SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    436 research outputs found

    Partisipasi Masyarakat dalam Melestarikan Tradisi Slametan Metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun

    No full text
    ABSTRAK Firma, Tri Aulia. 2019. Partisipasi Masyarakat dalam Melestarikan Tradisi Slametan Metik di Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si    Kata Kunci : masyarakat, tradisi, slametan metik. Manusia tidak dapat hidup sendiri di masyarakat, maka dari itu setiap manusia akan selalu melakukan interaksi dengan orang lain di dalam masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi tersebut dapat menciptakan sebuah kebudayaan. Kebudayaan sebenarnya berkaitan dengan akal dan budi manusia. Tanpa disadari, apa yang terjadi di dalam masyarakat baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar sebenarnya tidak lepas dari kebudayaan baik yang bersifat tradisi maupun adat. Tradisi masyarakat Jawa yang hingga saat ini masih dilaksanakan adalah slametan metik. Mengingat pentingnya tradisi slametan metik bagi masyarakat khususnya bagi petani yang dalam pelaksanaannya sudah mulai jarang dilakukan oleh masyarakat pada jaman modern saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, (2) mendeskripsikan partisipasi masyarakat dalam melestarikan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, (3) dan mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam melestarikan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun serta (4) penyelesaian dari penghambat dalam melestarikan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi Penelitian ini berada di Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Sumber data peneliti yaitu informan, peristiwa, dan dokumen. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis domain dengan langkah memilih hubungan samatik tunggal, membuat lembar analisis domain, membuat sampel catatan lapangan, dan mengkaji istilah cakupan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan menggunakan teknik triangulasi. Temuan penelitian ini adalah: (1) pelaksanaan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun meliputi: tahap persiapan sebelum melaksanakan slametan metik, tahap pelaksanaan slametan metik, dan tahap penutup. (2) Bentuk partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Banjarsari Wetan meliputi: partisipasi tenaga, partisipasi fikiran, partisipasi keahlian, partisipasi barang, dan partisipasi uang. (3) Faktor pendukung dan faktor penghambat masyarakat melaksanakan tradisi slametan metik. Faktor pendukung partisipasi  masyarakat dalam melestarikan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun meliputi: faktor kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan tradisi slametan metik mengenai hasil panen dan faktor masyarakat yang mempunyai niat untuk melakukan tradisi slametan metik.Sedangkan faktor penghambat partisipasi masyarakat dalam melestarikan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun meliputi: faktor biaya yang tidak ada dan faktor kepercayaan yang melarang bagi masyarakat yang belum menikahkan anaknya tidak boleh melakukan tradisi slametan metik . (4) Upaya melestarikan tradisi slametan metik di Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun yaitu apabila permasalahan biaya yang tidak ada dapat mengurangi jumlah undangan pada saat pelaksanaan slametan metik, sedangkan permasalahan terhadap kepercayaan yang melarang bagi masyarakat yang belum menikahkan anaknya tidak boleh melakukan tradisi slametan metik yaitu melalui sosialisasi terhadap masyarakat agar mengubah pandangannya terhadap pelaksanaan slametan metik. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) Kepada pemerintahan Desa Banjarsari Wetan diharapkan untuk mendukung masyarakat dalam melaksanakan tradisi yang sudah ada sejak dahulu agar masyarakat tetap melaksanaknya. Dukungan yang bisa diberikan seperti mengadakan acara yang khusus melakukan slametan metik bersama-sama sehingga dapat mengenalkan tradisi luhur yang harus tetap dijaga yaitu slametan metik yang dilakukan khususnya oleh masyarakat petani. (2) Kepada kepada Desa diharapkan dapat memberikan pengarahan dan pedoman bagi masyarakat agar tetap melaksanakan slametan metik, karena pemimpin merupakan landasan masyarakat sehingga apabila kepala Desa dapat mengarahkan masyarakat untuk melaskanakan slametan metik dengan cara kekeluargaan. (3) Kepada masyarakat khususnya bagi masyarakat petani diharapkan lebih menjaga dan melestarikan tradisi slametan metik agar tidak hilang sehungga generasi muda dapat meneruskan tradisi tersebut.   ABSTRACT Aulia, Tri Firma. 2019. The Community Participation in Conserving the Slametan Metik Tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency. Final Project, Pancasila and Civics Education, Law and Civics Course, Faculty of Social Science, State Universityof Malang. Supervisor: (I) Dr. Sri Untari, M.Sc (II) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Sc.   Keywords : community, tradition, slametanmetik. Humans cannot live individually in a community, therefore every human being will always do an interaction with each other in the community both directly and indirectly. This interaction can create a culture. Culture actually relates to human reason and mind. Unconsciously, what happens in the community whether it is done consciously or unconsciously is actually inseparable from both traditional and custom cultures. The Javanese tradition that is still being carried out is the slametan metik. Considering the importance of the slametan metik tradition for the community, especially for the farmers, which is rarely carried out by the people in modern era. The objective of the study was to: (1) describe the implementation of the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency; (2) describing the community participation in conserving slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency; (3) describing the supporting and inhibiting factors in conserving the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency; (4) and also solving the obstacles in the process of conserving the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency. This study used descriptive qualitative approach. The location of this stury was in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency. The data sources of the study was collected from the informants, events, and also documents.The procedure of collecting the data wasdone by doing observation, interviews, and documentation. The data analysis to using of domain analysis by identify semantic relationship, paper of domain analysis, write a reserch note, and to examine of terminology include. The process of analyzing the data was done by checking the validity of the data using the persistence observation and also triangulation technique. The findings of this study were: (1) the implementation of the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency included three stages, i.e.: the preparation before doing slametan metik tradition, the process of doing slametan metik, and the closing. (2) The form of participation carried out by the community in Banjarsari Wetan Village included: labor participation, thought participation, expertise participation, goods participation, and money participation. (3) The supporting and inhibiting factors for the community in carrying out the slametan metik tradition. The supporting factors for the community participation in conserving the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency included: the factor of community credibility in the implementation of the slametan metik tradition regarding the crop yields and the factor of the community themselves who wants to do slametan metik tradition. While the inhibiting factors of community participation in conserving the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan District, Madiun Regency included: the less of money factor and the credibility factor that prohibit people who have not married children from doing slametan metik tradition. (4) The effort for conserving the slametan metik tradition in Banjarsari Wetan Village, Dagangan Subdistrict, Madiun Regency, that was, if there were no cost problems, it could reduce the number of invitations during the slametan metik tradition; while the problem in credibility factor that prohobit people who have not married children from doing slametan metik tradition was giving a socialization for the community so that they will changetheir views about the implementation of slametan metik tradition. Based on the research findings, it was suggested: (1) The Banjarsari Wetan Village government is expected to give the support for the community in carrying out the tradition which have existed for such a long time, so that it will go on long lasting. The support itself can be given by holding a special event to do slametan metik tradition, so that the community will know well about their tradition which should be conserved, especiallyfor the farmers. (2) It is hoped that the head of the village will give guidances and guidelines for the community to conserve the slametan metik tradition;it is because the leader is the foundation of the community, so that he is able to guide the community to held the slametan metik tradition relatively. (3) It is hoped that the community, especially for the farmers, will safeguard and conserve the slametan metik tradition; so that the new generation can continue conserving this kind of tradition

    PENGEMBANGAN LAPANGAN PRESTASI DI DESA KAULON KECAMATAN SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

    No full text
    Abstraktujuan dari program ini adalah : (1) Untuk mengembangkan sarana dan prasarana dari fasilitas yang ada pada Lapangan Prestasi Desa Kaulon Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. (2) Untuk menarik kembali minat warga untuk melaksanakan kegiatan di Lapangan Prestasi Desa Kaulon Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar.Kata kunci : Lapangan, Taman, Kaulon, Blitar

    Pemenuhan Hak-hak Narapidana Menurut Pasal 14 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan Kelas 1 Kota Malang

    No full text
    ABSTRAKRiza, Muhamad Agus. 2018. Pemenuhan Hak-Hak Narapidana menurut Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rusdianto Umar, SH,. M.Hum., (II) Dr.Hj. Yuniastuti,SH,. M.PdKata kunci: Hak, Narapidana, dan Lembaga PemasyarakatanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang, kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang dalam pemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang, serta mengetahui upaya Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang untuk mengatasi kendala dalam pemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Dalam hal ini menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder untuk mengumpulkan data. pelaksanaan penelitian ini peneliti turun langsung ke lapangan sebagai pihak pertama pengumpul data.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemenuhan hak-hak bagi narapidanayang dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang adalah perawatan rohani dan jasmani, makanan yang layak, kesehatan, menyampaikan keluhan, beribadah menurut agamanya, remisi, pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, cuti mengunjungi keluarga, cuti menjelang bebas, pendidikan, dan mengikuti siaran media massa. Kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang meliputi: (a). petugas yang terbatas. (b). over kapasitas. (c) sarana dan prasarana yang kurang memadai. (d) koordinasi dengan pihak luar yang sulit. (e). berkas-berkas yang tidak terpenuhi. Untuk mengatasi kendala yang ada pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang mengajukan permohonan penerimaan pegawai, melakukan pembinaan yang lebih terstruktur agar pembinaan bisa maksimal dan menyeluruh, memaksimalkan sarana dan prasarana yang sudah ada, memanfaatkan petugas dan juga narapidana yang sesuai dibidangnya, dan menghubungi pihak keluarga untuk bersedia mengirim berkas-berkasnya. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalahpemenuhan hak-hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang sudah terpenuhi, namun perlu ditingkatkan lagi dalam hal sarana dan prasarana karena masih sangat kurang mengingat jumlah narapidana yang over kapasitas.Selanjutnya bagi narapidana harus selalu mengikuti kegiatan dan tata aturan yang telah tetapkan oleh Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang agar pelaksanaan pemberian hak-hak narapidana bisa terlaksana dengan baik.&nbsp

    Progam Penguatan Pendidikan Karakter melalui Ekstrakurikuler Reog Kendang di SMAN 1 Kauman

    No full text
    Ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar jam pelajaran yang dilakukan diluar lingkungan sekolah maupun di dalam lingkungan sekolah untuk memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki. Salah satu ekstrakurikuler yang ada di SMAN 1 Kauman yaitu ekstrakurikuler Reog Kendang. Reog Kendang merupakan tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Tulungagung yang harus dilestarikan. Akan tetapi siswa di SMAN 1 Kauman kurang mempunyai rasa nasioanlisme dan kurang berminat terhadap kebudayaan daerahnya. Penguatan Pendidikan Karakter merupakan sesuatu yang penting untuk membentuk generasi muda yang berkualitas juga merupakan salah satu alat untuk membimbing peserta didik agar menjadi lebih baik. Berdasarkan Perpres Nomor 87 tahun 2017 tentang Pendidikan Penguatan Karakter bahwa PPK didefinisikan sebagai gerakan pendidikan dibawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk olah pikir, olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Progam Pendidikan Karakter dibuat agar siswa dapat melestarikan kebudayaan lokal yang ada di daerahnya dan memiliki rasa untuk menjadikan kebudayaan tersebut menjadi kekayaan nusantara.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai pengumpul data dan instrument aktif. Lokasi penelitian di SMAN 1 Kauman berlokasi di Jl. Soekarno-Hatta no 67 Tulungagung.. Sumber data dalam penelitian ini tebagi menjadi dua, yaitu sumber data sekunder yang diperoleh dari hasil dokumentasi dan sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara. Teknik pengumpulan data melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif. Pengecekan kebasahan data menggunakantriangulasi pengumpulan data, triangulasi sumber data dan pengecekan data dan informasi. Hasil penelitian ini antara lain (1) pelaksanaan progam penguatan pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler reog kendang di SMAN 1 Kauman yaitu latihan, pementasan Reog Kendang, alat music Reog Kendang, gerakan tari Reog Kendang, dan kostum tari Reog Kendang. (2) nilai-nilai yang terkandung dalam penguatan pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler Reog Kendang di SMAN 1 Kauman yaitu nilai karakter religius diwujudkan dalam gerak sumi langit yang artinya memohon doa kepada sang pencipta, nilai karakter nasionalis diwujudkan dalam gerak tanjak menggambarkan prajurit yang gagah dalam membela negara, nilai karakter integritas diwujudkan dalam gerak ngongak sumur yang menggambarkan bahwa sebagai manusia harus selalu rendah hati, nilai karakter mandiri diwujudkan dalam pembagian tugas untuk setiap anggota ekstrakurikuler, nilai karakter gotong rotong diwujudkan dalam kekompakan dan teamwork ketika penampilan dalam pementasan. (3) kendala yang dialami yaitu kurangnya minat siswa dalam mengikuti ekstrakurikuler Reog Kendang, pemerintah kurang focus dalam menangani kesenian, kurangnya biaya untuk ekstrakurikuler reog kendang, kurangnya pelatih yang mendampingi saat latihan. (4) upaya untuk mengatasi kendala yaitu memberikan motivasi kepada siswa untuk mencintai dan melestarikan kesenian yang ada di daerahnya, pemerintah mengadakan event atau lomba tentang kesenian, dibuat uang kas untuk memperbaiki kerusakan pada alat yang digunakan dalam latihan. Kata kunci: Penguatan Pendidikan Karakter, Ekstrakurikuler, Reog Kendan

    POLA REKRUTMEN POLITIK KADER PEREMPUAN DALAM PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) KABUPATEN TULUNGAGUNG

    No full text
    RINGKASAN Ramadhani, Galuh Ayu. 2019. Pola Rekrutmen Politik Kader Perempuan dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Edi Suhartono, S.H., M.Pd., (2) Drs. Ketut Diara Astawa S.H., M.Si. Kata kunci: Pola Rekrutmen, Politik, Kader Perempuan Indonesia adalah negara demokrasi yang menjamin hak warga negara dalam beraktivitas di dunia politik, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kesempatan yang sama. Namun, pada kenyataanya perempuan masih kurang berpartisipasi dalam dunia politik. Padahal pemerintah sudah memberikan jaminan pada Undang-undang nomor 2 Tahun 2011 tentang partai politik mengenai keterwakilan perempuan paling sedikit 30%. Tujuan dari perempuan terjun dalam politik adalah menyuarakan hak dan kebijakan yang diperuntukkan bagi kaum perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berjenis deskriptif. Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Kantor DPD PKS Kabupaten Tulungagung terletak di Jl. Letjen Suprapto No. 44 Tulungagung. Prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Instrumen yang digunakan penelitian yaitu berupa instrumen manusia, dalam artian peneliti sendiri. Kegiatan analisis data dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Dalam menjaga kabsahan data dilakukan uji kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan penelitian dan triangulasi sumber. Adapun hasil temuan penelitian sebagai berikut: Pertama, Pola rekrutmen politik kader perempuan dalam partai keadilan sejahtera kabupaten Tulungagung memiliki beberapa tahapan. Secara umum meliputi: pola rekrutmen sistem konvensional dan pola rekrutmen sistem pemilahan kader, sedangkan secara khusus yaitu dengan adanya perekrutan yang dilakukan oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga Dewan Perwakilan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Tulungagung. Perekrutan yang dilakukan oleh bidang perempuan dan ketahanan keluarga dilakukan dengan menggalakkan  4 divisi, yaitu divisi ketahanan keluarga, divisi hubungan kelembagaan, divisi kajian, divisi peningkatan kapasitas kader perempuan. Kedua, kendala rekrutmen politik kader perempuan dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Tulungagung digolongkan menjadi dua, yakni adanya stigma eksternal yaitu berasal dari lingkungan masyarakat dan Stigma Internal dari diri perempuan sendiri. Ketiga, Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam rekrutmen politik kader perempuan dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  Kabupaten Tulungagung  yaitu: a) Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai Partai Keadilan Sejahtera, b) Membaur dan berkomunikasi lebih intens pada masyarakat, c) Mengambil simpatik rakyat dengan adanya kegiatan-kegiatan sosial. Saran yang dapat peneliti sampaikan kepada Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Tulungagung yaitu a) Adanya program lain yang digalakkan/program yang lebih menggena pada masyarakat agar banyak calon yang akan direkrut oleh partai. b) Lebih seringnya digalakkan “Sobo Tonggo” yang tidak hanya dilakukan ketika ramadan saja (minimal satu bulan sekali). c) Diberikannya pemahaman/penyuluhan/sosialisasi pada masyarakat khususnya perempuan yang ingin atau mau diajak menjadi kader bahwa stigma internal/ pandangan ketika perempuan terjun dalam politik perempuan masih dan tetap dapat menjalankan kewajibannya di bidang politik, sosial, dan keluarga, yaitu dengan memanajemen waktu sebaik mungkin. Sedangkan bagi masyarakat terutama perempuan yaitu jangan acuh atau tidak peduli dengan adanya politik, karena ketika perempuan tidak peduli dengan politik maka keputusan, hak dan kebijakan-kebijakan akan diputuskan oleh laki-laki yang belum tentu mengerti mengenai perempuan. Hadirnya perempuan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan mengenai perempuan

    PERANAN JARINGAN KEMANUSIAAN JAWA TIMUR (JKJT) DALAM MEMBIASAKAN NILAI KEPEDULIAN SOSIAL BAGI ANAK RUMAH BELAJAR DI KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAKKepedulian sosial merupakan suatu sikap yang muncul atas dasar keprihatinan terhadap lingkungan sekitar. Sikap ini akan menjadikan manusia tanggap terhadap realita yang ada pada lingkungan manusia tersebut. Rasa peduli pada dasarnya tidak berhenti kepada keprihatinan terhadap permasalahan sosial saja, melainkan perlu adanya tindakan untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi. Orang yang peduli tidak akan menyakiti perasaan orang lain, selalu berusaha untuk menghargai, berbuat baik, dan membuat yang lain senang

    Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Budaya Lokal di SMA Negeri 9 Malang

    No full text
    ABSTRAKPrasetyo, Dwi Aldi. 2019. Peran Guru PPKn dalam Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Budaya Lokal di SMA Negeri 9 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd., M.Si (II) Rani Prita Prabawangi, S.Hub.Int., M.SiKata kunci: Peran, Guru PPKn, KebudayaanIndonesia memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan tersebut terdiri dari berbagai macam suku, ras, bahasa, kesenian, agama dan kepercayaan, cara berpakaian, pola hidup suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya, dan lain-lain. Keberagaman budaya merupakan suatu ciri khas yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, keberagaman tersebut perlu untuk dilestarikan. Salah satu cara untuk melestarikannya adalah melalui pendidikan dan pembelajaran di sekolah guna meningkatkan kepedulian siswa terhadap keberagaman budaya tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peran guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang; (2) hambatan guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang; (3) kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan yaitu informan, peristiwa, dan dokumentasi. Informan tersebut terdiri dari guru PPKn SMAN 9 Malang yaitu ibu Bella dan bapak Chusnul, guru seni SMAN 9 Malang yaitu bapak Rudy, Kepala SMAN 9 Malang yaitu bapak Teguh, dan siswa SMAN 9 Malang yaitu Aryo dan Nina. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, dan memberikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan teknik trianggulasi.Temuan penelitian ini adalah: (1) Peran guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal SMAN 9 Malang: (a) guru PPKn sebagai teladan; (b) guru PPKn sebagai pengelola kelas; (c) menjelaskan pentingnya budaya kepada siswa. (2) Hambatan guru PPKn dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap budaya lokal di SMAN 9 Malang: (a) hambatan dari guru; (b) hambatan dari peserta didik. (3) Kepedulian siswa SMAN 9 Malang terhadap budaya lokal: (a) minat siswa terhadap budaya lokal; (b) bersemangat dalam mengikuti kegiatan budaya lokal; (c) mengikuti kegiatan budaya lokal; (d) sopan santun Jawa.   Berdasarkan temuan penelitian, maka disarankan: (1) Kepada generasi muda sebagai penerus bangsa diharapkan agar: (a) ikut serta dalam melestarikan kebudayaan lokal karena hal ini merupakan akar dari lahirnya budaya Nasional sebagai kekayaan dari Bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya; (b) menjaga keasrian lingkungan alam dan kebudayaan lokal.(2) Kepada SMA Negeri 9 Malang: (a) meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan kebudayaan lokal sebagai media pembelajaran, sebagai salah satu proses pelestarian kebudayaan lokal; (b) memberikan arahan, pemahaman, dan pembinaan kepada seluruh siswa dan siswi SMA Negeri 9 Malang agar selalu menjaga sumber daya alam yang ada disekitar kita. (3) Kepada guru/ pendidik berkaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah, diharapkan: (a) ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya yang ada yang sesuai dengan kearifan budaya lokal; (b) adanya berbagai tradisi yang ada di SMAN 9 Malang perlu dijadikan sebagai bahan untuk etnopedagogig, sehingga pengetahuan siswa akan selalu bertambah dan tidak akan mengalami kejenuhan untuk melakukan pembelajaran di kelas saja, tetapi dapat melihat, memahami, dan menganalisis berbagai kejadian yang ada di lingkungannya.ABSTRACTPrasetyo, Dwi Aldi. 2019. The Role of PPKn Teachers in Increasing Students' Care for The Local Culture in Senior High School 9 Malang. Essay. Study Program of Pancasila and Citizenship Education, Department of Law and Citizenship, Faculty of Social Sciences, Malang State University. Advisor: (I) Drs. Margono, M.Pd., M.Sc (II) Rani Prita Prabawangi, S.Hub.Int., M.Sc.Keywords: Role, PPKn Teacher, CultureIndonesia has a diverse culture. The culture consists of various ethnicities, tribes, races, languages, arts, religions and beliefs, how to dress, the lifestyle of a community with other communities, and others. Cultural diversity is a characteristic that is a source of pride for the people of Indonesia. Therefore, this diversity needs to be preserved. One way to preserve it is through education and learning in schools to increase students' careness of the cultural diversity.This study aims to determine: (1) the role of PPKn teachers in increasing students' careness of the local culture in SMAN 9 Malang; (2) barriers to PPKn teachers in increasing student careness of the local culture in SMAN 9 Malang; (3) students' care for the local culture in SMAN 9 Malang.This study uses a qualitative approach with a type of descriptive research. The data sources are informants, events, and documentation. The informants consisted of PPKn teachers from SMAN 9 Malang namely Bella and Mr. Chusnul, art teacher of SMAN 9 Malang namely Mr. Rudy, Head of SMAN 9 Malang namely Mr. Teguh, and students of SMAN 9 Malang namely Aryo and Nina. Data collection is done by interview, observation, and documentation. Data analysis is done through the stages of collecting data, reducing data, presenting data, and giving conclusions. Checking the validity of the data is done by using observation persistence techniques and triangulation techniques.The findings of this study are: (1) The role of PPKn teachers in increasing students' careness of the local culture in SMAN 9 Malang: (a) PPKn teachers as role models; (b) PPKn teachers as class managers; (c) explain the importance of culture to students. (2) Obstacles for PPKn teachers in increasing students' careness of local culture in SMAN 9 Malang: (a) barriers from teachers; (b) barriers from students. (3) Concern for students in SMAN 9 Malang towards local culture: (a) students' interest in local culture; (b) eager to participate in local cultural activities; (c) follow local cultural activities; (d) Javanese manners. Based on the research findings, it is suggested: (1) The young generation as the nation's successor is expected to: (a) participate in preserving local culture because this is the root of the birth of National culture as a priceless wealth of the Indonesian Nation; (b) maintain the beauty of the natural environment and local culture. (2) To SMAN 9 Malang: (a) improve learning by using local culture as a medium of learning, as one of the processes for preserving local culture; (b) providing direction, understanding, and guidance to all students and students of SMAN 9 Malang in order to always maintain the natural resources around us. (3) Teachers / educators related to Citizenship Education subjects in Schools, are expected to: (a) participate in preservation of existing cultures that are in accordance with the wisdom of local culture; (b) the existence of various traditions in SMAN 9 Malang needs to be used as material for ethnagagogig, so that students' knowledge will always increase and will not experience burnout to do classroom learning, but can see, understand, and analyze various events in the environment

    Pola Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Amanah Pada Unit Usaha Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang

    No full text
    RINGKASANMukhayaroh, Siti Nafi’atul. 2019. Pola Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Amanah Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Sri Untari, M.Si. (2) Dr. Didik Sukriono, S.H., M.Hum.Kata Kunci:, Bumdes, Desa, PengelolaanBumdes yang dimiliki Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang adalah Bumdes Amanah. Bumdes Amanah telah diatur dalam Peraturan Desa Karangsuko Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Perubahan Peraturan Desa Karangsuko Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bumdes Amanah memiliki pendapatan pada tahun 2017 sebesar 1,5 Miliar dan pada tahun 2018 meningkat yaitu sebesar 1,6 Miliar. Upaya peningkatan pendapatan desa melalui Bumdes dipengaruhi oleh pola pengelolaan yang dilakukan oleh Bumdes dalam mengelola dan memaksimalkan potensi-potensi yang ada di Desa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Amanah meliputi (1) unit usaha Bumdes Amanah, (2) pola pengelolaan Bumdes Amanah, (3) hambatan Bumdes Amanah dalam pengelolaan unit usahanya.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah penjodohan pola Robert K.Yin. Pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada tiga kriteria, yaitu: (1) kredibilitas (credibility), (2) kepastian (confirmability), dan (3) kebergantungan (dependability). Tahap-tahap penelitaian ini adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penulisan laporan.Berdasarkan hasil penelitian, unit usaha Bumdes Amanah meliputi: (1) Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Wisata Wisata Sumber Maron, (2) Penyaluran BPNT, (3) BP.SAB&S WSLIC II 2005 Sumber Maron. Pengelolaan Bumdes Amanah meliputi: (1) susunan pengurus Bumdes Amanah, (2) Modal Bumdes Amanah,(3) alokasi Bumdes Amanah, (4) perluasan lapangan kerja, (5) penyumbang PAD Karangsuko, (6) penyokong program Desa Karangsuko, (7) penyalur aspirasi masyarakat Desa Karangsuko,(8) pengembangan wisata. Hambatan yang dialami Bumdes Amanah yaitu: (1) infrastruktur, (2) Sumber Daya Manusia, (3) komunikasi, (4) transparansi dan kepercayaan warga, (5) kurangnya perhatian bantuan pelatihan  dari pemerintah.Berdasarkan temuan penelitian, disarankan pengelolaan Bumdes Amanah ditingkatkan sesuai dengan fungsi manajemen dan prinsip Bumdes. Upaya ini harus melibatkan semua pihak seperti Komisaris, Direktur beserta stafnya, Kepala unit usaha serta masyarakat yang terlibat dalam unit usaha

    upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Probolinggo

    No full text
    Upaya Guru dalam Mengembangkan Karakter Disiplin pada Siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota ProbolinggoFirda Ayu Wulandari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang, MalangEmail: [email protected] ABSTRAKPendidikan merupakan upaya fundamental untuk membentuk manusia menjadi insan yang berkualitas baik dalam aspek pemikiran maupun tingkah laku dalam bermasyarakat. Pendidikan Karakter sebagai salah satu indikator penting untuk mewujudkan manusia yang berkarakter dan berperilaku baik dalam lingkungan formal. Nilai disiplin hingga saat ini menjadi hal yang paling difokuskan dalam mewujudkan karakter siswa dalam lingkup sekolah. Namun, dalam kurun waktu ini, penelitian yang memfokuskan pada nilai kedisiplinan masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, penelitian tentang nilai kedisiplinan ini perlu untuk dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan karakter yang dikembangkan oleh guru dalam pembentukan karakter disiplin siswa, Faktor pendukung dalam pengembangan karakter disiplin siswa, serta kendala yang dihadapi oleh guru dalam pengembangan karakter disiplin siswa di MAN 2 Kota Probolinggo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumenyang berupa dokumentasi. Untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan tiangulasi data. Sedangkan analisis data menggunakan analisis Miles and Huberman yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Kata Kunci : upaya guru, karakter disiplin, siswa The Efforts of Teachers in Developing the Character of Discipline to Students Islamic Senior High School 2 ProbolinggoFirda Ayu Wulandari Law and Citizenship Department, Faculty of Social Science, State University Of Malang, MalangEmail: [email protected] ABSTRACTEducation is a fundamental attempt to form a human being people of good quality in the aspect of thinking or behaviour in the community. Character education as one of the important indicators for the realization of human character and behave well in a formal environment. The value of discipline up to now being the most focused in realizing the character of students within the scope of the school. However, in this period, the research focused on the value of the discipline is still not much is done. Therefore, the research on the value of the discipline it needs to do. This research was carried out with the aim to explain the characters developed by teachers in the creation of the character of the discipline of students, supporting Factors in the development of the character of the discipline of students, as well as obstacles faced by teachers in character development in student discipline MAN 2 Probolinggo. This research is a descriptive qualitative study types. Data collection is done with the techniques of observation, interview and dokumenyang in the form of documentation. To test the validity of the data is done with the tiangulasi data. While the analysis of the data using analysis Miles and Huberman that started from the collection of data, data presentation, data reduction and withdrawal of the conclusion. Keyword : The Efforts of Teachers, the Character of Discipline, Students PENDAHULUANSecara umum kata istilah karakter menekankan pada unsur psikososial manusia yang dikaitkan dengan pendidikan dalam sekolah dan konteks lingkungan.  Pendidikan dengan manusia tentunya tidak dapat dipisahkan, oleh karena itu pendidikan mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan manusia. Karakter sendiri memiliki arti nilai-nilai baik yang bisa berdampak baik terhadap lingkungan dan melekat dalam diri manusia serta terwujudkan dalam perilaku.Samani dan Hariyanto (2014:41) mengartikan karakter sebagai ciri khas dari setiap individu dalam berfikir dan berperilaku untuk hidup dan bekerja sama dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Selanjutnya menurut Muslich (2011:70) karakter ialah cara berfikir dan berperilaku seseorang yang  menjadi ciri khas dari tiap individu untuk hidup dan kerjasama, baik dalam keluarga, masyarakat dan negara. Oleh karena itu, karakter dapat didefinisikan sebagai kepribadian yang dimiliki seseorang sejak lahir sesuai dengan kekuatan moral yang dikembangkannya.Karakter selalu dikaitkan dengan  pendidikan karakter, menurut Koesoma (2010:42) pendidikan karakter menekankan pada dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi.  Menurut  Mulyasa (2012:3) menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tetapi bagaimana cara menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan. Sedangkan Akbar (2015:1) mengatakan pendidikan karakter adalah upaya yang menjadikan karakter seseorang lebih baik.Jadi berdasarkan pendapat para ahli dapat dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah usaha sadar dalam mengembangkan nilai-nilai perilaku baik dalam berkarakter seseorang yang bertujuan untuk menjadikan manusia yang utuh, berketuhanan, dan dapat menajalankan amanah sehingga mereka dapat mengimplementasikan di lingkungannya.Pendidikan karakter juga diterapkan dalam sekolah, salah satunya adalah nilai karakter disiplin. Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hal yang telah ditetapkan (aturan) dan melakukan suatu tindakan yang telah dilindungi dan telah ditetapkan (Soedijarto 1989:163). Menurut Ariesandi (2008:231) arti disiplin ialah proses melatih pikiran dan karakter anak secara bertahap sehingga menjadi seseorang yang memiliki kontrol diri dan berguna bagi masyarakat. Sedangkan Lestari (1990:137) menyatakan bahwa disiplin diperlukan bagi seorang pendidik dalam membimbing dan mengarahkan anak didiknya supaya dengan mudah dapat(1) meresapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara hak milik orang lain;(2) mengerti dan segera menurut untuk menjalankan kewajiban dan secara langsung mengerti larangan-larangan;(3) mengerti tingkah laku yang baik maupun yang buruk;(4) belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa ternacam hukum;(5) mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain. Jadi dapat dipahami bahwa disiplin ialah tindakan atau perilaku kesadaran yang muncul dari dalam diri seseorang yang mengarah lebih baik.Salah satu sekolah yang mengembangkan karakter disiplin yaitu MAN 2 Kota Probolinggo yang mana sekolah tersebut berbasiskan islami dengan memberikan pendidikan karakter dalam sekolah islam yang disebut dengan istilah akidah akhlak. Akidah akhlak yaitu sebagai pembentukan karakter siswa sehingga menjadikan manusia yang bertaqwa dan beriman. Disamping pembentukan karakter, guru MAN 2 Kota Probolinggo juga mempunyai program KJS Kegiatan Jum’at Sehati (Sehat Jasmani dan Hati) yang diterapkan di sekolah dan diharapkan nantinya bertujuan setiap individu memiliki rasa tanggung jawab besar sebagai pelajar. Karena dengan berdisiplin siswa akan terbiasa dengan beban yang diemban sehingga menjadi pelajar yang cerdas, berakhlak dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.Hal inilah yang mendasari penulis tertarik untuk melakukan penelitian di sekolah MAN 2 Kota Probolinggo, maka dalam tulisan ini akan membahas mengenai program yang di terapkan oleh guru di MAN 2 Kota Probolinggo guna mengembangkan karakter disiplin pada siswa. Dalam artikel ini akan membahas mengenai karakter yang dikembangkan oleh guru MAN 2 Kota Probolinggo, bagaimana upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa, faktor pendukung dalam pengembangan karakter disiplin pada siswa MAN 2 Kota Probolinggo, dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengembangan karakter disiplin siswa MAN 2 Kota Probolinggo. METODE PENELITIANPenelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 2, Kecamatan Kanigaran, Kelurahan Curah Grinting, Kota Probolinggo. Di sekolah MAN 2 Kota Probolinggo terdapat beberapa program sebagai upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa. penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang disebabkan penelitian menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang menggambarkan upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa MAN 2 Kota Probolinggo tanpa menggunakan angka. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun dari beberapa subjek sebagai informan dalam penelitian ini diantaranya Bapak Ghofur sebagai Wakil Kepala Kesiswaan, Bapak Sujono sebagai guru pembimbing tata tertib, Ibu Septi sebagai guru bimbingan konseling dan siswa MAN 2 Kota Probolinggo.Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif yang meliputi tiga komponen, yaitu(1) reduksi data,(2) sajian data,(3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.Model analisis interaksi Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011: 246). Dalam pengecekan keabsahan data peneliti menggunakan meningkatkan ketekunan dalam artian melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Disamping itu, peneliti juga menggunakan triangulasi, yang merupakan teknik untuk mencari pertemuan pada satu titik tengah informasi dari data yang terkumpul guna pengecekan dan pembanding terhadap data yang telah ada (Sugiyono, 2010:268-269). Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat macam triangulasi yaitu:(1) triangulasi sumber,(2) triangulasi teknik,(3) triangulasi waktu.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 2 metode yaitu meningkatkan ketekunan dan peneliti menggunakan metode meningkatkan ketekunan karena peneliti melakukan observasi dengan cermat, data diperoleh dengan cara rekaman dan mendokumentasi setelah peneliti melakukan pengamatan peneliti mencari referensi untuk menambah wawasan guna untuk mengetahui apakah data yang diperoleh sudah kredibilitas atau benar dapat dipercaya. Selain itu, peneliti juga menggunakan metode triangulasi sumber karena di lapangan peneliti menemukan jawaban yang berbeda-beda sehingga peneliti mengecek kembali keabsahan informasi yang didapat dari informan dengan mewawancarai informan lainnya sehingga peneliti sampai menemukan jawaban yang kredibel dan valid. PEMBAHASAN1. Karakter Kedisiplinan yang Dikembangkan oleh Guru MAN 2 Kota ProbolinggoKarakter kedisiplinan yang dikembangkan oleh guru MAN 2 Kota Probolinggo yaitu terdapat empat aspek. Aspek nilai kerajinan, aspek nilai kerapian, aspek nilai kepribadian, aspek ketertiban. Dengan adanya nilai aspek sebagai aturan tata tertib di sekolah yang dikembangkan oleh guru maka siswa mampu untuk mengendalikan diri dalam berperilaku disiplin bahkan siswa mampu berkarakter dengan baik. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat (Soedijarto 1989:163) bahwa pada hakikat disiplin ialah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hal yang telah ditetapkan (aturan) dan melakukan suatu tindakan yang telah dilindungi. Kesamaan dari temuan dan pendapat tersebut peneliti berpendapat bahwa pentingnya aturan tata tertib di sekolah dapat memberi batasan dalam siswa berperilaku.Berdasarkan temuan penelitian dijelaskan bahwa sekolah MAN 2 Kota Probolinggo mengembangkan karakter disiplin dalam empat nilai aspek diantaranya ialah aspek nilai kerajinan, aspek nilai kerapian, aspek kepribadian, dan aspek ketertiban. Dari keempat nilai aspek disiplin tersebut dikembangkan oleh guru MAN 2 Kota Probolinggo yaitu dengan cara membiasakan kepada siswa dalam berperilaku sesuai dengan tata tertib sekolah salah satunya seperti disiplin waktu, siswa tiba di sekolah harus tepat waktu. Hal ini telah tercermin  nilai karakterpada diri siswa.Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan pendapat Asy Mas’udi (2000:88) bahwa kebiasaan seseorang yang melekat dengan perilaku kehidupannya dalam melakukan suatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan yang berlaku dan memiliki penuh tanggung jawab tanpa ada paksaan. Mumpuni (2018:26) menjelaskan bahwa disiplin merupakan nilai karakter yang berhubungan antara manusia dengan dirinya sendiri yang diwujudkan dengan selalu menghargai waktu. Hal ini juga disampaikan oleh Husdarta (dalam skripsi Prasetya, 2014:16) mengatakan disiplin berarti kontrol penguasaan diri terhadap implus yang tidak diinginkan atau proses mengarahkan impuls pada suatu cita-cita atau tujuan tertentu untuk mencapai dampak yang lebih besar. Dari temuan peneliti dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru mengembangkan empat nilai aspek tersebut adalah sebagai bentuk pengembangan karakter kepada siswa untuk mengendalikan diri dalam berperilaku. 2. Upaya Guru dalam Mengembangkan Karakter Disiplin pada Siswa di MAN 2 Kota ProbolinggoGuru MAN 2 Kota Probolinggo mempunyai beberapa upaya dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa diantaranya yang pertama adalah menerapkan program kegiatan KJS Kegiatan Jum’at Sejati (Sehat Jasamani dan Hati) dalam kegiatan ini dimana siswa dilatih dalam berkarakter disiplin. Program KJS ini meliputi tiga kegiatan yang pertama ada kegiatan adiwiyata, dalam kegiatan ini siswa dilatih agar dapat mampu berinteraksi dengan sesama temannya selain itu juga dapat menjadikan siswa peduli dengan alam dan lingkungan sekitar untuk menjaga kebersihan dengan tertib dan disiplin. Kegiatan kedua adalah kegiatan Khotmil Qur’an yang dilaksanakan setiap hari di dalam kelas setelah siswa melaksanakan sholat dhuha dan dipastikan seluruh siswa tidak ada yang di luar kelas maupun berangkat terlambat hal ini bertujuan melatih siswa dalam berbuat disiplin dan berkarakter baik. Ketiga kegiatan tausiyah yang dilaksanakan setiap hari Jum’at secara bergiliran dari tiap masing-masing kelas yang dimulai dengan menyanyikan lagu nasional. Melalui kegiatan tausiyah guru dapat mensosialisasikan aturan yang ada di sekolah selain mengembangkan sikap disiplin dalam kegiatan tausiyah ini juga mencerminkan karakter cinta tanah air pada siswa.Kedua adalah bekerja sama dengan melibatkan semua pihak sekolah mengenai aturan bersama yang harus ditaati oleh siswa dan guru. Guru bekerja sama dengan siswa dengan berkomitmen untuk tidak melanggar aturan selain itu guru juga meminta kerja sama dengan pihak kantin untuk tidak menerima siswa yang pergi ke kantin. Hal ini bertujuan untuk melatih batasan siswa dalam bertingkah laku.Ketiga adalah teknik external control (pengawasan oleh guru). Siswa tetap berada pada pantauan guru terutama terhadap peran guru bimbingan konseling yang mana guru bimbingan konseling MAN 2 Kota Probolinggo senantiasa berupaya dalam memberikan perhatian kepada siswa. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Mulyasa (2013) bahwa guru bimbingan konseling di sekolah senantiasa berupaya memberikan perhatian yang proporsional. Selain itu, guru juga harus dapat berinteraksi sebagai sahabat siswa. Apabila  temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Suarnaya (2015) bahwa guru bimbingan konseling sebaiknya dapat berteman dekat dengan siswa sehingga siswa dapat menganggap dirinya sebagai sahabat yang mengawasinya. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengawasan guru ialah upaya yang lebih utama yang mana siswa tidak bisa lepas dari pengawasan seorang guru untuk memberi batasan kapada siswa dalam bertingkah laku.Keempat adalah melaksanakan sholat dhuha bersama setiap hari dan kajian kitab setiap hari Jum’at. Kegiatan ini dilakukan secara rutin untuk dapat mengembangkan karakter disiplin pada siswa mengenai waktu. Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan pendapat Mumpuni (2018:26) menjelaskan bahwa disiplin merupakan nilai karakter yang berhubungan antar manusia dengan dirinya sendiri yang diwujudkan dengan selalu menghargai waktu. Selain itu juga menciptakan siswa yang religius sebagaimana sesuai dengan misi MAN 2 Kota Probolinggo yaitu menanamkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai islami. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa kepatuhan siswa berawal dari adanya aturan tata tertib sekolah terutama dalam hal disiplin waktu.Kelima adalah menerapkan sistem point berdasarkan sanksinya, point yang diterapkan pada kegiatan siswa meliputi kegiatan pada saat melaksanakan upacara bendera, kegiatan siswa pada saat tidak mengikuti ekstra sekolah wajib maupun pilihan, dengan melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa mengembangkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuannya. Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 12 ayat 1b yang menjelaskan bahwa hak siswa ialah mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat dan kemampuannya melalui ekstrakurikuler, OSIS maupun Karya Ilmiah Remaja.Guru juga berupaya memberikan sanksi berupa surat pernyataan, siswa yang sudah tidak dapat ditoleransi maka ia akan diberi surat pernyataan. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki rasa takut dan bertanggung jawab akan tingkah lakunya jika ia berbuat kesalahan.Selain itu, guru berupaya memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa sebagai cara meminimalisir sikap ketidak disiplinan terhadap siswa. hal ini bertujuan agar siswa mampu bersemangat dalam berbuat disiplin menaati aturan sekolah. Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan pendapat Uno (2009:16-17) yang menjelaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengelola sendiri informasi. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa bertujuan menjadikan siswa lulusan yang berkepribadian baik hingga terbawa di kehidupan siswa selanjutnya. 3. Faktor Pendukung dalam Pengembangan Karakter Disiplin pada Siswa MAN 2 Kota ProbolinggoFaktor pendukung dari guru MAN 2 Kota Probolinggo yaitu dengan memberikan pengertian pendidikan karakter pada siswa yang mana siswa tak hanya diberi pengetahuan intelektual namun siswa juga ditanamkan karakter yang baik melalui proses pembiasaan di sekolah. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Mulyasa (2012:3) bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah tetapi bagaimana cara menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan. Selain itu, guru juga membiasakan pada siswa untuk menekuni aktifitas kegiatan yang ada di sekolah secara rutin sehingga siswa akan timbul rasa kesadaran terhadap dirinya sebagaimana ia akan berperilaku sesuai aturan di sekolah. Seperti temuan penelitian jika dihubungkan dengan pendapat Sutadipura (1985:99) yang menjelaskan bahwa faktor pendukungnya ialah guru mengembangkan karakter disiplin melalui pembiasaan karena dengan pembiasaan yang baik akan meringankan guru dalam menjalani proses pembiasaan yang ditekuni. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor pendukung dalam pengembangan karakter disiplin di MAN 2 Kota Probolinggo dengan melakukan pembiasaan yang dilakukan secara rutin dengan bertujuan mewujudkan manusia sebagai pribadi yang baik.Faktor pendukung yang kedua adalah adanya peraturan yang berlaku serta norma yang ditentukan, baik di sekolah maupun di masyarakat yang disertai dengan sanksi. Berdasarkan temuan penelitian bahwa dengan ditentukan peraturan tata tertib sangatlah diperlukan, karena dengan adanya suatu aturan maka siswa tidak dapat bertindak sembarangan. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Supriyanto (1994:15) bahwa faktor pendukung disiplin ialah dengan adanya peraturan-peraturan dan norma-norma yang ditentukan baik di sekolah maupun di masyarakat yang harus dipatuhi maka dapatlah mendukung terciptanya disiplin secara umum  dengan disertai sanksi-sanksi yang jelas dan tegas. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat  menyimpulkan bahwa tata tertib dapat menanamkan karakter disiplin pada siswa dengan begitu guru dapat mengembangkannya melalui suatu aturan dan disertai sanksi-sanksi.Faktor pendukung yang ketiga ialah kerja sama antar guru dan wali murid/ orang tua siswa. Hubungan keluarga dengan siswa tidak akan bisa lepas, keluarga sangatlah berperan penting bagi terbentuknya karakter sang anak. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Supriyanto (194:15) bahwa faktor pendukung disiplin ialah lingkungan keluarga sebagai masyarakat kecil yang dimiliki oleh siswa yang sangat mendukung dalam pembentukan sikap disiplin. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa keluarga ialah tempat pendidikan yang dimiliki oleh siswa yang mana sebagai pembentuk karakter utama dalam menjadikan siswa yang memiliki pribadi baik. 4. Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Pengembangan Karakter Disiplin Siswa MAN 2 Kota ProbolinggoTerdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan karakter disiplin siswa MAN 2 Kota Probolinggo ialah yang pertama belum ada kesadaran dalam diri siswa yang mana ada dari sebagian siswa masih bertingkah laku sesuai keinginannya tanpa melihat resiko. Maka dengan itu, guru MAN 2 Kota Probolinggo masih perlu berupaya dalam memberikan pendidikan karakter dengan tujuan mengembangkan karakter siswa terutama pada karakter disiplin sehingga kesadaran dalam diri siswa akan timbul dengan sendirinya. Sesuai dengan temuan yang dihubungkan dengan pendapat Akbar (2015:1) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah sebagai upaya yang menjadikan karakter seseorang lebih baik. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tanpa adanya kesadaran dalam diri siswa maka siswa akan cenderung melanggar aturan tata tertib sebab siswa akan mudah goyah, namun jika siswa sudah muncul kesadaran dalam dirinya besar ke

    PERANAN POLITISI PEREMPUAN DALAM MENDUKUNG KINERJA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BATU PERIODE 2014-2019

    No full text
    KINERJA POLITISI PEREMPUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BATU PERIODE 2014-2019 BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM Ullimaz Zerlinda, Sri Untari, Suparman Adi Winoto Universitas Negeri Malang Email: [email protected]   Abstrak Kinerja adalah suatu hal yang dilakukan oleh individu, kelompok, maupun organisasi yang bertujuan untuk menunjukkan hasil kepada khalayak luas. Kinerja dapat dilihat dari bentuk program kerja yang telah dihasilkan baik individu, kelompok, maupun organisasi yang telah disepakati bersama. Tujuan dari kinerja adalah untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera seperti yang dicita-citakan. Kesejahteraan masyarakat tidak akan terwujud jika tidak adanya kinerja dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang memiliki tugas untuk mengawal dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Oleh karena itu perlu dilakukannya penelitian dengan judul . Kinerja Politisi Perempuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu Periode 2014-2019 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan dan mendeskripsikan kinerja, program-program kerja yang dicanangkan oleh politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu dalam memajukan kesejahteraan masyarakat Kota Batu. Serta mengetahui tugas pokok dan fungsi politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu termasuk juga kendala-kendala yang dihadapi dalam merumuskan kebijakan terkait kesejahteraan masyarakat Kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian dalam penelitian yakni gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kota Batu. Beralamat di Jalan Hasanuddin, Junrejo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur, Indonesia. Informan dalam penelitian ini yaitu Hj. Dewi Kartika, S.T. dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Shanti Vitria Dewi, S.T., S.H dari fraksi Parta Golkar, Katarina Dian Nefiningtyas dari fraki Partai Gerindra, Endang Susilaning Rahayu dari fraksi Partai PDI-Perjuangan, Nur Aulia Lishanti dari fraksi PAN, dan RR. Reni Agustini, S.H. dari fraksi Partai Demokrat. Analisis data yang dilakukan menggunakan cara koleksi data atau pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan  kesimpulan atau verifikasi data pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara  triangulasi sumber hal ini untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber . Temuan penelitian ini adalah: (1) Politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah memiliki 4 program yakni program tarian sanduk yang dicanangkan oleh Katarina Dian Nefiningtyas selaku anggota komisi B dari Fraksi Partai Gerindra, program kerja tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Kota Batu tentang bahaya narkoba. Program kerja sosialisasi pemilu yang diinisiatif oleh Reni Agustina S.H. selaku anggota komisi B Fraksi Partai Demokrat, program kerja ini bertujuan untuk mensosialisasikan pemilu di tahun pemilihan dan menaris simpatisan masyarakat agar beliau terpilih kembali di masa jabatan selanjutnya. Program kerja selanjutnya yakni pembuatan kebijakan tentang perempuan dan anak yang dibentuk oleh Hj. Dewi Kartika, S.T selaku anggota komisi C dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, program kerja tersebut bertujuan untuk menjamin kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak terjadi ketimpangan yang signifikan antara peran laki-laki dan perempuan, dan menjamin kehidupan anak-anak dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, dan Program kerja RESES atau agenda untuk mendengar aspirasi dalam masyarakat yang diinisiati oleh Nur Aulia Lishanti, selaku wakil ketua Komisi A, fraksi PAN. Agenda RESES bertujuan agar anggota dewan mampu mengetahui aspirasi dan permasalahan yang terjadi di masyarakat khususnya masyarakat Kota Batu. (2) Tugas pokok dan fungsi dari politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu tidak memiliki perbedaan yang sangat signifikan antara anggota dewan perempuan dan laki-laki. Hal ini sesuai dengan tugas pokok dan fungsi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu diantaranya, legislasi, pengawasan, dan anggaran. (3) Pelaksanaan Program Kerja Oleh Politisi Perempuan dalam Dewan   Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu tahun 2014-2019 seperti yang telah diketahui memiliki pelaksanaan yang cukup baik hal ini dikarenakan sudah sesuai dengan target atau tujuan yang politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu inginkan. Mulai dari program kerja tarian sanduk, sosialisasi pemilu, pembentukan kebijakan untuk perempuan dan anak, serta RESES atau agenda terjun ke masyarakat Kota Batu telah dilaksanakan dengan cukup baik.  (4) Kinerja yang telah dilakukan oleh politisi perempuan dalam Dewan Perwajilan Rakyat Daerah periode 2014-2019 telah cukup baik, karena seluruh politisi perempuan berpendapat telah melaksanakan program dengan sebaik mungkin dan dengan tujuan yang telah diinginkan yakni untuk menyejahterakan masyarakat Kota Batu khususnya untuk menyeimbangkan peran perempuan dan laki-laki, serta perlindungan terhadap kaum perempuan dan anak. (5) Kendala yang dihadapi oleh politisi perempuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu tidak begitu banyak, termasuk dalam kendala pendidikan, subjek atau pribadi, pendidikan, maupun kendala biaya. Hanya saja terdapat satu anggota dewan perempuan yang memiliki kendala terhadap menejemen waktu antara kinerja dalam anggota dewan dan keluarga. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan: (1) politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu perlu adanya suatu program tahunan dan program jangka panjang kepada rakyat agar tercipta suatu kondisi masyarakat yang progresif dan sejahtera. Hal ini dapat diberlangsungkannya suatu RESES yang lebih intens kepada masyarakat sehingga produk kebijakan yang dihasilkan dapat merangkul segala lapisan masyarakat dan mewujudkan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. (2) Kepada masyarakat diharapkan mampu menyampaikan aspirasinya secara baik dan dapat memberikan masukan atau saran kepada anggota dewan perempuan agar dapat memiliki kinerja yang lebih baik di masa yang akan datang.   Kata Kunci : Kinerja, Politisi Perempuan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Kontribusi perempuan semakin berkembang seiring degan kemajuan pemikiran manusia di berbagai bidang kehidupan. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang lemah dan irasional karena mengandalkan perasaan, melainkan perempuan pada masa kini juga memiliki kontribusi dalam bidang sosial masyarakat termasuk juga dalam bidang politik. . Perempuan tidak hanya identik dalam mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti memasak dan mengurus anak seperti paradigma lama atau patriakri, tetapi perempuan juga memiliki andil untuk berkontribusi di berbagai bidang kehidupan masyarakat terutama bidang politik. Representasi politik perempuan di Indonesia merupakan satu elemen penting jika kita ingin menempatkan konteks demokratisasi Indonesia dalam perspektif demokrasi yang ramah gender (gender democracy). Menurut data kuantitatif, kuota parlemen kontribusi perempuan di tingkat ASEAN, bersumber dari Inter-Parliamentery Union (IPU), dalam kategori Majelis Rendah, Indonesia menempati peringkat keenam terkait keterwakilan perempuan dalam parlemen. Proporsi perempuan yang berada pada parlemen Indonesia berada di bawah 20%, tepatnya 19,8%. Bila dibandingkan dengan rata-rata dunia, proporsi wanita dalam parlemen di Indonesia masih jauh di bawahnya. Diakses dari tirto.id, rata-rata dunia sebesar 23,6 persen wanita yang menduduki kursi di parlemen. Sedangkan, bila dibandingkan dengan negara Asia maupun ASEAN, posisi Indonesia berada di atasnya. Rata-rata proporsi perempuan dalam parlemen di negara Asia dan ASEAN masing-masing sebesar 19,7 persen dan 18,2 persen. Semenjak pemilu 1999 hingga 2014, jumlah perempuan yang menjadi anggota DPR RI belum mencapai angka 30 persen. Di Indonesia rupanya hal tersebut telah menghailkan sebuah kebijakan baru untuk membela kuota perempuan dalam parlemen. Hasilnya memang tampak ada kemajuan, sebagaimana terlihat dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakayat Daerah Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang  No 2 Tahun 2008 secara eksplisit mengharuskan partai politik menempatkan sedikitnya 30% perempuan dalam kepengurusan partai. Sedang untuk mempertegas kuota 30% perempuan, pada pasal 55 ayat (2) setelah penjelasan pasal 52 dan 53 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 mengadopsi susunan daftar calon model zipper yang dimodifikasi dalam setiap tiga calon, sedikitnya terdapat satu calon perempuan. Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 juga dapat menjadi titik terang kemajuan politik ramah gender di Indonesia. Keterlibatan politisi perempuan juga sebagai aktor politik pada parlemen mampu mengubah image politik yang selama ini kontras sekali dengan adanya kekuatan dari peran laki-laki yang lebih mendominasi. Melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 pula, dapat ditarik sebuah benang merah mengapa kuota 30% yang telah dilegalkan oleh  pemerintah Indonesia masih belum bisa tercapai atau terpenuhi oleh masyarakat Indonesia khususnya bagi kaum perempuan. Sebagaimana halnya keterwakilan politisi perempuan pada parlemen di Kota Batu dengan jumlah 25 anggota yang masih memiliki keterwakilan 24% pada atau sekitar 6 orang keterwakilan perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Periode 2014-2019.   BAHASAN Pada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) kinerja politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu; (2) Program- kerja yang dicanangkan oleh politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu dalam memajukan kesejahteraan masyarakat Kota Batu; (3) Tugas pokok dan fungsi politisi perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu; (4) kendala-kendala yang dihadapi dalam merumuskan kebijakan terkait kesejahteraan masyarakat Kota Batu

    0

    full texts

    436

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇