SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN HUKUM DENGAN MOBILITAS SOSIAL
ABSTRAK Kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan manuisa dalam masyarakat bermacam-macam ragamnya. Dan di antara sekian macam kaidah yang merupakan salah satu kaidah terpenting adalah kaidah hukum di samping kaidah agama, kaidah kesusialaan dan kaidah kesopanan. Kaidah hukum tersebut ada yang berwujud tertulis,keputusan-keputusan pengadilan maupun keputusan lembaga- lembaga kemasyarakatan. Hukum sebagai suatu lembaga kemasyarakatan hidup berdampingan dengan lembaga kemasyarakatan lainya dan saling mempengaruhi antar lembaga lainya. Ruang lingkup hukum sangatlah luas salah satunya berpengaruh pada hal-hal yang berkaitan dengan mobilitas sosial. Namun dalam mobilitas sosial tersebut setiap individu harus diberi aturan yang bersifat mengikat yaitu hukum, dengan tujuan agar mobiltas sosial tidak keluar dari aturan dan norma-norma hukum yang berlaku. Dengan begitu seiring berjalannya mobiltas sosial di masyarakat juga harus dilandasi dengan hukum yang selalu mengawal jalannya mobilitas sosial tersebut sehingga mobiltas sosial berjalan sesuai apa yang diharapkan oleh masyarakat dan tercapai perubahan yang bersifat transformatif, progress, dan terarah
NORMA-NORMA YANG BERLAKU DALAM KOMUNITAS PELANGGAN KOPI IJO DI WARUNG KOPI DESA BOLOREJO KECAMATAN KAUMAN KABUPATEN TULUNGAGUNG
Kaidah dalam berkehidupan bermasyarakat setiap subjek hukum, yaitu orang maupun badan hukum selalu berhadapan dengan berbagai aturan maupun norma, baik yang bersifat formal maupun nonformal. Aturan atau norma sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat agar hubungan antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib dan berjalan lebih baik. Norma merupakan aturan perilaku dalam suatu kelompok tertentu di mana setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban di dalam lingkungan masyarakat, sehingga memungkinkan seseorang bisa menentukan telebih dahulu bagaimana tindakan seseorang itu dinilai oleh orang lain. Norma sopan satun yang positif merupakan perilaku yang baik di tinjau dari segi tata cara berbicara atau tingkah laku yang sopan terhadap teman sebaya maupun orang yang lebih tua. Salah satu contohnya, yaitu ramah tamah, melempar senyum dengan orang lain ketika akan datang atau pergi baik yang sudah di kenal maupun belum kenal.Perilaku merupakan suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri, perilaku juga adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau tidak langsung. Perilaku sopan santun seseorang bukan saja tidak menganggap dirinya lebih tinggi dari pada orang lain, melainkan menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya sendiri. Sopan-Santun tidak selalu menghasilkan kebaikan hati, keadilan, kepuasan, atau rasa syukur, tetapi ini dapat memberikan seseorang paling tidak terlihat sopan dan membuatnya tampak dari luar apa yang seharusnya menjadi benar-benar terhormat
PERAN SANGGAR GENTA DALAM MELESTARIKAN TARI TOPENG GETAK DI KECAMATAN PAMEKASAN KABUPATEN PAMEKASAN
ABSTRAK Hasbullah, Ade Mareta. 2017. PeranSanggarGentaDalamMelestarikan Tari TopengGetak Di KecamatanPamekasanKabupatenPamekasan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila danKewarganegaraan, JurusanHukumdanKewarganegaraan, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. SukoWiyono, SH.,MH (2) Drs. Margono, M.Pd., M.Si Kata kunci: Peran, SanggarGenta, Tari TopengGetak Melestarikan Tari Topeng Getak Di Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perandari Sanggar Genta dalam melestarikan Tari Topeng Getak kepada masyarakat Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan jenis penelitian deskriptif. Lokas penelitian berada di Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan. Dalam mencari data dari informan yang terdiri dari Ketua Sanggar Genta, Pelatih Sanggar Genta. Pengumpulan data tersebut menggunakan dokumentasi, observasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara ditelaah dan dirangkum secara inti dan disusun dalam satuan-satuan. Hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, Sanggar Genta dalam melestarikan topeng getak sudah berjalan dengan baik, latihan yang selalu dilakukan oleh Sanggar Genta setiap satu minggu sekali dan latihan alam yang dilaksanakan pada akhirpekan, dapatm enumbuhkan rasa suka terhadap kesenian lokal khususnya dalam bidang tari yaitu Tari Topeng Getak terhada premaja pada saat ini. Kedua, Alasan sanggar genta melestarikan tari topeng getak adalah tanggung jawab dari Ketua Sanggar sebagai keturunan dari Budayawan Madura dan tuntutan profesi yang di embannya saat ini. Ketiga, permasalahan yang di hadapi Sanggar Genta dalam melestarikan Tari Topeng Getak, yaitu: kurangnya minat generasi sekarang mempelajari kesenian lokal, Keempat, dalam mengatasi kendala yang dialami Sanggar Genta pelatih harus bisa beradaptasi dengan generasi yang sekarang yang lebihsensitif, dengan memberikan metode pelatihan yang cocok agar siswa lebih mudah dalam menangkap dan menghafal gerakan tari. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian adalah Sebaiknya Sanggar Genta lebih meningkatkan pelatihan Tari Topeng Getak karena sebuah tarian jika tidak di lestarikan oleh generasi muda maka akan punah atau bisa di ambil alih oleh negera tetangga. Untuk masalah kegiatan latihan rutinnya usahakan diberi stimulus untuk ketertarikan anak dalam senitari dan meminimalisir pujian terhadap siswa
SISTEM POLITIK DAN PEMERINTAHAN ERA KEPEMIMPINAN ABDURRAHMAN WACHID
RINGKASAN Kata Kunci: kepemimpinan , politik, pemerintahan K.H Abdurrahman Wachid (Gus Dur) adalah ketua Nahdatul ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Abdurrahman Wachid terpilih menjadi presiden ke empat menggantikan B.J habibie. Selama kepemimpinannya, K.H Abdurrahman Wachid berusaha mendorong pluralisme dan keterbukaan. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan adanya kebijakan yang memberikan kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Namun, banyak pro dan kontra perihal masa kepemimpinan presiden K.H Abdurrahman Wachid. Pasalnya Gus Dur juga mengeluarkan berbagai kebijakan yang dinilai Kontroversial dengan MPR dan DPR, yang dianggap berjalan sendiri, tanpa mau menaati aturan ketatanegaraan, melainkan diselesaikan sendiri berdasarkan pendapat kerabat dekatnya, bukan menurut aturan konstitusi negara
SENSOR SIDIK JARI SEBAGAI UPAYA MENGATASI CYBER CRIME
SENSOR SIDIK JARI SEBAGAI UPAYA MENGATASI CYBER CRIME Wiwin Dwi Jayanti Surel :[email protected] Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5 Abstrak Pada artikel ilmiah ini dipaparkan informasi mengenai solusi cyber crime atau kejahatan dunia maya.Solusi tersebut adalah penggunaan sensor sidik jari berbasis internet.Fitur ini merupakan kombinasi antara sensor sidik jari dengan perangkat lunak berbasis internet.Alat ini memiliki fungsi mengenali identitas seseorang untuk dikaitkan dengan nomor telepon selular. Kombinasi antara sensor sidik jari dengan perangkat lunak berbasis internetakan memudahkan seseorang ketika melakukan registrasi nomor telepon selular.Alat ini menghasilkan keakuratan data pemilik nomor telepon selular, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pemalsuan identitas. Kata kunci : sensor sidik jari, perangkat lunak, berbasis internet, identitas
SENSUS PENDUDUK DI DESA TEGALSARI KEPANJEN
RINGKASAN Desa Tegalsari merupakan desa mandiri yang berada di kecamatan Kepanjen, kabupaten Malang. Desa tersebut memiliki 4 Rukun Warga (RW) dan 20 Rukun Tetangga (RT). Tujuan pengabdian ini yaitu untuk melakukan pendataan atau sensus terhadap penduduk desa Tegalsari. Akurasi data di Desa Tegalsari masih kurang. Padahal data terkini sangat dibutuhkan sabagai salah satu cara memperlancar segala urusan demi kemajuan desa maupun individu. Oleh karena itu, KKN UM pada saat ini berupaya memberikan solusi agar data kepedudukan Desa Tegalsari senantiasa mendekati keadaan yang sebenarnya. Form sensus tingkat RT dan RW diberikan dan disosialisasikan dengan harapan mempermudah data sensus dari rukun warga yang paling rendah. Hasil yang dicapai pada pelaksanaan pengabdian dalam bidang sensus penduduk di desa Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang sangat memuaskan antara lain, (1) perangkat desa memiliki data kependudukan yang lebih akurat, (2) RW dan RT memiliki form pengisian dan observasi untuk melakukan pendataan. Manfaat dari pengabdian ini yaitu (1) Bagi perangkat desa yang bertugas mensensus merasa terbantu melakukan pendataan, (2) Bagi Masyarakat desa Tegalsari dimudahkan dalam melakukan perbaharuan data
PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PERMAINAN EGRANG DI KOMUNITAS GUBUK BACA LENTERA NEGERI DESA SUKOLILO KECAMTAN JABUNG KABUPATEN MALANG
RINGKASAN Sasmito, Adi. 2018. Penerapan Pendidikan Karakter Malalui Permainan Egrang di Komunitas Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Prodi PPKn, Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Awaliyah S.H, M.Hum, (2) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si. Kata Kunci: Gubuk Baca Lentera Negeri, Permainan Tradisional Egrang, Penerapan Pendidikan Karakter. Budaya dan kesenian harus tetap dilestarikan karena dengan budaya dan kesenian dapat membentuk karakter seseorang. Banyaknya kasus yang mencerminkan pembentukan karakter yang tidak baik mebuat pendidikan karakter sangat penting. Gubuk Baca Lentera Negeri merupakan komunitas yang bergeraka dalam bidang pendidikan yang mengajak anak-anak untuk gemar membaca dan mengenalkan budaya, kesenian, cinta lingkungan serta permainan tradisional egrang kepada anak-anak. Minimal dengan begitu dapat membentuk karakter anak melaui kegiatan membaca, mengenalkan budaya dan permainan tradisional egrang. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menjelaskan asal-usul permainan tradisional egrang di Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, (2) menjalaskan tata cara permainan egrang di komunitas Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, (3) menjelaskan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan egrang di komunitas Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, (4) menjelaskan penerapan pendidikan karakter melalui permainan tradisional egrang di komunitas Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, (5) menjelaskan kendala penerapam pendidikan karakter melalui permainan egrang di Komunitas Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif dengan jenis peneilitian diskriptif. Lokasi penelitian yang di pilih oleh peneliti dalam penelitian ini adalah Gubuk Baca Lentera Negeri Desa Sukolilo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, serta gubuk baca binaan Gubuk Baca Lentera Negeri seperti Gubuk Baca Gang Tato dan Gubuk Baca Anak Alam yang masih dalam satu Kecamatan Jabung. Sumber data yang diperoleh dalam peneitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Prosedur yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Agar data yang diperoleh tidak diragukan kebenaranya maka dilakukan pengecekan keabsaahan temuan yaitu dengan meningkatan ketekunan, triangulasi, mengunakan bahan refrensi. Temuan penelitian menghasilkan empat pembahasan, yaitu (1) asal-usul permainan egrang di Gubuk Baca Lentera Negeri mulai dari awal hingga terciptanya tarian egrang, (2) tata cara memainkan permainan egrang di Gubuk Baca Lentera Negeri yaitu mulai tahap persipan, tahap pelaksanaan, tahap penutup. (3) nilai-nilai karakter yang terkang dalam permainan egrang di Gubuk Baca Lentera Negeri mengadung delapan nilai yang baik yang dapat membentuk karakter seseorang yang memainkanya, (4) penerapan pendidikan karakter melalui permainan egrang di Gubuk Baca Lentera Negeri membuat seseorang tidak hanya bermain tetapi dapat belajar dengan apa yang dimainkan, sehingga ketika memainkanegrang dapat menerapkan pendidikan karakter dan dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari selain bermain egrang. (5) Kendala dalam penerapan permainan egrang. Saran yang dapat diberikan peneliti dalam penelitian ini yaitu Permainan egrang jika diterapkan kepada anak-anak atau seseorang secara tidak sadar mereka akan belajar tentang pendidikan karakter yang terkadung didalamnya. Seseorang memang dapat belajar tentang nilai-nilai kebaikan dari sebuah buku, tetapi tidak banyak orang yang mau mempraktikan dalam kehidupan nyata. Dengan bermain egrang tersebut seseorang dapat belajar nilai-nilai kebaikan dan mempraktikanya secara langsung. Untuk itu suatu pembelajaran juga dapat dibentuk melalui kegiatan belajar sambil bermain dan tidak harus melulu dikenalkan dengan teori-teori yang belum tentu seseorang memperaktikanya. Dalam permainan egrang seseorang langsung dapat belajar dan mepraktikan nilai kebaikan tersebut secara langsung. Ketika seseorang tersebut sudah mengerti niali-nilai tersebut harapanya agar dapat mempraktikan dalam kehidupan sehari-harinya. Jadi jangan pernah malu memainkan permainan tradisional.
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI SEDEKAH BUMI MANGANAN TUNGGON DI PUNDEN MBAH BUYUT TUNGGON, DUSUN TREMBUL, DESA MULYOREJO, KECAMATAN SINGGAHAN, KABUPATEN TUBAN
ABSTRAK Sutikno, Mohkamat Didik. 2018. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Sedekah Bumi Manganan Tunggon Di Punden Mbah Buyut Tunggon, Dusun Trembul, Desa Mulyorejo, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Sri Untari, M.Si., (2) Dr. Didik Sukriono, SH., M.Hum. Kata Kunci: Kebudayaan, Kearifan Lokal, Tradisi Sedekah Bumi Manganan Tunggon Kebudayaan merupakan suatu ekspresi manusia yang diwujudkan dalam berbagai bentuk salah satunya yaitu kearifan lokal. Kearifan lokal bersifat lokal atau kedaerahan, sehingga hal tersebut mencerminkan karakteristik daerah masing-masing sehingga daerah satu dengan yang lain tentu berbeda-beda. Salah satu wujud kearifan lokal yaitu tradisi misalnya tradisi sedekah bumi manganan Tunggon. Banyak nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam tradisi sedekah bumi manganan Tunggon, namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya. Sehingga melalui penelitian ini, peneliti ingin menggali nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam Tradisi sedekah bumi manganan Tunggon. Hal inilah yang menjadi dasar dan pertimbangan peneliti melakukan penelitian terhadap Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Sedekah Bumi Manganan Tunggon Di Punden Mbah Buyut Tunggon, Dusun Trembul, Desa Mulyorejo, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Untuk mengetahui asal-usul terjadinya tradisi sedekah bumi manganan Tunggon; (2) Untuk mengetahui prosesi pelaksanaan tradisi sedekah bumi manganan Tunggon; (3) Untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi sedekah bumi manganan Tunggon; (4) Untuk mengetahui komitmen dan rekomendasi masyarakat terhadap tradisi sedekah bumi manganan Tunggon. Penelitian ini dilakukan di Punden Mbah Buyut Tunggon, Dusun Trembul, Desa Mulyorejo, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif dengan jenis penelitian yaitu studi kasus. Sumber data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah studi kasus oleh Robert K. Yin melalui penjodohan pola yaitu tahap 1 hasil yang diharapkan sebagai suatu pola, tahap 2 penjelasan tandingan sebagai pola, tahap 3 pola yang lebih sederhana. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, sejarah asal- usul tradisi sedekah bumi manganan Tunggon tidak bisa terlepas dari peran Mbah Sumo dan Mbah Raminah. Tradisi sedekah bumi manganan Tunggon merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat dusun Trembul, tepatnya pada hari senin kliwon bulan April atau bulan bisa menyesuaikan panen. Kegiatan sedekah bumi manganan Tunggon dilaksanakan sebagai wujud syukur masyarakat dusun Trembul kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan nikmat hidup berupa hasil panen, disamping itu sebagai wujud penghormatan masyarakat dusun Trembul kepada Mbah Sumo dan Mbah Raminah sebagai orang pertama yang babat alas di dusun Trembul. Kedua, dalam pelaksanaan tradisi sedekah bumi manganan Tunggon terdiri dari: (1) Tahap persiapan yaitu rapat kordinasi yang dilakukan oleh Pemerintah Desa dengan tokoh masyarakat untuk mempersiapkan konsep acara dengan matang; (2) Acara inti terdiri dari: (a) Acara Tahlil acara tahlil dilakukan sehari sebelum perayaan Tradisi sedekah bumi manganan Tunggon; (b) Acara Ritual di Petilasan dan Punden Mbah Buyut Tunggon; (c) Makan Bersama dan (d) Hiburan yaitu langen tayub. Ketiga, Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi sedekah bumi manganan Tunggon di Punden Mbah Buyut Tunggon Dusun Trembul, Desa Mulyorejo, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban yaitu (a) Nilai Religius atau Nilai Agama; (b) Nilai Moral; (c) Nilai Persatuan dan Toleransi; (d) Nilai Gotong Royong; (e) Nilai Ekonomi; (f) Nilai Seni; (g) Nilai Budaya dan (h) Nilai Ilmu Pengetahuan. Keempat, Komitmen dan rekomendasi masyarakat terhadap tradisi sedekah bumi manganan Tunggon. Komitmen masyarakat yaitu masyarakat sepakat untuk menjaga dan melestarikan tradisi sedekah bumi manganan Tunggon karena tradisi sedekah bumi manganan Tunggon merupakan peninggalan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Rekomendasi masyarakat antara lain: (1) Minum-minuman keras harus dihilangkan; (2) Dihilangkannya judi di area Punden; (3) Dalam pelaksanaan ritual, tidak perlu membakar dupa; (4) Untuk orang-orang yang berkorban sebaiknya jangan di Punden atau makam lebih baik waktu idul adha saja lebih jelas perintah dan tujuannya. Berdasarkan penelitian ini, peneliti memberikan saran diantaranya: 1) Untuk Pemerintah Desa: a) Sebagai Lembaga Pemerintahan yang ada di Desa, Perangkat Desa harus mulai mencegah masalah judi dan minum-minuman keras yang ada di Punden Mbah Buyut Tunggon karena hal tersebut juga merupakan larangan negara yang mestinya harus dihilangkan; b) Dalam tradisi sedekah bumi manganan Tunggon bisa disisipkan nilai pengetahuan misalnya penyampaian sejarah tradisi sedekah bumi manganan Tunggon agar bisa menambah wawasan atau pengetahuan masyarakat; c)Perlu adanya dokumen atau pembukuan mengenai sejarah manganan Tunggon agar masyarakat bisa mengetahui sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi sedekah bumi manganan Tunggon; 2) Untuk Masyarakat Dusun Trembul yaitu Tradisi sedekah bumi manganan Tunggon merupakan aset budaya yang harus dijaga dan dilestarikan, untuk itu masyarakat Dusun Trembul harus terus menjaga dan melestarikannya.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KAMPUNG MAJAPAHIT SEBAGAI DESA WISATA (STUDI DI DESA BEJIJONG, KECAMATAN TROWULAN, KABUPATEN MOJOKERTO)
ABSTRAK Fardhiannah, Nurin.2017.Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Kampung Majapahit sebagai Desa Wisata (Studi Di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto). Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum (II) Dr. Sutoyo, S.H, M.Hum. Kata Kunci : Partisipasi Masyarakat, Desa Wisata, Mojokerto Partisipasi masyarakat dalam pengembangan desa wisata merupakan hal yang sangat penting. Untuk mewujudkan desa wisata itu sendiri dapat diterapkan dalam gaya hidup dan kualitas hidup masyarakatnya. Partisipasi itudilakukan tanpa adanya paksaan. Indonesia memiliki banyak desa wisata yang layak untuk dikembangkan. Mojokerto misalnya memiliki kampung Majapahit yang dikembangkan menjadi desa wisata perlu dukungan atau partisipasi masyarakat dalam pegembangannya. Secara historis daerah Mojokerto memiliki banyak situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit, secara ekonomi Mojokerto memiliki potensi ekonomi kreatif seperti kerajinan cor kuningan maupun batik. Pemerintah menginginkan adanya wilayah di Trowulan untuk di bangunkan nya sebuah desa yang mengingatkan pada zaman era Majapahit. Maka dibangun sebuah rumah-rumah di kawasan Trowulan yang disebut Kampung Majapahit. Partisipasi masyarakat tentunya sangat dibutuhkan dalam pengembangan kampung Majapahit sebagai desa wisata. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan berberapa hal yaitu, bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan kampung Majapahit sebagai desa wisata, partisipasi masyarakat dalam pengembangan kampung Majapahit sebagai desa wisata, dampak partisipasi masyarakat dalam pengembangan kampung Majapahit dan upaya pemerintah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan kampung Majapahit sebagai desa wisata di desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa sumber data primer masyarakat dan pemerintah Desa Bejijong. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, bentuk partisipasi masyarakat di desa Bejijong yaitu dalam bentuk ide, tenaga, uang dan keterampilan. Kedua, partisipasi masyarakat dilibatkan dalam perencaaan program, pelaksanaan program dan evaluasi program pengembangan kampung Majapahit. Ketiga, manfaat partisipasi masyarakat bagi pengembangan kampung Majapahit yaitu manfaat dibidang ekonomi dan bidang sosiak budaya. Keempat, upaya pemerintah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan kampung Majapahit dilakukan melalui sosialisai atau pelatihan mengenai desa wisata
Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Tradisi Berjualan Nasi Boran Sebagai Ikon Masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan
ABSTRAK Insiyah, Anniza’, Mariatul. 2017. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Tradisi Berjualan Nasi Boran Sebagai Ikon Masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Margono, M.Pd, M.Si (2) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si Kata Kunci : Nilai, Tradisi, Jual Beli, Nasi Boran Nilai adalah seperangkat keyakinan dan sikap-sikap pribadi seseorang tentang kebenaran, keindahan, dan penghargaan dari suatu pemikiran, objek atau perilaku yang berorientasi pada tindakan dan pemberian arah serta makna pada kehidupan seseorang. Tradisi dalam pengertian sederhana adalah sesuatu yang dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Jual beli adalah suatu persetujuan antar dua pihak, pihak yang satu menyanggupi menyerah kan suatu barang, sedang pihak lain menyanggupi membayar harga yang sudah ditentukan, seperti jual beli nasi boran. Nasi boran adalah makanan tradisional yang berasal dari Kota Lamongan, Jawa Timur. Kata boran atau boranan ini berasal dari tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Populernya nasi boran dan minat yang besar dari para pembeli menjadi dari para pembeli menjadi salah satu alasan utama masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan mengambil peluang sebagai pedagang. Adapun tujuan penelitian adalah (1) mengetahui asal usul tradisi berjualan nasi boran pada masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan, (2) mengetahui proses tradisi berjualan nasi boran sebagai ikon masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan, (3) mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi berjualan nasi boran pada masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Prosedur yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan teknik triangulasi metode, triangulasi waktu, dan menggunakan bahan referensi. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) asal-usul tradisi berjualan nasi boran pada masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan yaitu: a) nasi boran makanan keramat, b) nasi boran makanan yang diperjualbelikan, c) diperjualbelikan secara turun temurun, (2) proses tradisi berjualan nasi boran sebagai ikon masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan yaitu: a) mencari modal berjualan nasi boran, b) membeli perlengkapan berjualan nasi boran, c) memasak nasi boran, d) berangkat ke tempat berjualan nasi boran, e) berjualan nasi boran, (3) nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi berjualan nasi boran pada masyarakat Dusun Kaotan Desa Sumberejo Kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan yaitu: a) nilai ekonomi, b) nilai kekeluargaan, c) nilai religius, d) nilai toleransi, e) nilai kerja keras, f) nilai keadilan, g) nilai kesabaran, h) nilai kerjasama. Saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini adalah agar Dinas Pariwisata Lamongan lebih giat mempromosikan nasi boran, pemerintah setempat memberikan bantuan modal lewat koperasi atau dana desa, dan agar penjual nasi boran tetap mempertahankan tradisi berjualan nasi boran yang telah ada secara turun temurun dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia lebih baik lagi, dan agar generasi muda tetap menyukai makanan tradisional seperti nasi boran