SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    436 research outputs found

    Program Pengembangan Potensi Wisata Religi Masjid Cheng Ho Berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan

    No full text
    ABSTRAK   Rizqiah, Ikrimatunisa. 2017. Program Pengembangan Potensi Wisata Religi Masjid Cheng Ho Berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (l) Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H, (II) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum.   Kata Kunci: Masjid Muhammad Cheng Ho, Wisata Religi, Peraturan Daerah   Wisata Religi Masjid Cheng Ho merupakan wisata religi yang berbeda dengan wisata religi lainnya di Pasuruan yang lebih banyak merupakan wisata religi berupa makam leluhur, namun Wisata Religi Masjid Cheng Ho ini merupakan wisata religi dengan daya tarik utamanya adalah Masjid Muhammad Cheng Ho. Masjid Muhammad Cheng Ho merupakan Masjid beraksitertur Tiongkok yang dibangun dengan memadukan unsur-unsur budaya Islam, budaya Jawa dan gaya Tiongkok yang dapat dilihat dari warna-warna terang yang menghiasai Masjid tersebut yaitu hijau, kuning dan merah. Wisata religi Masjid Cheng Ho telah mengalami perkembangan sejak dikerjakan serius oleh pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan terlebih lagi dengan dimasukkannya Wisata Religi Masjid Cheng Ho dalam Perda No.6 Tahun 2016 tentang RIPPARDA Tahun 2016-2025 sebagai potensi wisata religi untuk kawasan Kabupaten Pasuruan bagian Barat , dan dibangun menjadi kawasan wisata terintegrasi dengan wisata kuliner atau pasar wisata Cheng Ho,  hal tersebut dibuktikan dengan semakin ramainya wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang, China dan sebagainya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) bagaimana rencana induk pengembangan wisata Kabupaten Pasuruan berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan, (2) bagaimana program pengembangan potensi Wisata Religi Masjid Cheng Ho berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan, (3) bagaimana pengelolaan Wisata Religi Masjid Cheng Ho di Kabupaten Pasuruan, (4) bagaimana kendala dan solusi yang dihadapi pada implementasi program pengembangan potensi Wisata Religi Masjid Cheng Hoo berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Tehnik pengambilan data yang digunakan yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.  Informan dalam penelitian ini yaitu (1) Kepala bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, (2) Kepala  bidang kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, (3) Staf bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, (4) Takmir Masjid Muhammad Cheng Ho seksi dakwah dan koordinator imam, (5) Takmir Masjid Muhammad Cheng Ho seksi sosial, (6) Pedagang Pasar Wisata Cheng Ho, (7) Pengunjung Wisata Religi Masjid Cheng Ho. Oleh karenanya teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengambilan data. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa (1) rencana induk pengembangan wisata Kabupaten Pasuruan berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan disesuaikan dengan empat unsur pembangunan wisata Kabupaten Pasuruan yang meliputi (a) Destinasi Pariwisata, (b) Industri Pariwisata, (c) Pemasaran Pariwisata, dan (d) Kelembagaan Pariwisata (2) program pengembangan potensi Wisata Religi Masjid Cheng Ho berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan mencakup pengembangan daya tarik wisata, pengembangan produk ekonomi kreatif, pemasaran Wisata Religi Masjid Cheng Ho melalui event-event yang diadakan di Kabupaten Pasuruan (3) pengelolaan Wisata Religi Masjid Cheng Ho di Kabupaten Pasuruan dilakukan secara mandiri oleh Takmir Masjid Muhammad Cheng Ho, namun untuk pengelolaan daya tarik wisata lain yang termasuk di dalam kawasan Wisata Religi Masjid Cheng Ho, seperti Pasar Wisata dan Museum Muhammad Cheng Ho dilakukan secara terpisah antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan (4) kendala yang dihadapi pada implementasi program pengembangan potensi Wisata Religi Masjid Cheng Hoo berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2016-2025 di Kabupaten Pasuruan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya wisata sehingga solusi yang ditawarkan adalah melalui pembinaan secara informal yang bersifat kekeluargaan.

    Peran Museum Batiwakkal dalam Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Gunung Tabur Kabupaten Berau Kalimantan Timur

    No full text
    ABSTRAK   Triwahyuningsih. 2017. Peran Museum Batiwakkal dalam Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Gunung Tabur Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si, (II) Dr. Yuniastuti, S.H, M.Pd.   Kata Kunci: Nilai-Nilai Kearifan Lokal, Museum Batiwakkal, Berau   Indonesia adalah negara kepulauan dengan berbagai macam kebudayaan, tentu kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia juga sangat beragam. Satu cara menjaga dan melestarikan warisan budaya atau kearifan lokal adalah dengan sebuah lembaga, yaitu Museum. Museum Batiwakkal merupakan salah satu museum budaya yang berada di Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Museum Batiwakkal yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Gunung Tabur menyimpan berbagai macam warisan kebudayaan daerah Berau. Oleh karena itu, Museum Batiwakkal memiliki peranan penting dalam memelihara dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Berau. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu sejarah didirikannya Museum Batiwakkal, ragam koleksi Museum Batiwakkal, nilai-nilai kearifan lokal di dalam Museum Batiwakkal, peran Museum Batiwakkal dalam melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal, kendala yang dihadapi Museum Batiwakkal dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal, serta cara-cara untuk mengatasi kendala yang dihadapi Museum Batiwakkal dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di Gunung Tabur Kabupaten Berau. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskiptif. Data penelitian merupakan data primer yaitu pengurus Museum Batiwakkal dan data sekunder berupa koleksi-koleksi Museum Batiwakkal. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan tiangulasi data. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh enam simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Museum Batiwakkal dibentuk karena diberlakukannya UU No. 27 tahun 1959 tentang penghapusan daerah swapraja, maka berhentilah masa pemerintahan Keraaan Gunung Tabur. Agar warisan peninggalan Kerajaan Gunung Tabur tetap terjaga, dialihfungsikanlah Kerajaan Gunung Tabur menjadi Museum Batiwakkal. Kedua, Koleksi Museum Batiwakkal terdiri dari benda-benda historika, neraldika, numismatika atau mata uang, ethnografika, geologika, keramika dan seni rupa. Ketiga, Museum Batiwakkal melestarikan nilai-nilai keaifan lokal melalui dialog dan bimbingan edukasi kepada pengunjung, latihan menari untuk anak-anak sekitar Museum Batiwakkal, pembuatan dan pemutaran film tentang sejarah Berau. Keempat, kendala yang dihadapi Museum Batiwakkal dalam melestaikan nilai-nilai kearifan lokal adalah pada keuangan atau sumber keuangan. Kelima, dalam mengatasi kendala Museum Batiwakkal bekerjasama dengan PT. Berau Coal. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran-saran kepada Pemerintah Kabupaten Berau hendaknya untuk lebih memperhatikan Museum Batiwakkal, untuk Museum Batiwakkal hendaknya melakukan inovasi sebagai upaya-upaya dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di Gunung Tabur, Berau, dan untuk peneliti lain, semoga penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian serupa

    Penggunaan Transportasi Online Go-Jek Oleh Siswa SMP Negeri 3 Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK Sari Novita,  Nurmaya. 2017. Penggunaan Transportasi Online Go-Jek Oleh Siswa SMPNegeri 3 Kota Malang. Skripsi, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si (2) Dr. Nuruddin Hady, S.H, M.HKata Kunci: Transportasi Online, Regulasi Transportasi Online, Go-Jek Transportasi online adalah suatu aktivitas penawaran layanan perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan media pengangkutan yang terkendali oleh suatu sistem yang terhubung dengan perangkat telekomunikasi (handphone). Jam kerja pengendara transportasi berbasis online lebih fleksibel, karena pengendara transportasi berbasis online tidak terikat jam kerja tertentu sehingga bisa bekerja kapan saja asalkan target setoran perhari terpenuhi. Adapun perlindungan hukum bagi transportasi online yang direvisi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek atau Payung Hukum Transportasi Online. Aturan tersebut diberlakukan mulai 1 April 2017 lalu. Adanya transportasi online Go-Jek di Kota Malang memudahhkan masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk pada siswa SMP Negeri 3 Kota Malang. Banyaknya pengguna transportasi online Go-Jek oleh siswa SMP Negeri 3 Kota Malang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah orang tua bekerja, dan tidak ada yang mengantar ataupun menjemput ke sekolah.Adapun tujuan penelitian adalah (1) mengetahui alasan siswa SMP Negeri 3 Kota Malang lebih memilih Go-Jek (Go-Ride) sebagai alat transportasi pergi dan pulang sekolah, (2) mengetahui dampak positif pengguna transportasi online Go-Jek (Go-Ride) bagi siswa SMP Negeri 3 Kota Malang, (3) mengetahui dampak negatif pengguna transportasi online Go-Jek (Go-Ride) bagi siswa SMP Negeri 3 Kota Malang, (4) mengetahui cara mengatasi dampak negatif yang timbul karena munculnya transportasi online Go-Jek (Go-Ride) yang di manfaatkan siswa SMP Negeri 3 Kota Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Prosedur yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi waktu, dan menggunakan bahan referensi. Pemilihan lokasi SMP Negeri 3 Kota Malang sebagai tempat penelitian adalah berdasarkan pertimbangan adanya siswa/siswi SMP Negeri 3 Kota Malang diperbolehkan membawa smartphone untuk memesan Go-Jek (Go-Ride) sebagai alat transportasi pergi dan pulang sekolah dan banyaknya siswa/siswi SMP Negeri 3 Kota Malang yang selalu menggunakan Go-Jek (Go-Ride) untuk pergi dan pulang sekolah.Hasil penelitian ini menunjukkan (1) alasan siswa lebih memilih menggunakan transportasi online Go-Jek (Go-Ride) sebagai alat transportasi pergi dan pulang sekolah yaitu antara lain: a) karena kebanyakan orang tua bekerja di jam yang sama dengan jam masuk sekolah, b) karena jam pulang sekolah tidak sama dengan jam pulang bekerja, c) karena tidak mempunyai kendaraan pribadi, d) karena transportasi online lebih praktis dibandingkan dengan ojek konvesional, angkot, maupun taksi, e) karena biaya Go-Jek murah adanya promo, f) karena Go-Jek aman, g) karena lebih cepat sampai tujuan, h) karena ibu tidak bisa mengendarai sepeda motor, (2) dampak positif bagi pengguna transportasi online Go-Jek yaitu antara lain: a) efisien, b) mudah, c) praktis, d) nyaman, e) sopan, f) cepat, g) aman, h) biaya murah, (3) dampak negatif bagi pengguna transportasi online Go-Jek yaitu antara lain: a) driver kebut-kebutan, b) rawan tindakan kejahatan, c) server atau jaringan error, d) tidak bisa pindah tujuan, e) tidak bisa memilih pengemudi, f) uang jajan berkurang, g) lokasi driver terlalu jauh, h) banyaknya demo ojek konvesional, angkot, dan taksi, (4) cara mengatasi dampak negatif transportasi online Go-Jek yaitu antara lain: a) pengawasan dari orang tua terhadap anak, b) lebih memikirkan resiko yang timbul, c) membuat kesepakatan antara ojek konvesional dengan Go-Jek mengenai batasan wilayah yang dibuat oleh Kapolda, d) memahami isi dari revisi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 37 P/HUM/2017.Saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini adalah pentingnya pengawasan dari orang tua dan guru kepada siswa yang selalu menggunakan transportasi online Go-Jek sebagai alat transportasi pergi dan pulang sekolah agar tidak salah menggunakan maupun memanfaatkannya. Dengan aplikasi online tersebut yang serba instan, mudah digunakan, dan serba cepat takutnya siswa tersebut akan selalu bergantung pada aplikasi tersebut tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi nantinya. Memanfaatkan aplikasi online untuk seperlunya saja, contohnya jika ada keperluan mendesak dengan kondisi yang tidak memungkinkan boleh menggunakan aplikasi tersebut

    MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS POP-UP

    No full text
    ABSTRAK   Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, terdapat dua hal yang teramat penting yaitu  metode mengajar yang digunakan serta dukungan dari media yang digunakan. Kedua aspek tersebut saling terkait satu sama lain. Pemilihan metode pembelajaran sangat mempengaruhi media pembelajaran yang digunakan.Hal tersebut berarti bahwa pemilihan media pembelajaran harus didasarkan pada metode pembelajaran yang digunakan. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.kesemuanya tersebut merupakan manfa’at media pembelajaran, untuk lebih jelasnya dalam makalah ini kami akan membahas fungsi dan manfa’at media pembelajara

    NILAI-NILAI PANCASILA DALAM ADAT RITUAL GEBUG MALEM DI DESA KLIPANG KECAMATAN NGLUYU KABUPATEN NGANJUK

    No full text
    ABSTRAK   Setiap suatu daerah pasti memiliki sejarah adat istiadat kebudayaan masing-masing disetiap daerahnya yang dipercaya atau bahkan ditakuti oleh masyarakatnya apabila tidak ditaati dan dijalankan dengan baik oleh masyarakatnya. Bahkan kebudayaan di setiap daerah itu sendiri pasti juga memiliki dan mengandung nilai-nilai didalam kebudayaan tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat meliputi nilai-nilai kearifan lokal dalam kebudayaan tersebut bahkan sampai dengan nilai-nilai Pancasila yang menyelimuti disetiap kebudayaan di Indonesia ini. Nilai-nilai Pancasila terdapat didalam kebudayaan Adat Ritual Gebug Malem di Desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk. Selain nilai-nilai kearifan lokal yang mungkin juga terdapat didalamnya, disini nilai-nilai Pancasila juga terdapat di dalam Adat Ritual Gebug Malem juga. Yang didalamnya ditemukan nilai Ketuhanan, nilai Kemanusiaan, nilai Persatuan, nilai Kerakyatan, nilai Keadilan.    Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan sejarah Adat Ritual Gebug Malem,  dan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam Adat Ritual Gebug Malem di Desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan rancangan  penelitian studi kasus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data yang diperoleh yaitu informan, peristiwa, dan dokumen. Informan disini yaitu informan dari juru kunci, para panitia Adat Ritual Gebug Malem dan tokoh masyarakat dan data sekunder berupa dokumen yang berkaitan dengan Adat Ritual Gebug Malem. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data dan diakhiri penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara triangulasi sumber dan triangulasi teknik pengujian data dengan membandingkan antara wawancara, observasi, dan dokumentasi.             Berdasarkan data yang telah dikumpulkan diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pertama, Sejarah berdirinya desa Klipang sebelum munculnya adat ritual gebug malem. Kedua, prosesi pelaksanaan adat ritual gebug malem di desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk yang dilaksanakan dengan di wakili beberapa orang untuk masuk ke dalam cungkup punden dengan membawa keperluan yang dibutuhkan untuk memanjatkan do’a didalam kemudian juga masyarakat lainnya menunggu di depan halaman cungkup punden. Ketiga, nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam adat ritual gebug malem di desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk ini terdapat nilai-nilai dari sila ke satu Ketuhanan sampai nilai ke lima Keadilan yang dapat dilihat dari sisi nilai ke satu yaitu masyarakat yang memanjatkan do’a bersama kepada Tuhan YME, nilai kedua dilihat dari setiap manusia satu dengan manusia yang lainnya yang saling menghargai, dilihat dari nilai ketiga masyarakat yang berkumpul menjadi satu untuk memanjatkan do’a bersama, dilihat dari nilai ke empat masyarakat yang saling menghargai untuk mengajukan pendapatnya dalam pelaksanaan kegiatan, dilihat dari nilai ke lima masyarakat yang saling adil tanpa dibeda-bedakan karena setiap masyarakat dapat mengikuti kegiatan tersebut. Keempat, persepsi masyarakat terhadap adat ritual Gebug Malem di Desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk ini menuai persepsi yang baik karena masyarakatnya menghargai kegiatan rutin pemanjatan do’a ini dan sudah menjadi kegiatan yang turun temurun.Kelima, kendala dalam melestarikan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam adat ritual Gebug Malem  di Desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk dilihat dari peserta pemanjatan do’a yang diikuti dari sebagian jumlah masyarakat yang ada dan sebagiannya lebih banyak dari kalangan muda yang lebih mementingkan untuk bermain daripada mengikuti kegiatan rutin ritual tersebut. Keenam, upaya dalam melestarikan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam adat ritual Gebug Malem di Desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk kepala desa maupun juru kunci tidak mau memaksakan setiap manusia untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut karena kegiatan tersebut harus didasari oleh kesadaran diri sendiri apabila kesadarannya sudah baik maka nilai-nilai Pancasila dapat berjalan dengan baik. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian ini sebagai berikut. Bagi pihak generasi muda agar generasi muda penerus bangsa, dapat menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah. Mengingat banyak nya kebudayaan luar yang  masuk ke Indonesia, oleh karena itu pemuda-pemuda Indonesia harus memiliki rasa cinta kebudayaan bangsa serta mulai menumbuhkan dan mengembangkan gerakan peduli dan cinta kebudayaan. bagi pihak fakultas ilmu sosial hasil penelitian ini agar dapat digunakan sebagai informasi tambahan bagi peneliti di bidang kebudayaan sebagai tambahan referensi, bagi pihak pengelola kegiatan Adat Ritual Gebug Malem dan Masyarakat Desa Klipang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk Melihat jumlah jiwa desa Klipang melebihi dari angka dua ribu jiwa namun yang mengikuti kegiatan Adat Ritual Gebug Malem hanya sebagiannya saja seharusnya masyakarat Desa Klipang semuanya harus memiliki  kesadaran  untuk mengikuti kegiatan Adat Ritual Gebug Malem tersebut. Karena kegiatan tersebut merupakan kegiatan penghormatan dan pemanjatan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa

    Pengaruh Metode Pembelajaran Drill dan Metode Pembelajaran Small Sided Games terhadap Hasil Belajar Keterampilan Dribbling Pada Siswa Ekstrakurikuler Sepakbola di SMP Negeri Kota Malang

    No full text
    Kata Kunci: pembelajaran dribbling, hasil belajar dribbling sepakbola, ekstrakurikuler Sekolah Menengah Pertama. Pembelajaran dribbling sepakbola merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh para pembina untuk meningkatkan keterampilan dribbling siswa dengan pembelajaran yang efektif menggunakan metode-metode yang ada. Salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai dalam permainan sepakbola adalah keterampilan dribbling. Permasalahan yang didapat, siswa belum bisa menguasai keterampilan dribbling dengan baik dan hal tersebut menjadi suatu kekurangan mendasar yang harus diperbaiki. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan dribbling siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan dan mengetahui bagimana pengaruh metode pembelajaran drill dan metode pembelajaran small sided games terhadap keterampilan dribbling. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen denganmatching pretest-posttest comparison group design. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa ekstrakurikuler Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 sebanyak 30 siswa dengan perlakuan metode drill dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Kota Malang sebanyak 30 siswa dengan perlakuan metodesmall sided games. Analisis data dari penelitian ini menggunakan teknik analisis varian satu jalur (one way anava). Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa: (1) pembelajaran menggunakan perlakuan metode drill memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dribbling siswa ekstrakurikuler sepakbola (Fhitung 4,195 > Ftabel 4,01), (2) pembelajaran menggunakan perlakuan metode small sided games memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dribbling sepakbola siswa ekstrakurikuler sepakbola (Fhitung 4,141 > Ftabel 4,01), (3) tidak ada perbedaan yang signifikan antara pembelajaran dengan pembelajaran metode drill dan metode small sided games terhadap hasil belajar dribbling siswa ekstrakurikuler sepakbola (Fhitung 0,000327 < Ftabel 4,01), tetapi berdasarkan ratarata skor awal dan skor akhir metode drill berpengaruh lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan metode drill memberikan pengaruh yang lebih baik dibanding pembelajaran dengan metode small sided games terhadap hasil belajar dribbling siswa ekstrakurikuler sepakbola. Saran yang dapat diberikan kepada pembina ekstrakurikuler sepakbola Sekolah Menengah Pertama adalah pembelajaran dengan perlakuan metode drill lebih efektif dan menarik serta memberikan peningkatan terhadap keterampilan dribbling siswa ekstrakurikuler

    PENERAPAN PRINSIP PROFESIONALISME PADA KINERJA APARATUR PEMERINTAH DESA DAGANGAN KECAMATAN DAGANGAN KABUPATEN MADIUN

    No full text
    ABSTRAK   Profesionalisme merupakan cerminan dari keterampilan dan keahlian aparatur yang dapat berjalan efektif apabila didukung dengan kesesuaian tingkat pengetahuan atas dasar latar belakang pendidikan dengan beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya dan juga sebagai cerminan potensi diri yang dimiliki aparatur, baik dari aspek kemampuan maupun aspek tingkah laku yang mencakup loyalitas, inovasi, produktivitas dan kreatifitas. Menjalankan roda pemerintahan, pemerintah desa harus menerapkan prinsip profesionalisme kepada aparat yang telah diatur oleh peraturan yang berlaku. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Prinsip Profesionalisme Pada Kinerja Aparatur Pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan prinsip profesionalisme pada kinerja aparatur pemerintah Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, mendeskripsikan kendala yang dihadapi Pemerintah Desa Dagangan dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa, dan mendeskripsikan penyelesaian yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Dagangan terhadap kendala yang dihadapi Pemerintah Desa Dagangan dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi Penelitian ini berada di Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Sumber data peneliti yaitu manusia, dokumen, dan peristiwa. Manusia yang menjadi informan yaitu Rudi Panca Widadi (kepala desa), Joko Suprianto (sekretaris desa), perangkat desa (Suyut, Nur Cholis, Nasarudin Latif), dan para warga(Kateno, Suratman, Nurpiyati, Hadi Siswanto). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan  wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, serta diakhiri dengan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik trianggulasi. Temuan penelitian ini adalah: (1) Prinsip profesionalisme sudah diterapkan pada kinerja aparatur pemerintah desa Dagangan, hal ini dapat dilihat dari: memiliki semangat berkinerja yang tinggi dibuktikan dengan buka pelayanan dengan tepat waktu, sikap responsif dari aparat terhadap warga yang datang untuk mengurus keperluan dikantor; patuh pada asas yang berlaku dibuktikan dengan dalam menjalankan tugas dan fungsinya para aparat berpedoman pada SOP yang berlaku; kreatif dan inovatif dibuktikan dengan semua aparaat bisa memberikan pelayanan tanpa memandang tugas dari jabatan, melakukan pelayanan jemput bola, melakukan sosialisasi terkait program kerja yang dilaksanakan; serta memiliki kualifikasi dibidangnya yang dibuktikan dengan perekrutan sesuai peraturan, meskipun demikian semua aparat bisa memberikan pelayanan meskipun bukan tugas dari jaban yang diembannya. (2) kendala yang dihadapi dalam menerapkan prinsip profesionalisme pada kinerja aparat desa Dagangan adalah masih terdapat aparat yang kurang disiplin terhadap peraturan yang berlaku yang dibuktikan dengan terdapat aparat yang datang terlambat maupun ada aparat yang keluar kantor pada saat jam kantor belum tutup. Kemudian membangun semangat berkinerja yang tinggi bagi aparat desa juga perlu ditingkatkan, hal tersebut dikarenakan adanya perangkat desa yang kurang disiplin maka akan mengganggu dari kinerja aparat itu sendiri. (3) Solusi yang dilakukan pemerintah desa Dagangan untuk mengatasi semua kendala saat ini adalah langkah pembinaan di pemerintah desa yaitu pada setiap hari senin dilakukan apel kinerja, selain itu aparat desa Dagangan juga mengikuti pembinaan di kecamatan Dagangan yang diikuti oleh aparat desa diseluruh kecamatan Dagangan. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) Pemerintah Desa Dagangan perlu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dari perangkat desa dengan cara mengadakan pembinaan serta pelatihan-pelatihan bagi aparat untuk meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan fungsinya. (2) Melakukan inovasi terhadap solusi yang dilakukan agar segala permasalahan yang dihadapi terselesaikan dengan baik. (3) Kepala Desa Dagangan diharapkan melakukan pendekatan yang lebih kepada aparat dibawahnya secara personal. (4) Para aparat desa Dagangan diharapkan lebih mengedepankan prinsip profesional dan etika dalam berprofesi, selain itu turut berperan dalam acara pembinaan ataupun pelatihan-pelatihan baik yang diselenggaraakan oleh pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten. Kata kunci: Prinsip, Profesionalisme, Kinerja, Aparatur Pemerinta

    Pembelajaran Non-Direktif

    No full text
    ABSTRAK   Tujuan pembelajaran non-direktif adalah membantu siswa mencapai integrasi pribadi, produktivitas pribadi dan penghargaan terhadap dirinya. Prosedur pembelajaran yang digunakan adalah interview atau wawancara. Wawancara biasanya dilakukan oleh guru konseling yang lebih mengarah pada  hal kehidupan nyata. Model pembelajaran ini juga menggunakan aplikasi model pembelajaran yang dapat berguna diberbagai situasi. Jadi, pendidik diharapkan dapat memahami prosedur serta cara untuk mengaplikasikannya agar dapat mencapai tujuannya

    PRESEPSI SISWA SD TERHADAP PROSES PEMEBELAJARAN PKN

    No full text
    Presepsi  siswa terhadap mata pembelajaran PKn dalam kehidupan realita sekarang disebabkan beberapa kendala antara lain : (1) guru mata pelajaran PKn masih mengalami kesulitan dalam mengaktifkan siswa untuk terlibat langsung dalam proses penggalian dan penelaahan bahan pelajaran, (2) sebagian siswa memandang mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan sebgai mata pelajaran yang besifat konseptual dan teoritis, (3) parktik kehidupan di masyarakat baik dalam bidang politik, ekonomi, social budaya, hukumn, agama seringkali berbeda dengan wacana yang dikembangkan dalam proses pembelajaran dikelas. Pembelajaran PKn sering dikatakan belum mampu merangsang siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini memberikan dampak siswa merasa kesulitan dalam pelajaran dikarenakan metode pembelajaranyang dipilih dan digunakan dirasakan kurang tepat

    Pembelajaran Non-Direktif

    No full text
    ABSTRAK   Tujuan pembelajaran non-direktif adalah membantu siswa mencapai integrasi pribadi, produktivitas pribadi dan penghargaan terhadap dirinya. Prosedur pembelajaran yang digunakan adalah interview atau wawancara. Wawancara biasanya dilakukan oleh guru konseling yang lebih mengarah pada  hal kehidupan nyata. Model pembelajaran ini juga menggunakan aplikasi model pembelajaran yang dapat berguna diberbagai situasi. Jadi, pendidik diharapkan dapat memahami prosedur serta cara untuk mengaplikasikannya agar dapat mencapai tujuannya

    0

    full texts

    436

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇