SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
PERILAKU RELIGIUS YANG DI TAMPILKAN OLEH KOMUNITAS MAFIA (Manunggaling Fikiran Lan Ati Ing Ndalem) SHOLAWAT GUS ALI GONDRONG DI PONOROGO
ABSTRAK Nisa, Anika Ni’matun. 2017.Perilaku Religius yang Ditampilkan oleh Komunitas Mafia (Manunggaling Fikiran Lan Ati Ing Ndalem) Sholawat Gus Ali Gondrong di Ponorogo. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, MS.i (II) Dr. Nuruddin Hady, SH.MH Kata Kunci : Perilaku, Religius, Sholawat, Mafia Shalawat Gus Ali GondrongPerilaku religius merupakan tingkah laku yang didasarkan atas kesadaran tentang adanya Tuhan YME, semisal aktifitas keagamaan seperti shalat, zakat, puasa dan sebagainya. Perilaku religius bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual saja, bukan hanya yang berkaitan dengan aktifitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktifitas yang tidak tampak yang terjadi dalam seseorang. Sholawat merupakan salah satu tradisi yang tidak bisa dilewatkan. Mereka menganggap sholawat bukan hanya sekedar ritual belaka, melainkan memiliki essensi kecintaan terhadap Tuhan dan Rasul-Nya. Banyak sekali sholawat yang tersebar di Indonesia. Diantara sekian banyak kelompok-kelompok shalawat, Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong merupakan salah satu dari sekian banyak kelompok-kelompok shalawat yang ada. Kegiatan yang ditampilkan dalam acara ini berupa perilaku religius yang akan memberikan perilaku yang positif serta bermanfaat untuk masyarakat. Perilaku religius yang ditampilkan dalam Mafia Sholawat Gus Ali Gondrong terdiri dari Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an dan Pembacaan Surat Yasin, Ceramah Keagamaan, Pembacaan Sholawat Nariyah, Tari Sufi, Hadroh Semut Ireng, Dzikir dan Do’a.Tujuan dari penelitian ini untuk: (1) menjelaskan perilaku religius ditampilkan oleh anggota komunitas Mafia Sholawat Gus Ali Gondrong, (2) menjelaskan apa saja faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku religius oleh anggota komunitas Mafia Sholawat Gus Ali Gondrong (3) menjelaskan apakah perilaku religius yang ditampilkan oleh anggota komunitas Mafia Gus Ali Gondrong sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dalam mencari data dari informan yang terdiri dari kepala Desa Duri bapak Suroto, ketua Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong bapak Sayid, anggota penari sufi mbak Isma dan mbak Maulidzah, hadroh semut ireng mas Agus dan mas Wakhid, anggota Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong di Desa Duri bapak Wiyono, Ibu Sri Murtini dan Ibu Cikrak. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Analisis data yang dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : Pertama, Desa Duri merupakan salah satu desa yang terdapat di Ponorogo dengan kegamaan yang masih kental sehingga Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong saat ini berkembang. Kedua, perilaku religius pada kegiatan Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong terdapat beberapa bagian, yaitu pembukaan, acara inti dan penutup. Di dalam pembukaan terdapat pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan pembacaan surat yasin. Acara inti terdapat ceramah keagamaan, pembacaan shalawat nariyah, tari sufi, hadroh semut ireng, dan dzikir. Sedangkan dalam penutup terdapat do’a. Ketiga, faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku religius tersebut adalah untuk mengistiqomahkan hati kepada Allah SWT, untuk meluapkan rasa cinta dan rindu kepada Allah SWT dan Rasul-nya, untuk membuat hati lebih tenang karena dengan bershalawat dan untuk menghilangkan perilaku yang buruk. Keempat, perilaku religius yang ditampilkan oleh Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong memang sudah sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat, yaitu norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan dan norma hokum. Hanya saja dalam pembacaan shalawat nariyah yang kurang sesuai. Dari penelitian ini, saran yang berhubungan dengan komunitas Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong di Desa Duri, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorgo, yaitu : (1) Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong merupakan salah satu kelompok-kelompok sholawat yang ada di Ponorogo harus dilestarikan khususnya di Desa Duri, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo.(2) Penelitian ini diharapkan bisa memberi tambahan pengetahuan informasi, dan referensi kepada seluruh warga jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, khususnya mahasiswa Hukum dan Kewarganegaraan khususnya terkait sholawatan. (3) Penelitian ini diharapkan bisa memberi inspirasi kepada para calon peneliti yang lainnya. (4) Kelompok anggota Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong khususnya di Desa Duri seharusnya mendapat perhatian lebih dari masyarakat dan pemerintah, karena melalui kelompok ini Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong bisa lebih berkembang, tidak hanya di Desa Duri saja, tetapi juga desa lainnya.
Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso Dalam Fasilitasi Perizinan Pertambangan Pasir Di Desa Pandak Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso
ABSTRAK Kegiatan pertambangan merupakan salah satu sektor usaha yang memiliki peran yang strategis dan kontribusi yang besar terhadap pembangunan suatu daerah. Besarnya potensi sumber daya alam berupa bahan galian pasir yang terdapat di Kabupaten Bondowoso menyebabkan banyaknya kegiatan usaha pertambangan yang diusahakan baik oleh perorangan maupun badan usaha. Pada dasarnya kegiatan usaha Pertambangan yang dilakukan harus memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah. Keharusan memiliki izin ini tidak menutup kemungkinan adanya kegiatan usaha pertambangan yang ilegal. Kegiatan usaha pertambangan ilegal tersebut kerap kali luput dari perhatian pemerintah sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan izin. Oleh karena itu perlu upaya pemerintah untuk meningkatkan upaya perlindungan lingkungan dan masyarakat sekitar pertambangan dengan dibentuknya Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dibentuknya Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dilatar belakangi oleh adanya kerusakan lingkungan akibat usaha pertambangan pasir.Penelitian ini dilaksanakan bertujuan (1) menjelaskan peran Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dalam fasilitasi perizinan pertambangan pasir di Desa Pandak Kecamtan Klabang Kabupaten Bondowoso, (2) menjelaskan faktor penghambat yang dihadapi dalam melakukan fasilitasi perizinan pertambangan pasir di Desa Pandak Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso, (3) menjelaskan solusi yang diambil Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dalam fasilitasi perizinan pertambangan pasir di Desa Pandak Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Dinas Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bondowoso, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso, Bagian Energi Sumber Daya dan Mineral Kabupaten Bondowoso serta Badan Perencanaan Pembagunan Daerah Kabupaten Bondowoso.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menelaah studi observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso yaitu Dinas Teknis Terkait perizinan pertambangan pasir adalah meberikan pelayanan publik khusunya masyarakat penambang pasir berupa fasilitasi terhadap penambang pasir untuk mengurus dokumen perizinan. (2) Faktor penghambat yang dihadapi Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso yaitu Dinas teknis terkait pertambangan pasir adalah yang pertama Faktor tingkat pendidikan yang rendah berdampak pada kurangnya pengetahuaan, pemahaman mengenai perturan lingkungan hidup dan mineral dan batu bara serta sulitnya komunikasi anatar pemerintah daerah dan masyarakat penambang , kedua Faktor ekonomi yakni mahalnya mengurus perizinan pertambangan pasir berkaitan dengan reklamasi pasca tambang. (3) Solusi yang diambil Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dan Dinas Teknis perizinan pertambangan pasir yaitu, dengan melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat penambang pasir bersama tokoh masyarakat, dengan maksud agar terjalin komunikasi yang baik yang kemudian dapat melakukan sosialisasi terkait masalah pertambangan pasir. Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso memberikan Pelayanan berupa pendampingan secara masif kepada pemohon untuk melakukan proses perizinan. Merujuk pada hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) Bagi Pemerintah Daerah dan Dinas Terkait Perizinan Pertambangan Pasir sebaiknya meningkatkan sosialisasi mengenai Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup , Undang-undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan gubernur No. 12 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemberian Izin Pertambangan Skala Kecil terus ditingkatkan, dengan cara pendekatan-pendekatan yang lebih baik dalam menjalin komunikasi mengingat latar belakang masyarakat Desa Pandak Jenjang Pendidikannya rendah dan mebuat gambaran atau alur proses perizinan. (2) Bagi Penambang Pasir di Kabupaten Bondowoso khususnya di Desa Pandak Kecamatan Klabang sebaiknya sebelum melakukan kegiatan usaha pertambangan menyelesaikan perizinan yang sudah diatur oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso, hal ini supaya kegiatan yang dilakukan mendapat pengawasan dari pemerintah pusat agar kegiatannya tidak merusak lingkungan sekitar
Optimalisasi Perda Kabupaten Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelian Dan Pengusahaan Tembakau Terhadap Kesejahteraan Petani Tembakau Di Kabupaten Sumenep
ABSTRAK Akbar. Andy Arya 2017. Optimalisasi Perda Kabupaten Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelian Dan Pengusahaan Tembakau Terhadap Kesejahteraan Petani Tembakau Di Kabupaten Sumenep. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr.H.Suko Wiyono, SH,MH. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M.Si Kata kunci: Tembakau,tanaman bebas, petani,bandol, juragan peraturan daerah, kesejateraan petani, keefektifan, faktor penunjang, faktor penghambat, solusi.Tembakau adalah tanaman yang bersifat barang bebas dimana tidak ada tata niaga yang mengatur tentang harga tembakau. Tembakau memiliki nilai yang sangat strategis dalam dunia perdangan di Indonesia. Karena itulah ada beberapa peraturan Daerah yang mengatur tentang pelaksanaan pembelian dan pengusahaan tembakau di Kabupaten sumenep. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) Pelaksaan peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan pembelian dan pengusahaan tembakau(2) efektifitas peraturan daerah nomor 6 tahun 2012 kabupaten Sumenep dalam melindungi petani tembakau dari monopoli perdagangan tembakau(3) faktor penghambat dan penunjang optimalisasi Perda Nomor 6 tahun 2012 dalam upaya mensejahterahkan petani tembakau(4) Solusi yang diambil oleh pemerintah Daerah agar kehidupan petani lebih sejahterah.Jenis penelitian ini menggunakan penelitiandeskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana peran Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2012 dalam upaya mensejaterahkan dan melindungi petani tembakau dari monopoli perdangan tembakau. Data yang terkumpul dari hasil penelitian ini baik berupa kata-kata, gambar, wawancara atau dokumentasi akan disusun secara terstruktur, seksama dan objektif. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan secara terperinci dan sesuai dengan keadaan nyata tanpa direkayasa.Hasil penelitihan ini adalah sebagai berikut. Petama,Pelaksaan Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelian dan Pengusahaan Tembakau: (a) adanya penyuluhan rutin yang dilakukan oleh perwakilan dari dinas perkebunan pada awal musim panen, (b) pemfasilitasan jalan bagi para petani tembakau untk menjual hasil panen tembakau milik mereka, (c) memberikan pengawasan dalam proses jual beli tembakau di Kabupaten Sumenep. Kedua, efektifitas peraturan daerah nomor 6 tahun 2012 kabupaten Sumenep dalam melindungi petani tembakau dari monopoli perdagangan tembakau : (1) peraturan daerah tersebut kurang efektif, (2) faktor penyebab ketidakefektifan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2012 : (a) masih adanya bandol yang tidak memilki ijin resmi dalam jual beli tembakau di kabupaten Sumenep, (b) sifat dari tanaman tembakau yang merupakan tanaman bebas sehingga tidak ada peraturan yang mengatur tentang tata niaga dari harga tanaman tembakau. Ketiga, faktor penghambat dan penunjang optimalisasi Perda Nomor 6 tahun 2012 dalam upaya mensejahterahkan petani tembakau : (1)faktor penghambat,(a) Tingkat pendidikan petani tembakau yang relatif rendah, (b) Adanya bandol dan juragan yang belum mendapatkan ijin pembelian tembakau dari pemerintah, (c) Lemahnya pengawasan dari pemerintah pusat terhadap proses jual beli tembakau di Kabupaten Sumenep, (d) Tembakau adalah tanaman atau komoditi yang bebas dalampasaran Indonesia. (2) faktor penunjang optimalisasi Perda Nomor 6 tahun 2012 dalam upaya mensejahterahkan petani tembakau : (a) adanya petani tembakau tulen, (b) adanya asosiasi kelompok taniSaran yang dapat diberikan peneliti yaitu : (1)Petani harus menggandeng pihak tertentu untuk dapat menembus pasar nasional (diluar Sumenep / Madura bahkan luar negeri) sehingga tidak tergantung kepada pembelian dari pihak tertentu, (2) Merevisi peraturan daerah nomor 6 tahun 2012 ini dengan menambahkan point standard baku kriteria grade kualitas tembakau sehingga tidak dapat dipermainkan oleh grader gudang perwakilan, (3) Merumuskan peralatan paten yang dapat berguna untuk mengukur tingkat kekeringan, elastisitas tembakau dan lainnya, sehingga tidak dinilai berdasarkan subyektifitas pembeli (4) peningkatan pengawasan transaksi jual beli tembakau antara petani tembakau Madura dengan pihak Gudang perwakilan. Pengawasan ini bisa efektif apabila dilakukan reformasi birokrasi yang berasaskan akuntabilitas, transparansi. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir permainan konspirasi antara pihak gudang perwakilan dengan pihak terkait untuk memanipulasi transaksi jual beli tersebut. Untuk hal ini pemerintah harus menurunkan tim ahli tembakau yang kompeten untuk menentukan kualitas dan harga tembakau secara jujur dan terbuka sesuai dengan Peraturan Daerah Sumenep nomor 6 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelian dan Pengusahaan Tembakau, (5)Menyediakan/memfasilitasi tempat penyimpanan/gudang tembakau bagi petani yang terlambat panen. Hal ini ditujukan untuk melindungi petani/meminimalisisr kerugian petani akibat dari rendahnya harga tembakau yang panen belakangan. Sistem ini memakai sistem koperasi petani tembakau. Sehingga tembakaunya bisa dijual pada musim tembakau tahun depan dengan harga yang layak. Untuk selanjutnya petani bisa mendapatkan pinjaman modal untuk musim tanam tahun depan
PENDEKATAN HABITUASI UNTUK MENANMKAN NILAI KJUJURAN DISMANEGERI 1MALANG
Anwar, Ahmad. 2017 . Pendekatan Habituasi untuk Menanamkan Nilai Kejujuran di SMA Negeri 1 Malang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Margono, M.Pd., M.Si, (II) Drs. Petir Pujiantoro, M.Si Kata Kunci : Pendidikan, Pendekatan habituasi, dan Nilai kejujuranPendidikan mampu menyiapkan karakter mulia bagi peserta didik untuk menjadi warga negara Indonesia yang jujur, berkualitas dan berwatak mulia. Pendidikan karakter pada dasarnya sama dengan pendidikan moral. Salah satu nilai penting yang ditanamkan dalam pendidikan karakter bangsa adalah nilai kejujuran. Masalah kejujuran di SMA Negeri 1 Malang menjadi faktor terpenting dalam pendidikan budaya di sekolah. Proses pembiasaan penanaman nilai kejujuran di SMA Negeri 1 Malang merupakan suatu bentuk yang berusaha untuk membentuk watak warga negara (civic disposition). SMA Negeri 1 Malang nilai kejujuran juga sudah cukup tinggi.Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yakni ; 1) Bagaimana praktik habituasi untuk menanamkan nilai kejujuran di SMA Negeri 1 Malang, 2) Faktor – faktor apa yang mendukung dan menghambat praktik habituasi untuk menanamkan nilai kejujuran di SMA Negeri 1 Malang serta 3) bagaimana upaya untuk mengatasi hambatan praktik habituasi untuk menanamkan nilai kejujuran di SMA Negeri 1 Malang. Penelitian ini memiliki tujuan yakni 1) mendeskripsikan dan menganalisis praktik habituasi, 2) faktor penghambat dan pendukung, serta 3) upaya untuk mengatasi hambatan praktik habituasi untuk menanamkan nilai kejujuran di SMA Negeri 1 Malang.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi deskriptif analitik. Sumber data yang digunakan selama penelitian yakni sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dengan menggunakan analisis data menurut Spradley yakni analisis taksonomi.Hasil dari penelitian ini yaitu ; 1) Praktik habituasi diwujudkan dengan ; a) prkatik di dalam kelas, meliputi ; (1) mandiri, (2) tidak mencuri, (3) berbicara benar, (4) tidak memalsu surat, dan (5) transparansi dana kas, b) praktik di lingkungan sekolah, meliputi ; (1) budaya malu, (2), budaya bersahabat dengan senyum, sapa, salam, sopan, dan santun, (3) budaya baca dengan menembalikan buku bacaan, dan (4) kegiatan keagamaan dengan istigosah dan sholat berjamaah, c) praktik dalam kegiatan ekstraulikuler, mliputi ; (1) tidak memalsu absensi kegiatan dan dispensasi, dan (2) transparansi dana kas kegiatan. 2) faktor pendukung a) partisipasi warga sekolah dengan pola hubungan antar warga sekolah, b) pendayagunaan sarana dan prasarana sekolah CCTV dan Finger print, c) tata tertib sekolah sanksi penilaian peserta didik, dan d) bekal pembiasaan kejujuran dari orangtua dengan pendidikan keluarga sedangkan faktor penghambat 1) kemauan warga sekolah dalam berpikir dan 2) lingkungan keluarga dan masayarakat. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yakni a) melakukan pembiasaan kejujuran dari diri sendiri dan b) pertemuan antar warga sekolah. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti yakni a)Kepada Kepala SMAN 1 Malang, hendaknya melakukan pendekatan kepada orang tua siswa untuk membiasakan nilai – nilai kejujuran di rumah, dengan mengajar dengan contoh langsung untuk membentuk nurani dan kebiasaan, b) Kepada guru dan jajaran Sekolah untuk mempertahankan nilai kejujuran dengan memberikan contoh atau teladan kepada siswa, c) adanya kerjasama antar siswa dengan memprioritaskan kejujuran dan d) untuk peneliti selanjutnya lanjutan penelitian sangat efektif bagi hasil dari upaya penanaman nilai kejujuran. Karena, praktik habituasi dalam pembiasaan di sekolah sangat efektif dalam pembentukan nilai karakter terutama nilai kejujuran
Kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam Pengelolaan Wisata Air Terjun Tirto Galuh di Desa Bakung Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar
ABSTRAK Yuliananda, Rizal.2017 Kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna Dalam Pengelolaan Wisata Air Terjun Tirto Galuh di Desa Bakung Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si, (2) Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum.Kata kunci: Kemitraan, Pemerintah Desa, Karang Taruna, Pengelolaan Wisata. Kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna Dalam Pengelolaan Wisata Air Terjun Tirto Galuh di Desa Bakung Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar, Tujuan dari penelitian ini untuk mendiskripsikan: (1) pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh; (2) model kemitraan Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh; (3) kendala pelaksanaan kemitraan antara Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh; (4) mengatasi kendala pelaksanaan kemitraan antara Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh.Penelitiaan ini dilaksanakan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelitian studi kasus.Sumber data penelitian ini adalah : Kepala Desa Bakung, Ketua dan anggota Karang Taruna selaku pengelola wisata Air Terjun Tirto Galuh, warga yang tinggal disekitar lokasi wisata, dan pengunjung Air Terjun Tirto Galuh.Data/Informasi didapatkan oleh peneliti menggunakan cara diantaranya: observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, analisis data dan penyimpulan. Untuk pengecekan kebashaan data, peneliti melakukan dengan cara berikut: perpanjangan pengamatan, dan meningkatkan ketekunan.Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh dilaksanakan sepenuhnya oleh Karang Taruna Desa Bakung. Karang Taruna sebelum melaksanakan pengelolaan meminta izin terlebih dahulu kepada Pemerintah Desa karena tempat ini merupakan aset Desa Bakung. Meskipun kewenangan pengelolaan sepenuhnya dipegang oleh Karang Taruna, tetapi Pemerintah Desa tetap melakukan pengawasan agar pengelola mampu memanfaatkan aset desa tersebut. Pengelola menggunakan sistem tiketing untuk memasuki wisata Air Terjun Tirto Galuh. Dari hasil tiket pengunjung, selanjutnya dibagikan kepada pengelola sebagai upah dan sisanya dimasukkan ke Kas pembangunan Tirto Galuh. Semua dana yang didapatkan dikelola sendiri oleh Karang Taruna yang berperan sebagai pengelola wisata. Kedua melihat adanya hubungan antara Pemerintah Desa dengan Karang Taruna dalam pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh menandakan adanya kemitraan didalamnya. Model kemitraan yang berlangsung di Tirto Galuh adalah Mutualism Partnership karena pelaksanaan pengelolaan di wisata Air Terjun Tirto Galuh yang melibatkan Karang Taruna bersama Pemerintah Desa mampu menjalankan tugas masing-masing secara dasar. Meskipun kemitraan telah berlangsung tetapi kesepakatan/perjanijian secara tertulis antara Pemerintah Desa bersama Karang Taruna belum ada. Ketiga kendala yang dihadapi pada pelaksanaan kemitraan pengelolaan Air Terjun Tirto Galuh yaitu: (1) pengalokasian dana yang masih belum cukup untuk melaksanakan pembangunan fasilitas dilokasi wisata secara berkelanjutan karena terbatasnya dana yang didapatkan dan belum masuknya bantuan pendanaan dari Pemerintah Desa. (2) belum adanya kesepakatan/perjanjian tertulis dalam pelaksanaan kemitraan pengelolaan wisata Air Terjun Tirto Galuh. Tidak adanya kesepakatan tertulis mengakibatkan ketidak jelasan tanggung jawab yang dimiliki oleh tiap-tiap aktor dalam melaksanakan kemitraan. Keempat Untuk mengatasi kendala yang dihadapi Pemerintah Desa bersama Karang Taruna melaksanakan musyawarah dan memberikan penyelesaian yaitu: (1) kendala pengalokasiandanauntuk pembangunan fasilitas Air Terjun Tirto Galuh diselesaikan oleh Pemerintah Desa dengan memanfaatan dana Desa. Saat ini yang telah terlaksana pembangunan menggunakan dana Desa adalah akses jalan menuju lokasi Air Terjun dan semuanya dilakukan sendiri oleh Pemerintah Desa. Sehingga Karang Taruna sebagai pengelola terima bersih dalam pelaksanaan pembangunan. (2) untuk mengatasi kendala belum tertulisnya kesepakatan kemitraan, Karang Taruna sendiri melalui musayawarah meminta kepada Pemerintah Desa agar dibuatkan perjanjian tertulis. Adanya perjanjian tertulis memberikan kejelasan tanggung jawab serta tugas masing-masing dalam pengelolaan Air Terjun Tirto Galuh. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melaksanakan penelitan ini adalah sebagai berikut: Terjalinnya kemitraan antara Pemerintah Desa bersama Karang Taruna perlu adanya kesepakatan/perjanian tertulis. Adanya perjanjian tertulis ini akan memberikan kejelasan tugas tiap-tiap aktor pelaksana kemitraan ataupun siapa saja yang akan bertanggung jawab apabila ada permasalahan di Tirto Galuh. Perlunya meningkatkan kepercayaan Pemerintah Desa terhadap Karang Taruna sebagai pengelola Air Terjun Tirto Galuh apabila berkaitan dengan pendanaan. Harus ada yang meningkatkan promosi pariwisata Air Terjun Tirto Galuh baik dari karang Taruna sendiri maupun Pemerintah Desa Bakung agar destinasi wisata ini semakin dikenal oleh masyarakat.Saran (1) Pelatih hendaknya tetap bijaksana ketika menyampaikan materi pada saat latihan perlu adanya variasi, agar siswa dan siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler konseling remaja smarihasta tidak gampang bosan, selain itu pelatih juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan pengurus, anggota maupun pembina konresa agar pada saat pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler konresa tidak terjadi miss komunikasi. (2)Pembina seharusnya selalu memantau perkembangan dan kemajuan kegiatan ekstrakurikuler konresa, sebagai pembina harus tegas dan segera menindaklanjuti apabila terdapat kendala dalam pelaksanan kegiatan ekstrakurikuler konresa. 3) Siswa siswi atau anggota konresa seharusnya lebih aktif dan serius lagi karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler konresa sangat banyak manfaatnya selain bisa berlatih sebagai konselor juga bisa berlatih sebagai penyuluh. (4) Seharusnya fakultas selalu mendukung kegiatan positif dan mempermudah mahasiswa dalam hal perijinan melakukan penelitian, karena perijinan merupakan hal sangat penting dilakukan sebelum melakukan penelitian. (5) Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti lainnya yang ingin meneliti dibidang yang sama.(6) Penelitian yang dilakukan peneliti ini sangat banyak manfaatnya untuk menambah pengetahuan yang didapat dalam bidang hukum dan kewarganegaraan, khususnya yang berkaitan dengan Upaya pencehagan penyalahgunaan narkotika
PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER DAN BELA NEGARA (PKBN) DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN TARUNA DI SMK NEGERI 2 TUREN KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Rizal Ristantomo. 2017. Pelaksanaan Pendidikan Karakter dan Bela Negara (PKBN) dalam Meningkatkan Kedisiplinan Taruna di SMK Negeri 2 Turen. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Siti Awaliyah, S.Pd, SH, M.Hum, (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH, M.Si. Kata Kunci: program pendidikan karakter dan bela negara, disiplin, taruna SMK Negeri 2 Turen Kabupaten Malang.Program Pendidikan Karakter dan Bela Negara merupakan kegiatan wajib tahunan yang diselenggarakan oleh SMK Negeri 2 Turen terhadap taruna baru kelas X untuk meningkatkan kedisiplinan. SMK Negeri 2 Turen adalah sekolah tingkat kejuruan yang berbasis kelautan dengan ciri khas pendidikan semi militer, sehingga disiplin menjadi karakter yang diutamakan.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) perencanaan program pendidikan karakter dan bela negara (PKBN) di SMK Negeri 2 Turen, (2) pelaksanaan bentuk-bentuk kegiatan dalam program pendidikan karakter dan bela negara (PKBN) di SMK Ngeri 2 Turen, (3) kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pendidikan karakter dan bela negara (PKBN) di SMK Negeri 2 Turen, (4) cara mengatasi kendal-kendala yang ada dalam pelaksanan program pendidikan karakter dan bela negara (PKBN).Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian ini, peneliti berusaha memberikan gambaran mengenai pelaksanaan program pendidikan karakter dan bela negara (PKBN) di SMK Negeri 2 Turen. Hasil penelitian data yang berupa dokumen, wawancara, maupun dokumentasi disusun secara sistematis dan objektif dengan menggunakan analisis data yakni reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan/verifikasi. Tujuannya agar dapat memberikan penjelasan secara mendetail dan sesuai kenyataan tanpa ada rekayasa.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, Perencanaan program PKBN di SMK Negeri 2 Turen meliputi: (1) Pembentukan panitia program PKBN, (2) Perumusan jenis-jenis kegiatan, waktu dan tempat program PKBN, (3) Penentuan pemateri program PKBN. Kedua, Pelaksanaan bentuk-bentuk kegiatan program PKBN meliputi: (1) Pelaksanaan kegiatan PKBN didalam ruangan diantaranya, pemberian materi kesadaran berlalu lintas, kesadaran hukum, narkoba dan dampaknya, pembinaan karakter, cara memberi instruksi (CMI), pergaulan remaja dan PMS serta kedisiplinan dan bela negara, (2) Pelaksanaan kegiatan PKBN diluar ruangan diantaranya, apel, tata upacara, latihan baris berbaris (LBB), ketarunaan, bugar pagi dan lintas medan. Ketiga, Kendala-kendala dalam pelaksanaan program PKBN, meliputi (1) perubahan jadwal pemateri secara tiba-tiba, (2) pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terganggu, (3) kurangnya persiapan fisik dan mental sehingga menyebabkan taruna kurang tertib dalam mengikuti kegiatan PKBN. Keempat, Cara mengatasi kendala-kendala dalam pelaksanaan program PKBN meliputi: (1) mengatur ulang jadwal pemateri, (2) pelaksanaan program PKBN dilaksanakan di LANAL Malang dan (3) mengadakan evaluasi setiap pelaksanaan kegiatan selesai.Berdasarkan hasil penelitian diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Turen, Program pendidikan karakter dan bela negara (PKBN) ini, hendaknya dilaksanakan di LANAL MALANG dengan begitu tidak akan menggangu kegiatan belajar mengajar (KBM) guru bisa fokus mengajar serta yang tergabung dalam staf batalyon (osis) dapat mengikuti pelajaran secara penuh, program pendidikan karakter dan bela negara juga hendaknya dapat diterapkan oleh seluruh sekolah-sekolah lain karena program ini sangat bagus dalam membiasakan untuk disiplin serta menumbuhkan jiwa nasionalis dan patriotis. Meskipun pendidikan karakter sudah terintegrasi dalam setiap mata pelajaran namun adanya hari khusus untuk kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pembentukan karakter akan lebih baik lagi dalam rangka pembiasaan terhadap sikap dan tingkah laku mereka.ABSTRACTRizal Ristantomo. 2017. Implementation character education and state defense program to improve cadet discipline in SMKN 2 Turen Malang Regency. Undergraduate Thesis, Law and Citizenship Departement, Faculty of Social Science, State University of Malang. Guide: (I) Siti Awaliyah, S.Pd, SH, M.Hum. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH, M.Si. Key Word: character education and state defense program, discipline, cadet of SMKN 2 Turen Malang Regency.Character education and defense state program is an annual compulsory activity held by vocational high school 2 Turen for new cadets class X to improve discipline. Vocational high school 2 Turen is a marine-based vocational school with the characteristic of semi-military education, so discipline becomes the preferred character.This research was conducted with purpose for know (1) planning of character education and defense state program at vocational high school 2 Turen,(2) implementation forms of activities in the character education and defense state program at vocational high school 2 Turen, (3) obstacles faced in the implementation of character education and defense state program, (4) steps resolve obstacles in implementation of character education and defense state program.Type of research is descriptive with qualitative approach. In this research, researcher try to give describe about implementation of character education and defense state program in vocational high school 2 Turen. The result of research, data in the form documents, interviews, and documentation are arrange systematic and objective with data analysis ie data reduction, data dispaly, and conclusion /verification. The purpose can to detail explain and reality without engineered.The result of researh as follows. First, planning of character education and state difense program at vocational high school 2 turen encompass: (1) committee formation of character education and state difense program, (2) formulation that activity type, time and place of character education and state difense program, (3) informant determination of character education and state difense program. Second, implementation forms activity character education and state difense program encompass (1) implementation character education and state difense program in the room activities such as, traffic awareness material, legal awareness, drugs and its impact, character building, how to give instruction, teenager intercommunication, discipline and defense state, (2) implementation activities character education and state difense program outside the room activities such as, roll call, ceremony system, line of march training, about cadet, fit morning, and cross-field. Third, obstacles in the implementation character education and state difense program encompass (1) sudden change of schedule, (2) the implementation of teaching and learning activities are disturbed, (3) lack of preparation physical and mental, make cadets undisciplined in following character education and state difense program activities. Fourth, steps resolve obstacles in implementation of character education and defense state program encompass: (1) rearranging schedule of informant, (2) implementation of character education and defense state program held in LANAL Malang, and (3) always held evaluation every completed activity implementation. Based on the results research of the above, suggestions that can be given by the researcher for Headmaster of vocational high school 2 Turen, character education and defense state program should be implemented in LANAL Malang, so it will not disturb activity teaching and learning, teacher can focus teach and members of battalion staff (osis) can attend full lessons. Character education and defense state program should also be applicable by all other schools because the program is very good in getting used to discipline and fostering nationalist and patriotic souls. Although character education is already integrated in every subjects but a special day for activities that focus on character building will be even better in order to habituate their attitude and behavior.
Uji Perbedaan Formulasi Pakan Terhadap Pertumbuhan Larva Kumbang Beras(Tenebrio molitor L.)
ABSTRAK Rhumana, PramestiDwi. 2017. Uji Perbedaan Formulasi Pakan Terhadap Pertumbuhan Larva Kumbang Beras (Tenebrio molitor L.). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Dharmawan, M.Si., (II) Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si.Kata Kunci: Formulasi pakan, Budidaya ulat hongkong, Pertumbuhan larvaTenebrio molitor L. Pada budidaya ulat hongkong (larva T. molitor) belum diketahui adanya formulasi pakan yang efektif untuk mengoptimalkan hasil produksi (optimalisasi pertumbuhan larva).Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan pemberian formulasi pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan (panjang dan biomassa)serta mengetahui formulasi pakan yang paling efektif untuk pertumbuhan larva T. molitor.Penelitian eksperimental ini menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan (3 jenis formulasi pakan) dan dilakukan sebanyak 10 kali ulangan.Formulasi 1 terdiri dari kombinasi ampas tahu, pollard, dan sayuran, formulasi 2 terdiri dari kombinasi ampas tahu, konsentrat pakan ayam broiler, dan sayuran, sedangkan formulasi 3 terdiri dari tepung jagung, dedak padi, pollard, ampas tahu, tepung ikan dan sayuranyang diberikan pada larva T. molitor berumur 40 hari dan diteliti hingga umur 60 hari. Data yang didapatkan berupa data hasil pengukuran biomassa dan panjang larva T. molitor, serta data faktor abiotik (suhu dan kelembaban udara). Data biomassa dan panjang larva dianalisis dengan uji ANOVA RAL faktorial yang dilanjutkan dengan uji Duncan.Hasil penelitian menunjukkan, formulasi pakan yang paling efektif menghasilkan pertumbuhan (biomassa dan panjang) larva T. molitor tertinggi yaitu formulasi pakan 3 yang hasilnya berbeda nyata dengan formulasi 1 dan 2. Berdasarkan hasil uji lanjut, perbedaan efek pemberian formulasi pakan terhadap pertumbuhan dapat dilihat secara nyata pada hari-20.Rhumana, Pramesti Dwi. 2017. Feed Formulation Differences Test on The Growth Rice beetle larvae (Tenebrio molitor L.). Undergraduated-thesis, Department of Biology, Mathematics and Natural Sciences Faculty, State University of Malang. Lecturer: (I) Drs. Agus Darmawan, M.Si., (II) Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si.Keywords:Feed formulation, Yellow mealworm cultivation, Growth of Tenebrio molitor L. larvaeIn cultivation yellow mealworm (larvae of T. molitor) there has been no effective feed formulation to optimize production (optimization of larval growth). Therefore, this study was conducted to determine differences in the provision of different feed formulations on the growth (length and biomass) and know the most effective feed formulations for the growth of T. molitor larvae.This experimental research used Completely Randomized Design (CRD), which consists of three treatments (3 types of feed formulation) and 10 repetitions. Formulation 1 consisted of tofu dregs, pollard, and vegetables, formulations 2 consisted of tofu dregs, poultry concentrate feed, and vegetables, whereas formulation 3 consisted of corn flour, rice bran, pollard, tofu dregs, fish flour and vegetables, that given to T. molitor larvae aged 40 days and observed until the aged 60 days. Data obtained in the form of biomass measurement data and the length of T. molitor larvae, as well as data abiotic factors (temperature and humidity). Data were analyzed larval biomass and length with CRD factorial ANOVA followed by Duncan test. Results showed that the most effective feed formulation produces growth (biomass and length) T. molitor larvae highest was feed formulation 3, the results are significantly different from feed formulation 1 and 2. Based on the results of a Duncan test, the difference in the effects of feed formulations on growth, visible on the 20th day
Upaya Kepolisian dalam Memberantas Penyalahgunaan Narkotika di Kabupaten Pamekasan
ABSTRAK Nuraini, Suciati. 2017. Upaya Kepolisian dalam Memberantas Penyalahgunaan Narkotika di Kabupaten Pamekasan. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial. Pembimbing: (I) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si. (II) Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum. Kata kunci: Kepolisian, Narkotika, Pamekasan.Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan. Selain itu narkotika merupakan zat atau obat yang bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu, pelayanan kesehatan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai standar dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran polisi dalam upaya memberantas penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian pada penelitian ini adalah Kabupaten Pamekasan yang bertempat di kantor Kepolisian Resort Pamekasan jalan Stadion No. 81 Pamekasan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dapat berupa manusia, yaitu peneliti sendiri dan seseorang yang akan di wawancarai. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan dari hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, latar belakang penyalahgunaan narkotika di Kabupaten pamekasan terjadi karena beberapa faktor: 1) faktor pergaulan, 2) masalah sosial (memiliki masalah dengan keluarga), dan 3) faktor rasa ingin tahu (mencoba-coba). Jenis narkotika yang sering disalahgunakan yaitu shabu, pil dan ganja.Kedua, upaya kepolisian dalam memberantas penyalahgunaan narkotika di kabupaten pamekasan. Dalam memberantas penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Pamekasan, Resort Pamekasan melakukannya dengan berbagai upaya seperti upaya pre-emtif, preventif dan represif. Upaya represif yang dilakukan yaitu dengan melakukan a) kegiatan penyuluhan dan pembinaan, b) kegiatan pemberian brosur, c) memasang himbauan, dan d) melaksanakan dialog interaktif. Upaya preventif yang dilakukan yaitu 1) pengawasan di tempat-tempat yang dianggap rawan terjadi penyalahgunaan narkoba, dan 2) operasi-operasi kepolisian dengan cara berpatroli ke tempat-tempat yang dianggap rawan terjadi penyalahgunaan narkoba. Sedangkan upaya represif yang dilakukan berupa tindakan tegas yang digunakan untuk melaksanakan penyelidikan dan penyidikan.Ketiga, kendala yang dihadapi dalam memberantas penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Pamekasan adalah kurang pedulinya masyarakat terhadap pemberantasa penyalahgunaan narkotika, jaringan peredaran narkoba yang terselubung atau jaringan terputus, dan adanya strategi baru pemasaran narkoba.Keempat, upaya yang dilakukan kepolisian dalam memberantas penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Pamekasan yaitu a) pendekatan kepada para pelaksana untuk menagtasi kurangnya kerjasama dari pihak masyarakat pada saat penangkapan tersangka penyalahgunaan narkotika, b) melakukan pendekatan terhadap objek atau sasaran untuk mengatasi kendala jaringan peredaran narkoba yang terselubung atau jaringan terputus, dan c) mengguanakan metode atau cara bertindak untuk mengatasi kendala adanya strategi baru pemasaran yang dilakukan oleh bandar-bandar narkoba yang memanfaatkan berbagai modus operandi baru
Pelestarian Seni Beladiri Pencak Silat Merpati Putih Di Batalyon Arghanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad Malang
ABSTRAK Widodo, Subur. 2017. Pelestarian Seni Beladiri Pencak Silat Merpati Putih Di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Margono, M.Pd., M.Si, (2) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum Kata Kunci: Pelestarian, PencakSilat, Merpati Putih, Batalyon Arhanudi 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad. Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang tersebar luas di seluruh wilayah Sehingga Indonesia merupakan negara yang beranekaragam baik sifat dan tingkah laku manusia. Sehingga adanya kebudayaan yang tercipta salah satunya seni bela diri pencak silat. Namun perlu diketahui keunikan dan kekhasan beladiri pencak silat kini tergeser oleh citra yang terlanjur tertempel pada diri pencak silat itu sendiri. Bahwa pencak silat adalah olahraga bela diri dari kampung. Oleh karena itu banyak usaha untuk meletarikannya salah satunya melestarian Seni Beladiri Pencak Silat Merpati Putih di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad Malang Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana cara pelestarian seni beladiri pencak silat Merpati Putih, meliputi (1) alasan seni beladiri pencak silat Merpati Putih di lestarikan; (2) cara melestarikan seni beladiri pencak silat Merpati Putih; (3) hasil dari pelestarian seni beladiri pencak silat Merpati Putih di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Jajaran Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad Malang dan juga dari Pengurus PPS Betako Merpati Putih. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Untuk menjamin kebasahan data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara sebagai berikut ketekunan dan triangulasi. Hasil penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, pencak silat Merpati Putih tetap diperhatikan dilestarikan di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad ini karena merupakan salah satu beladiri yang berasal dari Indonesia dan pencak silat Merpati Putih sangat bermanfaat terutama untuk menjalankan kegiatan kedinasan dan kegiatan diluar kedinasan dalam hal ini mengarah kepada prestasi anggota dalam keatlitan. Selain itu juga pencak silat Merpati Putih merupakan beladiri yang aplikasi dari gerakan-gerakannya dapat digunakan untuk perlindungan anggota sendiri. Kedua, dalam meletarikan seni beladiri pencak silat Merpati Putih khusunya di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya (1) Latihan rutin yang dilaksanakan setiap minggunya dan dalam metode latihannya terdapat pengkhususan latihan dengan latihan di kolat non militer, hal ini dikarenakan dimiliter sudah mempunyai kekuatan fisik yang lebih dibandingkan dengan kolat non militer. (2) Adanya kontribusi yang diberikan dari Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad kepada PPS BetakoMerpati Putih diantaranya membantu secara financial baik sarana maupun prasarana, disamping itu menjunjung tinggi tujuan serta visi dan misi dari PPS Betako Merpati Putih. (3) Dengan demo atau atraksi yang dilakukan pada event atau kegiatan kedinasan. Hal ini merupakan bentuk keseriusan dan komitmen dari Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad dalam menjaga dan melestarikan budaya dari Indonesia. Ketiga, hasil yang didapatkan dari pelestarian seni beladiri pencak silat Merpati Putih di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad bebrbagai macam, diantaranya adalah menunjang kegiatan kedinasan itu sendiri. Disamping itu juga materi dalam pencak silat merpati Putih khusunya tata nafas yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam fungsi salah satunya penyembuhan. Dari hasil tersebut, menjadikan anggota lebih bias mengontrol emosi dan menjaga kepribadiannya sehingga menjadi lebih baik. Dan juga rasa nasionalisme terhadap mencintai budaya bansa sendiri menjadi meningkat karena pencak silat Merpati Putih merupakan salah satu asset budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: Untuk semua personil di Batalyon Arhanudri 2 Divif 2 Alap-Alap Kostrad diharapkan mengikuti latihan pencak silat Merpati Putih dengan maksud untuk meningkatkan kualitas personil khususnya di beladiri pencak silat. Adanya pendalaman materi mengenai gambaran tentang pencak Silat Merpati Putih dengan tujuan seluruh anggota bias memahami secara mendalam. Adanya pemberian nasehat atau wejangan mengenai pentingnya melestarikan budaya yang berasal dari bangsa Indonesia dengan tujuan menumbuhkan dan meningkatkan sikap nasionalisme dan cinta terhadap budaya bangsa Indonesia khusunya pencak silat. ABSTRACT Widodo, Subur. 2017. Preservationof Martial Art PencakSilatMerpatiPutihat BattalionArhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad Malang. Thesis, Study Program of Pancasila and Citizenship, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor: (1) Drs. Margono, M.Pd., M.Si, (2) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum Keywords: Preservation, PencakSilat, MerpatiPutih, Battalion Arhanudi 2 Divif 2 KostradAlap-Alap. Indonesia is a country consisting of thousands of islands that are widespread throughout the region so that Indonesia is a diverse country with human nature and behavior. So that there are cultures created and one of them is the martial art pencaksilat. Yet, it needs to know that the uniqueness and characteristics of martial arts pencaksilatare now displaced by the image already embedded in the self martial arts itself. Pencaksilat is a martial art from the village, so many efforts to preserve it and one of the ways is preserving Martial Arts PencakSilatMerpatiPutih at Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad Malang. The purpose of this research is to describe how to preserve martial arts of MerpatiPutih martial arts, covering (1) the reason of martial arts pencaksilatMerpatiPutih in preserve; (2) how to preserve martial arts pencaksilatMerpatiPutih; (3) result of martial arts pencak silatMerpatiPutih at Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad Malang. This research uses qualitative approach and descriptive research. In searching data from informants consisting of Arhanudri 2 Army Battalion 2 Alap-AlapKostrad Malang and also from the Board of PPS BetakoMerpatiPutih, the data collection was done using a method,those were: observation, interview, and documentation. Data analysis was done by collecting and checking data obtained from the field, data reduction, data presentation and inference. To ensure the data validity obtained, the researcher checked the data in the following manner of diligence and triangulation. The results of this study can be described as follows. First, martial arts MerpatiPutihis still considered and preserved at Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad because it is one of the martial arts from Indonesia and PencakSilatMerpatiPutihis very useful, especially to run official activities and activities outside the official, in this case they lead to achievement of members in athlete. In addition, martial arts MerpatiPutih is a martial art that the application of the movements can be used for the protection of their own members. Second, in preserving the martial art pencaksilatMerpatiPutih especially at Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad,it was done in several ways, including (1) Routine exercises are held every week and in the method of training there is the specialization of practices with practicesin non-military kolat, This is because in military they already have more physical strength than non-military kolat. (2) The contribution given by Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad to PPS BetakoMerpatiPutih including helping financially both facilities and infrastructure, in addition upholding the purpose and vision and mission of PPS BetakoMerpatiPutih. (3) With demonstrations or attractions performed on events or official activities. This is a form of seriousness and commitment of Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostrad in maintaining and preserving the culture of Indonesia. Third, the results obtained from the preservation of martial arts pencak silatMerpatiPutih in Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostradare various.Among them is to support the activities of the official itself. Besides, the material in pencaksilatmerpatiPutih especially the breath that can be utilized for various functions, that one of them is healing. From these results, it makes members more able to control the emotions and maintain their personality for the better. Moreover, the sense of nationalism to love the culture of nation to be increased because PencakSilatMerpatiPutih is one of the cultural assets of the Indonesian nation that must be preserved. Suggestions given by the researcher after doing this research include: For all personnel at Battalion Arhanudri 2 Divif 2 Alap-AlapKostradis expected to join pencaksilatMerpatiPutih training with the intention to improve the quality of personnel especially in the presence of pencaksilat. The existence of deepening of the material about the description of PencakSilatMerpatiPutih with the aim of all members can understand deeply. The existence of advice or lecture on the importance of preserving the culture that originated from the Indonesian nation is togrow and improve the attitude of nationalism and love of the Indonesian nation culture, especially pencaksilat
Penggunaan kamera CCTV (Closed Circuit Television) sebagai alat pemantau perilaku kejujuran siswa di SMK PGRI 2 Malang
ABSTRAK Nasuha, Fawaidu. 2017. Penggunaan kamera CCTV (Closed Circuit Television) sebagai alat pemantau perilaku kejujuran siswa di SMK PGRI 2 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr., Nur Wahyu Rochmadi M.pd., M.si., (2) Dr. Yuniastuti, SH., M.Pd. Kata Kunci: Penggunaan, kamera CCTV (Closed Circuit Television), Pendidikan Karakter.Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter tidak hanya mengedepankan kecerdasan kognitif saja namun diimbangi dengan kecerdasan afektif dan psikomotorik. Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, perkembangan tersebut berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Strategi pelaksanaan pendidikan karakter ditingkat satuan pendidikan salahsatunya melalui pengembangan budaya sekolah. Untuk mengembangkan potensi tersebut, bisa dilakukan melalui kegiatan pemantauan perilaku siswa melalui kamera CCTV. Ada beberapa kegiatan dalam pemantauan menggunakan kamera CCTV. Dari kegiatan tersebutlah yang nantinya akan menimbulkan nilai-nilai karakter pada siswa.Kegunaan dari penelitian ini untuk menjelaskan penggunaan kamera CCTV sebagai alat pemantau perilaku kejujuran siswa di SMK PGRI 2 Malang yang meliputi, 1) penggunaan kamera CCTV sebagai alat pemantau perilaku kejujuran siswa di SMK PGRI 2 Malang, 2) kendala yang di hadapi dalam penggunaan kamera CCTV sebagai alat pemantau perilaku kejujuran siswa di SMK PGRI 2 Malang, dan 3) cara mengatasi kendala penggunaan kamera CCTV sebagai alat pemantau perilaku kejujuran siswa di SMK PGRI 2 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dalam penelitian data-data yang diperoleh berupa kata-kata (bukan angka-angka). Penelitian ini menggunakan 3 metode dalam melakukan pengumpulan data, yaitu metode observasi (pengamatan), metode interview (wawancara), dan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi).Mengacu pada analisis tersebut, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggunaan kamera CCTV sebagai alat pemantau perilaku siswa di SMK PGRI 2 Malang meliputi; 1) pelaksanaan pemantauan perilaku siswa melalui layar monitor CCTV yang berada di ruang kepala sekolah untuk memantau semua area lingkungan sekolah, dan layar monitor CCTV di ruang guru hanya digunakan untuk memantau perilaku siswa di ruang kelas saja.2) CCTV sebagai alat pemantau perilaku siswa 3) kegiatan pemantauan perilaku kejujuran siswa, kegiatan pemantauan dilakukakan saat ujian, saat ada tugas dari guru piket, saat siswa tidak mengetahui keberadaan barangnya, dan saat siswa di luar kelas, 4) penanganan perilaku ketidakjujuran siswa seperti saat ujian, saat ada tugas dari guru piket, saat siswa tidak mengetahui keberadaan barangnya, dan saat siswa di luar kelas. Ketiga, dalam kegiatan pemantauan perilaku ketidakjujuran siswa menggunakan kamera CCTV terdapat kendala yang dihadapi seperti kualitas kamera yang kurang bagus, hardisc error, siswa yang usil, siswa hanya memberikan perkiraan waktu, dan tidak semua guru bisa mengoperasikan kamera CCTV. Keempat, solusi untuk mengatasi berbagai kendala yang terjadi didalam kegiatan pemantauan perilaku kejujuran siswa menggunakan kamera CCTV di SMK PGRI 2 Malang adalah dengan meningkatan kualitas kamera CCTV, memperbaiki atau mengganti hardisc error, pemutaran ulang video secara mendetail, melihat dari kamera CCTV yang lain, dan mengakses pemantauan perilaku siswa melalui jaringan. Saran untuk siswa nilai kejujuran siswa menjadi lebih meningkat, dapat mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai karakter yang ada pada kegiatan pemantauan menggunakan kamera CCTV, sehingga bisa menjadi bekal untuk kehidupan ketika di masyarakat kelak. Untuk sekolah dan guru diharapkan memberikan sosialisasi dan juga pemahaman yang lebih intens agar siswa mengetahui fungsi kamera CCTV dengan baik. Sekolah juga diharapkan untuk lebih mempertegas sanksi baik melalui sistem point, peringatan ataupun teguran lisan jika ada siswa yang melakukan pelanggaran. Sekolah juga diharapkan untuk membuat laporan kerja kamera CCTV yang bersifat periodik