SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
Pengembangan E-book Berbasis Flipbook sebagai Sumber Belajar dalam Pembelajaran PPKn pada Materi Keberagaman Suku, Agama, Ras dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika di SMP Brawijaya Smart School Kota Malang
ABSTRAK Miskiyah, Alawiyatul. 2017. Pengembangan E-Book Berbasis Flipbook sebagai Sumber Belajar dalam Pembelajaran PPKn pada Materi Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika di SMP Brawijaya Smart School Kota Malang. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si. (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum. Kata Kunci: E-Book, Flipbook, Sumber Belajar, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.Pendidikan sebagai suatu hal yang sangat penting untuk mencerdaskan anak bangsa dan membawa bangsa yang maju. Pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Agar menyeimbangkan dengan zaman guru harus menggunakan strategi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang menggunakan metode ceramah dapat membuat siswa bosan dan menggunakan sumber belajar berupa buku dengan halaman yang cukup tebal dapat membuat siswa kurang tertarik untuk membaca buku mata pelajaran PPKn. Berkembangnya teknologi dapat dimanfaatkan oleh pendidikan untuk membuat sumber belajar yang praktis. Berkembangnya teknologi dapat menciptakan buku elektronik (e-book) berbentuk flipbook. Flipbook sebagai salah satu software yang dapat digunakan untuk membuat buku elektronik PPKn.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-book berbasis flipbook sebagai sumber belajar dalam pembelajaran PPKn pada materi keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika di SMP Brawijaya Smart School Kota Malang. Penelitian dan pengembangan ini dilakukan pada siswa kelas VII SMP Brawijaya Smart School Kota Malang. Peneliti memodifikasi model pengembangan menurut Sugiyono yang semula ada sepuluh langkah menjadi tujuh langkah. Langkah-langkah penelitian meliputi tahap (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk.Tingkat kelayakan e-book berbasis flipbook sebagai sumber belajar dalam pembelajaran PPKn kelas VII SMP pada materi keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika diperoleh dari hasil validasi dan uji coba produk (siswa). Hasil validasi ahli media mencapai 93% berarti sangat layak untuk digunakan. Hasil validasi materi mencapai 94% berarti sangat layak untuk digunakan. Hasil validasi praktisi pembelajaran mencapai 90,4% berarti sangat layak untuk digunakan. Uji coba kelompok kecil mencapai 90,9% berarti sangat layak untuk digunakan. Sedangkan uji coba kelompok besar mencapai 90,6% berarti sangat layak untuk digunakan. Produk pengembangan e-book berbasis flipbook dalam kategori sangat layak untuk digunakan sebagai media atau sumber belajar. Saran untuk pengembang selanjutnya, produk pengembangan e-book berbasis flipbook ini dapat digunakan pada materi-materi lain dengan menambahkan gambar, video, animasi, serta membuat tampilan yang lebih menarik, dan dilanjutkan untuk penelitian keefektifan produk dikelas
PERAN MALANG CORRUPTION WATCH (MCW) DALAM MEMPERJUANGKAN NILAI-NILAI PARTISIPASI MASYARAKAT DI KOTA MALANG
ABSTRAK Novia, Fibri Erisky. 2017. Peran Malang Corruption Watch (MCW) Dalam Memperjuangkan Nilai-Nilai Partisipasi Masyarakat di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Didik Sukriono, SH, M.Hum (II) Drs. H. Petir Pudjantoro, M.Si. Kata Kunci: Non Government Organization, PartisipasiMasyarakatKeterlibatan masyarakat dalam menyuarakan aspirasi mereka merupakan suatu hak asasi manusia yang telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28E ayat 3 yang berbunyi bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Untuk menjadi masyarakat yang partisipatif mereka harus berani untuk menyuarakan aspirasi mereka apapun bentuknya asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku sehingga keamanan dan ketentraman akan tetap terjaga dalam tatanan masyarakat. Dengan gerakan semacam itu partisipatif dalam pemerintah daerah akan semakin meningkat sehingga masyarakat tidak apatis ketika ada suatu permasalahan akan tetapi menjadi masyarakat yang responsif terhadap setiap perubahan yang terjadi baik pada skala daerah maupun skala nasional. Kolektivitas dan konsistensi adalah kunci bersama untuk meraih sebuah perubahan dalam masyarakat, salah satu organisasi non pemerintahan yang secara konsisten melakukan kegiatan memperjuangkan hak-hak publik di daerah Malang Raya adalah Malang Coruption Watch (MCW).Tujuan dari penelitian ini adalah (1)Mendiskripsikan programkegiatan MCW dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang. (2) Mendiskripsikan pelaksanakan program kegiatan MCW dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang. (3) Mendiskripsikan keterlibatan masyarakat dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang. (4) Mendiskripsikan kendala MCWdalam memperjungkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang.(5) Mendiskripsikan solusi MCW dalam memperjungkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif. Sumber data Primer dalam penelitian ini adalah Ketua Badan Pekerja MCW,anggota, dan masyarakat yang terlibat serta dokumen yang mendukung penelitian ini, sedangkan prosedur pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara, dokumentasi. Untuk teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan analisis tersebut dapat diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (a) Programkegiatan MCW dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang adalah Forum warga, advokasi, dancontituen meeting. (b) Program pelaksanakan kegiatanMCW dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang adalahForum warga masuk melalui jaringan warga, jamaah yasinan dll, advokasi merupakan pendampingan kasus yang diberikan MCW tetapi tetap melibatkan masyarakat dalam pelaksanakannya, contituen meeting merupakan mempertemukan anggota DPRD Kota Malang dengan warga dengan tujuan masyarakat menyampaikan aspirasi secara langsung,(c) Keterlibatan masyarakat dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang yaknisemua kegiatannya melibatkan masyarakat (d) Kendala MCWdalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang yakni sulit untuk diajak bergerak bersama. (e) SolusiMCW dalam memperjuangkan nilai-nilai partisipasi masyarakat di Kota Malang yakni kegiatannya dikemas sedemikian menarik apapun kegiatan masyarakat dimasuki seperti melalui jamaah tahlilan, yasinan serta kegiatan ibu PKK. Beberapa saran dari peneliti diajukan kepada beberapa pihak: (1) Untuk pihak MCW kegiatan semacam silahturahmi yang berbentuk forum warga harus tetap dilaksanakan secara rutin oleh MCW bersama masyarakat minimal 1 minggu sekali pada setiap warga jaringan ditiap wilayah Kota Malang dengan tujuan agar terbangun keakraban dan ketika diadakan pengorganisasian lebih mudah. (2) Untuk Pemerintah Daerah Kota Malang dalam hal ini adalah kepanjangan dari pemerintah pusat harus mengawasi aparat terkait agar segala bentuk kebijakan yang dibuat tidak merugikan masyarakat. (3) Untuk Masyarakat Kota Malang harus berani menyuarakan aspirasi mereka berkaitan dengan keluhan warga masyarakat karena menyuarakan aspirasi telah dilindungi oleh UUD 1945 28E ayat 3
Nilai moral yang terkandung dalam Tarian Caci di Desa Batu Cermin Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat
ABSTRAK Edi, Maria Grace Putri 2017. Nilai moral yang terkandung dalam Tarian Caci di Desa Batu Cermin Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (2) Dr. Nuruddin Hadi, SH,MH Kata Kunci : Nilai Moral, Tarian CaciNilai moral merupakan nilai yang mengacu pada tindakan manusia berkaitan dengan baik buruknya tindakan manusia dalam kehidupannya. Nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakat. Nilai- nilai moral yang ada dalam suatu kesenian dapat menjadi nilai nilai yang bisa ditiru dan di praktekan dalam kehidupan kita. Berkaitan dengan hal tersebut maka peneitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam tarian caci agar nilai-nilai moral yang terkandung dalam tarian tersebut bermanfaat bagi kehidupan kita.Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan nilai-nilai moral yang terdapat dalam Tarian Caci di Desa Batu Cermin Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat yang meliputi : (1) Sejarah terbentuknya tarian caci, (2) pelaksanaan tarian caci di Desa Batu Cermin, dan (3) nilai moral yang terkandung dalam tarian caci di Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai BaratPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Kepala Desa Batu Cermin, Tetua Adat Desa Batu Cermin, dan Penari Tarian Caci. Pengumpulan data dilakukan dengan (3) metode yaitu: Wawancara, dokumentasi dan Observasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi).Mengacu pada analisi tersebut, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut Pertama Desa Batu Cermin merupakan salah satu desa yang berada di kota Labuan Bajo, Desa ini merupakan dsa kecil yang merupakan desa dngan penduduk yang berjumlah 4.900 jiwa, dengan penduduk mayoritas beragama Kristen Katolik. Di desa inilah Tarian Caci berkembang dan sering dipentaskan.Kedua, asal usul tarian caci ini belum diketahui sejak kapan tarian ini ada di Desa Batu Cermin namun tarian ini sudah lama ada dan diwariskan turun temurun oleh para leluhur. Tarian ini berkembang dengan baik dan masih dipertahankan sampai sekarangKetiga, Pelaksanaan Tarian Caci ini biasanya dipertunjukan dalam upacara- upacara adat besar, upacara penerimaan tamu penting, tarian caci ini merupakan ucapan rasa syukur masyarakat untuk berkat Tuhan. Tarian caci ini dilengkapi dengan alat-alat atau perlengkapan caci, kostum tarian caci, gerakan-gerakan tarian caci, serta tahap-tahap pelaksanaan tarian caci.Keempat, nilai-nilai moral yang terdapat dalam Tarian Caci di Desa Batu Cermin Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat yaitu : Nilai Moral Ketuhanan, dan Nilai Moral Sosial. Dari penelitian ini disarankan agar: (1) Bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Tarian caci ini harus dikembangkan dan dilestarikan agar bertahan dan tetap di pentaskan , sehingga lebih dikenal oleh khalayak banyak. Tarian caci ini perlu di lestarikan, selalu dipentaskan kalau bisa juga di lombakan dalam tiap acara-acara besar agar selalu di ingat oleh orang banyak agar nantinya juga lebih banyak yang mengetahui tentang tari caci ini. (2) Bagi Masyarakat Desa Batu Cermin, dengan adanya tarian warisan nenek moyang seperti tarian caci ini, kita sebagai penerus harus bisa menjaga serta melestarikan tarian tradisional ini agar selalu ada dan tidak dilupakan karena perkembangan zaman (3) Bagi Para penikmat Tarian Caci atau Penonton, nilai- nilai moral yang terdapat dalam tarian caci ini sebaiknya bisa di praktekan dalam kehidupan sebagai nilai nilai moral penting yang dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik
Makna Simbolik Tari Mung Dhe Sebagai Pencerminan Identitas Nasional di Kabupaten Nganjuk
ABSTRAK Wulandari, Eka. 2017. Makna Simbolik Tari Mung Dhe Sebagai Pencerminan Identitas Nasional di Kabupaten Nganjuk. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Siti Awaliyah, S.Pd., SH., M.Hum Kata Kunci : Mung Dhe, makna simbolik, Identitas NasionalTari Mung Dhe merupakan tari yang bertemakan keprajuritan, sehingga gerakannya merupakan gerakan prajurit yang sedang berperang dan berlatih pedang. Tari ini lahir setelah terjadinya perang antara Pangeran Diponegoro melawan Belanda, yaitu sekitar tahun 1825-1830. Tari ini diciptakan oleh sisa prajurit Diponegoro yang berjumlah 14 orang dan melarikan diri ke Jawa Timur, tepatnya di daerah Alas Malang desa Babadan kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk. Tujuan diciptakan kesenian ini yaitu sebagai media penyamaran serta mengobarkan semangat dan mengumpulkan kembali anggota prajurit Diponegoro yang tercerai-berai di beberapa daerah. Dewasa ini kesadaran masyarakat akan seni dan budaya di Kabupaten Nganjuk sangat kurang, khususnya pada tari-tarian khas Nganjuk. Banyak diantara masyarakat Nganjuk yang tidak mengetahui kebudayaannya sendiri, terutama pemuda zaman sekarang yang lebih tertarik dengan budaya barat dan bahkan acuh dengan budanya sendiri. Mereka baru akan sadar jika budaya yang dimilki telah diklaim oleh negara lain. Oleh sebab itu perlu adanya pengenalan mengenai tari-tari tradisional kepada para generasi muda selaku generasi penerus bangsa.Tujuan dari penelitian ini untuk: (1) Mendeskripsikan sejarah munculnya seni tari Mung Dhe Kabupaten Nganjuk, (2) Mendeskripsikan bentuk pertunjukan tari Mung Dhe di Kabupaten Nganjuk, (3) Mendeskripsikan makna simbolik pertunjukkan tari Mung Dhe sebagai pencerminan identitas nasional di Kabupaten NganjukPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari (1) Kokok Wijanarko, (2) Bapak Soegito, (3) Bapak Bisowarno, (4) Bapak Sumadi, (5) Bapak Samuel Tamira. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Analisis data yang dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi).Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) gambaran umum lokasi penelitian, (2) Sejarah Munculnya Seni Tari Mung Dhe di Kabupaten Nganjuk, (3) Bentuk Pertunjukan Tari Mung Dhe di Kabupaten Nganjuk, (4) Makna Simbolik Pertunjukkan Tari Mung Dhe Sebagai Pencerminan Identitas Nasional. Dari penelitian ini, saran yang berhubungan dengan Makna Simbolik Tari Mung Dhe Sebagai Pencerminan Identitas Nasional di Kabupaten Nganjuk, yaitu: (1) Perlu kiranya menampilkan tari Mung Dhe secara rutin pada setiap tahun, (2) Mengadakan Drum band tradisonal yang instrumennya menggunakan alat musik gamelan serta melibatkan penari Mung Dhe juga, (3) Mendirikan sanggar khusus tari Mung Dhe, (4) Tari Mung Dhe hendaknya dimasukkan ke dalam muatan lokal di setiap jenjang pendidikan di daerah Nganjuk tidak hanya di tingkat SMP saja, (5) Mengadakan lomba tari Mung Dhe antar sekolah di daerah kabupaten Nganjuk
Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Perayaan Sekaten di Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta
ABSTRAK Kurniawan, Endra. 2017.Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Perayaan Sekaten di Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M. Pd, M.Si dan (II) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si. Kata Kunci :Nilai-nilai kearifan lokal, Perayaan Sekaten, Keraton Kasunanan SurakartaBudaya asing yang mendominasi terhadap budaya asli mampu mengkikis jati diri suatu bangsa. Kondisi tersebut tengah melanda Indonesia pada saat ini. Budaya-budaya asing datang dengan begitu gampangnya dampak dari kuatnya arus global, yang akibatnya budaya asing tersebut mampu meracuni jati diri Bangsa Indonesia, yang memang terkenal dengan keluhuran budayanya. Untuk tetap mempertahankan keluhuran budaya bangsa ini, salah satu jalannya dengan mengembangkan dan mempertahankan budaya sendiri. Salah satu budaya yang dimaksud ialah Perayaan Sekaten. Perayaan Sekaten merupakan ritual keagamaan berbalut dengan nilai-nilai budaya. Dalam Perayaan Sekaten syarat akan nilai-nilai luhur dan arif yang sudah diwariskan dari generasi satu ke generasi berikutnya hingga saat ini. Nilai-nilai tersebut mampu bersaing dengan perkembangan zaman serta mampu menangkal pengaruh buruk dari masuknya budaya asing. Selain itu, Sekaten merupakan salah satu bukti nyata dimana antara kebudayaan dengan nilai-nilai Islam mampu berakulturasi dengan baik tanpa adanya pertentangan. Perayaan Sekaten yang bermula dari Kasultan Demak terus berkembang dan dilestarikan oleh kerajaan-kerajaan penerusnya, salah satu kerajaan tersebut ialah Keraton Kasunanan Surakarta di Provinsi Jawa Tengah.Tujuan dari penelitian ini untuk: (1) Menjelaskan sejarah Perayaan Sekaten, (2) Mendeskripsikan prosesi pelaksanaan Perayaan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, (3) Mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Perayaan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, (4) Memahami persepsi masyarakat terhadap Perayaan Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta, (5) Mengetahui kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam dalam Perayaan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, (6) Mengetahui bagaimana mengatasi kendala dalam upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam dalam Perayaan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berjenis penelitian studi kasus, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Bapak H. Mohammad Muhtarom, M.Si, M. Pd.I sebagai ketua tamir dan Bapak Ir. H. Abdul Basid Rohmat sebagai sekertaris, untuk pihak abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta diwakili oleh Bapak K.R.T Radyo Adi Negoro pemimpin penabuh gamelan (tindih) Kyai Guntur Madu, Bapak K.R.R.A Sapto Diningrat. M.Hum tindih Kyai Guntur Sari dan Bapak Nardi yang bertugas dalam prosesi kembalinya perangkat gamelan, dan terakhir kepada pengunjung Perayaan Sekaten yang diwakili oleh Bapak Mahfud Yasin, Ibu Tatik, dan Ibu Dwi Suratmi. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Analisi data yang dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi).Hasil Penelitian adalah: (1)Perayaan Sekaten merupakan ritual keagamaan berbalut dengan konsep-konsep budaya dengan gamelan sebagai icon utama yang sudah berlangsung sejak dari Kasultanan Demak pada tahun 1403 Saka.(2) Prosesi Perayaan Sekaten dimulai pada tanggal 5 hingga 12 bulan Mulud atau Rabi’ul Awwal, dimulai dari turunya gamelan Sekaten pada tanggal 5 Mulud, kemudian gamelan kembali pada tanggal 12 Mulud, dan ditutup dengan pucak yang ditandai dengan keluarnya gunungan Sekaten.(3) Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang terkandung dalam Perayaan Sekaten yaitu ada 10 nilai yaitu nilai religius, nilai pendidikan, nilai ketelitian dan ketenangan,nilai gotong royong, nilai guyub rukun, nilai kesenian dan keindahan, nilai kebahagian, nilai ekonomi dan ,nilai hiburan. (4) Persepsi masyarakat terhadap Perayaan Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta, perayaan ini sudah berlangsung selama berabad-abad, bahwa ada pergeseran persepsi masyarakat terhadap Perayaan Sekaten. (5) Kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam kesenian Perayaan Sekaten yaitu (a) faktor alam yang berupa kekhawatiran turunnya hujan dan (b) faktor manusia berupa berupa tindak kejahatan oleh oknum yang tidak bertanggung, adanya masyarakat yang kehilangan anggota keluarga, dan pergeseran pemaknaan masyarakat terhadap Perayaan Sekaten. (6) Upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam Perayaan Sekaten adalah (a) Pengajian rutin yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat, (b) Penyebaran brosur, (c) Penyelenggaran secara rutin di setiap tahunnya oleh seluruh elemen masyarakat. Berdasarkan temuan penelitian, diajukan saran yang berhubungan dengan upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dalam dalam Perayaan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu kepada:(1)Takmir Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta, mampu memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat dalam memandang niali-nilai kearifan lokal dalam Perayaan Sekaten(2) Dinas Pariwisata Kota Surakarta, diharapkan ikut membantu dalam mensosialisaisikan Perayaan Sekaten, baik melalui media cetak maupun elektronik. Dengan demikian, Perayaan Sekaten mampu menjadi magnet wisatawan domestik bahkan internasional yang mampu menambah pemasukan pendapatan daerah, dan (3) Masyarakat Kota Surakarta, sudah sepatutnya ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian Perayaan Sekaten ini, serta masyarakat pun dituntun untuk paham terhadap nilai-nilai kearifan lokal dalam Perayaan Sekaten
Nilai-Nilai Gotong-Royong dalam Kelompok Tani “Sari Rukun” Dusun Babatan Desa Sekarbagus Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan
ABSTRAK Saputra, Rio Eka. 2017. Nilai-Nilai Gotong-Royong dalam Kelompok Tani “Sari Rukun” Dusun Babatan Desa Sekarbagus Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suko Wiyono, SH., M.Hum. (II) Drs. Margono, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: Nilai, Gotong-Royong, Kelompok Tani Kehidupan manusia dalam masyarakat tidak terlepas akan adanya interaksi sosial antar sesamanya. Pada dasarnya manusia sesuai dengan fitrahnya yaitu makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan pertolongan orang lain. Oleh sebab itu, di dalam kehidupan masyarakat diperlukan adanya kerjasama dan sikap gotong-royong dalam menyelesaikan segala pekerjaan. Masyarakat Indonesia terkenal dengan sikap ramah, kekeluargaan dan gotong-royongnya di dalam kehidupan sehari-hari. Gotong royong merupakan suatu kegiatan sosial yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dari zaman dahulu kala hingga saat ini. Sebagaimana yang tertuang dalam Pancasila yaitu sila ke-3 “Persatuan Indonesia”. Dalam bidang ekonomipun diharapkan adanya peran serta masyarakat dalam bergotong royong, memajukan perekonomian bangsa. Sikap gotong-royong dalam sektor perekonomian ini juga berkembang dalam masyarakat di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamtan Sugio, Kabupaten Lamongan. Dimana mayoritas masyarakat Dusun Babatan adalah bermata pencaharian sebagai petani. Para petani di Dusun Babatan melakukan aktifitas pertanian di sawah. Secara bergotong-royong dengan membentuk kelompok tani yang diberi nama kelompok tani “Sari Rukun”. Dengan tujuan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kelompok tani “Sari Rukun” Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan sangat menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Dari asas yang di junjung oleh kelompok tani “Sari Rukun” Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan kerja kelompok tani “Sari Rukun” juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai gotong-royong. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan di Kelompok Tani “Sari Rukun” di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, (2) bentuk nilai-nilai gotong-royong yang diterapkan di Kelompok Tani “Sari Rukun”, dan (3) pengaruh nilai-nilai gotong-royong yang dilakukan dalam kegitan Kelompok Tani “Sari Rukun” terhadap kersejahteraan masyarakat Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mencoba mengungkapkan menganai penerapan nilai-nilai gotong-royong dalam kelompok tani “Sari Rukun” Di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Pendekatan deskripstif kualitatif ini didasarkan pada kejadian yang ada secara menyeluruh serta mengarah pada sasaran mengenai pengumpulan data dari latar yang alami. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan melalui Observasi Partisipatif, wawancara mendalam langsung ke lapangan dan studi dokumentasi di lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara uji Kredibilitas, uji Transferability, uji Depandability, dan uji Confirmability. Adapun hasil penelitian ini adalah (1) Kegiatan yang dilakukan Kelompok Tani “Sari Rukun” Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, yakni terdiri dari kegiatan rutin yakni: musyawarah Rutin (Rembuk Tani); penyuluhan rutin dari KA-UPT Pertanian Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan; penyediaan Sarana Produksi Pertanian, yang terdiri dari kecukupan pupuk organik dan anorganik yang dibutuhkan petani, kecukupan benih unggul yang dibutukan petani pada setiap musim, kecukupan pestisida baik hayati maupun sintetis untuk mengawal kegiatan usaha tani padi dari serangan hama dan penyakit; penyediaan Jasa Alsintan Kelompok Tani “Sari Rukun” antara lain, melayani jasa pengolahan tanah dengan Hand Traktor kepada semua anggota, melayani jasa penyediaan air irigasi baik dari waduk maupun sistem pompanisasi kepada anggota, melayani jasa panen dan pasca panen dengan regu panen kepada anggota; semprot masal; dan panen raya. (2) Bentuk nilai-nilai gotong-royong yang diterapkan di Kelompok Tani “Sari Rukun” adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Tani “Sari Rukun” dengan selalu dengan melibatkan semua anggota Kelompok Tani “Sari Rukun” baik itu dalam kegiatan musyawarah ataupun dalam kegiatan kerja nyata. Dengan tujuan agar bisa terciptanya loyalitas dimasing-masing anggota, baik itu dengan Kelompok Tani “Sari Rukun” sendiri, maupun dengan masing-masing anggota. Selain dengan masing-masing anggota kelompok, kerja sama juga dilakukan dengan masyarakat sekitar, yakni masyarakat Dusun Babatan khususnya. Hal ini bertujuan agar antara Kelompok Tani “Sari Rukun” dan masyarakat sekitar memiliki hubungan yang baik, bisa saling memberikan manfaat. Serta nilai tolong-menolong yang selalu diterepkan dalam setiap kegiatan Kelompok Tani “Sari Rukun”. (3) Pengaruh nilai-nilai gotong-royong yang dilakukan dalam kegitan Kelompok Tani “Sari Rukun” terhadap kersejahteraan masyarakat sekitar adalah dengan selalu melimpahnya lumbung pangan, khususnya kebutuhan beras yang tidak pernah kekurangan. Serta dengan kegiatan-kegiatan Kelompok Tani “Sari Rukun” yang melibatkan tenaga masyarakat, tentunya akan memberikan lapangan pekerjaan bagi mayarakat Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan khususnya yang tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lain (1) Kepada Kelompok Tani “Sari Rukun” Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan agar setiap kegiatannya dapat selalu menjaga rasa kekeluargaan dengan masing-masing anggota tetap terjalin baik. Serta maningkatkan kerja sama dengan masyarakat maupun puhak terkait, agar Kelompok Tani “Sari Rukun” bisa berkembang lebih baik. (2) Kepada anggota Kelompok Tani “Sari Rukun” agar tetap bisa menjaga rasa kekeluargaan, serta bisa lebih loyal kepada Kelompok Tani “Sari Rukun” sendiri maupun dengan masing-masing anggota, dengan tujuan agar tujuan bersama dalam Kelompok Tani “Sari Rukun” bisa tercapai. (3) Kepada masyarakat Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan supaya bisa lebih sadar dan aktif dalam kegiatan bersama dengan Kelompok Tani “Sari Rukun” untuk menjaga hubungan dengan Kelompok Tani “Sari Rukun” tetap baik dan bisa saling menguntungkan
Peran Media Koran Surya Malang sebagai Implementasi Fungsi Pendidikan Politik Masyarakat Kota Batu
ABSTRAK Widya Prastika. 2017. Peran Media Koran Surya Malang sebagai Implementasi Fungsi Pendidikan Politik Masyarakat Kota Batu. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si Kata Kunci: media, koran, koran surya Malang, politik, pendidikan politik, fungsi pendidikan politik, masyarakat, masyarakat Kota BatuPendidikan politik adalah upaya edukatif yang disengaja dan sistematik untuk membentuk individu sadar politik, serta mengerti posisinya sebagai bagaian dari masyarakat dan mampu menjadi pelaku politik yang bertanggung jawab secara etis atau moral dalam mencapai tujuan politik.Pendidikan politik tidak dapat lepas dari proses pembinaan masyarakat, agar mereka menyadari hak dan kewajiban politiknya terhadap tanah airnya.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) peranan produksi media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu, (2) tema produk media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu, (3) persepsi pembaca terhadap media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu, (4) faktor-faktor pendukung media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu, (5) faktor-faktor penghambat media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik pada masyarakat Kota BatuJenis penelitian ini menggunakan penelitiandeskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana peran media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu. Data yang terkumpul dari hasil penelitian ini baik berupa kata-kata, gambar, wawancara atau dokumentasi akan disusun secara terstruktur, seksama dan objektif. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan keadaan nyata tanpa direkayasa. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, peran produksi media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu:(1) Peran redaktur media koranSurya Malang dalam implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu; (a) memilah tingkat kesensitifan berita, (b) memperhatikan asas keadilan dalam berita, (c) melaksanakan fungsi media sebagai kontrol sosial dalam politik, (d) menerapkan sistem interaksi secara langsung kepada masyarakat, (e)mengedepankan ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.(2) Peran wartawan media Surya Malang dalam implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu;(a) wartawan berperan lewat tulisan, (b) menciptakan kondisi politik, (c) menulis berita secara adil, (d) melakukan persiapan dengan baik. Kedua,tema produk berita politik media koran surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu: (1) tema tentang pilkada Kota Batu, (2) tema tentang kebijakan Pemkot Batu, (3) tema sikap aktor politik Kota Batu. Ketiga, persepsi pembaca terhadap media koranSurya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik; darikeempat pembaca yang menjadi subyek penelitian, menyatakanjika media koran surya berperan dalam mengimplementasikan fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu.Keempat, faktor-faktor pendukung media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu: (1) Faktor pendukung redaktur media koran Surya Malangdalam implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu: (a) ketersediaan sumber berita menjelang pilkada, (b) kondisi politik, (c) keterlibatan pembaca koran surya, (4) data dari KPU, panwaslu dan data dari lembaga survey .(2) Faktor pendukung wartawan Surya Malang dalam implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu dapat dilakukan dengan cara,wartawanbertanya secara langsung kepada masyarakat, mengenai informasi yang sedang dibutuhkan. Kelima, faktor-faktor penghambat media koran Surya Malang sebagai implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu: (1) Faktor penghambat redaktur koran Surya Malangdalam implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu berkaitan dengan masalah teknis: (a) pemasangan iklan; (b) keterbatasan jumlah halaman. (2) Faktor penghambat wartawan Surya Malang dalam implementasi fungsi pendidikan politik masyarakat Kota Batu adalah ketidak sediaan nara sumber untuk diwawancara. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah:(1) Pembaca media massa sebaiknya mampu menjadi pembaca yang kritis serta mampu memilih dan membaca adanya kepentingan-kepentingan tersendiri dari media maupun dari aktor politik dari setiap artikel berita yang termuat, hal tersebut perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya pembodohan oleh media melalui berita-berita yang subyektif dan tidak lagi independen. (2) Pemerintah daerah hendaknya selalu memberikan dukungan baik secara moril maupun materil terhadap media surya dalam rangka mengimplementasikan fungsi pendidikan politik kepada masyarakat, hal tersebut dikarenakan agar terciptanya kesadaran politik bagi masyarakat Jawa Timur. (3)Media surya diharapkan terus mengembangkan aspek idealis dalam memuat berita dalam korannya, sehingga fungsi pendidikan politik kepada masyarakatdapat tercapai, dengan harapan dapat terciptanya kesadaran politik bagi masyarakat
Nilai-Nilai budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima
ABSTRAK Fatimah.2017. Nilai-Nilai Budaya Rimpu Dalam Kontek Moralitas Di Kalangan Perempuan Bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Skripsi Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. Sri Untari, M.Si, (II) Dr. Sutoyo, SH., M. Hum Kata Kunci: Nilai-nilai Budaya Rimpu, Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten BimaNilai-Nilai budaya merupakan nilai-nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan nilai karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya, sebagai acuan perilaku dan tanggapan atas apa yang terjadi atau sedang terjadi. Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua lembar sarung yang bertujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk menutup kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok (bawahan).Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui, (1) Perkembangan rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima,(2) Nilai-nilai budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima, (3) Kendala-Kendala perkembangan budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima, (4) Solusi dalam mengatasi kendala-kendala perkembangan budaya rimpu Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Data yang sudah terkumpul hasil penelitian baik berupa kata-kata, gambar, wawancara atau dokumentasi akan disusun secara terstuktur, seksama dan objektif. Hal tersebut untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan keadaan nyata tanpa direkayasa.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama,perkembangan budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima, Perkembangan budaya rimpu saat ini hanya ada pada acara tertentu saja yaitu seperti hari jadi Bima. Budaya rimpu sekarang diterapkan disalah satu sekolah yaitu di SMAN 1 WOHA, pengguna rimpu biasa digunakan oleh siswa pada hari Juma’t walaupun pembelajaran sudah dimulai rimpu ini tetap digunakan di dalam kelas secara tidak langsung sekolah ini mendapatkan rujuan untuk menerapkan penggunaan rimpu di sekolah. Dengan adanya penerapan budaya rimpu di sekolah dapat membantu generasi penerus bangsa untuk mengetahui budaya lokal yang ada di tiap daerah masing-masing. Kedua, Nilai-nilai budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima: (1) nilai keindahan (estetika), (2) nilai kesopanan, (3) nilai moral, (4) nilai religi. Ketiga, Kendala-kendala perkembangan budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Bima Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima: (1) Masuknya budaya asing, (2) Kurangnya peran pemerintah Desa Sakuru. Keempat solusi dalam mengatasi kendala-kendala dalam perkembangan budaya rimpu dalam kontek moralitas di kalangan perempuan Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima: (1) Meningkatkan kesadaran masyarakat, (2) meningkatkan peran pemerintah Desa Sakuru. Berdasarkan penelitian diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah Pemerintah Desa Sakuru hendaknya lebih memperhatikan orang yang melakukan tenunan dan usaha untuk melestarikan Tembe Nggoli yang digunakan untuk rimpu. Perlu adanya pendorong atau motivasi serta arahan dari pemerintah agar terjadi persaingan yang sehat, selain dari pemerintah Desa Sakuru masyarakat seharusnya punya kesadaraan dalam meningkatkan untuk melakukan tenunan di Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima, apabila ada masyarakat yang melakukan tenunan di Desa Sakuru ini agar para remaja menggunakan rimpu, dan masyarakat juga harus bisa menfilter budaya asing yang masuk di Desa Sakuru. Selain dari masyarakat Desa Sakuru remaja Desa Sakuru harus juga mempunyai kesadaran senantiasa untuk menggunakan rimpu karena rimpu merupakan budaya lokal yang di miliki orang Bima dan sebagai generasi penerus harus bisa melestarikan budaya lokal yang ada di tiap daerah masing-masing, janganlah pernah merasa malu ketika menggunakan budaya rimpu
Pelaksanaan Program Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi Masyarakat Miskin dan Tidak Mampu di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban
ABSTRAK Leny. 2017. Pelaksanaan Program Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi Masyarakat Miskin dan Tidak Mampu di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewaganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Edi Suhartono, S.H., M.Pd, (II) Siti Awaliyah, S.Pd., M.Hum Kata Kunci : Pelaksanaan, Kartu Indonesia Sehat (KIS), Masyarakat Miskin dan Tidak MampuPelaksanaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat yang masuk dalam kategori fakir miskin dan orang tidak mampu. Sasaran KIS adalah mereka yang tergolong dalam dua kategori tersebut, hal ini dikarenakan angka kemiskinan di negara ini yang masih sulit ditekan. Haughton (2012:3) menyatakan bahwa kemiskinan timbul akibat masyarakat tidak memiliki kemampuan-kemampuan utama, tidak memiliki pendapatan atau mendapatkan pendidikan yang memadai, memiliki kondisi kesehatan yang buruk, merasa tidak aman, memiliki kepercayaan kepercayaan diri yang rendah. KIS sudah dimulai pada tahun 2015 di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban dan merupakan kartu yang diberikan oleh pemerintah sebagai jaminan sosial dan kesehatan agar masyarakat dapat berobat secara gratis di fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui : (1) Pelaksanaan program Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban, (2) Tingkat efektifitas Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Tuban, (3) Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Tuban, (4) Solusi yang digunakan dalam mengatasi kendala dalam pelaksanaan program Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Tuban. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berusaha menggambarkan bagaimana pelaksanaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban. Data yang di kumpulkan dianalisis menggunakan model interaktif.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, pertama, pelaksanaan KIS bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban sudah berjalan dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kedua, efektifitas pelaksanaan KIS bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di Kecamamatan Widang Kabupaten Tuban dapat dilihat dari: (a) efektifitas dari segi tepat sasaran, dari segi tepat sasaran dapat dikatakan KIS sudah tepat sasaran karena penerimanya adalah masyarakat yang masuk dalam PBDT tahun 2015 untuk KIS jaminan kesehatan dan peserta Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA) yang sudah diverivikasi dan validasi menjadi penerima KISDA, (b) efektifitas dari segi pelayanan, sudah bisa dikatakan efektif karena sesuai dengan standar pelayanan dan pengobatan yang telah ditentukan oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional, (c) efektifitas dari segi informasi, dari segi informasi pelaksanaan KIS belum efektif sebab informasi yang diterima masyarakat sangat terbatas. Ketiga, kendala-kendala dalam pelaksanaan program KIS bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di Kcematan Widang Kabupaten Tuban yakni: (1) banyaknya masyarakat miskin yang belum terdata sebagai penerima KIS, (2) tidak ada sosialisasi tentang prosedur penggunaan, manfaat dan proses pengusulan pembuatan KIS tambahan, (3) banyak masyarakat tidak miskin mengajukan usulan pembuatan KIS, (4) penyalahgunaan KIS oleh orang lain. Keempat, solusi yang diterapkan oleh beberapa pihak dalam mengatasi kendala dalam pelaksanaan KIS adalah : (1) masyarakat miskin dan tidak mampu bukan penerima KIS dapat mengusulkan pembuatan KIS dengan beberapa persayaratn, (2) harus dilakukan sosialisasi oleh pihak yang terkait, tetapi dalam prakteknya baru Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Widang yang melakukan sosialisasi kepada sekertaris desa se-Kecamatan Widang,dan (a) petugas puskesmas Compreng dan Puskesmas Widang akan memberi pemahaman terkait pemanfaatan KIS, (3) Ketegasan dari instansi terkait, (4) pasien yang mendaftarkan diri di Puskesmas dan RSUD diminta menunjukkan KTP untuk mengetahui keaslian data melalui pencocokan NIK dan foto. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka rekomendasi yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Bagi pemerintah pusat dan daerah, pemerintah seyogyanya mempertegas aturan terkait pemberian sosialisasi kepada penerima KIS serta penambahan jumlah penerima KIS, (3) Bagi instansi terkait, harus dilakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada setiap penerima KIS di Kecamatan Widang supaya masyarakat menjadi lebih cerdas dan bisa mengikuti setiap perkembangan guna meningkatkan kesehatan mereka
PerilakuSosialPelajarPelakuBisnisMulti Level Marketing (Mlm) Herbal Kesehatan Di KradenanKelurahanKarangketugKecamatanGadingrejo Kota Pasuruan
ABSTRAK Pramudya, DimasMedy. 2017.PerilakuSosialPelajarPelakuBisnisMulti Level Marketing (Mlm) Herbal Kesehatan Di KradenanKelurahanKarangketugKecamatanGadingrejo Kota Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,JurusanHukumdanKewarganegaraan, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sri Untari, M.Si. (II) Drs. Margono, M.Pd, M.Si. Kata Kunci: Perilaku Sosial, Bisnis MLM, Herbal KesehatanMLM merupakansebuahsistempemasaran modern melaluijaringandistribusi yang dibangunsecarapermanendenganmemposisikanpelangganperusahaansekaligussebagaitenagapemasaran. Singkatnya, bahwa MLM adalahsuatukonseppenyaluran (distribusi) barangberupaprodukdanjasatertentu, yang memberikesempatankepada para konsumenuntukturutterlibatsebagaipenjualdanmemperolehkeuntungan di dalamgariskemitraannya. Bisnis MLM saat ini makin digemari, banyak pelku bisnis baru yang menjalankan bisnis ini setiap harinya. Bisnis ini tidak membatasi, siapa saja boleh bergabung, oleh karena itu banyak pemuda yang masih berstatus sebagai pelajar ikut menjadi pelaku bisnis. Hal tersebut memberi dampak kepada perilaku sosial pelajar pelaku bisnis MLM terhadap orangtua dan terhadap lingkungan sekitar menjadi cuek dan acuh. Mereka hanya melakukan pekerjaan bisnisnya.Penelitaninidilaksanakanbertujuan (1) menjelaskanperilakusosialpelajar yang mengikutibisnis MLM herbal kesehatan di KradenanKelurahanKarangketugKecamatanGadingrejo Kota Pasuruan (2) menjelaskanrespon orang tua yang anaknyamengikutibisnis MLM di KradenanKelurahanKarangketugKecamatanGadingrejo Kota Pasuruanini (3) menjelaskandampakbisnis MLM herbal kesehataninikepadapelakubisnis yang masihberstatussebagaipelajar di KradenanKelurahanKarangketugkecamatanGadingrejoini. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pengamatan, wawancara, dokumentasi, catatan lapangan, dan studi kepustakaan. Analisis data menggunakan pengumpulan bukti, pengujian bukti, pengkategorian, tabulasi, dan penarikan kesimpulan.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa: (1)perilakusosialpelajar yang mengikutibisnis MLM herbal kesehatan di Kradenaninimengalamiperubahansosial;(2) responorangtua yang anaknyamengikutibisnis MLM herbal kesehatan di Kradenaniniberfariatif, adaorangtua yang tidakmendukunganaknyamengikutibisnis MLM tersebutdanada pula orangtua yang menyetujuisertacenderungmendukunganaknyamengikutibisnis MLM herbal kesehatantersebut; (3)dampakpositifdannegatifdaribisnistersebut adalah mendapatkan penghasilan sendiri dan dampak negatifnya adalah berkurangnya motivasi untuk belajar. Merujukpadahasilpenelitianini saran yang dapatdiberikanantara lain: (1) kepada masyarakat, Orangtuaseyogyanyamengawasianaksecara pro-aktif, karenahaltersebutdapatmenentukanmasadepananaknya. Fenomena yang terjadi di KradenanKelurahanKranagketugsaatinimemangtidakbisadihindari, iming-imingmendapatuanglebihsangatmenarikminatpemuda yang masihberstatussebagaipelajar. Olehkarenaitu, orangtuasangatmenentukanperilakusosialdanmasadepananaknya. Merekajugaharusmengajarkantentangkepedulianantar sesame agar proses silaturahmitidakhilangkarenasikapcuek yang dilakukananaknyasemenjakmengikutibisnis MLM ini (2) kepada penelitin selanjutnya, lanjutanpenelitiansangatefektifbagiupayapenanamanperilakusosial yang baikdanmengutamakanpentingnyapendidikan. Denganpenelitianmendalammakahaltersebuttentunyadapatdijadikansebagaibahanpenelitianselanjutnya yang akanbergunabagigenerasimudadimasamendatang