Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
PENELUSURAN V ARIETAS IKAN GURAME, Osphrollemus goramy, Lacepede, BERDASARKAN PENAMPILAN KARAKTER LUAR (FENOTIP)
Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi keberadaan varietas-varietas ikan gurame yang ada berdasarkan karakter luar (fenotip). Pada penelitian ini, 250 contoh ikan gurame yang berasal dari Parung (Bogor), telah digunakan sebagai hewan uji. Hasilpenelitian telab berhasil diidentifikasi keberadaan lima varietas ikan gurame (bule,blusafir, paris, bastar dan batu) berdasarkan karakter fenotip berupa warna, bentuk kepala, bentuk tubuh dan pola sisik.Kata-kata kunci: identifikasi, varietas, ikan guram
Karakterisasi Populasi Ikan Gurame, Osphronemus Goramy, Lacepede, dengan Metode Biokimia
Suatu penelitian untuk melakukan inventarisasi genetik populasi ikan gurame dengan menggunakan metode elektroforesis protein telah dilakukan di laboratorium BIOTROP, Bogor. Contoh ikan diarnbil dari Purwokerto (Banyumas) dan Parung (Bogor) sebanyak 140 ekor. Pengamatan karakter genetik menggunakan metode elektroforesis protein dengan contoh protein berasal dari daging dan hati. Sebagai media digunakan gel pati(starch gel). Enzim yang diuji sebanyak 7 jenis antara lain: Isocitrate Dehydrogenase (Idh); Esterase (Est); Glucose 6 phosphate Dehydrogenase (Gpd); PhosphogIuco Isomerase (Pgi); Phophogluco mutase (Pgm); Malate Dehydrogenase (Mdh); dan Sorbitol Dehydrogenase (Sod).Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 3 lokus polimorf dari 9 lokus yang diuji. Tingkat heterosigositas dari populasi asal Banyumas sekitar 0,05-0,06, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan populasi asal Parung yaitu 0,10-0,13. Dari segi jarak genetik,populasi asal Banyumas dan Parung nampaknya tidak jauh berbeda, kecuali dua populasi asal Parung yakni Batu dan Bastar yang nampak cukup berbeda dari populasi lainnya.Kata-kata kunci: ikan gurame, genetik, elektroforesis protei
Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Agro-Estate Tambak Udang
Budidaya udang windu (Penaeus monodon) telah ditetapkanDepartemen Transmigrasi sebagai salah satu Pola Usaha Tani Tambak. Sampai sekarang (Juli 1995) sedikitnya te lah ada dua Tambak Inti Rakyat Transmigrasi yang sudah berjalan; TIR-Trans Jawai di Kalimantan Barat dan TIR-Trans Waworada di Nusa Tenggara Barat. Jauh sebelum kedua TIR-Trans te rsebut ada, hud idaya udang sesungguhnya telah banyak dikembangkan di Indones ia, diawali di daerah-daerah pertambakan ikan bandeng di pantai Utara Jawa, Sulawesi Selatan dan Aceh yang terusberkembang ke daerah-daerah lainnya. Kegiatan tersebut telahberJangsung kurang lebih satu setengah dekade. Pemilihan komoditas udang sesungguhnya merupakan pilihan yang tepat untuk komoditas akuakultur masa sekarang dan yang akan datIng karena sedikitnya 3 hal. Pertama, Indonesia sebagai negara kepulauan yang beriklim tropik basah dengan garis pantai yang sangat panjang, jelas memiliki potensi yang amat besar untuk pengembangan budidaya pantai termasuk budidaya udang windu. Kedua, budidaya udang windu memiliki karakteristik yang sarna dengan ciri-ciri yang diprediksi FAO (1989) sebagai akuakultur masa datang. Ciri tersebut adalah nilai komoditasnya relatif mahal; teknologi budidayanya akan rna kin hemat lahan dan air, serta memperhatikan dampak limbahnya terhadap lingkungan, bahkan estetika; produknya akan bersaing dengan bahan makanan relatif lux lainnya; bahan baku pakannya (khususnya tepung ikan) akan mengalami persaingan yang ketat dengan aktivitas lain. Ketiga, daya serap pasar dunia akan udang windu cenderung terus naik dengan harga yang relatif stabil bahkan cenderung naik. Import udang oleh Jepang dan Amerika (dua negara pengimpor terbesar dunia) dari tahun 1989 sid 1993 berturut-turut 490,27; 509,46; 541,49 dan 572,10 ribu ton (Asian Shrimp news No.9 Tahun 1994). Harga eksport udang Indonesia 1988 US 7,2/kg, tapi tahun 1993 kembali jadi US$ 8,9/kg (Ditjen Perikanan 1994)
KUALITAS PENETASAN KISTA ARTEMIA YANG DIBUDIDAYA PADA BERBAGAI TINGKAT PERUBAHAN SALINITAS
Kualitas kista artemia tergantung tingginya nilai derajat dan efisiensi penetasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kapan (waktu) perubahan salinitas dan berapa besarnya perubahan salinitas tersebut yang dicirikan nilai derajat dan efisiensi penetasan sebagai indikator kualitas artemia.penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama terdiri dari dua, yaitu A (menaikkan salinitas pada hari ke9) dan B (menaikkan salinitas pada hari ke 15). Faktor kedua terdiri dari empat, yaitu peningkatan salinitas I (100; 100; 100;140 g/kg), II (100; 100; 140; 140 g/kg), III (100; 140; 140; 140 g/kg) dan IV (100; 110; 125;140 g/kg), dan dengan 3 kelompok warna yaitu biru, merah dan hijau. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila memberikan pengaruh yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B II menghasilkan derajat penetasan paling tinggi, sedangkan efisiensi penetasan paling tinggi terdapat pada perlakuan AIII.Kata kunci: artemia, kista, salinitas
KAJIAN POTENSI BIOAKTIF KARANG LUNAK (OCTORALLIA: ALCYONACEA) DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
Dalam upaya memperkaya khasanah pengetahuan karang lunak di Indonesia, dilakukan penelitian mengenai kajian potensi bioaktif karang lunak di beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Selama penelitian, kegiatan ini berhasil mendata 39 spesies (12 genera, 4 famili) karang lunak yang tersebar di Pulau Pari, PulauPramuka, dan Pulau Kotok. Genus Lobophytum mendominasi perairan dangkal (3 m), sedangkan genera Sarcophyton dan Dendronephthya lebih kerap ditemukan di perairan dalam (10 m). Dari ke-39 spesies tersebut,ekstrak dari 30 jenis karang lunak menunjukkan bioaktivitas terhadap keberadaan bakteri patogen Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Ditinjau dari lokasi pengambilan contoh terhadap daratan utama, kandungan bioaktif karang lunak semakin tinggi bila semakin jauh dari daratan utama. Hal yang serupa berlaku untuk karang lunak yang hidup di kedalaman yang lebih dalam.Kata kunci: potensi, bioaktif, karang lunak, bakteri, Kepulauan Seribu
SIFAT FISIKO-KIMIA AGAR-AGAR DARI RUMPUT LAUT Gracilaria chilensis YANG DIEKSTRAK DENGAN JUMLAH AIR BERBEDA
Pengamatan sifat fisiko-kimia agar-agar dari rumput laut Gracilaria chilensis yang diekstrak menggunakan jumlah air berbeda telah dilakukan. Jumlah air pengekstrak yg digunakan dalam ekstraksi ini adalah 15, 20 dan 25 kali berat rumput laut kering. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar sulfat, kekuatan gel, kadar 3.6 anhydro-galaktosa, titik pembentukan gel dan titik pelelehan gel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen agar-agar tertinggi diperoleh pada ekstraksi menggunakan jumlah air pengekstrak sebanyak 20 kali berat rumput laut kering, yang menghasilkan rendemen 20.21%. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar sulfat, kekuatan gel, kadar 3.6 anhydro-galaktosa, titik pembentukan gel dan titik pelelehan gel.Kata kunci: agar-agar, Gracilaria chilensis, sifat fisiko-kimia
MODEL PENDUGAAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PULAU WETAR (MALUKU TENGGARA BARAT) ATAS DASAR ASIMILASI FOSFAT
Studi ini bertujuan untuk menilai salah satu aspek daya dukung lingkungan Pulau Wetar, Maluku Tenggara Barat, dlam kaitannya dengan program pengembangan transmigrasi di pulau ini. Sebuah model asimilasi fosfat (fosfor) yang diserap oleh lingkungan perairan pantai digunakan untuk tujuan tersebut. Hasil studi ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan pantai Pulau Wetar dpat mendukung lebih dari 30 000 kluarga transmigran sebagai tambahan populasi yang telah menghuni pulau ini. Namun demikian, hasil dugaan nilai daya dukung lingkungan ini hanya didasarkan pada satu aspek saja yaitu asimilasi fosfat dan untuk mendapatkan nilai dugaan yang sebenarnya masih memerlukan pendugaan-pendugaan dari berbagai aspek daya dukung lingkungan yang lain. Lagi pula, model ini masih bersifat makro mengingat seluruh pulau dan perairan pesisir di sekitarnya dianggap sebagai satu sistem.Kata kunci: pulau Wetar, daya dukung, model asimilasi fosfat, rencana program transmigrasi
Studi Kebiasaan Makanan Ikan Gurame Osphronemus Gouramy
Untuk memucu pertllmbuhun ibn gllrame perlu dilukukan perubahan pola pemberiun pakan, duri kebiusuun memberikun pakan hunya berupa daun tumbuhan ke pemberiun pukan buutan yang kaya akan nutrisi. Untuk meneliti kebutuhannutrisi pada ikan ini perlu informasi dasar tentang kebutuhan nutriisi ikan tersebut Inforn13si yang dimaksud adalah gambaran komposisi makanannya di alam (kolam alami) kelompok makanan dominan yang dimakan ikan ini berubah dari insekta (pada ikan ukuran kecil) menjadi tumbuhan (pada ikan ukuran besar). Perubahan komposisi pakan ini sejalan dengan perubahan ukuran tubuh dan perbandingan antara panjang usus dan panjang tubuh. Dengan demikian pada saatmasih muda ikan gurame bersifat karnivor dan pada saat dewasa berubah menjadi omnivor yang cenderung herbivor.Kata-kala kunci: kebiasaan makanan, nutrisi, karnivor
PENGENTASAN KEMISKINAN DI SUB-SEKTOR PERIKANAN
Sasaran utama Pembangunan Nasional Jangka Panjang Keduaadalah menciptakan kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia. Sehubungan dengan sasaran tersebut, maka dalam memasuki Pelita VI, kata KEMISKINAN menjadi isu nasional, khususnya dalam menghadapi masalah kemiskinan dari 27 juta penduduk Indonesia, di antaranya dari kelompok nelayan/petani ikan (Pidato Presiden tanggal 14 April 1993 dihadapan Rapat Kabinet Pembangunan VI). Kualitas hidup masyarakat nelayan/ petani ikan sebagai sumberdaya pembangunan merupakan faktor penting dalam tahapan pembangunan perikanan. Oleh karenanya, kemiskinan masyarakat perikanan tersebut perlu diatasi melalui program-program pembangunan secara menyeluruh. Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) 5/93 kemungkinan merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan dari masyarakat nelayan/petani ikan (Nasution, 1993). Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan masalah-masalah yang ada, mencari pemecahannya dalam bentuk program-program serta sasaran dalam upaya pengentasan kemiskinan masyarakat, khususnya nelayan
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN IKAN KERAPU (SERRANIDAE) DI DAERAH RESERVASI (ZONA INTI) DAN NON-RESERVASI (ZONA PEMUKIMAN) TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA
Kawasan perlindungan laut berperan dalam melindungi dan mempertahankan keanekaragaman dan kelimpahan ikan-ikan target. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunitas dan karakteristik habitat dari ikan kerapu di zona inti kawasan lindung dan di kawasan non-lindung (zona pemukiman), Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu; menganalisis faktor lingkungan yang mempengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan kerapu; dan untuk menganalisis efektivitas penetapan daerah reservasi (zona inti) ditinjau dari perspektif perikanan kerapu. Data keanekaragaman dan kelimpahan kerapu dan karakteristik bentik diperoleh melalui observasi bawah laut dan membuat perangkap ikan. Data pada daerah lindung dibandingkan dengan data pada lokasi penangkapan ikan intensif. Karakteristik bentik di daerah lindung tidak berbeda nyata dengan daerah penangkapan intensif dan pengelompokan bentik tidak mencerminkan adanya status perlindungan, sehingga menunjukkan ketidakefektifan kawasan lindung dalam mempertahankan kondisi terumbu karang. Populasi kerapu di kawasan lindung memiliki kelimpahan dan keanekaragaman yang lebih tinggi (ikan berukuran besar) dibanding kawasan non-lindung. Kawasan lindung cukup efektif dalam menjaga populasi kerapu, namun belum optimal karena dari beberapa parameter yang diamati seperti CPUE, rata-rata panjang, dan distribusi frekuensi panjang belum menunjukkan adanya perbedaan antara kerapu di daerah lindung dan non-lindung. Kelimpahan kerapu berkorelasi yang erat dan signifikan dengan tekanan penangkapan, sedangkan keanekaragaman ikan dipengaruhi oleh persen penutupan karang hidup. Oleh sebab itu, disarankan untuk lebih mengefektifkan pengelolaan kawasan lindung yang ada serta mengkaji ekologi reproduksi dari spesies ikan kerapu sebagai pengelolaan berbasis ekologi perikanan kerapu di Kepulauan Seribu.Kata kunci: habitat bentik, kawasan lindung laut, keanekaragaman, kelimpahan, kerapu, manajeme