Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    Pengaruh Dosis dan Waktu Penyuntikan Prostaglandin F-2a Terhadap Ovulasi Udang Windu , Penaeus Monodon Fab, Afkir

    No full text
    Induk udang windu yang sudah sekali bertelur, sudab dinyatakan afk.ir. Udang afkir ini umumnya berovulasi secara parsial. Dengan pemberian prostaglandin dosis 750-1000 !lg/kg bobot tubuh pada malam hari, udang afkir ini mampu berovulasi secara sempurna dengan kematangan dan diameter telur yang normal. Untuk udang afkir yang telab sekali memijah, interaksi antara waktu penyuntikan pukul 20.00 WIB dengan dosis 1000 ug/kg bobot tubuh memberikan hasil yang lebih baik dibanding yang lainnya.Kata-kata kunci: udang afkir, prostaglandin, pukul 20.00 WIB, ovulas

    EFISIENSI TEKNIS USAHA BUDIDAYA UDANG DI LAHAN TAMBAK DENGAN TEKNOLOGI INTENSIFIKASI PEMBUDIDAYAAN IKAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian efisiensi teknis usaha budidaya udang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data dianalisis dengan pendekatan Stochastic Production Frontier dan diduga dengan metoda Maximum Likelihood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat efisiensi teknis yang dicapai tergolong rendah  sedang dan terbukti belum efisien secara teknis. Faktor utama yang mempengaruhi efisiensi teknis adalah tingkat pangsa pendapatan keluarga dari usaha budidaya udang terhadap total pendapatannya. Faktor lain yang terbukti kondusif adalahpelatihan budidaya udang, pendapatan total per kapita, umur pembudidaya dan peubah dummy showcase.Kata kunci: efisiensi teknis, budidaya udang, teknologi intensifikasi

    RANCANGAN PENGAMBILAN CONTOH UPAYA TANGKAP DAN HASIL TANGKAP UNTUK PENGKAJIAN STOK IKAN

    Full text link
    Informasi yang diperoleh dari data upaya tangkap dan hasil tangkap dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tropis merupakan informasi yang sangat penting mengingat data upaya dan hasil tangkap merupakan data yang sangat kaya informasi yang dapat digunakan dalam menentukan perubahan beberapa parameter populasi. Kecenderungan menurunnya informasi hasil tangkap per upaya tangkap dapat menjadi indikator terjadinya kegiatan penangkapan yang berlebihan yang dapat mengancam kelestarian populasi ikan, disamping data tersebut juga dapat digunakan untuk memperkirakan seberapa banyak ikan yang sebaiknya ditangkap. Kajian ini membahas prosedur pengambilan contoh upaya tangkap dan hasil tangkap sebagai alat ampuh dalam pengkajian stok ikan.Kata kunci: upaya tangkap, hasil tangkap, hasil tangkap per upaya tangkap, pengkajian stok ikan

    KONDISI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN KABUPATEN BINTAN DAN ALTERNATIF PENGELOLAANYA

    Full text link
    Kerusakan ekosistem terumbu karang pada umumnya diakibatkan oleh sebab alami dan manusia. Sedikit perubahan kecil pada kualitas air atau fisik dapat menyebabkan perubahan besar pada kondisi dan struktur ekosistem terumbu karang. Di daerah penelitian, informasi tentang kondisi kualitas air dan terumbu karang sangat terbatas sehingga dapat menghambat proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah penentuan kondisi ekosistem terumbu karang, identifikasi penyebab potensial utama kerusakan terumbu karang, dan mencari alternatif pengelolaan terumbu karang di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat untuk determinasi penutupan karang dan makroalga, sementara untuk observasi ikan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT) dan Underwater fish Visual Census (UVC). Analisis data dilakukan dengan menggunakan beberapa analisis standar ekologis, korelasi multivariabel dengan menggunakan Principle Component Analysis (PCA), dan analisis ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kondisi penutupan karang masih dalam kondisi baik. Analisis menunjukkan bahwa peningkatan persentase penutupan karang hidup diikuti oleh penurunan penutupan makroalga. Selanjutnya, ikan herbivora dan penutupan alga terhubungkan secara terbalik. Kesimpulannya adalah bahwa jika terumbu karang mengalami gangguan, maka akan berpotensi menyebabkan peningkatan penutupan makroalga. Ikan herbivora terbukti secara efektif mampu mengkontrol penutupan makroalga dan sekaligus membantu pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang.Kata kunci: aktivitas manusia, ikan herbivora, makroalga, terumbu karan

    PEMODELAN KO-EKSISTENSI PARIWISATA DAN PERIKANAN: ANALISIS KONVERGENSI –DIVERGENSI (KODI) DI SELAT LEMBEH SULAWESI UTARA

    Full text link
    Perlindungan sebagian kawasan pesisir untuk konservasi dan pariwisata bahari akan memberikan manfaat baik secara ekonomi maupun ekologi. Namun demikian dalam kondisi dimana area yang dilindungi ini tumpang tindih dengan area penangkapan ikan tradisional maka diharapkan kegiatan- kegiatan ini dapat saling ko-eksis. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab issu tersebut melalui pemodelan bio-ekonomi. Dilakukan di Selat Lembeh Sulawesi Utara yang terkenal sebagai area yang dimanfaatkan untuk perikanan tangkap dan pariwisata. Penelitian ini juga menghasilkan empat tipologi interaksi antara pariwisata dan perikanan tergantung dari besaran kapasitas ekonomi dan kapasitas biofisik. Beberapa alternative kebijakan untuk melindungi pengelolaan kawasan pesisir yang mungkin dapat dilakukan adalah melalui kemitraan antara pengelola kawasan konservasi dan wisata dengan nelayan (sebagai guide diving, pemandu wisata). Analisis dinamik merupakan interaksi antara kegiatan perikanan yang diwakili dengan potensi perikanan dengan kegiatan pariwisata yang diwakili jumlah wisatawan. Konvergensi terjadi pada tahun ke 40 dengan nilai biomasa ikan sebesar lebih kurang 13 ton dengan jumlah tersebut wisatawan sebanyak 119 orang. Sementara itu interaksi dinamik melalui analisis phase line memiliki keseimbangan stable focus dimana keseimbangan system jangka panjang akan dicapai melalui penyesuaian antara kedua kegiatan tersebut. Artinya bahwa peningkatan jumlah wisatawan hanya bisa dicapai jika kegiatan perikanan dikurangi Kata kunci: daerah perlindungan laut, ko-eksistensi, konvergensi, divergensi

    PENGUJIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA BEBERAPA IKAN BUDIDAYA

    Full text link
    Perkembangan budidaya ikan di Indonesia mengalami hambatan dengan berjangkitnya wabah penyakit KHV (Koi Herpes Virus) sejak 2003 yang telah merugikan ratusan miliar rupiah dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis ikan yang dapat terinfeksi penyakit KHV dan jenis–jenis ikan yang tidak terinfeksi tetapi dapat berpotensi sebagai pembawa penyakit KHV. Ikan yang diuji adalah ikan konsumsi dan ikan hias meliputi ikan mas (Cyprinus carpio), ikan mujair, (Tilapia mosambica), ikan tawes (Puntius javanicus), bawal (Colossoma spp), ikan mas koki (Carassius auratus) dan komet (Carassius carpio). Pengujian dilakukan dengan melihat gejala klinis dan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR). Selanjutnya ikan diaklimatisasi dan diinjeksi dengan virus KHV. Pengujianinang alternatif KHV masing-masing dilakukan 5 (lima) kali ulangan dengan teknik uji kohabitasi (pemeliharaan bersama). Selama pengujian dilakukan penurunan suhu 3-4 oC dan penaikan pH hingga 8. Sebelum diuji coba, ikan tidak menunjukkan gejala kilinis terserang penyakit dan dalam uji PCR tidak menunjukkan terinfeksi KHV. Ikan mas pada uji pendahuluan menunjukkan tingkat kematian 40% hingga 80%, masing-masing untuk isolat Padang dan Cirata Jawa Barat. Pada kohabitasi dengan ikan mas yg terinfeksi KHV ikan mas menunjukkan tanda-tanda serangan KHV dan menimbulkan kematian sebesar 20% hingga hari ke 9 dan hingga 80% pada hari ke 10. Ikan koi meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda serangan tetapi mengalami kematian yang sama dengan kematian 80% dan dalam pemeriksaan PCR didapatkan hasil positif KHV. Ini menunjukkan bahwa ikan mas dan koi dapat menjadi inang yg cocok bagi KHV. Inang alternatif lain (koki,komet, tawes, mujair, gurame, bawal) yang dikohabitasi dengan ikan mas terinfeksi KHV tidak menunjukkan gejala klinis terinfeksi KHV, sehingga tidak dapat menjadi inang bagi KHV.Kata Kunci: Penyakit KHV, Infeksi, PCR, Ikan budidaya

    KERAGAMAN GENETIK UDANG JARI (Metapenaeus elegans DE MAN 1907) BERDASARKAN KARAKTER MORFOMETRIK DI LAGUNA SEGARA ANAKAN, CILACAP, JAWA TENGAH

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaman genetik udang jari (Metapenaeus elegans) di perairan Laguna Segara Anakan berdasarkan karakter morfometrik. Udang jari yang diamati pada saat penelitian berjumlah 160 ekor, terdiri dari 73 ekor jantan dan 87 ekor betina. Panjang total berkisar antara 38.5 – 84.5 mm dan bobot tubuh berkisar antara 1.8 – 36.5 gram. Dari keempat populasi udang jari yang diamati, untuk sebaran karakter morfometrik individu secara umum menunjukkan hubungan kekerabatan cukup erat antara satu dengan yang lainnya. Nilai sharing component dalam populasi yang paling kecil diperoleh pada populasi Klaces sebesar 52.5%, sedangkan nilai antar populasi diperoleh pada populasi Klaces dengan Motean sebesar 5%. Nilai sharing component terbesar dalam populasi didapatkan pada populasi Motean sebesar 65.0 %, sedangkan nilai antar populasi diperoleh antara populasi Klaces dan Jojok sebesar 32.5%. Untuk matrik korelasi karakter keempat populasi udang jari diperoleh korelasi positif tertinggi antara panjang total dengan panjang badan dengan nilai 0.977, dan korelasi positif terendah antara panjang ruas kedua dengan panjang ruas kelima dengan nilai 0.010. Terdapat 4 karakter yang dapat dipakai dalam membedakan keempat populasi udang jari yang berasal dari Segara Anakan yaitu panjang ruas kedua (PRD), panjang ruas kelima (PRL), panjang badan (PBD), dan panjang total (PTO). Berdasarkan hasil analisis hierarki kluster pada pengukuran karakter morfometrik keempat populasi udang jari mempunyai jarak genetik yang berdekatan.Kata kunci: genetik, udang jari, karakter morfometrik, laguna, Segara Anakan

    RESPON UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP MEDIA AIR LAUT YANG BERBEDA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat respon udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap berbagai media air laut buatan. Respon yang dimaksud pada penelitian ini adalah tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan harian. Media air laut buatan ini meliputi campuran air laut dengan larutan garam krosok, air laut pekat yang diencerkan serta pembuatan artificial sea water dari campuran berbagai mineral dan unsur- unsur kimia lainnya. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) dan laju pertumbuhan (growth rate). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa SR berturut-turut pada media kontrol (air laut), artificial sea water, air laut pekat yang diencerkan dan campuran garam krosok dengan air laut masing-masing sebesar 87, 82, 60 dan 55%. Sidik ragam menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata antar perlakuan terhadap kelangsungan hidup udang vaname pada taraf kepercayaan 95%. Laju pertumbuhan harian individu tertinggi pada media budidaya berturut-turut yaitu media kontrol, artificial sea water, air laut pekat dan larutan garam krosok masing-masing sebesar 13.3002%, 13.0118%, 12.2022% dan 10.6384%. Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan perbedaan nyata terhadap laju pertumbuhan harian individu udang vaname pada taraf kepercayaan 95%.Kata kunci: udang putih, pertumbuhan, air laut buatan

    ANALISIS KERAGAMAN GENETIK BEBERAPA POPULASI IKAN BATAK (Tor soro) DENGAN METODE RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA (RAPD)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik ikan batak dari beberapa lokasi yang berbeda. ikan batak yang digunakan dalam penelitian ini di kumpulkan dari sungai tarautung , sungai Baho-rok. sungai Aek Sirambe dan sungai asahan dinprovinsi sumatera utara , dan dari kabupaten sumedang,jawa barat . penelitian ini menggunakan metode random Amplified Polymorphism DNA (RPAD). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata heterrozzygote adalah antara 0.0909-0.1407. populasi ikan batak dari tarutung bahorok memiliki jarak genetik paling dekat dengan nilai 0.1272 dan populasi ikan batak dari asahan dan aek sirambe memiliki jarak genetik paling jauh dengan nilai 0.3106 dari dendogram jarak genetik terlihat bahwa terjadi dua pengelompokan populasi , kelompok pertama terdiri dari populasi tarutung, bahorok dan asahan, dan kelompok kedua terdiri dari populasi sumedang dan Aek Sirambe Kata Kunci: ikan batak, Tor soro ,RAP

    MANFAAT BULU BABI (ECHINOIDEA), DARI SUMBER PANGAN SAMPAI ORGANISME HIAS

    Full text link
    Bulu babi adalah hewan avertebrata laut. Para ahli mengelompokkan organisme ini dalam Filum Echinodermata. Menurut Aziz (1993) di Perairan Indonesia terdapat sekitar 84 jenis bulu babi. Organisme ini memiliki beragam fungsi. Sebagian dapat berfungsi sebagai bahan pangan, ada yang berguna dalam ekologi, ekonomi dan sifat racun. Sebagian lain berfungsi sebagai organisme model, untuk pengobatan penyakit pada manusia dan digunakan sebagai hewan hias.Kata kunci: bulu babi, bahan pangan, manfaat ekologi, nilai ekonomis, sifat racun, hewan hias

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇