51,1% ke siklus II 80,5%. Aspek menerapkan konsep meningkat sebesar 24,9% dari siklus I 58,1% ke siklus II 83%.  Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Penggunaan model Discovery Learning di kelas X G SMA Negeri 9 Malang dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yaitu: pendahuluan, kegiatan inti dengan penerapan model Discovery Learning dengan tahapan sebagai berikut: stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian dan menarik kesimpulan, tahap selanjutnya refleksi serta evaluasi; (2) Pengunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini berdasarkan indikator berpikir kritis yaitu melakukan pengamatan, merumuskan hipotesis, melakukan diskusi, keterampilan siswa bertanya, keterampilan siswa menjawab, membuat kesimpulan, dan menerapkan konsep

    PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PRESPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

    No full text
    ABSTRAK Mareta, Vina Alvia. 2017. Pendidikan Karakter dalam Prespektif Ki Hajar Dewantara. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganergaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. H A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H ,(II) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, PrespektifKi Hajar DewantaraPada peringatan hari pendidikan nasional tahun 2010 Kementrian Pendidikan mengusung tema “Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadapan Bangsa”. Sejak saat itu banyak ahli pendidikan, pengamat pendidikan, dan praktisi pendidikan mencoba menerjemahkan pendidikan karakter menurut versinya masing-masing.Isu pendidikan karakter selanjutnya tidak hanya karena sebagai peringatan hari pendidikan pada tahun 2010, namun juga sebagai wujud keprihatinan terhadap dunia pendidikan yang semakin hari semakin tidak jelas arah dan hasilnya.Pendidikan Karakter tidak hanya menjadi isu bagi ahli pendidikan, saat itu dijadikan sebagai tema memperingati hari pendidikan nasional. Namun sejak dulu sudah dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Selain itu Ki Hajar Dewantara juga membuat Konsep tentang Tri Pusat Pendidikan yang menunjukkan bahwa pembelajaran tidak harus berlangsung disekolah saja, akan tetapi dapat dilakukan dimanapun dan oleh siapa saja. Dalam pembelajaran ditekankan akan pentingnya penanaman nilai moral dan karakter agar dapat membentuk kemampuan dan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat sesuai dengan tujuan pendidikan nasionalMelihat dari dunia pendidikan saat ini yang tidak jelas arah dan hasilnya, serta krisis fungsi dan kedudukan pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara; (2) Konsep Pendidikan Karakter menurut Ki Hajar Dewantara; (3) implementasi pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam konsep pendidikan karakter pada masa sekarang.Penelitian ini termasuk penelitian  yang berfokus pada referensi buku dan sumber-sumber yang relevan. Pencarian data dilakukan dengan pendekatan Library Research yaitu suatu penelitian kepustakaan murni, menggunakan metode dokumentasi yang mencari data mengenai hal-hal atau variabel-variabel yang berupa catatan seperti buku-buku, majalah, dokumen. Dengan menggunakan analisis data, antara lain; Komprasi, Deduktif dan Induktif. Dari hasil penelitian tersebut adalah Ki Hajar Dewantara merupakan sosok pejuang bangsa yang dihormati dan disegani oleh rakyat. Dalam menanamkan nilai-nilai Pendidikan Karakter beliau memiliki maksud dan tujuan, berusaha memberikan nasihat-nasihat, anjuran-anjuran, materi-materi yang dapat mengantarkan anak didik untuk berbuat baik dan membentuk watak beserta kepribadian yang baik juga. Dalam menyampaikan materi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara mengajar mereka sesuai dengan tingkatan usia perkembangan anak dengan menggunakan metode ngerti, ngrasa, dan nglakoni

    Bentuk Kehidupan Sosial Sebagai Wujud Kerukunan Umat Beragama Islam dan Umat Beragama Hindu di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto

    No full text
    ABSTRAK Afan Ferdiansyah, Muhammad. 2016. Bentuk Kehidupan Sosial Sebagai Wujud Kerukunan Umat Beragama Islam dan Umat Beragama Hindu di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Suparlan Alkhakim, M.Si, (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum. Kata Kunci: Kehidupan Sosial, Kerukunan Umat Beragama.Agama mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Dimana di dalam masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai macam agama yang mana semuanya diharuskan hidup secara berdampingan, termasuk di Desa Trowulan kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto yang mana masyarakatnya yang pluralistik atau  menganut keyakinan yang berbeda-beda, dengan demikian mereka akan hidup secara bersama dalam masyarakat, Namun sayangnya di dalam masyarakat masih saja  terjadi konflik yang diakibatkan karena masalah agama. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melihat bagaimana kerukunan umat beragam Islam dan Umat Beragam Hindu dalam kehidupan sosial di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk kehidupan sosial sebagai wujud kerukunan umat beragam Islam dan umat beragam Hindu di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, faktor-faktor yang mendorong terwujudnya kerukunan umat beragama Islam dan umat beragama Hindu Dalam Bentuk Kehidupan Sosial di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto , kendala yang dihadapi dalam mewujudkan kerukunan umat beragama Islam dan umat beragama Hindu dalam bentuk Kehidupan Sosial di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, Upaya untuk mengatasi kendala dalam mewujudkan kerukunan umat beragama Islam dan beragama Hindu dalam bentuk kehidupan sosial Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten MojokertoPenelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan dari narasumber yang berasal dari pemuka agama Hindu dan Islam di Desa Trowulan dan warga masyarakat Desa Trowulan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara , observasi dan dokumentasi. Isntrumen yang digunakan yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, maka dilakukan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data kemudian penyajian data dan yang terakhir penarikan kesimpulan.Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa bentuk kehidupan sosial sebagai wujud kerukunan umat beragama Islam dan Hindu di Desa Trowulan antara lain 1). Kegiatan gotong royong yang dilakukan antar umat beragama baik umat beragama Islam dan Umat beragama Hindu, 2). Acara gendurenan yang digelar oleh umat agama Hindu maupun umat agama Islam, 3). Mejenguk atau mengunjungi warga yang sedang sakit baik umat Hindu maupun yang sakit umat Islam, 4). Melayat atau Takziyah ketika ada umat Hindu maupun umat Islam yang sedang Meninggal dunia, 5). Saling bersilaturahmi ketika umat Islam sedang merayakan hari raya idul fitri dan ketika umat Hindu merayakan hari raya galungan, 6). Membantu ketika ada umat Hindu atau umat Islam mengadakan hajatan,  7). Jika ada salah satu warga yang melahirkan maka seluruh tetangga baik yang umat hindu maupun yang beruamat Islam akan mengunjungi untuk mengucapkan selamat dan untuk yang laki-laki biasanya berkumpul dirumah yang sedang melahirkan untuk sekedar ngobrol maupun main kartu hingga larut malam , biasanya dalam istilah jawa disebut dengan  “Jagong Bayi”Kedua, Tujuan terbentuknya kerukunan umat beragama Islam dan umat beragama Hindu di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto yaitu  Pertama, untuk menciptakan suatu  kehidupan yang harmonis, guna membatasi terjadinya gesekan atau konflik antar umat yang beragama lain, kedua,  memberikan ketentraman dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan dimasyarakat, ketiga, dengan adanya kerukunan umat beragama maka setiap umat beragama dapat menjalankan kegiatan beribadahnya dengan tenang dan khusuk.Ketiga, faktor yang mendukung  antara lain 1) Karena dalam diri masyarakat Desa Trowulan sudah tertanam sikap toleransi dan menghargai antar umat beragama sejak kecil, 2)Tidak adanya sikap fanatisme terhadap agamanya, 3) Karena dalam agama sudah diajarkan mengenai berbuat kebaikan terhadap semua umat beragama, 4)  Karena adanya faktor ikatan kekeluargaa, 5) karena faktor kondisi tempat tinggal umat yang beragama Hindu dan Umat yang beragama Islam saling berdampingan dimana secara tidak langsung pasti mereka akan saling membutuhkan satu sama lain.Keempat, Kendala dalam perwujudan kerukunan umat beragama Islam dan umat beragama hindu di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto yaitu pertama ada sebagian masyarakat yang terlalu fanatisme terhadap agama yang dipeluknya, kedua terlalu menutup diri dan tidak mau bergaul atau bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, ketiga karena adanya sebagian masyarakat yang terpengaruh oleh faham-faham yang keras. Upaya untuk mengatasi kendala dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama Islam dan umat beragama Hindu  di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto yaitu pertama, melakukan musyawarah antar pemuka agama apabila terjadi perselisihan antar umat agama Hindu dan umat agama Islam, kedua, harus sering diadakan pertemuan-pertemuan antar para pemuka agama untuk memberikan tindakan pencegahan agar tidak terjadinya suatu konfilk antar umat beragama, ketiga,  para pemuka agama baik pemangku diumat Hindu dan ustadz diumat Islam untuk memberikan pemahaman terhadap seluruh jamaahnya  untuk selalu menjaga kerukunan antar umat beragama dimasyarakat, dan yang terakhir pembentukan kegiatan-kegiatan sosial  oleh pemerintah  Desa yang melibatkan seluruh masyarakat seperti kegiatan ronda malam di setiap dusun

    0

    full texts

    436

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇