SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    436 research outputs found

    Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Pembangunan Masyarakat Berbasis Program Kecakapan Hidup (Life Skill)

    No full text
    RINGKASAN Peningkatan pendidikan melalui pembangunan berbasiskan kepada program life skill memberikan pengalaman serta keterampilan kepada warga belajar terutama kepada masyarakat untuk memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan perekonomiannya. Beberapa jenis kecakapan hidup yang salah satunya adalah kecakapan vokasional, yaitu suatu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat atau lingkungan warga belajar. Melalui kegiatan vokasional atau keterampilan tertentu, akan menambahkan keterampilan kepada masyarakat dalam penguasaan bidang tertentu yang berguna untuk meningkatkan taraf hidupnya

    PENDIDIKAN POLITIK GUNA MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK DALAM PEMILU

    No full text
    RINGKASAN Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis meningkatkan partisipasi politik dalam pemilu. Solusi tersebut adalah pendidikan politik bagi pemilih pemula dan masyarakat umum. Pendidikan politik ini dilakukan dalam bentuk sosialisasi ke sekolah-sekolah dan desa-desa di Indonesia. Hasil akhir dari pendidikan politik ini bisa diketahui dari hasil pemilu yaitu dengan meningkatnya hasil perolehan pemilu dan peserta pemilu dari proses pemilu tahun sebelumnya

    Kerjasama Pemerintah Desa dengan Pokdarwis dalam Mengelola dan Mempromosikan Desa Wisata Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri

    No full text
    Kerjasama Pemerintah Desa dengan Pokdarwis dalam mengelola dan mempromosikan Desa Wisata  Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri sangat penting dilakukan demi terwujudnya tujuan bersama dalam memberdayakan masyarakat melalui Desa Wisata. Tujuan dari penelitian ini meliputi (1) Kerjasama Pemerintah Desa dengan Pokdarwis dalam mengelola dan mempromosikan Desa Wisata Canggu; (2) Peran Pemerintah Desa dan Pokdarwis dalam mengelola dan mempromosikan Desa Wisata Canggu; (3) Kendala yang muncul dalam kerjasama Pemerintah Desa dengan Pokdarwis dalam mengelola dan mempromosikan desa wisata Canggu; (4) Upaya mengatasi Kendala dalam kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Desa dengan Pokdarwis dalam mengelola dan mempromosikan desa wisata Canggu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa sumber data primer yakni Pemerintah Desa, Pokdarwis, Aparatur desa, masyarakat dan sumber data sekunder berupa profil desa, dokumentasi desa dan data jumlah pengunjung.  Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, sajian data (data display), penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh peneliti melakukan pengecekan data dengan cara menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi dalam menguji kredibilitas dibagi menjadi tiga yaitu Triangulasi sumber, Triangulasi Teknik dan Triangulasi waktu. Hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Desa dengan Pokdarwis terbagi menjadi 3 bentuk yaitu (1) kerjasama bagi hasil yaitu dari pengelolaan paket wisata di desa wisata canggu dengan pembagian 30% masuk khas desa, 30% untuk Pokdarwis sebagai pengelola, 30% untuk pemilik lahan outbound dan 10% untuk perawatan. (2) Kerjasama Fisik yaitu kerjasama dalam bentuk bantuan fisik seperti perbaikan sarana dan prasarana di desa wisata Canggu. (3) Kerjasama Langsung merupakan kerjasama hasil perintah dari atasan, pemimpin atau penguasa yaitu terlihat dalam pemberian kewenangan kepada Pokdarwis sebagai pengelola dan promosi desa wisata Canggu. Kedua, peran pemerintah desa dan Pokdarwis. Peran Pemerintah Desa yaitu (1) mengajukan bantuan dana PNPM Mandiri Pariwisata pada tahun 2013, (2) membentuk dan memberi kewenangan kepada Pokdarwis untuk mengelola desa wisata, (3) mengawasi dan memfasilitasi kegiatan Pokdarwis, (4) memberikan program-program kepada Pokdarwis. Sedangkan peran dari Pokdarwis adalah (1) pelaku atau aktor pariwisata, (2) Pengelola desa wisata Canggu, (3) Promosi desa wisata Canggu. Ketiga, kendala yang dihadapi saat ini terbagi 4, yaitu: (1) keterbatasan dana untuk pengembagan desa wisata, (2) rendahnya masyarakat untuk ikut serta menjaga kebersihan obyek wisata, (3) kurangnya masyarakat menumbuhkan ekonomi kreatif, (4) pemandu wisata yang belum bersertifikat. Keempat, upaya untuk menyelesaikan kendala tersebut terbagi menjadi 4, yaitu: (1) Mencantumkan di RPJM Desa dan membentuk BUMDes, (2) mengadakan pertemuan dan sosialisasi perihal pentingnya kebersihan lingkungan, (3) mengadakan pelatihan untuk meningkatkan ekonomi kreatif kepada masyarakat, (4) mengajukan permohonan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri untuk mengadakan pelatihan pemandu wisata.  Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain: kerjasama yang dijalin antara pemerintah Desa dengan Pokdarwis seharusnya ada perjanjian tertulis agar ada kekuatan hukum apabila terjadi permasalah antar pihak. Harus adanya peran dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri untuk perbanyak sosialisasi kepada masyarakat terkait sapta pesona pariwisata agar masyarakat mengetahui perannya sebagai tuan rumah yang baik

    Eksplorasi Ragam Nilai Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal dalam Motif Batik Trenggalek

    No full text
    ABSTRAK   Cahyani, Indah Budi. 2017. Eksplorasi Ragam Nilai Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal dalam Motif Batik Trenggalek. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd., M.Si, (II) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si.   Kata Kunci: Nilai Karakter, Nilai Kearifan Lokal, Motif Batik Trenggalek               Kebudayaan merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, yang bersifat turun-temurun dan terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keanekaragaman kekayaan, baik alam, maupun kerajinan. Salah satu kekayaan kebudayaan yaitu kerajinan batik. Batik merupakan seni warisan nenek moyang yang berupa gambar diatas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan raja-raja jaman dahulu. Terdapat beberapa daerah yang memproduksi batik di Indonesia salah satunya di Kabupaten Trenggalek. Setiap batik yang dibuat di masing-masing daerah memiliki motif dan karakteristik yang berbeda. Motif tersebut juga memiliki filosofi yang terkandung di dalamnya seperti yang telah diketahui pada motif-motif keraton seperti parang, kawung, dan lainnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ragam nilai karakter bangsa berbasis kearifan lokal dalam motif batik Trenggalek.             Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data yang diperoleh yaitu manusia, peristiwa, dan dokumen. Manusia disini yaitu pengrajin dan pemilik home industry batik Trenggalek, budayawan, informan dari Dinas Koperasi Industri Perdagangan Pertambangan dan Energi Kabupaten Trenggalek dan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan diakhiri penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara triangulasi sumber dan triangulasi teknik pengujian data dengan membandingkan antara wawancara, observasi, dan dokumentasi.             Berdasarkan data yang telah dikumpulkan diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pertama, gambaran batik Trenggalek yaitu batik Trenggalek sudah ada sejak tahun 1900 an dan mengalami perkembangan naik turun, warna batik Trenggalek yaitu sogan, wedelan, warna alam, hitam, dan warna mencolok, dengan jenis batik tulis, batik semi tulis, dan batik cap. Kedua, motif batik Trenggalek terdiri dari enam macam motif, yaitu motif parang cengkeh, motif kawung cengkeh, motif manggis, motif durian, motif turonggo yakso, dan motif arumi. Ketiga nilai karakter bangsa yang terkandung dalam motif batik Trenggalek yaitu tanggungjawab yang ada pada motif parang cengkeh, kerja keras ada pada motif parang cengkeh dan durian, adil terdapat dalam motif manggis, religi dalam motif turonggo yakso dan arumi, sabar dalam motif durian, jujur dalam motif manggis, cinta tanah air dalam semua motif batik Trenggalek, dan kreatif dalam motif arumi. Keempat, nilai karakter bangsa berbasis kearifan lokal dalam motif batik Trenggalek yaitu nilai ekonomi, pendidikan, gotong-royong, nilai kesenian dan keindahan yang memiliki hubungan dengan nilai karakter yang terkandung di dalam motif tersebut.             Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian ini sebagai berikut. Bagi instansi pemerintah agar batik Trenggalek lebih dicintai dan dikenal masyarakat sebaiknya menambah buku atau artikel yang membahas tentang batik Trenggalek dan lebih mempromosikan lagi beserta nilai-nilai yang terkandung di dalam motif tersebut, serta menjadikan batik sebagai raja di rumah sendiri dan menjalin kerjasama dengan daerah lain. Bagi pengrajin batik dan pemilik home industry agar batik Trenggalek terus berkembang seyogyanya senantiasa meningkatkan kualitas produksi batik Trenggalek, serta mengembangkan motif-motif batik Trenggalek yang diambil dari kebudayaan Trenggalek. Bagi masyarakat Trenggalek untuk meningkatkan rasa cinta terhadap batik Trenggalek seyogyanya mau belajar membuat batik dan mengenal serta mempelajari dari batik tersebut kemudian membeli dan bangga mengenakan batik khas daerah

    Peran Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Danau Kelimutu sebagai aset Wisata Daerah di Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur

    No full text
    ABSTRAK   Seru, Nona, Yuvita. 2017.PeranPemerintah Daerah dalam Pengelolaan Danau Kelimutu sebagai aset Wisata Daerah di Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur.Skripsi, JurusanHukumdanKewarganegaraan, UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si, (II) Dr. Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd.   Kata Kunci: Pengelolaan, Danau Kelimutu, Ende   Setiap daerah di Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan budaya yang dapat dijadikan potensi daya tarik wisata untuk dikembangkan menjadi sebuah daerah tujuan wisata. Salah satu daerah yang menjadi potensi daya tarik wisata adalah kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Salah satu aset wisata daerah yang sudah dimanfaatkan di kabupaten Ende adalah wisata alam yaitu adanya keindahan obyek wisata danau Kelimutu yang terletak dipuncak gunung Kelimutu. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan danau Kelimutu sebagai aset wisata daerah, kendala yang dihadapi dalam pengelolaan danau Kelimutu, solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kendala yang timbul dalam pengelolaan danau Kelimutu, serta dampak adanya wisata danau Kelimutu bagi masyarakat sekitar danau di kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Data penelitian merupakan data primer yaitu pengurus danau Kelimutu dan Masyarakat sekitar danau dan data sekunder berupa dokumen yang berkaitan dengan Taman Nasional Kelimutu. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data. Tahap analisis data dimulai dari tahap ekspected autcomes as a pattern, rival explanations as pattern, dan simpler patterns. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, peran pemerintah daerah dalam pengelolaan danau Kelimutu secara umum didukung oleh pemerintah daerah sehingga pengelolaannya yang dilakukan pemerintah tentunya baik. Namun realitanya peran besar dalam pengelolaan danau Kelimutu adalah Departemen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena danau kelimutu sudah termasuk dalam Taman Nasional. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan No.679/Kpts-II/1997 danau Kelimutu ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional Kelimutu yang luas wilayahnya sekitar 5.356,50 ha. Kedua, kendala yang dihadapi dalam pengelolaan danau Kelimutu adalah pada 1) akses ke lokasi danau Kelimutu, 2) Sumber daya manusia meliputi a) kurangnya petugas untuk stand by di pos-pos jaga, b) adanya  wisatawan yang menghindari tidak bayar tiket, c) wisatawan-wistawan yang tidak mengikuti jalur treking, dan 3) kondisi lingkungan.akses ke lokasi danau Kelimutu. Ketiga, dalam mengatasi kendala dalam pengelolaan danau Kelimutu, Taman Nasional Kelimutu bekerja sama dengan pemerintah daerah. Keempat, dampak adanya wisata alam danau Kelimutu sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar danau baik itu berupa dampak positif maupun negatif. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran-saran kepada, 1) pemerintah kabupaten Ende yaitu pemerintah daerah selaku penyangga kegiatan pariwisata disarankan untuk merancang pedoman yang komprehensif dalam upaya pengembangan strategi/program pembangunan pariwisata berbasis masyarakat baik dilihat dari aspek kriteria, konsep model (karakteristik daerah) maupun pedoman, mencakup: produk, market, pedoman, pelatihan SDM dan perencanaan bisnis (statement operational prosedur) untuk mengatasi tersendatnya upaya peningkatan peran serta masyarakat di bidang pariwisata, dan 2) masyarakat dengan menguatkan peran masyarakat adat setempat dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan pariwisata.

    Upaya Pelestarian Tari Bujang Ganong oleh Komunitas Urban Ganong di Kabupaten Ponorogo

    No full text
    ABSTRAK   Margantara Asa, Brillian. 2017. Upaya Pelestarian Tari Bujang Ganong oleh Komunitas Urban Ganong Di Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (1) Dr. Didik Sukriono, SH., M.Hum, (2) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd., S.H., M.Hum   Kata Kunci : Pelestarian, Bujang Ganong, Komunitas Urban Ganong,   Eksistensi budaya Tari Bujang Ganong mulai teralihkan di kalangan anak muda. Hal ini merupakan dampak dari kemajuan zaman yang begitu pesat sehingga menyebabkan eksistensi kebudayaan tradisional kurang di minati oleh kalangan anak muda. Oleh karenanya peneliti ingin meneliti Komunitas Urban Ganong yang tujuannya sebagai wadah untuk memunculkan kembali eksistensi kebudayaan tradisional di tengah derasnya arus perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam mecari data dari informasi yang terdiri dari Pendiri dan Ketua Komunitas Urban Ganong, Seniman, dan Pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan menggunakan metode yaitu : Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Analisi data dilakukan dengan cara reduksi data, display data dan mengambil kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, peneliti menggunakan uji kredibilitas dan tringulasi data. Adapun hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, upaya yang dilakukan oleh komunitas Urban Ganong dalam pelestarian tari Bujang Ganong dengan mengkreasikan tari Bujang Ganong dan seni gerak Parkour. Kedua, keterlibatan pihak-pihak dalam pelestarian tari Bujang Ganong antara lain seniman dan koreografer yang membantu komunitas Urban Ganong dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk pertunjukan, dan pihak Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Ponorogo yang mendukung dengan memberikan wadah komunitas Urban Ganong untuk berekspresi dalam panggung pertunjukan hiburan. Ketiga, kendala dalam upaya pelestarian tari Bujang Ganong dalam mengkrasi tari Bujang Ganong. Keempat, upaya mengatasi kendala dalam pelestarian tari Bujang Ganong dengan keterbukaan menerima hal-hal baru untuk di kreasikan. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian antara lain (1) Agar anak muda memanfaatkan adanya komunitas ini sebagai pengembangan diri dalam pendidikan non akademis. (2) Komunitas Urban Ganong sebaiknya mendata ke dalam buku induk kesenian agar keberadaanya diakui sebagai komunitas yang berdiri di Kabupaten Ponorogo

    PROGRAM PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN NGAWI DALAM PENGEMBANGAN WISATA SEJARAH BENTENG PENDEM (BENTENG VAN DEN BOSCH)

    No full text
    ABSTRAK   Bangsa Indonesia dewasa ini menyadari pentingnya pendidikan untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia secara optimal untuk menjadikan insan pembangunan yang berkualitas dan berkarakter. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam menyiapkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan oleh pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan diharapkan dapat memberi kontribusi nyata dalam pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional. Salah satu pengembangan karakter yang menjadi aspek Pendidikan Kewarganegraan adalah pengembangan civic disposition yang dapat dikembangkan pula pada kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) Civic disposition yang dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari, (2) Proses pengembangan civic disposition pada kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari, dan (3) Hambatan dalam mengembangkan civic disposition pada kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari. Pendekatan dan jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model model Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan lalu diverifikasi. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber maupun triangulasi teknik. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Civic disposition yang dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari terdiri dari karakter publik maupun karakter privat. Karakter publik yang dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari terdiri dari kepedulian sebagai warga negara, patuh terhadap aturan yang berlaku, berpikir kritis, kemauan untuk mendengar, bernegosiasi, dan berkompromi, serta melakukan tugas kepemimpinan sesuai dengan bakat dan kemauan. Sedangakan karakter privat yang dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari adalah bertanggung jawab, disiplin diri, menghargai, mandiri dan jujur. (2) Proses pengembangan civic disposition pada kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari dilakukan melalui kegiatan penempuhan SKU Bantara dan laksana, kemah hijau, pengabdian, kegiatan rutin pra-latihan, diskusi, rapat rutinan, konseling, jota-joti, dam latihan gabungan. (3) Hambatan dalam mengembangkan civic disposition pada kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMAN 1 Purwosari disebabkan oleh masalah kurangnya dukungan dari sekolah, kesibukan anggota Pramuka yang mengikuti lebih dari satu ekstrakurikuler, sehingga peserta didik tersebut sering meninggalkan waktu latihan Pramuka, minat dan antusias dari peserta didik dalam mengikuti kegiatan ekstraklurikuler Pramuka, hal itu terbukti dari ratusan peserta didik di SMAN 1 Purwosari hanya ada 50-80 orang yang mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Hambatan yang terakhir, dikarenakan perspektif peserta didik terhadap ekstrakurikuler Pramuka yang menganggap bahwa kegiatan ekstrakurikuler Pramuka itu menyusahkan karena banyaknya kegiatan penempuhan ataupun kegiatan Pramuka yang hanya bernyanyi dan bermain. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara  lain: Kegiatan latihan kepramukaan yang dilaksanakan di SMAN 1 Purwosari harus lebih bervariasi lagi, agar kegiatan kepramukaan yang telah dilaksanakan tersebut tidak terkesan monoton; Perlu adanya sosialisi ekstrakurikuler Pramuka kepada peserta didik sehingga dapat menarik minat dan mengubah perspektif peserta didik mengenai ekstrakurikuler Pramuka; Sekolah seharusnya lebih mendukung ekstrakurikuler Pramuka dalam mengembangkan karakter pada peserta didik dengan cara memasukkan pendidikan kepramukaan menjadi ekstrakurikuler wajib sesuai yang dicanangkan dalam Kurikulum 2013. Sejarah adalah suatu titik tolak atau tolak ukur yang dapat mengkaji segala hal, baik yang sudah terjadi beberapa masa lampau maupun memprediksi masa yang akan datang. Oleh adanya suatu sejarah, bangunan atau peristiwa tertentu dapat diketahui asal-muasalnya. Sangatlah penting menjaga dan melestarikan sejarah. Adapun cara yang tepat untuk menyajikan sejarah agar tak terlupakan adalah dengan mengkaitkannya dengan pariwisata. Jenis pariwisata tersebut adalah wisata sejarah. Dimana objek sejarah dikemas menjadi objek wisata, yaitu objek wisata sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data yang diperoleh melalui data primer dan data sekunder. Data yang didapat melalui hasil lapangan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Data primer diperoleh dari pengunjung, pengelola dan kalangan pemerintah daerah. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui fakta peristiwa yang terjadi dilapangan dan dokumen yang mendukung. Instrument peneliti dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menurut Miles and Huberman, dengan langkah awal pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan diakhiri penarikan kesimpulan. Pemeriksaan keabsahan temuan dilakukan dengan dengan cara ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa (1) Kondisi Benteng Van Den Bosch saat ini kurang baik, dikarenakan faktor usia juga belum terlaksananya rencana perbaikan benteng. (2) Pemerintah sudah mengupayakan beberapa kegiatan untuk mengembangkan benteng, diantaranya melalui uji material, revitalisasi, ekskavasi dan promosi. (3) Kedepannya pemerintah akan melancarkan kegiatan pelestarian, pemugaran dan pengembangan benteng, dengan pemanfaatan yang tepat. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan ada peran serta pengunjung, pengelola dan pemerintah guna mengembangkan dan melestarikan keberadaan Benteng Van Den Bosch. Utamanya dari pihak pengelola agar segera memberikan izinnya guna melancarkan program pemerintah daerah untuk mengembangkan benteng

    Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati di Desa Ranuklindungan Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan

    No full text
    ABSTRAK   Nurviana, Vilda. 2017. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati Di Desa Ranuklindungan Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si. (II) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum. Kata Kunci: nilai, kearifan lokal, Upacara Adat Distrikan, Desa Ranuklindungan Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang ada di Desa Ranuklindungan Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati dilaksanakan setiap bulan suro pada hari Jumat. Masyarakat Desa Ranuklindungan hingga sekarang tetap melaksanakan tradisi secara turun menurun, sebagai warisan dari leluhur. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pembahasan mengenai Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup, asal-usul Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati, tujuan diadakannya Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati, proses dan pelaksanaan Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati, nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati, hambatan dan cara mengatasi hambatan dalam pelaksanaan Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif kualitatif. Dalam mencari data, diperoleh melalui informan yang terdiri dari Kepala Desa Ranuklindungan. Panitia pelaksana Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati, anggota masyarakat Desa Ranuklindungan. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu : observasi, wawancara dan dokumentasi-dokumentasi yang berada di lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan cara mengumpulkan dan mengecek data yang diperoleh dari lapangan, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh peneliti melakukan pengecekan data dengan cara sebagai berikut keikutsertaan peningkatan ketekunan dan triangulasi dan menggunakan bahan referensi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan YME dan penunggu Danau Ranu “Baruklinthing. Kedua, Tujuan Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati adalah selamatan Danau Ranu. Awalnya Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati dilaksanakan oleh tiga Desa yaitu : Desa Ranuklindungan, Dawesari dan Bebekan berbeda waktu pelaksanaannya, namun sekarang yang melaksanakan Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati hanya Desa Ranuklindungan yang paling dekat dengan Danau Ranu Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati dilaksanakan setiap bulan suro di hari Jumat. Ketiga, Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati dilaksanakan sejak pagi yang diawali dengan kirab budaya dari kawedanan menuju pendopo Danau Ranu, dilanjutkan dengan ritual Larung Sesaji dan ditutup dengan do’a. Keempat, Pada Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang nampak didalamnya, yaitu nilai religi, nilai gotong royong, nilai kerukunan, nilai kesederhanaan, nilai kebersamaan, dan nilai keindahan. Kelima, selama pelaksanaan Tradisi Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati ditemui beberapa hambatan diantaranya, masalah kepanitiaan, hujan dan kurangnya dana. Keenam, untuk mengatasi hambatan tersebut ada beberapa hal yang digunakan sebagai alternatif solusi yaitu, 1) meningkatkan koordinasi diantara panitia, dan melaksanakan rapat koordinasi kepanitiaan Upacara Adat Distrikan Danau Ranu Grati secara rutin sebelum hari pelaksanaan, 2) mendatangkan pawang hujan, 3) bantuan dari Pemerintah Desa Ranuklindungan dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan serta hasil swadaya masyarakat Desa Ranuklindungan. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian yaitu: perlunya menjaga dan melestarikan kearifan lokal sebagai warisan budaya leluhur terutama untuk generasi muda. Sebagai penerus bangsa, pemuda-pemuda Indonesia harus lebih peduli dan menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan agar warisan-warisan leluhur tetap terjaga nilai-nilainya. Selain itu, perlunya penelitian lanjutan terhadap kebudayaan nasional agar masyarakat lebih mengenal, memahami, menambah wawasan dan peduli terhadap kebudayaan nasional. Oleh karena itu, dibutuhkan peran sebuah lembaga pendidikan terutama dilingkungan akademis untuk menampung segala temuan penelitian yang terkait dengan kebudayaan bangsa. Serta, adanya peran Pemerintah juga penting untuk menjaga kelangsungan kebudayaan yang ada di masyarakat, misalnya dengan membantu anggaran dana untuk keberlangsungan suatu kebudayaan

    SOLIDARITAS SOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS MOTOR KAWASAKI NINJA 15O BLITAR “SERIKAT NINJA INDEPENDENT”

    No full text
    ABSTRAK   SOLIDARITAS SOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS MOTOR KAWASAKI NINJA 15O BLITAR “SERIKAT NINJA INDEPENDENT” Disusun oleh : Hakim Wahyudi (140711604381) S1 PPKN UNIVERSITAS NEGERI MALANG Dunia otomotif di negara Indonesia semakin berkembang dan bertambah maju seiring dengan berkembangnya zaman, hal ini dapat terlihat dari banyaknya komunitas-komunitas yang ada, contohnya dalam bidang otomotif, komunitas motor. Komunitas motor semakin banyak bermunculan dan berkembang di kota-kota besar maupun kota kecil. Di daerah Blitar terdapat banyak komunitas motor, salah satunya adalah komunitas motor kawasaki ninja 150 Blitar (BNC 150). Komunitas ini terdiri dari pemilik motor ninja 150 cc dan 250 cc yang ada di daerah kota Blitar maupun kabupaten Blitar. Dalam sebuah kelompok masyarakat rasa solidaritas sosial antar anggota itu sangat penting sekali karena dengan solidaritas sosial yang tinggi maka anggota di dalam kelompok tersebut secara tidak langsung memiliki hubungan yang sangat erat sekali seperti hubungan kekeluargaan.Solidaritas dalam komunitas ini meliputi solidaritas mekanis, solidaritas organik, solidaritas internal dan solidaritas eksternal. Kata kunci: Komunitas, Solidaritas, Solidaritas Sosial

    PRESEPSI MASYARAKAT TERHADAP EFEKTIVITAS PELAYANAN PROGRAM RASKIN

    No full text
     Program raskin diluncurkan dalam rangka mengamankan kondisi rawan pangan yang di akibatkan oleh krisis yang berkempanjangan dan menurunnya daya beli masyarakat, dengan tujuan untuk meningkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu bahwa masyarakat pada saat ini jauh dari kondisi sejahtera, maka perlu indikator-indikator masyarakat yang telah mencapai kesejahteraan. Usaha-usaha kesejahteraan sosial merupakan suatu organisasi yang formal. Pemberian bantuan dan amal perorangan, walaupun mereka mengadakan usaha kesejahteraan namun demikian tidak terorganisasi secara formal. Juga pelayanan-pelayanan dan bantuan dalam hubungan saling menolong seperti keluarga, sahabat-sahabat, tetangga, kelompok-kelompok kekerabatan dan semacamnya tidak termaksud dalam pengertian struktur kesejahteraan sosial (sebagai sistem sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia). Kata Kunci: Presepsi, Masyarakat, Efetivitas, Pelayanan, Program, Raski

    0

    full texts

    436

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇