Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
Komunitas Keong Strombus Canarium Linne.1758 dan Asosiasinya dengan Moluska Lain di Perairan Pulau Bintan , Riau
Studi tentang komunitas keong gonggong (Strom bus canarium ) dan asosiasinya dengan jenis moluska lain telah dilakukan di pulau Bintan. Riau. Hasil studi menunjukkan bahwa lokasi pengamatan di Terkulai, Pengujan, Busung, Los dan Dompak merupakan habitat yang cocok untuk j enis keong ini. Kepadatan keong gonggong di Terkulai, Busung dan Dompak berkisar antara 0,64 - 0,80 individu/m2, sedangkan di Pengujan dan Los hanya 0,60 individu/m2 Lebih lanjut studi ini mengemukakan dominasi spesifik, keanekaragaman dan asosiasi yang terjadi antara keong gonggong dan beberapa jenis moluska lain.Kata-kata: keong gonggong, komunitas, keanekaragaman, asosiasi, pulau Binta
Satellite Observed Gulf Stream Meanders and Their Effect on Watermass Movements in Coastal Water off North Carolina , USA
Gerakan oceanic frOllt telah sejak lama diduga sebagai suatu fenomena oseanografi fisik yang penting bagi proses-proses biologis di laut. Pergerakan front tersebut diyakini mencerminkan adanya pergerakan massa air laut. Oleh karena itu pergerakan front sangat penting untuk mempelajari proses transportasi partikel di laut terlllasuk transportasi telur larva ikan. Penelitian mengenai pergerakan massa air akibat hembusan angin telah banyak dilakukan. Namun demikian pengaruh arus panas Gulf Stream terhadap fenomena tersebutbelum diteliti secara serius. Penelitian ini ditujukan untuk memperlihatkan pengaruh Gulf Stream terhadap pergerakan front yang dideteksi melaui citra satelit. Pergerakan front di laut dapat dideteksi melalui citra suhu perrmmukaan laut mengingat didaerah front ini terjadi gradien suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya. Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa pergerakan front (gerakan offshore-ol ore) di pantai North Carolina, Amerika Serikal, diakibatkan oleh gerakan berbelok-beloknya arus panas Gulf Stream dan fenomena terbentuknya filamen atau bentukan lidah (tonguelike structure) dari Gulf Stream . Pergerakan ini kelihatannya merupakan proses oseanografi yang paling penting mempengaruhi kelangsungan hidup larva ikan di pantai timur-Iaut Amerika Serikat.Kata-kata kunci : satelit, oceanic front, Gulf Stream, pantai, pergerakan massa air, transpor-tasi larva ikan ,estuarine -dependent fish
Macrozoobenthos Assemblages In Beds Of The Blue Mussel, Mytilus Edulis L : Effecfs Of Location,Patch Size And Position On Diversity And Abundance
Studi keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos pada hamparan Mytilus edulis L. dilakukan di Norsminde dan Kerteminde Fjord, Denmark. Patch dari Mytilus dikategorikan menjadi kelompok keciJ, sedang, dan besar. Tiga posisi ditentukan pada patch yang ben:kuran sedang dan besar, yaitu: tepi, tengah, dan pusat. Tidak ditemukan pengaruh dari posisi terhadap jumJah spesies maupun jumlah spesies maupun jumlah individu mollusca ustacea, polychaeta, and oligochaeta; akan tetapi pola distnbusi kelompok makrobenthos pada tiap lokasi berbeda berdasarkan ukuran patch.diNorsminde Fjord, jumlah individu kelompok crustacea and oligochaeta berbedaberdasarkan ukuran patch; tetapi kondisi tersebut tidak terdapat di Kerteminde. Mollusca dan polychaeta di Norsminde menunjukkan perbedaan sebaran dalam jumlah spesies,berdasarkan patch, sementara di Kerteminde semua kelompok tidak menunjukkan perbedaan. Secara keseluruhan, total makrobentos menunjukkan perbedaan sesuai dengan ukuran patch. Total bentos yang terdapat pada patch berukuran kecil di Norsminde menunjukkan kelimpahan rendah dlbandingkan terhadap ukuran patch lainnya pada lokasi yang sama. Sedangkan, pada patch kecil di Kerteminde makrobentos terdapat dengan kelimpahan tinggi. Pada kedua lokasi makrobentos pada patch berukuran kecil menunjukkan keanekaragaman tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya. Urutan keanekaragaman komunitas (tinggi-rendah) pada tiap ukuran patch di kedua lokasi adalah Patch kecil Patch sedangPatch besar.Kata-kata kunci : makrozoobentos, Mytilus beds, ukuran Patch, keanekaragama
ANALISIS KERAGAMAN GENETIK BEBERAPA POPULASI IKAN BATAK (Tor soro) DENGAN METODE RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA (RAPD)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik ikan batak dari beberapa lokasi yang berbeda. Ikan batak yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dari Sungai Tarutung, Sungai Bahorok, Sungai Aek Sirambe dan Sungai Asahan di provinsi Sumatera Utara, dan dari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa nilai rata-rata heterozygote adalah antara 0.0909 – 0.1407. Populasi ikan batak dariTarutung dan Bahorok memiliki jarak genetik paling dekat dengan nilai 0.1272 dan populasi ikan batak dari Asahan dan Aek Sirambe memiliki jarak genetik paling jauh dengan nilai 0.3106. Dari dendogram jarak genetik terlihat bahwa terjadi dua pengelompokkan populasi, kelompok pertama terdiri dari populasi Tarutung, Bahorok dan Asahan, dan kelompok kedua terdiri dari populasi Sumedang dan Aek Sirambe.Kata kunci: ikan batak, Tor soro, RAPD.
ANALISIS REHABILITASI TAMBAK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD)
Tambak memegang peranan penting sebagai sumber ekonomi masyarakat pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Akan tetapi, tsunami 26 Desember 2004 telah merusak sebagian besar tambak di provinsi ini dengan prediksi kerugian lebih dari 1 trilyun dan 14 859 rumah tangga hilang sumber mata pencaharian. Kebutuhan biaya rehabilitasi satu hektar tambak yang rusak berat adalah Rp 32.76 juta, rusak sedang yang direhabilitasi dengan mesin (capital intensive) adalah Rp 20.92 juta dan dengan manual (laborintensive) adalah Rp 12.37 juta, dan rusak ringan yang direhabilitasi dengan mesin Rp12.37 juta dan manual Rp 5.89 juta. Pendapatan dari budidaya tambak tradisional plus adalah Rp 14.7 juta/ha/tahun dan menyeraptenaga kerja 488 hok. Analisis finansial, dengan discount rate 15%, menunjukkan bahwa pengelolaan tambak di Aceh layak (feasible) dilakukan. Belajar dari kegagalan masa lalu, maka ke depan, pengelolaan tambak di Aceh harus diarahkan pada pola Manajemen Kesehatan Budidaya Udang (Shrimp Culture Health Management- SCHM).Kata kunci: Tambak, tsunami, rehabilitasi, biaya, tenaga kerja, dan pendapatan
PENDUGAAN FUNGSI KEUNTUNGAN DAN SKALA USAHA BUDIDAYA IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DALAM KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK LAMPUNG, PROPINSI LAMPUNG
Usaha budidaya ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dalam keramba jaring apung, dewasa ini semakin berkembang dan menunjukkan peranannya dalam perekonomian, antara lain sebagai komoditas penyumbang devisa. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan usaha budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung, tingkat keuntungan maksimum jangka pendek dan kondisi skala usaha. Penelitian dilakukan di Propinsi Lampung sejak September hingga Desember 2002. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja di Kecamatan Padang Cermin, Lampung Selatan dan responden pembudidaya ikan dipilih dengan metoda sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersamasama benih ikan, pakan ikan, tenaga kerja manusia, luas areal dan modal investasi berpengaruh nyata terhadaptingkat keuntungan yang diterima pembudidaya ikan. Usaha budidaya ikan kerapu macan (Epinephelusfuscoguttatus) di Propinsi Lampung belum memberikan tingkat keuntungan maksimum dan berada pada kondisi skala usaha dengan kenaikan hasil yang tetap. Berdasarkan fenomena tersebut, upaya pengembangan usaha budidaya kerapu di Propinsi Lampung disarankan untuk dilakukan melalui cara ekstensifikasi usaha.Kata Kunci: budidaya, ikan kerapu macan, keramba jaring apung
PENGARUH MUSIM GELAP DAN TERANG TERHADAP PENGGUNAAN BUBU DI TELUK LADA, CITEUREUP PANDEGLANG
Penelitian sumberdaya benih ikan mengggunakan alat tangkap bubu telah dilakukan di Teluk Lada, Citeureup, Pandeglang pada bulan Agustus 1999 sampai Nopember 2000. Alat tangkap bubu diletakkan pada perairan karang dengan kedalaman antara 10 sampai 15 m. Bubu tersebut diangkat 2 hari sekali dan hasilnyadikumpulkan pada 2 musim yaitu pada bulan gelap dan bulan terang. Hasil tangkapan diukur panjang dan bobot kemudian diidentifikasi jenis dan jumlahnya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa produksi ikan hasil tangkapan pada bulan gelap dengan jumlah ikan sebanyak 271 ekor (48 955 kg) dan pada bulan terang sebanyak 146 ekor (22 391 kg), sedangkan hasil budidaya pada bulan gelap sebanyak 168 ekor (28 802 kg)dan pada bulan terang sebanyak 91 ekor (8 550 kg). Jenis ikan yang dominan tertangkap adalah kerapu(Epinephelus spp), beronang (Siganus spp), kakap merah (Lutjanus johni), kakap (Lates sp), dan rajungan (Portunus sp).Kata Kunci: bubu, bulan gelap, bulan terang, benih, Teluk Lada, Citeureup
SPESIES IKAN LANGKA DAN TERANCAM PUNAH PERLU DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan memiliki keanekaragaman ikan yang tinggi. Tercatat kira-kira 2 140 spesies ikan laut dan 1 300 jenis spesies ikan air tawar. Akibat kegiatan pembangunan yang kurang memperhatikan konservasi keanekaragaman hayati, banyak spesies ikan terancam, sementara yang sudah dilindungi undang-undang baru 6 termasuk hiu Sentani dan Raja laut, sebagian besar adalah ikan air tawar. Perlu dilakukan penelaahan tentang spesies ikan air tawar yang terancam punah (threatened),jarang (rare) dan yang bersifat endemik serta yang mengalami penurunan populasi secara cepat (depleted)karena eksploitasi maupun perusakan habitat sebagai upaya perlindungannya.Kata kunci: keanekaragaman hayati, ikan air tawar, ikan laut, undang-undang
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI DADAP TELUK JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk: a) menganalisis pola sebaran kelimpahan dan keragaman fitoplankton; dan b) menganalisis pengaruh jarak perairan terhadap kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan metode survei. Pengambilan contoh dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan September sampai bulan Oktober 2003 di perairan pantai Dadap di Teluk Jakarta. Pola sebaran kelimpahan dan keanekaragaman bervariasi, tidak terdistribusi secara linier mengikuti besarnya jarak perairan dari muara Sungai Dadap. Uji sidik ragam menunjukkan bahwa jarak perairan dari muara Sungai Dadap sangat mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya aktifitas manusia, nutrien, tingkat asimilasi dan faktor-faktor oseanografi lainnya.Kata kunci: fitoplankton, densitas, diversitas, pesisir
ANALISIS STATUS TERUMBU KARANG UNTUK PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI DESA TELUK BUTON KABUPATEN NATUNA
Desa Teluk Buton merupakan pulau yang terdapat di wilayah Kabupaten Natuna, yang terletak Kota Ranai sebagai ibu kota Kabupaten Natuna. Desa Teluk Buton juga terdapat pulau-pulau kecil yang mempunyai potensi wisata bahari yang menarik seperti perairan yang jernih, terumbu karang, dan ikan karang. Permasalahan yang melatarbelakangi dalam penelitian ini adalah belum adanya pengelolaan terumbu karang untuk pengembangan wisata bahari dengan tujuan penzonasian peruntukan kawasan wisata bahari snorkeling dan selam. Metode yang digunakan yaitu Line Intercept Transect (LIT) untuk analisis terumbu karang, Underwater Visual Cencus (UVC) analisis ikan karang, Reef Check Benthic Fauna (RCBF), analisis Fauna Bentik, Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), analisis Scenic Beauty Estimation (SBE), dan analisis Daya Dukung Kawasan (DDK). Untuk kategori IKW snorkeling dan selam, 8 stasiun masuk dalam kategori S2 (sesuai) wisata snorkeling dan selam, sedangkan 1 stasiun masuk dalam kategori S2 (sesuai) untuk selam, dan 1 stasiun masuk kategori N (tidak sesuai) untuk dijadikan kawasan wisata bahari (snorkeling dan selam). Hasil analisis Daya Dukung Kawasan menunjukan bahwa kesesuaian kawasan satu spot untuk dua kegiatan wisata (snorkeling dan selam) mempunyai nilai DDK yang beragam, sehingga tidak bisa menetapkan nilai tertinggi dan terendah berdasarkan stasiun, dan dapat diintepretasikan bahwa semakin besar suatu kawasan, maka semakin tinggi pula nilai daya dukungnya. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil suatu kawasan maka semakin rendah pula nilai daya dukung yang dimiliki.Kata kunci : daya dukung, kesesuaian, komunitas karang, Teluk Buto