Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
DAYA DUKUNG PERAIRAN DANGKAL SEMAK DAUN, KEPULAUAN SERIBU, BAGI PENGEMBANGAN SEA RANCHING IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS)
Daya dukung perairan dangkal Semak Daun dikaji secara keseluruhan melalui pendekatan beban P dan produktivitas primer. Kajian tersebut didasarkan pada dua bagian penyusun perairan yang berbeda batimetrinya, yaitu reef flat (281,89 ha) dan goba (9,9 ha). Selain itu, daya dukung perairan juga dikaji berdasarkan kelayakannya bagi budidaya keramba jaring apung/KJA (9,9 ha), sistem sekat (2 ha), sistem kandang (40,7 ha), dan sea ranching (262 ha). Daya dukung bagi pengembangan perikanan secara total adalah 652 ton/th. Daya dukung ini bagi daerah reef flat adalah 389,52 ton/th dan bagi daerah goba 262,94 ton/th. Dilihat dari jenis aktivitas perikanannya, daya dukung perairan Semak Daun bagi pengembangan KJA sebesar 78,17 ton/th, sistem sekat daya dukungnya 2,94 ton/th, sistem kandang sebesar 59,79 ton/th, dan daya dukung bagi pengembangan sea ranching sebesar 589,32 ton/th. Sementara itu, berdasarkan daya dukung perairan bagi sea ranching maka daya dukung bagi ikan kerapu adalah 5,112 ton/th. Dengan kata lain, kepadatan optimal kerapu macan (Epinephelus fusgoguttatus) di perairan sea ranching Semak Daun adalah 0,02 ton ha-1.Kata kunci: Epinephelus fusgoguttatus, daya dukung, sea ranching, Semak Dau
KAJIAN KOMUNITAS TERUMBU KARANG DAERAH PERLINDUNGAN LAUT PERAIRAN SITARDAS KABUPATEN TAPANULI TENGAH PROVINSI SUMATERA UTARA
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang terdapat di pesisir pantai yang secara fisik berfungsi untuk melindungi pantai dari ombak dan gelombang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang yang ada di Daerah Perlindungan Laut (DPL) Perairan Sitardas. Pengukuran persentase tutupan karang dilakukan dengan metode Line Intercept Transect, ikan karang dengan metode Underwater fish Visual Cencus, dan hewan bentik selain karang dengan metode Reef Check Benthos. Data sosial ekonomi masyarakat diambil secara purposive sampling dengan penyebaran kuisioner dan wawancara langsung. Analisis pengembangan untuk strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang dan DPL menggunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity, dan Threats (SWOT). Secara umum hasil penelitian dapat diketahui bahwa kondisi ekosistem terumbu karang di Perairan Sitardas mengalami kerusakan akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potasium serta akibat penggunaan jangkar kapal nelayan.Kata kunci : bom, daerah perlindungan laut, perairan Sitardas, potasium, terumbu karang
KEMATANGAN GONAD KEPITING KELAPA (Birgus latro) DI PULAU PASOSO, SULAWESI TENGAH
Penelitian tentang kematangan gonad kepiting kelapa (Birgus latro) dilakukan sejak Juni 2004 sampai Februari 2005. Contoh kepiting ditangkap dengan menggunakan beberapa peralatan, yaitu perangkap, jaring, dan secara langsung dengan tangan. Pengamatan dilakukan terhadap jenis kelamin, kematangan gonad, dan diameter telur, sedangkan analisis dilakukan untuk menentukan faktor kondisi, indeks kematangan gonad, dan fekunditas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa faktor kondisi, kematangan gonad, dan indeks kematangan gonad bervariasi tergantung dari bulan pengambilan contoh. Pengamatan kematangan gonad menunjukkan bahwa nilai tertinggi terdapat pada November/Desember. Keadaan yang sama juga ditunjukkan dengan nilai faktor kondisi dan indeks kematangan gonad yang cukup tinggi pada bulan November /Desember. Fekunditas berkisar antara 58 717 - 197 400 butir telur. Diameter telur berkisar antara 0.015-0.035 mm, memiliki 1 puncak sehingga dapat diklasifikasikan sebagai total spawner.Kata kunci: kematangan gonad, kepiting kelapa (Birgus latro), total spawner Study on gonad maturity of coconut crab (Birgus latro) was carried out from June 2004 to January 2005. Crabs were collected by traps, nets, and by bare hand. Observation was done to know sex ratio, gonad maturity, and eggs diameter, while analysis was employed to estimate condition factor, gonado somatic index, and fecundity. Observation result showed that condition factor, gonad maturity, and gonado somatic index varied depending on sampling month. Gonado somatic index showed a high value around November/December. A similar result was also showed by condition factor and gonado somatic index that was high around November /December. Fecundity varied from 58 717 to 197 400. Oocyte diameter varied from 0.015 to 0.035 mm, with one mode leat tobe classified as total spawner animal.Key words: gonad maturity, coconut crab (Birgus latro), total spawner.
TEMPORAL DISTRIBUTION OF QUAHOG LARVAE ALONG A NORTH-SOUTH TRANSECT IN NARRAGANSETT BAY, RHODE ISLAND – USA
Studi distribusi larva quahog dilakukan selama musim panas di Narragansett Bay, Rhode Island. Pengambilan contoh larva dilakukan setiap minggu pada lima stasiun pengambilan contoh di pesisir barat Rhode Island Sound. Tiga stasiun terletak di bagian atas estuari, yaitu Upper Bay. Sedangkan dua stasiun lainnya berada di bagian bawah estuari, yaitu Upper West Passage. Distribusi temporal quahog larva bersesuaian dengan fasa lunar; larva banyak ditemukan pada saat surut. Larva stadia awal (D-hinge veliger) pada umur 1-3 hari muncul setiap minggu selama pengambilan contoh dan kelimpahannya mencapai puncak pada 20 Juni. Kelimpahan larva stadia lanjut (umbonate veliger) lebih sedikit dibandingkan dengan stadia awal. Puncak kelimpahan stadia lanjut tersebut ditemukan pada 7 Juli di seluruh stasiun, kecuali satu stasiun. Puncak kelimpahan pada umumnya terjadi 6 – 12 hari setelah bulan baru ataupun bulan purnama, bersamaan dengan terjadinya surut terendah. Berdasarkan puncak kelimpahan kedua stadia perkembangannya, maka dapat diperkirakan bahwa lama hidup larva quahog sebagai plankton adalah sekitar 2-3 minggu. Dengan demikian intensitas penempelan tertinggi larva quahog stadia lanjut kemungkinan terjadi pada pertengahan Juli.Kata kunci: larva quahog, stadia awal, stadia lanjut, fasa lunar, transek utara-selatan
Produktifitas Primer dan Laju Pertumbuhan Fitoplankton di Perairan Pantai Bekasi
Observasi dan eksperimen telah dilakukan untuk mengevaluasi produktifitas primer dan laju pertumbuhan fitoplankton serta estimasi pemangsaan fitoplankton oleh zooplankton di perairan Muara Bekasi, Muara Jaya, dan Muara Sorongan,Kabupaten Bekasi di lokasi muara sungai (Stasiun S), perairan antara sungai dan laut (Stasiun SL) dan laut di depannya (Stasiun L). Produktifitas primer diukur dengan menggunakan metode botol gelap-botol terang, sedangkan laju pertumbuhan fitoplankton diukur dengan metode penyaringan. Pengukuran dan eksperimen dilakukan pada bulan Februari , Maret, dan April 1993. Dari hasil pengukuran didapatkan nilai rata-rata produktifitas primer sebesar 428,16,322,55, dan 343,97 gC/ml/tb berturut-turut untuk Stasiun S, SL, dan L. Laju tumbuhan fitoplankton adalah 16 %, 54 %, dan 26 % penggandaanlhari untuk Stasiun S, SL, dan L. Klorofil yang hilang di Stasiun S, SL, dan L berturut-turut adalah sebesar 2,28, 3,81, dan 2,38~tlhari, atau sekitar Ix )0-4, 3x )0-4, dan 0,7x 10-4 ~Cl1t/zooplankter/hari ditransfer dari fitoplankton ke zooplankton .Kata-kata kunci: fitoplankton, produktifitas primer, laju pertumbuhan, perairanpantai, Kabupaten Bekasi
Struktur dan Distribusi Spasial Teripang(Holothuroidea) Serta Interaksinya dengan Karakteristik Habitat di Rataan Terumbu Pantai Blebu, Lampung Selatan
Penelitian ini Bertujuan untuk Mengkaji struktur komunitas dan distribusi spasial teripang (Holothuroidea) serta interaksinya dengan karakteristik habitat Perairan di rataan terumbu pantai Blebu, Lampung Selatan. Pengambilan contoh teripang di lakukan dengan menggunakan teknik pengambilan contoh sistematis pada titik plot yang telah di tentukan. kestabilan struktur komunitas teripang dikaji dengan menggunakan indeks keanekaragaman hill. Variasi Karakteristik habitat perairan dikaji dengan menggunakan analisis komponen utama, sedangkan evaluasi kuantitatif terhadap distribusi spasial teripang dan interaksinya dengan karakteristik habitat perairan di lakukan dengan menggunakan analisis faktorial koresponden. dari hasil pengamatan di peroleh 7 spesies teripang, yang termasuk ke dalem 2 ordo (Aspidochirotida dan Apoda) dan 3 famili (Holothuridae , Stichopididae dan synaptiade) . analisis terhadap kestabilan struktur komunitas teripang memperlihatkan ketidakstabilan pada stasiun 2 , sedangkan stasiun 4 memiliki struktur komunitas yang paling stabil. analisis komponen utama terhadap karakteristik habitat perairan memperlihatkan adanya variasi spasial yang nyata dari arus, kekeruhan suhu, sedangkan salinitas tidak memperlihatkan adanya variasi. adanya variasi karakteristik habitat perairan berkontribusi terhdap distribusi spesies teripang. hasil analisis faktorial koresponden memperlihatkan pengelompokan stasiun berdasarkan struktur komunitas teripang , analisis ini juga memperlihatkan pengelompokan beberapa spesies teripang yang memiliki preferensi yang sama terhadap karakteristik habitat perairan.kata-kata kunci:teripang, struktur komunitas ,karakteristik habitat perairan,analisis komponen utama, analisis faktorial koresponde
PENENTUAN JUMLAH ULANGAN DALAM SUATU PERCOBAAN
Dalam merancang suatu percobaan seorang peneliti seringberhadapan dengan masalah penentuan banyaknya satuan percobaan (ulangan) untuk setiap perlakuan yang akan dicobakannya. Ulangan yang dimaksudkan dalam ulasan ini adalah banyaknya satuan percobaan yang memperoleh suatu perlakuan tertentu. Mengulang atau mencobakan suatu perlakuan sedikitnya dua kali adalah sangat penting, diantaranya: untuk memperoleh dugaan kesalahan percobaan, meningkatkan ketelitian percobaan melalui pengurangan nilai simpangan baku rata-rata perlakuan serta untuk memperluas cakupan inferensia percobaan. Sedangkan banyaknya ulangan diantaranya ditentukan oleh: tingkat ketelitian yang diinginkan, tingkat keragaman satuan percobaan yang akan digunakan, serta saran a dan prasarana termasuk pengamat dan peralatan
PENENTUAN KARAKTERISTIK KAWANAN IKAN PELAGIS DENGAN MENGGUNAKAN DESKRIPTOR AKUSTIK
Tulisan ini memaparkan tentang penentuan karakteristik kawanan ikan pelagis dengan menggunakan deskriptor akustik energetik, morfometrik dan batimetrik pada kawanan ikan pelagis. Perangkat lunak ADA versi 2004 (Acoustic Descriptor Analyzer version 2004) yang telah kami kembangkan sebelumnya digunakan untuk menentukan ciri-ciri (karakteristik) kawanan ikan pelagis dari tiga survei akustik di Perairan Selat Bali. Hasil matrik korelasi menyatakan bahwa kawanan setiap spesies dapat dibedakan berdasarkan deskriptor akustik.Beberapa peubah dari deskriptor akustik energetik, morfometrik dan batimetrik yakni tinggi, panjang, area, perimeter, relative altitude, skewness dan simpangan baku menunjukkan perbedaan yang nyata sebagai faktor penentu dalam pengelompokan spesies kawanan ikan pelagis.Kata kunci: karakteristik kawanan, ikan pelagis, ADA versi 2004, deskriptor akustik
KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON CRYSOPHYTA (Paheodactylum sp., Chaetoceros sp., DAN Pavlova sp.) PADA BERBAGAI TINGKAT KANDUNGAN UNSUR HARA NITROGEN, FOSFOR DAN SILIKAT
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan untuk mengetahui perbandingan N:P yang terbaik untuk pertumbuhan diatom dan penelitian utama untuk mengetahui pengaruh penambahan Si pada perbandingan N:P yang menghasilkan pertumbuhan diatom yang optimum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan, komposisi dan pola pertumbuhan fitoplankton Chrysophyta pada kandungan unsur hara makro (N dan P) dan unsur hara mikro (silika) yang berbeda. Bahan-bahan yang digunakan sebagaisumber N adalah pupuk urea (46% N), sumber P adalah TSP (32% P2O5), dan sumber Si (silika) adalah sodium meta silika (34% Si(OH)2). Dari hasil penelitian pendahuluan didapatkan hasil bahwa perbandingan N:P terbaik untuk pertumbuhan diatom adalah 30:1. Penelitian utama terdiri dari 5 perlakuan dan 1 kontrol, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Penambahan unsur hara silikat berkisar 2-4 mg/l cukup untuk pertumbuhan algae. Unsur silikat menyebabkan perbedaan terhadap laju pertumbuhan spesifik, kepadatan populasimaksimum dan waktu untuk mencapainya. Laju pertumbuhan spesifik untuk jenis Phaeodactylum sp sebesar 0.362-0.489 ind/hari, Chaetoceros sp. sebesar 0.156-0.437 ind/hari dan Pavlova sp. sebesar 0.251-0.530 ind/hari dan untuk gabungan sebesar 0.229-0.376 ind/hari. Kepadatan maksimum (gabungan) yang dicapai sebesar 9.40 x 106 sampai 16.06 x 106 ind/ml yang dicapai dalam waktu 11 sampai 13 hari. Berdasarkan laju pertumbuhan spesifik, kepadatan maksimum dan waktu untuk mencapai kepadatan populasi maksimumadalah media dengan perlakuan N:P:Si = 30:1:4 (P3) yang terbaik untuk pertumbuhan algae Phaeodactylum sp sp.Chaetoceros sp. dan Pavlova sp.Kata kunci: fitoplankton, Chrysophyta, nisbah N/P, S
STRATEGI KONSERVATIF DALAM PENGELOLAAN WISATA BAHARI DI PULAU MAPUR, KABUPATEN BINTAN, KEPULAUAN RIAU
Pulau Mapur yang terletak di sebelah timur Pulau Bintan memiliki potensi terumbu karang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata bahari. Terumbu karang merupakan daya tarik bagi pengunjung untuk melakukan aktivitas seperti menyelam atau snorkeling. Tingkat kerusakan terumbu karang di Pulau Mapur sudah sangat memprihatinkan. Dasar laut di sekitar pulau terdiri dari pecahan-pecahan karang. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan strategi yang tepat untuk merehabilitasi terumbu karang berbasis sosial dan ekologi untuk pemanfaatan pariwisata bahari di Pulau Mapur. Hasil penelitian menunjukkan dari 11 lokasi hanya 2 lokasi yang termasuk dalam kategori sangat baik, 6 lokasi dalam kategori baik, dan 3 lokasi dalam kategori sedang. Prioritas strategi yang dihasilkan berdasarkan SWOT adalah a) meningkatkan upaya konservasi ekosistem terumbu karang sebagai objek wisata dengan melibatkan seluruh stakeholder; b) meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan alat tangkap merusak terumbu karang khususnya bius/potasium; dan c) meningkatkan kerja sama pemerintah, masyarakat, pengunjung, dan pihak terkait lainnya dalam mengelola sumberdaya, sarana dan prasarana serta pembinaan/pelatihan SDM melalui program dan kegiatan yang tepat.Kata Kunci : ekologi, koservatif, Pulau Mapur, sosial, terumbu karang, wisata bahari