SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
436 research outputs found
Sort by
Peran Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Dalam Mengembangkan Desa Wisata di Kabupaten Blitar
ABSTRAK Setyowati, Nika Dwi. 2017.Peran Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Dalam Mengembangkan Desa Wisata di Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si, (II) Dr. Siti Awaliyah, S.Pd., SH., M.Hum. Kata Kunci: Peran ASIDEWI, desa wisata, Kabupaten Blitar Asosiasi desa wisata Indonesia atau biasa dikenal dengan singkatan ASIDEWI merupakan organisasi non-pemerintah dan non-profit. Asidewi Indonesia terbentuk dari perkembangan pariwisata global yang menitik beratkan masyarakat lokal sebagai subjek pembangunan pariwisata dalam hal ini adalah desa wisata. Masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan memiliki kedudukan dan peran penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan pariwisata. Oleh karena itu, dalam kerangka perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan pembangunan kepariwisataan, dan untuk mendukung keberhasilan pembangunan kepariwisataan, maka setiap upaya atau program pembangunan yang dilaksanakan saat ini memperhatikan posisi, potensi, dan peran masyarakat sebagai subjek atau pelaku pembangunan. Sehingga keberhasilan pembangunan pariwisata khususnya desa wisata dibutuhkan peran serta masyarakat mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mengetahui (1) menjelaskan program Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar, (2) menjelaskan peran Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar (3) menjelaskan kendala yang dihadapi oleh Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar, (4) menejelaskan upaya yang dilakukan oleh Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) mengatasi kendala dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan dalam penelitian ini yaitu (1)Ketua umum asosiasi desa wisata Indonesia (ASIDEWI), (2) Ketua umum asosiasi desa wisata Indonesia (ASIDEWI) Kabupaten Blitar, (3)Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Parbudpora) Kabupaten Blitar, (4)Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Blitar, (5)Kepala desa wisata Serang, (6)Kepala desa wisata agropolitan Karangsono. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi dari segi sumber data dan metode pengambilan data. Hasil penelitian diketahui bahwa (1) Program asosiasi desa wisata Indonesia (ASIDEWI) dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar dengan melalui beberapa kegiatan yatitu kegiatan pelatihan kepariwisataan, kegiatan sertifikasi kepariwisataan dan visitasi pendampingan desa wisata, (2) Peran asosiasi desa wisata Indonesia (ASIDEWI) dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar dapat diketahui dari beberapa program kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut (a) kegiatan pelatihan kepariwisataan berperan untuk penguatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di desa wisata,(b) Sertifikasi kepariwisataan, ASIDEWI berperan untuk menjembatani program pemerintah yaitu kementerian pariwisata untuk sertifikasi yang bertujuan agar profesi kepariwisataan yang ada di desa wisata diakui dan dihargai Negara sekaligus untuk meningkatkan kompetensi, (c) visitasi pendampingan desa wisata sebagai wadah berdiskusi mengenai kegiatan yang sudah dilakukan di desa wisata dan juga kegiatan yang direncanakan untuk kedepannya, (d) wadah berjejaring antar desa wisata, berperan sebagai wadah berjejaring bertukar informasi antar desa wisata di seluruh Indonesia (3) kendala yang dihadapi oleh asosiasi desa wisata Indonesia (ASIDEWI) dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar ialah masalah koordinasi karena desa sendiri mempunyai kegiatan lain selain tentang kepariwisataan, keaktifan anggota Asidewi yang kurang karena setiap anggota fokus dengan desa masing-masing dan ketua Asidewi Kabupaten Blitar sendiri adalah kepala desa wisata Serang yang tentunya memiliki kegiatan lain di desa diluar Asidewi (4) upaya yang dilakukan oleh Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) mengatasi kendala dalam mengembangkan desa wisata di Kabupaten Blitar adalah untuk kendala koordinasi dengan re schedule jadwal kegiatan, permasalahan keaktifan anggota yang terlalu sibuk dengan desa wisatanya sendiri dapat dilakukan dengan komunikasi di dunia maya sehingga walaupun tidak bisa bertemu langsung tetap ada
Pengamalan Nilai-nilai Pancasila dalam Pluralisme Agama di SMPN 1 Wates Kabupaten Blitar
ABSTRAKNovitasari, Chinta. 2017. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam Pluralisme agama di SMPN 1 Wates Kabupaten Blitar. Program Studi Pendikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Suparman AW, SH., M.Hum, (2) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd., MHKata kunci: Nilai-nilai Pancasila, Pancasila, Pluralisme Agama, Pengamalan nilai-nilai PancasilaIndonesia adalah salah satu negara dengan pluralisme agama yang tinggi di Indonesia. Pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan hal yang wajib dilakukan bagi seluruh rakyat Indonesia karena itulah Indonesia menerapkan pendidikan Pancasila mulai dari pendidikan sekolah dasar sampai dengan pendidikan tingkat tinggi. Pengamalan nilai-nilai Pancasila tidak hanya diajarkan melalui pelajaran pendidikan Pancasila saja, tetapi pengamalan nilai-nilai Pancasila juga diajarkan di dalam setiap kegiatan di dalam sekolah. SMPN 1 Wates adalah salah satu sekolah dengan pluralisme agama yang tinggi di kecamatan wates, yang menerapkan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan belajar dan pembelajaran maupun kegiatan sekolah.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pluralisme agama di SMPN 1 Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam Pluralitas Agama di SMPN 1 Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar. (3) Mendeskripsikan faktor pendukung dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam Pluralisme Agama di SMPN 1 Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar. (4) Mendeskripsikan kendala yang dihadapi guru dan siswa dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila di SMPN 1 Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar (5) Mendeskripsikan cara mengatasi kendala yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam Pluralisme agama di SMPN 1 Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar.Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan deksiriptif-kualitatif. Untukk mencapai tujuan tersebut data dikumpulkan dengan cara melakukan studi wawancara, dokumentasi, observasi non partisipasif. Untuk menjaga keabsahan data peneliti melakukan teknik ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar dengan objek penelitian adalah perilaku siswa dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila di SMPN 1 Wates kecamatan Wates.Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa adanya Pluralisme agama yang tinggi di SMPN 1 Wates yaitu adanya komposisi siswa yang beragama Islam, Katolik, Hindu, dan Kristen. Dengan adanya pluralisme agama yang tinggi di SMPN 1 Wates maka sekolah menerapkan sistem pemisahan kelas berdasarkan agama.Kedua, penelitian menunjukan bahwa siswa-siswi dan guru SMPN 1 Wates mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan belajar-mengajar maupun di dalam kegiatan yang dilakukan diluar kelas. Pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dilakukan siswa adalah dengan melakukan kegiatan sabtu beriman yang adakan oleh pihak sekolah.Ketiga, hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa adanya pengamalan nilai-nilai Pancasila di SMPN 1 Wates didukung oleh lingkungan di sekitar sekolah yang memiliki pluralisme agama yang tinggi namun tetap menjaga kerukunan antar umat beragama, faktor pendukung lainya adalah adanya kegiatan-kegiatan sekolah yang mendukung adanya pengamalan nilai-nilai, kemudian adanya pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dicontohkan oleh guru dan warga sekolah. Keempat, penelitian menunjukan bahwa dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila di dalam kegiatan belajat dan mengajar maupun di dalam kegiatan sekolah, siswa dan guru memiliki kendala yaitu (1) adanya sistem pemisahan kelas berdasarkan agama; (2) tidak adanya fasilitas untuk mendukung kegiatan belajar keagamaan bagi siswa yang beragama Hindu, Kristen, dan Katolik; (3) adanya pemahaman siswa tentang nilai-nilai Pancasila yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh guru PPKn dan guru agama Katolik. (4) adanya penempatan siswa dengan tingkatan yang berbeda didalam satu kelas.Kelima, upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah adalah dengan cara; (1) mengadakan sarana dan prasarana yang digunakan untuk praktik keagamaan bagi siswa yang beragama Hindu, Katolik, dan Kristen; (2) pelaksanaan jadwal pelajaran agama siswa dapat menggunakan jadwal pada hari sabtu selama empat jam pelajaran dengan cara bergantian, sedangkan untuk kelas yang ditinggalkan dapat dijadwalkan untuk pelajaran agama Islam; (3) pelaksanaan pembelajaran agama katolik, kristen, dan hindu yang diterapkan dengan menempatkan siswa yang berada di tingkatan berbeda; (4) pengawasan dan bimbingan secara langsung pada siswa yang kurang bertanggung jawabSaran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian di SMPN 1 Wates adalah; (1) pihak SMPN 1 Wates senantiasa menerapkan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam Pluralisme agama; (2) warga SMPN 1 Wates senantiasa menjaga kerukunan di dalam Pluralisme Agama; (3) agar SMPN 1 Wates mengadakan sarana prasarana yang dapat digunakan bagi siswa yang beragama Hindu, Kristen, dan Katolik. ABSTRACTNovitasari, Chinta. 2017. The implementation of Pancasila values in religious pluralism in SMPN 1 Wates, Blitar regency. Study Program Pancasila and Citizenship, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor (1) Drs. Suparman AW, SH., M. Hum, (2) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd., MHKeywords: Value of Pancasila, Pancasila, Religious Pluralism, Pancasila values Indonesia is one of the countries with high religious pluralism in Indonesia. The practice of Pancasila values is a must for all Indonesians because the ideals of Indonesia apply Pancasila education from elementary school education to higher education level. The practice of Pancasila values can not only be taught through Pancasila education lessons, but the practice of Pancasila values is also taught in every activity in the school. SMPN 1 Wates is one of the schools with high religious pluralism in wates sub-district, which implements the values of Pancasila in learning and learning activities and school activities.This study aims to describe: (1) religious pluralism in SMPN 1 Wates District Wates Blitar regency. (2) Describe the practice of Pancasila values in Plurality of Religion at SMPN 1 Wates Wates Sub-district of Blitar Regency. (3) Describe the supporting factors in practicing Pancasila values in Religious Pluralism in SMPN 1 Wates Wates District Blitar District. (4) Describe the obstacles faced by teachers and students in implementing the values of Pancasila in SMPN 1 Wates Wates Sub-District Blitar District (5) Describes how to overcome the obstacles faced by students and teachers in practicing the values of Pancasila in religious pluralism at SMPN 1 Wates District Wates Blitar District.The approach taken in this research is using the approach deksiriptif-qualitative. To achieve these objectives data were collected by conducting interview studies, documentation, non participatory observation. To maintain the validity of the data the researcher performs the techniques of observational persistence and triangulation of data. The study was conducted at State Junior High School 1 Wates Wates District Blitar District with the object of research is the behavior of students in practicing the values of Pancasila in SMPN 1 Wates Wates district.The research findings show that the existence of high religious pluralism in SMPN 1 Wates is the composition of students who are Muslim, Catholic, Hindu, and Christian. With the existence of high religious pluralism in SMPN 1 Wates then the school implements a system of class separation based on religion.Second, research shows that students of SMPN 1 Wates practice Pancasila values in teaching and learning activities as well as in activities conducted outside the classroom. The practice of Pancasila values that students do is to conduct the activities of the believer held by the school.Thirdly, the findings of the research indicate that the existence of Pancasila values in SMPN 1 Wates is supported by the environment around schools that have high religious pluralism while maintaining inter-religious harmony, other supporting factors are the existence of school activities that support the practice values, then the existence of the values of Pancasila that are exemplified by teachers and school residents.Fourth, the research shows that in implementing Pancasila values in teaching and learning activities as well as in school activities, students and teachers have obstacles that are (1) the existence of class separation system based on religion; (2) lack of facilities to support religious learning activities for students of Hindu, Christian, and Catholic; (3) students' understanding of Pancasila values are different from those taught by KDP teachers and Catholic religious teachers. (4) the placement of students with different levels in one class.Fifth, the effort made in solving the problem is by the way; (1) establishing facilities and infrastructure used for religious practice for Hindu, Catholic and Christian students; (2) the implementation of the religious lesson schedule students can use the schedule on Saturdays for four hours of lessons by turn, while for the abandoned classes can be scheduled for Islamic religious lessons; (3) the implementation of Catholic, Christian, and Hindu teaching applied by placing students at different levels; (4) direct supervision and guidance on students who are less responsibleSuggestion given by researcher after doing research in SMPN 1 Wates is; (1) the SMPN 1 Wates always implements the practice of Pancasila values in religious pluralism; (2) citizens of SMPN 1 Wates always maintain harmony in Religious Pluralism; (3) for SMPN 1 Wates to provide facilities that can be used for students who are Hindu, Christian, and Catholic. 
MEMPERTAHANKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DARI ANCAMAN GLOBALISASI
ABSTRAK Globalisasi telah masuk dan membawa dampak yang baik dan buruk terhadap Negara Republik Indonesia. Sebagai negara kesatuan sebagaimana yang terdapat dalam pasal 1 ayat (1) UUD NRI 1945 dan tujuan negara yang dituangkan dalam pembukaan UUD NRI 1945 alinea kedua dan keempat. Para pejuang terdahulu membangun Negara Republik Indonesia dengan semangat perjuangan dan pengorbanan yang tinggi. Untuk itu, kita harus mempertahankan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman yang masuk kedalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
IMPLEMENTASI POLITIK DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA YANG BERBANGSA DAN BERNEGARA
ABSTRAK: Pada perkembangan negara Indonesia yang mengatasnamakan demokrasi ini, istilah politik bukan merupakan hal yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia, seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya politik membawa pengaruh yang baik bagi partisipasi politik di Indonesia. Praktik politik di Indonesia berkembang mengikuti mobilitas yang ada di masyarakat, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hambatan yang pada umumnya yaitu kurangnya kesadaran berpartisipasi politik pada setiap individu, kurangnya sosialisasi politik, kurangnya pengetahuan tentang dunia politik, dan anggapan yang negatif pada dunia politik yang ada di Indonesia. Dalam hal ini peran sistem politik sangat penting yaitu mempunyai kegunaan untuk masyarakat Indonesia yaitu membuat suatu kebijakan guna kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkaitan dengan upaya pemerintah dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan akan politik serta sosialisasi politik yang tentunya akan berpengaruh pada keaktifan dalam berpartisipasi politik pada setiap individu. Politik memberi jalan untuk bagi para calon pemimpin untuk menyalurkan profesionalismenya di bidang kepemimpinan yang nantinya akan diseleksi melalui partai politik dan dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum secara langsung. Kata Kunci: penerapan politik, perkembangan politik, sistem politik, kehidupan politik masyarakat Indonesia
PERAN KOMUNITAS 1000 GURU MALANG DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN PEDALAMAN MELALUI PROGRAM TRAVELING AND TEACHING DI KABUPATEN MALANG
Abstrak Kata kunci: peran, komunitas 1000 Guru Malang, pendidikan pedalaman Pendidikan merupakan sarana memperbaiki sumber daya manusia dengan memberikan pendidikan kepada peserta didik secara sistematis. Faktor yang mendukung pendidikan yaitu faktor dari dalam (intern) meliputi kondisi fisik, jasmani maupun rokhani dan faktor dari luar (ekstern) yaitu keadaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyrakat. Kedua faktor tersebut harus berjalan seimbang karena mempunyai peranan yang penting untuk menciptakan pendidikan yang dapat mencapai cita-cita nasional. Komunitas 1000 Guru malang merupakan bentuk partisipasi generasi bangsa yang peduli terhadap pendidikan pedalaman di Kabupaten Malang melalui program komunitas yaitu traveling and teaching. Tujuan dilakukan penelitian ini meliputi: (1) latar historis berdirinya komunitas 1000 Guru Malang, (2) program traveling and teaching, (3) peran komunitas 1000 Guru Malang melalui program traveling and teaching, (4) kendala yang dihadapi oleh komunitas 1000 Guru Malang dalam kegiatan traveling and teaching di Kabupaten Malang, dan (5) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh komunitas 1000 Guru Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data informan terdiri anggota komunitas, pihak sekolah, dan relawan. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data dan mengeceknya ulang yang diperoleh dilapangan. Hasil penelitian dijabarkan sebagai berikut. Pertama, latar historis berdiri komunitas 1000 Guru Malang merupakan gabungan dari komunitas 1000 Guru di regional Malang, tujuan komunitas yaitu peduli terhadap pendidikan pedalaman. Kedua, program traveling and teaching merupakan kegiatan mengunjungi sekolah pedalaman dan mengunjungi wisata lokal. Ketiga, peran komunitas 1000 Guru Malang melalui program traveling and teaching yaitu: mengajar, pemberian motivasi, penyuluhan gizi, pengobatan gratis, kegiatan pentas seni, dan traveling. Keempat, kendala yang dihadapi oleh komunitas sebagai berikut, miskomunikasi antar anggota tim, relawan, dan sponsorship, relawan yang kurang bertanggungjawab, perizinan, dan kesibukan para anggota. Dan kelima, upaya mengatasi kendala dengan meningkatkan kerjasama yang baik diantara anggota tim, relawan, dan sponshorship
SOLIDARITAS SOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS MOTOR KAWASAKI NINJA 15O BLITAR “SERIKAT NINJA INDEPENDENT”
ABSTRAK Dunia otomotif di negara Indonesia semakin berkembang dan bertambah maju seiring dengan berkembangnya zaman, hal ini dapat terlihat dari banyaknya komunitas-komunitas yang ada, contohnya dalam bidang otomotif, komunitas motor. Komunitas motor semakin banyak bermunculan dan berkembang di kota-kota besar maupun kota kecil. Di daerah Blitar terdapat banyak komunitas motor, salah satunya adalah komunitas motor kawasaki ninja 150 Blitar (BNC 150). Komunitas ini terdiri dari pemilik motor ninja 150 cc dan 250 cc yang ada di daerah kota Blitar maupun kabupaten Blitar. Dalam sebuah kelompok masyarakat rasa solidaritas sosial antar anggota itu sangat penting sekali karena dengan solidaritas sosial yang tinggi maka anggota di dalam kelompok tersebut secara tidak langsung memiliki hubungan yang sangat erat sekali seperti hubungan kekeluargaan.Solidaritas dalam komunitas ini meliputi solidaritas mekanis, solidaritas organik, solidaritas internal dan solidaritas eksternal. Kata kunci: Komunitas, Solidaritas, Solidaritas Sosial
Pancasila Vs Globalisasi
ABSTRAK Memasuki Era Globalisasi ini banyak pengaruh dunia luar yang masuk dan berkembang di Indonesia. Budaya luar baik dari Barat yang liberal maupun dari Timur yang ekstrim seperti menginvasi negeri kita Indonesia. Indonesia sekarang ini seperti berada didalam sebuah pusaran budaya asing yang terus membelenggu generasi bangsa kita, serta terus mengombang-ambingkan pendirian dan ideologi masyarakat kita sehingga mereka melupakan Ideologi Pancasila yang seharusnya menjadi fondasi dan pegangan bagi pembangunan Bangsa kita. Oleh karena itu kita haruslah menggali kembali nilai Pancasila, agar dapat kita jadikan sebagai benteng untuk menghadapi invasi budaya asing dan dampak negatif globalisasi
PEMBIASAAN NILAI-NILAI 7K SEBAGAI UPAYA GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL PADA PESERTA DIDIK DI SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG KOTA MALANG
ABSTRAK Program 7K merupakan kegiatan pembinaan kesiswaan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008. Nilai-nilai yang terkandung dalam 7K adalah Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kedamaian, dan Kerindangan. Pelaksanaan nilai-nilai 7K disesuaikan menurut kebutuhan sekolah masing-masing. SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang menerapkan program 7K yang terdiri dari Keimanan, Keamanan, Kebersihan, Kekeluargaan, Kedisiplinan, Ketertiban, dan Keindahan. Program 7K sebagai kegiatan pembinaan kesiswaan berupaya menciptakan peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur melalui pola-pola pembiasaan agar terjadi perubahan cara berpikir dari tidak baik menjadi baik atau biasa disebut dengan istilah revolusi mental. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) nilai-nilai yang terkandung dalam program 7K di SMA Laboratorium UM (2) bentuk pembiasaan nilai-nilai 7K di SMA Laboratorium UM (3) peran guru dalam pembiasaan nilai-nilai 7K di SMA Laboratorium UM (4) kendala yang dihadapi dalam pembiasaan nilai-nilai 7K di SMA laboratorium UM. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian ini, peneliti berusaha memberikan gambaran mengenai pembiasaan nilai-nilai 7K sebagai upaya revolusi mental pada peserta didik di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian data yang berupa catatan lapangan, wawancara, maupun dokumentasi disusun secara sistematis dan objektif dengan menggunakan analisis data yakni reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan/verifikasi. Tujuannya agar dapat memberikan penjelasan secara mendetail dan sesuai kenyataan tanpa ada rekayasa. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, Nilai-nilai yang terkandung dalam program 7K di SMA Laboratorium UM adalah Keimanan, Keamanan, Kebersihan, Kekeluargaan, Kedisiplinan, Ketertiban, dan Keindahan. Kedua, Bentuk pembiasaan nilai-nilai 7K di SMA Laboratorium UM meliputi: (1) kegiatan rutin yaitu melaksanakan sholat bersama, membaca Kitab Suci bersama, morning motivation, (2) kegiatan spontan yaitu menegur peserta didik yang bersikap kurang baik, memberi pujian kepada peserta didik yang bersikap baik, (3) keteladanan yaitu bapak ibu guru memberi contoh yang baik dalam segala hal, (4) pengondisian lingkungan yaitu menciptakan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter. Ketiga, Peran guru dalam pembiasaan nilai-nilai 7K di SMA Laboratorium UM yaitu (1) guru berperan mengingatkan, (2) guru memberikan sanksi, (3) guru memberi teladan. Keempat, Kendala yang dihadapi dalam pembiasaan nilai-nilai 7K di SMA Laboratorium UM meliputi (1) peserta didik kurang memiliki kesadaran terhadap diri sendiri, (2) kurang peduli dengan lingkungan sekitar, (3) kurangnya konsistensi bapak ibu dalam menerapkan pembiasaan karena kesibukan Berdasarkan hasil penelitian di atas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah (1) pembiasaan nilai-nilai 7K di sekolah dijadian kebiasaan sehari-hari tidak semata-mata karena kendali aturan sekolah (2) orang tua memberikan respon positif dengan mendukung anaknya ikut dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah sehingga anak dapat berkembang menjadi mandiri (3) bapak ibu guru lebih konsistensi dalam melaksanakan pembiasaan nilai-nilai 7K dengan terus mengingatkan kepada peserta didik, memberikan motivasi, dan memberikan teladan, (4) menciptakan kondisi psikologis yang baik untuk peserta didik. Kata Kunci: Nilai-nilai 7K, Revolusi Mental, SMA Laboratorium U
PENGEMBANGAN BUDAYA TOPENG MALANGAN MELALUI PENDEKATAN SOSIAL KEMASYARAKATAN
ABSTRAK Malang mask puppet is a culture that formed in traditional mask dance. As if another culture, Malang mask puppet have many fluctuation in its development. Along the epoch development, the citizen begin to leave this special art of Malang. The citizen were felt so reluctant to study this Malang mask puppet dance especially for the young generation. Whereas this young generation actually should be the resumption of Malang mask puppet dance in order to make this culture still alive. So that, nowadays we need an effort to make Malang mask puppet known again by the citizen in order that Malang mask puppet will not sink and scraped anymore by the epoch development
PENANAMAN NILAI KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA KELAS XII SMAN 1 MEJAYAN KABUPATEN MADIUN
ABSTRAK Wulandari, Tya. 2018. Penanaman Nilai Karakter Peduli Lingkungan Melalui Mata Pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Pada Kelas XII SMAN 1 Mejayan Kabupaten Madiun. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparman A.W, S.H., M.Hum, (II) Dr. Edi Suhartono, S.H, M.Pd. Kata Kunci:Nilai Karakter, Peduli Lingkungan, Pendidikan Lingkungan Hidup Karakter merupakan perilaku manusia baik dalam bentuk sikap maupun ucapan. Sedangkan, nilai karakter peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Nilai karakter peduli lingkungan dapat ditanamkan melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup, termasuk di SMAN 1 Mejayan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui nilai karakter peduli lingkungan yang terdapat dalam mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup kelas XII SMAN 1 Mejayan, (2) mengetahui cara penanaman nilai karakter peduli lingkungan melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup pada kelas XII SMAN 1 Mejayan, (3) mengetahui hambatan pendidik dalam menanamkan nilai karakter peduli lingkungan kepada peserta didik, dan (4) solusi agar peserta didik mampu memahami nilai karakter peduli lingkungan yang terdapat pada mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul dilaksanakan pengecekan keabsahan data dengan tiga teknik, yaitu teknik ketekunan pengamatan, teknik triangulasi (triangulasi observasi, triangulasi sumber dan triangulasi dokumentasi) serta teknik pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh empat hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, nilai karakter peduli lingkungan yang terdapat pada mata pelajran pendidikan lingkungan hidup adalah nilai menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis, peduli, kebersihan, ketertiban dan keindahan. Kedua, penanaman nilai karakter peduli lingkungan dilakukan melalui kegiatan intra dan ekstra. Kegiatan intra dilakukan didalam kelas menggunakan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan silabus, sedangkan kegiatan ekstra dilakukan diluar kelas dengan melakukan penanaman nilai karakter peduli lingkungan melalui pembiasaan, keteladanan dan kerjasama.Ketiga, hambatan yang ditemui pendidik dalam menanamkan nilai karakter peduli lingkungan adalah kurangnya tempat untuk melaksanakan kegiatan praktik budidaya tanaman produktif maupun tanaman hias. Keempat, solusi agar peserta didik melaksanakan kegiatan praktik budidaya tanaman adalah dengan melaksanakan kegiatan tersebut dirumah masing- masing kelompok