SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
PRESPEKTIF PANCASILA DALAM MENYINGKAPI HAK ASASI MANUSIA DI ERA MODERN
ABSTRAK Dalam era modern seperti sekarang ini peran hak asasi manusia sangat diagung-agungkan, karena manusia modern sudah berpikir secara kritis terhadap hak-hak individu setiap orang yang tidak boleh dilanggar, sehingga hak asasi manusia menjadi dasar penegakan hak-hak yang lain, yang pada hakekatnya hak asasi manusia merupakan hak kodrati bagi setiap Individu. Tetapi banyak orang yang menyalahgunakan panji-panji hak asasi manusia sebagi pembelaan atas keinginan egois individu semata, maka dalam hal ini perlu adanya suatu penyeimbang diantara hak dan individu, serta perlu adanya filter bagi asas hak asasi manusia yang berasal dari luar negeri yang disebut juga sebagai hak asasi manusia universal, dengan adanya Pancasila sebagai dasar negara serta pandangan hidup dalam bernbangsa dan bernegara dapat membendung arus globlalisasi dan juga pengaruh dogma individualistik yang berasal dari luar negeri, seharusnya faham hak asasi manusia perlu disesuaikan dengan adat istiadat yang ada di Negara Indonesia yang mengutamakan asas gotong royong dan kekeluargaan. Sehingga muncullah asas hak asasi manusia menurut pancasila merupakan penyeimbangan konsep perlindungan hak asasi dan pelaksanaan kewajiban, serta menghargai hak individu setiap manusia tanpa mengesampingkan asas gotong dan kekeluargaan
E-RAISE: Model Integrasi Budaya dalam Pembelajaran Biologi serta Pengaruhnya terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Literasi Lingkungan Siswa SMA di Kota Denpasar
ABSTRAK Pendidikan berfungsi sebagai sarana transmisi budaya serta pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Pendidikan di Bali diindikasikan belum menjalankan kedua fungsi tersebut secara ideal. Pertama, budaya Tri Hita Karana belum dapat ditransmisikan secara optimal kepada siswa sehingga keberadaannya dianggap belum memberikan manfaat praktis. Hal itu berimplikasi pada literasi lingkungan siswa. Argumen itu terbukti dari berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi di Bali. Hasil penelitian pendahuluan juga menyatakan bahwa literasi lingkungan siswa SMA di Kota Denpasar masih perlu ditingkatkan. Kedua, pendidikan di Bali belum mampu mengembangkan pengetahuan siswa secara optimal. Hal itu ditunjukkan oleh ketidakmampuan siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran biologi. Masalah itu diduga terjadi karena siswa belum terlibat secara aktif dalam pembelajaran yang disebabkan oleh kecenderungan guru menggunakan model pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, diperlukan inovasi model pembelajaran biologi yang dapat meningkatkan hasil belajar kognitif dan memberdayakan budaya Tri Hita Karana yang berimplikasi pada literasi lingkungan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran biologi berbasis budaya Tri Hita Karana (E-RAISE) serta mengetahui pengaruhnya terhadap hasil belajar kognitif dan literasi lingkungan siswa SMA di Kota Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan model pembembangan Plomp. Model pengembangan ini terdiri atas tiga tahap yaitu: (1) penelitian pendahuluan; (2) fase pengembangan; dan (3) fase penilaian. Penelitian pendahuluan dilakukan dengan studi pustaka, analisis kebutuhan guru dan siswa, serta analisis materi pelajaran. Fase pengembangan dilakukan dengan merancang produk berupa buku dan perangkat model pembelajaran E-RAISE. Fase pengembangan dilanjutkan dengan proses validasi buku model dan perangkat pembelajaran oleh pakar pembelajaran biologi. Fase penilaian dilakukan dengan uji coba model dan perangkat pembelajaran untuk memeroleh data kepraktisan model pembelajaran, respon siswa, serta saran perbaikan dari praktisi lapangan. Uji keefektifan produk dilakukan menggunakan nonequivalent pretestposttest control group design. Penelitian ini melibatkan 144 orang siswa SMA kelas X dengan rincian 72 siswa SMA Negeri 3 Denpasar dan 72 siswa SMA Negeri 8 Denpasar. Pengambilan kelas dilakukan dengan teknik cluster random sampling yang sebelumnya telah dilakukan uji kesetaraan kelas. Instrumen pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar kognitif terintegrasi dengan Environmental Literacy Assessment for Senior High School of Indonesian Students (ELASIS) yang diadaptasi dari Environmental Literacy Assessment of Indonesia Students (ELAIS) (Rahmawati dkk., 2017). ELASIS terdiri atas 25 butir soal domain pengetahuan dengan rentang validitas 0,099-0,653 dan reliabilitas tes 0,770; dua belas (12) butir soal domain keterampilan kognitif dengan rentang validitas 0,241-0,678 dan reliabilitas tes 0,830; delapan belas (18) butir pernyataan dalam angket domain sikap dengan rentang validitas 0,213-0,604 dan reliabilitas angket 0,725; serta 18 butir pernyataan dalam angket domain perilaku dengan rentang validitas 0,199- 0,668 dan reliabilitas angket 0,712. Analisis data dilakukan dengan uji Anakova 1 jalur yang sebelumnya telah memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas varian. Uji lanjut dilakukan dengan uji Cohen’s d untuk mengetahui effect size yang diberikan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan integrasi budaya Tri Hita Karana dapat dilakukan pada 5 materi pelajaran biologi SMA kelas X yaitu materi keanekaragaman hayati, klasifikasi makhluk hidup, dunia tumbuhan, ekosistem, dan perubahan lingkungan. Produk yang dikembangkan berupa buku dan perangkat pembelajaran dikategorikan valid dan praktis. Persentase validitas isi buku model pembelajaran yaitu sebesar 91,11% (valid); validitas konstruk buku model pembelajaran sebesar 88,33% (valid); validitas silabus sebesar 89,66% (valid); validitas RPP sebesar 93,19% (valid); validitas LKS sebesar 95,76% (valid); kepraktisan model pembelajaran sebesar 90% (praktis); dan respon siswa terhadap model pembelajaran sebesar 81,51% (sangat positif). Hasil uji keefektifan model pembelajaran menunjukkan bahwa: (1) model pembelajaran E-RAISE memberikan efek ukuran besar terhadap peningkatan hasil belajar kognitif siswa SMA di Kota Denpasar. Dari sudut pandang dimensi kognitif, model pembelajaran E-RAISE memberikan efek ukuran kecil hingga sedang terhadap peningkatan LOTS dan memberikan efek ukuran besar terhadap peningkatan HOTS; (2) model pembelajaran E-RAISE memberikan efek ukuran sedang hingga besar terhadap peningkatan literasi lingkungan siswa SMA di Kota Denpasar. Dari sudut pandang domain literasi lingkungan, model pembelajaran E-RAISE memberikan efek ukuran sedang hingga besar terhadap domain pengetahuan dan keterampilan kognitif literasi lingkungan. Di sisi lain, model pembelajaran E-RAISE belum mampu meningkatkan domain sikap dan perilaku positif siwa terhadap lingkungan secara signifikan karena faktor eksternal di luar model pembelajaran E-RAISE. Berdasarkan paparan tersebut, model pembelajaran E-RAISE dinyatakan valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan literasi lingkungan siswa SMA di Kota Denpasar. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengungkap pengaruh model pembelajaran E-RAISE terhadap hasil belajar kognitif dan literasi lingkungan dengan menggunakan kontrol positif, melakukan penelitian jangka panjang untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran ERAISE terhadap domain sikap dan perilaku terhadap lingkungan, serta mengungkap pengaruh model pembelajaran E-RAISE terhadap keterampilan berpikir abad ke-21
Karakteristik Daerah Banyuwangi dalam Lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut Masyarakat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi
RINGKASAN Saadah, Khilma, A.W. 2018. Karakteristik Daerah Banyuwangi dalam Lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut Masyarakat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si, (II) Dr. Nuruddin Hady, SH., MH. Kata Kunci : Karakteristik Daerah Banyuwangi, Lagu Umbul-Umbul Blambangan, Desa Kemiren. Lagu Umbul-Umbul Blambangan sangat populer dalam masyarakat Banyuwangi, karena lagu ini merupakan lagu daerah asli Banyuwangi. Lagu Umbul-Umbul Belambangan ini memiliki nilai historis dan arti tersendiri. Dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan ini memiliki arti untuk untuk Lare-lare Blambangan (pemuda-pemuda Blambangan) untuk membakar semangat mereka, selain itu menceritakan tentang pulau Jawa Timur paling ujung timur yang memiliki hutan dan gunung yang begitu angker (menyeramkan). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui sejarah lagu Umbul-Umbul Blambangan; (2) Untuk mengetahui karakteristik alam Banyuwangi dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut masyarakat desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi; (3) Untuk mengetahui budaya Banyuwangi dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut masyarakat desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi; (4) Untuk mengetahui daerah Banyuwangi terhadap Indonesia dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut masyarakat desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatifJenis penelitian sosiolinguistik. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik simak (pengamatan/observasi) dan teknik cakap/wawancara. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data, proseduranalisissebagai berikut: (a) membandingkan setiap fenomena/kejadian yang dapat diterapkan pada setiap kategori; (b) memadukan kategori dan ciri-cirinya; (c) membatasi lingkup teori; (d) menulis teori.Dalam penelitian ini, peneliti menguji kebasahan data dengan teknik: (a) perpanjangan pengamatan; (b) Meningkatkan ketekunan; (c) Triangulasi. Adapun hasil penelitian ini antara lain: (1) Sejarah lagu Umbul-Umbul Blambangan. Pencipta lagu Umbul-Umbul Blambangan yaitu Andang Chotif Yusuf pada tahun 1974, seorang penulis lagu dan sandiwara Banyuwangi.Lagu Umbul-Umbul Blambangan ini dalam setiap baitnya memiliki makna dan ciptakan karena ingin mengenang jasa para pahlawan Banyuwangi yang berjuang merebut Indonesia pada jaman Belanda.Sejarahnya lagu Umbul-Umbul Blambangan ini yaitu sebagai simbol dari Blambangan tersebut dulu Prabu Minak Jinggo. Dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan ini juga terdapat lirik atau bait yang menggambarkan Daerah Banyuwangi yang sangat subur. (2) Karakteristik alam Banyuwangi dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut masyarakat desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi adalah menggambarkan tanah Banyuwangi yang sangat subur.Karakteristik alam dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan juga terlihat dari gunung, lautan, hutan, sungai. (3) Karakteristik budaya Banyuwangi dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut masyarakat desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi yaitu bahasa, kesenian, dan mentalitas masyarakat Banyuwangi yang kerja keras dan setia. Itu yang menjadikan karakter masyarakat Banyuwangi berbeda dengan derah lainnya. (4) Sumbangan daerah Banyuwangi terhadap Indonesia dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan menurut masyarakat desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi antara lain: pertanian, perikanan, wisata, kesenian. Jadi karakteristik alam dan budaya Banyuwangi ikut menyumbangkan untuk Indonesia dinasional maupun Internasional. Saran yang ditujukan antara lain sebagai berikut: (1) Saran Bagi Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi hendaknya pemerintah Banyuwangi menjaga dan melestarikan budaya yang ada di Banyuwangi khususnya lagu Umbul-Umbul Blambangan yang menjadi ikon atau lagu daerah Banyuwangi; (2) Saran Bagi Desa Kemirensemoga lebih maju dan terkenal di nasional maupun di Internasional sehingga bisa membuat harum nama Banyuwangi; (3) Saran kepada generasi muda sebagai pemuda yang akan meneruskan perjuangan bangsa harusnya menanamkan sikap cinta akan kebudayaan yang telah di miliki oleh bangsa sendiri. Saadah, Khilma, A.W. 2018.The Characteristics Of Banyuwangi Regional In Song of Umbul-Umbul Blambangan By The Village Community Kemiren Subdistrict Glagah Regency Banyuwangi. Thesis, Study Program of Pancasila and Citizenship Education, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, Malang State University. Advisor: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Sc, (II) Dr. Nuruddin Hady, SH., MH. Keywords: Characteristics of Banyuwangi Region, Blambangan Umbul-Umbul Song, Kemiren Village. The Blambangan Umbul-Umbul song is very popular in the Banyuwangi community, because this song is a native song of Banyuwangi. This Mining Umbul Song has historical value and its own meaning. In the song Umbul-Umbul Blambangan this means for Lare-lare Blambangan (Blambangan youths) to burn their enthusiasm, besides that it tells about the easternmost island of East Java which has forests and mountains that are so haunted.This study aims to: (1) To find out the history of the songs of Umbul-Umbul Blambangan; (2) To find out the natural characteristics of Banyuwangi in the song Umbul-Umbul Blambangan according to the people of Kemiren village, Glagah sub-district, Banyuwangi district; (3) To find out Banyuwangi culture in the song Umbul-Umbul Blambangan according to the people of Kemiren village, Glagah sub-district, Banyuwangi district; (4) To find out the Banyuwangi area towards Indonesia in the song Umbul-Umbul Blambangan according to the people of the Kemiren village, Glagah sub-district, Banyuwangi district. This study uses qualitative research type of sociolinguistic research. The method of data collection in this study uses two data collection techniques, namely referral techniques (observation / observation) and skillful techniques / interviews. The steps taken in data analysis, the analysis procedure are as follows: (a) comparing each phenomenon / event that can be applied to each category;(b) integrating its categories and characteristics; (c) limit the scope of the theory; (d) writing theory. In this study, researchers tested data wetness with techniques: (a) extension of observation; (b) Increase perseverance; (c) Triangulation. The results of this study include: (1) History of Blambangan Umbul-Umbul songs. The creator of the Blambangan Umbul-Umbul song namely Andang Chotif Yusuf in 1974, a Banyuwangi songwriter and playwright. These Blambangan Umbul songs in each verse have meaning and are created because they want to commemorate the services of Banyuwangi heroes who fought to capture Indonesia in the Dutch era. The history of the Blambangan Umbul-Umbul song is a symbol of Blambangan, formerly Prabu Minak Jinggo. In this Blambangan Umbul-Umbul song there are also lyrics or stanzas that describe the very fertile Banyuwangi Region. (2) The natural characteristics of Banyuwangi in the Umbul-Umbul Blambangan song according to the people of the Kemiren village, Glagah sub-district, Banyuwangi district are describing the very fertile land of Banyuwangi. Natural characteristics in the song Umbul-Umbul Blambangan are also seen from mountains, oceans, forests, rivers. (3) Characteristics of Banyuwangi culture in Umbul-Umbul Blambangan songs according to the people of Kemiren village, Glagah sub-district, Banyuwangi district, namely language, art, and the mentality of the Banyuwangi people who work hard and faithfully. That makes the character of the Banyuwangi community different from other regions. (4) The contribution of the Banyuwangi area to Indonesia in the Umbul-Umbul Blambangan song according to the people of the Kemiren village, Glagah sub-district, Banyuwangi district, among others: agriculture, fisheries, tourism, arts. So Banyuwangi's natural and cultural characteristics contribute to Indonesia. Suggestions include the following: (1) Suggestions For the Government of Banyuwangi Regency, the Banyuwangi Government should maintain and preserve the culture in Banyuwangi, especially the Umbul-Umbul Blambangan song that is an icon or Banyuwangi regional song; (2) Suggestions for the Kemiren Village may be more advanced and well-known in the national and international so that they can make the name Banyuwangi fragrant; (3) Suggestions to the younger generation as youth who will continue the nation's struggle should instill a love of culture that has been possessed by the nation itself
Peran Masyarakat dalam Melestarikan Budaya Keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan
ABSTRAK Muhimah, Nikmatul. 2017. Peran Masyarakat Dalam Melestarikan Budaya Keleman Di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M. Si., (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M. Si. Kata kunci: Budaya, budayakeleman, Susukanrejo Budaya berasal dari hasil pemikiran masyarakat yang dilakukan terus-menerus secara rutin dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan penelitiannya terhadap budaya keleman. Keleman berasal dari bahasa jawa menenggelamkan (dalam konteks ini menanam) selesai menanam padi para petani melakukan syukuran tujuannya agar panen padi petani berlimpah. Budaya keleman ini banyak terdapat di beberapa desa akan tetapi setiap desa memiliki ciri khusus atau kekhasan tersendiri dalam proses pelaksanaannya. Susukanrejo adalah nama salah satu desa yang terletak di Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur yang mempunyai salah satu budaya khas yaitu budaya keleman. Fokus penelitian yang diambil adalah (1) Latar belakang sejarah budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (2) Praktik atau pelaksanaan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (3) Peran masyarakat dalam melestarikan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (4) Kendala dalam melestarikan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (5) Cara mengatasi kendala dalam melestarikan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan. penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengecekan keabsahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Triangulasi Sumber data. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada paparan data, temuan penelitian, dan pembahasan, maka dapat dijelaskan bahwa (1) Latar belakang adanya budaya keleman di Desa Susukanrejo karena zaman nenek moyang pernah terjadi peristiwa gagal panen dalam jangka waktu yang cukup lama; (2) Pelaksanaan budaya keleman dimulai dari (a) menyiapkan jajan pasar 7 warna, (b) menyajikan jajan pasar 7 warna di sawah, dan (c) membacakan doa-doa yang dipimpin oleh sesepuh desa atau pemangku agama di mushola dengan membawa tujuh warna jajan pasar; (3) Peran masyarakat dalam melestarikan budaya sangat aktif dan berantusias; (4) Kendala dalam melestarikan budaya keleman adalah ketidak sesuaian tata cara pelaksanaan zaman dahulu dengan sekarang; dan (5) Cara mengatasi kendala dalam melestarikan budaya keleman adalah dengan pemberian arahan atau sosialisasi tentang tata cara pelaksanaan budaya keleman oleh para sesepuh desa. Saran yang dapat diberikan adalah (1) Bagi masyarakat Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, sebaiknya meningkatkan kesadaran berbudayanya untuk tetap memegang teguh aturan-aturan yang ada dalam budaya keleman; (2) Bagi para pemuda Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, sebaiknya para pemuda tidak malu untuk bertanya kepada sesepuh desa mengenai bagaimana seharusnya budaya keleman ini; dan (3) Bagi sesepuh Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, sebaiknya tidak perlu sungkan untuk mengingatkan jika terjadi ketidaksesuaian pelaksanaan budaya keleman
Peran Masyarakat dalam Melestarikan Budaya Keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan
ABSTRAK Muhimah, Nikmatul. 2017. Peran Masyarakat Dalam Melestarikan Budaya Keleman Di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M. Si., (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH., M. Si. Kata kunci: Budaya, budayakeleman, Susukanrejo Budaya berasal dari hasil pemikiran masyarakat yang dilakukan terus-menerus secara rutin dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan penelitiannya terhadap budaya keleman. Keleman berasal dari bahasa jawa menenggelamkan (dalam konteks ini menanam) selesai menanam padi para petani melakukan syukuran tujuannya agar panen padi petani berlimpah. Budaya keleman ini banyak terdapat di beberapa desa akan tetapi setiap desa memiliki ciri khusus atau kekhasan tersendiri dalam proses pelaksanaannya. Susukanrejo adalah nama salah satu desa yang terletak di Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur yang mempunyai salah satu budaya khas yaitu budaya keleman. Fokus penelitian yang diambil adalah (1) Latar belakang sejarah budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (2) Praktik atau pelaksanaan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (3) Peran masyarakat dalam melestarikan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (4) Kendala dalam melestarikan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan; (5) Cara mengatasi kendala dalam melestarikan budaya keleman di Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan. penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengecekan keabsahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Triangulasi Sumber data. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada paparan data, temuan penelitian, dan pembahasan, maka dapat dijelaskan bahwa (1) Latar belakang adanya budaya keleman di Desa Susukanrejo karena zaman nenek moyang pernah terjadi peristiwa gagal panen dalam jangka waktu yang cukup lama; (2) Pelaksanaan budaya keleman dimulai dari (a) menyiapkan jajan pasar 7 warna, (b) menyajikan jajan pasar 7 warna di sawah, dan (c) membacakan doa-doa yang dipimpin oleh sesepuh desa atau pemangku agama di mushola dengan membawa tujuh warna jajan pasar; (3) Peran masyarakat dalam melestarikan budaya sangat aktif dan berantusias; (4) Kendala dalam melestarikan budaya keleman adalah ketidak sesuaian tata cara pelaksanaan zaman dahulu dengan sekarang; dan (5) Cara mengatasi kendala dalam melestarikan budaya keleman adalah dengan pemberian arahan atau sosialisasi tentang tata cara pelaksanaan budaya keleman oleh para sesepuh desa. Saran yang dapat diberikan adalah (1) Bagi masyarakat Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, sebaiknya meningkatkan kesadaran berbudayanya untuk tetap memegang teguh aturan-aturan yang ada dalam budaya keleman; (2) Bagi para pemuda Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, sebaiknya para pemuda tidak malu untuk bertanya kepada sesepuh desa mengenai bagaimana seharusnya budaya keleman ini; dan (3) Bagi sesepuh Desa Susukanrejo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, sebaiknya tidak perlu sungkan untuk mengingatkan jika terjadi ketidaksesuaian pelaksanaan budaya keleman
DINAMIKA RUMAH TANGGA DARI PEKERJA MIGRAN DI DESA SUMBERJO WETAN KECAMATAN NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG
ABSTRAK Ridho Iman, Safi’i. Dinamika Rumah Tangga Dari Pekerja Migran Di Desa Sumberjo Wetan Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si dan Pembimbing (2) Siti Awaliayah, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci : Dinamika Rumah Tangga, Pekerja Migran. Dinamika keluarga (rumah tangga) merupakan pola kehidupan sehari-hari dalam kehidupan suatu keluarga, mencangkup semua hal yang terjadi didalamnya, baik itu masalah yang berdampak negatif maupun positif. Permasalahan tersebut dipengaruhhi oleh beberapa hal yaitu kualitas komunikasi mereka dan seberapa baik hubungan sosiologis mereka. Memang, terkadang dinamika itu bisa dilampaui secara bersama-sama, suami dan istri, dan keduanya dapat merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan. Tetapi di sisi lain, akan muncul juga perselisihan di antara keduanya hanya karena persoalan-persoalan kecil, yang semestinya tidak perlu menimbulkan perselisihan. Bahkan tidak jarang perslisihan suami istri diselimuti dengan amarah, kekesalan, dan berimbas perang dingin di antara keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk pendidikan dalam masyarakat mengenai permasalahan serta solusi terhadap masalah yang di hadapi oleh pekerja migran. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian studi kasus dilakukan dengan maksud untuk melakukan telaah secara mendalam terhadap suatu kasus, dalam penelitian ini kasusnya adalah Dinamika Rumah Tangga dari Pekerja Migran di Desa Sumberjo Wetan Kecamatan Ngunut Kababupaten Tulungagung. Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah (1) angota rumah tangga yang istrinya menjadi buruh di luar negeri, atau anggota rumah tangga yang suaminya menjadi buruh di luar negeri. Data tersebut digunakan oleh peneliti untuk menggali informasi mengenai kondisi rumah tangga, faktor yang mempengaruhi menjadi pekerja migran, kendala dan upaya mengatasi kendala dalam dinamika rumah tangga, dan (2) masyarakat desa Sumberjo Wetan, merupakan sumber data dalam mengumpulkan informasi mengenai bentuk perilaku dan keadaan sosial serta dinamika rumah tangga dari keluarga migran. Teknik Pengumpulan Data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara yang dimulai dari tahap pra lapangan sampai ke tahap lapangan. Kesimpulan dari penelitian ini diantaranya adalah alasan seseorang menjadi pekerja migran diantaranya ialah : (1) faktor Ekonomi (2) kurangnya lapangan pekerjaan. Permasalahan yang timbul dari rumah tangga pekerja migran kebanyakan adalah : (1) maraknya perselingkuhan yang terkadang berujung pada perceraian, (2) kualitas mendidik anak dan pengawasan yang tidak maksimal menjadikan karakter anak yang kurang baik, (3) menjadikan istri sebagai kepala rumah tangga. Dampak positif bagi anak dari rumah tangga pekerja migran antara lain ialah : (1) kebutuhan anak dari pekerja migran dapat tercukupi, (2) anak yang bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan bisa menghargai kerja keras orang tuanya. Sedangkan dampak negatif bagi anak dari rumah tangga pekerja migran yaitu : (1) anak menjadi manja, (2) menambah keburukan sifat dan sikap pada anak pekerja migran. Cara Pengendalian yang dapat dilakukan pada rumah tangga pekerja migran yaitu : (1) belajar dari pengalaman hidup, (2) menjadikan ajaran agama sebagai dasar dari berumah tangga. ABSTRACT Ridho Iman, Safi'i. Household Dynamics Of Migrant Workers In Sumberjo Wetan Village Ngunut Sub District Tulungagung Regency. Thesis, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si and Supervisor (2) Siti Awaliayah, S.Pd, M.Hum. Keywords: Household Dynamics, Migrant Workers. Family dynamics (household) is a pattern of everyday life in the life of a family, includes all the things that happen in it, whether it is a problem that has a negative and positive impact. The problem is influenced by several things, namely the quality of their communication and how good their sociological erlationship. Indeed, sometimes the dynamics can be surpassed together, husband and wife, and both can feel the joy in togetherness. But on the other hand, there will also be disputes between the two of them only because of mnior issues, which should not necessarily cause a dispute. In fact, not infrequently husband and wife infiltration blanketed with anger, resentment, and cold war between the two. This study aims to educate the public about the problems and solutions to the problems faced by migrant workers. In this study researchers used descriptive qualitative research type. A case study study was conducted with the intention to conduct an in-depth study of a case, in this case the case is the Household Dynamics of Migrant Workers in Sumberjo Wetan Village, Ngunut District, Tulungagung District. Sources of data to be used in this study are (1) household members whose wives are laborers abroad, or household members whose husbands are laborers abroad. The data is used by researchers to explore information about household conditions, factors affecting migrant workers, constraints and efforts to overcome obstacles in household dynamics, and (2) Sumberjo Wetan village community, is a source of data in collecting information about the form of behavior and circumstances Social and household dynamics of migrant families. Data Collection Technique in this research use observation and interview technique which start from stage pre to field stage. The conclusions of this study include the reasons a person to become a migrant worker are: (1) Economic factors (2) lack of employment. The problems that arise from migrant domestic workers are mostly: (1) the rampant infidelity that sometimes leads to divorce, (2) the quality of educating the child and the lack of supervision makes the child's character less good, (3) making the wife as the head of the household. Positive impacts for children from migrant domestic workers include: (1) the needs of children of migrant workers can be fulfilled, (2) children who can grow and develop well and can appreciate the hard work of their parents. The negative impacts for children from migrant domestic households are: (1) children become spoiled, (2) adding to the ugliness of attitudes and attitudes in child migrant workers. The methods of control that can be done in migrant domestic households are: (1) learning from life experience, (2) making religious teachings as the basis of marriage
Implementasi Program Kabupaten Layak Anak (KLA) Untuk Mewujudkan Perlindungan Anak di Kabupaten Pasuruan
ABSTRAK Arifin, Ahmad. 2017. Implementasi Program Kabupaten Layak Anak (KLA) Untuk Mewujudkan Perlindungan Anak di Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd, S.H, M.Hum, (II) Drs. KT. Diara Astawa, S.H, M.Si. Kata Kunci: Kabupaten Layak Anak (KLA), Perlindungan Anak, Hak-hak anak Anak merupakan generasi penerus bangsa dan juga generasi yang akan mengambil peran bagi bangsa dan negara dimasa yang akan datang. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, Pemerintah, dan negara. Maka dari itu perlu sebuah upaya untuk melindungi dan memelihara keberadaan anak serta mendorong kesejahteraan anak dalam jangka panjang yang penting demi terwujudnya kualitas kehidupan manusia kini dan nanti yang lebih baik lagi. Anak merupakan awal mata rantai yang sangat menentukan wujud dan kehidupan suatu bangsa di masa depan. Oleh karena itu, mempersiapkan generasi penerus sebagai pewaris bangsa yang berkualitas berarti membangun dan mensejahterakan kehidupan anak sedini mungkin. Membangun anak tanpa kekerasan pada hakekatnya merupakan momentum yang penting untuk menggugah kepedulian maupun partisipasi seluruh orangtua, tenaga pendidik, guru, dan pendamping anak. Terutama, dalam menghormati dan menjamin hak-hak anak tanpa membedabedakan (diskriminasi), memberikan yang terbaik bagi anak, menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak serta menghargai hak-hak anak. Oleh karena itu dengan semakin maraknya tindak pelanggaran terhadap anak menjadi perhatian khusus bagi pemerintah Kabupaten Pasuruan yang selanjutnya mendeklarasikan menjadi Kabupaten Layak Anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi Penelitian ini berada di Dinas KBPP Kabupaten Pasuruan di karenakan dinasyang ditunjuk langsung melalui peraturan Bupati pasuruan sebagai pelaksana gugus tugas kabupaten layak anak. Sumber data yang diperoleh yaitu manusia, dokumen dan peristiwa. Informan yaitu kepala perlindungan perempuan dan anak dinas KBPP Kabupaten Pasuruan beserta masyarakat. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data dan diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan meningkatkan ketekunan pengamatan, melakukan triangulasi sumber dan triangulasi teknik dengan membandingkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Dalam pelaksanaan Kabupaten Layak Anak di Kabupaten Pasuruan sudah berada dijalur yang sudah ditentukan tinggal mengevaluasi dari program yang telah dijalankan sehingga Kabupaten Pasuruan layak mendapatkan status Kabupaten Layak Anak meskipun tidak mungkin mengurangi angka pelanggaran terhadap anak menjadi 0 kasus tetapi semua yang telah dipersiapkan oleh berbagai pihak yaitu dari Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat mencapai satu tujuan yaitu Kabupaten Pasuruan yang layak dan ramah terhadap anak. Kedua, Program yang terkait dengan pelaksanaan Kabupaten Layak Anak adalah yang telah dilakukan sampai sekarang yaitu sosialisasi konvensi hak anak dengan membentuk Forum Anak ditiap-tiap Kecamatan yang ada di Kabupaten Pasuruan dan membuat inovasi baru yang disebut dengan program: SAKERA JEMPOL yang singkatan dari Sadari Kekerasan Perempuan dan Anak Dengan Jemput Bola. Ketiga, masih terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaan forum anak yaitu naik turunnya antusiasme anggota Forum Anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan Forum Anak, tampaknya dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu: masalah waktu, motivasi individu, dukungan orang tua, kegiatan di sekolah, dan pendampingan/pembinaan. Serta peran orang dewasa sangat dominan dan juga Keengganan orang dewasa yang duduk dipemerintahan untuk menerima ide, gagasaan, atau pendapat anak masih kental dirasakan. Kurangnya kesadaran dan kepeduliandalam lingkungan masyarakat khususnya yang berada di pedesaan. Lambatnya pelaporan, pelayanan dan pendampingan. Serta minimnya masyarakat yang mengetahui adanya lembaga pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak di kabupaten pasuruan. Keempat, untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Kabupaten Layak Anak di Kabupaten Pasuruan yaitu: 1) melakukan kegiatan yang edukatif misal: mengajak anggotaforum anak study banding dan melakukan kegiatan sosial, 2) motitoring dan evalusi dalam kegiatan musrembang sehingga suara anak-anak dapat juga didengar oleh orang dewasa, 3) komitmen pemerintah sangat diperlukan melalui aturan dan inovasi di lapangan, 4) sosialisasi dan komunikasiyang melibatkan dari dinas/instansi serta masyarakan dan juga penggunaan media sosial
FENOMENA PERILAKU NEGATIF MAHASISWA AKTIVIS UKM DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK Fenomena Perilaku Negatif Mahasiswa Aktivis UKM di Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H., (2) Dr.Sri Untari, Msi. Kata Kunci : perilaku negatif, mahasiswa aktivis UKM Perilaku negatif merupakan sebutan bagi perilaku yang ditunjukkan oleh individu ataupun kelompok yang tidak sesuai dan bertentangan dengan norma dan moral yang ada. Perilaku negatif tidak hanya ditandai dengan tindakan kriminal yang melanggar hukum, namun hal-hal kecil yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma di kalangan masyarakat yang sering terabaikan. UKM adalah organisasi mahasiswa nonformaluntukmengembangkan kreativitas serta potensi diri selain dari bidang akademik serta organisasi formal di dalam sebuah universitas. UKM memiliki banyak anggota yang berasal dari kalangan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut juga membawa perbedaan prinsip atas nilai-nilai dan norma. Penelitian ini bertujuanuntuk memecahkan isu didalam kehidupan mahasiswa UKM Universitas Negeri Malang. Sehingga isu tersebut bisa di minimalisir dan dihilangkan. Isu yang dimaksud adalah isu mengenai perilaku negatif yang dilakukan oleh mahasiswa aktivis UKM di Universitas Negeri Malang. Hal ini ditinjau dari perilaku sehari-hari dari mahasiswa aktivis UKM. Sehingga penelitian yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan jenis deskriptif kualitatif.Pendekatan kualitatif dimaksudkan mampu mendeskripsikan perilaku negatif yang dilakukan oleh mahasiswa aktifis UKM di Universitas Negeri Malang. Dengan menguraikan perilaku negatif yang dilakukan oleh mahasiswa aktifis, faktor yang mempengaruhi baik itu internal dan eksternal dan cara untuk meminimalisir perilaku negatif tersebut baik dari pihak UKM dan Universitas Negeri Malang. Pengumpulan sumber data oleh peneliti berupa hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku negatif dari mahasiswa aktivis UKM di Universitas Negeri Malang banyak dilakukan seperti aspek kebersihan yang jauh dari kata bersih dan rapi, parkir sembarangan mahasiswa aktivis UKM , penempatan properti sembarangan, barang pribadi dan peralatan memasak sembarangan overtime dan menginap di ukm tanpa ijin, miras, pencurian, bermesraan di UKM. Terdapat segi positif juga yang ditemukan selama penelitian berlangsung yaitu kehidupan harmonis mahasiswa di lingkungan UKM. Sikap dan tanggapan yang ditunjukan mahasiswa aktivis UKM terhadap perilaku negatif tersebut adalah sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, kurangnya tanggung jawab, pengabaian aturan, dan memilih menegur teman sendiri daripada orang lain.Faktor yang mempengaruhi perilaku negatif mahasiswa aktivis UKM faktot manusia, yaitu sikap malas dan acuh tak acuh pada mahasiswa membuat mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitar, faktor lingkungan yang bebas dan sepi dan tanpa adanya pengawasan mendukung seseorang dalam bertindak dan faktor pergaulan karena dari pergaulan mahasiswa aktivis merasa yakin dan benar dengan apa yang sering mereka lihat, dengar dan rasakan.Tindakan dan upaya yang dilakukan dalam meminimalisir perilaku negatif mahasiswa aktivis UKM Universitas Negeri Malang dari pengurus UKM adalah dengan teguran halus, denda, sanksi, dan rapat besar dengan senior. Sedangkan dari pihak Universitas Negeri Malang adalah dan menetapkan kebijakan Peraturan Rektor Universitas Negeri Malang Nomor 3 Tahun 20l7 Tentang Pengaturan Gerbang Masuk-Keluar, Tertib Berlalu Lintas, Dan Sistem Parkir Kendaraan Di Kampus Universitas Negeri Malang, Peraturan Rektor Universitas Negeri Malang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Penggunaan Ruang Sekretariat Organisasi Kemahasiswaan Universitas Negeri Malang, Peraturan Rektor Universitas Negeri Malang Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Organisasi Kemahasiswaan Universitas Negeri Malang, diadakannya Ormawa of The Year, workshop administrasi, sidak dadakan ke lingkungan UKM pada malam hari
PERWUJUDAN NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
ABSTRAK Kata kunci: perwujudan, nilai, kemanusiaan ABSTRAK.Nilai yang terkandung dalam sila kedua Pancasila adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Perwujudan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat dilakukan oleh berbagai aktor, baik bersifat individu maupun kelompok bahkan pemerintah. Disisi lain ada berbagai kasus bermunculan mengenai penyimpangan-penyimpangan nilai-nilai kemanusiaan seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, penelantaran anak, dan kasus-kasus penyimpangan lainnya
Kesenian Reog Kendang di Kabupaten Tulungagung
ABSTRAK Kata kunci: kesenian, reog kendang, Tulungagung Reog Kendang (reog Tulungagung) adalah salah satu kesenian di daerah Tulungagung. Hingga saat ini Reog Kendang belum banyak dikenali masyarakat di luar wilayah Tulungagung. Tidak menutup kemungkinan suatu saat kesenian ini akan berkembang maupun dikembangkan di daerah lain, dengan bentuk dan corak yang sama mungkin juga berbeda. Untuk menjaga berbagai kemungkinan tersebut, diadakan beberapa upaya kearah itu. Salah satu di antaranya berupa pembakuan nama. Karena Reog Kendang milik masyarakat Tulungagung, maka apabila ada orang menyebut Reog Kendang selalu berasiosasi dari Tulungagung. Untuk itulah kiranya sudah sewajarnya apabila nama ini dibakukan atau disempurnakan dari “REOG KENDANG” menjadi “REOG TULUNGAGUNG” agar apabila suatu saat berkembang di daerah luar Tulungagung orang selalu mengetahui bahwa Reog Kendang tersebut berasal dari Tulungagung